Langit sudah mencair senja ketika syuting berakhir, Ino mengucapkan salam perpisahan kepada staff produksi. Ia melangkah menuju mobil van hitam milik agensi tempat ia bekerja. Ketika membuka pintu geser di bagian belakang, gadis cantik berparas layaknya boneka itu menjerit tertahan. Terkejut bukan main saat mendapati sosok kering managernya di bangku tengah.
"Hinata-chan! kau kenapa?!"
Wajah cantik yang biasanya segar, kini memucat, kusam, dengan rambut acak-acakan. Hinata mengangkat kepala, menatap Ino kosong. Bibir pucatnya berujar pelan, "Ini salahmu, Ino."
"Salahku?" Ino menaikan sebelah alisnya, tidak paham. "Apa salaku?"
Hinata mengeras frustasi, mengacak rambut panjangnya yang sudah berantakan Mata peraknya melotot lucu. "Dua hari lalu kau bertanya, apa aku akan pulang ke kediaman Hyuuga? dan kau tahu, hari ini penjaga rumah angker itu menyuruhku pulang minggu besok!"
Sekarang gantian Ino yang memasang raut horor, mata hijau toskanya melebar sempurna. Ia bahkan sudah menutup mulut dengan kedua tangan. "Kau serius?"
Ingin rasanya sang manager menempeleng kepala aktrisnya ini. Memang ia kira sedang bercanda? april mop juga sudah lewat dua bulan yang lalu. Hinata mendengkus kesal, membanting punggungnya pada sandaran kuri mobil.
"Mulutmu itu kadang suka kejadian, jadi jangan lagi membicarakan hal sembarangan!" omel Hinata yang membuat Ino mengangguk seperti anak kecil.
Melihat raut frustasi temannya, Ino menawarkan dirinya. "Aku ikut denganmu, ya? lagi pula ini juga separuh salahku hingga kau bertengkar dengan keluargamu."
"Aku sudah berulang kali bilang, ini bukan salahmu, Ino." suara Hinata kembali melembut, ia menepuk pelan pundak sahabatnya. Mencoba menghilangkan senyum kecut temannya yang pasti sedang menyalahkan dirinya. "Aku sendiri yang memutuskan untuk keluar dari rumah."
"Tetap saja, jika bukan karena aku yang ingin mengejar cita-cita menjadi aktris. Kau tidak perlu keuar dari rumah, bahkan mengorbankan hak warismu untuk mewarisi perusahaan Hyuuga." Setiap kali Ino mengingat pengorbanan yang telah Hinata lakukan, ia selalu berakhir menangis sekarang. "Kau itu berbakat, Hinata-chan. Seharusnya kau duduk di ruangan direktur, bukan menjadi manager dari pekerjaan yang tidak stabil ini."
Manik perak itu menatap teduh, tangannya terulur, menghapus jejak air mata di pipi Ino. Raut wajah yang semula pucat, mulai berubah hangat. Hinata berdecak pelan, terlihat marah walau nyatanya tidak.
"Apa kau meremehkan aku?" ia mulai mencubit kedua pipi Ino. "Kau pikir berkat siapa nama Yamanaka Ino melambung tinggi seperti sekarang?"
"Berkat kamu, Hinata-chan." ujar Ino dengan suara parau.
"Tentu saja tidak!" sang manager melepaskan cubitannya, namun tidak lupa memberinya pukulan ringan di pipi. "Berkat usaha keras kita berdua."
"Aku tidak mau lagi mendengar omong kosongmu itu lagi!" Hinata bersedekap, menatap nyalang sahabatnya. "Aku keluar atas keinginanku sendiri, akan ku buktikan kalau aku bisa sukses walau tanpa bantuan Hyuuga sekalipun. Jangan membuatku mengatakannya berulang kali, Ino-pig!"
Tawa renyah terdengar dari Ino, sudah lama sekali ia tidak mendengar ejekan itu. Ia menyeka sisa air mata kemudian tersenyum ada gunanya mengungkit apa yang sudah terjadi, seharusnya ia beruntung karena memiliki sahabat seperti Hinata. Berkat gadis bermata bulan itu, ia bisa sampai seperti ini, berkat dorongan dan keberanian yang diberikan Hinata padanya.
...
Minggu pagi, Hinata sudah berdiri di depan pagar kayu dengan plang besar bertuliskan Hyuuga. Rumah bergaya mansion tradisional yang terletak di tengah-tengah kota Tokyo. Banyak penjalan kaki yang akan secara spontan menoleh ke bangunan ini. Semua takjub, kagum, dengan bangunan yang terlihat seperti warisan budaya, namun tidak bagi dirinya.
Bangunan besar ini bagai sebuah sangkar emas, rumah berhantu, atau Hinata akan berani mengatakan bahwa ini bukanlah rumah, melainkan kandang. Tidak ada memori indah dalam ingatannya. Sama sekali tidak ada.
"Selamat datang, Hinata-sama," suara seorang laki-laki yang amat ia kenal, menyapa.
Mata perak itu melirik ke samping, melihat sosok jangkung pria berambut hitam dengan yukata abu-abu. Ia mengangkat kepalanya, memerlihatkan sepasang mata serupa dengannya. Hyuuga Kou, pelayan pribadi yang telah berada di sisinya sejak kecil. Penampilannya sama sekali tidak berubah, masih tetap sama, lembut dan hangat.
Jemari lentiknya mencengkram erat ujung rok selutut yang ia kenakan. Ia tidak menyangka, sudut hatinya merasa lega melihat Kou tidak berubah. Hinata kembali melihat gerbang kayu yang sudah terbuka lebar, kemudian melangkah anggun seperti layaknya seorang pewaris.
"Beritahu kedatanganku pada Ayah," perintahny singkat.
"Baik, Hinata-sama."
...
Ruang tamu Hyuuga sangat luas, dengan perabotan antik menghiasi setiap sudut ruangan. Hinata memilih untuk menunggu di ruang tamu, alih-alih di ruang keluarga. Tindakannya saat ini merupakan pernyataan secara tidak langsung, bahwa ia belum mengubah keputusannya sejak tiga tahun yang lalu.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, pintu geser terbuka. Seorang laki-laki paruh baya dengan yukata putih bergaris memasuki ruangan, di belakangnya seorang gadis remaja berambut coklat mengekor. Mata perak itu berbinar, gadis berusia lima belas tahun itu berlari untuk memeluk sang kakak. Hyuuga Hanabi, adik perempuan satu-satunya itu memeluk Hinata erat.
"Aku kangen sekali dengan Hinata-nee!" Hanabai menggosokkan kepalanya di dada sang kakak. "Sempat aku berpikir kalau Ayah berbohong, ketika bilang hari ini Hinata-nee pulang ke rumah. Aku senang sekali!"
Hinata menarik sudut bibir, mengejek dalam hati. Pria tua itu ternyata masih keras kepala, walau sudah tiga tahun lamanya. Ia lalu mendorong pelan pundak Hanabi, dengan senyum cerah ia mematahkan semangat adiknya.
"Aku tidak pulang, hanya mampir karena ada keperluan dengan Ayah."
Raut kecewa terlihat jelas, Hanabi bahkan sudah berkaca-kaca. Namun Hinata sudah menguatkan mental dan tekadnya. Wanita muda itu kemudian beralih pada sang Ayah yang sudah duduk di seberang meja.
"Saya tidak bisa lama-lama, karena jadwal aktris saya sangat padat." Hanabi agak berjengit ketika nada suara Hinata terdengar dingin. "Bisakah Ayah cukup mengirim pesan saja?"
"Duduk," perintah mutlak dari Hiashi pun tidak kalah dingin. Membuat suhu di ruang tamu seakan turun. "Kita akan membahas perjodohanmu dengan keluarga Otsutsuki."
Kening Hinata mengerut dalam, darahnya seakan mendidih mendengar perkataan sang ayah. Bukankah pria tua ini tahu, busuknya keluarga Otsutsuki, dan ia masih tetap teguh ingin menikahkan putrinya.
Hanabi yang duduk disamping Hinata, sudah tertunduk sejak ayahnya membuka suara. Ia sontak berjengit ketika sang kakak tertawa sinis. Apakah mereka berdua akan kembali bertengkar? Bagaimana caranya agar ia bisa menghentikan perpecahan ini?
"Sudah cukup waktu bermainmu, sekarang kau harus kembali untuk melaksanakan kewajibanmu sebagai pewaris Hyuuga. Bangku direktur tidak bisa selamanya kosong, Hinata."
"Apa Ayah sudah terlalu tua untuk duduk di sana?" tanpa merasa takut sedikitpun, Hinata bertanya. "Atau Ayah sudah muak denganku, sampai rela menjual putri Anda pada para lintah darat?"
"Ini demi kebaikanmu-"
"Kebaikan apa yang Ayah maksudkan?!" Suara anak sulung Hyuuga Naik satu oktaf, dadanya naik turun bersama amarah. "Aku hanya minta diberi kesempatan, untuk menunjukkan kemampuanku sebelum menjadi kepala keluarga. Namun alih-alih didengar, Anda malah seakan membuangku karena tidak mau menurut."
Hinata mendengkus pelan, menatap lurus mata sepasang rembulan yang mulai mengabu termakan usia. "Tidak ada lagi yang perlu dibahas. Coret saja namaku dari kartu keluarga, jika Anda masih ingin menjualku."
Gadis itu beranjak dari duduk, melangkahkan kakinya pergi dari ruang keluarga, keluar dari rumah yang telah membuat dadanya sesak seperti ditekan berulang kali.
.
.
.
Continue...
