Naruto by Masashi Kishimoto.

...

...

..

.

Langkah kaki ini membawaku ke sebuah kamar di rumah sakit, helaan napas kembali keluar dari mulutku saat tangan ini akan memutar kenop pintu kamar tersebut. Aku harus menyiapkan hati ini untuk menemui sosok yang menghuni kamar tersebut, ini adalah kali pertama setelah beberapa hari dia berada di rumah sakit.

Pintu itu kubuka, netra biru ini menatap sosok yang sedang menatap ke jendela luar, senyuman tipis itu membuat hatiku seolah tersayat oleh pisau yang sangat tajam, seharusnya aku tak datang ke tempat ini.

Aku memang belum siap untuk melihatnya saat ini.

"Oh, selamat siang Menma. Apa yang kau bawa?"

Dia memanggil nama lain, bukan namaku. "Aku membawa sekantung buah-buahan untukmu..." Aku memberikan sebuah jeda pada ucapanku, mulutku seolah tak bisa mengekuarkan kata-katanya. "...Shion."

Dia tersenyum tipis, aku bertekad untuk melindungi senyuman indah itu. Aku tak ingin ada sebuah kesedihan yang terlihat di matanya, dia telah melalui semua kesedihan itu dan akan mendapatkan sebuah kesedihan lainnya jika aku berkata jujur padanya.

Ini akan menjadi sebuah rahasia yang tak akan diketahui oleh Shion Takizawa. Tunangan dari Kakakku, Menma Namikaze.

Aku pun berjalan mendekatinya, lalu meletakkan kantong plastik yang berisi buah-buahan di atas meja, tepat di samping Shion yang sedang duduk di ranjang. Aku mendudukkan diriku di atas sebuah kursi, lalu mengambil sebuah Apel dari dalam kantong plastik itu.

"Hey, bukankah pemandangan kota itu indah? Aku bisa melihat pemandangan matahari yang akan terbenam sebentar lagi." Dia berujar, di setiap kata yang keluar dari mulutnya membuatku seolah ingin sekali memeluknya. Tetapi aku hanyalah orang luar yang dipanggil dengan nama kakakku, dan itu membuat hatiku sakit.

"Kau benar Shion, matahari yang terbenam memang sangat indah jika dilihat dari sini." Aku membalas perkataan itu seadanya.

Kami berdua diam untuk beberapa saat, aku memberikan buah apel yang telah dikupas pada Shion. Apel yang sudah terpotong-potong itu pun habis setelah aku menyuapinya. Dia terlihat senang, serta memberikan senyum bahagianya padaku.

Bisakah aku memeluknya langsung?

"Apelnya manis Menma."

Aku tersenyum mendengarnya, dia terlihat senang dengan apa yang kubawa saat ini.

Senyuman itu, aku akan selalu melindunginya.

...

..

...

Hari ketiga aku datang setelah menyelesaikan pekerjaanku, dan dia masih belum mengetahui semua kebenarannya. Aku tak ingin dia mengetahuinya, itu akan menyakiti hati Shion.

"Siang Menma, kau datang lagi."

"Um, aku datang untuk menjengukmu lagi Shion."

Kali ini aku membawakan sebuah roti tart yang baru saja kubeli dari toko roti. Kotak itu pun kuletakkan di meja seperti biasanya, dan aku duduk di sampingnya.

"Bagaimana kabarmu Shion?" tanyaku.

Dia tersenyum sembari meletakkan kepalanya dibahuku, tubuhku sedikit menegang saat kepalanya bersandar di bahuku. "Agak baikan, mungkin beberapa hari lagi aku akan diperbolehkan untuk pulang." Jantungku berdegup kencang mendengarkan dia berucap.

Apakah aku jatuh cinta padanya? Tidak-tidak, ini baru saja tiga hari kita bertemu.

Tangannya menggenggam tanganku erat seolah tak ingin melepaskannya. Aku mengerti maksudnya, dia sangat rindu pada sosok kakakku. "Hey, kapan kita berkeluarga? Aku ingin cepat-cepat menjadi Istrimu, Menma."

Aku diam tak mengatakan apapun, jantungku seolah berhenti berdetak setelah mendengarnya. "Aku belum siap Shion."

Dia mengerucutkan bibirnya saat aku membalas perkataannya. "Huu, padahal aku ingin menyambutmu saat pulang dari kantor, atau memasakkan sesuatu untukmu, aku sudah belajar memasak loh."

Entah kenapa hatiku yang sakit saat mendengarnya. "Kau bisa membuatkanku sebuah bekal, lalu kau bisa mengirimkannya ke kantor 'kan?"

"Tapi aku ingin kita makan malam bersama ataupun aku yang menyambutmu pulang." Aku meringis mendengarnya. "Oh iya, mana cincinmu?"

Lidahku seolah kelu, tak ada kata yang keluar dari mulutku saat ini. Aku tak tahu harus menjawab apa saat ini? Kami, tolong hambamu ini.

"Menma?"

"Oh, sepertinya ketinggalan di kamarku. Besok akan kupakai cincin itu."

Dia mengangguk dengan senyuman manisnya, lalu mencium pipiku dengan bibirnya.

"Terima kasih Menma! Aku mencintaimu!"

Kau berhutang padaku Kak Menma.

...

..

...

Seminggu berlalu, aku setiap ada waktu pasti akan datang menjenguknya, membuatnya senang dengan cerita yang keluar dari mulutku, walaupun itu semua hanyalah karangan saja. Tapi aku suka saat dia tertawa mendengarkannya.

Aku teringat semua memori akan Menma dan Shion, ingatan itu berputar di kepalaku ini. Aku mengingat bagaimana keduanya bertunangan di rumah kedua orang tua Shion. Aku yang saat itu sedang jauh dari kedua orang tuaku terpaksa datang untuk melihat semuanya, Menma saat itu sangat senang karena bisa melamar pujaan hatinya.

Tapi semua berubah saat mobil Menma kecelakaan serta menewaskannya, saat itu Shion bersamanya. Ingatan Shion hilang untuk sementara, sampai saat ini.

Alasanku datang kemari sekarang adalah, aku ingin mengatakan kebenaran tentang tewasnya Menma saat kecelakaan itu. Tapi aku takut dia akan kehilangan kendali akan dirinya, mental Shion saat ini masih terguncang, dia terus memanggilku Menma.

Dan aku tak suka hal itu. Namaku Naruto, aku adalah Adik Menma yang sedang mengambil alih kursi kosong yang ditinggal Menma.

"Menma..." Dia memanggilku dengan suara lirih, maksudku, dia memanggil nama Kakakku. "Menma, aku sudah berada di tempat ini selama seminggu. Apakah aku tak boleh pulang?"

Aku lupa akan hal ini, seharusnya Shion tak bisa pulang sebelum dia baik-baik saja setelah kecelakaan itu. "Kau akan pulang Shion." Isakan pun terdengar hingga ketelingaku, netraku menatap Shion yang sedang menangis. Aku berusaha untuk menenangkannya, perasaanku mengatakan kalau Shion sangat terpuruk saat ini, dia butuh penenang.

"Aku ingin pulang bersama Menma. Aku ingin pulang!" Dia berujar dengan suara yang agak tinggi, matanya menatapku dengan air matanya yang masih keluar dari kelopak indah itu. "Menma! Apakah aku bisa pulang bersamamu?! Katakan! Apa... Apa aku bisa... bisa ikut Menma pulang ke surga!?"

Aku terkejut mendengarkan perkataan itu, jantungku langsung berhenti berdetak saat mendengarkannya. Kedua matanya benar-benar menyiratkan kesedihan yang mendalam.

"Aku ingat, kau adalah adik Menma. Aku tahu setelah merasakan tubuhmu yang menegang setelah aku menggenggam tanganmu." Aku dibuat terdiam beberapa saat, masih dengan isakan tangisnya itu. "Kau menggantikan Menma yang sudah meninggal, tapi... Hatiku tak bisa berubah, aku mencintai Menma, dan di saat yang bersamaan kau muncul serta mengisi semua hariku di rumah sakit dengan tawa serta hadiah yang kau berikan."

Mulutku terkunci, aku tak bisa mengatakan apapun saat ini. Dia mengatakan semua fakta tentangku.

"Naruto...bisakah aku menikah denganmu? Bisakah kau menggantikan Menma? Kesedihan ini membuat hatiku sakit, dan aku tak bisa terus-terusan seperti ini."

"Sh-shion?"

"Naruto."

Dia mendekatkan bibirnya pada bibirku, Shion memberikan sebuah ciuman kecil pada bibirku.

"Tolong, aku ingin keluar dari kesedihan ini Naruto."

"..."

"Bisakah kau membuatku jatuh cinta untuk yang terakhir kalinya?"

Tak ada jawaban dariku, semuanya berjalan begitu saja seperti air sungai yang mengalir mengikuti arus.

"Kumohon, buat aku jatuh cinta."

Aku menggigit bibir bawahku, hatiku sakit mendengar gumaman kesedihan dari Shion. "Maafkan aku Kak Menma." Dia pun menarikku, dan kami berciuman tanpa nafsu sedikitpun.

...

..

...

Aku tersenyum melihat bunga Sakura yang berguguran, kursi roda ini terus saja aku dorong ke sebuah pohon besar dengan Sakura yang bermekaran. Shion terlihat senang saat melihat bunga itu berguguran.

"Indah sekali."

"Kau benar, bunga itu sangat indah."

Shion benar-benar menikmati sapuan angin yang lembut itu, dia menggenggam pergelangan tanganku lalu menoleh padaku, sebuah senyuman ia berikan padaku saat itu juga.

"Terima kasih Naruto, hari-hariku dirumah sakit ini sangat berwarna dengan adanya dirimu. Aku mungkin akan terpuruk jika tak ada kau, jadi terima kasih telah menghiburku."

"Sudah menjadi tugasku untuk menghiburmu, Kak Shion."

Shion tertawa kecil, dia menarik kedua tanganku untuk memeluk lehernya dari belakang. "Kau itu, aku ini sudah menjadi pacarmu."

"Kak Shion, kau lebih tua dariku." Tawa itu kembali terdengar, detik berikutnya Shion memberikan ciuman kecil ke pipiku. "Itu..."

"Jangan panggil aku Kakak lagi. Kita akan menikah sebentar lagi, panggil aku Shion saja."

"Baiklah kalau itu maumu, Shion."

Dia tersenyum manis mendengarnya.

...

..

End!

...

Aa, yup, ini Fict untuk Event Hurt/Comfort. Nggak tahu bakal menang atau tidak, tapi saya berharap bisa memuaskan para pembaca saat ini.

Btw, ini terinspirasi dari salah satu Doujin H sih haha

Ya, sekian dari saya. Maafkan jika ada salah kata.