Cerita ini tidak mengambil keuntungan apapun. Hanya ingin berbagi apa yang ku tulis. Chara milik Terajima-sensei seorang.

Pairing

Miyuki Kazuya x Sawamura Eijun

.

.

.

"Di Negeriku sangat hijau dan tak ada bangunan mengkilat dan menjulang tinggi seperti di sini"

"Benarkah? Jadi kau datang dari dunia paralel itu benar? Begitu maksudmu?"

"Tentu saja. Bukan kah kau lihat kita sangat mirip. Aku bahkan tak punya saudara kandung. Dan orang asing tak mungkin semirip ini bukan?!"

"Ya sepertinya dunia itu memang nyata adanya, Wakabayasi-san"

"Aku pastikan itu memang ada"

Kazuya melirik malas benda persegi yang menggantung di dinding kafe dari balik kacamatanya. Benda itu menampilkan tiga pria tengah berbincang. Seorang pembawa acara dan dua orang yang sangat mirip.

Rencananya Kazuya ingin bersantai di kedai kopi langganannya dan menghindar dari sibuknya kegiatan sekolah. Bagaimanapun tahun ini adalah tahun terakhir baginya sebagai anak SMA untuk menentukan masa depan yang akan di tujunya, dan tentunya sangatlah sibuk belajar mati-matian untuk ujian akhir nanti. Walau Kazuya yakin tanpa belajar mati-matian pun ia akan menjadi siswa dengan nilai terbaik.

Kedai yang biasa di kunjungi bukanlah kedai ramai pengunjung yang berisik, kedai ini hanya untuk orang kolot yang ingin ketenangan. Tapi televisi yang biasa menampilkan video musik klasik entah kenapa beralih pada chanel yang biasa menyiarkan acara topik hangat para aktor ternama.

Ponsel Kazuya bukanlah smartphone seperti orang pada umumnya di zaman modern seperti ini, ia lebih suka ponsel flip silver metalik yang dimiliknya. Tapi Kazuya selalu tau soal topik hangat akhir pekan. Tanpa media sosial dan tv yang di tontonnya Kazuya masih memiliki telinga yang tak sengaja mendengar saat teman sekelasnya bergosip ria saat jam kosong.

Beberapa hari terakhir, dunia media di hebohkan atas munculnya dua wajah yang familiar di layar tv. Namanya Wakabayasi Gou, aktor muda seumuran dengannya. Yang Kazuya dengar, aktor itu sedang melejit popularitas nya karena akting dalam drama yang di mainkannya. Bakat aktingnya luar biasa dan mengagumkan, itu yang Kazuya dengar selama setengah tahun terakhir. Kemudian kehebohan dari pemuda aktor itu muncul karena di kabarkan memiliki saudara kembar. Alih-alih mengaku kembar, justru Wakabayasi bilang ia bahkan tak memiliki saudara kandung maupun kerabat lain selain kedua orangtuanya. Dan yang menjadi hebohnya lagi, pemuda yang di duga saudara kembar sang aktor justru mengatakan dia juga bernama Wakabayasi Gou dan bukan berasal dari dunia ini.

Cukup, Kazuya sudah cukup dengan mendengar, itu saja sudah membuatnya muak. Mau sejauh apa aktor itu ingin menjadi liputan no 1 dan mau selaris apa para media menjadikannya topik hangat beberapa hari ini. Walau dirinya tak merasa di rugikan tapi tetap saja itu konyol. Kazuya cukup sering menghela nafas beratnya karena terlalu memikirkan kekonyolan itu.

Tak terasa kopinya sudah habis dan sandwich yang di pesan bahkan hanya ia sentuh sedikit. Nafsu makannya menghilangkan karena mendengar berita konyol itu lagi. Kazuya mendengus geli karena dirinya juga merasa konyol.

Jam tangannya menunjukkan pukul 5 sore. Akhir pekannya sudah tak sibuk dengan kegiatan klub seperti dulu. Setelah musim panas ia keluar dari klub bisbol yang ia tekuni sejak SD, dan sekarang waktunya ia fokus untuk ke jenjang pro atau memilih kuliah terlebih dahulu. Memikirkannya saja sudah membuat Kazuya dilema.

Langit senja memang paling indah untuk di lihat. Kazuya berjalan di pinggiran trotoar karena jarak kafe dan tempat tinggalnya tidaklah jauh. Kazuya bisa di bilang anak dari keluarga yang cukup mampu. Ayahnya memiliki bengkel besar dan sang ibu membuka restoran yang menyajikan makanan khas Jepang. Kazuya tidaklah di tuntut untuk melakukan yang terbaik, tapi ia di berkahi menjadi yang terbaik.

Setelah berhenti dari klub bisbol Kazuya hanya belajar dan bersantai. Monoton, karena ia juga tak pandai untuk berteman. Tapi sebulan setelah itu tiba-tiba Kazuya tertarik dengan Dojo Kendo dekat rumahnya. Ia iseng berkunjung dan tertarik menggunakan dua shinai, dan mencoba gerakan dasar dengan satu shinai terlebih dahulu.

Saat itu Kazuya juga bingung karena dia memiliki bakat lain selain bisbol. Si pemilik Dojo cukup terkejut karena Kazuya cukup lihai dengan gerakannya, dan itu mengejutkan untuk memakai dua shinai sekaligus. Alih-alih seperti Kendo, gerakan Kazuya justru seperti samurai.

"Jika ini masih di jaman sengoku mungkin kau akan menjadi seorang samurai yang hebat" itu yang di katakan pemilik sekaligus pelatih di Dojo dekat rumahnya. Sejak saat itu Kazuya di ijinkan untuk berlatih atau sekedar melihat para murid di sana.

Kazuya adalah sosok sempurna dalam segala hal ada dalam dirinya. Tampan, tinggi, atletis, pintar bahkan berbakat di segala bidang. Tapi itu masih belum cukup untuknya menghilangkan rasa bosan yang menjamur di dalam dirinya. Kazuya bosan, tak ada yang menarik menurutnya. Kazuya juga tidak ingin berkencan seperti kebanyakan anak sebayanya, itu justru membuatnya terbebani. Kazuya juga terganggu dengan topik tentang dunia paralel, ia berpikir orang-orang mulai gila dan Kazuya juga merasa gila karena ada yang aneh dengan perubahan dari dirinya.

Menurut teman yang mengaku dekat dengannya dan beberapa orang bahkan orang tuanya yang memperhatikan berkata bahwa sifat dan sikap Kazuya ada yang berbeda. Persetan itu membuat Kazuya terganggu.

Kakinya kini membawa pada sebuah taman kota pinggir sungai, tempat yang cocok untuk melihat matahari terbenam.

Kazuya memilih berdiri di jembatan, tangannya meraih pagar beton pembatas. Air sungai pun berubah menjadi oranye karena pantulan sang Surya yang mulai condong membenamkan diri. Indah sekali.

Taman kota tidaklah terlalu ramai, tapi cukup banyak juga yang bersantai sekedar untuk melihat matahari terbenam di dekat sungai.

Kazuya mengedarkan pandangannya ke setiap arah, ada beberapa keluarga kecil bermain di taman dan para bocah yang bermain lempar tangkap di pinggiran sungai. Tanpa sadar ia mengulas senyum di bibirnya.

Kemudian matanya tertuju pada sebuah tihang peringatan bertuliskan Hati-hati Jangan Lengah. 'Mungkin lebih bagus jika bertuliskan hati-hati jangan terlalu dekat sungai' pikirnya. 'Orang-orang dari tahun ke tahun semakin konyol. Peringatan macam apa dengan tulisan seperti itu'.

Kazuya itu pemuda 18tahun yang realistis. Ia tak percaya hantu maupun mitos, ia juga tak terlalu peduli dengan berdoa di kuil saat perayaan apapun itu. Hanya menuruti dan mengikuti keinginan ibunya jika mereka pergi ke kuil.

Jaman semakin modern dan pikiran manusia semakin bercabang. Kazuya tak habis pikir, karena hal yang tidak mungkin justru di cari tau mungkin hingga dasar bumi. Manusia itu serakah.

Mengenai papan peringatan pinggiran sungai, Kazuya pernah mendengar adanya rumor. Berawal dari belasan tahun yang lalu, seorang pria tunawisma terjatuh ke sungai dari jembatan yang saat ini sedang di pijaknya. Saat itu seorang balita berteriak dan berlari mencoba mendekati pria itu. Namun naas balita itu ikut terjatuh. Kedua orangtuanya histeris, tak ada jejak dari mereka yang terjatuh. Tak ada tanda-tanda selama berminggu-minggu. Jasadnya tak di temukan. Konon sang ibu mengalami depresi menyalahkan dirinya sendiri karena lalai menjaga anaknya.

Tapi satu bulan kemudian kejadian itu terulang. Seorang pedagang yang hendak bersandar di pagar beton jembatan tiba-tiba tergelincir jatuh. Seseorang yang melihatnya berteriak histeris tanpa menghampiri. Saat di tanya orang itu ketakutan dan mengatakan, "A-ada banyak tangan-tangan panjang berwarna hitam menyeret pedagang itu" ujarnya sambil menangis. Dan beberapa bulan dan tahun, sungai itu masih memakan korban dengan jasad yang tak pernah di temukan.

Kazuya mendengus, pemuda berkacamata itu benar-benar tak mempercayai nya sedikitpun. Mungkin saja rumor itu hanya karangan agar anak-anak tak terlalu dekat saat bermain di pinggiran sungai. Pasti itu alasannya, Kazuya yakin.

Angin sore hari memang terlalu kencang berhembus, apalagi ini musim gugur dan bulan depan sudah memasuki musim dingin. Kazuya membalikkan tubuhnya menghadap langsung pada pejalan kaki yang melewatinya. Ia mencoba untuk duduk di pagar beton jembatan itu, menikmati angin musim gugurnya di tahun ini. Sebenarnya besok adalah hari ulang tahun Kazuya dan mungkin tak ada yang spesial baginya.

Kazuya mendongak memperhatikan langit senja dengan awan putih sebagai hiasan, kemudian memejamkan matanya perlahan sambil menghirup udara segar di sekitarnya. Tubuhnya seperti melayang. Apa yang Kazuya lakukan saat ini sudah menjadi rutinitas nya dikala ia sedang bosan.

Matanya terbuka dengan cepat kala mendengar seseorang pejalan kaki berteriak. Kazuya melihat orang di hadapannya memasang wajah ketakutan saat melihatnya. Sungguh apa ada yang aneh dengannya?

Tidak! Pandangan Kazuya semakin tinggi. Tunggu! Tubuhnya seperti benar-benar melayang. Tidak! Seperti tertarik! Tiba-tiba Kazuya tak bisa bernapas, ia berada dalam air. Kazuya mencoba meraih sesuatu, tapi tubuhnya semakin berat karena tertarik. Kazuya tak ingin mati, ia bahkan besok akan bertambah umurnya yang ke 19, ia harus berenang. Tangan Kazuya terus meraih udara kosong, Kazuya yakin dirinya bisa berenang. Tapi kenapa rasanya sulit sekali.

Tubuhnya lemas kehabisan tenaga untuk menyelamatkan diri. Apa orang-orang yang melihatnya tak berniat menyelamatkannya? Sial. Kazuya juga tak tau jika sungai yang sedang menelannya sangat dalam. Di sela kesadaran yang mulai menghilang Kazuya bisa menebak berapa kedalaman yang ia lihat. 'Ini 10 me-' dan pada akhirnya Kazuya tidak bisa menahan nafasnya selama apapun tanpa alat bantu. Air sungai sudah mengisi penuh paru-paru. Kazuya tinggal menunggu waktu ia terbangun sebagai roh.

.

.

TBC