Saat Hinata tiba di apartemen Ino, matahari sudah terbenam. Ia datang dengan dua kresek belanjaan penuh. Begitu pintu dibuka, ia menerobos masuk, lalu mengeluarkan isi belanjaannya di atas meja bundar di samping kasur. Gadis berambut pirang panjang itu mengekor, duduk di sisi kanan, menatap prihatin pada temannya.
"Tambah parah, ya?"
Hinata mengangguk singkat, masih memasang raut sebal. Dua kaleng minuman soda ditaruhnya kasar. Sebelah kaki ia lipat, lalu menaruh dagu di atas lutut, dan mengerucutkan bibir.
"Bukan membaik, ayah malah mengatur perjodohan dengan keluarga Otsutsuki." Mata serupa bulan itu berkilat samar. "Aku semakin merasa terbuang, sekalian saja aku menyuruhnya mencoret namaku dari kartu keluarga!"
Ino memukul keras punggung Hinata, membuat gadis berambut hitam itu mengaduh keras. Mata peraknya melotot sambil mengangkat alis tidak mengerti. Namun melihat mata hijau toska itu basah akan air mata, ia pun melembutkan tatapannya
"Aku tahu kau marah, aku tahu kau dendam dengan cara ayahmu membesarkanmu." Ino menyeka air matanya, dengan suara parau ia kembali berucap. "Kau bilang akan membuatnya mengakuimu, tetapi karena terbawa emosi, dengan mudahnya kau suruh dia mencoret namamu? semua usahamu selama ini sia-sia, Hinata-chan! kau bodoh, super bodoh!"
Puas memukuli pundak Hinata, gadis bermarga Yamanaka Ino itu memeluk sahabatnya erat. Seharusnya yang menangis di sini adalah Hinata, tetapi Ino malah lebih keras suara tangisannya. Membuat perempuan berambut hitam itu terkekeh pelan sambil menepuk punggung Ino.
"Aku memang terbawa emosi, terima kasih sudah menyadarkanku, Ino-pig!"
"Kau hutang makan malam karena sudah membuatku menangis!"
Hinata terbahak, ia lalu mengangkat bungkusan berisi satu box ayam goreng dengan dua varian rasa berbeda. Ino memekik senang, menyambar kotak persegi itu dan membuka tutupnya. Aroma ayam goreng yang gurih menguar, dan masuk ke dalam indra penciuman Ino.
"Ini rasa Salted Egg? Ah~ rasa kesukaanku!" Sambil tersenyum lebar, Ino memeluk kotak ayam goreng dengan rasa sayang. Namun bibirnya mengerucut begitu Hinata mengambilnya.
"Kau masih ada program diet, jadi kau hanya boleh makan satu potong." ucap Hinata enteng.
Mulut Ino terbuka lebar, ia tidak menyangka Hinata akan setegas itu. Alhasil aktris yang berada di bawah naungan NH Entertainment itu menarik lengan managernya. Bersikap seperti anak kecil dan merajuk manja.
"Kau pulang saja kalau begitu! enak saja kamu makan enak-enak sementara yang punya rumah hanya menonton!"
"Besok kau ada adegan dibopong Sasuke-san. Apa jadinya kalau dia tidak bisa menggendongmu akibat kau terlalu banyak makan ayam goreng?"
"Hinata-chan! aku tidak segemuk itu!"
"Ayam goreng dan minuman soda itu sudah double kill, bisa skakmat kau, kalau Sasuke jatuh begitu menggendongmu!"
Kalah dengan argumen Hinata, akhirnya Ino hanya bisa duduk sambil minum air putih. Mata hijau toskanya melirik sang manager penuh intimidasi, yang dibalas dengan suara renyahan kulit ayam dan tegukan air soda.
"Kau diam saja di sana dan melihatku melakukan siaran live asmr mukbang," Hinata terkekeh, puas mengerjai temannya ini.
Setelah menghabiskan dua potong paha ayam, Hinata merasa cukup menggoda Ino. Ia pun mendorong kotak ayam goreng ke depan Ino. "Jangan kebanyakan, mengerti?"
Raut Ino berubah sumringah, ia mengangguk semangat dan langsung mengambil satu ayam goreng. Sementara itu, Hinata mengambil ponselnya ketika bunyi notif terdengar. Mata peraknya melebar dengan senyum malu ketika melihat isi pemberitahuan.
Naru telah mengupdate sebuah vidio baru berjudul, 'Selamanya ini akan jadi kencan pertama'.
Akhirnya yang telah Hinata tunggu-tunggu, ia tidak sabar melihat hasil syuting mereka beberapa waktu lalu. Ia segera mengambil airpod hitam di dalam tas, lalu mulai menonton. Benar-benar melupakan keberadaan Ino yang sudah menghambiskan dua potong ayam dan segelas minuman soda.
...
Manik hijau toska itu mengerjap, menatap Hinata yang sudah cekikan, mengobrol sendiri, bahkan hampir terjungkal akibat histeris, persis seperti kerasukan. Mengkhawatirkan mental sahabatnya, ia rela menaruh kembali ayam goreng dan mendekat.
"Kau sedang menonton apa?" tanya Ino setelah berada di samping Hinata.
"Kekasih online-ku," jawab Hinata tanpa menoleh, masih fokus menonton.
Ino akhirnya ikut menonton, penasaran dengan sosok yang berhasil membuat sahabatnya ini berubah menjadi budak cinta. Ia mengambil salah satu airpod, memakainya, dan mendengar suara berat dan sedikit serak khas laki-laki.
Keningnya mengerut samar, seperti mengenali pemilik suara ini. Tidak hanya suara, wajah pemuda berambut pirang itu mengingatkannya pada seseorang. Seorang kenalan yang sudah hampir sepuluh tahun terakhir mereka bertemu.
"Dia Namikaze Naruto, bukan?"
Mendengar perkataan Ino, pemilik mata perak itu membeku. Sontak Hinata melepaskan airpod miliknya dan menoleh ke arah temannya, meminta penjelasan.
"Namikaze Naruto? siapa dia?"
Kali ini giliran Ino menatap Hinata sambil mengerutkan kening, "Kau tidak ingat?" mendapat gelengan darinya, ia kembali berujar. "Dia Ketua Osis kita waktu di Konoha Gakuen."
Hinata tertawa pelan, raut wajahnya terlihat tidak percaya. "Tidak mungkin. Kau tahu bagaimana mata awasku setiap melihat seorang pria tampan? Jiwaku sebagai seorang pencari bakat tidak mungkin melewatkannya begitu saja."
"Oi, jiwa pencari bakatmu baru berani muncul setelah kita naik kelas tiga." Ino menempeleng kepala Hinata yang sudah bertingkah. "Dua tahun di Konoha Gakuen, kau itu ansos. Pemalu, yang baru kesengol sedikit saja sudah menunduk dengan poni panjang menutupi mata."
"Ya, ya, kau juga tidak kalah anti sosialnya denganku. Bernyanyi berakting di atap sekolah setiap jam istirahat." Hinata balas menempeleng kepala Ino yang sudah menyengir lebar.
"Apa kau yakin, dia Namikaze Naruto?" Sebelum mereka semakin keluar jalur dari topik utama, Hinata kembali memastikan.
Ino menarik tangan Hinata, mendekatkan ponsel dan menatap lekat-lekat tiap lekuk garis wajah Naruto. Ia kemudian mengangguk sambil menjentikan jari.
"Aku yakin seratus persen, itu dia. Siapa lagi yang memiliki tiga garis halus di pipinya seperti kucing, kalau bukan Ketua Osis Konoha?"
Hinata menatap layar ponselnya, masih tidak percaya bahwa dunia begitu sempit. Bagaimana mungkin ia bertemu dengan teman sekolahnya setelah sepuluh tahun lamanya. Terlebih dia Ketua Osis, yang berarti juga merupakan seniornya.
Mata perak itu mengerjap beberapa kali, sambil memiringkan kepalanya. "Uwah! kebetulan mengerikan macam apa ini?"
.
.
.
Continue...
