Tidak terasa waktu berjalan cepat, sebulan telah berlalu semenjak acara menginap dan drama Switching mendekati akhir. Respon positip dari warga Jepang membuat dua pemain utama naik daun. Yamanaka Ino kebanjiran tawaran pekerjaan, membuat sang manager sibuk bukan kepalang.
Seperti saat ini, mereka tengah melakukan syuting di taman perumahan elit. Yamanaka Ino beradu akting dengan Uchiha Sasuke. Sementara Hinata sudah sibuk merapikan barang-barang, dikarenakan setelah sang sutradara menyerukan kata "CUT" saat itu juga mereka akan melesat ke lokasi pekerjaan berikutnya.
"Tolong taruh barang ini ke dalam mobil, sekalian dengan pakaian ganti." ujar sang manager, sibuk mengatur staff untuk bersiap-siap. "Kita akan berangkat dalam dua puluh menit lagi."
"Aku ada di sini..., kau baik-baik saja." Ino memeluk erat sosok Sasuke yang menunduk dan mulai menangis.
Setelah beberapa saat hening, Kakashipun berseru lantang. "CUT! kerja bagus Yamanaka-san, Uchiha-san!"
Gadis yang kerap kali dipanggil barbie hidup itu melepaskan pelukannya dari Sasuke. Membungkuk hormat pada sang sutradara dan kru-kru. Mengucapkan terima kasih atas kerja keras mereka selama syuting berlangsung.
Hinata segera menghampiri Ino, tersenyum ramah pada pria berambut perak. "Terima kasih untuk kerja kerasnya Kakashi-san, Uzumaki-san." ucapnya pada kedua pria di depannya. "Maaf kami tidak bisa ikut acara makan-makan, setelah ini kami harus mengejar acara musik."
Kakashi tertawa renyah, dia berkacak pinggang dan berujar santai. "Tentu saja tidak apa-apa, justru aku senang melihat kalian sibuk. Itu artinya drama kalipun sukses besar."
"Terima kasih Kakashi-san," Ino tersenyum lebar, kembali membungkuk hormat. Keduanya lalu pamit undur diri, segera melangkah menuju mobil hitam yang sudah menunggu.
"Cepat, kita tidak ada waktu. Nanti kau berganti di dalam mobil saja," ujar Hinata dan mendorong punggung Ino agar segera masuk ke dalam mobil.
Ino meringis pelan, "Hei! kau tidak perlu dorong-dorong!"
"Kita tidak punya banyak waktu!" sahut Hinata gemas. Ketika giliran dia masuk ke dalam mobil, lengannya tiba-tiba ditahan seseorang, sontak dia menoleh. "Naruto-kun?"
Pria bermata biru dengan masker hitam menatapnya beberapa saat. Dia lalu mendekatkan diri sambil menurunkan masker. Tanpa peringatan terlebih dahulu, sebuah kecupan mendarat di pipi gembil sang gadis. Manik rembulan membulat sempurna, begitu pula Ino yang duduk di kursi penumpang.
"Telpon aku nanti malam, sampai jumpa!" bisiknya lalu mendorong pelan punggung Hinata, membantu sang gadis untuk duduk, memakaikannya sabuk pengaman dan menutup pintu.
Mobil hitam segera melaju pelan, tidak memedulikan Hinata yang masih syok di kursi penumpang. Dia memegang pipi tempat Naruto memberikan kecupan, perlahan semburat merah mekar di sana.
Ino berdecak beberapa kali, namun dia tersenyum menggoda. "Meski kau tidak punya waktu, Uzumaki-san selalu ada walau sedetikpun untukmu. Aku iri!"
"Kya! Ino-chan! bagaimana ini, rasanya aku mau meleleh!" Detik itu juga pertahanan Hinata runtuh, sikapnya sebagai seorang manager yang tegas berubah seperti seorang remaja. Dia memukul lengan Ino dan berteriak histeris.
"Siapa pria manis itu?! benar, dia pacarku, kekasihku, kya!"
Ino tertawa hambar, dia ikut senang tapi tidak dengan pukulan bertubi yang diterimanya. "Aku tahu kau sedang bahagia, kasmaran, tapi berhentilah memukulku!" sungut sang aktris papan atas dengan bibir mengerucut lucu. "Sial, kau benar-benar membuatku iri. Aku juga ingin berkencan, tanpa harus memusingkan wartawan!"
Hinata menyengir lebar, "Belum saatnya kau terkenal karena skandal hubunga. Saat ini kita harus fokus orang-orang mengenal dirimu karena bakatmu."
"Iya, aku paham!" Ino menyahut gemas, "Sampai saat itu tiba, aku akan membuat daftar kandidat pria yang akan aku kencani!" ujar Ino membara sambil meninju udara.
"Wah, Yamanaka Ino yang pemalu sepertinya sudah tidak ada." Hinata mengangguk senang, "Kepercayaan dirimu semakin meningkat dengan reputasimu. Pertahankan!"
"Tentu saja!" Ino menyeringai lebar sebelum dia teringat akan sesuatu. Gadis berambut pirang mendekat, menyenggol sang manager dan berbisik pelan. "Lalu bagaimana dengan pria yang dijodohkan denganmu? apa dia masih menghubungimu?"
Hinata menggeleng pelan," Aku rasa dia sudah menyerah? aku yakin dia juga tidak berminat menikah denganku yang urakan ketika pertama kali bertemu."
"Tapi bukankah lebih baik kau mempertegas?"
"Maksudnya?"
Ino berdecak pelan, gemas dengan sikap cuek sahabatnya. "Maksudku kalian bicara empat mata, katakan padanya kalau kau sudah memiliki kekasih dan tidak berniat untuk menikah. Lalu kalian berdua menghadap ayahmu untuk pembatalan perjodohan," jelasnya.
Hinata mengangguk, "Benar juga apa katamu. Lebih baik seperti itu daripada masalah perjodohan ini tidak jelas."
"Ah!" Ino sontak berseru seakan kembali teringat sesuatu. Raut wajahnya berubah serius," Hei, apakah Uzumaki-san mengetahui perjodohanmu?"
Perlahan raut wajah Hinata berubah pucat, sial! dia melupakan hal paling penting. Sangking bahagia karena hubungannya dengan Naruto berjalan lancar. Dia sampai melupakan bom waktu yang tengah digenggamnya.
"Aku akan memberitahu Naruto-kun secepatnya."
...
Namun meski Hinata bertekad untuk memberitahu masalah ini pada Naruto, nyatanya tidak semudah itu. Setelah pulang bekerja, seperti yang dikatakan sang kekasih. Gadis itu menelponnya kemudian menghabiskan waktu hingga larut malam untuk mengobrol. Tetapi dirinya merasa membicarakan soal perjodohannya melalui telpon tidaklah baik.
"Naruto-kun, apakah kita bisa bertemu?" tanya Hinata pelan.
Sejenak pria itu terdiam, sepertinya tengah mengingat-ingat jadwalnya. "Maaf, pekerjaan sedang menumpuk. Aku tidak yakin bisa bertemu denganmu selain di lokasi syuting. Ada apa? ada yang ingin kau bicarakan?" suaranya diakhir berubah lembut, dan cemas.
"Ada yang ingin aku ceritakan padamu," jujurnya. "Tapi aku bisa menunggu sampai kita bisa bicara dengan santai. Ini sudah larut, kau masih di lokasi syuting?"
"Ya, syuting kali ini agak mundur karena salah satu aktris tidak dalam kondisi baik." Naruto terdiam, menunggu Hinata untuk kembali bicara. Namun sang gadis hanya bergumam pelan. "Tidurlah, kau juga banyak pekerjaan dan butuh istirahat."
"Akan kulakukan, Naruto-kun jangan lupa minum vitamin. Selamat tidur," bisik Hinata pada ponsel pintarnya.
Dan Naruto membalas dengan suara lembut, "Selamat tidur, mimpikan aku, ya!"
Keduanya terkekeh pelan, lalu mematikan sambungan telpon.
...
Pagi datang dalam sekejap, membuat Hinata menggeliat pelan. Dia mengusap mata, menyentak selimut tebalnya dan segera bersiap-siap. Setelah setengah jam berlalu, pintu kamar terbuka, menampilkan sang putri Hyuuga dalam keadaan rapi. Kali ini dia berpakaian sedikit formal, dengan rok pendek di atas lutut dan blouse berwarna violet.
Suara ponsel terdengar tanpa ada pesan masuk. ketika Hinata membacanya, sepasang manik rembulan itu membulat. Dia segera berlari menuju teras dan membuka pintu apartemennya. Sosok pria berambut pirang dengan topi serta jaket hitam berdiri di depan.
Naruto tersenyum hangat, "Selamat pagi, Hinata."
Hinata menghampiri, masih dengan raut terkejut. "Sejak kapan Naruto-kun di sini?"
"Mungkin sejak subuh," jawabnya dengan nada bercanda, namun ketika melihat wajah cemas Hinata dia segera meralat. "Aku baru datang, kalau tidak percaya coba rasakan suhu tubuhku." katanya lagi sambil mengambil kedua tangan Hinata dan menaruhnya di pipi. "Hangat, kan?"
Pemuda pirang itu tersenyum melihat kekasihnya yang mengangguk, terlihat lucu di matanya. Tanpa melepaskan tangkupan kedua tangan Hinata di wajahnya, Naruto berujar. "Bagaimana kalau kita berangkat bersama hari ini?"
"Kau ada keperluan di gedung MBC hari ini, bukan?"
Sekali lagi Hinata mengangguk, dia dapat merasakan telapak tangannya terasa hangat. "Naruto-kun sudah makan?" pria itu menggelengkan kepalanya, lalu bibirnya mengerucut lucu membuat pemilik mata rembulan tertawa pelan. "Bagaimana kalau kita buat omelet bersama? kali ini Naruto dan Hinata, bukan ASMR BOYFRIEND Naru-kun."
Naruto terbahak, mengangguk setuju, juga membiarkan Hinata menarik tangan dan membawanya masuk ke dalam apartemen sang gadis.
Hinata mengangkat dua buah celemek di depan Naruto, membiarkan pria itu memilih diantara dua corak yang berbeda. Pilihan jatuh pada corak bunga lavendel di ujung kain. Mereka berdua bergantian membantu pasangannya memakai celemek.
Keduanya mulai menyiapkan bahan, Naruto memotong sayuran sementara Hinata menyiapkan bumbu dan panci penggorengan. Setelah siap, sang gadis memukul dada dengan raut penuh percaya diri. Pria pirang itu tertawa, memersilahkan kekasihnya untuk membuat telur omelet sementara dirinya memasak nasi goreng.
Sesekali Naruto menggoda Hinata yang tengah serius memasak telur dengan kecupan beruntun pada puncak kepala sang gadis. Dia lalu tertawa ketika kekasihnya menggerutu, mengatakan ia tidak bisa fokus pada masakannya.
Setelah selesai memasak dan menaruhnya di atas meja, Naruto dan Hinata duduk berhadapan. Gadis bermata lavendel itu menyeringai, teringat dengan salah satu kalimat yang pernah diucapkan Naruto dulu.
"Akhirnya selesai juga, yuk! kita makan, sepiring berdua biar romantis seperti pengantin baru."
Naruto terdiam, mengerjap sebelum mulai salah tingkah. Kedua telinganya telihat memerah meski pemuda pirang mencoba menyembunyikannya dengan menutup separuh wajah dengan tangannya.
"Langsung nikah, mau tidak? kita jadi pengantin baru beneran?" Naruto balas menggoda, dan berhasil membuat Hinata terdiam. Gadis itu mengerjap, lalu tertawa kikuk, terlihat menggemaskan di mata Naruto. "Buka mulutmu, suapan pertama untuk perempuan paling cantik dimataku."
Wajah Hinata semakin panas, dia membuka mulutnya, menerima suapan Naruto lalu menunduk malu. Pria pirang tertawa renyah, dia mengacak pelan puncak kepala sang gadis, lalu kembali menyuapi Hinata.
"Berhenti menggodaku, Naruto-kun."
"Tidak mau, aku suka menggodamu." Naruto bertopang dagu, menatap lekat-lekat gadis di depannya. "Bagaimana bisa ada bidadari jatuh duduk di depanku?"
Tidak kuasa lagi dengan godaan Naruto, sang gadis memukul kening sang kekasih dengan sendok. "Aku bilang berhenti, cepat buka mulutmu!"
"Calon istriku keluar galaknya," ujarnya sambil menerima suapan dari Hinata.
"ISH! NARUTO-KUN!"
"Aku di sini sayangku."
Begitulah suasana makan pagi di apartemen Hinata, kali ini keramaian terdengar tidak seperti biasanya. Pintu berwarna putih tidak lagi terlihat kesepian, aura kehangatan memancar bersama suara Naruto dan Hinata yang bercengkrama di pagi hari.
.
.
.
Continue...
