Sakura adalah gadis cupu, dikucilkan. Hidup sebatang kara setelah diusir dari rumah pamannya. Orang tuanya sudah lama pergi. Kakaknya menghilang saat sedang kuliah keluar negeri.

Sakura mempunyai kekasih, tapi itu hanya permainan yang dibuat teman-temannya. Disaat mereka berstatus pacaran, sang pacar selalu mengencani wanita lain.

Sakura tak ubah makhluk tak kasat mata. Jadi mahasiswi abadi. Dicemooh seluruh warga kampus. Pasokan ekonomi yang apa adanya. Cukup sudah tak ada harapan lagi untuk dia hidup.

Sakura berjalan di tengah rel kereta api. Saat dari kejauhan bunyi roda bergesekan dengan rel semakin mendekat tak bisa dihindari.

Gubrkkkkkkkk

Akkhhhhhhh

Uchiha Kingdom

"Ughhh"

Sakura terbangun karena rasa ingin buang air besar yang kuat. 'tunggu, bukankah dia harusnya telah mati' mengamati sekitar ada yang aneh, tempat ini aneh, juga, ada banyak orang dengan pakaian aneh.

"Srrrhhh" memegang kepala yang tiba-tiba pusing, karena muncul ingatan-ingatan aneh di benak. 'apa ini?'.

"Lady, anda tidak apa-apa?" Tanya salah satu orang disana.

'tidak mungkin kan ada yang selamat setelah tertabrak kereta api?'

"Aww" ringis Sakura kuat, meraba-raba perut mulasnya. 'tunggu, kembung.' Sakura menunduk panik melihat perutnya. Sesuatu didalam sana menendang kuat.

"Apa yang terjadi?" Tanya Sakura panik pada orang-orang disana.

"Tenang Lady, sebentar lagi. Anda akan bertemu dengan bayi anda." Jawab perempuan rambut pirang, tatapan kelereng madu yang seolah berkata harus tetap kuat.

"Ba-yi?" 'bayi, demi Tuhan apa yang terjadi' perutnya mulas luar biasa. Dan otaknya harus berpikir keras. 'kondisi apa ini. Sejenak ingatan saat tadi mengalami pusing kepala menghantam ingatan lain yang belum pernah dia alami.

Sakura. Pernikahan. Uchiha. Kerajaan. Dan keturunan. 'Oh.. Apakah dia hidup kembali setelah bunuh diri? Ditubuh orang ini? Orang yang memiliki nama sama? Menikah dengan seorang tiran, dan sekarang.. Sekarang..' perutnya seolah diremas kuat. Menyadarkan untuk diperhatikan. Rasanya sungguh tak kuat.

"Arrrggggghhhh" teriak Sakura nyaring. Tangan yang semula digunakan meremas kuat perutnya dipegang kedua orang agar berpindah meremas benda lain.

"Sabar My Lady, Anda harus kuat. Belum saatnya. Atur nafas anda." Pandu seseorang bernama dokter Tsunade dalam ingatan Sakura.

"Kenapa...huft..bisa begi...ni" ucap Sakura susah payah.

"Anda tadi pingsan? Mungkin anda syok saat merasakan kontraksi." Jawaban yang salah maksud.

Sakura bermaksud bertanya kenapa dia bisa bangun ditubuh wanita ini. Tapi jelas mereka akan merasa bingung jika Sakura menjelaskan.

Sekarang yang lebih penting bagaimana dia bisa mengeluarkan makhluk kecil dari perutnya. Karena sungguh ini menyakitkan.

"hikss...aww...sa..kit." kontraksi kuat menghantam Sakura bertubi-tubi, semakin lama semakin intens dengan frekuensi waktu semakin cepat.

Dokter Tsunade masih belum mengizinkan Sakura untuk meneran. Dan itu sangat menyiksa. Hampir 4 jam setelah Sakura sadar.

Hilir mudik para pelayan dan perawat yang sebagian dikenal dalam ingatan. mengganti air panas baru, menyeka keringatnya yang bercucuran, membawa kain baru, tak sedikit yang membisikan kata penyemangat atau menjadi pelampiasan tangan Sakura akibat menahan sakit.

"Aduhhh, sampai kapan ini." bentak Sakura diluar kendali.

Dokter Tsunade tersenyum menenangkan, tangannya tidak berhenti memijat pelan area paha dan pinggang yang terasa kebas, sesekali bergiliran dengan perawat dibawah perintahnya untuk meracik ramuan obat.

"Apakah bisa sesar saja, ini sakit sekal." Tanya Sakura.

"Sesar? Jenis apa itu My Lady?"

"Sesar. Sesar metode untuk mengeluarkan bayi."

"Metode seperti apa itu?"

Zaman apa yang dia masuki ini. Apakah dia harus mati dengan cara seperti ini. Melahirkan kehidupan baru dulu. Mengingat dulu dia hanya pernah pacaran simpanan.

"Lupakan!" percuma menjelaskan.

Sreggg

Tiba-tiba pintu dibuka, dan munculah seorang pria perawakan gagah, tampan bak Raja Yunani dalam ingatan lama Sakura.

"Hormat kami My Lord." semua orang memberi hormat kecuali Sakura pada pria tersebut.

'Sasuke' batin Sakura. Ingatan baru Sakura mengarah bahwa lelaki ini adalah ayah dari bayi yang sedang berontak diperutnya.

"Kenapa lama sekali?" suara tegas dan dingin membuat Sakura yang sedang meringis tak berkesudahan semakin meremang.

"Pembukaan jalur lahir belum lengkap dan air ketuban belum pecah, My Lord." Jawab dokter Tsunade tenang.

"Berapa lama lagi?"

"Itu tergantung kondisi, My Lord. Tapi sebentar lagi?"

"Apakah dia begitu lemah." tatapan mencemooh Sasuke menuju pada Sakura.

'apa apaan ini, dia merendahkan orang yang sedang berjuang melahirkan.' namun itu hanya sebatas batin karena nafas Sakura yang putus-putus menyulitkan untuk berbicara.

"Mungkin anda bisa merangsang bayinya, kadang ikatan batin Ayah dan anak bisa mempengaruhi."

"tck. Merepotkan." dengus Sasuke kasar. "jadi?" Tanya Sasuke ambigu

"Hanya mengelus bayi anda dalam kandungan, dan memberikan kata-kata." jelas dokter jahil.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, karena dia sudah meninggalkan pekerjaan hanya demi telah diseret ke sini, Sasuke mengikuti mitos yang dijelaskan Tsunade. Berjalan mendekati Sakura yang kuyu dan kacau, mungkin sudah dalam keadaan setengah sadar, karena Sakura yang biasanya akan bertingkah kesenangan saat didekati Sasuke.

Mengelus perut Sakura yang kencang. Ini pertama kalinya bagi Sasuke. Selama kehamilan tak sekali pun Sasuke hiraukan rengekan atau kemanjaan Sakura yang menjadi.

Bayi didalam sana menendang tangan Sasuke kuat. Takjub. Seolah bayi yang belum diketahui jenis kelaminnya sedang berbicara bahwa dia senang akhirnya mereka bertemu dan saking antusiasnya dia tega menendang perut ibunya dengan kuat. Sadar. Sasuke menoleh ke arah Sakura yang beusaha menahan Sakit ditenangkan oleh dayang yang selalu disampingnya.

"tenang. Lahirlah. Kita akan bertemu." bisik Sasuke pada perut Sakura tanpa satu orang pun bisa mendengar.

"Argghhhhh ahggg ahkkk." teriak Sakura menjadi. Sasuke kaget.

Dengan cepat Tsunade memeriksa. Bagian bawah Sakura. "My Lady, dengarkan saya. Sudah waktunya. Dorong ketika gelombang kontraksi kuat. Jangan sekarang, atur nafas terlebih dahulu. Ikuti aba-aba. Jika gelombang yang lebih besar datang anda bisa mendorong."

"ah ahkkkkkk" sekuat tenaga Sakura mendorong saat gelombang yang dimaksud Tsunade datang.

Perawat tak kalah memandu sang Lady, dengan terus memantau datangnya kontraksi.

"Bagus Lady, jangan memaksakan diri." Sakura terengah-engah mengatur nafas yang diarahkan.

Selamat dia tak bisa rehat bahkan untuk satu menit. Saat kontraksi datang lagi.

"Aw ahk Sakittt." tangis Sakura tersedu-sedu. "Aku.. Tak kuattt." ucap Sakura dikejar dorongan yang semakin kuat.

Semua orang panik melihat sang Lady yang menangis dan mengacaukan kekuatan dorongan.

"My Lady, anda harus tenang"

"sabar, My Lady."

"fokus untuk mengejan."

Dukungan demi dukungan tak henti untuk membuat Sakura semangat.

Sasuke mengelus lembut kening Sakura. "Lahirkanlah" bisik Sasuke tegas.

"hmppp akhh huhf huh akhhh akhhh."

"Kau akan tau akibatnya jika gagal, kan?" ancam Sasuke.lagi.

"Lady, hanya sebentar lagi. Dorong yang kuat. Kepalanya sudah terlihat."

"Sialan. Sebentar. Sebentar dari tadi yang kau ucapkan." Bentak Sakura kesal. Kesal karena tak kunjung selesai, kesal karena sakit, ditambah ancaman dan fakta bahwa dia juga dikucilkan di alam baru ini.

"Sabar, Lady." bisik Temari, dayang pribadi kepercayaan Sakura.

Sasuke kembali mengerutkan alis bingung. Sejak kapan istri pertamanya berujar kasar.

Diujung perjuangan Sakura, kepala bayi itu benar benar sudah keluar. Terengah-engah mengumpulkan tenaga.

"Dorong, Lady."

"huhhhh huhhhh hah akhhhhh aw aw aw ahkkk"

Oek oek oek

Seketika senyuman senang timbul diparas semua orang disekitar Istana Blossom yang mendengar tangisan bayi. Kecuali Sasuke dengan mimik datar namun lega. Dan seorang wanita diluar kamar, istri kedua Kaisar.

"Selamat My Lord, My Lady"

Sakura masih terengah-engah mengatur sisa nafas yang bisa dihirup, kepalanya berat, dia ingin segera tau kondisi bayinya yang masih menjerit sedang dimandikan, begitupun dengan dirinya yang akan dibersihkan.

"Seorang princess, My Lord." informasi Tsunade yang merubah raut Sasuke menjadi dingin. Seketika dalam ruangan menjadi diam. Sebagian prihatin. Dan bagi Sakura yang mendapat ingatan, malah membuat semakin pusing. Maka setelah memastikan bayinya baik-baik saja. Kegelapan merenggut kesadarannya.

TBC