Too Love
.
.
Park Chanyeol (24 th)
Byun Baekhyun (23 th)
Doh Kyungsoo (26 th)
.
.
"Kau itu terlalu bodoh Baek, bukan terlalu Cinta!" –Kyungsoo
"Tapi aku tak bisa hidup tanpanya Kyung" -Baekhyun.
.
.
CeyeeByunee
.
Summary
Aku pernah percaya, Namun dikecewakan -BBH
.
.
Apa yang akan kalian lakukan jika kalian mencintai seseorang lebih dari diri sendiri, namun seseorang itu seperti hanya sekedar mencintaimu saja tak lebih ? Apa kalian tetap akan mempertahankannya ?
Ketika keraguanku datang darinya, ia selalu berhasil meyakinkanku kembali. Namun ketika aku yakin, dia seperti membuatku ragu lagi dengan segala kelakuannya. Entah apa yang ada difikirannya aku tak tahu. Bibir manisnya selalu mengucapkan hal – hal yang meyakinkan tapi perlakuannya berbalik dengan semua ucapanya.
Aku ragu tapi aku cinta.
e)(o
All POV Baekhyun.
Apa yang kalian fikirkan pertama kali ketika mendengar sebuah hubungan yang sudah terjalin hampir 7 tahun ? Pasti sebagian orang berfikir bahwa salah satu orang dari pasangan itu tidak serius. Tapi sebagian orang pun ada yang berfikir, mungkin mereka masih menata untuk masa depan mereka.
7 tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempersiapkan masa depan. Bahkan itu juga bisa dikatakan terlalu lama. Tapi percayakah kalian jika selama 7 tahun menjalin hubungan itu selalu berjalan mulus ? Tentu tidakkan. Ada alasan besar yang membuatku masih menjalin hubungan sampai selama itu.
Ya, aku sudah menjalin hubungan dengan kekasihku selama 7 tahun lamanya. Pasang surut semua sudah ku rasakan bersamanya. Baik buruknya kita sudah terbuka semua. Hampir tak ada yang kita tutupi satu sama lain. Juga tak sedikit kita bertengkar karena beda pendapat.
Aku, Baekhyun. Byun Baekhyun. Umurku sekarang 23 tahun. Bekerja disebuah kantor perbank-an ternama di Korea Selatan. Dan kekasihku benama Park Chanyeol. Umur kita hanya berbeda satu tahun saja. Lebih tua Chanyeol.
Aku mengenal Chanyeol pertama kali saat tak sengaja bertemu di cafe taman kota saat masih Senior High School. Saat itu aku dan Chanyeol sama – sama berada di tingkat akhir dan akan menghadapi Ujian akhir.
Tak perlu waktu lama untuk mengenali satu sama lain. Hanya butuh waktu 4 bulan, Chanyeol menyatakan perasaannya padaku. Dan saat itu juga aku mempunyai perasaan padanya, tanpa berpikir lamapun aku langsung menerimanya sebagai kekasih.
Awalnya semua berjalan dengan normal seperti pasangan kekasih lainnya. Berkencan, menonton bioskop, ataupun liburan berdua.
Saat kita menghadapi Ujian akhir, Kita sama – sama fokus pada Ujian. Membuat janji tak bertemu selama 1 bulan supaya tak mengganggu proses belajar menghadapi Ujian akhir. Dan sampai Ujian berakhir kita bisa melewati bersama tanpa ada selisih paham.
Saat pesta kelulusan, Chanyeol bertanya padaku, ketika sudah lulus nanti aku akan melanjutkan kemana. Aku sempat mengatakan padanya mungkin aku akan langsung bekerja, Namun ternyata Ayahku tak mengijinkanku dan menyuruhku untuk masuk ke Universitas.
Aku kira Chanyeol akan melanjutkan juga ke Universitas, namun ternyata Chanyeol lebih memilih untuk mencari perkerjaan untuk membantu perekonomian keluarganya. Ya, Chanyeol memang bukan berasal dari Keluarga yang terpandang, Ia hanya berasal dari keluarga yang berkecukupan.
Namun dari saat itulah kesetiaan kita di Uji.
Disaat aku berada di bangku Universitas Semester ke 3, Aku sempat di tinggal Chanyeol pergi bekerja yang sialnya itu di luar pulau. Bukan pulau yang jauh namun tetap saja itu menjadi penghalang bagiku.
Saat itu kita masuk di tahun ke 2 menjalin hubungan. Tak selalu berjalan mulus, mungkin juga pernah bertengkar hanya karena hal kecil. Namun kita akan kembali dan memaafkan satu sama lain dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Dan saat Chanyeol meminta ijin untuk berkerja di Pulau Jeju, aku sempat berberat hati. Namun Chanyeol selalu meyakinkanku bahwa semuanya Chanyeol lakukan untukku. Untuk masa depan kita.
Jika itu alasannya aku tak bisa berbuat apa – apa, karena sejujurnya kita memang menginginkan untuk hidup bersama sampai kita menutup usia. Ya, memang berlebih sangat berlebih menurut semua orang namun itu nyata adanya.
3 bulan sejak kepergian Chanyeol ke Pulau Jeju untuk bekerja, waktu untuk berkomunikasi semakin terbatas. Mungkin hanya bisa sekali sehari untuk saling menanyakan kabar, bahkan pernah 3 hari Chanyeol sama sekali tak menghubungiku. Namun aku tetap menunggunya. Meskipun terkadang rasa bosan menghampiriku.
2 tahunpun aku sudah terbiasa ditemani Chanyeol secara langsung ataupun hanya lewat Chatroom. Dan ketika tak ada kabar darinya, rasanya semuanya hambar. Seperti ada yang hilang.
Dan disinilah awal berbagai luka yang saling kita torehkan namun masih ingin bertahan.
Saat Chanyeol tak berada disisiku dan tak ada kabar darinya, sosok Sehun datang menawarkan suasana baru. Sehun benar bisa mengambil celah hatiku yang kosong karena tak ada Chanyeol disisiku untuk sementara. Dan Sehun benar berhasil membuatku berpaling.
Sempat aku berfikir, apa perlu aku melepaskan Chanyeol dan berpaling pada Sehun ? Sebesar apapun aku mencoba menerima Sehun, Tetap saja nama Chanyeol yang selalu bisa menguasai isi dihatiku. Dan berakhir Sehun hanya menjadi tempat pelampiasan sesaat ketika aku tak bisa memeluk Chanyeol.
Jam berganti hari. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan dan bulan sudah akan berganti tahun, Chanyeol belum juga memberiku kabar. Aku selalu berdo'a pada Tuhan agar mempercepat waktu kepulangan Chanyeol agar aku bisa bertemu dengannya. Rinduku sudah berat. Rasanya aku tak sanggup membawa Rindu ini sendirian, aku butuh Chanyeol. Dan benar saja hanya berjarak 2 minggu, Chanyeol pulang dan menemuiku di kampus. Namun perlakuannya sedikit berbeda.
Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, aku merasa Chanyeol seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi entah itu apa.
Setelah dari kampus, Chanyeol membawaku ke Apartemennya. Rasanya sudah lama aku tak menginjakkan kaki di tempat yang sudah ku anggap rumah keduaku ini. Chanyeol meninggalkannya hampir 1 tahun.
Dan dihari itulah semuanya terbuka. Mulai dari aku yang selalu bersama Sehun hampir setiap hari, sampai aku sempat berpaling pada Sehun. Ya, memang aku sempat menerima pernyataan cinta Sehun padaku, Namun tak bertahan lama. Hanya 3 bulan saja. Alasannya karena aku kesepian. Aku butuh seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahku.
Aku tahu, saat itu Chanyeol benar kecewa padaku. Namun aku juga tak sepenuhnya salah. Chanyeol juga tak memberiku kabar sama sekali. Chanyeol seakan – akan membuangku begitu saja tanpa kejelasan. Aku yang memang dasarnya tak suka menunggu, jadi aku mencoba untuk sesuatu yang baru. Namun aku sadar bahwa itu salah dan akupun meninggalkan Sehun.
Meskipun aku sudah tak bersama Sehun, Chanyeol masih mempermasalahkannya. Karena kepercayaannya telah aku rusak. Chanyeol memang marah namun tak sampai hati untuk melepaskanku. Akupun mengakuinya dan memohon ampun padanya. Memohon agar tak mengakhiri hubungan ini yang sudah masuk tahun ke 3. Dan Chanyeolpun akhirnya memberikanku kesempatan yang kedua. Sejak saat itupun aku bertekat untuk tetap berada disisinya bagaimanapun keadaannya.
-TOO LOVE-
"Baekhyun, apa kau tak mendengarkan kata ayah ?!"
Satu hal yang paling ku takuti di kehidupanku. Kemarahan Ayah. Ayah adalah orang yang paling sabar menurutku. Namun bisa menjadi orang yang paling menakutkan jika anaknya sudah mengecewakannya.
Bukan, bukan aku anak durhaka. Bukan juga aku anak yang tidak penurut. Aku selalu menuruti hampir semua kemauan Ayahku. Tapi ketika Ayahku menentang hubunganku dengan Chanyeol, aku tak bisa apa – apa. Aku tak bisa memilih. Aku menyayangi Ayahku. Namun aku juga menyayangi Chanyeol. Itu menjadi pilihan terberat untukku.
"Sudah berapa kali Ayah katakan. Chanyeol bukan lelaki yang baik. Asal usul keluarganyapun tidak jelas! Kenapa kau masih terus dengannya Haaaahh?!"
Aku tak berani menjawab teriakan Ayahku yang sudah menggema diruang tamu. Ibu berada disebelah Ayah. Memandangku sama dengan tatapan marah. Ya, Ibuku juga tidak merestui hubunganku. Mungkin Ayah akan marah jika memang aku sudah keterlaluan. Namun Ibuku akan selalu memarahiku hampir setiap saat.
Aku dan Chanyeol tinggal di satu komplek yang sama. Hanya saja berbeda beberapa blok. Meskipun kita tinggal disatu komplek, dulu aku dan Chanyeol tak pernah bertemu karena kita sama – sama tak pernah keluar rumah.
Ditahun pertama hubunganku dengan Chanyeol memang sembunyi – sembunyi. Karena Ayahku tak pernah mengijinkkan anaknya untuk menjalin hubungan sebelum tamat sekolah. Namun aku melanggarnya tanpa sepengetahuan mereka. Setelah lulus sekolah aku mengenalkan Chanyeol pada Ayah dan Ibu, namun dengan status teman bukan kekasih. Aku masih takut Ayah belum memberiku ijin.
Awalnya Ayah tak mempermasalahkan Chanyeol. Tapi ketika Ibu mengetahui siapa Chanyeol dan keluarganya, Ayah ikut menentang seperti Ibu. Ibu sudah dari awal tahu bahwa aku dan Chanyeol adalah sepasang kekasih dari seseorang yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah Chanyeol. Jadi orang itulah yang memberi semua informasi seluk beluk tentang keluarga Chanyeol.
"Apa yang kau harapkan jika nanti menikah dengan Chanyeol ? Apa dia bisa memberimu nafkah yang cukup sedangkan keluarganya selalu mengganggunya ? Ibu tak hanya sekali memberi tahumu tentang Ayahnya yang seorang tukang judi Baekhyun! Apa kau masih belum sadar haaaahh ?"
Kali ini Ibu yang berbicara. Memang, Ibu tak hanya sekali, namun sudah berkali – kali mengatakan keadaan keluarga Chanyeol. Akupun juga sudah mendengar semuanya dari Chanyeol yang memang sudah terbuka sejak awal padaku. Jadi aku tak mengelaknya.
Aku punya alasan tersendiri untuk bertahan dengannya. Bukan karena harta ataupun keadaannya. Aku bertahan karena aku benar mencintai Chanyeol apa adanya. Chanyeol yang sederhana namun berhati lembut.
Bagiku Chanyeol adalah segalanya. Berlebihan memang, rasanya aku lebih mencintai Chanyeol daripada orang tuaku. Namun namanya sudah kepalang Cinta mau bagaimana lagi.
"Ayah tidak mau tahu Baekhyun. Secepatnya kau tinggalkan Chanyeol. Atau kau pergi dari sini jika masih memilih Chanyeol!" ucap Ayah final sambil berlalu pergi meninggalkanku dan Ibu. Ibuku masih memandangiku dari sofa sebrang. Terlihat gurat kemarahan didahi dan matanya.
"Ini masih belum semuanya Ibu beri tahu pada Ayahmu. Lebih baik kau tinggalkan Chanyeol sebelum Ayahmu membuangmu" dan Ibupun juga ikut meninggalkanku.
Kalian tahu bagaimana rasanya hubunganmu ditentang Orang Tuamu sendiri ? Bagaimana rasanya berada didua pilihan yang sulit ? Rasanya seperti tak bisa memilihnya.
Aku mencintai Ayah Ibuku, namun aku juga mencintai Chanyeol. Tak bisa aku meninggalkan mereka ataupun memilih salah satu dari mereka. Jika aku bisa aku ingin bersama mereka.
Dan akupun hanya bisa menangis.
-TOO LOVE-
Selama ini tempatku bersandar dan berkeluh kesah hanya pada Chanyeol. Terkadang aku juga bercerita pada Kyungsoo. Teman yang sudahku anggap seperti Hyung sendiri. Hampir 90% Kyungsoo tau semua cerita hidupku. Dari awal hubungankupun Kyungsoo tau semuanya. Hanya Kyungsoo tempat terakhirku bercerita ketika Chanyeol atau Orang Tuaku sudah tak bisa diajak berdiskusi lagi.
Kyungsoo tinggal beberapa blok dari rumahku. Karena lingkungan yang dekat kita jadi berteman sejak kecil. Kyungsoo Hyung 3 tahun lebih tua dariku. Dia benar – benar bisa menjadi tempatku bercerita. Kyungsoo Hyungpun tahu segalanya.
"Baekhyun-ah~"
"Hyung~"
Hari itu aku sedang bertemu dengan Kyungsoo Hyung. Sudah sedikit lama tak bertemu dengannya sejak Kyungsoo Hyung mendapatkan tempat kerja yang baru.
"Apakah kau menunggu lama ?" aku menggeleng saat Kyungsoo Hyung bertanya. Aku memang baru saja sampai di cafe dekat tempat kerjaku. Hari itu kebetulan Kyungsoo Hyung sedang libur dan akupun juga sedang mengambil cuti.
Setelah Kyungsoo Hyung duduk disebelahku, segera aku panggil pelayan cafe dan memesan beberapa makanan. Setelahnya pelayan itu menuju kekasir saat sudah selesai menulis semua pesananku.
"Bagaimana ? Apa ada kemajuan ?" tanpa basa – basi Kyungsoo Hyung langsung bertanya padaku. Akupun tau kemana arah pertanyaan Lelaki yang bermata bulat itu.
"Tak ada Hyung. Semua masih sama. Chanyeol masih enggan ke rumah orang tuaku, dan orang tuakupun juga masih tak mau menerima Chanyeol"
Kyungsoo Hyung meraih tanganku dan memberi sedikit usapan untuk menenangkan hatiku. Ia pasti tau bagaimana perasaanku.
"Tak apa. Kau harus berjuang lagi. Kau harus sabar. Tugasmu hanya meyakinkan hati Chanyeol dan memberi support untuk Chanyeol"
Selalu kata – kata itu yang hanya bisa Kyungsoo Hyung katakan. Karena iapun tak bisa memberi jalan keluar apapun.
"Aku terkadang merasa lelah Hyung. Disaat aku ingin memberi Chanyeol semangat, Chanyeol selalu saja membuat kesalahan. Namun ketika aku tak memberinya semangat atau apapun, Chanyeol seolah meyakinkanku dengan segala ucapannya. Aku seperti tersihir Hyung"
"Kesalahan ? Apa Chanyeol mengulang kesalahannya yang dulu lagi ?" dan aku mengangguk memberi jawaban.
"Dan kau memaafkannya begitu saja seperti biasanya ?" dan akupun mengangguk lagi.
"Hell Baekhyun. Kenapa kau selalu memaafkannya dengan mudah ? Dia selalu menyakiti hatimu Baek. Apa kau tak lelah ?"
Aku merasakan tangan Kyungsoo Hyung menggenggamku sedikit keras. Aku tahu Kyungsoo Hyung pasti marah sekarang. Karena dulu ketika aku tersakiti oleh Chanyeol pertama kalinya, Kyungsoo Hyung adalah orang yang paling marah. Ia tak terima ketika Chanyeol dengan mudahnya meminta maaf kepadaku setelah membuat keselahan yang besar.
"Aku ingin menyerah Hyung, tapi hatiku tak bisa sejalan. Hatiku selalu menginginkan kehadirannya" ucapku dengan suara sedikit parau. Rasanya dirongga dalam hatiku seperti ada yang sedang mencubit ketika mengingat semua kesalahan Chanyeol. Aku juga tak habis pikir kenapa aku selalu dengan mudah memaafkannya saat Chanyeol membuat kesalahan. Sedangkan ketika aku membuat kesalahan sangat kecil, Chanyeol akan sangat marah dan tak akan memaafkanku sebelum aku benar berada dihadapannya.
"Apa kau yakin akan melanjutkannya Baek ? Sebelum semua berjalan lebih jauh Baekhyun. Kau semakin lama semakin kurus. Aku tak suka melihatmu yang seperti ini" Tak pernah lelah, Kyungsoo Hyung selalu menanyakan itu. Kyungsoo Hyung selalu berpikiran bahwa Chanyeol bukan Namja yang baik untukku.
"Dia yang terbaik Hyung. Tak ada orang seperti dirinya" ucapku sambil tersenyum tipis.
Aku selalu meyakinkan hatiku jika Chanyeol yang terbaik untukku. Aku selalu memikirkan segala perjuangan yang telah Chanyeol lakukan untukku. Keburukannya akan ku buang jauh – jauh dari pikiranku. Aku hanya menganggap keburukannya hanya sebuah liku dari perjalanan kisahku sebelum berdiri diatas kebahagiaan. Hanya butuh bersabar lagi aku akan mendapatkan semua yang selalu aku bayangkan. Semua yang selalu aku impikan bersama Chanyeol.
Kyungsoo Hyung mungkin sudah lelah dengan jawabanku yang selalu sama, dan berakhir Kyungsoo Hyung hanya menarik bibirnya keatas. Meskipun aku tahu ia sangat benci dengan jawabanku.
"Berapa kalipun aku menanyakan itu, jawabanmu akan tetap sama" ucapannya selalu diakhiri dengan sebuah senyuman.
"Aku yakin Chanyeol tak akan mengecewakanku lagi Hyung"
"Ku harap Chanyeol menjaga janjinya"
Dan sejak saat itu, aku bukan bertambah bahagia, semuanya kembali terulang dan semakin parah. Dan itupun tanpa sepengetahuan Kyungsoo Hyung.
-TOO LOVE-
Bagiku Chanyeol adalah seseorang yang susah di tebak. Moodnya gampang berubah dalam sepersekian detik. Hal sekecil apapun jika itu membuat ia marah maka moodnya akan cepat berubah. Hanya karena salah bicarapun ia bisa berdiam seharian.
Hal itu juga terkadang yang membuatku serba salah. Kadang juga hal itu yang harus membuatku perpikir lebih dulu sebelum melakukan atau berbicara sesuatu padanya, takut takut membuat moodnya rusak.
Entah hal apa yang membuat mood Chanyeol benar sangat baik hari itu. Aku ingat betul, Chanyeol menghubungiku waktu itu dan memintaku menuju cafe tempat biasa kita bertemu. Memang selama kita berkencan kita selalu membuat janji bertemu ditempat mengingat Chanyeol tak bisa menjemputku karena Orang Tuaku.
Wajahnya benar sangat sumringah. Ketika aku baru masuk dan menuju tempat ia menungguku dengan hitungan detik Chanyeol langsung memelukku erat sangat erat. Aku masih bertanya ada apa dengan Chanyeol hari ini, dia sangat terlihat bahagia dan senyumnya sangat kentara. Chanyeol mengajakku duduk disampingnya, menggenggam tanganku lalu menceritakan hal yang membuatnya seperti ini.
Akupun turut berbahagia ketika mendengarkan kabar darinya. Aku merasa ini seperti setitik cahaya untuk jalan hubungan kita.
Ayah Chanyeol baru saja mendapat harta warisan dari sang Kakek. Lalu Ayah Chanyeol memberikan setengahnya kepada Chanyeol. Saat mendapatkan kabar dari sang Ayah, Chanyeolpun sudah merancang semua yang akan Chanyeol lakukan dengan uang pemberian Ayahnya. Salah satunya untuk kelanjutan hubungan kita.
"Aku tak mau kita seperti ini terus Baekhyun. Aku ingin buktikan pada Ayah dan Ibumu bahwa aku pantas untuk anak mereka yang sangat manis ini" ucapnya sambil membelai pipi tirusku ini. Rasanya sangat membahagiakan ketika mendengar Chanyeol yang begitu menggebu memperjuangkan hubungan kita. Siapa yang tak terharu ketika mendengar pasangannya berkata seperti itu ?
"Kau tahu Chanyeol, Apapun yang kau lakukan, apapun yang kau inginkan aku akan selalu mendukungmu. Dan aku akan tetap disampingmu apapun yang terjadi"
"Aku mohon bersabarlah lagi Baekhyun. Untukku, untuk semua mimpi kita" dan selanjutnya Chanyeol memelukku.
Air mata yang sudah menggenang dipelupuk matapun tak bisa dibendung lagi. Benar sangat membahagiakan meskipun bisa dibilang ini masih terlalu awal. Tapi aku berharap semuanya sesuai rencana. Sehingga aku dan Chanyeol bisa bersatu.
-TOO LOVE-
Semua yang direncanakan Chanyeolpun berjalan sesuai dengan harapanya. Mungkin hanya sedikit yang tak berjalan seperti harapan, ibarat itu sebuah kerikil ditengah jalan yang harus dilewati. Rintangan itupun Chanyeol lewati dengan sangat sabar. Karena ia yakin, apapun yang dilakukan dengan sebuah kesabaran, maka semuanya akan membuahkan hasil yang baik.
Aku selalu ada saat Chanyeol membutuhkanku. Akupun juga berusaha menjadi sandaran yang nyaman untuknya. Akupun selalu berusaha agar menjadi rumah yang baik dan nyaman untuknya. Tempat untuknya kembali ketika sudah lelah dengan semua kehidupan diluar sana.
Chanyeol mendirikan sebuah Cafetaria di daerah Gangnam dekat sebuah pusat perbelanjaan. Cafetaria yang didesign dengan minimalis ini Chanyeol berinama Bunny Cafe. Memang cafetaria ini tak cukup besar namun bisa memberi kesan nyaman untuk sekedar bersantai.
Cafetaria ini memang baru berdiri 5 bulan yang lalu tapi sudah lumayan banyak mempunyai pelanggan tetap terutama anak remaja. Chanyeol masih menjaga cafe ini sendiri dan sesekali aku akan membantunya ketika aku libur.
"Istirahatlah sebentar Chan. Aku akan menggantikanmu"
Hari ini aku mengunjungi Chanyeol karena kebetulan ini hari minggu. Biasanya cafe akan ramai pengunjung mengingat ini adalah hari weekend.
"Tak apa Baek. Aku masih kuat" jawabnya sambil tersenyum. Tangan besarnya masih sibuk meracik kopi expreso pesenan pelanggan. Aku berdiri dimeja kasir mencacat pesanan setiap pelanggan.
"Baekhyun-ah" panggil Chanyeol padaku. Aku menghampirinya dan berdiri disampingnya.
"Ada Apa Chanyeol ?"
"Bolehkan aku merekrut seseorang untuk membantuku ? Aku merasa sudah mulai kualahan mengurusi cafe ini sendiri"
Entah kenapa saat Chayeol bertanya hal itu aku merasa ada sesuatu yang sedikit mengganjal hatiku tiba – tiba. Tapi aku tak mau membuat kekasih kecewa jadi aku akan mendukung apapun yang akan dilakukannya.
"Itu terserah padamu Chanyeol-ah. Ini usahamu jadi kau berhak melakukan apapun untuk membuat cafe ini lebih maju. Aku akan mendukung apapun keputusanmu"
Chanyeol langsung memelukku dengan erat sambil mengucapkan banyak terima kasih.
"Permisi"
Tiba – tiba suara seorang pelanggan mengintrupsiku dengan Chanyeol. Dengan cepat aku melepas pelukkan Chanyeol.
"Oh Sunbin-ah"
"Annyeong Chanyeol-ah. Dan kau pasti Baekhyun ?"
Seketika aku terpaku saat mendengar Chanyeol memanggil pengunjung wanita itu terdengar seperti sudah akrab.
"N-ne. Aku Baekhyun" jawabku sedikit gugup.
"Chanyeol bercerita banyak tentangmu. Kau sangat beruntung mendapatkan Chanyeol Baekhyun~" aku hanya tersenyum kearahnya lalu mencatat pesanannya.
Setelah membayar Sunbin langsung menuju pada meja kosong dekat jendela yang menghadap pada jalan raya.
"Sepertinya kau sudah akrab dengannya Chanyeol" tanyaku pada Chanyeol yang sedang menyiapkan pesanan Sunbin.
Chanyeol tersenyum sebentar lalu menatapku.
"Dia hampir kesini setiap hari Baekhyun. Karena tempatnya bekerja ada di dalam mall itu" tunjuk Chanyeol pada Mall besar disebrang jalan sana. Ahh pantas dia akrab. Aku hanya menganggukan kepalaku tanda mengerti. Setelah pesanan Sunbin selesai aku mengantarkannya pada meja Sunbin.
"Selamat menikmati Noona" sapaku ramah. Sunbinpun juga tersenyum cantik.
Aku kembali menuju ke meja kasir dan kembali melayani pelanggan yang mulai ramai.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Pelanggan juga sudah berangsur meninggalkan cafe. Aku mengusap peluhku ketika pelanggan terakhir meninggalkan cafe.
"Huuhh. Lelah sekali"
Chup~
Sebuah ciuman mendarat indah pada kepalaku. Aku mendongak menatap Chanyeol. Ya, yang memberiku sebuah ciuman adalah Chanyeol.
"Terima kasih untuk semuanya Baekhyun-ah. Maaf aku merepotkanmu" ucap Chanyeol sambil menarik sebuah kursi lalu duduk disampingku.
Aku memandang wajahnya yang sudah terlihat sangat lelah. Aku mengusap rahangnya yang mulai menirus. Ini pasti karena hampir setengah tahun ini ia sibuk mengurus cafenya.
"Ini sudah kewajibanku Chanyeol. Itung – itung aku harus membiasakan diri" ucapku menenangkannya. Karena memang Chanyeol tak merepotkanku. Sedetik kemudian aku mendapat sebuah kecupan manis di pipi kananku. Ini yang ku suka dari Chanyeol. Selalu bisa membuatku tersenyum dengan hal kecil.
Hari ini aku menginap di Apartemen Chanyeol karena kebetulan Orang tuaku sedang tidak ada dirumah jadi aku bisa sedikit bebas. Karena aku akan susah mendapat ijin dari Orang tuaku mengingat mereka masih tak merestui hubungan ku.
"Mau ku masakan air hangat ?" tawarku pada Chanyeol yang tengah membaringkan tubuhnya pada sofa. Chanyeol mengangguk sebagai jawaban.
Aku menuju dapur untuk memasakannya air hangat. Akupun juga memeriksa isi lemari pendinginnya. Apakah ada bahan makanan untuk dimasak. Ternyata kosong.
Kurang dari 10 menit airnya sudah siap lalu aku memberi tahu Chanyeol untuk segera mandi.
"Mandilah dulu Chanyeol" suruhku sambil mengguncang tubuh Chanyeol yang sedang memejamkan matanya.
Chanyeol membuka matanya dan mata bulatnya menatap mataku dalam. Tangan besarnya meraih tanganku dan menariknya untuk mendekat padanya. Akupun mendekatkan tubuhku padanya juga sambil menatap matanya dalam.
Chup~
Chanyeol mencium bibirku sekilas lalu membelai rambutku lembut.
"Baekhyun-ah Saranghae"
Belum sempat aku membalas ucapannya, Chanyeol sudah kembali menabrakkan bibir tebalnya pada bibir tipisku. Kini pun bukan sebuah ciuman sekilas namun ciuman menuntut balas. Bibir tebalnya melumat bibirku penuh dengan nafsu. Memang tak kasar namun cukup membuatku kelimpungan. Aku memejamkan mataku mengikuti Chanyeol dan mulai membalas ciumannya.
Bibirnya benar – benar candu. Bibir tebal favoritku. Bibir yang bisa membuat libidoku naik. Aku tak akan pernah bisa melawan jika bibir Chanyeol sudah bekerja.
"Eungh~" lenguhanku lolos karena Chanyeol menyesap bibir bawahku kuat. Tanpa menunggu Chanyeol langsung memasukan lidahnya dalam rongga mulutku dan mengabsen semua isi didalamnya. Mengajak lidahku bertarung.
Tangan Chanyeol tak akan diam. Tangan besarnya akan merambat pada kulit tubuhku dengan sangat sensual. Membelai penuh dengan nafsu. Tangannya yang besar juga mampu melumpuhkanku dalam sekejap hanya dengan sekali sentuhan. Tangannya juga benar mebuatku candu. Ingin rasanya tangan itu selalu membelai tubuhku tanpa henti.
Chanyeol kemudian melepas tautan bibir kita dan beralih mencecap leherku. Spot favoritnya selain lubangku. Leherku ibarat kanfas putih yang akan dilukis oleh Chanyeol. Lidahnya menjilat setiap jengkal leherku. Hampir tak ada yang terlewat barang seinchi pun.
"Eungh~~ Chanh~~" bibirku sudah tak dapat menampung suara kenikmatan ini. Terlalu nikmat menurutku. Namun ini terlalu awal untuk dibilang nikmat.
"Duduklah dipangkuanku Baekhyun~" ucap Chanyeol seduktif pada telingaku. Tak hanya berucap, Chanyeol juga menjilat dan mengulum telingaku. Itu benar seperti menyalurkan energi magis dan menuju pada pusat selatanku. Pusat tubuhku sudah meronta untuk dilepaskan.
Aku menurut sesuai perintah kekasihku. Aku menaiki pahanya dan menyamankan posisi dipangkuannya. Sama sepertiku. Pusat selatan Chanyeol rupanya sudah mebangkit. Meski masih sama sama terbalut celana, tapi benda kebanggan Chanyeol sudah seperti membelai bokongku. Aku sedikit bergoyang diatas pangkuan Chanyeol berniat menggodanya.
"Akhh~" kini lenguhan Chanyeol yang lolos. Suara beratnya yang sexy menambah efect pada hawa tubuhku. Entah bagaimana bisa tubuhku menjadi tambah bernafsu hanya karena mendengar lenguhan Chanyeol. Dan semuanya berlanjut hingga pagi menjelang.
-TOO LOVE-
Kebanyakan orang saat akan menanti hari jadi bersama orang yang special, pasti akan menyiapkan dengan berbagai rencana agar mendapatkan sebuah moment bahagia untuk dikenang. Anniversary day biasanya akan direncanakan sematang mungkin bersama kekasih. Seperti saat itu, saat Anniversarry ku yang ke 7 tahun bersama Chanyeol. Kita sengaja merencanakan liburan ke Pulau Jeju selama 2 hari. Memang tak lama namun untukku itu sudah cukup. Dan semuanya sudah ku susun sedemikian mungkin. Namun seperti kata orang, Realita tak akan seindah sebuah Ekspektasi. Hanya ada beberapa bagian saja yang membuatku bahagia meskipun tak sesuai dengan semua rencanaku.
Di Pulau Jeju, Chanyeol berkali - kali menerima pesan yang katanya dari Jongdae -Pegawainya. Akupun hanya bisa percaya padanya karena memang yang tertera pada layar ponselnya adalah nama Jongdae.
Dalam list holiday Anniversarry yang sengaja ku buat, salah satunya adalah Cudling Time. Meskipun sebenarnya itu sudah sering kita lakukan, namun kali ini aku ingin benar menciptakan moment yang manis bersama Chanyeol. Orang yang sudah menemaniku selama 7 tahun belakangan ini. Susah senang Chanyeol adalah orang pertama yang ada disampingku, menenangkanku dan memelukku erat.
Aku melihat Chanyeol yang sedari tadi masih sibuk dengan ponselnya diatas tempat tidur hotel yang kita sewa. Matanya tak lepas memandang ponsel berwarna hitam itu. Sesekali bibirnya akan tertarik keatas tersenyum.
"Apakah ada masalah dengan cafemu Chan ?" tanyaku pada Chanyeol yang tak mengalihkan pandangannya sama sekali dari barang persegi panjang berwarna hitam itu.
Lalu Chanyeol menatap padaku setelah aku bertanya padanya. Bibirnya tersenyum dan tangannya meraihku agar aku duduk disampingnya. Tak butuh waktu lama, setelah aku duduk disampingnya, Chanyeol dengan cepat memelukku dengan merapalkan sederet kata - kata manis yang tak pernah lupa selalu Chanyeol ucapkan padaku.
"Baekhyun, terima kasih untuk 7 tahun ini. Terima kasih untuk semuanya, Terima kasih untuk kesabaranmu, juga Terima kasih dengan segala rasa cinta yang kau berikan padaku. Rasanya aku menjadi orang yang paling beruntung bisa mendapatkanmu Baekhyun. Kau berharga untukku"
Itu yang selalu Chanyeol lontarkan. Kata - katanya seperti membumbungkanku tinggi ke atas langit. Membelai hatiku dengan sangat lembut lalu berhasil membuatku jatuh kembali pada sosok Chanyeol.
"Kau juga berharga untukku Chanyeol. Kau segalanya. Kau yang bisa membuatku kembali jatuh lagi dan lagi dalam cintamu. Terima kasih juga karena masih mau bertahan denganku. Hiks" seperti biasa, aku akan selalu mengeluarkan air mata jika sudah bicara seperti ini dengan Chanyeol. Bagiku ini adalah topik yang sangat sensitif. Membicarakan ini sama dengan mengingat semua yang sudah terjadi di masa lalu. Mengingat juga segala perjuangan dan pengorbanan yang sudah kita lalui.
Selama Cudling Time, Chanyeol memeluk tubuhku erat, sesekali akan membelai wajahku lembut lalu menciumnya. Ini yang ku suka dari acara Cudling time, sisi romantisnya akan keluar dan itu sukses membuatku jatuh untuk yang beribu kalinya. Kita tak hanya membicarakan tentang yang sudah lewat, kita juga membicarakan apa yang akan kita lakukan setelah ini. Bertukar pendapat soal usahanya atau bicara tentang jenjang yang sedikit serius.
Aku melihat jam yang berada diatas nakas tempat tidur hotel, kurang 10 menit lagi sudah jam 12 malam. List yang aku rencanakan adalah merayakan Anniversarry bersama dan meniup lilin berdua. Sebenarnya tahun - tahun sebelumnya, aku dan Chanyeol selalu melakukannya namun kali ini akan sedikit Special karena kita merayakannya di Pulau Jeju.
"Chanyeol, tunggu disini sebentar. Aku ingin kekamar mandi" Chanyeol mengangguk dan melepaskan pelukanya.
Aku berjalan sedikit cepat kearah lemari es, lalu mengambil Cake yang sudah aku beli dan tentunya tanpa sepengetahuan Chanyeol. Kupasang lilin - lilin kecil sejumlah 7 diatas Cakenya, sesuai dengan tahun Anniversarry kita.
Aku kembali menuju kamar dengan langkah sedikit mengendap karena tak ingin Chanyeol tahu.
Lampu yang temaram sedikit memberi suasana lebih romantis. Chanyeol disana masih bergelung dengan slimutnya. Aku mendekat padanya lalu naik ke atas tempat tidur dengan pelan.
"Chanyeol-ah, buka matamu~" bisikku pelan pada telinganya.
Chanyeol mengusap matanya pelan. Saat melihat sesuatu yang sedikit terang, Chanyeol langsung membuka matanya lebar lalu mendudukan tubuhnya dan bersandar pada kepala tempat tidur.
"Baekhyun-ah, kau yang menyiapkannya ?" tanyanya setelah sadar 100%. Akupun mengagguk kepadanya sambil tersenyum.
"Happy Anniversarry yang ke 7 tahun Chanyeol-ah. Terima kasih sudah mempertahankanku. Dan Terima kasih untuk segalanya" ucapku sambil memandangi wajah Chanyeol.
Aku ingat benar, waktu itu aku mengatakan itu dengan sedikit berlinangan air mata. Berlebihan memang. Bahkan ini bukan pertama kalinya aku menangis hanya karena mengucapkan kata - kata melankolis.
"Happy Anniversarry too Baekhyun-ah. Harusnya aku yang berterima kasih padamu. Terima kasih sudah bertahan dengan orang sepertiku. Dan Maaf jika aku masih belum bisa membuatmu bahagia"
Entah kenapa saat Chanyeol mengucapkan kata-kata itu, tiba - tiba hatiku seperti tengah diremas keras. Hampir tak bisa bernafas. Seksa didalam sana.
Air mataku semakin mengalir deras menuju pipiku. Teringat semua perjalanan selama ini. Tak sedikit penghalang hubunganku dengan Chanyeol datang menghampiri. Bahkan sampai sekarang ada yang masih menghalangi.
"Aku tak suka melihatmu menangis seperti ini. Ini hari bahagia kita, aku mohon jangan menangis Baekhyun-ah" Tangan besar Chanyeol mengusap lelehan air mata yang berada dipipiku. Lalu aku mengangguk dan berusaha menghentikan tangisanku.
"Ayo kita make a wish lalu meniup lilinnya bersama" ujar Chanyeol lagi. Dan aku mengangguk paham.
Kami berdua memejamkan mata dan tangan kami saling menggenggam. Sambil merapalkan do'a dalam hati masing - masing lalu meniup lilin itu setelahnya.
"I Love You Chanyeol-ah"
"Me too Bekhyun-ah" selanjutnya Chanyeol memelukku.
Entah kenapa saat mendengar ucapan Chanyeol yang tak sesuai harapanku membuat hatiku kembali seperti diremas. Apa karena aku tak puas dengan balasan ucapan dari Chanyeol ? Entahlah. Tapi benar hatiku tak tenang saat itu, seperti ada yang mengganjal. Namun cepat - cepat aku buang, karena ini hari kami berdua. Hari yang harus kami buat sebahagia mungkin.
Chanyeol mengambil alih Cake yang ku bawa lalu meletakkan pada nakas tempat tidur. Tangannya menggenggamku erat lagi seolah tak ingin kehilanganku.
"Terima kasih untuk semuanya Baekhyun-ah. Terima kasih untuk semua kesabaran, pengorbanan dan Cintamu. Maaf jika aku belum bisa membalas semuanya. Maaf jika aku masih sering membuatmu menangis. Tapi jujur, aku benar sangat mencintaimu Baekhyun-ah. Aku tak ingin kehilanganmu untuk kesekian kalinya. Aku rasa aku tak akan sanggup hidup jika harus kehilanganmu. Mungkin aku akan gila"
Lagi, air mataku lolos turun pada pipiku hanya karena ucapan Chanyeol. Aku tak sanggup jika mendengarkan suara Chanyeol yang berat ditambah dengan kata - kata itu. Itu selalu berhasil membuatku menangis.
"Kau sudah sangat membuatku bahagia Chanyeol-ah. Kau yang terbaik untukku. Aku juga sangat mencintaimu. Lebih dari apapun. Dan dalam kondisi apapun aku akan selalu disampingmu. Aku tak akan pergi lagi darimu. Hiks"
Lalu Chanyeol memelukku erat, menciumi rambutku sangat dalam. Terdengar sedikit suara isak tangisnya namun berusaha ia sembunyikan.
"Sekali lagi terima kasih untuk semuanya Baekhyun-ah" Chanyeol berucap kembali dan aku hanya bisa menangis terharu.
Chanyeol mndekatkan bibirnya pada bibirku lalu menciumnya dalam. Tak ada nafsu, hanya ada ungkapan cinta didalamnya. Matanya terpejam menikmati cinta yang berusaha ia salurkan dari bibir kami. Akupun ikut memejamkan mata mencoba menerima saluran cinta dari bibir orang yang paling aku cintai.
Tangannya menarik bahuku lalu mendorongnya pelan agar berbaring pada tempat tidur. Bibirnya masih bergerak diatas bibirku dengan sangat perlahan. Temponya sedikit menuntut seperti meminta balasan.
Aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya. Menyamankan posisi dibawahnya.
Tangan Chanyeol mulai bekerja. Diawali dengan membelai rahangku dengan sensual lalu membuka satu persatu kancing piayamaku. Setelah piyamaku lolos dari tubuhku, tangan Chanyeol kembali bekerja. Membelai kulitku dengan perlahan dan itu memberikan efek yang cukup hebat untuk reaksi tubuhku.
Chanyeol melepaskan tautan bibir kami dan menuju pada leherku. Menjilati setiap inchi kulit leherku. Sesekali akan memberikan sebuh tanda kepemilikan.
Lenguhanku sudah lolos berkali - kali hanya karena belaiaan lidah Chanyeol. Lidahnya benar sangat dahsyat.
Setelah puas dengan leherku, Chanyeol beralih turun pada dadaku. Bibirnya melahap puting sebelah kananku.
"Eungh~~"
Tak hanya mengulum, Chanyeol sesekali akan menggigit putingku sensual dan tak lupa tangan kanannya membelai puting sebelah kiriku. Mencubit kecil dan memilinnya nikmat.
"Chanyeol-ahhh~~"
Tubuhku melengkung keatas tanda aku sudah benar - benar ereksi. Aku tak berani memandang tubuhku yang sudah mulai berantakan karena ulah Chanyeol. Itu sangat memalukan.
Chanyeol yang tahu betul dengan reaksi tubuhku, segera melepaskan bibirnya dari acara melahap putingku. Lalu turun kebawah kearah selatan tubuhku. Sudah terlihat jelas disana ada sebuah gundukan yang seerti berteriak ingin dibebaskan.
Tak butuh waktu lam, Chanyeol segera menarik turun celana piyamaku. Nampaklah gundukan yang masih terbalut kain berwarna hitam.
"Sudah tak sabar ingin dimanja heum~ ?" ucap Chanyeol seduktif sambil memainkan satu jarinya diatas tubuh selatanku yang sudah menegang keras.
Chup~
Chanyeol mencium penisku sebentar lalu menarik celana dalamku dalam sekli tarikan. Dan terpampanglah penis kebanggaanku yang sudah sangat basah akan percum.
Chanyeo menyeringai memandangi penisku yang sudah berkilau karena percum. Lidahnya Chanyeol julurkan dan membelai perlahan penisku.
"Eung~~ Chanyeol~~"
Bibirku sudah benar tak bisa terkontrol. Kedua tanganku menggenggam sprei untuk melampiaskan sebuah kenikmatan yang Chanyeol berikan.
Setelah puas menjilati penisku seperti ice cream, Chanyeol melahap penisku dengan cara sensual. Rasanya sangat nikmat ketika ronggakmulut Chanyeol membalut penis dinginku dan memberi sebuah kehangatan.
Tanganku kinipun beralih pada rambut Chanyeol dan meremasnya untuk melampiaskan kenikmatan.
Chanyeol kini menaik turunkan mulutnya pada penis meneganggku. Sesekali juga akan menghisapnya. Ini benar - benar nikmat bagiku. Meskipun Chanyeol sudah sering memberiku sebuah oral, tapi kali ini bertambah special karena bertepatan dengan hari jadi kita.
Lalu dikuluman 3 terakhir, aku mencapai klimaksku. Menyemburkan cairan kenikmatanku pada mulut Chanyeol. Dengan lahap Chanyeol menerimanya dan menelan habis sepermaku.
"Kau hebat Chanyeol-ah~ Terima kasih~"
"Sudah tugasku untuk memuaskanmu Beiby" balasnya lalu mengecup dahiku lembut.
Kini giliranku yang harus memuaskannya. Aku baru menyadarinya, sedari tadi Chanyeol masih menggunakan baju piayamanya lengkap. Sedangkan aku sudah full naked.
Tanpa berlama - lama pun aku segera membuka seluruh piyama Chanyeol lalu membuangnya asal. Mengulum lehernya untuk memberi sedikit rangsangan. Karena titik sensitif Chanyeol adalah leher dan telinga. Lalu berpindah pda dadanya. Menggerakan jariku sensual pada dadanya dan sedikit bermain dengan putingnya.
"Eumhh~~" geraman Chanyeol berhasil keluar saat aku menggigit putingnya pelan.
Tangan besar Chanyeol yang awalnya membelai punggungku, kini berusaha mendorong kepalaku agar menuju kebawah pada benda pusaka kebanggaannya.
Berbanding terbalik denganku, penis Chanyeol lebih besar 2x lipat dariku. Benar - benar sangat menggairahkan. Dan lagi, ini untuk yang kesekian kalinya, namun aku masih mengagumi penis Chanyeol.
Ku beri beberapa kali kecupan kupu - kupu pada penis tegangnya. Mengusap kedua bola kembarnya. Setelah itu, aku menggenggam penisnya dan kuarahkan penisnya masuk kedalam mulutku.
"Eungh~~ Baekhyun-ah~~"
Tangan Chanyeol bermain pada helaian rambutku. Bergerak random untuk melampiaskan keniknatan yangvsedang ia rasakan. Kadang sesekali, Chanyeol mendorong kepalaku agar mengulumnya lebih dalam.
Aku berusaha sebaik mungkin untuk memberikan service pada Chanyeol. Dari mulai memainkan bola kembarnya, menghisap penisnya dan sedikit bermain dengan lubang kencingnya. Ketika melakukan itu, aku akan sesekali melihat ekpresi Chanyeol dari bawah sini. Wajahnya benar sangat terlihat sexy. Keringat yang membanjiri pelipisnya menambah kesan sexy yang berkali - kali lipat. Dan itu adalah ekspresi favoritku.
"Baekhyun aku akhan~ keluarrhh" akupun menambah tempo hisapanku. Lalu dalam 5 hisapan terakhir Chanyeol melepaskan cairan kentalnya didalam mulutku.
"Akhhh~~~" tangannya menahan kepalaku agar tak lepas dari penisnya. Supaya spermanya tidak terbuang sia-sia. Akupun menerima cairannya dengan senang hati. Mulutku sampai tak sanggup menampung karena cairan Chanyeol sangat banyak. Beberapa meleleh dari bibirku dan turun menuju leherku.
Chanyeol yang melihat spermanya yang turun keleherku, langsung menjilatnya sensual. Membersihkan lelehan sperma yang berada dileherku dengan bibir sexynya. Tak hanya di leher, Chanyeol juga membersihkannya sampai bibirku.
"Ahh~~ Chanyeol~~" desahku saat Chanyeol tak berhenti mencecap leherku yang sudah basah akan air liurnya.
"Kau menyukainya Baekhyun ?" bisik Chanyeol pada telingaku. Aku mengangguk sebagai jawaban karena memang benar, aku sangat menyukai sentuhan dan segala perlakuan Chanyeol padaku.
Chanyeol kembali mencium bibirku kini dengan nafsu yang menggebu. Lalu ia membawa tubuhku untuk kembali berbaring diatas ranjang. Tangannya kembali bermain pada putingku dan mebelai kulitku yang sudah di banjiri keringat.
Chanyeol kini berada ditengah tubuhku. Membuka pahaku lebar - lebar dan memperhatikan lubang yang selalu memberikannya surga dunia.
Wajahnya mendekat pada belahan pantatku. Mengecup basah pada kedua bongkahan sintalku. Kini bibirmya beralih mencium hole ku yang sudah memerah berkedut minta dijamah. Chanyeol mengeluarkan seringaianya.
"Apakah kau sudah merindukan pasanganmu baby ?" ucap Chanyeol tepat didepan holeku.
"Yess dad. Aku merindukan penis besarmuuhh~~" jawabku sambil sesekali meremat sprei senagai pelampiasanku.
Chanyeol kembali menyunggingkan senyumnya. Bibirnya menciumi paha dalamku dan memberikan tanda disana. Lalu membenamkan kembali wajahnya pada belahan pantatku.
Rasa hangat terasa menerpa pada bagian holeku. Lidahnya membelai tanpa henti. Memberi kenikmatan tiada henti.
Dirasa holeku sudah sangat basah, Chanyeol mengganti lidahnya dengan satu jarinya.
"Ahhh~~" desahanku lolos saat jari telunjuk Chanyeol berhasil menerobos lubangku. Memaju mundurkan dengan tempo yang pelan namun nikmat.
Chanyeol menambah jumlah jarinya dan membuat gerakan menggunting. Meskipun kami sudah sering melakukannya, tapi Chanyeol akan selalu melakukan penetrasi sebelum bermain pada inti. Karena Chanyeol tak suka jika aku merasakan kesakitan.
"Akhh~~ Chanyeolhh~~ Disanahhh~~ hahh~~" aku merasakan jari Chanyeol menyentuh titik kenikmatanku. Tubuhku melengkung keatas saat kembali merasakan jari Chanyeol.
"Gotchaa. Aku menemukanmu sayang" bukannya melanjutkan, Chanyeol malah melepas jarinya. Akupun sudah hampir melayangkan sebuah protes karena kenikmatanku ditunda, namun belum sampai aku mengeluarkan suara, tiba - tiba sebuah benda tumpul langsung menusuk lubangku yang sudsh sangat bassh dengan kasar.
"Akkhhhh!" teriakku saat benda yang ku yakini itu adalah benda pusaka kekasihku.
Chanyeol tak langsung menggerakan penisnya melainkan malah menciumi pipi, mata dan bibirku secara bergantian. Mungkin itu cara oengalihan agar aku tak kesakitan. Aku menangkup wajahnya lalu mengusap rahang tegasnya dan memberikan satu anggukan tanda aku sudah siap.
Chanyeol mengecup sekilas bibirku sekali lagi lalu mulai menggerakan pinggulnya perlahan.
Meskioun aku sudah melakukan ini bersama Chanyeol berkali - kali, namun tetap saja, lubangku rasanya seperti tengah dikoyak oleh rudal.
"Eumhh~~" aku rasa Chanyeol sudah mulai kembali menemukan titik kenikmatanku, jadi Chanyeol sedikit lebih mempercepat tumbukan pinggulnya.
"Ahh~~ Chanyeolhh~~"
"Yashh Baby~~ Apa disanahh ?" tanya Chanyeol sambil tetap fokus pads ritme goyanganya. Kedua tangan besarnya yang berurat memegangi pinggulku untuk topangan.
Tiba-tiba penisku yang berdoyang sedari tadi berkedut tanda ia akan mengekuarkan sperma. Aku mencoba meraih penisku dan memberi sedikit sentuhan agar cepat mencapai klimaksnya. Namun sayang, belum sempat aku memegang penis mungilku, tangan Chanyeol sudah lebih dulu mendaptkannya kemudian memberi kocokan disana.
"Eunghh~~ Chanyeollhh~~" desahku semakin menjadi saat kedua titik sensitifku diberi service oleh Chanyeol. Ini benar sangat nikmat menurutku.
"Sudah mau keluar baby ?" tanya Chanyeol seduktif ditelingaku dan aku mengangguk. Mataku sudah tak biss terbuka karena terlaku menikmati surga dunia. Tanganku kini sudah membelai biseo kekar Chanyeol yang sudah dibanjiri oleh kringat.
"Bersama Babyhh~ "
Chanyeol lalu mempercepat tempo tusukkannya dan juga menambah tempo kocokkan pada penisku. Aku semakin melengkungkan tubuhku, ini terasa terlalu nikmat.
"Chanyeoollhhh~~"
"Akhh~~Baekhyun-ahh~~"
Lolongan kami saling bersautan sambil menikmati pencapaian masing - masing. Chanyeol menjatuhkan dirinya diatas tubuhku memelukku erat dan kembali memberi beberapa kecupan pada bibirku.
"Baekhyun-ah. Aku mencintaimu" ucapnya masih dengan nafas tersengal, namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aku juga mencintaimu Chanyeol-ah" dan aku juga mengecup bibir plumnya. Lalu ikut bergabung pada mimpinya dan melupakan satu hal yang tak pernah aku langgar.
-TOO LOVE-
TBC...
Hayy semuanya... Pinkue datang bawak Cerita baru nih 😆
Maaf yaa kalau aku belum Update My Secretary sama The Sincere Love. Otaknya lagi buntu sama mreka 😄
Tapi mereka berdua tinggal finishing Chap kok. Maybe tak update dalam minggu depan. Ditunggu yaaa.
Sebenarnya cerita kali ini mau tak jafiin OneShoot, tapi kok masih setengah cerita aja udah segini panjang 😆
Jadi aku putuskan untuk berChapter 😆
Maaf jika terlalu panjang yaaa. Semoga tidak bosen hihi 😆 Maaf juga kalau banyak typo.
Seperti biasa jangan lupa review di kolom komen karena komen kalian bisa jsfi semngat aku 😆
Selamat menikmati...
Salam Chanbaek is Real...
