Charater Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Newbie

Story by me

Don't like don't read

Gadis berambut hitam panjang itu memberikan dua lembar uang lalu menerima belanjaannya dari kasir. Kakinya melangkah santai menuju flat kecilnya. Gadis bernama Nishimura Hinata itu, tiba-tiba berhenti iris coklatnya mendapati sebuah buku bersampul cokelat tergeletak di tengah jalanan yang sepi. Ia berjongkok, tangannya tergerak mengambilnya.

"Ternyata sampulnya sangat mengagumkan," gumamnya. sampul buku berjudul Kingdom Lover itu terlihat tebal dan sangat cantik, seperti diukir. Di bagian bawah judulnya tercetak kata Pandora.

"Mungkinkah pengarangnya?" gumamnya lagi. Dahinya mengernyit heran, pasalnya nama pengarang seperti itu tidak lazim di negaranya. Namun dalam hati ia merasa senang mendapatkan koleksi buku baru.

Pupil HInata melebar tiba-tiba ia teringat sesuatu, segera setelahnya ia berlari menuju flat-nya tak lupa membawa buku misterius itu.

"Syukurlah," ucap Hinata. Gadis manis itu menghel napas lega saat salah satu serial hari sabtu pagi kesukaannya menampilkan opening. Gadis berusia delapan belas tahun itu adalah penggemar berat cerita bertema historical fiction untuk itulah ia enggan tertinggal barang sedetik pun. Maka dari itu ia selalu mengubah ponselnya menjadi mode silent agar tidak mengganggu ke-khidmad-annya dalam menonton.

Jam menunjukkan tepat pukul sebelas siang, wajah puas tergambar dari paras cantik Hinata.

"Kyaaa~, Kiba-kun memang yang terbaik," sorak Hinata menyebutl nama aktor favoritnya. Seketika ia teringat dengan buku yang ia temukan pagi tadi, segera ia mengambilnya dari plastik belanjaannya dan membawa buku tersebut ke kamar.

Sesampainya di sana ia membuka jendela agar cahaya dapat masuk, angin bertiup ringan,

"Ah cocok sekali untuk membaca," gumamnya. Ia membuka halaman pertama dan mulai tenggelam di dalamnya.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 14.30 siang, Hinata meregangkan otot-ototnya dan menatap sekeliling kamar. Bibirnya membentuk kurva senyum kepuasan karena telah menyelesaikan bukunya, yah walaupun juga setengah tak rela sebab kisah menarik telah usai. Halaman paling belakang marik perhatian Hianta, baris paling atas telah dicoret dengan tinta hitam sehingga sangat tidak mungkin dapat dibaca. Di bawahnya terdapat sebuah tulisan yang membuat Hinata mengernyitkan dahi.

"Jika kau ingin memasuki cerita di buku ini, maka bakarlah buku ini.

Kemudian larutkan abunya dengan air dan minumlah.

Maka kau akan menemukan cara tak terduga."

"Ck. Sangat tidak bermutu sekali. Orang bodoh mana yang akan melakukan hal seperti itu!" gerutnya.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, Ino! Bukankah gadis itu bilang akan menghubunginya siang ini. Gawat! Bisa-bisa ia merajuk lagi. Benar saja, 20 miss called dan 37 pesan dari Ino. Segera saja Hinata menghubungi gadis itu.

"Moshi-moshi?" ucap Hinata.

"Oh, rupanya kau sudah sudah sadar hm? Nona Nishimura?" ujar suara di seberang sana.

"Gomen Ino-chan, langsung saja apa yang ingin kau bicarakan?" jawab gadis berponi rata itu acuh tak acuh.

"Okey, karena suasana hatiku sedang baik, maka aku akan memaafkanmu kali ini. Dengar Hinata-chan, ayo besok pergi ke kota sebelah," ujar gadis berambut pirang di telepon.

"Untuk apa?" tanya si gadis beriris cokelat.

"Tentu saja bertemu idolaku! Si pangeran tampan Sasuke." Suaranya tampak riang. Sementara lawan bicaranya hanya memutar bola matanya bosan. Sahabatnya ini adalah penggemar berat aktor bernama Sasuke itu, bahkan tak hanya Ino dan teman-teman sekolahnya tetapi ibu-ibu kompleks yang Hinata lewati setiap pagi saat akan pergi ke sekolah. Sebenarnya Hinata tak tau-lebih tepatnya tidak mau tau bagaimana wajah yang selama ini dielu-elukan mereka semua. Hinata termasuk orang yang bebal, terserah mereka mau mengatakan ia kuno atau apalah. Karena selera aktor dan film yang Hinata suka berbeda dari merek semua.

"Ah Ino, aku-" ucapan gadis berambut hitam legam itu terpotong.

"Ayolah Hinata-chan, kumohon. Orangtuaku sudah setuju, jarang-jarang ereka mengijinkan," suara di seberang sana tampak lesu.

"Kenapa tidak mengajak Sai?" goda Hinata. Sai adalah kekasih Ino, namun ia sangat tidak suka jika kekasihnya itu menjadi fangirl garis keras. Maka dari itu kegiatan 'fangirl' Ino dilakukan secara diam-diam.

"Apa kau gila Hinata?! Bisa-bisa ia mengakhiri hubungan kami," timpal Ino dengan suara berapi-api. Sementara Hinata hanya menahan tawa.

"Aku hanya bercanda Ino-chan," ujar Hinata sembari tertawa ringan.

"Ne Arigatou," balas Ino dengan riang sembari menutup telepon secara sepihak. Hinata hanya bisa menggelengkan kepalanya mengetahui tingkah sang sahabat.

Semilir angin membuat mata Hinata semakin berat, dan ia perlahan tertidur dengan kepala bertumpu pada buku misterius itu.

Hinata perlahan membuka matanya, melihat sekeliling ruangan yang tampak asing.

Di samping kirinya seorang wanita berambut merah menatapnya agak terkejut, namun setelahnya berganti dengan senyum sinis.

"Rupanya kau masih hidup Hyuuga," gumam wanita berkacamata itu lirih, namun masih dapat ia dengar.

"Hi-hinata-sama sudah sadar," ujar seorang gadis yang tampak seperti pelayan.

Hyuuga? Hinata? Otak hinata berputar mencari jawaban. Jangan-jangan …

TBC or Discontinue?

Haloo minna-san, saya author baru SH, tapi bukan author baru juga sih di dunia kepenulisan. Saya mohon saran, kritik dan bimbingannya.

Sekalian juga, apakah sebaiknya ini dilanjutkan atau sampai disini saja? Jika banyak yang review apalagi bilang ya, akan saya usahakan ^^

Please, tinggalkan jejak ^^