CHARGE

Summary : Jongin menilai Sehun hanya berdasarkan tiga kata. Manja, bodoh, dan menyebalkan. Semua berawal dari manfaat pembelian saham dalam persentase besar, maka investor berhak mendapat jabatan sebagai Manajer. Mau tidak mau Jongin harus membiasakan dirinya dengan Sehun. "Kim Jongin-ssi, buatkan aku sebuah teknologi yang bisa digunakan untuk mengupgrade otak dungu ku" pertanyaan bodoh lain yang disuarakan Sehun.

"Aku buat kan teknologi langsung yang bisa mengupgrade mu ke planet mars!"

Tapi, sejak saat itu Jongin jadi belajar satu hal. Bahwa cerianya seseorang bisa berarti sedang terjadi kehancuran di dalamnya.

"Aku tidak bisa mengerti diriku sendiri. Jadi bolehkah kau ku sebut sebagai pengisi energi? Seperti charge ini. Matamu dengan instan menjawab kesepianku secara keseluruhan"

Disclaimer : Nama tokoh adalah milik pribadi. Hanya meminjam nama untuk menunjang jalan cerita. Karakter dalam cerita akan sangat berbeda dengan karakter asli.

Warning : - Pairing KaiHun (Top!Kai Bottom!Sehun) Jika tidak berkenan dengan pairing yang ada, silahkan dilewati daripada menghakimi

Boy X Boy, area Homo.

Akan ditemukan bahasa kasar, dan konten dewasa. Mohon pandai dalam membatasi diri sendiri.

Original by : metibyun

TIDAK MEMAKLUMI PLAGIARISM/PENGGANDAAN DALAM BENTUK APAPUN!

Create : 28 Juni 2019


Bagian 1

"Uang ayah banyak. Jadi lebih baik gunakan untuk investasi. Ayah dengar Tiger, Inc. membuka pasar saham yang sudah resmi tercatat di Bursa Saham Korea" Park Sehun mendengarkan pidato ayahnya dengan wajah setengah mengantuk. Pemuda yang baru tadi pagi pulang dari Jepang itu, masih sangat lelah. Usai merantau karena tuntutan pendidikan perguruan tinggi selama 4 tahun. Park Sehun ingin, setidaknya disambut dengan pelukan dan kecupan sayang. Bukan disodori lembaran kertas berisi materi saham yang harus dibeli sebagai investasi.

Seumur hidupnya Sehun membenci pelajaran menghitung. Lalu ayahnya memaksa Sehun masuk ke dalam jurusan perbankan. Mengharuskannya bertemu angka-angka sialan. Grafik-grafik bedebah. Dan hitung-menghitung uang yang tidak pernah ia tahu wujudnya. Itulah mengapa Sehun benci teori.

"Ayah, aku ingin tidur. Sumpah." Tuan Park memukul kepala anak bungsunya dengan gulungan kertas. Kebiasaan membangkang Sehun beliau pikir akan hilang setelah diasingkan selama 4 tahun di negeri seberang. Tidak tahunya masih tetap abadi.

"Park Sehun kau ini sudah 24 tahun-"

"Sudah seharusnya kau belajar jadi serius. Berhenti main-main. Mau jadi apa kamu jika ayah nanti mati" Sehun menyambung petuah ayahnya yang sudah 24 tahun ini ia dengar. Hafal di luar kepala, sebab ayahnya terlalu sering berorasi dengan kalimat itu.

"Bocah kurang ajar!" Sehun sudah lari keluar ruang kerja ayahnya sebelum mendapat lemparan sepatu.

Lahir sebagai seorang bungsu dari dua bersaudara. Entah kenapa Sehun ini hobi sekali mencari masalah sejak kecil. Keluarga besar bahkan tahu jika Sehun jauh berbeda dengan kakaknya yang tampan paripurna.

Pernah saat itu ayah Sehun hampir mati terkena serangan jantung karena skenario penculikan yang dilakukan oleh anak bungsunya itu. Sehun meminta bantuan teman-temannya menjalankan rencana nakalnya. Melakukan seolah-olah Sehun diculik dan meminta tebusan sebesar 300 juta won.

Semua rencananya dipatahkan oleh kepolisian karena Sehun ditemukan tengah menghabiskan waktunya untuk pergi ke klub malam dan berpesta disana.

Sehun juga sudah menghabiskan banyak mobil sport yang dirusak sia-sia karena balapan liar. Bahkan hadiah dari kemenangannya tidak ada apa-apanya dibanding biaya servis bernilai fantastis. Sehun membuang mobil bekasnya seperti membuang celana dalam yang tidak terpakai.

Keluarga Park menjalankan bisnis di bidang ekspor dan impor pakan ternak. Sejak lama tuan besar Park ingin terjun ke dunia teknologi. Namun anak-anaknya tidak ada yang berminat disana. Ia juga sangat awam dengan hal-hal semacam itu. Maka sejak mendengar berita bahwa Tiger, Inc. membuka bursa saham besar-besaran karena peluncuran teknologi baru yang membutuhkan banyak modal. Tuan Park menjadi yang paling bersemangat.

Putra sulungnya yang bernama Park Chanyeol sudah tidak berminat untuk mewarisi usahanya karena sibuk dengan profesinya sebagai pengacara, sekaligus CEO di firma hukum miliknya sendiri.

Itulah mengapa tuan Park menggantung harapan tinggi pada si bungsu, Park Sehun. Meskipun kenyataan tak seindah angan-angan.

Sehun tidur dengan posisi kaki berada di kepala ranjang. Sedangkan kepalanya berada di kaki ranjang. Posisi sungsang. Random. Seperti sifatnya.

"Sehun-" nyonya Paek baru saja pulang dari supermarket. Mendapat kabar bahwa si bungsu sudah pulang, beliau harus memasak semua makanan kesukaan Sehun.

"Sehun-" percobaan kedua masih gagal.

"Sehun!" ketiga masih tetap gagal.

"PARK SEHUN PABO!" nyonya Park berteriak brutal sambil memukul-mukul kaki anaknya.

Sehun? Hanya menggeliat ringan tanpa ingin bangkit.

"Dasar anak setan!"

"Kalau begitu ibu setannya" Sehun terkekeh dengan suara khas bangun tidur. Menarik ibunya hingga jatuh ke kasur kemudian memeluk erat.

"Ibu, Sehunie rindu"

"Hm. Ibu pun" nyonya Park selalu lemah dengan pelukan anak-anaknya. Ingin marah. Tapi gagal sebab Sehun sudah terlanjur memberi pelukan terhangat.

"Bagaimana kabar ibu?"

"Baik. Kau sendiri bagaimana? Dasar anak nakal berani-beraninya tidak memberi kabar" Sehun semakin mengeratkan pelukan.

"Ibu, Sehunie berpikir selama ini sudah menyusahkan ayah begitu banyak. Jadi aku harus fokus untuk menjadi apa yang ayah inginkan"

"Bayiku sudah dewasa ternyata" Sehun memejamkan mata ketika tangan ibunya membelai pipi. Ia rindu suasana seperti ini.

-KH-

Tiga Kim bersaudara sedang duduk melingkar. Mendiskusikan perihal pencetusan teknologi baru yang akan diluncurkan sesuai ide si anak tengah, Kim Namjoon.

Tiger, Inc. bukan usaha milik orang tua. Melainkan milik mereka bertiga yang mendapat dukungan sepenuhnya dari keluarga. Seolah dilahirkan untuk saling melengkapi, tiga pria tampan itu memiliki porsinya masing-masing. Menempati setiap bagian penting dalam komponen perusahaan. Jika kepemimpinan berada di atas tanggung jawab Kim Seokjin. Maka ide dan inovasi sepenuhnya diserahkan pada Kim Namjoon. Untuk si bungsu, karena keahliannya dalam memasarkan dan promosi. Kim Jongin mendapat bagian itu, sesuai keahliannya di bidang pemasaran.

Teknologi yang digadang-gadang menjadi proyek paling sukses tahun ini. Mendapat respon yang sangat bagus oleh pasar luas. Karena sasaran mereka bukan hanya mencakup orang dewasa, melainkan semua lapisan umur juga profesi.

Semua manusia saat ini membutuhkan ponsel. Setiap waktu bahkan setiap detik. Tercatat oleh IDC (International Data Corporation) setiap tahunnya penjualan ponsel mencapai 1,4 miliar unit bahkan mungkin lebih dari itu.

Yang difokuskan oleh tim Tiger, Inc. adalah bagaimana penggunaan ponsel bisa maksimal. Dan yang terpenting, belum ada satupun ide yang sama seperti mereka.

Karena sesungguhnya jantung ponsel adalah baterai.

Kim Namjoon yakin dan optimis kali ini mereka bisa memuncaki reputasi perusahaan teknologi.

Banyaknya kegiatan yang bisa dilakukan dengan smartphone, membuat perangkat tersebut harus bisa selalu aktif setiap saat. Namun, setiap smartphone memiliki daya baterai yang terbatas.

Jika smartphone tersebut semakin sering digunakan, maka tidak menutup kemungkinan baterai akan sangat cepat habis pula. Sadar akan betapa pentingnya smartphone bagi kelangsungan hidup, Kim Namjoon pun berinisiatif untuk membuat baterai generasi terbaru.

Di mana baterai tersebut bisa dicas, tanpa memerlukan waktu yang lama. Teknologi ini akan menggunakan nano dengan bio organik nanodot yang bisa meningkatkan kapasitansi elektroda dan meningkatkan performa elektrolit. Namjoon kini mengklaim bahwa baterai buatannya mampu terisi penuh hanya dalam waktu 30 detik saja.

Seokjin bertepuk tangan bangga melihat perkembangan adiknya yang jauh melesat. Ia sebagai pemimpin tertinggi tentu menyetujui tanpa perlu kajian mendalam sebab ide tersebut sangat luar biasa.

Sementara si bungsu tengah sibuk menata strategi promosi. Akhirnya memilih berdiri untuk memeluk kakaknya atas inovasi luar biasa itu.

"Hyung, aku bangga. Astaga aku hampir menangis"

Mereka bertiga melompat-lompat senang seperti anak kecil. Sibuk memberi semangat satu sama lain.

"Berapa modal yang harus kita keluarkan untuk pembelian bahan baku, produksi, dan promosi?" Seokjin melepas pelukan pertama kali mengingat proyek besar sudah berada di depan mata. Jongin mengangguk menyetujui pertanyaan si sulung barusan.

"Ehm.." Namjoon bergumam ragu. Membuat kakak dan adiknya semakin bingung.

"Ini besar, kita harus produksi banyak sekaligus. Jika produksi sedikit, pengeluaran malah lebih membengkak. Karena bahan baku yang harus didatangkan dari Belgia" Namjoon mencicit ragu. Ia tahu seberapa modal yang mereka punya. Belum cukup.

"Sebutkan" perintah Seokjin.

"4 milyar won"

"APA!?" / "APA!?" Jongin dan Seokjin berteriak bersamaan. Membuat Namjoon menutup telinga.

.

.

.

.

NOTE : hai! speechless, karena ada ide yg ga sengaja lewat habis baca koran tentang teknologi yang mungkin dirilis beberapa tahun kemudian. Karena kangen kaihun juga, jadi auto disatuin. Berapa abad aku tidak menampakkan diri? Hahahah kangen kalian so much. Kangen baca review kalian. Kangen interaksi sama kalian. Kangen semua tentang kalian. Semoga setelah huru hara panjang ttg kaihun masih ada yg bertahan ya KHS, aku masih disini bertahan juga demi mereka. LOVE YOUUUU ALL :*