Summary: Kuchiki Rukia adalah New Yorker pada umumnya sebagai legal consultant di firma hukum kakaknya. Suatu hari datang client istimewa dari Kurosaki Corporation untuk berkonsultasi hukum demi mendapatkan visa CEO baru mereka. Sedikit yang Rukia tahu bahwa, CEO ini mempunyai maksud lain selain ingin memiliki visa bekerja dan ternyata dia adalah pencuri. Pencuri perhatian dan hati Kuchiki Rukia tanpa disadarinya. Di sisi jalan yang lain di Fifth Avenue/53rd street, seorang seniman aneh juga berusaha mengaduk-aduk perasaan Kuchiki Rukia dengan kepura-puraan.

IchiRuki. Immigration Law/Visa issue/New York setting/Modern Art Theme discussion/AU


Welcome to the very my new story of Ichiruki, the new chapter.

Noted: who cares about the ending of Bleach. We hail Ichiruki, yeah!


Fifth Avenue/53rd Street

Chapter 1: Museum of Modern Art

Namaku, Kuchiki Rukia. Aku bekerja dari pukul 08 hingga pukul 05 sore. Menggunakan metro setiap hari seperti New Yorker kebanyakan. Walaupun secara tertulis seperti itu, tapi realita aku bisa bekerja 18 jam sehari. Memakan makanan junk food seperti pegawai lainnya. Pergi ke gym atau mengikuti kelas yoga yang diadakan setiap akhir pekan untuk menjaga bentuk tubuh yang ideal demi pakaian high-end brand yang terlihat 'enak dipandang' daripada ukuran yang sangat kecil namun dipaksa dipakai.

Tapi aku sadar bahwa aku hanya mampu membeli baju obralan di H&M dan Zara ketimbang memaksakan membeli Dior hanya karena Jennifer Lawrence terlihat sempurna sebagai brand ambassador itu.

Sekian.

Oh tidak, hidupku tidak semenyedihkan itu. Setidaknya, well.. aku berusaha agar tidak menyedihkan.

Profesiku adalah konsultan hukum untuk perusahaan, setidaknya aku berkerja di firma hukum Kisuke & Kuchiki Associate adalah kebangganku. Yeah, jangan kaget. Kuchiki di sini memang benar nama keluargaku. Setidaknya Kuchiki Byakuya – kakakku masih dipercaya menjadi Parter dan Urahara Kisuke adalah CEO. Well, we are the partner. Oh tidak, belum.. sama sekali belum, aku belum menjadi partner. Masih jauh sepertinya, setidaknya aku harus makan sepuluh hingga delapan belas tahun pengalaman lagi untuk menjadi partner dan namanya menjadi Kisuke, Kuchiki, & Kuchiki Associate.

Oh no. It sounds so cool.

Kenyataannya aku hanya setingkat senior consultant yang masih sangat muda. Jadi, sebenarnya hidupku sangat menyedihkan, sodara sodara!

"Rukia, babe. Client-mu Amanda dari Blue Sea Company dari UK meneleponmu tapi line-mu sibuk." Kiyone setengah berteriak dari kubikelnya, memastikan aku memang not-in-the-good-mood sehingga kesannya menghindari client itu. Kiyone berdiri dari tempat duduknya dan mencari-cari ku di balik kubikel.

Aku melambaikan tangan, menunjukan isyarat bahwa aku sedang terburu-buru menuju ruangan meeting dan tidak bisa menerima telepon dari Armani? Armada? Siapapun itu.

Kiyone masih mengangkat gagang telepon di udara dan menunggu jawabanku. Aku menghembuskan nafas dengan keras dan jengkel. Entah jengkel dengan Kiyone, Armani itu atau situasi ini yang diluar kendali. Segera saja dengan setengah berlari menggunakan killer heels ini ke Kiyone dan buru-buru menekan tombol mute di telepon itu.

"Tolong katakana pada Blue Sea Company dari UK, bahwa aku akan menghubunginya, aku sedang ada conference call dengan client baru utama kita, dan katakana padanya bila dia ingin bertanya sesuatu kirim aku email atau buat janji deng—"

Kiyone setengah menjerit, "Oh client baru! Jangan bilang Kurosaki Corporation!"

Aku nyengir dan sudut bibirku membentuk kata YES tanpa suara.

"Both of Kuchikis are so great, yeay! Your hard work is grea—" Aku menyudahinya dengan membuat isyarat katakan-itu-ditelepon dengan Blue Sea Company. Kiyone menunjukan jempolnya dan mengangguk antusias. Aku yakin yang dikepalanya adalah bonus akhir tahun yang besar, sedangkan dikepalaku adalah daftar pekerjaan yang harus dikerjakan semakin panjang saja menyamai panjangnya sungai Amazon.

Setelah drama ini berakhir, aku bergegas meninggalkan Kiyone dengan langkah panjang tepat saat Kiyone mengeluarkan suara manisnya, "Hello, Miss Amanda, unfortunately Miss Kuchiki is in the middle of—"

Suara Kiyone hilang saat aku menutup pintu ruangan Pak Ukitake. Semua ruangan pejabat Executive Director berbentuk kotak atau oval dilapisi kaca transparan. Tapi ruangan Pak Ukitake agak berbeda dengan rancangan dibuat menyatu dengan ruangan meeting utama, menjadikan kantornya tampak seperti akuarium besar yang melengkung.

"Ah, Rukia. Di luar baik-baik saja?" Ukitake segera bangkit dari duduknya dan mempersilahkanku masuk untuk menuju ruang meeting utama. Nafasku masih tersengal-sengal ketika melangkah pintu yang menuju ke ruangan yang terhubung dengan ruang meeting utama. Ternyata Byakuya Nii-sama dan Pak Urahara sudah di sudut ruangan dan berdiskusi dengan suara pelan.

"Yare, yare Rukia, silahkan duduk. Semua sudah siap?" Aku tersenyum dan mengangguk.

Berdoa sebentar sesaat sebelum Pak Urahara menyambungkan conference call itu. Kemudian, terdengar nada sambung. Aku menarik nafas dalam.

Aku bisa.

"Hello, good morning from New York."

Sambungan itu menampilkan 3 orang dari Kurosaki Corporation.

"Hi! Selamat siang dari London, Kisuke! How are you!" Pria itu terdengar tawa begitu renyah dari seberang benua Eropa. Aku belum pernah dikenalkan dengan pria ini dari Kurosaki Corporation, segera menoleh kepada Pak Ukitake meminta bantuan sedikit. Sepertinya Executive Director itu tahu apa yang membuatku bingung, pria itu membentuk tiga huruf dengan bibirnya: C-E-O. Aku segera menangguk dengan tolol-nya.

"Isshin! We are good! How are you?" Pak Kisuke terdengar seperti kawan lama dengan pria ini.

Sepertinya ini adalah conference yang akan memotong waktu makan siangku yang berharga.


Tanpa diduga, conference call ini tidak memotong jam makan siangnya, tetapi mengambil waktu istirahat siang kami!

Kembalikan hak kami!

Isi kepalaku terlalu penuh dan fokus mulai kabur. Aku sedang membayangkan pergi ke Central Park sambil menikmati novel petualangan Dan Brown sembari berbaring di rerumputan hijau kemudian anganku sedang memasuki MoMA di Fifth Avenue 53 rd street, berpindah sedikit ke Upper East Side ke Guggenheim Museum kemudian melayang semakin jauh sedang menikmati karya Saying Grace dari Norman Rockwell di museum terkenal dimana koleksi itu berada di Massachusetts sebelum terjual beberapa tahun lalu.

Pasti menyenangkan.

".. sudah pasti menjadi CEO di Kurosaki Corporation di US. Bisakah?" Mr. Isshin, the CEO bertanya dari ruangannya di suatu sudut di London padaku, eh pada kita sekarang

Gelembung lamunanku pecah dari Massachusetts dan kembali ke ruangan akuarium di New York. Byakuya Nii-sama menoleh kepadaku meminta tanggapanku. Pak Urahara tampak berpikir dan langsung menoleh kepadaku.

Avada Kedavra pada diriku sendiri!

Saat aku akan membuka mulutku menyelamatkan diri dari kondisi ngelamun ke kenyataan, penyelamatku datang dengan kuda putih, Pak Ukitake bertanya, "Apakah dia warganegara US atau pemegang Green Card sebelumnya?"

"Dia immigrant gelap di New York hingga sekarang, tunggu sampai petugas imigrasi Amerika menangkapnya!" Isshin tertawa renyah lagi, dia ini CEO atau British standup comedian ya?

Pak Urahara tertawa, tidak tertawa pura-pura tapi benar-benar terkekeh. "Isshin, sudah pasti dia akan ditangkap dari dulu kalau dia tidak naturalisasi."

Demi Zeus yang entah dewa atau bukan, calon CEO Kurosaki Corporation US adalah illegal immigrant di Amerika, nggak mungkin dong, apalagi kalau seandainya dia punya riwayat deportas—

"Dia pemegang dual citizenship—dua kewarganegaraan. British passport dan Australian passport." Isshin menjawab.

"Tapi tetap bukan warga US atau pemegang green card." Byakuya Nii-sama menanggapi cepat.

"Permohonan naturalisasi tidak semudah itu, Byakushi." Aku menaikan kedua alisku, Mr. Isshin mengapa tahu panggilan kecil kakek Kuchiki kepada kakakku?

".. setidaknya perlu bertahun-tahun untuk dikabulkan." Mr. Isshin menjawab pelan. "Apa undang-undang US melarang CEO adalah non-US citizen?"

"Tidak." Byakuya Nii-sama menjawab. "Bukan itu masalahnya, Kurosaki."

Mataku hampir lompat dari tempatnya. CEO Kurosaki Corporation di UK ini adalah founder itu sendiri. Aku tidak menyadari bahwa CEO dengan bayaran termahal sekarang setelah Elon Musk nama depannya adalah Isshin, the Isshin! Isshin yang punya tertawa yang sangat renyah ini. CEO dan founder Kurosaki Corporation.

Aku harus sering membaca Forbes di rumah Nii-sama setelah ini.

"Kemudian?" His Highness Isshin terlihat agak jengkel.

Yang menjawab adalah Pak Urahara, "Isshin, anakmu sudah tinggal di US sejak dia lulus dari MIT menggunakan student visa. Dan student visa itu seharusnya sudah expired sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu."

Anak!?

"Lalu, dengan visa apa dia tinggal belasan tahun di New York? Kalau kau akan menunjuk anakmu sebagai CEO pada Kurosaki Corporation di US, sedangkan dia tidak atau belum memiliki izin tinggal yang layak di sini?" Pak Urahara menekankan kata visa.

His Highness Kurosaki Isshin diam sejenak. "Aku sudah tahu ini. Aku sudah berdiskusi dengannya, tapi masalahnya adalah sangat mendesak, Urahara. Untuk itu aku meminta firma hukum kalian untuk konsultasi ini."

"Kurosaki Corporation di US bisa mensponsori anak Anda untuk mendapatkan visa bekerja di US, Tuan Isshin." Aku memberikan tanggapanku. "Hanya saja, kami tidak tahu kalau visa bekerja dia bisa diajukan apabila sekarang atau saat ini dia masih tinggal di New York dengan visa yang tidak seharusnya. Untuk itu kami butuh tahu dia pemegang visa apa selama sepuluh tahun di Amerika? Green card, tourist visa, atau student visa?"

Isshin tampak gusar dari tempat duduknya, kemudian bangkit berdiri. "Bisakah anakku bertemu kalian dan meminta konsultasi hukum mengenai visa legal-nya di US dan semua urusannya dalam penunjukan dirinya sebagai direksi di dalam akta perusahaan? Secepatnya? Sebab posisi CEO di kantor kami di US terlalu lama kosong, itu tidak bisa dibiarkan, kalian mengerti bahwa saham bisa anjlok di publik, sedangkan orang yang tepat sedang mempunyai masalah imigrasi. Apa saran kalian?"


Aku menghampiri lukisan Starry Night yang memukau itu. Lukisan yang meleganda itu, karya-nya Van Gogh yang itu, yang pelukisnya kehilangan daun telinga nya yang itu—

Memandangi lukisan itu dalam keheningan di kepalaku.

Meeting yang menguras emosi dan energi dengan Kurosaki Isshin dan team yang itu. Perutku mual.

Berjalan ke Manhattan dari kantorku dengan kepala berasap hanya ingin menenangkan diri di dalam MoMA – Museum of Modern Art. Salah satu tempat kesukaanku dari seluruh penjuru New York.

Setidaknya.

Dalam karya Dan Brown, Robert Langdon kurang memahami seni modern. Kalau melihat di diriku, aku sendiri tidak paham karya klasik. Setidaknya karya modern agak mudah dipahami dan dinikmati olehku.

Setidaknya.

Aku juga tidak mengerti tentang karya Leonardo Da Vinci di Musee du Louvre. Hanya karena semua orang membicarakan itu, tidak berarti kau harus tahu juga, tidak mengerti dan tidak tahu juga tidak mengapa.

Menurutku, persis seperti hanya karena semua orang membicarakan serial Game of Throne, bukan berarti tidak mengikuti serialnya adalah orang yang culun. Unfollow saja toxic account di Instastory-mu!

Setidaknya. Tidak mengerti dan tidak keren juga tidak mengapa.

Aku lebih menyukai memandang karya karya seni di MoMA daripada mengikuti trend di New York ini. Seperti karya Untitled tahun 1952 dan No. 61 tahun 1953 milik Mark Rothko di dalam MoMA ini, walaupun hanya terkesan tumpukan warna saja tapi bukan sebatas itu maknanya.

Mark Rothko sangat terpengaruh oleh Nietzsche dalam karya The Birth of Tragedy dan ia adalah immigrant dari Rusia ke Amerika. Saat itu adalah ta—

"Karya Rothko haruslah bebas dari symbol, dari gambar mitologi, dari dari ritual apapun. Jadilah warna warna provokasi itu dan tidak diberi nama hanya nomor saja."

Seseorang berbicara. Aku menoleh, oh bukan sedang berbicara padaku.

Ini bukan a romantic novel yang pangeran berkuda putih menghampirinya dan mengagumi karya Rothko juga.

Tapi yang seseorang itu bicarakan ini benar sekali. Mark Rothko tidak lagi memberi nama atau membingkai karya-nya yang melegenda ini. Dia hanya—

"Referring to them only by number – karya Rothko hanya diberi angka saja." Seseorang itu berbicara dengan aksen Australia yang terdengar kumur-kumur di telingaku.

"Setidaknya itulah penjelasan di Wikipedia." Aku menoleh padanya lagi, kemudian menengok ke segala penjuru arah ke sekelilingku.

Telunjukku mengarah padaku sendiri, padaku. Tanyaku pada lelaki aksen Australia itu.

"Je te parle maintenant." Dia tersenyum – saya sedang berbicara dengamu sekarang.

Sekarang dia berbicara Perancis yang menurutku sangat terdengar Parisan, kok agak menjengkelkan ya?

Aku mengabaikannya. Mengganggu waktu saja.

"Kau tidak bisa bicara ya?" Dia sekarang memaksaku menoleh padanya, aku melotot – pergi sana.

"Oh maaf, kamu tunawicara." Tapi ekspresinya tidak terkesan menyesal, menyindir bahkan.

"Mencemooh dan mempermalukan orang lain di muka umum adalah tindakan melanggar hukum." Aku bersuara.

"Aku tidak mencemoohmu atau mempermalukanmu, aku bertanya." Kata pria berambut hitam itu kalem.

"Aku memilih mengabaikannya." Buang buang waktu saja, aku berbalik menjauhi karya Rothko.

"MoMA akan tutup beberapa waktu lagi, nanti kau tidak sempat mengunjungi Starry Night." Langkahku berhenti. Dia tahu bahwa aku sering mengunjungi MoMA.

Lelaki ini penguntit! Aku setengah berlari, dia masih mengikutiku.

Oh Tuhan tolonglah, bahkan di tempat yang agak ramai ini mengapa ada orang yang berani berbuat jahat padaku?

"Tu-tunggu sebentar!" Dia masih mengikutiku. Aku berjalan dengan keringat dingin mengalir deras dari dahiku, menabrak beberapa pengunjung yang masih ada di sana.

"Tunggu sebentar, Rukia!"

Astaga, pria ini tahu namaku. Aku melihat petugas jaga, dan aku menghampirinya.

Bibirku gemetaran, tidak bisa aku berkata-kata. Pastilah wajahku pucat pasi karena aku yakin aku ketakutan setengah mati.

"Nona, ada yang bisa dibantu?" Petugas itu menatapku dengan keheranan, aku mencengkram lengannya.

"o-officer, I-I.." lidahku kelu sekali.

Pria berambut hitam itu menghampiri kami, dan aku tidak berani untuk memutar badanku untuk menoleh. Sekujur tubuhku gemetaran hebat.

Petugas itu menghampiriku, mereka sedang berdiskusi pelan dibalik punggungku.

Tidak beberapa lama, petugas itu menyodorkan kartu keanggotaan tetap MoMA-ku, "Kartu-mu terjatuh, pria tadi ingin mengembalikannya padamu, Nona Kuchiki."

Aku mengambil kartu-ku dan tanpa mengucapkan terima kasih pada petugas itu. Aku berlari dan keluar museum itu.


Hampir sekitar tiga pekan berlalu aku tidak mengunjungi MoMA, aku sangat rindu dengan Starry Night milik Van Gogh. Aku harusnya kesana saja dan pastilah pria itu hanya kebetulan pengunjung dan menyukai karya Mark Rothko juga. Tapi mengapa dia tahu bahwa aku sering mengunjungi karya Starry Night?

Sore itu aku sengaja pulang kantor lebih awal untuk mengunjungi MoMA demi menyambangi Starry Night sekaligus pelipur laraku karena urusan Kurosaki Isshin belum terpecahkan juga karena anaknya yang dielu-elukan itu tidak menghubungi kami ataupun Isshin sendiri tidak memberikan informasi tentang anaknya yang immigrant gelap di Amerika hingga sekarang.

Sebelum aku menghampiri karya Van Gogh aku tengok kanan kiri seperti orang hendak mencuri. Lelaki berambut hitam itu tidak ada.

Aku bernafas lega dan memandang Starry Night dalam dalam. Seolah aku sedang berhanyut dalam goresan energi Van Gogh. Pernah aku menonton salah satu episode Ted-Ed suatu ulasan bahwa goresan Starry Night mengambarkan energi di alam yang sesungguhnya. Kadang kalau dikaitkan semasa Van Gogh hidup ada tekanan dalam dirinya hingga dia akhirnya bunuh diri. Mungkinkah dia pikir dia gila namun sebenarnya dia terlampau dalam saat meneliti sekelilingnya padahal dia sedang 'menangkap' sehingga seolah-olah 'melukiskan' energi dari alam ke kanvas itu, dia beranggapan bahwa pikirannya sedang memanipulasinya?

Apakah mirip dengan kisah John Nash, peraih penghargaan Nobel dalam ekonomi yang di dalam pikirannya dia memiliki dua teman pribadi dalam hidupnya, yang menurut isterinya mereka tidak nyata?

Aku berpikir sambil berjalan sembari menghampiri sudut sudut MoMA lainnya. Walapun aku sudah hafal setiap letak di setiap jengkal dan karya-karyanya di tempat ini, terkadang ada pameran sementara yang berganti ganti sesuai tema. Ini menarik. Seni modern adalah gairah menurutku.

Aku belum sempat membaca brosur itu tentang apa tema kali ini. Aku hampiri saja karya karya seni modern yang memukau ini, tentang apa ya kira-kira?

Karya-karya ini dibuat sekitar belasan tahun lalu, sepuluh atau tiga belas tahun yang lalu? Indah sekali, sebentar ini karya siapa ya? Artist-nya, hmm—Shiba Kaien.

Berarti ada di brosur ini ya informasinya? Aku sembari mengecek nama artist tersebut dan mencocokan karya-karya yang sedang dipajang. Membaca latar belakang suatu karya penting sekali, seperti memahami pikiran-pikiran filsuf harus diketahui pengaruh pemikiran dan latar belakang kehidupannya, ini sangat membantu memahami dari se—

Terdengar banyak langkah kaki di belakangku dan berberapa terdengar jepretan kamera. Hmm, sedang ada daily tour 'kah?

Aku menoleh karena suara suara ini menarik perhatianku dari karya karya Shiba Kaien ini. Lalu seketika aku mematung.

Saat itu juga. Sembari mencengkram erat brosur MoMA.

Artist itu sedang berbicara di depan karya yang tadi sedang ku nikmati, baru saja. Lelaki berambut hitam kemarin, adalah Shiba Kaien.

Entah berapa lama aku mematung di tempat itu. Waktu berjalan hingga Shiba Kaien tersebut ini membalas pandanganku dari seberang ia berdiri.

Semua mata memandang ke mana arah Shiba Kaien melihat. Dan dengan pandangan keheranan, semua orang jadi memandangku, tapi hanya aku yang memandang mata artist itu. Tidak seorangpun kecuali aku.

Sekarang, momen ini.

Kalau ini memang tampak seperti cuplikan dalam adegan yang melegenda di film Notting Hill tahun 1999, sesaat ketika Hugh Grant memandang Julia Robert di dalam toko buku perjalanan berpintu warna biru yang melegenda itu di Portobello Road di London. Dengan tentu saja alunan When You Say Nothing At All mengalun dengan suara Ronan Keating yang tak kalah melegenda juga.

Ini pastilah potongan adegan romantis yang harusnya melegenda juga.

You said it best, when you say nothing at all.

Sayang sekali, aku cuman orang bisa yang jadi pemeran figuran yang tidak bisa memainkan perannya.

Tiba-tiba keheningan pecah, "Siapa dia, Kaien?" tanya seseorang, entah wartawan atau seorang pengunjung.

Dengan kikuk aku meletakkan rambut dibalik telinga kiri ini, buru-buru menjawab "Bu-bukan—"

"Dia Rukia. Kuchiki Alexandria Rukia."

Shiba Kaien mengingat jelas nama lengkap yang tertera di keanggotaan tetap MoMA-ku yang terjatuh. Bahkan itu sudah berminggu-minggu berlalu.

"Pacarmu, Mr. Shiba?"

"Mantan pacarmu?"

"Penginspirasi karyamu?" – jelas bukan, tolonglah!

Shiba Kaien tertawa kecil yang terdengar menyengkan di telingaku, mengingatkanku pada tawa seseorang. Dia menggeleng sembari memasukkan tangan kanan itu ke saku celananya.

"Aku tidak tahu, kawan-kawan. Bagaimana bila kita bertanya pada Nona Rukia?"

Aku terkekeh malu kemudian memandang sepasang sepatu Jimmy Choo-ku yang bisa patah kapan saja detik itu juga.

Saat aku mendongak, Shiba Kaien sudah di hadapanku dan mengulurkan tangannya menunggu untuk dijabat.

"How do you do and have a pleasant evening, Miss Kuchiki." Sesaat setelah aku menyambut jabatannya, kemudian dia berlalu dan melanjutkan tour karyanya.

Saat aku memandang tanganku, aku memandang sesuatu benda berbentuk persegi panjang berwarna kuning berukuran tebal. Sebuah kartu nama berlatar belakang salah satu karya kupandangi baru saja.

Shiba Kaien

Artist

Massachusetts

Dibaliknya ada nomor telepon.

Setan.


Author:

I came home in midnight Sunday. I could not fall asleep immediately like my body demanded me to rest. Lately, my volume of work is high and I have to admit it that I love my mind being occupied instead of daydreaming, yet being the productive person in the office is required improving quality of life from time to time. At this very moment, the idea is running like a river flow.

Catatan:

Saya yakin sekali mungkin ada ketidakakuratan dalam suatu ranah tertentu di sini, terutama immigration law for non-immigrant or any particular visa. saya kurang mendetail tentang pengajuan green card untuk naturalisasi menjadi warganegara US terutama untuk warganegara British dan Australia. Saya percaya ada mungkin kekeliruan saya mengenai prosedur pengajuan green card ada yang salah di sini.

Untuk hukum penunjukan board of director di US dalam undang-undang perusahaan. Yang saya mengerti, tidak ada larangan dalam immigration law bagi Non-US citizen penduduki posisi tertentu dalam directorship selama prosedur sesuai. Perusahan di US dapat mensponsori tenaga kerja asing mereka untuk memiliki visa bekerja di US. Saya percaya ada mungkin ketidakakuratan dalam regulasi berbadan hukum di dalam cerita saya di sini.

Saya mungkin keliru dalam penunjukan tempat atau sesuatu di sini, entah suatu karya seni atau apapun. Tapi karya seni di MoMA di sini, memang benar adanya.

kembali saya mungkin keliru dalam istilah hukum di sini. Saya hanya tahu sebagian international law in company regulation in every country secara umum saja Jadi maaf 'kan lah saya ya?

Saya hanya penulis amatir yang setiap hari bekerja yang menyempatkan menulis setiap malam.

Mohon dibantu review.

Chapter dua sudah siap kok. Tapi saya lihat dulu review ini, kalau menarik saya akan pertimbangkan diteruskan.

Saya tahu tulisan ini jauh dari kesempurnaan. Biarkan saya tahu dalam review mu bahwa cerita ini menarik atau nggak. Karena review sangat berarti untuk saya.

Terima kasih,

R.