Cast:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Do Kyungsoo

Tiffany/Miyoung as Baekhyun's mom

Top/Seunghyun as Baekhyun's dad

Sandara as Chanyeol's mom

and others.

Rated: T-M

Length: Chaptered

GS/School-life!AU/Dldr

.

inspired by Baekhyun's pink hair and Chanyeol's undercute hair look.

.

"Don't let the color faded to grey."

.

———

HEAR OUR HEARTS

by

hollabaekgril

.

Semua berawal dari murkanya Seunghyun saat menerima laporan nilai akademik Baekhyun. Pria paruh baya itu tak menyangka, dari sekian banyak mata pelajaran di sekolah mengapa anaknya itu lebih menaruh minat pada seni?

"Kau itu calon pewaris perusahaan, Baekhyun. Seharusnya hal seperti ini tidak layak terjadi. Memalukan."ujar Seunghyun dingin.

Baekhyun hanya menunduk sambil berulang kali mengucap maaf.

"Suka atau tidak suka, kau akan belajar cara memimpin Beyond Co. nantinya."lanjut Seunghyun kemudian berlalu meninggalkan bocah berambut pink itu sendirian.

Di luar kamar Baekhyun, Miyoung—ibunya, hanya bisa menghela napas melihat kelakuan sang suami yang terlalu menuntut anak sulungnya tersebut. Wanita cantik itu langsung menyusul Seunghyun. Langkah kaki jenjangnya yang berbalut heels warna taupe berhenti kala melihat Seunghyun hendak memasuki ruang kerjanya.

"Demi Tuhan, Seunghyun dia baru delapan belas tahun. Sampai kapan kau akan memperlakukannya seperti ini?"

Seunghyun berbalik menatap Miyoung. Ia tahu benar arah pembicaraan ini selanjutnya. Untuk kesekian kalinya Miyoung dan dirinya selalu berdebat tentang hal ini. Tentang masa depan Baekhyun.

"Sampai dia sadar di keluarga seperti apa ia dibesarkan dan—"

"Dia berhak memilih masa depan seperti apa yang dia inginkan!" Miyoung menyahut.

"Kau tahu Miyoung, ayahku termasuk orang penting di legislatif walaupun sudah tidak menjabat, kakakku pun telah memiliki Hyundai sebagai bisnisnya. Beyond Co. diwariskan padaku, lalu kalau bukan Baekhyun siapa?"

Miyoung terdiam. Bantingan daun pintu ruangan Seunghyun membuyarkan lamunan singkat wanita itu.

Seandainya waktu itu bisa diulang.

Tanpa sadar air mata Miyoung mengalir. Cepat-cepat ia mengusapnya. Wanita itu berjalan menuruni tangga rumah megah tersebut, ia sadar ada janji dengan klien yang tak bisa dibatalkan mendadak.

"Nyonya, Anda baik-baik saja?"tanya Jun—pengawal sekaligus sopir pribadinya; sebelum ia memasuki mobil hanya ia jawab dengan gelengan pelan.

"Antarkan aku ke Lott y Rits, Pak Jun."

"BERHENTI KAU!"

"YAK! ASAR BEDEBAH!"

"PARK!"

"AWAS SAJA KALAU BERTEMU LAGI BESOK!"

Bocah jangkung yang dipanggil tetap berlari melewati gang sempit dan beberapa pedagang yang kedainya belum tutup sore itu. Beberapa kali ia mengucapkan 'jeosonghamnida' dengan lantang dan menyuruh orang yang menghalangi jalannya untuk minggir. Gerombolan preman yang mengejar pemuda itupun berbalik arah.

"Chanyeol!"

Laki-laki yang merasa terpanggil itu berhenti. Matanya membulat setelah menoleh ke sumber suara.

"Kyungsoo-ya!"

Chanyeol tersenyum lantas menghampiri si pendek yang memanggilnya dari gang kecil.

"Hey, apa yang kau lakukan di sini?"tanya Chanyeol.

Kyungsoo tak mengindahkan pertanyaan pemuda itu tetapi malah memperhatikan lutut Chanyeol; yang sedikit terluka. Masih terlihat bercak darah di sana.

"Sampai kapan kau akan seperti ini, huh?" Bocah pendek dengan mata mirip burung hantu itu merogoh saku tote bagnya dan memberikan band-aid dengan motif bintang-bintang kepada Chanyeol. "Pastikan kau membersihkan lukanya dulu, baru pakai ini. Arachi?"

Chanyeol menerimanya. Tak lupa senyum secerah senja itu ia tampilkan.

"Terimakasih, Kyungsoo."

"Aku tahu kau bermaksud baik, tapi jangan lupakan keselamatan dirimu sendiri." Kyungsoo menjeda ucapannya. "Baiklah, sampai jumpa besok. Awas kau kalau sampai membolos!"acamnya.

Tatapan tajam si pendek membuat tangan Chanyeol reflek mengacak rambut Kyungsoo.

"Sampai jumpa besok,"ujar Chanyeol.

Kyungsoo tersenyum lalu berjalan pulang ke arah di mana sopirnya telah menunggu. Chanyeol sendiri berjalan ke arah rumahnya, tak jauh dari pasar tempatnya berkejar-kejaran tadi.

"Aku pulang!"sapa Chanyeol.

"Dari mana saja kau? Ayo cepat mandi dan makan malam!"

Si jangkung tersenyum melihat ibunya yang tengah berkutat dengan masakan di dapur.

"Iya eomma,"ujar Chanyeol sembari melangkahkan kaki menuju kamarnya di lantai dua rumah sempit itu.

Begitu selesai mandi, Chanyeol bergegas turun untuk makan malam. Di sana, Dara—ibu Chanyeol; tengah mengambilkan nasi di cawan ketika pemuda itu sampai di dapur.

"Eomma memasak cumi-cumi,"ujar wanita itu. "Chanyeol, pabrik tempat eomma bekerja sedang sibuk, jadi untuk dua bulan kedepan akan sering lembur."

Chanyeol berhenti mengunyah makanannya.

"Jangan memaksakan diri eomma, jangan memikirkan biaya sekolahku juga tentang hutang yang—"

"Chanyeol, walaupun kau mendapat beasiswa penuh bukan berarti eomma meninggalkan tanggung jawab eomma sebagai ibu. Jaa, habiskan dulu makanan ini."

Dara tersenyum lalu melanjutkan makannya. Suara televisi tua yang sengaja dihidupkan oleh Dara menemani makan malam keluarga kecil itu. Tak lama kemudian suara gebrakan pintu terdengar.

"BUKA PINTUNYA!"

Chanyeol segera berlari membuka pintu. Mendapati wajah yang sangat ingin ia pukul dengan tongkat baseball dengan keras.

"Mau apa kau?"tanya Chanyeol tanpa basa-basi.

"Chanyeol siapa yang malam—astaga tuan Lee ada perlu apa?" Dara muncul dari balik tubuh tinggi bocah itu. Melihat sesosok pria tambun dengan cerutu di tangannya.

"Apa kau lupa? Cepat bayar tunggakan hutangmu!"

Tuan Lee menghembuskan napasnya membuat kepulan asap rokok kian melambung. Dara menepuk pundak putranya sembari berbisik, "masuklah ke kamarmu."

Chanyeol menatap ibunya tak rela. Dara hanya tersenyum meyakinkan. Si bocah jangkung pun berlalu meninggalkan dua orang dewasa di sana.

"Maaf Tuan, bukankah minggu lalu aku sudah membayar cicilan untuk tiga bulan?"

"Cih, semakin hari kau pikir biaya hidup tidak bertambah, hah? Yang kau bayarkan hanya bunganya."

Dara menghela napas.

"Tunggu aku mendapat gaji bulan ini Tuan, aku janji akan membayarnya."

"Sebaiknya kau tepati ucapanmu atau rumah ini akan ku sita."

Tuan Lee menendang daun pintu sebelum berlalu pergi.

"Dasar wanita miskin!"umpatnya.

Dara hanya terdiam tanpa tahu Chanyeol masih bisa mendengar percakapan tersebut dari balik tembok.

Hari ini adalah hari pertama Chanyeol masuk setelah menjalani skors selama tiga hari. Menjadi salah satu murid beasiswa di sekolah yang notabene hanya untuk kalangan 'borjuis' tidaklah mudah. Tatapan merendahkan entah dari guru ataupun murid lainnya sering kali ia dapatkan. Tak masalah, lagi pula yang Chanyeol cari bukan itu.

Ruangan kepala kesiswaan.

Di sinilah pagi itu keduanya bertemu. Sipit itu bertemu mata bulat Chanyeol. Baekhyun ditemani seorang yang Chanyeol pikir mungkin ayahnya—masih terlibat percakapan serius dengan Pak Shin.

Sebenarnya keduanya telah mengetahui satu sama lain. Baekhyun tahu, Chanyeol merupakan murid miskin yang mendapat beasiswa karena kecerdasannya. Gadis itu juga tahu kalau Chanyeol adalah berandal sekolah yang terkenal sering ikut tawuran. Namun karena berbeda kelas, keduanya tak pernah berinteraksi.

"Beruntungnya kau, Chanyeol, hanya menjalani tiga hari skorsing. Tapi mulai hari ini, kau harus menjadi tutor Baekhyun selama satu bulan."ujar Pak Shin.

Chanyeol dan Baekhyun hendak membuka protes namun Pak Shin dengan cepat menimbuhi,"tidak ada penolakan. Chanyeol dipilih atas keinginan Tuan Byun karena selalu mendapat peringkat satu dari tahun ke tahun. Jadi, sepulang sekolah ini kalian berdua bisa memulainya."

Pak Shin menepuk pundak Chanyeol.

"Ini pelajaran untukmu agar tidak lagi mengikuti tawuran seperti minggu lalu. Kalau kau melanggar lagi, beasiswamu bisa dicabut Chanyeol."ujarnya lagi.

Chanyeol mengangguk paham. Kemudian menatap si pendek. Byun Baekhyun. Siapa yang tak kenal calon pewaris Beyond Co. yang terkenal itu? Maksud Chanyeol adalah si gadis yang selalu dipuja-puja oleh hampir seluruh murid sekolah. Rambutnya pinkish, seperti warna bibirnya. Si jangkung yang sempat terpesona segera pamit meninggalkan ruangan itu.

Cih, tipikal orang-orang kaya yang memuakkan. Selalu menggunakan uang untuk melakukan apapun.

"Park Chanyeol-ssi!"

Mendengar namanya dipanggil, Chanyeol pun membalikkan badannya. Alisnya bertaut mendapati sosok pendek itu berlari kecil menghampiri dirinya.

"Anu.. Ah—aku.."

Chanyeol menunggu.

"..itu maksudku, mohon bantuannya. Aku akan sangat berterimakasih kalau kau bersedia mengajariku."ucap Baekhyun.

"Tentu saja." Chanyeol menghela napas. "Aku tak punya pilihan lain selain 'ya'."lanjutnya.

Baekhyun diam. Chanyeol pun berbalik lagi, bergegas berjalan menuju kelasnya. Ia tak akan melewatkan pelajaran Sosiologi favoritnya pagi itu. Tahun ketiga di SMA Edelweiss Seoul yang sejauh ini ia pikir telah ia lewati dengan mudah, nyatanya ia harus berurusan dengan sosok yang paling ingin ia hindari.

] to b c ontinued [

A/N:

thankyou yg udah baca️