Vampire Bride
.
.
.
Genshin Impact © Mihoyo Ltd.
Warning : OC insert
.
Chapter 4
Pesta Dansa
Kembang api terlihat dengan meriahnya dari belakang kerajaan. Lumine telah di beri belati kecil yang cukup di selipkan di roknya, sebagai jaga-jaga bila Lumine benar-benar di tangkap.
Mereka berdua pun memasuki kastil itu dan benar saja, hanya perempuan yang bisa memasuki tempat pesta ini. Tadi ada yang datang bersama seseorang, dan laki-laki itu tidak di perkenankan masuk.
Pesta ini sudah sangat aneh, tetapi para keamanan seakan-akan tidak memperdulikan hal itu. Atau, memang di buat untuk tidak mencampuri urusan itu.
Bagian dalam tempat ini masih terlihat sungguh megah dan modern, seperti ruang pertemuan di kerajaan Tsaritsa. Lumine sedikit terperangah dengan bagusnya interior tempat ini yang terasa sangat berbeda dari luarnya.
"Terima kasih telah datang di pesta dansa bulanan ini, kali ini kita kedatangan perwakilan dari Snezhnaya. Dia membawa gadis cantik di sebelahnya, siapa namamu gadis cantik?" kata seorang laki-laki yang berdiri di pijakan yang seperti podium itu. Lumine menunjuk dirinya sendiri dan orang itu mengangguk.
"Na-namaku Maria," ujar Lumine berbohong. Laki-laki itu mulai tersenyum penuh arti, kelebihan seorang vampir adalah mereka memiliki ketajaman mata yang lebih dari manusia pada umumnya. Dari senyumannya Lumine tahu, orang ini bukanlah vampir.
Karena vampir pasti akan menjaga ekspresi mereka dan tidak berusaha menyembunyikan sesuatu. Mereka tahu menyembunyikan ekspresi adalah hal sia-sia dan kami akan mengetahuinya semudah itu.
"Selamat datang di Inazuma, Maria. Semoga anda betah disini," ujar laki-laki itu. Lumine mulai bersiaga, Signora hanya mencoleknya tanda dia harus mengendalikan dirinya. "Baiklah, sekarang bertepatan dengan ulang tahun anakku, Akira. Yang sekarang telah berusia 17 tahun!"
Sebuah sorak sorai dan tepuk tangan pun menggema di aula itu. Lumine hanya mengenakan pakaian berwarna putih dengan garis biru di tepiannya, dan bagian lengannya terbuat dari bordir dengan warna serupa. Roknya tidak terlalu menggembung dan bagian depan hanya selutut, sementara bagian belakang memanjang hingga ke lantai. Sementara Signora memakai pakaian perpaduan warna putih, hitam dan merah. Dia mengenakan selendang bulu tebal sebagai pemanis, dan tentu saja, penutup mata dan mahkota hitam kecil di atasnya sebagai identitasnya.
Acara kemudian di sambung dengan mulai mencicipi jajanan yang di sediakan disana. Lumine sedang berkeliling bersama dengan Signora sementara dia berbincang dengan orang-orang disana, Lumine tidak melihat petinggi kerajaan lain yang datang dalam pesta ini.
Kelihatannya mereka di gilir. Pesta dansa bulan kemarin petinggi dari Natlan yang di undang, sekarang, petinggi dari Snezhnaya yang di undang. Lumine dari tadi mengedarkan pandangannya mencari mungkinkah ada gadis yang tertangkap.
Dan Lumine mulai melihat salah satu gadis di ujung ruangan di bekap dan di bawa ke suatu tempat. Gadis itu hendak menghampiri tempat itu ketika seseorang ada di hadapannya.
"Hai Maria-chan," sapa orang itu. Lumine melihat siapa yang menghadangnya dan menghela nafas.
"Salam juga Akira-sama," ujar Lumine sopan sambil sedikit membungkuk. Gadis itu kini berhadapan dengan 'pangeran' di kerajaan ini.
"Jadi, apakah benar Snezhnaya memang sedingin itu?" tanya orang itu. Di tangannya terdapat sebuah gelas bening berisi sesuatu berwarna kuning dan memiliki gelembung-gelembung kecil di dalamnya.
'Saking dinginnya kau sampai ingin di balik selimut seharian penuh,' batin Lumine.
"Tidak terlalu dingin kalau kau terbiasa," jawab Lumine, dia melirik kearah Signora dan dia hanya menempelkan telunjuk ke mulutnya. Lumine hanya memejamkan mata paham. Itu adalah sinyal dari Signora bahwa dia harus mengikuti permainan sang 'pangeran' ini.
"Jadi, berapa usiamu?" tanya orang itu.
"Umurku hanya enam belas tahun," bohong Lumine lagi. Sejujurnya dia menghitung usianya sejak berada di dunia yang bernama Tevyat ini. Dia menghitung dia sudah berusia lima puluh tahun. Tapi tubuhnya seakan dia baru berusia enam belas tahun.
Seorang Vampir akan berhenti menua ketika dia menginjak kedewasaan. Dan Lumine tahu, orang yang bernama Akira ini tidak waspada akan adanya ras selain manusia. Inazuma di huni hampir sembilan puluh persen manusia, dan atas perintah Baal, para vampir diminta untuk menyembunyikan diri mereka dari manusia biasa.
"Kau tahu kau sungguh cantik dengan hiasan bunga itu," ujar Akira sambil mengusap sedikit rambut Lumine. Gadis itu hanya tersenyum menutupi ketidak sukaannya di sentuh seperti ini.
Lagu yang ada kemudian berganti menjadi lagu yang lebih lembut, dan orang-orang mulai menepi ke pinggiran. Menyisakan sebuah tempat kosong tepat di tengah-tengah aula. Kegiatan utama dari pesta ini mulai berlangsung, sebuah tangan terulur di hadapan Lumine dan ternyata itu adalah Akira.
"Mau berdansa denganku?" tanyanya, Lumine hanya mengangguk sambil menerima tangan orang itu. Lumine tentunya tidak sebuta itu dengan dansa, dia sering melakukannya dengan Tartaglia. "Kau lumayan pendiam ya, Maria-chan," kata Akira sambil berdansa.
"Maafkan saya Akira-sama, saya hanya merasa tidak nyaman berada di sini."
Yap, Lumine sedang berada di pesta dansa aneh dimana hanya perempuan yang boleh datang. Sehingga adegan berdansa dilakukan oleh para wanita bersama dengan anggota istana.
Lumine bisa menyadari beberapa tatapan tidak suka mengarah ke dirinya. Sementara gadis hanya berharap dalam hati, agar Tartaglia tidak melihatnya saat seperti ini. Bisa-bisa dia akan menghabisi seluruh orang disini.
"Kau sungguh lihai dalam berdansa, apakah kau sering berdansa dengan orang lain?" tanya Akira.
"Ah, oh, iya, aku sering melakukannya dengan su- maksudku dengan saudaraku," jawab Lumine hampir keceplosan.
"Kau sungguh lugu Maria-chan," kekeh Akira. Setidaknya dia sudah menemukan bukti bahwa ada gadis yang tertangkap. Tidak hanya satu, selama dia berdansa, ada dua gadis lainnya yang di ambil. Pengelihatan tajamnya sungguh membantu dalam hal ini.
Pesta dansa pun selesai dan Akira menarik Lumine ke beranda kerajaan. Signora yang melihat hal itu pun tersenyum, mereka telah mengambil umpan nya. Kini dengan mengandalkan penciuman tajam vampir, dia tinggal mengikuti bau dari Lumine bila gadis itu ikut tertangkap.
"Hei, mau aku tunjukkan sesuatu yang bagus di Inazuma?" tawar Akira, Lumine merasakan adanya orang-orang mengendap-endap di belakangnya.
"Wah,benarkah? Boleh tuh!" ujar Lumine semangat. Akira tersenyum penuh arti dan seseorang membekap mulut Lumine dari belakang, dia hanya berakting untuk melawan. Dia harus di bawa mereka bukan kalau ingin misi ini berjalan mulus. Lagipula kekuatan vampir jauh diatas manusia, menyingkirkan orang yang membekapnya saat ini sangat mudah.
Seseorang memberi Lumine penutup mata dan mengikat tangan juga kakinya, mulutnya tidak lupa juga di beri lakban agar tidak berteriak. Lumine sengaja pasrah ketika dia dibawa entah kemana.
Kelihatannya tempatnya jauh dan berada di bawah, karena Lumine merasakan dirinya di bawa ke tempat yang lebih rendah. Sebuah suara kunci terdengar dan suara pintu yang dari besi terbuka. Di dalamnya Lumine bisa mendengar suara beberapa wanita yang mulutnya terbungkam.
Badan Lumine di hempaskan begitu saja di lantai yang keras itu. Sejenak, Lumine bisa mencium bau air, dan bunyi langkah manusia pada air. Gadis itu memastikan dia akan mandi dengan berbotol-botol sabun bila ini semua sudah selesai. Bau dari tempat ini sungguh menjijikkan, seperti bau lumut dan air nya pun dia tidak yakin, air bersih yang mengalir. Gadis itu juga merasakah bahwa lantai di bawahnya pun juga ada beberapa yang tertutup lumut.
Lumine ingin mengumpat betapa mengerikannya tempat ini, tetapi, dia kemudian mengingat masa-masa dia masih menjadi seorang kesatria pengembara. Dirinya harus bertahan dengan kondisi ini, dia terlalu terlena dengan kehidupan yang di beri oleh Tartaglia kepadanya.
Ini semua juga demi berhentinya kejadian yang terus menimpa para perempuan ini.
"Ayah, aku ingin Maria jangan ikut kau jual. Biarkan dia menjadi perhiasan di kamarku," ujar seseorang, Lumine tahu betul suara ini, ini adalah suara Akira.
Oke ini sudah cukup bukti yang di butuhkan untuk Lumine dan Signora untuk mengadukannya kepada Baal. Namun, Lumine belum mendengar tanda dari Signora. Sebuah ledakan kembang api.
Dia bisa merasakan bahwa tubuhnya kembali di ambil dari tanah yang berlumut itu, dan langsung membawanya ke suatu tempat lain. Ketika tubuhnya dibawa, Lumine mencium bau salju dan mint yang begitu dia kenal. Lumine hanya menghela nafas.
Dia kemudian di dudukkan di sebuah kursi yang lembut dan penutup matanya di buka, begitu juga semua ikatan dan penutup mulutnya. Hal pertama yang Lumine lihat adalah sosok Akira di depannya, di tangannya masih menggenggam tali yang mengikatnya. Ruangan ini cukup gelap dan Lumine terduduk di sofa yang berada di tengah ruangan.
Hanya ada cahaya dari rembulan yang masuk lewat jendela yang terbuka. Lumine sedikit menggosok matanya, matanya terasa tidak nyaman ketika di tutup tadi.
"Kau sungguh beruntung Maria-chan, kau tidak perlu melayani para hidung belang diluar sana. Kau cukup melayaniku disini, selama satu tahun kedepan," ujar Akira dengan tatapan penuh nafsu. Kembang api mulai bermunculan dan kembali menyinari ruangan itu lebih terang lagi.
Lumine hanya tertawa mendengar hal itu, dia mengambil belati yang tersembunyi di roknya dan langsung melemparnya kearah Akira. Belati itu tidak mengenainya, dan langsung menancap di tembok di belakang Akira.
"Si-siapa sebenarnya kau?!" ujar Akira sambil sedikit mundur, ketika dia hendak membuka pintu meminta pertolongan. Suara tubuh yang rubuh pun terdengar dari balik pintu. Tidak perlu waktu lama bagi Akira memahami bahwa penjaga sudah di lumpuhkan.
"Aku? Aku hanyalah seorang gadis dari Snezhnaya," ujar Lumine sambil menarik rambutnya, menampilkan rambut pirang di bawahnya.
"Ka-kau adalah-" kata Akira menyadari siapa gadis di hadapannya.
"Yap, dia adalah Lumine. Istriku, Duke kesebelas kerajaan Snezhnaya," sahut seseorang di belakang Lumine. Seseorang berjalan dari kegelapan, Akira terjatuh ke belakang ketakutan.
Sebuah beban berat terasa di belakang Lumine dan sebuah pisau berwarna ungu terulur kedepannya. Gadis itu sungguh mengenali senjata ini, ini adalah salah satu kekuatan dari Tartaglia. Dia bisa menciptakan senjatanya sendiri.
Lumine mengulurkan tangannya ke atas dan sebuah tangan menuntunnya menyentuh pipi yang sangat dia kenal.
"Kau suka sekali muncul secara dramatis," komentar Lumine.
"Hahaha, sungguh susah sekali mengikuti kalian tanpa terendus. Bahkan Signora sudah menemuiku kemarin," jawab Tartaglia. "Jadi, kau ingin dia menemanimu setahun huh? Bagaimana kalau aku buat kau langsung menyeberang ke alam sana?" ujar Targalia sambil menatap tajam kearah Akira. Aura amarah Tartaglia sudah memenuhi ruangan itu.
"Tahan dirimu Childe," ujar seseorang di pintu, Lumine melirik dan ternyata Signora. "Kita harus membawa mereka ke Baal, tenang, semua gadis di ruang bawah sudah aku lepaskan. Pesta dansa telah berakhir," ujar Signora sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dan kelihatannya Akira telah pingsan karena ketakutan.
"Aku benar-benar ingin mandi, ruangan itu sungguh jorok," ujar Lumine.
"Dan aku heran," ujar Tartaglia sambil menghilangkan senjatanya lagi. "Kau sungguh santai sekali ya, Ojou-chan. Padahal kau di buat umpan," ujar Tartaglia sambil mencubit kedua pipi Lumine. Sementara gadis itu hanya terkekeh.
"Lanjutkan bermesraan kalian di hotel, kita harus melapor ke Baal," ujar Signora sambil menyuruh bawahannya untuk masuk. Mereka kemudian menuju ke kediaman Baal sambil bawahan Signora yang ada di Inazuma untuk membawa para pelaku itu.
Hukuman dari Baal sungguh jelas, yaitu kematian.
Khusus Akira, eksekusi di serahkan kepada Tartaglia yang memohon kepada Baal. Seseorang yang berniat buruk kepada istrinya ini, harus merasakan akibatnya.
Akira yang masih pingsan di taruh di tengah lapangan seperti arena, di ikat pada sebuah tiang. Dia mulai sadar ketika Tartaglia sudah hendak menghunuskan senjatanya kearahnya. Saat itu, semuanya sudah terlambat. Nyawa Akira telah tamat.
Kerajaan itu kemudian runtuh dan di gabung dengan kerajaan di sebelahnya. Tidak ada ampun bagi mereka yang berani berbuat aneh-aneh di bawah pengawasan Baal.
Semua gadis yang di sekap kemudian di kembalikan, ternyata mereka di jual ke rumah the di seluruh penjuru Inazuma. Dan atas perintah Baal, mereka harus mengembalikan gadis-gadis yang telah terjual itu.
Semuanya berakhir bahagia, setidaknya bagi para korban itu. Sementara Tartaglia mengomel-ngomel kepada Signora yang hanya menyumbat telinganya dengan jari. Lumine hanya terkekeh melihat kedua orang yang tidak pernah akur ini.
.
.
.
TBC
