I'll Walk You Home
.
.
.
Park Chanyeol & Byun Baekhyun
.
.
Semuanya berawal dari Nyonya Park yang lelah melihat putra tunggalnya terus sendiri dan Kyungsoo, sang anak menolak
mentah-mentah gagasan Mommy baru. Lalu karena klausul bodoh yang Kyungsoo buat dengan daddynya, ia harus menahan rahangnya agar tidak jatuh saat melihat siapa calon pengantin ayahnya.
WARN: Ini GS! GS! harap tekan tombol x dipojok kanan atas jika tidak suka. Age-gap. Rated M for save.
.
"Byun Baekhyun,"
"Park Kyungsoo."
Musim dingin datang terlalu cepat dan temperatur diruangan megah itu turun sangat saja bukan karena musim dingin yang mulai meniupkan angin kencang, namun dua sosok yang kini berhadapan itu membuat suhu turun terlalu cepat karena tekanan yang sangat tinggi. Park Kyungsoo yang pertama kali angkat bicara,menghantarkan salju pertama untuk turun disana.
"Kau sangat muda. Apa yang membuatmu mau menikahi ayahku?"
"Harusnya aku tidak ada disini bukan?"
Ya, harusnya Baekhyun tidak berakhir konyol ditengah altar dan kemudian mengangguk bodoh saat ditanya kesanggupannya mengemban janji sehidup se-mati. For better or worse? Cih, kenapa pula ia mengangguk tadi? Ah, mungkin otaknya tengah miring beberapa derajat tadi.
"Aku tidak sepicik itu, kau bisa ada disini karena aku setuju. Jadi jangan terlalu drama."
Itu benar, saat neneknya bilang ayahnya akan menikahi perempuan pilihan sang nenek biasanya, ialah pihak pertama yang dipastikan menentang hal
tersebut. Kyungsoo akan melakukan apapun agar ayahnya tidak menikahi perempuan mana pun yang neneknya perkenalkan. Jangan salahkan
Kyungsoo, ia bukan seorang eodipus complex atau semacamnya. Ia hanya tidak ingin ayahnya mendapat pengalaman menyedihkan untuk yang
kesekian kalinya, sudah cukup ia dipermalukan para perempuan matrealistis yang hanya mencintai hartanya. Tapi perjanjian bodoh yang ia setujui
beberapa bulan lalu membuatnya kecolongan.
Cih, bagimana bisa? Byun Baekhyun? Aish!
Kyungsoo mengucapkannya dengan ekspresi datar, menimbang penuh rasa ingin tahu akan reaksi yang akan ditunjukan ibu tirinya.
Oh yeah, ibu tiri.
"Jangan khawatir nak, aku tidak berminat dengan harta ayahmu. Kau paham benar, bukan?"
Kyungsoo menahan dengusan kesalnya,"Karena kau tidak ingin harta ayahku maka aku jadi semakin curiga. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Demi Tuhan, kita bahkan duduk dalam kelas yang sama, Nona Byun."
Kyungsoo tidak bisa menyalahkan siapapun karena ia menolak menemui calon ibu tirinya sebelum pernikahan. Tapi saat pemberkatan tadi ia bahkan
harus menahan rahangnya agar tidak jatuh karena terkejut. Yang berjalan di altar menuju ayahnya itu adalah Byun Baekhyun! Teman satu kelasnya di
departemen sastra yang sudah lama menghilang. Ibu tirinya adalah seorang perempuan yang sebaya! Ini gila, jelas gila. Kenapa Byun Baekhyun mau
menikahi ayahnya yang usianya terpaut jauh diatasnya?
Entahlah, Baekhyun juga tidak terlalu jelas. Kenapa ia mau menikahi pria yang hanya berbeda beberapa tahun dari kakak tirinya yang hampir
pertengahan tiga puluhan? Mungkin saat itu ia tengah mabuk. Ya, mabuk kesedihan yang begitu dalam hingga kewarasannya hilang beberapa saat.
Lalu bagaimana lagi? Ia sudah menginjak lumpur, doakan saja semoga itu bukan lumpur hisap.
"Ayahmu cukup tampan, kau tahu? Dia juga punya beberapa hal bagus."
Kali ini Kyungsoo tidak bisa menahan dengusannya, Byun Baekhyun terlalu bertele-tele dan ia benci itu setengah mati."Ayahku cukup tampan tapi dia
tua, apa kabar teman kencanmu yang tak hanya tampan juga muda?"
Bukan rahasia lagi jika putri bungsu dari pemilik agency ternama di Korea Selatan itu berkencan dengan beberapa trainee tampan dari perusahaan
entertaiment mereka yang begitu berkuasa. Lantas kenapa gadis itu memilih ayahnya?
"Untuk informasi saja, aku lebih suka yang dewasa seperti ayahmu."
Baekhyun tak berhenti memakan kacangnya dan sesekali menanggapi Park Kyungsoo yang masih berapi-api padanya. Well, biarlah gadis itu
melakukan sesukanya. Hitung-hitung langkah pengakraban dengan anak tiri.
Anak tiri?
Baekhyun geli sendiri mendengarnya.
"Byun Baekhyun jawablah dengan benar!"
"Oh ayolah, Soo. Apalagi yang ingin kau tahu? Aku sudah jawab semuanya kan? Lagipula tak buruk juga punya anak tiri yang pintar sepertimu. Sudah sampai mana kelas Mr. Ilbert?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan," Kyungsoo menyela tajam dengan ekspresi keruh yang diam diam Baekhyun simpulkan sebagai ekspresi para Park yang tengah serius. Well, Park Chanyeol suaminya juga melakukan hal yang sama.
"Kau bahkan menghilang selama setengah semester dan Indeks prestasimu 3,64? Wah.. Kau luar biasa nona."
Bukannya tersinggung Baekhyun malah tersenyum dan kembali mengupas kulit kacangnya."Jadi ini hanya masalah Ip?"
"Ini tentangmu Byun!"
"Wah.. Wah.. Hati-hati dengan nada bicaramu, aku ini ibu barumu tahu."
Kyungsoo mengerut tidak senang,"Masa bodoh."
"Jadi apa yang tengah dibicarakan para perempuan disini?"
"Tuan Putri masih belum terima punya ibu tiri sebaya, Chan."
"Mantan pacarnya aktor muda yang tengah naik daun, Dad. Bagaimana bisa daddy menikahinya? Daddy lupa umur atau bagaimana?"
Ayahnya itu 34 tahun dan Byun Baekhyun, gadis itu jelas-jelas sebayanya! 18 tahun, ayolah!
"Wow.. Wow.. Santai sayang, itu sama sekali bukan alasan. Kau sudah setuju daddy menikahi siapapun kan? Masih ingat janji kita?"
"Daddy!"
Kyungsoo berteriak kesal kemudian berjalan menghentak meninggalkan ruangan makan menuju kelantai dua. Masa bodoh dengan ayah dan ibu tirinya, mereka berdua sama-sama mengesalkan.
"Kyungsoo marah sekali,"
Tentu saja, Chanyeol bodoh. Cari anak mana yang santai jika ayahnya menikahi perempuan sebayanya. Pria ini mendadak idiot atau bagaimana?
"Biar aku yang bicara, kau pergilah mandi."
Belum genap Baekhyun beranjak, tubuhnya terkunci dan pinggangnya dilingkari dengan pelukan yang posesif. Ia memutar bola matanya jengah saat
Chanyeol sengaja bernafas ditelinganya.
"Aku menunggumu diatas ranjangku, sayang."
"Ck, Ahjussi mesum."
.
"Untuk apa kau kemari? Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamarku ibu tiri?"
Kyungsoo menyela sarkastis pada Baekhyun yang menyengir lebar dalam balutan gaun pengantinnya. Demi apa, apa perempuan itu tidak lelah
menyalami tamu yang begitu banyak? Kyungsoo yang melihatnya saja jengah apalagi Baekhyun yang menjalani? Ah, ia hampir lupa jika perempuan
yang baru beberapa jam jadi ibu tirinya itu berbeda dengan spesies manusia kebanyakan.
"Anak tiri pinjamkan aku kamar mandi, ayahmu hobi berlama-lama disana. Aku gerah,"
"Cari alasan yang benar, daddy sudah mandi dari tadi."
Baekhyun mendengus dalam hati, mulut duo Park ini benar-benar tajam. Ia harus banyak-banyak minum pil anti meledak selama sisa hidupnya
bersama duo Park. Masa bodoh dengan alasannya yang tidak logis, Baekhyun ingin mandi dan mandi dikamar Ahjussi mesum itu bukan ide yang
bagus.
"Pergi ke kamar ayahku ibu tiri, kenapa kau malah masuk kamar mandi?"
"Oh ayolah anak tiri, aku perlu banyak persiapan untuk menghabiskan malam dengan lelaki tua itu, bisakah kau diam?"
Apa? Lelaki tua?
"Byun Baekhyun bodoh! Kau panggil tua itu adalah ayahku!"
"Demi apa Park Kyungsoo anak tiriku yang cantik. Barusan kau yang memanggilnya tua, bukan aku."
"Apa?! Kau-"
"Hei girls, apa aku setua itu dimata kalian?"
Baekhyun yang menoleh pertama kali, ia kalang kabut mencari alasan agar selamat dari rajukan Tuan tua yang tidak sadar umur. Cih, Park Chanyeol
lebih-lebih dari anak tk jika sudah merajuk!
"Chan, kau itu tampan oke? Berapapun usiamu kau selalu terlihat tampan di mataku. Abaikan Kyungsoo, dia hanya sedang kesal padaku. Dan oh, apa kau sudah mandi?"
Chanyeol memutar bola matanya jengah,"Ya ya, katakan semaumu perempuan muda. Aku datang kemari untuk menyusulmu, air bath upnya akan
tumpah ruah jika kau tidak pergi mandi sekarang."
"Suamiku yang tampan baik sekali. Oke, kalau begitu akan pergi mandi."
Kyungsoo yang sedari tadi diabaikan membuka mulutnya jengah,"Ini kamarku dan daddy, kalau daddy belum lupa aku belum legal untuk melihat lovey-dovey sepasang suami istri. Memang daddy mau jika aku merengek minta Jong In nikahi lalu daddy punya cucu yang seumur anak Daddy?"
Baekhyun sweatdrop,
Oh God, cucu seumuran dengan anak? Kemana saja otak Park Kyungsoo itu pergi? Pemikiran mengerikan dari antah berantah mana itu?!
Chanyeol pun sama terkejutnya, namun pria itu lebih cepat menemukan kemampuan berpikirnya yang hilang sejenak."Maafkan daddy, Soo. Kalau
begitu selamat malam dan jangan menelpon merengek pada calon menantu daddy untuk minta dinikahi, oke?"
"Daddy!"
Blam!
"Chanyeol anakmu horror, itu lebih seram dari muka datar Oh Sehun yang tiba-tiba berubah manis."
"Lebih horror pengantin baru yang masih berkeliaran dengan gaunnya tengah malam. Oh Baek sayang, please.. Apa kau berniat menghancurkan malam pertamaku, huh?"
Wajah Baekhyun merah padam, apa otak pria ini tidak jauh-jauh dari malam pertama? Demi apa, Baekhyun bahkan tidak sanggup menahan degup
jantungnya saat mendengar kata mengerikan itu. Ya ampun, ia harus apa agar malam pertamanya gagal? Apa ia harus pura-pura sakit? Aish, itu payah. Apa ia harus memukul Chanyeol dengan jurus Hapkidonya sampai pingsang? Atau apa ia harus jatuh dan berguling-guling ditangga? Oh tidak,
Baekhyun masih sayang nyawa.
Aaaa! Ia harus bagaimana?
Seseorang tolong bantu Baekhyun menggagalkan malam pertamanya!
Oh ya ampun, kenapa ia harus menikahi pria itu yang memiliki nafsu yang besar macam Park Chanyeol? Apa ia akan selamat ya ampun.. Ya ampun.
"Wajahmu pucat, apa kau benar-benar takut tentang malam pertama?"
Oh cobaan macam apalagi ini?!
Kenapa Park Chanyeol bicara tepat didepan bibirnya?
Maamamamaa Baekki mau pulaang!
Tawa Chanyeol yang menyebalkan terdengar nyaring, pria tua itu bahkan memegangi perutnya membuat kening Baekhyun merengut hebat dengan bibir yang mencebik menahan tangis. Ya ampun, masih anak mamah saja berlagak jadi ibu tiri. Ckck, kelakuanmu, Byun Baekhyun.
"Ahjussi jahat! Ahjussi mesum! Kenapa kau menertawakanku bodoh! Chanyeol bodoh! Chanyeol jelek! Dasar pria tua menyebalkan hikss! Mamaa! Maamaa! Mamaa Baekki mau pulaang!"
"Hei.. Hei.."
Chanyeol yang menjadi bulan-bulanan berjalan mundur, tangannya sih sebesar ranting yang bisa ia patahkan dengan sebelah tangan. Tapi Byun
Baekhyun memakai tenaga yang kuat disana,
"Baek, hei Baekhyun aku minta maaf oke. Akh- berhenti memukulku. Byun Baekhyun!"
"Bodoh! Ahjussi tu-"
Baekhyun bungkam, bibirnya disumpal dengan pangutan basah pada bibir bawahnya. Mata perempuan itu melotot kaget. Park Chanyeol menciumnya! Park Chanyeol menciumnya didepan kamar Park Kyungsoo anaknya! Baekhyun berusaha berontak, menekan dada pria itu minta lepas dan ia hendak menarik wajahnya. Ia masih mau hidup dan jika anak tirinya yang cantik itu memergoki mereka, Baekhyun yakin ia tidak akan selamat. Tapi ia harus
bagaimana? Park Chanyeol terlalu kuat, badannya berubah jadi patung besi yang tidak bisa digerakan. Bibirnya juga berubah menjadi jelly kesukaan
Baekhyun yang begitu manis hingga ia lengah dan pasrah tak melawan saat Chanyeol membawa kedua lengannya untuk mengalung pasrah pada leher Chanyeol dan terayun dalam gendongan Chanyeol menuju kamar pria itu dilantai dasar.
Dan berikutnya gadis itu tidak sadar sama sekali, untuk sekarang Baekhyun adalah seorang gadis lugu yang terlalu bodoh untuk menyadari situasi.
Ia bagai kapur yang karut dalam air, kesadarannya mengambang diambang batas hingga ia juga tidak menyadari jika Chanyeol tengah menandai
lehernya dan ia bergerak gelisah seraya menekan bahu pria itu mencari pegangan, terlalu bingung dengan sensasi dahsyat yang menggetarkan tubuhnya.
Merasa tubuh dalam kuasanya bergetar hebat, Chanyeol menarik wajahnya dan tersenyum menatap tanda kemerahan yang ada dileher gadis itu.
Oh yeah, ia masih pintar kok membuat mark merah macam ini. Merasa puas, pria itu mendongak kemudian mengusap bibir Baekhyun yang basah
dengan campuran saliva mereka lalu berbisik seduktive,
"Kau ingin mandi sekarang atau mungkin kita mandi bersama saja agar lebih cepat?"
Baekhyun yang terdesak antara ranjang yang panas dan dada Chanyeol mengerang saat lehernya kembali diserang secara main-main,"C-Chan.. Lepas-Lepaskan,"
Mendapat penolakan akan aksi berikutnya membuat Chanyeol mengangkat wajahnya seraya merengut,"Kenapa harus dilepaskan?"
Tatapan Chanyeol yang berubah tajam membuat Baekhyun serasa dikuliti, gadis itu memainkan gaunnya gelisah seraya menunduk dalam penuh
ketakutan.
"Aku.. Aku belum siap, C-Chan. J-Jadi,"
Baekhyun mendongak saat mendapat usakan lembut dipucuk kepalanya, ekspresi bodohnya dibalas senyuman penuh feromon yang membuatnya
mengumpat diam-diam dalam hati.
Oh tidaak! Kenapa pria yang selalu ia katai tua itu tampan sekali saat tersenyum?!
"Sayang sekali.. Tapi tidak apa-apa, pergilah mandi,"
Baru saja Baekhyun akan menghembuskan nafas leganya namun Chanyeol kembali mendekatkan wajahnya, ia harus menelan ludah gugup dengan
tangan yang bersiap-siap mendorong dada pria itu untuk menjauh.
"Tapi setidaknya biarkan aku menciummu oke?"
.
.
"Nama lembaga kesehatan dunia?"
"WHO,"Chanyeol mendelik sinis pada Baekhyun,"Kalau ajukan pertanyaan yang susah sedikit,"
Baekhyun balas mendelik pada Chanyeol yang masih bersantai nyaman pada headbed seraya memainkan tablet ditangannya. Pria tua ini menyebalkan, setelah menggodanya dan mencuri ciumannya habis-habisan tadi kini malah mengabaikannya begini. Dan sekarang pria ini malah menghinanya,
keterlaluan sekali bukan?
"Kemarikan keningmu, kau kalah."
Gadis itu bersungut-sungut kemudian perlahan beringsut mendekati Chanyeol untuk mendapat satu jitakan dikeningnya. Oh yeah, game classic untuk
mengusir kecanggungan, ia dan Chanyeol akan saling melempar pertanyaan dengan konsekuensi jika Baekhyun kalah ia harus dapat satu jitakan
dikeningnya dan jika Chanyeol yang kalah, pria itu harus mengabulkan satu permintaan Baekhyun.
Niat Baekhyun tadi ia ingin menang banyak, tapi nyatanya sudah 3 pertanyaan ia selalu kalah karena Chanyeol selalu berhasil menjawabnya. Hikss...
Apa selesai malam pertama ini ia akan terserang gegar otak ringan? Jitakan Chanyeol sumpah, rasanya sangat sakit.
Bersiap dengan hukuman selanjutnya, Baekhyun memejamkan mata, mencengkram pajama terusannya kuat-kuat untuk menerima jitakan. Sedangkan Chanyeol yang melihatnya tersenyum geli kemudian menurunkan tabnya dan memegang sebelah pipi gadis itu, sebelah tangannya bersiap
menyingkirkan rambut halus yang jatuh dikening si perempuan berisik. Senyum miringnya muncul tiba-tiba dan Baekhyun yang masih memejamkan
matanya tak bisa melihat tanda bahaya yang mengancam,
Si pria yang selalu Baekhyun katai tua itu mendekatkan wajahnya lalu,
Chup!
Baekhyun membuka matanya cepat, oh tidak.. Itu bukan pilihan bagus! Wajah Chanyeol yang beberapa senti diwajahnya buat sesak!
"Aku ganti hadiahku, daripada menjitak keningmu lebih baik menciummu saja kan?"
"Park Chanyeol bodoh!"
Chanyeol tertawa geli kemudian kembali menyandarkan tubuhnya dan kembali berkutat dengan tab,"Giliranku kan?"
Baekhyun mengerucutkan bibirnya kemudian mengangguk setengah hati. Pipinya pasti merah memalukan belum lagi jika Chanyeol menang lagi ia bisa
habis dicium pria itu sembarangan! Kali ini Baekhyun tidak boleh kalah!
"Bunyi hukum Newton ketiga,"
Apa?
Rahang Baekhyun jatuh seketika. I melotot kearah Chanyeol dan siap berkonfrontasi membela dirinya mati-matian, eyy kau berlebihan Byun.
"Yang benar saja Ahjussi! Hukum Newton ketiga! Aish aku bahkan hanya pernah lulus ulangan fisika sekali selama tiga tahun, ini hukum Newton tiga? Mati saja sana!"
Baekhyun ingat sekali jika ia pernah dapat hukuman penuh kasih sayang dari Mr. Jung saat terlambat datang ke laboraturium untuk percobaan ujian
praktek dan berakhir dengan ia tidak boleh masuk kelasnya selama dua minggu. Mulai dari saat itu ia benci sekali fisika, selama hampir dua belas tahun ia sekolah baru pertama kali diusir dari kelas secara tidak terhormat, sebagai murid teladan, Mr. Jung telah merusak reputasinya. Mengesalkan sekali
kan?
"Hush, hukum newton tiga itu yang paling mudah. Anak smp saja tahu, kau payah ah.."
Gadis itu mencebik kesal,"Pertanyaanmu yang payah Ahjussi. Kau ini CEO perusahaan ternama atau guru fisika sih? Memangnya saat tanda tangan
kontrak ada bunyi klausulnya yang mirip hukum newton tiga? Kan tidak.."
Senang membuat istrinya itu bersungut-sungut dan kesal setengah mati, Chanyeol mematikan tabletnya dan menaruhnya diatas nakas. Ia merendahkan
tubuhnya kemudian menarik Baekhyun yang tidak siap hingga limbung menimpa dadanya, menyandar nyaman disana.
"Tidak usah banyak bicara, mana hadiahku?"
Ck, sekarang Baekhyun tahu sejak awal pria tua ini memang sengaja menjebaknya. Seraya menahan kekesalannya, Baekhyun mendongak lalu
mengecup pipi Chanyeol sebagai rewardnya. Pria itu tersenyum lebar dan Baekhyun berwajah masam,"Giliranku lagi," rengutnya kesal.
Pria dewasa itu terkekeh geli,"Silahkan, Tuan Putri."
"Berapa emisivitas benda berwarna hitam?"
Hening sejenak,
Chanyeol mengusapkan ibu jarinya yang menggenggam tangan Baekhyun dan berpikir beberapa saat sebelum,"Aku tidak tahu.."
Lantas Baekhyun tersenyum girang,"Yey! Kau harus berikan aku ponsel dengan iOS terbaru Ahjussi!"
Mendapati reaksi girang Baekhyun yang mirip anak tk dibelikan mainan baru membuat Chanyeol merasa gemas, akhirnya ia mengangguk saja seraya menarik hidung gadis itu sebagai pelampiasan rasa gemasnya,"Permintaanmu mahal, sepuluh kali aku tidak jawab sepertinya aku akan bangkrut,"
Gadis itu terkekeh geli,"Kau tidak akan bangkrut kok, Ahjussi. Belikan ya? Ya?"
"Haish.. Iya, iya. Nanti jika sudah release akan aku belikan,"
"Yeay, Ahjussi jjang! Aku cinta Ahjussi hihihi.."
"Bilang cinta jika ada maunya saja, dasar bocah."
Chanyeol bersungut-sungut dan Baekhyun tertawa puas, gadis itu tidak tahu saja jika Chanyeol pura-pura tidak tahu. Emisivitas benda berwarna hitam itu adalah satu, itulah sebabnya jika memakai pakaian hitam akan terasa lebih panas karena panas yang terserapnya juga lebih banyak. Itu teori mudah yang pelajari saat tahun pertamanya disekolah dulu.
Tapi mengalah sekali tidak apa-apa kan? Daripada gadis ini menangis karena kalah dalam permainan lebih baik Chanyeol kehilangan beberapa juta
won saja, ia paling tidak suka melihat perempuan menangis, apalagi istrinya.
Hening sementara, Baekhyun menikmati usapan Chanyeol dipunggung tangannya dan menyandar penuh pada dada bidang sang suami. Matanya
terpejam lelah, tubuhnya terasa remuk dan matanya juga mulai perih, belum lagi usapan Chanyeol dipunggung tangannya. Rasanya Baekhyun tidak
ingin bangun.
Chanyeol yang menyadari hal itu lantas bersuara tanpa menghentikan usapannya,"Masih mau dilanjut?"
"Tidak mau, aku sudah menang. Mau tidur saja,"
Chanyeol tak bisa menahan senyum,"Licik sekali,"
"Bodo, yang penting ponsel baru. Selamat malam Ahjussi tampan,"
Bocah perayu ulung, bagaimana bisa gombalan pasarannya itu membuat Chanyeol tak bisa menahan senyum?
Gemas dengan tingkah sang istri, Chanyeol menurunkan Baekhyun dari dadanya kemudian menciumi seluruh wajah gadis itu tanpa henti hingga
istrinya itu mengerang dan menekan-nekan dadanya minta dilepaskan.
"Eungh.. ahjussi, aku ngantuk. Berhenti bertingkah mesum,"
"Aku sudah setuju untuk menunda malam pertamaku, setidaknya biarkan aku menciummu sepuasnya malam ini,"
"Eunghh.. ahjussi! A-Ahh.. Ahjussi!"
"Ssstt.. Siapkan nafasmu saja, sayang."
.
.
Esoknya, Chanyeol keluar dari kamar dengan penampilan rapih, kemeja dan celana bahan lipit berwarna abu yang ia dapati mengantung dipintu lemarinya tadi pagi. Oh yeah, Byun Baekhyun melakukan tugas pertamanya dengan baik. Ia juga mencium aroma kopi hitam yang kental, Chanyeol jadi
penasaran. Seberapa banyak Baekhyun belajar dari ibunya?
"Pagi, Dad."
"Oh, pagi sayang."
Jika dihari sebelumnya Chanyeol akan menemukan Kyungsoo didepan coffee machinenya setiap pagi, tapi sepertinya mulai dari hari ini ia akan
menemukan penguasa baru bagi coffee makernya. Siapa lagi? Tentu saja istri cantiknya yang masih muda, Byun si cerewet Baekhyun.
"Selamat pagi, sayang."
Park Chanyeol memulai pagi rusuhnya dengan menempeli Baekhyun seperti parasit, melayangkan beberapa kecupan ringan disepanjang leher gadis itu dan mengerang kecil saat mendapat cubitan 'sayang' dipinggangnya.
"Duduk dan tunggu coffemu selesai," itu Byun atau Park Baekhyun dalam mode ibu tiri.
Kyungsoo yang masih setia menunggu sarapan seraya memainkan ponsel mendelik malas kemudian mendengus keras-keras. Sejak kapan ayahnya
bisa bertingkah sebegitu agresif?
Ehm, nona muda Park. Mungkin selama ini anda hanya tidak tahu?
"Sampai jam berapa kelasmu hari ini, Soo?"
Gadis itu menjawab sang ayah tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel,"Sampai jam 3, Dad. Hari ini aku tidak akan bawa mobil jadi bisa tidak
daddy mampir dulu ke kampus sebelum pergi ke kantor?"
Chanyeol mengangguk seraya mengolesi rotinya dengan selai,"Boleh, sayang."
"Kelas pertama nanti jam berapa Kyung? Apa kelas Ms. Park adalah kelas pertama?"
Baekhyun datang dengan secangkir kopi hitam pekat juga segelas tinggi susu vanila ditangannya. Gadis itu meletakan kopinya disebelah kanan
Chanyeol dan memberikan gelas tinggi penuh kalsium ditangannya yang lain pada Kyungsoo.
Yang ditanya malah mendengus,"Mahasiswi macam apa kau ini, Byun? Kelas pertama adalah kelas Mr. Ilbert,"
"Syukurlah," gadis itu menghela nafas penuh rasa lega,"Aku belum menyelsaikan tugas essay Ms. Park, jadi aku bisa mengerjakannya makan siang
nanti."
Chanyeol tersenyum tipis seraya menikmati sarapannya, well dikelilingi dua gadis muda membuat ia merasa sangat tua. Padahal perbedaan usia mereka hanya enam belas tahun, pantas saja anak dan istrinya ini hobi sekali mengatainya tua.
"Tapi Baek, memang kau yakin menyelsaikan essaynya saat jam makan siang? Hanya jarak satu jam dari kelas Mr. Ilbert ke kelas Ms. Park,"
Baekhyun yang ditanya menyungingkan senyum kelewat lebar hingga mata sipitnya hampir menghilang sempurna,"Itulah gunanya punya anak tiri pintar sepertimu, Kyungsoo sayang."
Dan Kyungsoo menjerit lagi,"Daddy! Jauhkan si Byun ini dariku!"
Mulai dari sekarang berhati-hatilah dengan senyum Byun Baekhyun yang kelewat lebar.
.
"Jika kelasmu sudah selesai telepon daddy, oke?"
Kyungsoo menghela nafas dengan wajah tertekuk, ia melirik ayahnya melalui kaca kecil dibagian depan mobil lalu mengangguk bak anak kecil,"Paham dad, tapi jika bukan daddy yang datang aku tidak mau pulang."
Inilah bagian dari Kyungsoo yang kadang membuat Chanyeol enggan melepas putrinya untuk mulai menyukai pria sebayanya, putrinya itu sangat manja dan cengeng. Di sentuh sedikit saja akan fatal, perasaan Kyungsoo terlalu halus dan tak jarang Chanyeol harus memutar otak untuk mencari cara agar
tidak menyinggung anak gadisnya itu.
"Ya, akan daddy usahakan meetingnya tidak sampai sore. Jangan lupakan makan siangmu, oke?"
Kyungsoo mengangguk tak kentara kemudian membuka pintu penumpang belakang,"Aku duluan, Dad. Byun kau mau turun tidak?"
Mendapat serangan kecil dari sang anak tiri membuat Baekhyun merengut, bibirnya mengerucut dan ia mulai bersungut-sungut lagi,"Chanyeol, apa
anakmu pms setiap hari? Dia galaknya bukan main,"
Chanyeol tersenyum tipis kemudian membantu Baekhyun membuka savety beltnya,"Maklum saja, dia kan anak tiri. Aneh kan jika sikapnya langsung
baik?"
"Oh Ya ampuun.. Apa hidupku akan baik-baik saja?"
"Ibu tiri cepatlah sedikit!"
"Aish! Iya! Iya!"
Chanyeol tak bisa menahan tawanya melihat sang istri yang bersungut-sungut mengikuti putrinya yang berjalan cepat. Bisa ia lihat dengan jelas jika dua perempuan sebaya itu kembali berdebat hingga punggung mereka menghilang dibalik lorong kampus. Pria tinggi itu menggeleng heran kemudian
memacu mobil hitamnya untuk kembali ke jalanan.
Ia punya beberapa rapat penting dengan beberapa relasi bisnisnya. Oh well, jangan tanyakan Chanyeol perihal bulan madu. Ia bahkan tak sempat
memikirkannya, pergi berdua saja dengan istri mungilnya dengan tema honeymoon bisa Chanyeol tebak hasilnya, jadi percuma saja ia mengajak
Baekhyun toh gadis itu pasti akan menolak dan memilih melanjutkan perkuliahannya yang sempat terteter selama setengah semester karena kecelakaan serius.
Pertemuan pertamanya dengan Baekhyun adalah hari ke 35 gadis itu dirumah sakit. Yang ia dengar dari Tuan Byun, putri bungsunya itu mengalami
kecelakaan lalu lintas sepulang kuliah hingga membuatnya koma selama hampir satu bulan dan hari pertemuan mereka adalah hari keenam sejak gadis
itu sadar. Well, keadaan Baekhyun saat itu sangat kacau. Tubuh mungilnya begitu kurus, kepala penuh perban dan yang paling menarik atensi Chanyeol saat first impression mereka adalah, manik hitamnya yang berpendar tanpa harapan. Daripada terlihat seperti bangun dari koma, Byun Baekhyun
lebih pantas dianggap baru saja kembali dari ketiadaan setelah mengalami penyiksaan mengerikan.
Kosong, Chanyeol tidak bisa menemukan apapun dalam pandangan Baekhyun. Yang ada hanya kehampaan juga keputusasaan yang sepertinya telah menggerogoti isi pikirannya sampai habis. Pun dengan senyumnya yang Chanyeol rasa begitu manis, senyum itu tak lebih dari topeng dingin semata.
Untuk gadis seusianya, Baekhyun terlihat menanggung begitu banyak beban. Dibalik senyum manis yang membuat matanya menyipit lucu itu ada
sebuah goresan dalam yang tak kunjung sembuh, sisi kemanusian dalam diri Chanyeol memberontak dan memakinya habis-habisan saat ia setuju
dengan pernikahan bisnis yang dibuat keluarganya dengan keluarga Baekhyun saat tahu bagaimana kondisi gadis itu. Yang Chanyeol pahami,
Byun Baekhyun hanya gadis tidak berdosa yang tergores terlalu banyak luka dalam batinnya.
Dan diatas kenyataan itu, bagaimana bisa ia memamfaatkan gadis lugu tang tidak tahu apa-apa hanya untuk saham perusahannya?
Ditengah lamunannya, ponsel Chanyeol bergetar hingga pria itu menatap kedepan sebentar sebelum mengambil ponselnya,
Byun Baekhyun-
Chanyeol! Anakmu mengesalkan!
Sudut bibir Chanyeol berkedut menahan senyum, setidaknya Byun Baekhyun bisa kembali menampilkan dirinya yang seperti biasa didepan orang-orang.
Drrt.. Drrt..
'Byun Baekhyun-
Chanyeol! Pokoknya aku tidak akan beri kau dan anakmu jatah makan malam!
O-Ow.. Byun Baekhyun dalam mode ibu tiri.
.
"Percepat langkahmu sedikit Byun!"
Baekhyun mendengus dan memeluk buku ditangannya erat-erat seraya setengah berlari mengikuti Kyungsoo, sedari gerbang tadi gadis ini tak berhenti membawanya berlari. Kyungsoo sih enak tidak bawa apa-apa, sedangkan Baekhyun? Oh, terkutuklah ia karena belum mengerjakan tugas Ms. Park.
"Aish ibu tiri! Perlebar langkahmu, kita hampir terlambat jangan sok centil dengan menjaga jarak langkahmu itu!"
Lagi-lagi Baekhyun memakukan bibirnya, dasar Park Kyungsoo cerewet. Protes akan aksi Kyungsoo, bukannya mempercepat langkahnya Baekhyun malah milih diam dan menatap punggung sang anak dengan tatapan tajamnya yang, -maafkan aku, Baek, itu- tidak ada seram-seramnya sama sekali.
Merasa tak ada yang mengikuti, Kyungsoo sontak menghentikan langkahnya kemudian berbalik,"Oh Tuhan," bibir shape heartnya menahan gerutuan
namun tak urung untuk memdekati Baekhyun yang mulai merajuk seperti anak tk.
"Ibu tiri, kau tidak dengar? Kita hampir terlambat? Kenapa malah diam disini? Kelas pertama adalah kelas Ms. Park!"
Tentu saja Kyungsoo tidak mengeraskan suaranya, memanggil Baekhyun dengan sebuan ibu tiri didepan teman sekampusnya? Oh tidak, Kyungsoo
masih ingin hidupnya aman enam semester kedepan."Baek, hei, Byun Baekhyun?"
"Kau bilang kelas pertamanya adalah kelas Mr. Ilbert! Dasar anak tiri menyebalkan! Bawakan buku-buku menyebalkan ini sana!"
Kyungsoo tidak siap sama sekali dengan amukan Baekhyun, jadi saat ibu tirinya yang tengah merajuk itu setengah melemparkan beberapa buku tebal kedadanya dalam sekali hentakan, Kyungsoo harus puas dengan tubuhnya yang tiba-tiba terhuyung kebelakang."Baekhyun! Aish Baek!"
Mata bulanya menatap panik kearah Baekhyun yang berlari dengan berlinangan air mata. Aish.. Kenapa si ibu tiri antagonis itu malah lari? Menangis
pula, buat ia merasa bersalah saja. Namun kemudian Kyungsoo mengendikan bahunya acuh, memilih berbaik hati membawa buku-buku tebal miliknya yang dipinjam Baekhyun tadi dan kembali berjalan ke kelasnya yang lima menit lagi akan mulai.
Biarlah ibu tirinya itu merajuk, lagi pula Baekhyun lari ke kelas tadi. Dia kan mahasiswa teladan kesayangan Ms. Park mana mau datang telat?
Harusnya sih begitu, harusnya gadis mungil yang dengan bangga mengaku sebagai ibu tirinya itu ada dikelas, duduk di barisan depan tepat
disampingnya dan sedang mendengarkan ceramah dosen. Namun sejak kelas dimulai sepuluh menit lalu, Baekhyun sama sekali tidak menampakan
batang hidungnya.
Kyungsoo gelisah dalam duduknya, duh.. Ia jadi merasa bersalah, apa tadi pagi ia benar-benar keterlaluan? Tapi masa iya Baekhyun tersinggung
dengan kelakuannya tadi? Jika mereka bercanda biasanya juga seperti itu kan? Kenapa Baekhyun berubah sensitif begitu?
Karena tak bisa fokus, Kyungsoo menatap Ms. Park yang masih berdiri didepan kelas kemudian segera mengambil ponselnya dalam tas. Jemarinya
bergerak cepat diatas papan ketik kemudian senyap setelah pesannya terkirim.
'Daddy-
Dad, ibu tiri tidak masuk kelas
Tak lama, Kyungsoo melihat ponselnya berkedip,
'Daddy-
Fokus saja dengan kelasmu. Daddy akan putar balik dan jemput Mommy mu pulang.
Uhuk!
Mom-Mommy? Panggil Mommy pada perempuan 18 tahun yang masih suka merajuk? Yang benar saja dad!
"Park Kyungsoo, please explain the firts pattern in page 4.13"
Oh ya ampun! Byun Baekhyun menyebalkaaan!
.
Drrt.. Drrt
Baekhyun mengusap air matanya kasar kemudian kembali melirik ponsel,
'Park Dobi Chanyeol-
Ow, Baek. Kau bercanda kan sayang?'
"Bercanda?! Apanya bercanda!" Baekhyun mengetik balasannya seraya bersungut-sungut,
'Byun Baekhyun-
Jadi menyeretku sepanjang koridor sampai ke kelas itu bercanda? Kau tidak boleh pulang ke rumah Park Dobi!'
'Park Dobi Chanyeol-
Maaf sayang, maaf. Jika aku traktir ice cream aku boleh pulang kan?
"Cih, dia pikir bisa menyogoku dengan benda manis itu?"
'Baekhyun-
Kau tetap tidak boleh pulang!
Park Dobi Chanyeol-
Yakin? Aku akan pergi ke Myeongdong makan siang nanti, aku tahu kedai ice cream paling enak disana. Kau boleh pesan sepuasmu, Baek.
Wajah Baekhyun yang semula garang berubah lunak, ice cream? Sepuasnya?
Baekhyun-
YEAY CHAN! JEMPUT AKU SEKARANG!
Setelah selesai mengetik pesannya Baekhyun kembali mengusap matanya yang masih basah dengan air mata. Ugh, kenapa ia jadi cengeng begini? Lagipula kenapa ia harus marah pada Kyungsoo hanya karena masalah kelas? Ia kan selalu jadi yang pertama mengumpulkan tugas dosen Park, jadi tidak mengerjakan sekali tidak apa-apa kan? Lagipula ini hari pertamanya masuk kelas di semester dua.
Drrt.. Drrt..
Park Dobi Chanyeol is calling
Baekhyun menyerngit menatap layar ponselnya, kenapa si Dobi malah telepon?
"Apa?! Kenapa malah telepon bodoh?"
Bibir merah cherrynya mencebik saat mendengar kekehan berat Chanyeol dalam telepon,
'Jadi anak baik, Baek. Panggil namaku dengan benar, kau ingin ice cream kan?'
Baekhyun memainkan telunjuknya kesal,"Iya, Park Chanyeol suamiku sayang. Kenapa menelpon hm?"
'Eyy.. Baek, suaramu barusan kedengaran seperti boneka anabelle.'
Apa?! Park Dobi Chanyeol itu mengatainya apa barusan? Anabelle?!
"PARK Kau-"
'Tidak usah marah-marah sayang, aku sudah didepan. Cepatlah keluar, princess.'
Wajah Baekhyun berubah merah, princess? Duh, kenapa Chanyeol membuatnya seperti tuan putri dalam kartun-kartun disney? Oh well, Nyonya Park Baekhyun. Itu hanya gombal dan kenapa pula anda begitu cepat termakan gombalan chessy milik Park Chanyeol?
Seakan tersadar, Baekhyun menormalkan suaranya sebelum menjawab."Oh ya?"
'Hm, aku bisa terlambat Baekhyun sayang. Bisakah kau cepat?
Mendengar ucapan Chanyeol membuat Baekhyun secara refleks melihat jam tangannya. Oh ya, tentu saja terlambat ini hampir jam delapan lebih. Tapi sekali-kali buat Chanyeol datang terlambat tidak apa-apa kan? Lagipula ia perlu balas dendam dengan tingkah Chanyeol dan terus menciumi bibirnya
semalam,
"Tapi Chan, kau yakin aku harus berjalan sendiri kedepan sana? Aku takut, bisakah kau yang kemari?"
'Oh Baek! Yang benar saja aku hampir terlambat!'
Senyum miring Baekhyun tersunging sempurna mendengar erangan kesal Chanyeol,"Aku ditaman belakang, jika kau mau datang Chan."
'Jangan bercanda lagi, Baek. Keluar sekarang.'
Tidak mendapat reaksi sesuai ekspektasinya, Baekhyun mencebik,"Mengaku saja gentle tapi jemput istrimu yang ketakutan saja tidak mau, kau
payah, Chan."
Baekhyun tidak sadar saja, pria yang barusan ia katai payah itu kini tengah menyungingkan seringai lebar pertanda bahaya. Masih memegang
ponselnya ditelinga, Chanyeol mematikan mesin mobil kemudian keluar dari sana."Taman belakang ya, Baekhyun sayang?"
Gadis itu menyerngit mendengar suara Chanyeol yang berubah dalam,"Iya. Kau mau menyusul? Chan? Hallo Park Chanyeol?"
Grep!
"Ya Tuhan!"
Baekhyun menjatuhkan ponselnya saat tubuhnya didekap kuat-kuat dari belakang.
"Taman belakang huh? Ini bagian depan nona, bukan taman belakang. Uh, ternyata istriku nakal sekali daripada pergi bekerja dan memberimu
ice cream akan lebih menyenangkan jika kembali kerumah dan memberi istriku yang cantik ini hukuman panas yang menyenangkan."
"Pa-Park Chanyeol! Lepaskan aku! Tolong!"
To Be Continue
Errr.. Typo?
Muehehehehe Tolong diabaikan juseyoo.. Entahlah liat foto papih yang kelewat kece jadi kepikiran buat beginian. Apalagi momen ChanBaek pas baru balik dari Malaysia kan ada dedek ucoo nyempil disituu jadi gemess kan
Gue tau ffnya aneh tapi adakah yang penasaran buat lanjut? Gak ada? Ya udah gpp deh gue mau ngegalau lagi aja ama mamih sambil nungguin papi
leoy pulaang.. Annyeongg ^O^
.
