Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story by : Leopard2RI
Catatan : Fict ini memakai sudut pandang orang pertama dan memakai teks narasi. sehingga karakter orang pertama tidak akan berdialog menggunakan kalimat langsung.
Selamat membaca!
•
•
•
•
Afghanistan, 2 Januari 2010.
Aku tak akan pernah pernah melupakan hari ini. hari dimana dinas luar negeri pertamaku sebagai seorang Perwira dimulai. aku masih ingat panasnya gurun pasir dan terpaan angin yang bercampur debu dan kerikil menyambut ketika menginjakkan kaki keluar dari Pesawat Angkut yang membawaku dari pangkalan udara Eglin menuju negara ini.
Negara ini, negara yang menyimpan beragam memori. memori suka cita hingga penyesalan dan penuh kesedihan dalam hidup rakyatnya. Negara ini adalah negara konflik, negara yang tercabik perang Saudara antara pasukan Pemerintah yang didukung oleh Amerika Serikat melawan pasukan Pemberontak, setidaknya itulah yang aku tahu dari surat kabar dan instruksi dari Komandan Battalion ku di Atlanta.
Aku mendarat bersama ribuan rekanku yang lain. aku tak mengenal semuanya karena kami terpisah oleh hierarki dan sub-unit yang berbeda jenis dan satuan. masih segar di kepalaku seorang Prajurit menyerok segenggam tanah di tangannya lalu melemparkannya ke udara sambil berteriak girang.
"MARI KITA BUNUH SEMUA TERORIS GURUN ITU!!"
Kami tertawa melihatnya. Mendengar DarkJoke di siang bolong terasa tidak buruk. aku mulai mengambil langkah paling depan. Sambil mengibas-ibaskan tangan ke atas aku mulai meneriakkan nama Unit ku dengan lantang. beberapa Perwira lain melakukan hal yang sama. kami mencoba mengumpulkan para anggota unit kami yang masih berpencar tak karuan arah.
Seorang perwira menghampiri. dia berdiri di sampingku dan ikut meneriakkan nama unitnya, nama unitnya sama denganku.
Kiba, dia adalah perwira bawahanku. jabatannya sebagai wakil komandan Kompi membuatku tak terlalu menanggung banyak beban. beban yang kumaksut adalah beban koordinasi dan pengumpulan pasukan seperti sekarang ini. hubunganku dengannya sangat akrab, kami lulus sebagai satu letting dari Akademi Militer West Point pada tahun 2007 dan mulai meniti karir bersama di Angkatan Darat hingga sekarang.
Tak sampai beberapa menit aku dan Kiba berhasil mengumpulkan anggota Kompi kami. aku memimpin sebuah sub-unit bernama Kompi Fox yang diisi oleh setidaknya 60 orang prajurit dan perwira. aku melihat wajah mereka dengan cermat, berusaha menghapal beragam bentuk wajah dan warna dalam kompi ini
Aku mengucapkan sambutan selamat datang. walau aku juga baru pertama kali bertugas disini, namun sebagai Perwira aku harus mengayomi mereka. aku juga memberikan instruksi yang di tugaskan dari Markas Besar tentang segala hal yang harus kami lakukan selama berada di Negara ini.
Kami pergi menuju mess dan barak masing masing. khusus untuk perwira sepertiku, aku diberi fasilitas berupa bangunan seperti Apartemen. tentu bukan Apartemen mewah bintang lima di ibukota. Apartemen ini buatan unit Zeni dibuat dari bahan Semen dan Baja. aku mendapat sebuah ruangan berukuran 85 meter yang berfungsi sebagai Ruang Kerja sekaligus tempat tinggal.
Fasilitasnya cukup lengkap. kamar mandi di dalam. kamar tidur terpisah. meja kerja, dan juga meja makan serta sebuah sofa tua. tak lupa sebuah mesin AC dan Pemanas juga disediakan.
Hari sudah berganti sore. angin muson Barat Afghanistan yang dingin menerpa kulit dan seragam yang kukenakan. walau kamar pribadiku sudah dilengkapi pemanas ruangan tetap saja masih dingin. kini aku bergelung dalam selimutku. ditemani secangkir kopi dan tumpukan dokumen di meja, berusaha menyelesaikan laporan laporan yang harus di kumpulkan ke Battalion besok. aku berulang kali bergeliat tidak nyaman ketika duduk di bangku meja kerja, entah kenapa rasa dingin yang tadi terasa di tubuh lama lama berubah menjadi rasa pusing dan mual.
Aku mendengar pintu ruangan diketuk. dengan segera aku bangkit dari kursi dan membukakan pintu hendak menyambut tamu yang menunggu di luar ruanganku.
Merah muda adalah warna pertama yang aku lihat ketika pintu kubuka. aku sempat mengira ini halusinasi sebelum menyadari jika Merah muda yang kulihat adalah warna dari rambut seorang Wanita. Wanita itu menatapku ramah. seragam yang ia kenakan persis dengan seragam yang aku kenakan sekarang. hanya saja di lengannya terdapat sebuah badge palang merah yang tergulung dan terikat rapi.
"Kapten Uzumaki Naruto?"
Aku mengangguk dalam diam.
"Perkenalkan! aku Sersan Pertama Haruno Sakura pak!"
Sakura, adalah nama wanita berambut merah muda itu. ia melakukan salute militer sebagai penanda perbedaan jenjang pangkat kami. aku membalas salute nya dan mempersilahkannya masuk. ia berjalan menunduk sambil membawa sebuah tas selempang kecil di pinggang.
Aku mengarahkan Sakura untuk menghadap di depan meja ruang kerjaku. kami lalu berkenalan sejenak. disana ia menjelaskan dan bertanya tentang kondisi kesehatan. aku terkejut dan balik bertanya dari mana ia tahu jika kesehatan ku sedikit terganggu hari ini. Sakura tersenyum dan mengatakan bahwa Rumah Sakit Battalion mendapat laporan ada seorang Perwira yang mengeluh tentang suhu kamar dan minta dibawakan Teh Hangat ke ruangannya.
"Rumah Sakit Battalion mengirimku untuk memeriksa anda pak—sekaligus memastikan anda tidak terkena penyakit menular, biasanya menjangkit orang orang dari luar Afghanistan yang baru pertamakali datang ke negara ini.
Aku hanya mengangguk tanda mengerti. aku menarik sebuah kursi kecil ke dekat kursi Sakura agar ia bisa lebih mudah memeriksa tubuhku.
Sakura menyuruhku untuk membuka mulut dan menjulurkan lidah. dengan telaten ia memeriksa seluruh rongga mulutku dengan bantuan sinar cahaya Senter. jari tangannya yang terbalut glove medis mengusap permukaan lidah dan langit langit mulutku.
"Tolong lepas seragam anda"
Aku menurut. seragam PDL dan Kaus rangkap bermotif army aku lepas di hadapan Sakura. sedikit malu tentunya karena aku harus melepas pakaian atas di depan seorang wanita di luar keluargaku. dan hanya berduaan saja. untung aja aku masih memakai kaus dalam.
Sakura dengan telaten memeriksa denyut jantungku kini dengan Stetoskop. sesekali ia menekan beberapa bagian di perutku dan juga dada. membuatku sedikit merasa geli sekaligus canggung. cukup lama ia memeriksa tubuh bagian atasku itu, sekitar 10 menit.
"Anda punya riwayat penyakit flu berat akhir-akhir ini?"
Iris emerald itu menatapku dengan lembut. aku gelagapan menjawab kalau aku tidak punya riwayat penyakit flu yang ia maksut. dia tertawa kecil ketika menyadari kegugupan ku tadi. nampaknya ia sengaja menggodaku dengan semakin mendekatkan kursinya dengan kursiku.
Aku hanya bisa tersenyum malu.
"Baguslah kalau tidak ada, tapi wajah anda memerah, apa anda sedang demam?"
Hal yang membuatku semakin gelagapan adalah Sakura menempelkan jidat lebarnya dengan Jidatku. irisku dan irisnya beradu pandang. sangat dekat, bahkan aku bisa merasakan nafas Sakura berhembus pelan dari celah di bibir peach miliknya.
Aku secara reflek mendorong tubuh Sakura menjauh. jujur, sedikit tak nyaman dengan perbuatan Sakura yang terlalu—menggoda? apalagi aku dan Sakura ini berbeda gender dan Pangkat. sangat tak etis dalam kode etik Militer yang kami pahami dan doktrin dalam hidup kami di Angkatan Bersenjata.
Sakura lagi-lagi tersenyum lembut. ia mengibaskan rambut Merah Muda sebahu miliknya ke belakang. dengan cekatan Sakura membereskan peralatan medis yang tadi dipakai untuk memeriksa tubuhku ke dalam tas.
"Anda tidak terkena penyakit serius, ini hanya meriang biasa. matikan AC ketika tidur, basuh kaki dengan air hangat dan pakai jaket juga Kaus kaki setiap malam. minum teh hangat atau kopi untuk menetralkan suhu tubuh dan konsumsi obat yang kuberikan secara rutin setiap hari."
Ia lalu memberikanku 2 buah plastik berisi kapsul dan tablet. lengkap dengan secarik kertas berisi resep dokter. ia juga memberi sebotol kecil Vitamin C.
"Untuk Kapsul, 1 butir dikonsumsi 2 kali sehari setelah sarapan dan makan siang, kalau yang tablet, 1 butir dikonsumsi sehabis melakukan aktivitas berat. untuk Vitamin C diminum setiap malam sebelum tidur sebanyak 1 sendok makan"
Wanita itu menjelaskan fungsi dan jadwal konsumsi setiap obat yang ia berikan dengan detail, bahkan ketika aku tidak bertanya apapun. aku hanya bisa diam sambil sesekali menjawab 'Ya' atau 'Paham' setiap kali ia selesai menjelaskan.
"Anda serius sudah mengerti? kalau tidak bisa saya kasih catatan agar anda tidak lupa"
Aku tersenyum, meyakinkan Sakura kalau aku sudah mengingat semua yang ia katakan.
"Bagus, kalau anda masih merasa tidak nyaman atau sakitnya makin memburuk langsung pergi ke Klinik, jangan menunggu ditandu oleh prajurit anda sendiri lho!"
Tawaku pecah di depan Sakura. lagi-lagi aku harus meyakinkan dia bahwa semua akan baik baik saja. sedang Sakura malah cemberut karena mengira aku tidak menanggapi sarannya dengan serius.
Sakura lalu beranjak dari kursi. merapikan tas nya dan pamit mohon undur diri. sebuah Salute ia berikan padaku sebagai Perwira dengan pangkat 2 tingkat diatasnya. aku membalas Salute itu, tak lupa aku mengucapkan terimakasih dan membukakan pintu untuknya. sebuah sikap yang selama aku pelajari dari Minato, ayahku untuk menghormati perempuan.
Sakura pun berlalu. sedang aku kembali ke rutinitas menyusun laporan yang sempat tertunda. namun terlebih dahulu aku mengenakan jaket dan kaus kaki seperti yang dianjurkan Sakura. mesin pemanas ku setel pada mode maksimal. Vitamin C yang tadi Sakura berikan pun aku minum.
Namun aku merasa aneh dengan botol Vitamin C yang diberikan Sakura. bukan, bukan pada rasanya. semua obat punya rasa yang sama dan aku sudah maklum. tapi ada kertas yang menggulung permukaan botol itu. aku iseng melepas gulungan kertas dari botol. ada sebuah tulisan kecil disana.
'Semoga Cepat sembuh '
Aku terhenyak, apa-apaan ini. kenapa surat seperti ini ada di botol Vitamin C yang diberikan Sakura padanya?
Aku mencoba berpikir positif, mungkin saja botol Vitamin C ini tertukar, ya tertukar. tertukar dengan milik siapa aku tidak tahu. yang pasti orang yang dimaksud mungkin memiliki hubungan khusus dengan Gadis Merah Muda itu.
Malam itu aku habiskan dengan benar benar hanya bekerja. dan sialnya pengaruh obat itu malah membuatku tak bisa tidur dan terjaga semalam suntuk.
Afghanistan, 3 Januari 2020.
Ini hari kedua ku di Afghanistan. hari kedua yang buruk sebenarnya, dari awal aku terbaring di kasur saja sudah tidak nyaman. efek obat yang diberikan Sakura membuatku terjaga semalaman. karena tidak tidur, tubuhku terasa sangat lelah dan berat walau kelopak mataku terus terjaga. benar benar memuakkan.
Tubuhku seperti habis dipaksa berlari ratusan Kilometer. lelah, tapi tidak bisa terlelap dalam tidur. padahal kunci sukses untuk menghilangkan lelah adalah makan dan tidur, aku kehilangan nafsu keduanya.
Aku memutuskan pergi ke Aula ruang makan untuk mengisi perut yang kosong, mungkin makan sedikit banyak Karbohidrat dan Lemak sebagai sarapan pagi bisa membuatku terlelap. toh hari ini Kompiku tidak ditugaskan kemana mana. kami diberi waktu 7 hari untuk penyesuaian sebelum akhirnya benar benar ditugaskan di lapangan.
Ruang Makan terlihat cukup ramai padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. mungkin sebagian besar Pasukan reguler tempur sedang apel atau lari pagi di luar. yang tersisa di sini hanya Staff admin, teknisi maupun perwira sepertiku yang punya jam kerja lebih lenggang.
Aku mengambil sebuah nampan dan berbaris menuju Buffet. sistem makan di Pangkalan kami memang menggunakan Buffet agar lebih praktis. pertama aku menghampiri Buffet berisi Karbohidrat, ada kentang dan roti disana, kuambil keduanya. lalu aku beralih ke Buffet berisi daging. rupanya tinggal tersisa satu potong daging sapi bakar bagian Iga disana. Iga bakar itu nampak menggoda sekali di mataku, apalagi ukurannya sangat besar. dengan sigap aku mengambil potongan daging itu dengan penjepit makanan dan menaruhnya di nampan.
Aku lalu pergi ke area minuman. disana ada berbagai pilihan mulai dari juice, susu hingga minuman bersoda. aku memilih minuman bersoda karna ingin minum yang manis-manis di pagi hari.
Sekeping koin kumasukkan ke dalam mesin minuman otomatis yang menjual soda. kupencet tombol untuk memilih merk minuman bersoda yang kuinginkan lalu kutunggu selama beberapa detik. dari luar bisa dilihat mesin itu memproses pengambilan minuman dari rak nya hingga menuju lubang pengambilan di bawah.
Namun seseorang mengambil sebotol soda yang sudah aku beli itu sebelum aku mengambilnya. aku marah dan mencoba menegurnya. namun dia malah menatapku lebih galak seperti mengajak berkelahi.
"Anda tidak boleh minum minuman seperti ini ketika sedang sakit!"
Dia berkacak pinggang di depanku. orang ini bukan seorang pria berbadan besar berotot dan berwajah sangar sampai berani menantang diriku. melainkan dia seorang wanita, tubuhnya lebih pendek dan juga lebih ramping dari ku yang seorang laki-laki. namun tak sedikitpun rasa takut ia perlihatkan di iris emerald cerah itu
Sakura membuka kulkas yang letaknya berada tepat di samping Vending Machine yang tadi aku gunakan. ia terlihat mencari sesuatu minuman dan ketika sudah dapat ia langsung meletakkan nya di atas nampanku. sebotol yoghurt dingin.
"Anda hanya boleh minum minuman tidak bersoda dan mengandung gula berlebih seperti Yoghurt ini selama sakit!"
Tanpa diduga ia langsung menyeretku ke sebuah bangku panjang di ruang makan. bagai kerbau dicucuk hidungnya aku menurut saja ketika tanganku ia tarik untuk ikut bersamanya. aku hanya bisa diam tanpa mengucapkan apapun bahkan sebuah protes pun tidak aku layangkan.
Jika dipikir-pikir, bukankah seorang Bintara seharusnya tidak diperbolehkan melakukan hal ini pada Perwiranya?
Kami sampai di sebuah bangku panjang yang tadi Sakura maksut. disana hanya ada kami berdua, Aku bisa melihat sebuah nampan yang masih penuh dengan makanan. itu pasti milik Sakura. apa dia bermaksud mengundangku untuk makan bersama disini?
Dia menyuruhku untuk duduk di seberangnya. aku meletakkan nampanku di meja dan hendak memulai aktivitas sarapan pagi ku hari itu, sendok dan garpu kuambil dari wadahnya dan bersiap untuk memotong daging yang tadi kuambil. namun lagi-lagi Sakura mencegahku.
"Minum Yoghurt ini terlebih dahulu agar lambung anda tidak langsung menerima panas dari daging yang anda ambil"
Aku mendengus kesal. malas berdebat, aku membuka tutup botol Yoghurt dan meminum isinya sedikit. rasa manis dan asam segera memenuhi mulutku. aku bergidik ngeri ketika rasa asamnya mendominasi rasa keseluruhan Yoghurt itu. dari dulu aku sangat benci rasa asam.
"Enak?"
Sakura bertanya padaku sambil tersenyum. ia kini sedang menyendok beberapa sayuran buncis ke dalam mulutnya.
"Itu Yoghurt buatan anak anak Marinir, hampir semua makanan disini buatan mereka, kecuali Coca Cola ini."
Aku hanya menjawab singkat, "Enak" untuk sekedar menghargai jerih payah para tukang masak Battalion. toh ini makanan tentara, apa yang bisa diharapkan dari rasa makanan untuk tentara? bisa makan dengan komposisi Gizi yang cukup saja sudah bagus.
Kami berdua melanjutkan sarapan pagi ini. hanya ada keheningan di sela sela kegiatan makan saat itu. aku dan Sakura masih malu malu untuk membuka percakapan, situasi menjadi sangat awkward dan menyebalkan di satu saat.
Aku kemudian iseng bertanya tempat asal kelahiran Sakura dan kehidupannya disana, sekadar basa-basi pembuka percakapan.
Sakura menjawab kalau dia berasal dari Nevada, namun waktu kecil ia lahir dan tumbuh hingga remaja di Toronto, Kanada. sebelum akhirnya krisis Ekonomi pada tahun 2006 membuat keluarganya pindah ke US dan tinggal di Nevada.
Sakura lalu bercerita soal keluarganya. ibunya adalah seorang bekas penari malam suatu klub di Toronto sedang ayahnya adalah anggota Angkatan Darat Inggris. waktu itu sang ayah sedang depresi berat karena ditinggal selingkuh oleh tunangannya dan memutuskan untuk berlibur ke Kanada saat mendapat cuti. suatu malam Ayahnya melihat ada seorang penari malam cantik berjalan sendirian di lorong menuju klub malam.
"Ayahku lalu memperkosa ibuku malam itu. dan voila! ibuku hamil 3 bulan kemudian"
Aku terkejut mendengar Sakura dengan begitu gampangnya menceritakan aib keluarga di depanku begitu saja. ekspresinya santai seolah kejadian itu adalah hal biasa. Sakura menceritakan semua itu sambil tersenyum lebar tanpa dosa.
"Waktu itu ibuku sudah tidak perawan karena dia sering menjajakan tubuhnya pada banyak laki laki hidung belang di klub malam itu, tapi entah kenapa ia minta Ayahku bertanggung jawab saat dia hamil. padahal bisa saja bayi yang dia kandung adalah hasil hubungan seksnya dengan pria lain kan?"
Sakura kembali melanjutkan cerita. setelah mengetahui ia sedang hamil, Ibunya lalu pergi ke Inggris untuk mencari pria yang sudah menghamilinya itu. tak butuh waktu lama untuk menemukan sang ayah yang baru saja dipecat secara tidak hormat oleh Angkatan Darat Inggris karena kasus korupsi. setelah perdebatan panjang mereka memutuskan untuk menikah, menutupi aib keluarga dan negara sekaligus memperbaiki keadaan ekonomi keluarga dari ibu Sakura yang saat itu sedang melarat.
Aku hanya bisa melongo.
Sakura hendak kembali melanjutkan ceritanya sebelum aku memintanya untuk berhenti. cerita Sakura justru membuat mood-makanku rusak, aku bukan tipe orang yang suka diajak bercerita yang sedih sedih apalagi menyangkut keluarga.
Sakura hanya mengangguk dan melanjutkan kegiatan makannya. lagi lagi tanpa perasaan menyesal walau aku sudah menegurnya. gadis itu tampak seperti orang yang sudah kehilangan perasaan dan ekspresi. dia hanya bisa tersenyum dan tertawa dalam situasi apapun. bahkan ketika bercerita soal latar belakang keluarganya yang menurutku cukup menyedihkan.
Aku beranjak pergi meninggalkan Sakura dalam diam. makananku sudah habis. ia menatapku dalam senyum lebar walau ia melihat aku meninggalkannya sendirian. wanita lain mungkin akan marah dan sedih ketika laki laki mencampakkan mereka, tapi Sakura tidak. ia hanya tersenyum lebar sambil melihat kepergian ku.
"Kapten!"
Aku menoleh pada sumber suara itu. Sakura, dia melambaikan tangannya. iris emerald itu menatapku dengan pandangan ramah dari kejauhan.
"Selamat menunaikan tugas, jangan lupa minum obatnya!"
Aku tidak menjawab panggilan gadis itu dan langsung meninggalkan Aula ruang makan. kupercepat langkahku ke ruang apartemen ku. begitu masuk pintu langsung ku kunci dari dalam. aku merebahkan diri di ranjang sambil menenggelamkan wajahku pada sebuah bantal empuk berwarna putih disana.
Menyesap wangi bantal dan kasur bersarung putih polos seolah menjadi candu bagiku untuk melepas segala rasa kesal dan tak nyaman hari ini. tanpa sadar kini rasa kantuk yang sedari tadi aku dambakan mulai menyerang saraf dalam kepala dan tubuhku yang lain. efek Karbohidrat, lemak dan mungkin Yoghurt yang tadi aku konsumsi membuat tubuh terasa lelah, padahal seharusnya aku melakukan apel untuk kompi yang aku pimpin. Lazy—bukan sifatku, namun membayangkan naik turun tangga ke lapangan bawah lalu kembali lagi kesini membuatku semakin lelah.
Toh ada Kiba. aku bisa mempercayakan pasukan pada dia.
Aku mengambil posisi rebahan. 2 bantal kutumpuk menjadi satu sebagai sandaran kepala. selimut bermotif putih polos berukuran besar kutarik hingga mencapai dada. kutaruh Smartphone di samping bantal tepat menghadap telinga. aku sudah menyetel alarm di Smartphone itu hingga pukul 3 sore agar tidak kebablasan tidur hingga malam hari.
Tak butuh waktu lama hingga aku merasa kepalaku semakin rileks dan nyaman. tungkai leher yang disangga bantal perlahan makin berat seakan tertarik oleh gaya gravitasi ranjang. sekeping kecil nikmat dunia dari Tuhan aku sedang nikmati di atas ranjang sederhana ini.
Hingga akhirnya pandanganku benar benar gelap. aku tak ingat lagi apa yang terjadi selama 5 jam aku tertidur, tanpa mimpi indah atau buruk—hanya gelap seolah kau sedang berteleportasi menggunakan mesin waktu ke ruang dimensi lain.
•
•
•
•
TBC
Enjoy it. see you next time!
