A/N : Boboiboy murni milik Animonsta Studio sedangkan cerita ini hanyalah fiksi yang terlintas di pikiranku karena banyaknya isu bunuh diri karena bully yang sedang buming belakangan ini.

Lawat karya ini, aku harap kalian sadar bahwa bully itu tidak baik karena mental setiap orang berbeda-beda, stop bullying karena tindakan itu hanya dilakukan oleh manusia-manusia pengecut!

Jadi ambil baiknya dalam cerita ini dan buang buruknya yah.

Happy reading

Hembusan angin menyapa dinginnya malam dengan pilu di sebuah hamparan tanah duka yang kini tengah di pijak oleh seorang pemuda yang mengenakan pakaian serba hitam itu.

Lidah topi menutupi hampir sebagian wajahnya yang rupawan dengan tangan yang terbalut sarung tangan penuh dengan noda darah.

Langkah panjangnya lalu terhenti di sebuah nisan yang sangat familiar sekali baginya sebelum ia berjongkok untuk mengelus nisan itu pilu setelah ia melepas sarung tangan penuh darah miliknya.

Waktu berlalu dengan cepatnya, namun pemuda itu enggan membuka suara ataupun meyudahi kegiatannya.

Tes...

Setitik air mata lalu jatuh membasahi pipinya yang tirus nan pucat itu dengan gigi yang mengigit kuat bagian dalam bibir bawahnya.

"Aku merindukanmu...," suara serak miliknya lalu keluar setelah sekian lama terdiam.

"Harusnya bukan kamu yang berbaring di sini, tapi mereka!"

Tak berselang lama, sebuah tawa kecil terdengar menyayat malam yang hening itu.

"Kamu memang bodoh Gempa, selalu saja bodoh!"

Pemuda itu lalu duduk bersila di samping pusara itu setelah mengusap kasar air mata yang membasahi kedua pipinya.

"Sudah tenangkah kamu di sana dengan meninggalkan kami begitu saja hanya karena para manusia sampah itu?!"

Pemuda itu kembali tertawa sebelum bangkit dan pergi meninggalkan pusara itu setelah puas menatapnya tanpa menyadari bahwa ada seorang pemuda berwajah serupa dengannya yang sedari tadi terus memeperhatikan sebelum akhirnya menunduk dalam.

"Kak Hali benar, kamu memang bodoh Gempa."

Langkahnya lalu berbalik, mengurungkan niat awalnya untuk menjenguk sang adik kecilnya tersebut.

TBC

Bagaimana ceritanya?

Receh yah? Ahahaa... udah ketebak sih *pundungdipojokkan

Maaf, di sini aku buat Gempa yang meninggal karena dia satu-satunya karakter yang cocok banget sebagai karakter penyebab utama kenapa karakter utama begitu.

Walau aku bikin dia meninggal, tapi karakternya itu kunci utama amanat dalam kisah ini walau yah dia emang aku nistain sih, ahaha.. *Digilestronton

Cerita ini bakalan berat deh kayaknya, soalnya temanya aja udah berat banget.

Pokoknya makasih deh yang udah mau baca *lapingus

Read and Review please... *kibarinbenderaputih