Sekolah Sakit Jiwa

.

Disclaimer : Naruto characters belong to Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC, TYPOS, ETC...

Genre : Drama, Romance, Psychologycal, Hurt/comfort

.

Chapter 1 : Sekolah Baru

Sakura terbangun saat merasakan tubuhnya bergoyang dan menyadari jika dirinya tidak sedang berada di atas tempat tidur yang nyaman melainkan sebuah mobil asing di bagian belakang. Matanya terasa berat sekan menuntutnya untuk melanjutkan tidur namun ia penasaran dengan apa yang sedang terjadi.

Dimana dirinya?

Seharusnya itu pertanyaan yang saat ini berada di kepalanya. Tapi ada pertanyaan lain saat menyadari ada orang asing berada di depannya, mengendarai mobil dengan santai. Ia juga menyadari jika ada sebuah kaca yang membatasi dirinya dengan bagian depan mobil.

Sakura melirik takut ke arah jendela dan ia tidak mengenali daerah yang ia lalui karena penuh dengan sawah dan rumah penduduk di pedesaan sepanjang ia memandang.

Apa ia sedang diculik?

"Kau sudah bangun?"

Mendengar suara asing itu membuat Sakura langsung menoleh. Sang supir meliriknya dari spion yang berada di tengah mobil.

"S-siapa kau? Kalau kau menculikku, keluargaku tidak punya uang untuk menebusnya!"

Kebohongan yang besar. Tentu saja keluarganya punya.

Yang tidak terduga, supir itu tertawa. Apa ada yang lucu dari kalimatnya?

"Mungkin saja ini penculikan," Jawab pria setengah baya itu lalu melirik kembali ke arah spion. "Bedanya, penculikan ini tidak meminta tebusan karena kau sudah melakukan kesalahan yang besar."

Kesalahan besar?

Sakura tidak mengerti apa yang dikatakan oleh pria itu. Tapi ada satu hal yang pasti, Sakura yakin ada sesuatu yang tidak beres di sini. Sakur tidak pernah merasa dirinya melakukan sebuah kesalahan hingga membuatnya diculik seperti sekarang!

Sambil berdiam diri, Sakura mengingat kembali apa yang terjadi padanya sebelum tertidur. Malam itu, orang tuanya membawanya pergi untuk makan malam bersama dengan teman mereka. Di restoran dengan ruang VIP yang tertutup, Sakura ingat jika dirinya bertemu dengan seorang pria.

Dengan pakaian formal dan senyum yang khas, pria itu terlihat ramah padanya dan berbincang dengan normal pada orang tuanya. Namun tiba-tiba saja ia kehilangan ingatannya saat segalanya mendadak berubah menjadi gelap.

Oh, tidak.

"Ini pasti mimpi," gumamnya

"Bukan, ini kenyataan. Kau sudah bangun, ingat?" kata supir tersebut

"Kenyataan apa yang tidak masuk akal seperti ini?!" serunya memukul kaca di depannya namun bergeming.

Supir itu menghela nafas, "Kau akan tahu sebentar lagi. Bersabarlah."

Sakura mengerang kesal. Ia memukul dan menendang kaca itu lagi yang tentu saja, tidak berpengaruh apa pun. Bahkan sang supir, terlihat sama sekali tidak mempermasalahkan atau terkejut dengan tindakannya.

"Kau benar-benar tamat jika polisi menemukanmu! Aku akan menuntutmu, kau tahu!"

Tapi lagi-lagi, supir itu tertawa. "Dari sekian ancaman yang kudengar, ancamanmu yang paling lucu."

"Aku tidak sedang bercanda!" serunya memukul kaca lagi

Entah terbuat dari apa kaca tersebut, tapi ia bisa merasakan jika kaca itu cukup tebal pastilah buatan khusus karena sejak tadi bergeming terhadap pukulannya. Apa penculikan jaman sekarang memang secanggih itu?

Meski Sakura berpikir seperti itu, ia terus memukul kaca dengan sekuat tenaga hingga putus asa. Ia tidak bisa keluar dari mobil karena entah kenapa tidak ada knop untuk membuka pintu dari dalam dan kaca jendela mobil memiliki terealis besi seperti di penjara.

"Kau boleh mengamuk sesukamu, Nak. Tapi tidak ada gunanya karena tujuan kita sudah di depan mata."

"DIMANA TUJUAN YANG KAU MAKSUD, BRENGSEK?!" seru Sakura murka

Pria itu tidak menjawab dan kembali berfokus untuk menyetir, membuat Sakura kembali menendang kaca tersebut untuk terakhir kalinya. Ia memutuskan untuk berhenti dan menyimpan tenaganya untuk kabur nanti.

Ia melirik ke arah jendela lagi, menyadari jika mobil memasuki sebuah gerbang besar yang mungkin setinggi tiga meter berwarna putih dengan ukiran SK di bagian tengahnya.

Apa SK itu?

"Kita sampai."

Mobil itu berhenti setelah melewati taman yang tidak memiliki bunga, hanya sebuah tanaman penghias dengan patung di bagian tengahnya yang berbentuk separuh badan seorang pria yang memakai jas. Entah kenapa ia merasa tidak asing dengan paung tersebut.

Tapi yang lebih membuatnya penasaran, ada sebuah gedung besar dengan empat tingkat yang terlihat kuno namun tetap terawat. Dua buah pilar besar menghiasi pintu masuk yang berwarna cokelat tua besar dan ada sebuah tulisan MASUK di bagian atasnya.

"Tempat apa ini?" gumam Sakura

Kebingungan membuatnya tidak sadar pintu mobil sudah terbuka dan sebuah tangan menariknya keluar dengan kasar. Tentu saja Sakura yang terkejut langsung berteriak dan melawan dengan menendangkan kakinya ke segala arah saat menyadari jika sang supir yang menariknya.

"LEPASKAN AKU! TOLONGGGGG!"

Ia terus berteriak sepanjang sang supir menyeretnya ke dalam gedung tersebut dan melihat dua pria berpakaian formal menghampirinya. Keduanya dengan sigap membantu sang supir untuk membawa Sakura masuk.

"Tolong saya! Saya diculik!"

Salah satu pria berpakaian formal tadi berdecak, "Kau tidak diculik. Sekarang tenanglah atau kusuntik kau dengan obat penenang."

Sakura terdiam.

Obat penenang? Tempat apa ini hingga bisa menyuntikkan seseorang dengan obat penenang begitu saja?

Ia lalu menuruti perintah pria itu dan berjalan dengan setengah terseret, menyelusuri koridor yang ternyata cukup luas dengan pemandangan tak asing. Terlebih, ia melihat beberapa orang berseragam sama duduk di salah satu ujung koridor yang ia lewati dengan pandangan menusuk ke arahnya.

Siapa mereka? Korban penculikan juga kah?

"Sakura Haruno."

Mendengar namanya disebut membuat Sakura mengalihkan pandangannya dari sekelompok orang berseragam itu pada salah satu pria yang membawanya.

"Apa kau tahu alasanmu dibawa ke tempat ini?"

Sakura mendengus, "Aku bahkan tidak tahu tempat apa ini!"

Pria yang mengancamnya tadi dengan obat penenang memutar matanya, "Bukankah sudah jelas? Kau akan tinggal dan bersekolah di sini."

Mata emerald Sakura langsung membulat mendengarnya. Ia tidak ingat meminta pindah kepada orang tuanya ke sekolah aneh yang bahkan membawanya saja terlihat seperti sebuah penculikan dengan supir kurang ajar dan dua orang aneh seperti di depannya ini.

Lagipula, sekolah macam apa yang berada di ujung pedesaan?

"Kau pasti bingung," kata pria pertama tadi dengan tersenyum. "Aku salah satu guru di sini. Namaku Iruka."

Guru?

Sakura hampir saja tertawa, mengira jika pria itu hanya bercada agar suasana tidak tegang namun melihat ekspresi yang ramah sekaligus serius itu membuatnya berpikir jika pria itu memang seorang guru.

"Aku mengajar sejarah," kata Iruka lalu menoleh pada pria di sampingnya. "Dia-"

"Bukan guru," potongnya. "Hanya dokter UKS, namaku Kabuto."

Sakura mengeryit pada sang dokter, tidak heran jika pria itu tadi mengancamnya untuk menyuntik dengan obat penenang.

"Mungkin ada kesalahan," kata Sakura berusaha menjernihkan keadaan. "Aku tidak pernah meminta untuk pindah sekolah, apalagi aku tidak tahu sekolah apa ini."

Iruka tertawa," Kau tidak perlu meminta untuk dapat masuk ke sekolah ini. Sembilan puluh delapan persen penghuni sekolah ini tidak ingin berada di tempat ini."

"Sembilan puluh delapan persen?" ulang Sakura bingung. "Lalu bagaimana dengan yang dua persennya lagi?"

"Tentu saja para staff sekolah," sahut Kabuto

"Sekolah apa ini? Asataga, tolong hubungi orang tuaku sekarang juga! Ini sama sekali tidak normal, kalian tahu?"

Iruka menepuk bahunya dengan lembut, "Memang tidak normal karena sekolah ini khusus untuk anak-anak seperti itu."

Detik itu juga Sakura mengerti maksud dari sang guru.

Ia menepis kasar tangan Iruka dan mundur selangkah. Matanya menatap penuh takut pada kedua guru di depannya tersebut saat ia mengetahui sekolah apa yang ia masuki sekarang ini.

Sebagai seorang pelajar yang hidup berdampingan dengan dunia luar, Sakura sering mendapatkan rumor jika ada sebuah sekolah khusus yang dikelola oleh pemerintah sehingga dirahasiakan lokasinya dari masyarakat.

Sekolah itu khusus untuk anak-anak yang memiliki masalah. Tak peduli siapa atau darimana, jika masyarakat mengatakan anak itu memiliki masalah pada mentalnya, sudah dipastikan anak itu akan masuk ke dalam sekolah tersebut.

Meski dengan cara paksa.

Yah, sekarang disinilah Sakura berada

Di sekolah sakit jiwa itu.

Tapi kenapa dirinya bisa masuk ke sekolah ini? Itu pertanyaan yang kini menghantui benaknya. Ia pernah dengar rumor jika yang masuk sekolah ini bukan hanya anak yang memiliki masalah mental untuk direhabilitasi.

Tapi berkumpulnya para pencuri, pemerkosa, penipu, pecandu obat atau kriminal lainnya karena pemerintah yakin jika belum terlambat untuk memperbaiki remaja-remaja bermasalah itu jika mendapatkan penanganan yang tepat.

"Sakura?"

Mendengar namanya dipanggil membuat Sakura tersadar dari lamunannya. Ia menatap Iruka yang melihatnya dengan kecemasan sedangkan Kabuto yang hanya diam namun terlihat waspada.

"I-ini kesalahan... aku tidak pernah melakukan apa pun," ujar Sakura dengan suara parau. "Sungguh. Percayalah padaku!"

"Kau tidak pernah melakukan apa pun?" tanya Iruka skeptis. "Benarkah?"

Tiba-tiba Kabuto berdecak cukup keras hingga membuat Sakura menoleh pada pria berkacamata bulat itu. "Kau bukan satu-satunya yang mengatakan hal itu, nona. Tapi tahu tidak? Kami tidak mungkin mendengar kebohongan yang manis itu."

"TAPI AKU BENAR-BENAR TIDAK MELAKUKAN APAPUN!" raung Sakura

Iruka menepuk bahunya dengan lembut untuk menenangkan, "Kami mempunyai dokumen tentangmu. Percayalah, kau memiliki sesuatu yang membuatmu masuk ke sekolah ini, Sakura."

Pria itu berkata dengan lembut dan menenangkan. Normalnya, Sakura pasti akan mempercayai orang seperti itu, tapi tidak kali ini.

Berbicara dengan mereka tidak akan membuatnya pergi dari tempat ini. Ia harus melakukan sesuatu dan mata emeraldnya melirik dari bahu mungilnya ke arah pintu masuk dimana ia diseret dengan paksa tadi.

Entah sejak kapan, sang supir yang mengikutinya tadi sudah tidak bersama dengan mereka lagi. Ia menyadari jika inilah kesempatan untuk melarikan diri.

Tanpa membuang waktu lagi, Sakura berlari dengan cepat ke arah pintu masuk yang ia lihat. Ia mendengar teriakan dari Iruka dan Kabuto serta langkah kaki mereka yang mengejarnya, namun tak ia hiraukan.

Apa pun yang terjadi, ia harus segera pergi dari tempat ini.

Tepat beberapa langkah dari pintu, seorang pria dengan seragam seperti yang ia lihat muncul tiba-tiba dari arah pintu masuk. Tanpa dapat menghentikan kakinya yang berlari cepat, Sakura menabrak pria itu hingga keduanya jatuh berguling di lantai.

"AW!"

"SASUKE!" seru Iruka dari belakang. "Tangkap gadis itu dan kau akan mendapatkan nilai A untuk kelasku!"

Sakura yang belum menyadari keadaannya, berusaha untuk berdiri dan tidak menghiraukan pria yang ia tabrak tadi. Namun sepertinya Sasuke, pria yang ditabrak itu tidak membiarkannya lolos dan menangkap Sakura lalu menggulingkannya kembali ke lantai.

Tidak hanya itu, dengan cepat pria itu mengunci kedua tangan Sakura sehingga ia tidak dapat melakukan apa pun.

"Mau kemana kau setelah menabrakku seperti itu, hm?" bisik pria itu di telinganya

Ia tidak bisa bergerak. Tenaga pria itu luar biasa kuat, membuatnya tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu nasibnya saat melihat Iruka serta Kabuto menghampirinya.

"Kau murid baru, ya?" tanya Sasuke lagi

"Bukan," ketus Sakura. "Ada kesalahan yang membuatku masuk ke sekolah ini."

Sasuke mendengus, "Kau belum paham ya? Kita itu kesalahannya."

Mendengar nada menghina itu membuat Sakura berang, "Jangan samakan aku denganmu!"

"Kita lihat saja nanti," bisik pria itu lagi di telinga Sakura sebelum melepaskannya

Iruka dan Kabuto langsung mengambil alih Sakura dari Sasuke. Keduanya kini tampak lebih sigap dan waspada agar ia tidak melarikan diri lagi dengan menahan lengannya dari kedua sisi.

"Terima kasih, Sasuke. Kau sudah boleh kembali ke kelasmu," kata Iruka

Sakura mengangkat kepalanya untuk melihat seperti apa rupa orang yang menangkapnya karena tadi tidak sempat. Rambut hitam mencuat ke belakang, kedua telinga yang memiliki anting, wajah tampan sempurna namun terlihat suram dan dingin.

Cara berpakaian dan berdirinya terlihat seenaknya, ciri khas berandalan.

Sial sekali dirinya bertabrakan dengan Sasuke.

"Tunggu, Pak. Dia belum meminta maaf padaku karena menabrak tadi."

Sakura memutar mata, "Jangan harap aku akan melakukannya!"

Mata hitam Sasuke berkilat tidak suka, "Sepertinya anak baru ini perlu diajarkan sopan satun."

"CUKUP!" seru Iruka mendorong Sasuke sedikit. "Kau bisa kembali ke kelasmu sekarang atau nilamu akan menjadi C!"

Sasuke mengangkat kedua tangannya seolah menyerah sambil berjalan menjauh, "Oke, oke. Jangan lupakan imbalanku karena sudah menangkap murid baru ini, Pak Iruka."

Sakura masih memperhatikan punggung lebar Sasuke yang berjalan menjauh, meninggalkannya seolah tidak peduli bahkan saat pria itu disapa oleh beberapa orang yang ia lihat tadi di koridor.

"Nah, Sakura." Iruka membuatnya menoleh. "Bagaimana kalau kita mulai penjelasan tentang sekolah ini?"

"Tidak perlu. Aku sudah tahu sekolah apa ini."

"Oh?" Kabuto mengangkat alisnya. "Kalau begitu mari kita dengar apa yang kau tahu."

Sakura melirik pria itu, "Ini sekolah sakit jiwa."

Kabuto memijit pelipisnya, "Lebih tepatnya ini sekolah rehabilitasi untuk remaja bermasalah sepertimu. Tidak ada yang sakit jiwa di sini, kalian hanya suka membesar-besarkannya."

"Yah, meski ada beberapa yang harus dikontrol karena memiliki masalah. Selain itu," Iruka tersenyum ramah padanya. "Semuanya seperti sekolah pada umumnya."

Sakura tidak akan percaya itu.

Apalagi setelah perlakuan mereka terhadapnya. Sebagai orang waras, mana mungkin Sakura mempercayai apa yang mereka katakan.

"Baiklah, ini barang-barang milik Sakura Haruno."

Ia mendengar suara sang supir yang datang dari pintu masuk, meletakkan tas punggung dengan dua koper besar yang ia kenali miliknya.

"Nah, barang-barang sudah datang. Mari kita ke asrama."

"Tunggu!" Sakura menahan kakinya. "Asrama?"

"Karena semua yang bersekolah di sini dari berbagai kota serta memerlukan pengamatan setiap harinya, kami menyediakan asrama. Lagipula, mana mungkin ada murid yang mau pulang-pergi setiap harinya."

Penjelasan Kabuto sedikit menakutinya.

Ia akan tinggal bersama dengan para makhluk sakit jiwa? Jika memang benar semua yang masuk ke sekolah ini bermasalah sesuai rumor, bukankah itu artinya ia akan berada dalam bahaya?

"Tidak tidak!" seru Sakura memberontak. "Aku tidak mau tinggal di sini! Pulangkan aku! PULANGKAN AKU!"

Sakura berteriak histeris hingga suaranya menggema di koridor. Ia tidak peduli jika lengannya yang ditahan sekuat tenaga oleh Iruka dan Kabuto akan terasa sakit lalu memar. Ia tidak peduli jika orang melihatnya.

Ia hanya ingin pergi dari tempat ini.

Namun tiba-tiba saja pemberontakannya berakhir saat merasakan sesuatu yang tajam menusuk lengannya. Ia melihat jika Kabuto menyuntikkan sesuatu yang entah apa itu sebelum ia kehilangan kesadarannya dan segalanya kembali berubah menjadi gelap.

Sialan.

Obat apa yang mereka suntikkan padanya?

# # # # #

TBC

Hola!

Risa is back! Apa kabar buat readers tersayang?