"Hinata, apa aku sudah bilang kalau aku mencintaimu?"

Manik rembulan melirik, memerhatikan sosok kekasihnya yang sibuk mengemudi. Hinata membenarkan posisi duduk, menatap lekat-lekat pria tampan yang kali ini wajahnya tidak tertutupi masker hitam.

"Tidak, kau tidak pernah bilang," dustanya dengan senyuman jahil. "Apa kau sayang padaku?"

Naruto menoleh sekilas sambil tersenyum lebar, "sayang dong."

"Apa kau mencintaiku?" Hinata bertanya lagi.

"Aku mencintaimu."

"Meski nanti aku berubah tua? rambutku memutih dan kulitku keriput?"

Kali ini Naruto terbahak, suara tawanya terdengar renyah. "Aku sudah mencintai Hyuuga Hinata sepuluh tahun lebih, tambah beberapa tahun lagi bukan masalah bagiku." jawabnya sambil mengedip jahil.

Kali ini Hinata terdiam, dia berubah kikuk, salah tingkah dengan pipi merona. Naruto yang segera menyadari kekasihnya malu, segera meraih tangannya, mencium punggung tangan sang kekasih lalu menggenggamnya erat.

"Sebenarnya sekarang ini aku sedang bersama Naruto-kun atau Naru?" Hinata bergumam pelan dan mengibaskan tangan ke wajahnya yang panas.

Naruto terkekeh pelan, "Naruto maupun Naru sama saja, karena sosok Naru si youtuber ASMR Boyfriend terlahir dari perasaan yang terpendam sejak lama. Seperti surat yang ditulis terus menerus dan dikirim secara acak dengan harapan surat itu akan sampai pada tujuan aslinya."

Gadis itu kembali terdiam, memandang lekat-lekat dan menelaah perkataan kekasihnya. Seperti surat, youtube menjadi medianya, konten-konten didalamnya adalah isi surat. Hinata menelan ludah gugup, tidak ingin salah duga, namun hatinya menggebu untuk memastikan.

"Maksudmu..., konten selama ini adalah gambaran dari haluanmu yang ingin menjadi kekasihku?"

Naruto terdiam, wajahnya berubah merah padam. Hinata melongo, tidak percaya.

Tak lama dia pun ikut tertawa, Naruto melirik ragu-ragu, tidak mengerti mengapa Hinata tertawa. Tanpa dia ketahui, fakta bahwa Hinata menjadi fans Naru adalah alasan yang sama dengan Naruto membuat konten ASMR Boyfriend.

...

Mobil hitam berhenti di depan restoran mahal, buru-buru salah satu staff menghampiri dan membukakan pintu kemudi, memersilahkan Naruto untuk keluar. Ketika laki-laki berpakaian setelan hitam hendak membuka pintu untuk HInata. Pemuda pirang segera menahan, dia menunduk singkat, lalu mengambil alih.

Pintu mobil dibuka, Naruto mengulurkan tangan pada Hinata dan sang gadis menyambutnya hangat. Mereka berdua memasuki tempat makan bersama, menuju lantai tiga, dan salah satu ruang VIP.

Saat pintu geser dibuka, Manik rembulan itu tertegun.

Hyuuga Hanabi dan Hyuuga Hiashi.

Keluarga inti Hyuuga berdiri di samping meja bundar dengan pakaian formal. Hinata segera menoleh ke arah Naruto, meminta penjelasan. Pemuda pirang itu tersenyum hangat, menepuk pelan tangan yang mengapit dilengan lalu membimbingnya masuk.

"Selamat malam, terima kasih sudah menunggu kedatangan kami."

Hiashi berdehem pelan, raut wajahnya keras namun sinar matanya ketika melihat Hinata melembut. Sementara itu Hanabi, gadis remaja itu tidak bisa menutupi senyum bahagianya. Ketika keheningan menyelimuti, dan terasa canggung, putri bungsu Hyuuga segera menyikut sang ayah.

"Tidak masalah, mari kita duduk dan segera memesan."

Ketika Naruto hendak menarik kursi untuk Hinata, kekasihnya itu menahan lengan dan menatapnya dalam.

"Kejutannya masih ada, sekarang kita duduk dulu." bisik Naruto lalu menarik kursi.

Hinata hanya bisa menurut, dia tidak ingin merusak apapun yang telah Naruto siapkan hanya karena ego semata. Setelah Naruto duduk di sampingnya, percakapan ringanpun terjadi antara Naruto dengan Hanabi dan Hiashi. Sepuluh menit kemudian putri sulung Hyuuga menahan diri untuk tidak menjatuhkan rahangnya.

"Kau dengar itu, Ayah! kesehatan itu sangat penting, kalau kau tidak ingin mendengarkanku, setidaknya dengarkan kata-kata Naruto-nii-chan!"

"Diamlah, Hanabi! Ayah bisa menjaga kesehatan ayah sendiri."

"Saya tidak keberatan untuk menemani Hiashi-san pergi menemui Tsunade-san untuk kunjungan rutin."

"Oh, benarkah? aku tidak ingin merepotkanmu, tapi aku terima tawaranmu."

Hinata mengerjapkan mata berulang kali, apakah dia sedang bermimpi saat ini? mengapa Naruto terlihat akrab dengan keluarganya seakan ini bukanlah kali pertama mereka bertemu. Bukankah sang ayah adalah orang yang kolot, keras kepala, dan susah akrab dengan orang asing?

Rasa penasarannya yang tinggi membuat Hinata menarik pelan ujung kemeja Naruto. Pria itu menoleh dan berhasil menangkap maksud tatapan kekasihnya. Dia lalu berdehem pelan, menarik perhatian Hiashi dan Hanabi yang sempat adu mulut.

"Mumpung makanan belum datang, bagaimana kalau kita bahas topik yang kita bicarakan dua minggu lalu?"

Sebelah alis Hinata kembali terangkat, manik rembulannya lalu melihat Hiashi yang ikut berdehem dan berubah gugup. Sementara itu adik perempuannya malah terlihat antusias dan menatapnya lekat-lekat.

"Benar, makan malam hari inipun untuk membahas hal itu." ujar Hiashi setelah menegak segelas air.

Naruto tersenyum hangat, dia lalu meraih tangan Hinata yang berada di atas meja dan menggenggamnya erat. Hinata menoleh, beradu tatap dengan Naruto sejenak sebelum sang pria kembali menatap dua keluarga sang kekasih.

"Sekali lagi saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Uzumaki Naruto dan saya berkencan dengan putri Anda, Hyuuga Hinata."

Jantung Hinata berdetak lebih cepat dan darahnya berdesir pelan. Ia sontak menoleh ke arah Naruto, wajah sang kekasih begitu serius, dan juga tampan tentunya.

"Malam ini selain ingin memperkenalkan diri, saya juga hendak meminta restu kepada Hiashi-san dan Hanabi-san." Naruto mengeratkan genggamannya pada tangan Hinata.

"Saya ingin menikahi Hinata. Izinkan saya meminang Hyuuga Hinata," ujar Naruto tegas dan menundukkan kepala.

"Na-naruto-kun?" suara Hinata tercekat, dia terkejut bukan main.

Ini adalah kejutan yang sejak tadi dibicarakan, Naruto hendak meminangnya. Setetes air mata jatuh di ujung mata, Hinata tersenyum cerah dan itu tidak luput dari pandangan Hiashi. Pria paruh baya itu menutup mata sejenak, kemudian dia berdehem pelan.

"Karena kau sudah membuktikan ucapanmu, mana mungkin aku menolak permintaanmu." Hiashi tersenyum tipis, dia lalu menatap ke arah Hinata. "Maafkan aku karena sudah bersikap keras kepala, Hinata. Aku akan membatalkan perjodohanmu dengan keluarga Otsutsuki."

"Sungguh?" Hinata tidak bisa menahan diri ketika mendengarnya.

"Tidak ada alasan untuk melanjutkan perjodohan, ketika ada kandidat lain yang lebih baik untuk putriku." Hiashi berdehem pelan, memalingkan wajah, "Karena itu pulanglah, kau bisa mengejar cita-citamu tanpa perlu keluar rumah."

"Ayah tidak akan memaksaku untuk mewarisi perusahaan Hyuuga?" kening gadis itu berkerut samar.

"Kau tetap akan mewarisi perusahaan, selama kesehatanku tidak memburuk."

Naruto tersenyum lebar, "Tenang saja, Hiashi-san. Kami semua akan ada disisi Hiashi-san untuk menjaga kesehatanmu."

"Benar, Ayah! jadi jangan khawatir!" Hanabi berseru riang.

Manik rembulan yang telah mengabu melirik ke arah putri pertamanya. Hinata tersentak pelan, matanya melirik ke sembarang arah, tidak berani membalas tatapan sang ayah. Namun dia menyahut pelan.

"Aku akan menyiapkan jadwal kosong khusus untukmu, Ayah..."

Hiashi tersenyum lebar, sebuah ekspresi yang tidak pernah ia tunjukan sebelumnya. Hinata dan Hanabi yang melihat seketika terenyuh. Selama ini sosok keras dan penuh wibawa adalah sosok yang tertanam dan membekas dalam ingatan mereka.

Mungkin begitulah sosok seorang ayah, mereka ingin terlihat bisa diandalkan sebagai kepala keluarga. Ingin terlihat mampu merangkul dan memimpin keluarga mereka, sambil menyembunyikan sosok mereka yang seperti anak kecil.

Naruto tersenyum lembut, dia memerhatikan lekat-lekat interaksi keluarga Hyuuga. Mungkin dirinya telah kehilangan sosok sang ayah, namun masih ada sang ibu di sampingnya. Begitu pula dengan Hinata, dia tidak ingin kekasihnya semakin jauh dari sang ayah ketika hanya sosok ayah yang dia miliki sekarang.

Setelah mereka berdua menikah nanti, bukankah mereka jadi bisa saling melengkapi. Hinata akan memiliki sosok ibu dan Naruto akan memiliki sosok ayah.

"Aku tidak sabar menantinya," Naruto bergumam pelan.

"Naruto-kun bilang apa?"

Naruto menggeleng pelan, dia tersenyum cerah. "Aku ingin cepat-cepat menikahimu."

Siulan nyaring terdengar dari Hanabi, gadis remaja itu menggoda calon kakak ipar yang sudah kebelet nikah. Wajah Hinata berubah merah, sementara Naruto tertawa renyah dan Hiashi menutupi senyumnya dari balik cangkir teh.

...

*Peringatan +19*

Acara makan malam berakhir sempurna, restu berhasil dikantongi Naruto. Dia harus mulai memikirkan tahap berikutnya, seperti pertemuan dengan sang ibu, lalu membicarakan konsep pernikahan, tanggal pernikahan, sampai dimana dia harus memesan tiket untuk pergi bulan madu.

Pikiran itu memenuhi kepala Naruto hingga dia tidak sadar kalau mobilnya sudah berhenti di depan komplek apartemen Hinata.

"Naruto-kun,"

Gaun seperti apa yang cocok dengan Hinata? putih, abu-abu, merah muda, atau violet?

"Naruto-kun!"

Sebaiknya liburan ke pulau tropis atau ke tempat dingin seperti hokkaido?

"Na-Ru-To-Kun!"

Mungkin lebih baik ke pulau tropis, aku ingin melihat Hinata dengan bikini-

Sreet!

"Hmph!?"

Rasa basah dan manis ini, manik sebiru lautan itu membulat ketika menyadari sesuatu bergerak masuk di dalam mulut. Hinata menciumnya, terlebih gadis itu melakukan french deep kissing.

Astaga! sejak kapan? Naruto membatin, tidak menyangka gadis itu mampu melakukannya.

suara kecupan terdengar keras di dalam mobil, renyah juga memabukan. Hinata masih menggenggam dasi Naruto yang dia tarik saat menciumnya. Salah satu tangan bergerak pelan ke belakang kepala sang kekasih dan meremas pelan rambut pirang yang dipotong pendek. Remasan demi remasan itu berhasil membuat sesuatu tegang dibawah sana.

Disela-sela cumbuan itu, Naruto berbisik pelan dengan napas berat. "Jangan memancingku, Hinata."

Sial, harusnya kau Naruto. Bahwa kekasihmu itu semakin dilarang semakin melawan.

Benar saja, begitu Naruto memberi peringatan, manik perak itu berkilat menggoda. Hinata tersenyum manis, lalu mengecup bibir Naruto, perlahan melumat bibir tebal itu dan menelusupkan lidahnya lebih dalam.

Tangan yang semula meremas rambutnya, kini bergerak turun, mengelus dada bidangnya, melepas satu persatu kancing kemeja lalu turun lagi ke bawah. Naruto spontan menggigit bibir bawah Hinata, ketika tangan gadis itu menekan bagian bawahnya. Bulu kuduknya meremang, pria itu mendesis pelan, tatapan matanya mulai tidak fokus.

"Naruto-kun...," Hinata berbisik manja.

Hinata tersenyum tipis melihat keringat dingin turun di leher jenjang kekasihnya. Jemarinya bergerak pelan, mematikan mesin mobil, lalu perlahan bergerak naik ke atas pangkuan Naruto. Pria pirang itu masih mengatur napasnya setelah dibuat kewalahan oleh ciuman Hinata.

Mengambil alih, bisa dibilang seperti itu. Hinata segera mengatur sandaran dudukan kursi pengemudi menjadi lebih rendah. Lalu tangan lainnya bergerak mengelus dada, pinggang, dan bagian bawah Naruto yang mulai terasa keras.

Suara kecupan masih terdengar, Hinata sibuk bermain dengan lidah kekasihnya sambil menggoda bagian bawah yang masih tertutup rapat. Tak lama akhirnya tangan Naruto mulai bergerak. Telapak tangan kekar dengan urat nadi yang terlihat jelas itu mengelus pelan punggung halus Hinata.

Sang gadis mendesah pelan, mulai menggoyangkan pinggulnya lalu melumat lagi bibir Naruto.

"Hi-Hinata..., Hinata..."

Naruto mendesak tertahan, dia ingin segera melepaskan ikat pinggangnya, sesak sekali dibawah sana. Saat akhirnya Naruto memutuskan untuk kehilangan kendali akan dirinya, tiba-tiba Hinata menjauh.

"Hi-Hinata?"

Gadis itu tersenyum lebar, menyeringai lebih tepatnya. "Baiklah, aku pulang dulu, Naruto-kun!"

"Eh? a-apa?"

Tanpa diberi waktu untuk berpikir jernih, Hinata sudah membuka pintu dan turun dari mobil. DIa memberikan kecupan selamat tinggal pada Naruto yang penampilannya sudah berantakan.

"Selamat malam, sayang." Ucapan selamat tinggal sebelum Hinata berlalu meninggalkan Naruto termangu di dalam mobil.

Sesampainya di depan pintu apartemen, Hinata mengambil kunci di dalam tas kecilnya. Dia sesekali tertawa kecil karena berhasil menjahili Naruto. Itu adalah balasan kecil karena sudah memberikan kejutan dan juga mendiamkannya selama perjalanan pulang. Setelah membuka kunci, Hinata membuka pintu, namun seseorang mendorongnya lalu menutup pintu dengan cepat.

Hinata tersentak kaget, seseorang mendorongnya dan menghimpitnya di antara dinding. Aroma yang dikenalinya itu membuatnya tahu siapa pelaku penerobosan ini dan dia tersenyum manis.

"Tidakkah kau terlalu kejam karena berhenti ditengah-tengah?"

Naruto memandang kekasihnya dengan napas berderu, sepertinya dia berlari dari parkiran ke lantai dua. Hinata terkekeh pelan, dia menarik pinggang ramping kekasihnya dan memeluknya erat.

"Kau ingin kita lanjut?"

Naruto menjawabnya dengan satu ciuman dalam dan rangkulan di pinggang Hinata. Sepertinya mereka berdua akan meminta cuti diwaktu yang bersamaan.

.

.

.

Continue...