"Suatu hari nanti, aku akan memberikan cincin yang sesungguhnya. Jadi, tunggu aku, Tetsuya." Ucap laki-laki bersurau merah mantap. Tangan kanannya menyisipkan bunga daisy yang dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk lingkaran ke jari manis laki-laki berambut biru muda di depannya. Semburat merah muda samar-samar menghiasi kulit putihnya. Matanya yang berwarna senada dengan rambutnya berbinar-binar penuh haru. Dihadapannya saat ini, laki-laki yang begitu ia cintai mengikrarkan janjinya tanpa keraguan sama sekali dan yang sangat ia yakini bahwa suatu hari nanti, saat mereka sudah cukup umur, janji itu akan terpenuhi.

"Sei-kun, janji?"

"Janji." Kelingking dari kedua anak laki-laki yang masih berumur enam tahun dan delapan tahun tersebut saling mengait. Menciptkan sebuah perjanjian tak tertulis akan masa depan.

Janji bahwa Kuroko Tetsuya akan menjadi pendamping hidup dari Akashi Seijuurou.

- Epiphany -

Laki-laki berambut biru muda menggeliat dari balik selimut yang masih menutupi tiga perempat bagian tubuhnya. Bibirnya membentuk seulas senyum. Malam ini ia memimpikan hal tersebut lagi untuk ke sekian kalinya. Kenangan-kenangan indah yang tercipta ketika mereka masih menjadi teman sepermainan terus terputar-putar menjadi bunga tidur yang selalu menemani setiap malamnya. Mimpi indah yang selalu berhasil menghilangkan sedikit rasa rindunya pada sosok tersebut. Meskipun terkadang, justru berlaku sebaliknya. Membuat Tetsuya semakin merindukan kehadirannya.

Tubuh mungilnya melompat dengan lincah dari kasurnya. Merenggangkan otot-otot tubuhnya sekali lagi. "Yosh," Tetsuya sudah lebih dari siap untuk melewati hari ini. Aquamarine-nya menatap bingkai foto berukuran 18 x 13 cm berwarna putih. Potret dua bocah laki-laki yang sedang tersenyum penuh bahagia. Jemari telunjuk Tetsuya mengelus lembut potret laki-lak bersurau merah yang tengah menggenggam tangannya.

"Sei-kun…"

Pada akhirnya, hari yang selalu Tetsuya tunggu-tunggu datang juga. Hari dimana sosok tersebut kembali dan setelah ini, tidak akan ada lagi jarak puluhan atau bahkan ratusan ribu lebih kilometer yang memisahkan mereka. Tidak akan ada lagi Negara atau bahkan benua yang memisahkan keduanya. Setelah hari ini, hanya akan ada dua orang yang selalu berdua. Menebus dosa akan hari-hari yang selama bertahun-tahun terlewati tanpa ada kata "mereka" di dalamnya.

Hari dimana Tetsuya akan bertemu dengan cinta pertama dan terakhirnya, Akashi Seijuurou.

- Epiphany -

Narita Airports.

From: Sei-kun

Sampai berjumpa jam 12 P.M waktu Tokyo, Tetsuya.

P.S. Aku merindukanmu.

Tetsuya menghela nafasnya untuk sekian kalinya. Dirinya tidak bisa berhenti mengecek pesan terakhir yang dikirim Akashi sebelum keberangkatannya dari New York menuju Jepang. Saat ini, waktu masih munjukkan pukul 11.30 A.M. Setengah jam lebih cepat dari jadwal yang seharusnya dijanjikan oleh Akashi. Well, bagi Tetsuya tidak ada salahnya menunggu kedatangan sosok tersebut. Lagi pula, sejak bangun tidur ia tidak bisa tenang. Jantungnya terus-terusan berdegub kencang. Bahkan sarapan dan makan siang yang sudah dibuatkan oleh Ibu-nya tidak sempat ia sentuh.

Tetsuya menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.

Sudah berapa lama? Lima belas tahun mungkin setelah keluarga Akashi memutuskan untuk pindah dari Tokyo ke New York. Pilihan yang sudah tidak tanggung-tanggung lagi. Mereka bukan lagi terpisahkan oleh jarak seperti Tokyo – Kyoto, tetapi justru terpisahkan oleh Negara bahkan benua. Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Tetsuya bahwa ia akan hidup berjauhan dengan Akashi. Mengingat sejak lahir, dirinya selalu menempel pada Akashi. Bagi Tetsuya, segalanya adalah Akashi. Ketika ia terjatuh akibat belajar bersepeda, Akashi akan selalu ada menenangkan. Atau ketika Tetsuya terlahir dengan lack presence yang membuat orang-orang tidak menyadari kehadirannya, Akashi lah satu-satunya yang selalu sadar dengan kehadiran Tetsuya. Tangan mungil Akashi akan selalu mengenggam tangan Tetsuya kemana pun mereka pergi. Tidak pernah lepas.

Dan sekarang, Tetsuya tengah berpikir. Seperti apa sosok Akashi Seijuurou setelah lima belas tahun ia tidak melihatnya secara langsung? Meskipun sekali dua kali mereka akan melakukan video call ketika senggang atau ketika ada waktu yang pas untuk melakukannya, mengingat perbedaan waktu yang jauh antara Jepang dan New York. Yang Tetsuya yakin, laki-laki tersebut semakin terlihat tampan dan mature. Aih, membayangkannya saja sudah membuat Tetsuya deg-degan setengah mampus.

Papan pengumuman kedatangan menampilkan baru saja landing pesawat yang membawa penumpang dari New York menuju Jepang dan sebentar lagi, dalam hitungan menit Tetsuya akan melihat sosok yang sangat ia rindukan. Apa yang harus ia lakukan ketika melihat Akashi? Harus seperti apa ekspresi yang ia pasang di wajahnya ketika Akashi muncul di depannya? Memikirkannya saja sudah membuat Tetsuya pusing, ditambah lagi jantungnya yang terus-terusan berdegub tidak normal. Jika saja jantungnya bisa meledak, mungkin sudah meledak sedari tadi.

Beberapa turis dan masyarakat lokal Tokyo mulai berkeluaran dari pintu kedatangan. Beberapa orang saling berhamburan memeluk sosok yang menjemput mereka. Saling bertukar rindu, dan beberapa lagi memberikan karangan bunga sebagai bentuk penyambutan atas kepulangan mereka ke tanah kelahiran dengan selamat. Ah benar! Tetsuya lupa membeli rangkaian bunga untuk kedatangan Akashi. Sial. Akibat terlalu gugup ia tidak memikirkan persiapan yang matang untuk menyiapkan segalanya.

Jantung Tetsuya seketika berhenti berdetak, ketika sosok yang sedikit familiar baginya mulai berjalan keluar dari pintu kedatangan. Mata Tetsuya terus mengikuti setiap gerakan sosok tersebut. Laki-laki dengan surau kemerahan serta mata heterokom berwarna ruby dan gold, yang sangat Tetsuya yakini itu adalah Akashi Seijuurou. Meskipun perawakannya sangat berbeda seperti yang Tetsuya bayangkan. Akashi saat ini jauh lebih tinggi dari dirinya dengan bentuk tubuh yang jauh lebih bidang dibanding dirinya.

Tetsuya menelan ludahnya, ketika sosok tersebut menghentikan langkahnya tepat beberapa langkah di depan Tetsuya. Mata heterokom itu menatap intens Tetsuya. Bibir yang sebelumnya terbuka sedikit karena merasakan hal yang sama seperti yang Tetsuya rasakan—shock—membentuk seulas senyum hangat. Perlahan kaki jenjangnya berjalan menghampiri Tetsuya yang tak berdaya di tempatnya. Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Bahkan Tetsuya tidak tau seperti apa ekspresi yang tengah ia perlihatkan saat ini. Perasaannya saling tumpang tindih, membuatnya memilih untuk diam seperti orang bodoh.

"Tetsuya," sapa Akashi lembut ketika dirinya tepat berada satu langkah di depan laki-laki yang perawakannya jauh lebih mungil dibandingkan dirinya. Tidak hanya perawakan yang berubah, suara Akashi juga semakin memberat.

"S-Sei…-kun,"

Hening beberapa saat. Keduanya memilih untuk diam dan hanya saling menatap, kemudian menenggelami perasaan mereka masing-masing melalui tatapan mata satu sama lain. Hingga akhirnya, entah kekuatan itu muncul dari mana. Kekuatan untuk Tetsuya berlari menghambur ke pelukan Akashi.

"Sei-kun!" panggil Tetsuya sekali lagi. Berharap bahwa ini nyata adanya. Bahwa kehadiran Akashi kali ini memang benar adanya.

"I'm home, Tetsuya," ucap Akashi sambil merengkuh tubuh mungil Tetsuya erat. Ah, sudah lama sekali rasanya ia bisa memeluk Tetsuya seperti ini. Akhirnya, setelah sekian lama ia dapat mencium aroma vanilla dari tubuh Tetsuya lagi.

"Welcome home, Sei-kun." Tetsuya meremas baju bagian belakang Akashi. Air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. Sungguh, ia merindukan Akashi lebih dari apapun dan kali ini, ia benar-benar memeluk Akashi. Bukan lagi pelukan melalui mimpi yang selalu menghantui Tetsuya setiap malam. Aroma tubuh Akashi, sentuhan tangan Akashi yang mengelus rambutnya, suara Akashi yang berat, semuanya nyata. Itu artinya, seberapa sering Tetsuya terbangun, Akashi akan kembali disampingnya.

Setelah Tetsuya tenang, Akashi melonggarkan pelukan mereka. Buru-buru Tetsuya menghapus air mata yang membekas di pipinya. Setelah dipikir-pikir, ini sangat memalukan baginya menangis di saat semua orang dapat melihat mereka. Ditambah lagi, Tetsuya adalah seorang laki-laki, kejadian tadi hanya membuat martabatnya sebagai laki-laki lenyap begitu saja. Dan itu semua karena Akashi. Ketika berhadapan dengan Akashi, Tetsuya seperti lupa diri akan segala hal.

Seperti mengerti apa yang dipikirkan Tetsuya, Akashi terkekeh. Membantu menghapus sisa-sisa air mata yang membekas. "Masih hobi menangis rupanya, our cry baby Tetsuya." ledek Akashi masih dengan kekehannya.

"Berhenti meledekku, Sei-kun!" Wajah sedih Tetsuya berubah menjadi marah. Tangannya sudah memukul dada Akashi keras. Sedangkan yang dipukul hanya semakin tertawa lebar. Pukulan Tetsuya bahkan tidak terasa sakit sama sekali baginya. Selama tahun terpisah Tetsuya tidak banyak berubah. Perawakannya masih lebih mungil dibandingkan Akashi, bahkan kulitnya juga masih sehalus kulit bayi. Hanya saja yang membuatnya sedikit berbeda adalah Tetsuya semakin terlihat cantik. Melalu video call yang cukup sering mereka lakukan, Akashi memang sudah mengakui bahwa Tetsuya tumbuh menjadi laki-laki yang semakin cantik, tapi yang tidak Akashi sadari bahwa Tetsuya terlihat jauh lebih cantik jika dilihat secara langsung seperti ini.

"Uhuk," batuk seseorang menyadarkan moment mereka. Membuat kedua pasang mata tersebut menatap ke sumber suara. Satu hal yang baru Tetsuya sadari, bahwa sejak Akashi keluar dari pintu kedatangan, ternyata Akashi tidak seorang diri. Ada sosok lain yang bersamanya.

Siapa? Batin Tetsuya.

"Bukan maksudku untuk menganggu waktu kalian, tetapi sepertinya kita harus mengisi perut dulu." Ucap laki-laki berambut cokelat yang sudah berada satu langkah di belakang Akashi. Seperti teringat akan sesuatu, Akashi melirik jam tangan dipergelangannya dan benar saja sudah saatnya makan siang.

"Ah benar. Ja… sebaiknya kita ke tempat makan favoritku."

- Epiphany –

Tetsuya mencuri pandang dengan dua orang yang berada di hadapannya yang sedang mendiskusikan menu makanan terbaik di restoran favorit Akashi. Entah mengapa perasaan kesal dan iri tiba-tiba menguasai Tetsuya. Ia tidak suka dengan kedekatan mereka berdua dan lagi ia tidak suka cara mereka menatap satu sama lain.

Namanya adalah Furihata Kouki. Laki-laki berambut cokelat caramel dengan tinggi badan sekitar 170cm, dua senti lebih tinggi dari Tetsuya. Akashi mengenalnya ketika masuk klub basket di sekolah menengah atasnya dan semakin dekat ketika mereka tanpa sengaja masuk kuliah di jurusan dan kampus yang sama. Memiliki kebangsaan yang sama, membuat mereka saling ada satu sama lain selama di New York. Dan ketika Akashi memutuskan untuk kembali tinggal di Jepang, Furihata juga ikut kembali ke Jepang. Sialnya, ia juga tinggal di Tokyo dengan rumah yang hanya berbeda beberapa blok dari rumah Tetsuya dan rumah Akashi.

"Tetsuya!"

"A-ah," Panggilan Akashi menyadarkan Tetsuya dari lamunannya. Bahkan ia tidak sadar bahwa ia tengah melamun.

"Apa ada masalah?" tanya Akashi khawatir.

"A-ah tidak, tidak. A-aku hanya sedang berpikir ingin memesan apa." Jawab Tetsuya sekenanya. Aquamarine miliknya langsung kembali terfokus pada menu pesanan di depannya.

"Pesan sesuka hatimu, Tetsuya. Ah, aku akan ke toilet sebentar." Akashi bangkit dari duduknya kemudian mengacak rambut Tetsuya lembut. Membuat semburat merah muncul di wajah Tetsuya yang terhalang oleh buku menu. Ia masih belum terbiasa dengan sentuhan fisik Akashi padanya.

"Ja… apa Kuroko sudah tau ingin memesan apa?" Tanya Furihata dengan senyum yang terpatri di wajahnya. Sedangkan Tetsuya hanya mengangguk pelan.

Furihata Kouki, entah mengapa laki-laki di hadapan Tetsuya memiliki pesonanya sendiri. Seperti ada perasaan menenangkan saat bersamanya. Ditambah lagi, Furihata seperti sosok yang dapat diandalkan bagi Akashi dan juga... cantik. Tetsuya sebenarnya benci mengakui ini, tapi ia seperti kalah jika dibandingkan dengan Furihata.

Furihata mengangkat tangannya, kemudian selang beberapa detik seorang pelayan berpakaian rapih menghampiri meja mereka. Kemudian secara berurut, Furihata mulai mendiktekan pesanannya dan pesanan Akashi, kemudian disusul Tetsuya. Selang beberapa detik setelah pelayan tersebut pamit undur diri, Akashi kembali duduk dan bergabung bersama mereka.

"Kalian sudah memesan?"

Furihata mengangguk. "Aku juga memesankan menu favorit-mu, Sei. Miso soup tanpa seaweed." Tetsuya terlonjak kaget. Lagi-lagi perasaan iri dan sakit kembali menyerangnya. Furihata memanggil Akashi dengan nama pertamanya. Bahkan Furihata juga mengetahui makanan kesukaan Akashi. Apakah mereka sedekat itu sampai sering menghabiskan waktu bersama? Seberapa dalam mereka mengetahui satu sama lain?

"Arigato, Kouki." Ucap Akashi dengan senyuman yang astaga! Tetsuya pikir senyuman itu hanya untuknya dan ternyata ia salah. Furihata juga mendapatkannya. Tanpa sadar, tangan Tetsuya meremas ujung kemejanya.

Kenapa ia begitu buta? Mau diperhatikan seperti apapun, kedekatan mereka seperti sudah lebih dari sekedar teman. Ada sesuatu yang seperti disembunyikan oleh mereka berdua dari Tetsuya. Otaknya terus mengeluarkan asumsi-asumsi liar dari kedekatan mereka berdua, tetapi hatinya membatin menolak semua yang otaknya sampaikan. Tidak mungkin Akashi berkhianat atas dirinya. Pula tidak mungkin Akashi melupakan janji mereka lima belas tahun yang lalu.

- Epiphany -

Mimpi untuk menghabiskan waktu berdua dengan Akashi dan membayar semua kerinduan yang selama dua belas tahun Tetsuya pupuk, sirna sudah. Hari-hari setelah kepulangan Akashi, terhabiskan dengan hadirnya orang ketiga. Furihata Kouki. Laki-laki tersebut terus-menerus mengekor dibelakang Akashi. Pernah suatu ketika, Tetsuya mendapatkan tiket nonton untuk dua orang. Sudah terbayang-bayang bagaimana ia dan Akashi akhirnya dapat melakukan hal berdua lagi seperti dulu saat mereka masih berumur sepuluh tahun.

Tapi harapan itu sirna seketika, ketika bel rumahnya berbunyi yang ia yakini adalah Akashi yang tengah menjemputnya untuk pergi ke bioskop. Senyum lebar yang terpatri di wajah Tetsuya dalam sekejap hilang ketika mendapati kehadiran Furihata yang tengah berdiri dibelakang tubuh Akashi. "Kouki sedang kesepian, jadi bagaimana jika kita nonton bertiga malam ini?"

Alasan yang sama yang selalu Akashi lontarkan ketika janji melakukan suatu hal berdua berubah menjadi dilakukan bertiga. Kouki sedang ini atau Kouki sedang itu, pokoknya segalanya tentang Kouki yang Akashi pikirkan. Bahkan Tetsuya ragu, sebenarnya tidak ada keinginan dari Akashi sendiri untuk menghabiskan waktu berdua dengannya. Dan bodohnya, meskipun kesal dan sakit hati, Tetsuya tetap mengangguk 'mengiyakan'. Meskipun ia tau selalu berakhir dengan Akashi didominasi oleh Furihata. Kehadiran Tetsuya bagi mereka seperti tidak ada. Fokus Akashi seperti sepenuhnya untuk Furihata.

Ponsel milik Tetsuya bergetar, kemudian muncul nama 'Sei-kun' di layar ponselnya. Ia ingin sekali menolak panggilan tersebut, tapi hati dan tubuhnya tidak pernah mau menuruti perintah dari otaknya dan justru melakukan hal yang sebaliknya. Alih-alih menekan tombol merah, ibu jarinya malah menekan tombol hijau. Seberapapun Tetsuya sakit hati karena Akashi dan Furihata, ia tetap tidak bisa menjauh dari Akashi. Perasaan rindu akan laki-laki tersebut akan terus muncul dari dirinya. Bagi Tetsuya, Akashi seperti udara yang tanpa kehadirannya, Tetsuya sesak tak bisa bernafas.

"Tetsuya, bisa keluar sebentar?" suara baritone milik Akashi terdengar dari sebrang sana. Suara yang selalu berhasil membuat luluh Tetsuya.

"Ada perlu apa, Sei-kun? Kau tau ini sudah malam bukan?"

"Ah gomen. Hanya saja aku ingin bertemu dan menghabiskan waktu berdua bersama Tetsuya malam ini. Ja… kalo begitu—"

"Aku akan ke sana. Tunggu sebentar, Sei-kun," Tetsuya mematikan sambungannya kemudian meloncat dari kasur. Berdua? Itu berarti malam ini hanya mereka berdua tanpa Furihata? Senyum Tetsuya mengembang. Akhirnya, akhirnya ia bisa memiliki waktu berdua seperti ini bersama Akashi. Ia sangat merindukan dan menanti-nantikan momen tersebut.

- Epiphany -

Tetsuya mengeratkan jaket milik Akashi yang tersampir di bahunya. Senyumnya masih terpatri di wajahnya. Beberapa menit yang lalu, setelah Akashi menelponnya tidak butuh waktu lama bagi Tetsuya untuk menemui Akashi yang sudah berdiri di depan street court basket depan komplek rumahnya. Mata heterokom milik Akashi melebar ketika mendapati Tetsuya terengah-engah akibat berlari, ditambah lagi Tetsuya lupa mengenakan jaket disaat malam ini udaranya terasa sangat dingin dan laki-laki mungil tersebut hanya mengenakan kaos putih polos yang sedikit tipis. Tanpa pikir panjang Akashi langsung melepas jaketnya dan mengenakannya di bahu Tetsuya yang lebih ringkih dari miliknya.

Sebagian hatinya entah mengapa merasa lega mendapati Akashi memperlakukannya sama seperti Akashi umur sepuluh tahun. Pemikiran bahwa janji lima belas tahun lalu hanya omong kosong belaka, entah mengapa sirna seketika. Tetsuya masih mendapatkan kehangatan dari Akashi.

Bola basket yang sedari beberapa menit yang lalu dimainkan Akashi menggelinding dan berhenti tepat di kaki Tetsuya. Akashi mendudukkan dirinya disamping Tetsuya. Bahunya naik turun tak karuan, keringat bercucuran membasahi wajah hingga badannya.

"Sei-kun,"

"Arigato, Tetsuya." Akashi mengacak rambut Tetsuya. Kemudian meminum minuman dingin yang terjulur dari tangan Tetsuya.

Hening sesaat selagi Akashi meneguk habis minuman dingin ditangannya hanya dengan satu tarikan nafas. Tetsuya terkekeh melihat kelakuan Akashi yang seperti tidak pernah minum selama sebulan penuh. "Aku tidak akan merebut minumanmu, Sei-kun. Jadi, minumnya pelan-pelan saja." Ledek Tetsuya seraya tangannya bergerak mengelap keringat yang masih membanjiri wajah dan tubuh Akashi menggunakan handuk kecil. Mata heterokom milik Akashi menatap Tetsuya. Membiarkan tangan Tetsuya bergerak kesana kemari. Menghapus air keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya.

Rasanya sudah lama sekali. Merasakan hangatnya perhatian Tetsuya kepadanya. Memanjakannya seperti ini. Dan setelah dipikir-pikir, Akashi nyaris lupa bagaimana diperlakukan seperti ini oleh Tetsuya. Menyadari sepasang mata heterokom tengah menatapnya dengan intens, gerakan tangan Tetsuya memelan. Mata aquamarine-nya tenggelam dalam tatapan sejuta arti yang terpancar dari heterokom Akashi.

Jemari Akashi menepikan rambut-rambut halus Tetsuya. Malam ini, ia ingin melihat wajah Tetsuya dengan lebih jelas. Wajah yang selama lima belas tahun hanya dapat ia lihat melalui layar ponsel atau laptopnya dan sekarang, Akashi bisa menangkup wajah yang baginya selalu terlihat cantik, ah tidak, setelah lima belas tahun Tetsuya tumbuh menjadi laki-laki yang semakin cantik.

"Cantik," satu kata yang hanya terucap pelan tapi Tetsuya masih dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Dengan penerangan lampu jalan seadanya ditambah sinar bulan yang muncul di langit malam, Akashi masih dapat melihat semburat merah muncul di kedua pipi Tetsuya. Ah, bahkan Akashi sangat menyukai bagaimana semburat merah samar tersebut selalu muncul karena ulahnya. Membuat Tetsuya semakin menggemaskan di matanya.

Tetsuya mengambil bola basket yang masih berada di dekat kakinya ketika wajah Akashi semakin mendekat, berusaha untuk menipiskan jarak mereka. "A-ah, ti-tiba-tiba aku ingin bermain basket."

Akashi tak kuasa menahan tawanya kemudian menyusul Tetsuya yang sudah berada di tengah lapangan. Sungguh, Tetsuya semakin menggemaskan saja. Membuat Akashi semakin ingin membuat Tetsuya salah tingkah dengan segala hal yang ia lakukan.

"One-on-one?"

"Tch! Aku tidak akan bisa menang dari Sei-kun."

"Hmmm? Benarkah? Padahal jika Tetsuya menang, aku ingin mentraktir vanilla milkshake seminggu penuh." Aquamarine Tetsuya berbinar-binar ketika mendengar minuman favoritnya dijadikan hadiah taruhan malam ini, dan itu dilakukan seminggu penuh! Tentu saja ini adalah hal yang tidak akan pernah Tetsuya lewatkan.

"Tapi, jika ternyata memang aku yang menang, Tetsuya harus mengabulkan permintaanku. Bagaimana?"

Tanpa pikir panjang Tetsuya mengangguk mengiyakan. Tetsuya tidak mempedulikan apa permintaan yang Akashi maksudkan. Traktiran vanilla milkshake selama seminggu penuh sudah memutus pikiran rasionalnya.

"Call, I'm in."

- Epiphany –

Shoot.

Bola basket tersebut masuk ke dalam ring dengan mulus. Lemparan three point shoot membuat skor milik Akashi bertambah tiga point. "Yosh,"

Tetsuya membungkukkan tubuhnya, mengelap keringat yang meluncur di dagunya dengan kaos putih miliknya. Bahunya naik turun tak karuan. Bibirnya terbuka lebar untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Pertandingan antara dirinya dengan Akashi sudah berlangsung selama sepuluh menit dengan skor yang didapati 21-0. Kekalahan mutlak yang diterima oleh Tetsuya. Mimpi dapat menikmati vanilla milkshake secara cuma-cuma selama seminggu penuh, tetap tinggal sebagai mimpi. Tidak akan terealisasikan. Dan seharusnya sejak awal, ia tidak terbutakan oleh taruhan Akashi. Karena sejak awal dia sangat tau, bahwa Tetsuya tidak akan bisa mengalahkan Akashi.

"Well, sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk traktiran vanilla milkshake selama seminggu penuh, maybe?" ledek Akashi dengan senyuman penuh kemenangan terpatri di wajahnya. Sedangkan yang diledek hanya memajukan bibirnya. Kedua pipinya menggelembung. Harusnya sejak awal Tetsuya tau bahwa Akashi hanya meledeknya saja.

"Menyebalkan. Sejak awal Sei-kun memang sudah tau kan bahwa aku akan kalah?! Lagi pula sejak dulu aku memang payah dalam urusan men-shoot."

"Hee benarkah? Aku pikir selama lima belas tahun ke belakang, Tetsuya belajar caranya men-shoot."

"Sei-kun!" Tetsuya memelototi Akashi yang justru tertawa lebar karena benar-benar berhasil meledeknya. Sedangkan bibir bawah Tetsuya semakin maju.

"Dan berhenti tertawa, Sei-kun!"

"Hahaha gomen, Tetsuya. Kau benar-benar menggemaskan, aku tidak bisa menahannya." Tetsuya berbalik bersiap meninggalkan Akashi yang masih belum mau berhenti tertawa, tetapi tangan Akashi sudah lebih dulu menarik lengan Tetsuya. Membuat Tetsuya berbalik dan kembali menghadap Akashi.

Akashi menghirup udara dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Tawanya sudah hilang dan saat ini hanya tergantikan oleh senyum gigi miliknya. "Sudah puas?" sinis Tetsuya. Kedua tangannya sudah melipat di depan dada. Akashi hanya mengangguk antusias, layaknya anak kecil yang baru dibelikan ice cream. Sedangkan Tetsuya berusaha mati-matian untuk tidak mencubit Akashi karena laki-laki di depannya sangat menggemaskan. Mungkin jika ia sedang tidak memasang raut—pura-pura—ngambek miliknya, ia sudah mencubit kedua pipi Akashi.

"Well, apa permintaan Sei-kun? Sesuai perjanjian diawal, aku akan mengabulkan semua permintaan Sei-kun malam ini, dan kuharap bukan sesuatu yang mahal harganya karena aku tidak memiliki uang banyak seperti Sei-kun."

"Bagaimana jika mahal harganya tetapi tidak membutuhkan uang untuk mendapatkannya?"

Tetsuya mengernyit bingung. Memangnya ada ya di dunia ini yang memiliki harga mahal tetapi bisa didapatkan tanpa uang?

"Emm… selama itu tidak berhubungan dengan uang banyak, aku akan melakukannya."

"Hee? Benarkah?"

"Tentu saja."

"Kau yakin akan melakukannya?"

Tetsuya mengangguk mantap.

"Alright. Then, this is my wish." Akashi menarik lengan Tetsuya membuat laki-laki tersebut berada dalam rengkuhannya. Menghilangkan jarak yang tercipta antara dirinya dengan Tetsuya.

Aquamarine Tetsuya membulat perlahan. Jantungnya seketika berhenti berdetak. Kedua tangannya mencengkeram bagian bawah kaos putihnya. Ini diluar dugaan Tetsuya. Ini lah yang dimaksud Akashi dari sesuatu yang mahal harganya tetapi tidak dapat diperoleh dengan uang. Hal yang tidak terbesit oleh Tetsuya sedikitpun.

Dibawah langit cerah dengan bulan yang setengah bagiannya tertutupi oleh awan serta beberapa bintang yang tersebar di beberapa titik, Akashi Seijuurou mencium Kuroko Tetsuya.

- Epiphany –

- TBC -