"Mulai besok, kita akan menginap di lokasi syuting selama seminggu. Perhatikan barang bawaanmu selama di sana." Hinata mengingatkan, tanpa melepaskan mata dari jadwal yang tertera di layar ponsel.

"Aku tahu," Sahut Ino sambil membaca majalah di pojok ruang tunggu.

Siang ini mereka akan menghadiri acara di salah satu studio ternama. Sambil menunggu acara di mulai, sang manager mengecek kembali jadwal aktrisnya selama seminggu kedepan.

"Pastikan juga data pribadi di ponselmu tidak memiliki celah untuk menciptakan skandal." lagi, Hinata memperingati.

Kali ini Ino membalasnya sambil berdecak, ia menaruh majalah di meja. Suasana hatinya berubah murung mendengar peringatan sahabatnya kali ini.

"Apakah seorang aktris tidak boleh memiliki privasi?"

Hinata menepuk pelan puncak kepala Ino. "Tentu saja boleh, aku hanya mengingatkanmu agar privasimu tidak bocor ke pihak luar tanpa sengaja."

"Um, aku mengerti. Maaf sudah bersikap sensitif," Ino menarik pinggang Hinata, memeluk erat sahabatnya dengan manja.

"Omong-omong, siapa pria yang datang ke lokasi syuting waktu lalu?" Pertanyaan Ino itu seketika mendapat decakan sebagai balasan.

"Si breng-," Hinata berdehem pelan, ketika ia hampir mengumpat di lokasi di mana dindingpun memiliki telinga. "Masalah yang didatangkan ayahku. Dia mengaku sebagai calon tunanganku."

Yamanaka Ino membulatkan mata, "Pria berkelas itu calon tunanganmu? tidak salah?!"

"Benar, pria berjas dengan aura elit itu adalah calon tunanganku." Hinata mengangguk, masih setia berwajah datar.

"Dan dia mau denganmu?" Ino menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan selera sang gentleman. "Mungkin matanya saat itu sedang rabun."

Mata perak itu melotot lucu, semula ia berpikir temannya itu akan mendukungnya. Nyatanya malah sebaliknya, walau separuh hati Hinata menyetujui, mengingat perbedaan penampilan mereka berdua saat bertemu.

"Tanpa dibilangpun aku juga sadar dengan penampilanku!" Hinata berdecak, ia lalu berdiri di depan Ino, menyisir sedikit rambut yang menjuntai ke kuping sambil menekuk tubuhnya ke depan. "kalau aku sudah berdandan, habis kalian semua melihat kecantikanku!"

Hinata menarik kunciran, membuat rambut panjangnya tergerai indah. Ia menarik kursi, untuk dipakai sebagai support melakukan tarian seksi. Ino sudah tertawa terpingkal-pingkal dengan sikap absurd sang manager.

Sesekali mengibaskan rambutnya, memberikan lirikan tajam, dan duduk sambil melebarkan kedua kakinya. Hinata mencoba memperagakan seorang penari dengan tema seksi. DIrinya yang terbilang tomboy, membuat gerakan wanita itu sangat kaku.

"Oh, sudah hentikan, Hyuuga Hinata! kau membuat make up ku hancur karena tertawa keras!" Ino menepuk lututnya, kebiasaan setiap ia tertawa.

Hinata mencibir pelan, ia lalu duduk tegak dan mengibaskan rambutnya ke belakang. "Lihat, sikap anggunku yang terlahir sebagai pewaris Hyuuga masih ada, meski sudah beberapa tahun aku keluar dari rumah angker itu."

"Ya, ya, aku percaya sikapmu itu standar anggun Klan Hyuuga." Ino terkikik pelan, "Pantas saja ayahmu menyuruhmu menikah dengan pria elit. Untuk memperbaiki standar Hyuuga, rupanya."

"Kau ingin kepalamu ku tebas?" acam Hinata sambil memeragakan tangan bergerak lurus di depan leher.

Ino malah semakin tertawa, "Au~ takut ha ha ha!"

Suara ketukan pintu terdengar, disusul seorang staff perempuan berambut hitam muncul di ambang pintu. Sambil tersenyum ramah, ia meminta Hinata dan Ino untuk segera pergi ke studio yang diberitahu karena acara akan dimulai. Keduanya segera mengikuti langkah staff yang berjalan dua langkah di depan.

Ketika sampai di koridor, atensi sang gadis berambut hitam kebiruan itu terpaku pada seseorang. Pria dengan masker hitam menutupi separuh wajah, kali ini ia tidak memakai topi hitamnya. Membuat penampilannya terlihat lebih keren di mata Hinata.

Menyadari seseorang menatapnya, Naruto mengangkat kepala, bersitatap dengan sepasang rembulan di depan. Mereka bersimpangan, berhenti sejenak, saling menyapa. Ketika Hinata hendak kembali melangkah, pria kuning itu mendekat, berbisik di samping telinga sang gadis.

"Aku tidak sabar dengan acara menginap nanti," Naruto menarik diri, mengedipkan sebelah mata, sebelum melenggang pergi.

Sementara itu Hinata bergeming, wajah putihnya sudah merah padam. Keringat dingin turun di pelipis, dadanya terasa nyeri akibat debaran jantungnya yang menggila. Ia tidak menyangka, Naruto tiba-tiba mendekat, berbisik dengan suara berat di telinga, membuat bulu kuduknya meremang.

"Eh, eh?!" Hinata berbalik, sambil memegang kuping yang terasa panas, walau nyatanya napas sang pria tidak mengenai karena tertutup masker. "Apakah barusan itu, Naru-kun, atau Naruto-kun?"

Tindakan yang terbilang berani itu, lebih seperti sikap Naru. Namun saat ini pria yang melewatinya jelas-jelas Naruto. Mereka juga sedang tidak berakting, lantas mengapa ia melakukannya? Hinata tidak mengerti, semenjak kejadian saat di apartemen Naruto, hatinya acap kali berdebar saat pria itu mendekat.

...

Usai menaruh semua barang-barang di kamar yang disediakan, Hinata kembali membuka layar ponselnya. Sudah sejak dua hari yang lalu, pesan masuk mengganggunya. Gadis pewaris klan Hyuuga tidak perlu menebak, dari mana laki-laki keturunan Otsutsuki itu mendapatkan nomornya.

"Dia lagi?" Celetuk Ino saat melihat tampang ketus temannya.

Hinata mengangguk, menaruh kembali ponselnya ke dalam kantung celana olah raga hitamnya. "Ternyata dia cukup keras kepala mengajak bertemu."

"kau benar tidak mau memberinya kesempatan?"

Manik perak itu menyipit tajam, "Otsutsuki memang keluarga jauh klan Hyuuga, tetapi mereka itu tidak berbeda dengan lintah darat, maupun parasit. Aku tidak mau berurusan dengan klan berambut putih itu."

Ino memiringkan kepalanya, "Bukankah calon tunanganmu itu berambut coklat? mungkin dia berbeda."

Sejenak sahabatnya terdiam, berpikir, sebelum menatap Ino sambil memiringkan kepalanya. "Benar juga, kenapa rambutnya tidak putih? apa dia anak angkat?"

"Itu yang kau permasalahkan?!"

Hinata malah tertawa renyah, tidak mau ambil pusing dengan laki-laki bermata hitam itu. Ketika getaran dari ponsel ia rasakan kembali, raut wajahnya berubah masam. Gadis klan Hyuuga mengira bahwa Indra menghubunginya, namun parasnya menjadi cerah ketika mendapati nama Naruto di layar ponsel.

Sebuah pesan masuk yang membuatnya buru-buru berganti baju, merapikan rambut, bahkan memakai bedak tipis-tipis dan lip blam. Tentu saja hal itu membuat kening Ino mengerut heran. Ada angin apa sang sahabat berdandan seperti itu.

"Aku ada perlu sebentar. Kau bisa mengunci pintu jika ingin tidur lebih awal." ujar Hinata yang sudah rapi dan siap menutup pintu.

"Eh, tunggu Hinata-chan! kau mau kemana?!"

Sebelum sang manager menutup pintu, Ino lebih dulu menghentikan langkah Hinata. Sahabatnya itu tersenyum malu, kedua pipi putihnya bahkan sudah memerah, sebuah pemandangan yang jarang dilihat sang aktris.

"Pertemuan rahasia?"

Tanpa mendengarkan lagi seruan Ino yang terkejut dan penasaran. Hinata sudah menutup pintu, suara langkah kakinya bahkan terdengar mulai menjauh. Putri Yamanaka mematung, apakah ia baru saja salah dengar?

Siapa yang ditemui temannya itu sampai-sampai membuat pipi seputih susu itu merona dan berwajah malu. Ino tidak pernah menyangka selama persahabatannya dengan Hyuuga Hinata, ia akan melihat temannya itu bersikap manis layaknya remaja kasmaran.

.

.

.

Continue...