Suara ketukan terdengar di atas meja bar berulang kali. Mencoba menarik perhatian seorang pria bertudung hitam yang sudah sejak tadi melamun, menatap kosong gelas whiski di tangan. Ketika bartender dengan rambut hitam yang dikuncir tinggi-tinggi itu berdecak, sebuah sentilan kuat mengenai kening sang pelanggan.
"Itu menyakitkan, Shika! apa yang kau lakukan?!"
"Akhirnya! kalau kau tidak niat minum, lebih baik kau pulang sebelum kutendang, Naruto."
Bibir pemuda pirang itu mengerucut lucu, dia tidak memakai masker, hanya menutupi kepala dengan tudung sambil menikmati segelas minuman. "Ini juga sedang minum, sedikit demi sedikit, kalau langsung ditegak mending minum air putih!"
"Baik, baik, Tuan Pelanggan silahkan pulang sekarang. Anda sudah mabuk berat," Shikamaru berucap datar sembari membersihkan gelas wine.
"KAU! AKU BELUM MABUK, SIALAN!" Naruto mengumpat lalu menaruh gelas whiski, dia menghela napas pelan dan bergumam lirih. "Argh! payah, aku payah!"
Kali ini giliran Shikamaru yang menghela napas pelan. Dia lalu menurunkan kepala, menatap sejajar pada mantan ketua osis sekolahnya. Sebelum bicara, dia sempat membuka tudung hoodie, membiarkan dirinya melihat lebih jelas wajah teman lamanya.
"Jadi, sebenarnya apa yang membuat seorang Uzumaki Naruto yang tidak suka minum, malah menghabiskan hampir setengah botol whiski?"
"...," Naruto mengalihkan tatapannya, "Aku-aku hanya baru sadar betapa bodohnya diriku."
Tatapan yang Shikamaru berikan berhasil membuat Naruto menggeram pelan. Pria bermata hitam itu mendengkus pelan, sudut bibirnya tertarik menahan tawa. "Kau baru sadar?"
"Hei! kau tidak lupa saat sekolah dulu, aku ini ketua osis!"
"Aku tidak membicarakan otak cemerlangmu, ya walaupun aku masih lebih jenius darimu." Shikamaru terkekeh pelan, lalu dia menunjuk ujung hidung Naruto dengan telunjuknya. "Yang kita bicarakan ini adalah hatimu."
Shikamaru mendadak memasang raut wajah ingin muntah, "Aku ini bartender, jadi akan kutambahkan biaya konsultasi cinta di bill-mu." dia mengelilingi meja, kemudian duduk di samping Naruto dan merangkul bahu.
"Dengar, Naruto. Seorang pria harus berani ambil keputusan, berani melangkah demi orang yang dia cintai." Shikamaru mulai mengeluarkan petuah andalannya. "Kau sudah lama memendam perasaan cintamu, aku sampai lelah mendengar cerita-ceritamu, mulai dari pertemuan pertama, bagaimana kau diam-diam memperhatikannya saat sekolah, maupun saat kalian bertemu lagi di dunia kerja. Bahkan telingaku panas, saat kau bercerita dengan penuh semangat ketika akhirnya kalian pacaran dan berciuman-"
"Tutup mulutmu, nanas!" Naruto mendorong jauh-jauh wajah Shikamaru dengan pelipis berkedut kesal. "Jujur saja, kau tidak ada niat memberi solusi, hanya ingin menjahiliku saja, benarkan?!"
"Ck, tentu saja. Memang apa lagi?" dengan santainya Shikamaru berdiri dan kembali ke tempatnya, membersihkan gelas wine. "Sudahlah lebih baik kau pulang, tidur, lalu besok pagi ke rumah utama Hyuuga."
"Untuk apa?"
"Untuk melamar Hyuuga Hinata, apa lagi?" perkataan santai Shikamaru dijawab dengan semburan air dari Naruto yang terkejut. Laki-laki itu dengan sigap menyingkir, dan memberikan tisu pada temannya. "Kau sejak tadi dilema karena berpikir bisa saja kau terlambat melamarnya, bukan?"
Naruto batuk berulang kali, kemudian terdiam dengan wajah memerah sampai telinga. Harus diakui Shikamaru memang jenius, tidak hanya dalam bidang akademik, namun juga menilai dan membaca situasi. Dia menghela napas pelan, mengcengkram kuat gelas di tangan.
"Tu-tunangan Hinata bilang, apa yang bisa dilakukan pangeran yang kehilangan mahkotanya." Naruto berujar pelan, dia lalu terkekeh, "Benar, jika saja keluargaku tidak bercerai. Mungkin saat ini aku hidup sebagai pewaris perusahaan Namikaze. Bukannya hidup sebagai asisten sutradara yang jadwal kerjanya tidak tentu."
"Tapi kalau kau menjadi pewaris, belum tentu kalian bisa bertemu lagi." perkataan Shikamaru sontak menarik perhatian Naruto yang sejak tadi menunduk. "Kalian bertemu karena bekerja di dunia yang sama. Jangan kau pikir pilihan mana pun meski tujuannya sama akan berakhir sama. Hidup tidak semudah itu, dirimu sendiri yang paling tahu, Naruto."
Naruto kembali terdiam, benar apa yang dikatakan Shikamaru. Jika dia menjadi pewaris keluarga, hidupnya akan sangat sibuk, bertemu dengan banyak politikus, sangat jauh berbeda dengan dunia entertein. Dan jika bukan karena dia memilih dunia perfilman, mungkin saja Hinata tidak akan pernah menjadi salah satu fans Naru, seorang youtuber ASMR Boyfriend.
"Kau benar, Shikamaru. Semua kebahagiaan ini tidak mungkin aku dapatkan jika tidak menjadi asisten sutradara."
Pemuda berambut hitam itu tersenyum tipis, "Hidup itu sederhana, terkadang jangan terlalu banyak berpikir dan langsung bertindak saja. Seperti kalimat klise yang selalu ada di drama-"
"-Cukup ikuti kata hatimu!" keduanya berucap bersamaan, kemudian tertawa.
Benar, masalah hidup maupun percintaan memiliki banyak cabang jalan. Setiap cabang yang kita pilih memiliki keunikannya sendiri, seperti labirin yang hanya membuatmu pusing jika mencoba memikirkannya terlalu dalam. Terkadang cukup langkah sederhana dapat membuat sebuah perubahan besar.
Rasa mabuk perlahan mulai hilang, Naruto telah sadar sepenuhnya bersama perasaannya yang lega.
"Masukan tagihan konsultasi ke dalam bill-ku, Shikamaru!"
"Tentu saja, double digit ya!"
"EHHHH?!"
...
"Eh, cita-citaku?" Hinata mengerjap beberapa kali. Tontonan di depan mata seketika terabaikan begitu saja. "Kenapa tiba-tiba, dan lagi diumurku segini membicarakan cita-cita bukannya memalukan?"
"Aha..., tidak, itu-aku hanya ingin tahu, ingin mengenalmu lebih baik saja." Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pipinya sedikit merona malu. "Tidak boleh?"
Sial, dengan tatapan sayu seperti itu. Mana mungkin Hinata tidak akan menjawab pertanyaan yang membuatnya malu itu. Sang gadis rembulan menggeleng pelan, lalu menunduk, memainkan kedua telunjuknya.
"Tentu saja boleh. Sebentar, hum..., entah ini bisa disebut cita-cita atau bukan. Tetapi aku mempunyai sebuah tujuan yang ingin kukejar sebelum usiaku menginjak tiga puluh tahun." Naruto diam, mendengarkan dengan saksama. "Aku ingin mendirikan sebuah agensi entertein yang bisa bersaing dengan agensi-agensi besar di luar sana."
"Jadi karena itu kau bekerja keras dan sangat kompeten sebagai seorang manager artis?"
Hinata mengangguk, dia tersenyum manis. "Naruto-kun hebat sekali langsung bisa paham."
"EH? bukankah itu sangat jelas?"
Gadis berambut hitam kebiruan yang dia kuncir asal itu menggeleng pelan. "Tidak semua orang dapat memahami kerja keras dan tujuanku. Bahkan Ayahku saja tidak bisa."
"Apa ayahmu menentang pekerjaanmu?" dengan hati-hati Naruto bertanya.
"Dia bilang aku hanya bermain-main di dunia ini, sibuk bermain dengan para aktris dan aktor. Apa hebatnya orang-orang yang bernyanyi dan menari di atas panggung. Atau berakting dan melawak di depan kamera. Bagi ayahku yang memiliki sifat serius, dan kaku, semua itu terlihat payah dan tidak berguna."
Hinata terdiam, dia memeluk dan menaruh dagunya di atas lutut, mengerucut lucu. "Padahal aku sangat serius dengan pekerjaanku. Aku tidak main-main!"
Gerakan pelan membuat Hinata tersentak pelan. Dari belakang Naruto memeluknya erat, rambut pendeknya yang mengenai telinga sang gadis membuatnya geli. Serta napas dan suara berat kekasihnya berhasil membuat darahnya berdesir pelan.
"Kau sangat keren, Hinata. Kau tahu tujuanmu dan bekerja keras untuk membuatnya jadi nyata." Naruto berujar pelan, sambil memejamkan mata. "Apa kau tidak keberatan jika aku mengambil bagian dalam mewujudkan cita-citamu?"
Tidak mungkin jika Hinata tidak senang mendengarnya. Seseorang mengakui kerja kerasnya, bahkan menawarkan diri untuk mendukungnya. Dirinya lalu melepaskan pelukan Naruto, berbalik dan memberi kecupan singkat di bibir.
"Kau sudah ambil bagian sejak awal, Naruto-kun!"
Sekali lagi Hinata mengecup bibir Naruto, lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher sang pemuda. "Hei! apa posisi ini nyaman?"
Naruto terbahak mendengar pertanyaan bodoh Hinata. Bukankah gadis itu duluan yang dengan tiba-tiba duduk di atas pangkuannya. Tentu saja pria itu tidak masalah, malah senang karena dapat memeluk kekasihnya dari belakang. Jadi pria pirang itu membalas pelukan Hinata, memberi kecupan singkat di kening.
"Akan lebih nyaman jika kita lebih erat lagi pelukannya."
Hinata sontak memukul pelan pundak Naruto. "Hei! dasar mesum!"
.
.
.
Continue...
