"Maaf karena tidak memberi kabar beberapa hari, Hinata." Naruto mengeratkan lengannya di pinggang Hinata. Mengecup pelan pucuk kepala sang gadis. "Dan juga tidak memberitahu kalau aku cuti."

Hinata mengerucutkan bibir, menekuk lutut, "Sudah cukup minta maafnya, aku butuh penjelasan, Naruto-kun." lalu dia membuka mulutnya, "dan suapi aku lagi!"

"Kau tahu syuting kali ini cukup padat," Naruto terkekeh pelan, dia menjelaskan sambil menyuapi kekasihnya buah anggur. "Saat ku lihat bisa ambil beberapa hari libur, aku segera ajukan cuti karena ada yang perlu aku lakukan, dan itu cukup mendesak jadi aku tidak sempat mengabarimu."

"Baiklah, lalu urusan mendesak apa yang membuatmu tidak bisa memegang ponsel?"

Keringat dingin turun di pelipis Naruto, mendengar nada suara ketus Hinata jelas dia tahu, gadis itu masih marah padanya. Namun dia tidak bisa memberitahunya sekarang atau semua akan berakhir sia-sia.

"Hinata-chan, kapan kau libur?" Naruto mengalihkan topik, "Ayo pergi kencan!"

"Entahlah," jawab Hinata datar. "Aku kira, kita akan jujur satu sama lain, tapi sepertinya hanya aku yang berpikiran demikian."

"Memang tidak ada yang aku sembunyikan," Naruto menyergah cepat. "Tapi aku butuh tempat dan waktu yang tepat untuk memberitahumu. Seperti sebuah kejuatan, Hinata."

Gadis bulan masih bergeming, mau tidak mau Naruto mengeluarkan jurus andalannya. Serangan kelitikan di perut dan serangan kecupan di pipi. Alhasil Hinata tergelak, tertawa terbahak-bahak hingga wajahnya memerah dan memohon agar kekasihnya berhenti.

"Jadi, apa jawabanmu, Nyonya Uzumaki?"

"Ba-baiklah, ha ha ha... a-aku menyerah!" Hinata lalu menarik napas setelah Naruto melepaskannya. Setelah napasnya kembali teratur, tanpa segan gadis itu meninju bahu sang kekasih.

Naruto mengaduh dengan raut meledek, "Jadi kapan kau libur?"

"Minggu depan tidak ada jadwal apapun. Hari itu aku bebas seharian dan kau bisa menculikku."

Pemuda pirang itu menjentikan jari, "Keren! hari itu kau harus dandan secantik mungkin, karena kita akan pergi makan malam romantis."

"Baiklah, Tuan Uzumaki." Hinata menyenderkan kepalanya di bahu Naruto, "Hei, aku suka saat kau tadi memanggilku, Nyonya Uzumaki."

"Nyonya Uzumaki," Naruto segera berbisik pelan dan Hinata menggangguk pelan. "Kau suka itu, Nyonya Uzumaki?"

"Hm..., suka sekali." Hinata menjawab sambil tersenyum lebar.

Naruto tersenyum tipis sebelum raut wajahnya berubah sendu. Dia menaruh kening di atas bahu Hinata lalu berbisik pelan. "Maafkan aku, Hinata."

"Untuk?"

"Menyentuhmu tanpa izin."

Sejenak Hinata terdiam sebelum dia tertawa renyah. Guncangan tubuh itu membuat Naruto mengangkat kepala, tatapannya terlihat bingung. Mengapa gadis itu tertawa terbahak ketika dia tulus meminta maaf.

"Hi-Hinata-chan?" panggilnya ragu.

"Mou~ Naruto-kun," kali ini Hinata yang memanggil, dia menangkup wajah pemuda itu dengan kedua tangan. "Kau bisa menyentuhku kapanpun kau mau. Aku kekasihmu, kau tidak perlu izin untuk melakukannya."

"Kau yakin?"

Hinata mengangguk pasti, "Ah! kecuali kalau kau ingin menyentuhku lebih jauh, maka ada syaratnya."

"Apapun," jawab Naruto cepat. Dia akan melakukan apapun jika itu demi Hinata.

Manik rembulan berkilat lembut, "Nikahi aku."

"Benar, kau terlalu berharga untuk dimiliki tanpa syarat," Naruto tersenyum lebar, dia menarik tangan Hinata dan mencium punggung tangan seputih susu.

"Begitu pula denganmu, Naruto-kun." dengan cepat tangan yang semula dikecup kini menggenggam erat tangan besar nan kokoh itu. "Kau terlalu berharga untuk dimiliki tanpa ikrar. Aku berharap kelak lonceng pernikahan akan menjadi lembaran baru bagi Uzumaki Naruto. Melupakan masa lalu dan melangkah ke depan bersamaku."

Lenggang sejenak, kedua mata berbeda warna saling beradu. Menghantarkan perasaan hangat satu sama lain, sebelum akhirnya diputus lebih dulu oleh sang pemuda. Naruto kembali memeluk erat Hinata, tersenyum bahagia sambil berusaha menahan air mata haru yang hendak jatuh.

"Aku suka idemu, Hinata-chan."

...

Sabtu datang begitu cepat, Hinata sudah sejak subuh bersiap-siap. Mulai dari membersihkan rumah, menyapu lantai, menumpas semua debu di setiap sudut rumah. Mengganti seprai dengan yang baru, mencuci pakaian, dia benar-benar bekerja keras hari itu.

Semua selesai tepat pukul dua belas siang, Hinata menyeka kening sambil tersenyum bangga. Dia berdiri di tengah-tengan ruang tamu, puas dengan kinerjanya. Dia tidak perlu takut kalau-kalau setelah makan malam nanti, Naruto hendak berkunjung ke rumahnya.

"Aku harus cepat pergi ke Salon!" serunya ketika melihat jarum jam.

Hinata bergegas berganti pakaian, jadwal hari ini padat sekali. Setelah membersihkan rumah, wanita muda itu akan pergi menuju Salon untuk melakukan perawatan tubuh, sebelum menata rambutnya. Hari ini dia akan tampil menawan hingga membuat Naruto terpesona padanya. Hinata terkekeh pelan, tidak sabar melihat respon kekasihnya.

...

Pukul enam sore, senja datang dengan indahnya ketika sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan salon. Naruto keluar dari mobil, mengenakan kemeja biru muda lembut dibalut jas dan celana bahan berwarna biru gelap. Tidak ada masker hitam menutupi separuh wajahnya, sehingga memerlihatkan rahang tegasnya, serta hidung mancung dan tatapan cerahnya.

Satu-dua perempuan melewatinya sambil mengedipkan mata, sebagian berbisik-bisik dengan raut malu, dan sebagian lagi terang-terangan mendekati. Naruto mundur selangkah, bukan niat hati bersandar pada mobil dan terlihat lebih keren. Namun dia merasa terpojok, ketika dua perempuan mendekatinya, meminta nomor kontaknya. Pria itu sudah keringat dingin, risih, dan berusaha untuk tidak disentuh.

"Kalian ada perlu dengan kekasih saya?" suara jernih dan penuh percaya diri menyela ketika untuk kesekian kalinya, wanita asing merayu Naruto.

Mereka bertiga menoleh, dua perempuan itu tersentak pelan. Nyalinya berubah ciut dan perasaan insecure menyerang mental keduanya. Bagaimana tidak, jika melihat wanita muda di depan mereka. Rambut hitam malam tergerai indah sampai punggung, tubuh ramping dibalut gaun one-piece sebatas lutut dengan bagian belakangnya memanjang seperti potongan mermaid. Coraknya ombre, dengan warna hitam kebiruan kemudian putih dibawahnya.

Hinata maju dua langkah, bersedekap di dada, sengaja memerlihatkan lekukan indah asetnya untuk menantang para hyena. DIa tersenyum ramah, namun tidak dengan tatapan matanya.

"Memang harusnya aku tidak meninggalkanmu tanpa tanda pengenal." Hinata berujar sambil berjalan ke arah Naruto. Dia sengaja melewati dua wanita itu ditengah-tengah, kemudian menarik kerah sang pemuda.

Naruto membulatkan mata, begitu juga dengan dua perempuan yang merayunya. Mereka terkejut ketika Hinata dengan terang-terangan memberikan tanda cinta di leher sang pria. Suara kecupan terdengar keras, wajah Naruto pun telah memerah dan menegang.

Hinata berbalik, tersenyum penuh kemenangan, dan sedetik kemudian para hyena telah pergi sambil menutup wajah mereka.

"Maaf membuatmu menunggu, Naruto-kun!" suara ceria Hinata terdengar, sikapnya yang berubah dengan cepat itu cukup mengejutkan.

"Naruto-kun?" Hinata kembali memanggil.

Pemuda itu masih bergeming, menatapnya lamat-lamat, kedua kupingnya masih merah rupanya. Hinata terkekeh pelan, paham betul bahwa kekasihnya sedang berusaha mencerna apa yang telah terjadi. Detik berikutnya manik biru itu mengerjap, akhirnya kesadarannya kembali.

"Hi-Hinata, a-apa yang ka-kau?" Naruto menyentuh lehernya, masih terasa panas dan berdenyut pelan.

"Naruto-kun tidak suka dengan tanda pengenalnya?" gadis itu bertanya dengan raut yang sangat menggemaskan.

"Ka-kau..., belajar dari mana hal seperti ini?" Naruto tertawa pelan, masih salah tingkah.

Hinata segera memeluk lengan kekasihnya, berkedip manja. "Masih banyak yang belum kau tahu, Naruto-kun."

Naruto menelan ludah kering, Ya, Tuhan. Naruto membatin, aku ingin menikahinya sekarang juga.

.

.

.

To Be Continue...