A/N:

Hanya penuangan drabbles yang dibuat mendadak.

Silakan review berupa kritik atau apapun itu.


Disclaimer:

Karakter yang dipakai dalam ff ini diambil dari Naruto karya Masashi Kishimoto


ForgetMeNot09

presents

.

.

.

Jadwal Bulanan

...

"Ino, kenapa kau tidak menyimak?"

Yang dipanggil mendongak, wajahnya menampilkan ekspresi kesakitan sementara tangannya tak henti meremas perut.

"Sakit perut Bu," jawab Ino

"Kau belum sarapan?" Kurenai bertanya cemas.

"Lagi dapet kali Bu," teriak Kiba asal dari ujung ruangan yang langsung menarik perhatian seisi kelas.

"Cieeee Kiba tahu jadwal bulanan Ino."

Kiba merutuki mulutnya yang asal njeplak.


Tukang Tiru

...

"Kau ini, sudah berapa kali kubilang untuk tidak menggangguku!"

Ino merengut mendapat jawaban dari Sakura. Gadis itu masih saja membuntuti Sakura sampai ke kelas sebelah.

"Naruto, Sasuke ada?" teriak Sakura dari pintu kelas.

Pemuda dengan rambut kuning itu berteriak tak kalah kencang, "Lagi pipis!"

Ino melongok dari balik tubuh Sakura, mata hijau piasnya berpendar.

"Naruto, Sai ada?"

Naruto menggeleng, "Kiba ada!"

Ino menggembungkan pipi.


Terlambat

...

Ia berjalan cepat menaiki tangga stasiun kereta. Napasnya tersengal tapi tak ia pedulikan. Sesekali mulutnya mengumpat.

"Sialan! Kenapa keretanya harus terlambat sih."

Mendadak sisi kanan tubuhnya terembus angin. Ia tetap berlari hingga menyadari sesuatu.

"Inooo," panggilnya lantang.

Tenaganya mendadak berlipat bagai kuda. Kaki-kakinya berlari mengejar sepeda ungu yang lajunya sedikit memelan.

"Kiba?"

Kernyitan tanda tanya di dahi Ino tak ia hiraukan.

"Aku bonceng," tukas Kiba.

"Hah?"

"Ayo dari pada kita terlambat," teriak pemuda itu sambil menepuk-nepuk punggung Ino dari belakang.

Ino mengendikkan bahu, lalu kembali menaiki sadel dan mengayuh sepedanya …

… dengan Kiba duduk di boncengan.

Ino merasa ada yang aneh.


Semprotan

...

"Mau sampai kapan menangis?"

Gadis berambut cokelat itu menoleh. Pipinya merona dengan mata sembap. Tangan itu berusaha menghapus sisa air mata dengan kasar.

"Sudah jelek begitu," komentar Kiba.

Pemuda itu memasukkan tangan ke saku celana, sebelum sesuatu yang tidak pernah ia duga akan terjadi, terjadi.

Gadis itu menerjang tubuhnya dan memeluk erat. Melanjutkan tangis pilunya di dada Kiba.

"Eh? Ta-Tamaki?"

Terpaksa Kiba membalas pelukan gadis itu, ragu.

Selanjutnya ia dikejutkan dengan air dingin yang menyiram tubuhnya.

"A-apa ini?"

Ia menoleh dan mendapati Ino tengah menyemprotkan air melalui selang panjang, ke arahnya.


Gay?

...

"Serius sekali kau Kiba."

Suara berdesibel tinggi tak membuat Kiba bergerak. Mata slit cokelatnya serius menatap satu per satu kata dalam buku teks tebal di hadapannya.

"Hei!"

Naruto mendadak menepuk keras kedua bahu Kiba.

"Ah sialan!"

Kiba mengumpat kasar dan balas memukul Naruto. Keduanya terjatuh ke lantai perpustakaan dan terjadilah pergumulan. Mengabaikan tatapan seisi perpustakaan, mereka berguling saling tidak mau kalah.

"Kiba?"

Suara sopran itu yang menghentikan kegiatan mereka berdua, atau lebih tepatnya Kiba yang menghentikan sementara Naruto masih tetap berusaha memukul Kiba.

"I-Ino?"

Detik berikutnya Ino menyeringai.

"Ga-gawat!" seru Kiba saat Ino mulai berbalik pergi.

Esoknya Kiba dibuat syok, walaupun sudah menyangka sebelumnya, oleh judul besar di majalah dinding sekolah.

"Kiba dan Naruto … gay?"


Taring

...

"Dasar maniak Twilight!"

Sakura bergeleng pelan melihat kawannya serius menonton film bergenre fantasi tersebut melalui layar ponsel. Sesekali Ino terlihat memeluk erat bantal guling sembari tersenyum dan berucap, "Awwww manis sekali …."

Sakura yang merasa penasaran, menghentikan kegiatan membacanya.

"Memang apa bagusnya sih film itu?"

Tanpa mengalihkan tatapannya, Ino menjawab, "Ah kau tidak tahu saja Sakura, ini kisah roman paling manis."

Sakura mendecak, "Perasaan banyak yang lebih manis, ya kan Hinata?"

Hinata hanya mengangguk. Ia tetap membaca buku.

"Ah kalian tidak tahu saja. Film ini manis sekali, didukung para pemerannya, apalagi melihat Jacob Black yang … eungh …."

Sakura dan Hinata saling berpandangan. Apa coba maksud "eungh" tadi itu?

"Gagah, tampan, apalagi pas gigi taringnya terlihat mencuat dari bibirnya. Ahhh seksi sekali …," lanjut Ino masih mendamba.

"Seperti … Kiba-kun?"

Celetukan Hinata menyeka senyum Ino tanpa bekas.


Surat Cinta

...

"Kembalikan Inuzuka!"

Teriakan Ino menggema seantero koridor sekolah. Ia mengejar sosok pemuda yang sudah berada jauh di depan. Padahal Ino sadar, ia tidak akan bisa menyusul striker andalan klub sepak bola sekolah itu. Namun pantang menyerah dan dengan semangat aku-harus-mendapatkan-kembali-surat-cinta-itu, Ino tetap bersikukuh mengajak kakinya berlari.

"Tidak akan Yamanaka!"

Dengan gerakan provokasi, Kiba membuka amplop merah mudah itu. Menarik isinya dan membentangkan lembaran kertas itu di depan wajah. Sedikit menelengkan kepala untuk melihat Ino yang masih mengejarnya, dan ia menyeringai.

"Untukmu, Shimura Sai."

Ino menyerah. Rasa malu membuat wajah putihnya merah padam. Ia menjatuhkan diri, bersimpuh duduk dan …

menangis.

"I-Ino?"

Kiba panik.


Masalah

...

"Kalian selalu saja begitu, membuat ulah. Tidak bisakah sehari saja kalian tidak membuat keributan?"

Wanita cantik itu memijit pelipisnya yang terasa sakit. Dua orang anak didik yang sedang duduk di hadapannya ini membuat kepalanya pusing.

"Bahkan Uzumaki Naruto saja tidak sampai separah ini sekarang," lanjut Anko sambil menatap tajam pada keduanya.

"Itu kan semenjak dia sibuk caperin Hinata, Sensei," celetuk Ino asal.

Kiba menatap horor pada gadis itu. Apa yang ada di pikiran Ino sih, beraninya menjawab guru killer yang sedang marah.

"Berani menjawab?" teriak Anko, tangannya menggebrak meja guru.

Kiba menahan napas dan mengutuk dirinya sendiri, dan terus mengumpat dalam hati atas waktu yang akan ia habiskan untuk mendengarkan luapan emosi seekor singa betina.


Pet

...

"Kau yakin ini alamatnya Kak?"

Laki-laki di sebelahnya mengangguk yakin. Sebelah tangannya mengelus kucing yang terlihat lemas. Suara dengkurannya sedikit menarik simpati orang yang mendengar.

Ino mengangguk. Jalannya berubah cepat, mengimbangi langkah lebar sang kakak. Sesekali ia ikut mengelus bulu kucing belang tersebut.

Ino merasa sedih, sudah hampir dua hari ini kucing kesayangan dirinya dan kakaknya itu sakit. Awalnya keluarga Ino berniat membawa kucing itu ke Iwa, mengingat tidak ada dokter hewan di Konoha. Namun tadi siang Deidara, kakak Ino, mengatakan dia punya kenalan dokter hewan yang baru saja lulus sekolah profesi dan membuka praktek di Konoha.

"Ini tempatnya," ujar Deidara.

Ino menoleh ke kiri dan melihat dengan jelas papan nama di depan sebuah klinik.

"Hana Pet," gumamnya.

Ia bergegas mengikuti langkah Deidara memasuki klinik tersebut.

"Selamat datang di Hana Pet."

Suara itu tak terdengar di telinga Ino karena sibuk terkejut menatap sosok pemuda yang sedang mengelus-elus kepala anjing di bagian dalam klinik.

"Ki-Kiba?"

Kiba menoleh.


Suporter

...

"Heh?"

Ino mengernyitkan dahinya heran, saat mendapati Sakura dan Hinata yang juga menatapnya heran.

"Apa?" sergah Ino.

"Kau bilang akan menonton pertandingan Sai?" tanya Sakura.

"Iya, lalu?"

Ino duduk dan mulai menatap lapangan, masih belum merasakan kejanggalan.

"Bu-bukannya Sai-san ikut pertandingan basket?" lirih Hinata, ragu, takut ada yang salah dengan ucapannya.

Tubuh Ino menegang.

"Kau mau menonton Sai atau Kiba?" sindir Sakura tanpa melepas seringaiannya.

Ino bergegas pergi setelah menimpuk Sakura dengan tas kecilnya.


Minuman

...

Kiba mendengus.

"Sialan!" umpatnya.

Ia haus, tapi tidak ada yang membawakannya minuman. Duh bahkan Naruto saja dibawakan minuman oleh Hinata, padahal mereka juga belum jadian.

Di sini ia berharap mendapat minuman dari Tamaki, tapi kenapa gadis itu malah malu-malu memberikan botol berwarna hijau muda kepada Jugo?

Mendesah lelah, Kiba mendudukkan pantatnya kasar ke bangku tribun. Salah sendiri kenapa tidak membawa air, malah mengandalkan hal yang tidak jelas.

Tiba-tiba matanya yang terpejam membuka, ia merasakan dingin di pipi kanan.

"Ino?"

Ino memalingkan muka, padahal tanpa begitu juga Kiba tahu jika Ino sedang merona.

"Nih, jangan salah sangka! Kalau saja Sai belum dapat dari Karin, minuman ini tidak akan jadi milikmu."

Kiba tersenyum, tulus, karena haus.


Cita-cita

...

Ramen di kantin memang hangat dan mengenyangkan. Uapnya mengepul membuat aroma kaldu menyebar. Menusuk hidung dan menggugah selera makan.

"Lahap sekali makanmu, Kiba."

Ino mendudukkan diri di samping Kiba, yang hanya melirik.

"Kak, miso ramen satu ya," teriak Ino.

Tatapan gadis itu menerawang pada atap kantin.

"Sebentar lagi kita akan jadi anak kuliahan."

Kiba mengerutkan dahinya heran. Dipikirnya gadis ini ngelindur.

"Kita bahkan baru naik kelas XI," ujarnya.

"Setahun itu cepat berjalan, Bodoh!"

Kiba sedang tidak mood membalas, ia hanya mengendikkan bahu dan melanjutkan makan.

"Kau akan ambil kuliah apa nanti?"

"Kedokteran hewan," jawab Kiba singkat.

Dan Ino hanya menatap seolah Kiba mengatakan akan dilantik jadi presiden besok.


Pesona

...

"Dari mana saja Inuzuka?"

Gertakan Sarutobi Asuma, pelatih sepak bola dijawab dengan senyum kikuk dan ucapan maaf. Namun jika diperhatikan ada semburat merah di wajah si Inuzuka.

Kan tidak mungkin Kiba menjawab, "Saya terlalu terpesona melihat Ino sedang merangkai bunga di klub Ikebana, Pak!"


Rambut Panjang

...

Tuk!

Kiba menengok ke sebelah kiri, melayangkan tatapan "Ada apa?" pada Gaara.

"Menurutmu gadis berambut panjang itu cantik?"

"Hah?"

"Padahal gadis berambut pendek lebih seksi," ujar Gaara berapi-api.

Kiba tidak mengerti akan arah pembicaraan, jadi ia hanya menjawab asal, "Seperti Matsuri?"

Gaara menggeleng, "Aku hanya membayangkan Yamanaka Ino semakin seksi dengan rambut sebahu."

Kiba mendelik tajam, "Don't you dare!"


Cantik

...

"Yamanaka!"

"Ya?"

Ino menoleh. Temaram lampu di ruang seni sedikit menyulitkan matanya untuk melihat siapa di depan sana. Ya, maklum saja, pesta perpisahan anak kelas XII, memang diadakan malam hari kali ini. Dengan alasan, lebih seru.

"… cantik," seru Kiba.

Ino menahan diri untuk tidak merona.

"Makasih Kiba," ujarnya.

"Bajumu cantik, sayang sekali jadi terlihat jelek di badan gendutmu!"

Terkutuklah mulut ceplas ceplos Kiba!


Simpati

...

"Aku melihatmu di atap."

Kiba diam. Matanya menatap lurus pada hamparan awan.

"Kau sedih?"

Masih hening.

Ino menghela napas dalam. Kakinya bergerak mendekati Kiba, dan ia menepuk bahu pemuda itu dari belakang.

Sesaat, ia pikir tengah berhalusinasi, bahu Kiba menegang atas sentuhannya.

"Sai juga menolakku."

Mengatakan itu seolah hal biasa.


Problem

...

"Kalian bertengkar?"

Ino mendengus, kadang teman-temannya memang suka ingin tahu.

"Apanya?"

"Apanya bagaimana? Tumben kelas sepi begini gara-gara kehilangan tukang berantem macam kau dan Kiba," tukas Sakura.

"Bukannya malah bagus jika tenang seperti ini?" bantah Ino.

Hinata menatap bolak balik antara Sakura dan Ino.

"Dia menyakitiku," bisik Ino lirih. Tatapan netra akuamarinnya menyendu.

Sakura dan Hinata menutup mulutnya tidak percaya.

"Aku hanya ingin menghiburnya, yang baru saja ditolak Tamaki, tapi ia malah mendorong kasar dan menyudutkanku di pagar atap."

Kedua kawannya mendesah pasrah.

"Kau bilang apa padanya?" tanya Sakura.

""Sai juga menolakku", aku pikir itu akan membuatnya sedikit terhibur, punya kawan bernasib sama."

Hinata menggeleng, "Ki-Kiba-kun menembak Tamaki-san karena melihatmu menyatakan perasaan pada Sai-san, Ino."

Ino menatap bingung. Namun tidak ada yang mau menjelaskan. Jadi hanya angin yang menjadi jawaban ketidakpahaman Ino.


Konfirmasi

...

"Setidaknya jelaskan padaku kenapa kau bersikap seperti ini, Kiba!"

Kiba menulikan telinganya. Sedikit heran dia, bukannya harusnya gadis pirang itu senang jika ia menjauh? Kenapa malah mengejarnya dan meminta penjelasan? Seperti mereka pasangan kekasih saja!

"Kiba, please …," bisik Ino.

Namun tak ada kalimat apapun keluar dari mulut Kiba. Pemuda itu bahkan tetap serius memainkan bolanya.

Ino menghentakkan kakinya dan berteriak, "Terserah kau saja!"

Ia berlari sebelum Kiba sempat mencegahnya.


Sepi

...

Suasana kelas XI-A saat class meeting menjelang kenaikan kelas sedikit berbeda. Biang berisik meskipun hanya berkurang dua orang tetap saja membawa dampak yang cukup signifikan.

"Kau tahu?"

Kiba tak menggubris, ia melanjutkan kegiatan menulisnya, atau lebih tepat menyalin tugas remedial.

"Ino pindah."

Kiba masih bergeming, tak memedulikan celotehan Naruto.

"Pindah ke Iwa."

"APA?"


Kamu

...

Ya, ini memang menggelikan. Adegan semacam ini harusnya ada di dorama ataupun telenovela. Kiba bahkan tidak tahu, untuk apa ia mengikuti komporan Naruto tadi.

Namun, lubuk hati terdalamnya tak ingin ia menyesal. Setidaknya ia harus mengungkapkan, apa pun balasan yang ia terima nanti.

Kiba menghentikan larinya, napas tersengal. Pandangannya lurus dan beradu dengan mata hijau Ino. Tak ada yang bergerak. Kaca bus yang menjadi penghalang seakan menanti bisu apa yang selanjutnya akan terjadi.

"Buka jendelanya!" teriak Kiba putus asa.

Ino tak mendengar suara Kiba, tapi ia mampu membaca gerakan mulut pemuda itu. Ia menurut.

"Bukan Tamaki …"

Ino menatap bingung, "Hah?"

"… yang aku suka itu kamu!"

Hangat mendadak mencipta semu di pipi Ino.

..


Last

...

"Kenapa kau ada di sini?" tanya Kiba bingung.

"Karena aku sekolah di sini," jawab Ino tak kalah bingung.

"Naruto bilang kau pindah ke Iwa?"

"Huh?"

Keheranan yang terpatri pada wajah Ino membuat Kiba segera berlari ke kelas sebelah.

"Narutoooo! Dasar siluman rubah!"

.

.

.

Tamat (?)