Selama satu jam, Naruto mengajari setiap hal mengenai kamera mini, serta cara menggunakan tripod mini pada Hinata. Keduanya terlihat nyaman dan juga serius saat berdiskusi tentang storyboard.
Hinata tidak ragu untuk mengutarakan pendapatnya, begitu pula dengan Naruto yang menerima saran dan juga berbalik meminta saran.
"Posisi kamera lebih baik sejajar di bawah matamu," Naruto mengulurkan tangan, membantu mengarahkan tongkat berwana hitam itu. "Kau tidak perlu takut gambarnya goyang, bergerak saja secara alami saat merespon kata-kataku nanti."
Hinata mengangguk paham, mendengarkan setiap arahan dari Naruto dengan serius. Setelah merasa mulai terbiasa memegang tripod, sang gadis menghembuskan napas pendek, mencoba menghilangkan rasa gugupnya.
"Baiklah, aku cukup siap. Kita bisa mulai sekarang Naruto-san."
Kedua pasang mata berbeda warna itu bersitatap sejenak, sebelum Naruto mematahkannya dengan menunduk, membuka masker hitamnya. Hinata sontak menarik napas, menahan diri untuk tidak menjerit. Mohon maklum, ini kedua kalinya gadis itu melihat wajah tampan Uzumaki Naruto.
Rahang tegas, hidung mancung, dan bibir tipis menjadi satu kesatuan dengan manik biru laut. Kulitnya yang agak kecoklatan menambah poin tambah, wajah rupawan seperti pahatan seni. Tiga gores halus di kedua sisi pipi tidak mengurangi ketampanan Naruto, malah mempermanis.
Tanpa sadar Hinata menutup mulut, terlalu terpukau sampai takut suara hatinya yang sejak tadi berteriak mengatakan 'TAMPAN SEKALI YA TUHAN!' akan keluar tanpa bisa dicegah.
"Hi-Hinata-san?"
Khawatir melihat gadis di depannya hanya berdiam diri, mematung seperti itu, Naruto menjentikan jari. Menarik kembali kesadaran Hinata secara paksa, membuatnya agak tergagap.
"Baik! aku baik, ha ha ha...,"
Naruto berdehem pelan, menggaruk tengkuk yang tidak gatal, tidak menyadari telinganya memerah. "Baiklah, mari kita mulai."
"Dua, tiga, satu, action!"
...
Suara ketukan di meja membuat atensi itu beralih, dan menemukan Naru yang sedang berjongkok, menatap lurus lewat mata birunya. Ia tersenyum lebar, seperti seorang anak kecil, lalu berdiri, kemudian duduk di seberang meja.
"Hei, apa kau menunggu lama?"
Sebuah gelengan menjadi jawaban, Naru masih tersenyum lebar. "Terima kasih sudah mau menunggu. Sebagai gantinya, aku traktir minuman kesukaanmu, green tea latte, benarkan?"
Setelah mendapat anggukan dari kekasihnya, Naru mengangkat tangan, memanggil pelayan untuk memberikan pesanan. Selesai memesan, pria bermata biru langit itu kembali memberikan perhatiannya pada gadis di depan.
"Ah! aku sampai lupa, tadi di jalan ada yang menarik dan aku yakin kau pasti suka." Naru membuka tas ransel berwarna hijau lumut. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. "Ini hadiah untuk kencan pertama kita!" katanya lagi.
Hinata mengerutkan kening, ini tidak ada di storyboard yang ia baca tadi. Terlebih melihat dari tampilannya, besar kemungkinan isinya adalah cincin. Mungkin ini sudah disiapkan Naruto untuk menarik penonton. Tetapi mengapa laki-laki ini tidak memberitahunya?
Segaris senyum terbentuk, Naru kemudian membuka kotak kecil itu. Ia mengeluarkan sebuah gelang silver dengan manik berbentuk batu berwarna biru langit, serupa matanya. Ia mengulurkan tangan, meminta izin menarik tangan putih kekasihnya.
"Apa kau berpikir, aku akan memberikan cincin?" tanya Naru sambil memakaikan gelang itu di pergelangan tangan putih Hinata. "Aku akan memberikannya, jika kau sudah siap untuk menjadi ibu dari anak-anakku."
Selesai memakaikan gelang, Naru menarik tangan Hinata. Ia memberikan kecupan singkat di punggung tangan, kemudian menyeringai jahil. "Kau tertangkap, pencuri hatiku."
Serangan tiba-tiba berhasil menggetarkan jantung Hinata. Kepalanya sudah seakan gunung merapi yang tengah meletus. Wajahnya memerah, ia menunduk, berharap kamera mini mampu menyembunyikannya. Sementara itu, Naruto sudah tertawa renyah melihat reaksi dari pemilik marga Hyuuga.
Ketika pesanan mereka datang, Naru tidak juga melepaskan genggamannya. Ia mengobrol sambil mengusap pelan punggung tangan yang kini telah memiliki gelang perak. Mata birunya menatap lekat, tersenyum manis, sesekali menaruh telapak tangan Hinata di pipinya. Ia bertingkah seperti bayi besar, bersikap manja.
...
Akhirnya syuting selesai, Hinata memastikan untuk terakhir kalinya bahwa gambar yang ia ambil baik-baik saja.
Naruto terkekeh pelan, "Aku yakin semua baik-baik saja walau hanya sekali take. Kau cukup baik untuk pertama kali menjadi kameramen."
"Aku tidak ingin hasilnya tidak memuaskan, karena kau sudah mau menerima keegoisanku untuk menjadikanku asistenmu." Hinata menghela napas lega, ketika tidak menemukan hal aneh di vidio.
"Oh, iya! sebelum aku lupa dan terbawa olehku. Gelang ini aku kembalikan," Hinata mencoba melepaskan gelang perak yang dipakai selama syuting.
Tetapi Naruto segera menahannya, "Tidak usah, itu hadiah karena sudah mau membantuku syuting."
"Kau tidak perlu memberiku hadiah, Naruto-san." Perasaan tidak enak, seketika hinggap di hatinya. Hinata merasa ini berlebihan, memberikan hadiah seperti ini. "Kau bisa mentraktirku minum, atau membayarku seperti pekerjaan paruh waktu."
Sejenak Naruto terdiam, sebelum ia menatap lekat Hinata. "Apa ini membebanimu?"
Sang gadis menggigit bibir bawahnya, sejujurnya ini berlebihan. Namun lihatlah, Naruto memasang wajah memelas. Hinata bahkan seakan mampu melihat kuping dan ekor imajinasi tertunduk lesu. Mana tega ia menolaknya.
"Baiklah, aku akan menerimanya!" Hinata tersenyum lebar, berharap tidak telihat terpaksa. "Terima kasih untuk hadiahmu, Naruto-san."
"Tidak masalah, Hinata-san."
Lihat bagaimana pria pirang ini tersenyum cerah, seperti anak kecil. Hinata tidak pernah mengira, dibalik sikapnya yang seperti membangun tembok pembatas, ataupun sikap datarnya. Ternyata Uzumaki Naruto memiliki sisi ceria dan hangat seperti ini
"Kau seharusnya membiarkan wajahmu terlihat, daripada ditutupi masker." cetus Hinata sambil menompang dagu. "Kau tampan, aku yakin ada banyak gadis yang mengantri untukmu."
Jemari kekar dan lentik itu terhenti saat sedang memasukan kembali alat-alat syuting. Mata biru lautnya bergerak gelisah, lalu menyahuti Hinata dengan tawa kecil. "Tidak, aku lebih nyaman mengenakan masker." lalu Naruto kembali memasang masker hitamnya.
"Sudah sore, lebih baik kita pulang. Mari aku antar sampai stasiun," ujar Naruto sambil beranjak dari duduk.
Perubahan sikap yang terjadi tiba-tiba, tidak luput dari pengamatan Hinata. Keningnya mengerut samar, apakah ia baru saja melewati batas yang seharusnya tidak ia lewati?
"Hinata-san?"
Manik lavendel mengerjap pelan, ia segera beranjak, tersenyum tipis dan menerima tawaran Naruto. Mereka berdua melangkah keluar meninggalkan kafe, berjalan beriringan menuju stasiun kereta bawah tanah. Selama perjalanan, keduanya terdiam, hening mendominasi. Tidak ada lagi Naruto yang ceria, banyak bicara, laki-laki itu kini lebih banyak diam.
Ketika mereka sampai di depan kereta bawah tanah, sebelum masuk Hinata menoleh ke arah Naruto. Ia menarik pelan ujung jaket pemuda itu, menarik perhatian mata biru langit di depan.
"Kapan jadwal syuting berikutnya? aku akan mengecek jadwalku," Hinata tidak ingin ini menjadi terakhir kalinya, untuk bertemu.
Mata biru langit itu menyipit, tanda Naruto tengah tersenyum. Ia lalu menepuk pelan puncak kepala Hinata. "Akan aku kabari lewat email."
Tidak puas dengan jawaban Naruto, ia mengangkat jari kelingkingnya. "Janji?"
"Janji."
Tanpa pikir panjang, Naruto mengaitkan jari kelingkingnya. Lalu ia mendorong pundak Hinata pelan, menyuruhnya untuk masuk ke dalam kereta.
.
.
.
Continue...
