Pintu ruang tunggu aktris Yamanaka Ino terbuka, menampilkan sosok perempuan cantik bermata hijau toska. Pekerjaan hari ini membuatnya menghela napas pelan. Jika bukan karena reality show ini sedang hangat-hangatnya. Mana mau dirinya meladeni MC mesum seperti Jiraiya-sama.
"Ne, Hinata-chan cepat kita pergi-YA TUHAN?!" Ino terperanjat kaget, sampai-sampai punggungnya menabrak keras pintu di belakangnya.
Seseorang duduk di pojok ruangan, tengah bermuram durja hingga terdapat jamur-jamur ilusi di sekujur tubuhnya. Sosok itu perlahan mendongak, menatap Ino yang sudah gemetar ketakutan.
"Ah, selamat datang, Ino."
Ino mengenali suara itu segera membulatkan kedua mata. "Hinata-chan?!"
Gadis cantik itu segera menghampiri, menarik hati-hati tangan sahabatnya dan menyuruhnya duduk di sofa. Sorot mata Ino terlihat serius, khawatir dengan keadaan Hinata. Memang sudah hampir dua minggu ini dia menyadari teman satu sekolahnya terlihat murung, tidak bersemangat, seperti sedang ada masalah. Namun setiap Ino bertanya, Hinata selalu menjawab dia baik-baik saja.
"Hinata-chan," Ino memanggil pelan, lalu menepuk dadanya sambil merentangkan tangan. "Bajuku siap basah, telingaku siap mendengar, dan tanganku siap memelukmu. Jadi kemarilah!"
Tanpa Ino harus mengulang dua kali, Hinata segera memeluknya. "Naruto-kun tidak ada kabar, tidak ada telpon, tidak ada pesan. Aku tahu dia sibuk, tapi ini buatku khawatir! "
Pekerjaan mereka berdua memang semakin padat. Membut keduanya jadi jarang bertemu. Meski begitu, Naruto masih menyempatkan diri untuk memberi kabar. Menelpon disela waktunya, atau mengirimkan pesan. Namun dua minggu berlalu, tidak ada kabar dari pemuda pirang. Sosial media, bahkan channel di youtube pun tidak ada update terbaru. Seakan pria itu lenyap dari muka bumi.
"Aku sudah coba menghubungi Kakashi-san, dan dia bilang Naruto-kun baru-baru ini ambil cuti. Kenapa dia tidak mengabariku sama sekali, Ino?"
Ino menepuk pelan punggung sahabatnya. Dapat dia rasakan bajunya mulai basah. Sebenarnya apa yang dipikirkan Asisten Sutradara satu itu. Ino menggeleng tanpa sadar.
"Aku tidak apa-apa kalau Naruto-kun mencampakanku. Sungguh! asalkan dia baik-baik saja, tidak menghilang seperti ini. Aku takut dia kenapa-kenapa, Ino!"
"Shh... Hinata-chan, berpikirlah positif. Mungkin saja Uzumaki-san sedang ada urusan mendadak. Kalau tidak, untuk apa dia mengambil cuti mendadak?"
Hinata mengangguk pelan, dia juga berpikiran sama dan mencoba mempercayai Naruto. Namun dirinya sama sekali tidak menyangka, bahwa rasa khawatir, cemas, dan merindukan seseorang akan semenyakitkan ini.
...
Bulan bersinar indah di langit malam, dan di depan pintu apartemen Hinata berdiri mematung. Dia memang berniat untuk menunggu Naruto menghubunginya. Namun hati dan tubuhnya lebih selaris dari pada logika. Tahu-tahu Hinata sudah berdiri di depan rumah Naruto.
Menghela napas pelan, Hinata mengeluarkan kunci cadangan yang diterimanya dari Naruto begitu mereka resmi berpacaran. Pintu rumah terbuka, lampu otomatis menyala, dan kesunyian menyambutnya.
"Apa sih, yang aku lakukan sekarang?" Hinata menghela napas pelan lalu menutup pintu.
Malam itu Hinata memutuskan untuk bersih-bersih di apartemen Naruto. Ini adalah hal yang diketahui gadis itu setelah beberapa kali datang kemari, bahwa kekasihnya memiliki pola hidup cukup berantakan.
Baju kotor berserakan di beberapa tempat, piring kotor menumpuk, dan dilihat dari isi kulkas yang hanya ada berbagai jenis cup ramen. Membuat Hinata setiap minggu datang untuk membantu Naruto bersih-bersih dan mengisi persediaan makanan. Sama seperti saat ini, namun kali ini tidak banyak yang perlu dirapikan.
Selesai bersih-bersih, jarum jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Manik lavendel menatap penuh harap pada pintu apartemen. Membayangkan Naruto muncul dari balik pintu dan tersenyum hangat seperti biasanya. Setitik air mata jatuh, segera diusap, lalu Hinata mengambil ponselnya. Dia membuka aplikasi youtube dan memutar salah satu video Naruto.
"Hai, cantik!" suara berat sedikit serak membuat senyum Hinata merekah. "Aku merindukanmu,"
"Aku juga, Naruto-kun."
"Apa yang terjadi? mengapa ada sendu di matamu?" Naru beranjak dari duduk, menatap lurus dengan raut khawatir. "Kau mau cerita? pundakku siap basah untukmu, telingaku siap mendengar, dan tanganku ada untuk menghapus air matamu."
Hinata terisak pelan, "Kau di mana, Naruto-kun. Aku merindukanmu..."
"Aku di sini, kau bisa menangis sepuasmu."
"Aku ingin kau benar-benar di sini, merasakan hangatnya tubuhmu." Hinata mengusap pelan layar ponselnya. Seakan dia benar-benar menyentuh pipi dengan gurat halus itu. "Aku merindukanmu."
Biip
Suara kecil terdengar disusul pintu yang terbuka. Hinata menoleh, membulatkan mata melihat sosok jangkung di bingkai pintu. Manik biru laut tidak kalah melebar dan pemiliknya sontak menyerukan nama pujangga hati.
"Hinata-chan?"
Ponsel jatuh ke lantai ketika pemiliknya menghempaskannya begitu saja. Gadis itu berlari, melompat ke dalam pelukan hangat yang ia rindukan. Naruto menyambut gembira, dia juga tak kalah sesak menyimpan kangen begitu lama. Pria pirang itu tertawa bahagia, sementara suara tangis pecah saat itu.
"Baka! kau kemana saja?!" Hinata mengamuk, mulai memukul dada bidang kekasih. "Apa gunanya ponsel kalau kau tidak bisa dihubungi?!"
"Maaf, maaf, ha ha ha!"
Manik rembulan mendelik kesal, "Kau tidak terlihat menyesal, Tuan Uzumaki!"
"Aku sangat menyesal hingga mau mati rasanya." sebuah kecupan singkat dia berikan pada pipi putih Hinata. "Lihat, buah cheri ini sudah ranum dan siap disantap." Naruto menggoda kekasihnya dengan berpura-pura melahap pipi sang gadis. Menghisapnya kuat-kuat lalu tertawa renyah.
"Hentikan, Naruto-kun!" rengek Hinata, mengusap pipi kanan yang basah akibat saliva dari kekasih. "Ew~ kau sudah gosok gigi belum?"
"Tentu saja belum, kau lihat sendiri aku baru pulang." Naruto menyeringai puas. Senyumnya kian lebar ketika amarah Hinata berubah menjadi rengekan geli.
"Jorok! mandi dulu sana!"
"Maunya dimandiin," ledek Naruto sambil mengedipkan mata.
Tanpa rasa bersalah Hinata memukul kuat pundak Naruto. "Kau bukan anak kecil, mandi sendiri sana!"
"Memang bukan. Makanya mandi bareng, yuk!" Naruto segera menggendong Hinata, membuat gadis itu menjerit tertahan. "Jangan berisik, ini sudah malam, Hinata-chan."
"Kau yang membuatku berisik! cepat turunkan aku!"
Bukannya menurunkan Hinata, pria itu malah membawa sang gadis menuju kamarnya. Lalu menjatuhkan sang ke kasih di atas ranjang kemudian menindihnya dengan kedua lengan bertumpu di antara wajah mungil Hinata.
"Na-Naruto-kun...," gadis itu berubah gugup.
Raut wajah sang pemuda melembut, manik biru menatap hangat pada sepasang rembulan. Jemari kekar itu menyapu pelan setiap sudut wajah Hinata. Dia menyibak pelan poni rata kekasihnya lalu mengecup pelan kening hingga membuat kekasihnya memejamkan mata. Kecupan dari kening perlahan turun ke ujung hidung, turun ke sudut dagu, kemudian mendarat di bibir.
Tanpa sadar Hinata mendesah pelan, sensasi dingin dia rasakan membuatnya tersentak pelan. Ternyata sejak tadi suhu tubuh Naruto turun, setiap jengkal jarinya dingin seperti membeku. Dan ketika Naruto memeluk erat tubuh kekasihnya, rasa hangat perlahan menjalar bersama degup jantung yang bertalu.
"Hinata," suara berat itu mendesak pelan di telinga.
"Ukh...," darahnya berdesir cepat, naik hingga membuat wajah putih Hinata berubah merah.
Sekali lagi Naruto berbisik, memanggil dengan nada menggoda. "Hinata..."
"Na-Naruto-kun..., he-hen-Akh!"
Sejak kapan jemari kekar itu berada di bawah perutnya, mengusap pelan perut datar Hinata. Kecupan ringan juga menyerang pipi dan leher sang wanita bertubi-tubi. Kepala putri sulung Hyuuga mulai berkabut. Ini pertama kalinya Naruto menyentuhnya se-intens ini.
"Naruto-kun, tunggu sebentar-Uhm!" bibirnya kembali dibungkam.
Kali ini bukan sekedar kecupan singkat, sejulur lidah melesat masuk melewati deretan gigi. Menekan kuat-kuat sebelum mulut Naruto menghisap bibir mungil Hinata. Suara kecapan memenuhi kamar tidur, begitu juga dengan desahan yang tidak hentinya keluar dari sang gadis.
Tangan Naruto masih bermain di perut datar Hinata, mengusapnya lembut lalu membelai pelan paha yang tertutupi rok selutut dan stoking coklat. Satu tangannya yang lain sambil menompang tubuhnya, dia juga sibuk mengusap pelan puncak kepala Hinata. Tanpa melepaskan pangutan mereka, Naruto malah semakin dalam melumat bibir kekasihnya.
Sejenak ciuman itu berhenti, membiarkan keduanya mengatur napas berat. Raut wajah Hinata sudah terlihat berantakan, dengan tatapan sayu dan wajah memerah. Naruto menelan ludah, dapat dia rasakan celana bawahnya mulai sempit. Namun dia masih memiliki kesadaran, dia tidak akan berbuat lebih.
Naruto menaruh kepalanya di samping Hinata, berbisik pelan. "Malam ini, aku tidak akan membiarkanmu pulang, Hinata."
Manik rembulan itu berkilat pelan, dia lalu memeluk erat Naruto. "Tenang saja, aku tidak berniat pulang."
Keduanya saling tatap, kali ini Hinata yang lebih dulu memulai ciuman. Kecupan ringan lalu berubah lumatan. Di atas ranjang, keduanya larut dalam cumbuan, sesekali Naruto menggigit, menghisap, dan menjilat leher jenjang Hinata. Meninggalkan tanda kepemilikan di beberapa tempat.
.
.
.
To Be Continue...
