"Ini aneh sekali."

Yamanaka Ino melirik dari pantulan cermin, sang manager terlihat gelisah sambil melihat ponsel. Keningnya mengerut, lalu menoleh ke belakang untuk melihat Hinata lebih jelas.

"Apa yang aneh?"

Belum sempat Hinata menjawab pertanyaan Ino, seorang wanita berambut pirang menyela sambil memutar kembali kepala sang aktris. "Hei, Ino! aku sedang meriasmu, jangan bergerak!"

"Ahaha..., maaf Shion-chan." Setelah meminta maaf, ia kembali menatap Hinata lewat pantulan cermin dan bertanya lagi. "Jadi, apa yang aneh, Hinata-chan?"

Sang gadis bermata rembulan itu menghela napas, ia menunjukkan layar ponselnya dengan raut cemas. "Sudah seminggu Naru-kun tidak update!"

Kali ini bukan hanya Ino, Shion yang merupakan make up artispun juga menatap tidak mengerti. Hal itu membuat Hinata mengembungkan pipi, membenarkan kacamata berframe hitam miliknya.

"Naru-kun, kekasihku, sudah seminggu tidak ada kabar!" ucap Hinata lantang.

Butuh sekitar tiga detik untuk memroses kata-kata Hinata, sebelum kedua temannya serentak berseru kaget. Tidak percaya wanita yang terkenal judes, cuek, ternyata diam-diam memiliki kekasih. Ino segera beranjak dari duduknya, tidak peduli dengan riasan yang baru separuh jadi. Terlebih Shion juga sudah mengikutinya dan berdiri di depan Hinata sambil menatap penasaran.

"Eh, eh, eh?! sejak kapan kalian berpacaran?"

"He he, bulan lalu kami merayakan hari jadi kami yang setahun." Hinata tersenyum lebar dengan pipi merona.

Ino sudah menaruh kedua tangan di bahu Hinata, "Kenapa kau tidak pernah cerita, Hinata-chan?! apa kau menganggap remeh pertemanan kita selama sepuluh tahun ini?! jadi siapa kekasihmu?"

"So-soalnya aku berpikir itu bukan hal penting untuk kuberitahu."

Ino mengerucutkan bibirnya kesal, "Bagaimana mungkin itu bukan hal penting? kau bahkan tidak pernah melirik pria yang mendekatimu. Aku sampai khawatir karena yang kau pedulikan hanyalah pekerjaan. Jadi aku sangat senang mendengar kalau akhirnya kau memiliki seseorang yang kau sukai." katanya sambil menggenggam kedua tangan Hinata dan tersenyum tulus.

"Jadi bagaimana kalian bertemu?"

"I-itu..., di youtube." Hinata menjawab ragu, sepertinya ia telah membuat teman-temannya salah paham.

"Oh, kekasihmu itu seorang youtuber?" Ino semakin bersemangat.

"Bu-bukan, eh, tidak salah juga sih..., dia youtuber" Semakin mencoba menjawab, Hinata kian kelimpungan. "Dia... seorang ASMR Boyfriend .., Role-play." dan semakin ia berkata, suaranya makin mengecil.

"Okay, jadi kapan kalian bertemu?"

"..., Kami belum pernah bertemu."

"Lalu bagaimana caranya kalian berpacaran?"

"..."

Mulai merasa ada yang tidak beres, Ino dan Shion terdiam. Keduanya menatap tajam Hinata yang sudah memainkan kedua telunjunya. Kebiasaan ketika sang gadis bermata bulan itu merasa gugup.

"Sebentar, biar aku perjelas." Ino memijat pelipis sambil mencoba mengurai satu persatu informasi yang ia terima untuk dapat menyimpulkan hal yang sebenarnya.

"Kalian kenal lewat youtube, dia seorang youtuber dengan konten boyfriend role-play, kalian juga tidak pernah bertemu dan hanya saling berkomunikasi lewat channel yang ia buat?"

Hinata mengangguk beberapa kali, ia lalu melirik ke arah lain. "Bisa dibilang..., dia kekasih online-ku?"

Keheningan menyelimuti mereka bertiga, lalu detik berikutnya, Ino mulai berteriak histeris. "Ini tidak bisa dibiarkan! Shion cepat buat janji dengan pisikiater terkenal! ah, buat janji temu dengan Tsunade-san, katakan padanya kalau Hyuuga Hinata sudah gila, akibat menjomblo selama hampir sepuluh tahun!"

"Aku juga akan mengatur kencan buta dengan para manager idola laki-laki!" Shion ikut menyahut dan sudah sibuk dengan ponselnya.

Sementara itu wajah Hinata sudah merah padam, antara malu dan emosi memiliki dua sahabat menyebalkan seperti Ino dan Shion. Ia menggeram kesal, menarik dua rambutnya yang ia kuncir dua dan balik berteriak marah.

"Makanya aku tidak mau bilang pada kalian! dasar teman-teman laknat!"

Dikejauhan para anggota tim produksi menatap ketiga wanita itu dengan tanda tanya. Kiba menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedikit penasaran dengan apa yang tengah mereka bicarakan hingga ramai seperti itu. Di sampingnya, Naruto yang sejak tadi hanya diam, sebenarnya sudah bergetar dan hampir limbung.

Ia tidak sengaja mendengar sedikit topik perbincangan ketiga wanita tersebut. Karena itulah Naruto sejak tadi berusaha untuk tidak limbung akibat terkejut. Siapa yang menyangka, Hyuuga Hinata, Manager dari Yamanaka Ino yang terkenal cuek dengan penampilan, dan percintaan, ternyata seorang fans dari youtuber bernama Naru dengan konten ASMR Boyfriend.

Masalahnya, ini adalah sebuah rahasia kecil yang ia kunci rapat-rapat. Uzumaki Naruto, dirinya adalah sosok Naru yang diidolakan Hinata. Kebayang tidak, bagaimana perasaan sang pemuda ketika wanita yang ditaksir ternyata ngefans dengan sosok lain dirinya?

"Mungkinkah..., ini kesempatanku?"

Kiba menoleh ketika mendengar Naruto bergumam, "Kau bilang sesuatu?"

"Tidak, aku pergi dulu mengambil sesuatu."ucap Naruto datar seakan tidak terjadi sesuatu.

Secepatnya pemuda berambut pirang itu menjauh, ia mulai memaksa otaknya bekerja, mencari cara untuk menggunakan kesempatan yang ada. Naruto yang terlalu fokus berpikir tidak mendengar suara teriakan seseorang, sampai ia terlambat merespon.

Guyuran air sisa pemakaian syuting membasahi hampir seluruh badan Naruto. Tenten menjerit tertahan, melihat rekan kerjanya basah kuyup. Ia segera menghampiri Asisten Sutradara yang terdiam sambil mengerjapkan mata.

"Astaga, Naruto! kenapa kau muncul tiba-tiba?!" teriaknya sambil memukul pundak si pemuda malang.

Naruto mengaduh pelan, mata biru lautnya membulat lucu. "Itu salahmu kenapa menyiram air sembarangan! untung aku yang kau siram, kalau salah satu aktor yang kena, bisa dituntun dirimu."

"Iya, iya, beruntungnya diriku ini karena yang aku siram itu bocah kuning sepertimu." Tenten mendengkus pelan, "maaf, ya. Sekarang lebih baik kau ganti baju, bahaya kalau Asisten Sutradara tidak bisa bekerja karena sakit."

Ia melangkah begitu punggungnya didorong Tenten, meninggalkan lokasi syuting dan pergi untuk berganti baju. Setelah agak jauh, perempuan berambut coklat yang dicepol itu tersentak, baru ingat ia belum memberikan Naruto handuk untuk mengeringkan badannya.

"Biar aku saja, Tenten-san," Hinata datang menawarkan diri, ia tersenyum lembut.

"Terima kasih, Hinata-san. Tolong berikan ini pada Naruto-san, mungkin dia ada di mobil nomor dua."

Tanpa menyadari niat sebenarnya dari Hinata, ia memberikan handuk putih dan merasa bersyukur dengan kebaikannya. Sementara itu sang Manager Yamanaka Ino sudah tersenyum lebar. Baginya ini adalah kesempatan untuk melihat wajah di balik masker hitam itu. Bagaimanapun dirinya belum menyerah untuk mengajak Naruto ke dunia model.

Setibanya ia di depan mobil van berwarna krem dengan sebuah tempelan bernomor dua. Hinata mencoba mencari keberadaan Naruto. Saat mendapati ujung rambut pirang milik pria jangkung itu di balik mobil, ia segera mendekat.

"Naruto-san, ini aku bawakan handuk..."

Kulit serupa warna madu, dengan lekukan indah membentuk otot enam balok. Pundak lebar, lengan berisi, serta rambut pirang basah jatuh di kening. Mata biru melirik sedikit memincing tajam, hidung mancung dan bibir tebal, sungguh sebuah maha karya indah memanjakan mata.

Namun ketika Hinata mengenali wajah dengan tiga guratan halus di pipi. Sang gadis terdiam, mata rembulannya membulat lucu.

"Na-Naru-kun..."

.

.

.

Continue...