Disclaimer : Tokyo Ghoul by Sui Ishida

Chapter 9

Sudah lebih dari dua bulan Touka bersekolah di Aogiri Highschool.

Hari ini adalah hari Minggu di mana kelas Touka mengadakan kunjungan ke salah satu hutan di Jepang. Saat sudah sampai di sana, guru pembimbing di kelasnya memberikan mereka tugas yang tentunya tidak dikerjakan sendirian.

Untuk Touka, dia mendapatkan tugas untuk mencari kayu bakar. Untuk tugas yang satu ini, gurunya merasa kalau dia hanya memerlukan satu orang untuk menemaninya. Masalahnya, murid yang disuruh untuk menemaninya adalah pemuda yang selama ini dia jauhi, Kaneki Ken.

Dia pun terus berusaha protes supaya tidak dipasangkan dengan pemuda itu. Tindakan protesnya itu membuat teman sekelasnya semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Karena tidak bisa memberikan alasan yang kuat, tentu saja keinginannya itu tidak dikabulkan oleh gurunya. Dia hanya bisa pasrah dan pergi mencari kayu bakar bersama Kaneki.

Kaneki berjalan lebih dulu di depannya, sementara dia berjalan di belakang. Masing-masing dari mereka sudah membawa sebuah pisau belati untuk berjaga-jaga.

Selama menyusuri hutan itu, yang Touka lakukan hanya berjalan di belakang Kaneki tanpa mengerjakan tugasnya mencari kayu bakar seperti yang dilakukan oleh pemuda di depannya itu. Saat Kaneki menoleh, dia baru sadar kalau Touka tidak mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya.

"Touka, kenapa kau tidak mengumpulkan kayu bakar?" kata Kaneki dengan nada datarnya.

"Memangnya kenapa aku harus melakukannya?" tanya Touka dengan sangat ketus.

"Touka, kita berdua sudah mendapatkan tugas dari Sensei." kata Kaneki yang mencoba mengingatkan gadis itu.

"Huh ... aku malas melakukannya! Kalau kau mau melakukannya, lakukan saja sendiri!" kata Touka masih dengan nada ketusnya.

"Touka, bukan hanya aku yang disuruh oleh Sensei, kau juga." kata Kaneki.

"KALAU AKU BILANG TIDAK MAU BERARTI TIDAK MAU!!!" kata Touka yang sudah terdengar sangat kesal sampai membentak Kaneki.

"Ck, sebenarnya ada apa dengan gadis ini?" batin Kaneki yang kemudian menghela napas dan mengalah dengan keinginan Touka.

"Ya sudah kalau begitu."

Setelah Kaneki mengatakan itu, dia dan Touka kembali berjalan di dalam hutan itu dengan hanya dirinya yang mengumpulkan kayu bakar. Sebenarnya, sejak awal mereka berjalan sampai setelah ditegur Kaneki, Touka selalu memperhatikan Kaneki dari belakang.

Hingga saat ini, rasa cintanya kepada Kaneki masih belum hilang. Tetapi, dia masih belum bisa mendekati Kaneki karena berpikir kalau dia masih menjadi pacar Rize. Dia sangat kesal karena tidak bisa menjadi pacar Kaneki, tetapi keadaan seakan berusaha membuatnya dekat dengannya. Seperti saat ini, dia hanya bisa memandangi seseorang yang dia cintai itu dari belakang.

"Kaneki-kun!"

"Hmmhh ... hmmhh!"

"TOUKA!!!"

Tiba-tiba, sebuah teriakan tertahan keluar dari mulut Touka yang membuat Kaneki langsung berbalik. Ternyata, ada seorang pria dewasa yang langsung membekap mulut Touka dari belakang menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius, sehingga membuatnya pingsan secara perlahan. Sebelum pingsan, jarinya sempat berusaha menunjuk sesuatu.

Sadar kalau Touka berusaha menunjuk sesuatu di belakangnya, Kaneki mencoba menoleh. Tetapi, baru saja memutar kepalanya sedikit, dia langsung membungkukkan badannya karena melihat potongan ranting pohon yang hampir saja menghantam pelipis kanannya.

Setelah itu, dia langsung melayangkan sebuah tendangan samping menggunakan kaki kanannya ke arah perut dari orang yang berusaha menyerangnya dari belakang itu, sehingga tubuh orang itu langsung terdorong ke belakang dan terjatuh.

BUGH

BRUKK

Setelah itu, Kaneki langsung mencabut pisau yang menggantung di ikat pinggangnya. Setelah menendang orang yang ingin menyerangnya tadi, dia melihat pria yang membekap Touka mulai mengeluarkan pisau.

Tidak ingin memberikan kesempatan kepada pria itu untuk mengancamnya menggunakan Touka, Kaneki langsung melesat dengan cara melakukan koprol ke samping kiri pria itu dan menikam paha kirinya saat dia baru saja mendekatkan pisau ke leher Touka.

JLEB/"AAARGH"

Pria itu pun meringis dan hampir jatuh karena tidak kuat menahan tubuh Touka dengan kondisi kakinya yang terluka seperti itu.

Sebelum pria itu jatuh, Kaneki langsung menghantamkan bagian gagang pisaunya ke bagian belakang leher pria itu.

BUGH

Pria itu pun pingsan dan melepaskan tubuh Touka, Kaneki pun menangkap tubuh Touka. Tiba-tiba, Kaneki mendengar suara langkah kaki yang ternyata berasal dari pria yang tadi ingin memukulnya dengan ranting pohon. Dia masih sanggup berdiri dan mulai berlari ke arah Kaneki untuk menyerangnya lagi.

Merasa kesulitan untuk melawan pria itu sambil memeluk tubuh Touka, Kaneki pun melempar pisaunya ke dahi pria itu untuk mengganggunya. Tidak ingin membunuhnya, Kaneki memposisikan pisaunya agar bagian gagangnya yang mengenai dahi pria itu.

DUAGHH

Setelah itu, Kaneki menurunkan tubuh Touka. Di saat yang bersamaan, pria yang tadi ingin menyerang Kaneki melihat pisau yang tadi dilemparkan ke dahinya. Dia pun membuang ranting pohon yang dia pegang tadi dan lebih memilih menggunakan pisau itu untuk menyerang Kaneki karena merasa kesulitan jika harus menggunakan kedua benda itu sekaligus sebagai senjata.

Kaneki melihat tindakannya itu dan langsung berlari ke arahnya karena tidak ingin bertarung di dekat Touka dan membahayakannya.

Melihat itu, pria itu langsung mengayunkan pisaunya ke leher Kaneki.

Kaneki pun menangkap tangan pria itu menggunakan kedua tangannya, membelakanginya, dan berjongkok, sehingga tubuhnya tertarik ke bawah. Kurang dari satu detik setelah berjongkok, dia langsung berdiri sambil menarik tangan pria itu ke bawah untuk membantingnya. Dia sebisa mungkin memposisikan tangan pria itu agar pisau di tangannya tidak melukainya.

BRUKK

Setelah itu, Kaneki mengambil kembali pisaunya, lalu menginjak dan menendang tubuh pria itu beberapa kali sampai pingsan. Dia pun mengatur napasnya yang terengah-engah setelah melawan dua orang pria yang tadi ingin menyerangnya dan Touka. Setidaknya, saat ini dia bisa bernapas lega karena berhasil mengalahkan mereka berdua.

DOR

"JANGAN BERGERAK!!!"

Tetapi, itu tidak berlangsung lama setelah dia mendengar suara tembakan diiringi peringatan dari seseorang, Kaneki pun melihat ke orang itu. Dia adalah seorang pria dewasa berbadan besar dengan rambut berwarna pirang pucat.

"Ada apa ini?" tanya Kaneki dengan nada datar. Dia mencoba untuk tetap tenang dalam kondisi seperti itu.

"DIAM! ANGKAT TANGAN DAN BERLUTUT SEKARANG!!!" bentak pria itu.

"Kau siapa?"

"AKU BILANG DIAM! JANGAN BANYAK BERTANYA! TURUTI SAJA PERINTAHKU DAN JANGAN MENCOBA MELAWAN!!!" bentak pria itu lagi saat Kaneki ingin bertanya lagi.

Mendengar itu, Kaneki hanya bisa menuruti perintah pria itu, dia berlutut dengan mengangkat kedua tangannya.

Tidak lama, dia melihat sekitar 6 orang pria masing-masing dari mereka memegang senjata. Tiga orang di antara mereka memegang katana, satu orang memegang potongan ranting pohon, dan dua orang sisanya memegang pisau belati. Mereka dipanggil oleh pria berambut pirang pucat tadi saat Kaneki sedang bertarung dengan pria yang mengambil pisaunya.

Dengan keadaan yang seperti itu, Kaneki hanya menundukkan kepalanya dan mengeluarkan ekspresi pasrah di wajahnya. Merasa Kaneki sudah menyerah, pria yang tadi menodongkan pistol mendekatinya dengan pistol yang masih diacungkan ke arahnya.

Namun, saat sudah berada di dekatnya, Kaneki langsung menangkap tangan pria itu menggunakan kedua tangannya dan langsung mengambil posisi di samping kanannya. Dia pun meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari Kaneki.

Melihat itu, salah satu pria yang memegang katana langsung berlari ke arah Kaneki bermaksud untuk menyerangnya. Melihat itu, Kaneki merasa kesulitan jika harus melawan pengguna katana itu sambil menahan pria yang saat ini memegang pistol. Jika Kaneki melepaskan pria yang memegang pistol, dia yakin kalau pria itu akan langsung menembaknya.

Merasa tidak ada pilihan lagi, Kaneki terpaksa mengarahkan pistol di tangan pria yang saat ini sedang dia tahan ke arah si pengguna katana dan langsung menembaknya tepat di dadanya, sehingga dia langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri.

DOR

Marah melihat temannya ditembak, pria lain yang juga memegang katana ikut berlari ke arah Kaneki. Sayangnya, dia langsung mendapatkan tembakan di perutnya dan mengalami nasib sama seperti temannya sebelumnya.

DOR

Melihat itu, pria yang memegang potongan ranting pohon langsung berlari ke arah Kaneki, tetapi pada akhirnya harus mendapatkan tembakan di dadanya dan mengalami nasib yang sama dengan kedua temannya tadi.

DOR

Tidak ingin ada lagi temannya yang tertembak, pria yang ditahan oleh Kaneki langsung menekan sebuah tombol di pistolnya yang langsung mengeluarkan wadah peluru dari pistol itu. Kaneki yang melihat itu langsung mendorong tubuh pria itu ke samping, sehingga dia terjatuh dengan posisi duduk.

Setelah itu, dia langsung mengambil wadah peluru tadi dan melemparkannya ke arah kepala pria itu saat dia masih duduk di tempatnya.

DUAGHH

Baru saja melempar wadah peluru, Kaneki langsung melesat ke arah pria itu dan melesatkan tendangan dengan cara memutar kaki kirinya ke bagian belakang kepalanya.

DUAGHH

Tendangan itu sangat keras, sehingga membuat wajah pria itu langsung mencium tanah dan pingsan seketika.

DUAGHH

Tiba-tiba, tebasan dari sebuah katana datang dari samping kanan Kaneki dan mengincar bagian atas kepalanya. Menyadari itu, Kaneki langsung mundur sedikit sambil menangkap tangan kanan dari pria pengguna katana itu menggunakan tangan kirinya dan menariknya ke bawah. Setelah itu, dia langsung memukul pelipis kiri pria itu menggunakan tangan kanannya.

DUAGHH

Setelah itu, dia langsung menghantamkan siku kanannya ke punggung pria itu dan mematahkan bagian tulang yang ada di sana.

KRAK

Seakan tidak diberikan kesempatan untuk istirahat, dia dibuat harus mundur sambil menangkap tangan kanan dari pria lain yang mencoba menusuknya dari samping menggunakan pisau belati. Setelah itu, dia langsung memegang pipi kanan pria itu sambil memutar siku kanannya ke pipi kirinya.

BUAGHH

Sebelum sempat mengeluarkan serangan selanjutnya, sudah ada satu pria lagi yang ingin menebas lehernya dari belakang menggunakan pisau belati. Untungnya, Kaneki tidak sedikit pun menurunkan kewaspadaannya, sehingga dia bisa mendengar langkah kaki dari pria itu. Karena itu, dia langsung mendorong dan membenturkan tubuh pria yang dia serang menggunakan sikunya tadi ke arah pria yang mencoba menyerangnya dari belakang untuk mengganggu pergerakannya.

BRUKK

Setelah itu, Kaneki langsung melayangkan tiga pukulan beruntun ke arah punggung pria yang dia dorong tadi.

BUGH BUGH BUGH

Setelah itu, Kaneki melayangkan tendangan lurus menggunakan kaki kanannya ke arah punggung pria itu.

BUGH

Sebelum menurunkan kakinya, Kaneki langsung melayangkan tendangan samping ke arah punggung pria itu.

BUGH

Pria yang tadi menyerang Kaneki dari belakang berusaha menyingkirkan tubuh temannya yang didorong oleh Kaneki ke arahnya, tetapi semua serangan Kaneki membuat setiap gerakannya terganggu dan membuatnya sulit menyingkirkan tubuh temannya itu. Setiap serangan Kaneki juga membuatnya mulai kehilangan keseimbangan.

Kaneki pun mengeluarkan serangan terakhir dengan cara memutar tubuhnya hampir satu putaran ke arah kanan sambil melompat dan langsung melayangkan tendangan samping menggunakan kaki kanannya ke arah punggung pria yang dia serang habis-habisan tadi.

BUGH

Pria yang tadi berusaha menyerang Kaneki dari belakang langsung jatuh bersama temannya itu karena tidak sanggup lagi menahan tubuhnya.

BRUKK

Karena rasa sakit akibat jatuh dengan posisi ditindihi oleh temannya, pria itu pun melepaskan pisaunya. Sambil meringis, dia berusaha menyingkirkan tubuh temannya. Setelah itu, dia mencoba mengambil pisau yang tadi dia lepaskan.

"AAARGH"

Tetapi, sebelum sempat mengambil pisaunya, Kaneki yang ternyata sudah ada di sampingnya langsung menginjak tangannya dengan kaki kanannya dan menyingkirkan pisaunya menggunakan kaki kirinya. Seakan belum cukup, Kaneki kembali menginjak tangan pria itu berualang kali sampai terdengar suara tulang di jari tangannya yang patah. Pria itu hanya bisa meringis menahan rasa sakit yang sangat menyakitkan di tangan kanannya itu.

Seakan penderitaan pria itu belum berakhir di situ, dia harus kembali menahan rasa sakit saat Kaneki mencekik lehernya menggunakan tangan kanannya dan mengangkatnya sambil berdiri. Dia berusaha melepaskan tangan Kaneki menggunakan tangan kirinya, tetapi dia sudah sangat lemah sehingga yang bisa dia lakukan hanya menepuk-nepuk tangannya itu.

Mungkin satu-satunya yang bisa mengakhiri penderitaannya hanyalah tangan kiri Kaneki yang sedang terkepal di samping tubuhnya dan mulai diangkat oleh pemiliknya.

DUAGHH

..

.

Perlahan-lahan, sepasang mata berwarna biru gelap dari seorang gadis terbuka. Touka, nama gadis yang baru bangun dari pingsannya itu. Hal pertama yang dia rasakan adalah tubuhnya yang terasa tidak menyentuh tanah. Kedua tangan yang menyentuh punggung dan kakinya menunjukkan kalau dia sedang digendong di depan oleh seseorang. Ditambah tempat kepalanya bersandar yang agak keras, tetapi juga agak empuk yang tidak lain adalah dada dari seseorang yang menggendongnya.

Saat dia mencoba memperhatikan wajah dari seseorang yang menggendongnya, wajahnya langsung memerah dan jantungnya berdetak lebih kencang. Walaupun kepalanya masih agak pusing dan mata kanannya terhalang oleh poninya, dia masih bisa melihat siapa yang menggendongnya. Kaneki, pemuda yang sangat dia cintai, tetapi berusaha dia hindari.

Setelah selesai bertarung dengan sekumpulan pria yang menyerangnya, Kaneki memperhatikan beberapa orang di antara mereka yang masih hidup, tetapi sudah pingsan. Dia berpikir untuk melaporkan mereka semua ke pihak keamanan hutan setelah mengantar Touka kembali ke tendanya, tetapi dia berpikir kalau mereka bisa saja kabur setelah sadar dari pingsannya. Karena itu, Kaneki memutuskan untuk mengikat mereka menggunakan baju mereka masing-masing.

Dia melepaskan baju mereka semua dan membalik tubuh mereka yang masih terlentang menjadi tengkurap. Kemudian, satu persatu dari mereka disatukan tangan kiri dan kaki kanannya di belakang tubuhnya, lalu diikat menggunakan baju mereka masing-masing. Setelah itu, baru Kaneki menggendong tubuh Touka didepannya dan membawanya kembali ke tendanya.

Menyadari kalau Kaneki menggendongnya membuatnya bingung harus apa sekarang. Kalau boleh jujur tentang bagaimana rasanya digendong oleh pemuda itu saat ini, rasanya sangat hangat dan nyaman. Apalagi saat merasakan kepalanya yang bersandar di dada Kaneki, membuatnya ingin menggesekkan kepalanya di dada bidang pemuda itu untuk menambah rasa nyaman di kepalanya.

Melihat bagaimana tangan kanannya dikaitkan oleh Kaneki di lehernya supaya lebih mudah menggendongnya membuatnya ingin benar-benar memeluk pemuda itu dengan erat saat itu juga. Seakan-akan setiap saraf di tangan kirinya meronta-ronta ingin menggerakkan tangan itu untuk dikalungkan ke leher Kaneki dan memeluk erat pemuda itu, tetapi setiap keinginan itu ditahan dengan sangat kuat.

Touka masih berpikir kalau Kaneki masih menjadi pacar Rize tanpa tahu apa yang sudah terjadi di antara mereka. Larut dalam bimbang dan tidak tahu apa yang harus dilakukan membuatnya hanya bisa diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri

"Kau sudah bangun, Touka-san?"

Hingga suara Kaneki menyadarkannya.

Touka yang mendengar itu menatap wajah Kaneki, namun dia masih belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Tanpa menunggunya mengeluarkan suaranya, Kaneki langsung menurunkannya. Terbesit perasaan tidak rela di hatinya saat Kaneki menurunkannya, tetapi dia segera berusaha menepis perasaan itu.

"Sadarlah Touka, dia sudah menjadi milik orang lain!" batinnya.

Tanpa berani menatap wajah Kaneki, Touka langsung protes kepada Kaneki.

"K-kau pikir apa yang baru saja kau lakukan? Berani sekali kau menggendongku seperti itu!"

"Aku mencoba membawamu ke tenda." kata Kaneki dengan nada datarnya.

"Dasar playboy, katakan saja kalau kau ingin mengambil kesempatan saat aku pingsan! Benar 'kan?" kata Touka yang sudah mulai berani menatap wajah Kaneki dan semakin seenaknya melemparkan tuduhan kepadanya.

"Tidak."

"Tidak usah bohong, akui saja kalau kau itu playboy! Apa kau tidak puas dengan Rize sampai ingin mencari perempuan lain?"

"Kenapa kau melibatkan dia?"

"Kenapa? Kau tidak suka kalau aku melibatkan pacarmu itu?"

"Dia bukan pacarku."

"Apa kau berusaha mengelak? Sudah jelas aku melihat kalian selalu bersama sejak satu tahun lalu setiap ke kafeku. Walaupun sekarang kau tidak pernah lagi masuk ke kafeku bersama Rize, tapi kau selalu bersamanya jam istirahat dan pulang sekolah 'kan?"

"Touka, kenapa kau marah hanya karena hubunganku dengan Rize yang mungkin hanya kau lihat sekilas saja?"

Mendengar pertanyaan Kaneki itu membuatnya kembali memalingkan wajahnya lagi karena malu. Wajahnya langsung merona merah karena sadar kalau dia sudah berlebihan mengekspresikan rasa tidak sukanya dengan kedekatan Kaneki dan Rize.

Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Kaneki itu, tidak mungkin dia langsung mengatakan kalau dia mencintai pemuda itu. Jangankan menjawab seperti itu, membayangkan Kaneki yang sadar kalau dia cemburu saja sudah membuatnya sangat malu.

"Um ... a-aku ..."

"Dengarkan aku Touka, aku tidak tahu kenapa kau marah melihatku dekat dengan Rize. Tapi biar kuberitahu, aku dan dia sudah putus saat hubungan kami baru sekitar tiga minggu. " kata Kaneki.

"Benarkah? Um ... m-maksudku benarkah?" kata Touka yang sempat terlihat ekspresif, tetapi dia langsung memalingkan wajahnya saat menyadari itu.

"Itu benar, Touka. Saat itu ..." Kaneki pun menceritakan apa yang sudah terjadi padanya, mulai saat dia memergoki Rize bermesraan dengan pria lain, sampai saat di mana Rize bersikeras ingin memutuskan hubungan dengannya, walaupun dia sudah memohon agar Rize tetap menjadi pacarnya. Touka yang mendengar itu hanya bisa menutup mulutnya dengan tangannya karena terkejut dengan cerita Kaneki itu. Dia juga merasa kasihan dengan apa yang dialami oleh pemuda itu.

"Ya ampun Kaneki, seburuk itu 'kah nasibmu?" batinnya.

Kaneki pun melanjutkan ceritanya tentang pertemuan kembali dirinya dengan Rize, apa yang terjadi kepadanya, hingga usahanya mendekati Kaneki. Perasaan Touka campur aduk saat mendengar kelanjutan cerita Kaneki itu.

Dia senang karena Rize mendapatkan hukuman atas apa yang sudah dia lakukan kepada Kaneki, dia juga marah kepada gadis itu karena menurutnya dia tidak tahu diri. Baginya, Rize tidak pantas lagi untuk berusaha mendapatkan Kaneki setelah apa yang dia lakukan kepadanya. Yang jelas, dia sudah mulai mengerti tentang apa yang sudah terjadi di antara Kaneki dan Rize selama ini.

"Apakah benar begitu, Kaneki?" tanya Touka.

"Kau boleh percaya atau tidak. Yang jelas, aku sudah menceritakan yang sebenarnya kepadamu." kata Kaneki.

"Kalau memang Kaneki dan Rize sudah bukan sepasang kekasih lagi, bisakah aku mendapatkannya?"

"Touka, sebaiknya kita kembali ke tenda dan melaporkan apa yang baru saja terjadi."

Mendengar perkataan Kaneki itu, Touka yang sempat termenung pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti Kaneki. Setelah sampai di tempat berkemah, mereka pun ditanyai oleh guru pembimbing mereka karena tidak membawa kayu bakar.

Kaneki menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka tadi. Untuk membuktikan perkataannya itu, dia mengajak guru pembimbingnya itu untuk langsung ke tempat orang-orang yang menyerangnya tadi ditemani oleh pihak keamanan di hutan itu.

Benar saja, banyak pria dewasa yang menyerangnya tadi ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Beberapa di antaranya sudah diikat oleh Kaneki, kecuali mereka yang memang sudah mati karena tertembak tadi.

Para petugas keamanan yang melihat itu langsung membawa mereka ke pos penjagaan dan menghubungi pihak kepolisian. Alangkah terkejutnya para polisi saat melihat siapa yang ditangkap, ternyata mereka adalah komplotan penjual manusia atau biasa disebut Human Trafficking. Pria berbadan besar yang tadi membawa pistol adalah ketua komplotan mereka, namanya adalah Yamori.

Sebenarnya, korban dari komplotan ini berhasil diselamatkan oleh pihak kepolisian. Hanya saja, para anggota komplotan ini berhasil melarikan diri dan menyelinap ke hutan tempat seluruh murid di kelas Kaneki berkemah.

Setelah pihak kepolisian melakukan interogasi kepada Yamori, diketahui kalau dia dan komplotannya masuk ke dalam hutan itu dengan cara menyamar sebagai pengunjung agar bisa bersembunyi dari kejaran polisi. Mereka berencana untuk menyandera pengunjung lain agar mendapatkan tebusan. Saat wali kelas Kaneki sedang berbicara dengan pihak keamanan di hutan itu untuk merencanakan kunjungan para muridnya ke sana, salah satu anak buah Yamori menguping pembicaraan mereka.

Mendengar kalau akan ada pengunjung lain yang datang ke hutan itu, Yamori merencanakan penyanderaan kepada murid yang akan berkunjung ke sana. Karena itu dia memerintahkan anak buahnya untuk menculik murid yang sedang terpisah dari rombongannya. Beruntung Kaneki berhasil mengalahkan komplotan itu sebelum mereka sempat menyerang murid yang lain.

Selain menginterogasi para anggota komplotan itu, pihak kepolisian juga meminta keterangan dari Kaneki sebagai saksi.

Guru pembimbingnya sempat khawatir karena perlawanan Kaneki menyebabkan tiga anggota komplotan itu terbunuh, tetapi polisi sudah memberitahu kalau mereka memaklumi tindakan Kaneki itu. Bagi mereka, tindakannya itu adalah upaya untuk membela diri. Justru mereka bilang kalau Kaneki akan mendapatkan penghargaan karena membantu kepolisian dalam memberantas kelompok penjahat yang cukup meresahkan.

Awalnya, guru pembimbing itu ingin membatalkan rencana berkemah di hutan itu, tetapi polisi mengatakan kalau mereka tetap bisa berkemah di hutan itu dengan aman dan diawasi oleh pihak kepolisian.

Acara berkemah mereka pun dilanjutkan. Ada yang menarik perhatian para murid kali ini. Touka yang biasanya selalu berusaha menjauh dari Kaneki malah terlihat lebih perhatian kepadanya. Dia beberapa kali terlihat membantu pemuda itu.

Bukan hanya itu, wajahnya yang terlihat tidak senang setiap melihat Kaneki juga tidak terlihat lagi. Dia memasang ekspresi wajah yang terlihat manis saat berada di dekat pemuda itu. Dia juga menggunakan nada bicara yang terdengar lembut saat berbicara dengannya.

Hal itu membuat para murid yang lain berpikir kalau Touka mulai menyukai Kaneki. Para gadis sebenarnya agak cemburu menyadari itu. Tetapi kalau dipikir lagi, mereka lebih suka kalau Kaneki dekat dengan Touka daripada dekat dengan Rize yang pernah menghianatinya.

Alasan Touka menunjukkan perhatian kepada Kaneki karena dia ingin kembali mendekati pemuda itu. Kali ini, dia tidak peduli lagi dengan perbandingan derajat keluarganya dengan Kaneki. Sudah cukup sebelumnya dia menahan sakit hati hanya karena merasa derajatnya terlalu rendah untuk bersamanya. Lalu apa yang dia dapatkan selanjutnya, dia malah harus menahan sakit hati karena melihat Kaneki menjadi kekasih orang lain.

Lagipula, dia merasa kalau derajat keluarganya sekarang tidak terlalu rendah untuk mendekati Kaneki, itu pun kalau dia memang tipe orang yang suka membeda-bedakan orang lain hanya karena harta. Kaneki memang menunjukkan sikap yang terlihat acuh kepadanya, tetapi Touka mengerti kalau pemuda itu sekarang memang memiliki kepribadian yang lebih dingin daripada saat pertama mereka bertemu. Dia juga mengerti penyebab perubahan kepribadiannya itu jika mengingat ceritanya tadi.

Ditambah lagi, cerita Kaneki tentang keinginannya yang ingin menghindari cinta untuk saat ini. Untuk alasan yang satu ini, memang mungkin akan mempersulit Touka untuk mendekatinya, tetapi dia tidak ingin menyerah. Dia tetap ingin terus berusaha mendekati Kaneki walaupun mungkin itu sulit.

-To be continued

Ok, mungkin cukup sampai sini saja dulu chapter kali ini. Maaf kalau masih ada kekurangan di cerita ini dan terima kasih sudah membaca.

#RAMAIKANFFN2021

#FFN2021BANGKIT!