A COURT OF MIST AND FURY(REMAKE HUNKAI)
By : Sarah J. Maas
•
•
•
•
Prolog
Mungkin dari dulu aku memang sudah rusak dan gelap sampai ke dalam-dalam.
Mungkin orang yang dilahirkan utuh dan baik akan meletakkan belati kayu ash itu dan memilih untuk menerima kematian ketimbang apa yang ada di hadapanku.
Darah ada di mana-mana.
Itu upayaku untuk tetap memegang belati erat-erat sementara tanganku yang berlumuran darah gemetar. Tulang-tulangku retak sedikit demi sedikit sementara mayat pemuda Peri Agung yang tergeletak di lantai pualam itu mendingin.
Aku tidak bisa melepaskan belati itu, tidak bisa bergerak dari tempatku di hadapannya.
"Bagus," tutur Victoria lembut di singgasananya. "Lagi."
Ada belati kayu ash lain yang menunggu, dan peri lain yang berlutut. Perempuan.
Aku sudah hafal kata-kata yang akan dia ucapkan. Doa yang dibacanya.
Aku tahu aku akan membunuhnya, seperti juga aku membunuh pemuda di depanku.
Demi membebaskan mereka semua, demi membebaskan Chanyeol, aku rela melakukannya.
Aku adalah pembantai mereka yang tak berdosa, dan penyelamat sebuah negeri.
"Kapan pun kau siap, Kai sayang," Victoria berkata lambat, rambutnya yang merah tua seterang darah di tanganku. Di atas pualam.
Pembunuh. Pembantai. Monster. Pembohong. Penipu.
Aku tidak tahu siapa yang kumaksud. Garis antara aku dan sang ratu sudah lama memudar.
Genggamanku melonggar, kemudian belati itu jatuh berkelontang di lantai, memercikkan genangan darah.
Menciprat ke sepatu botku yang sudah usang—yang tersisa dari kehidupan fana yang sudah lama berlalu, yang juga menjadi mimpi-mimpiku di saat demam beberapa bulan terakhir ini.
Aku menghadap wanita yang menunggu kematiannya itu, tudungnya menutup kepalanya, tubuhnya yang lentur diam terpaku. Bersiap bertemu akhir yang akan kuberikan kepadanya sebagai pengorbanan.
Kuambil belati abu kedua di atas bantal beledu hitam, gagangnya sedingin es di telapak tanganku yang hangat dan lembap. Para pengawal menarik tudung kepalanya.
Aku mengenal wajah yang menatap tepat ke arahku.
Mengenal mata biru keabuannya, rambut cokelat keemasannya, bibir tebal serta tulang pipi yang tajam itu. Juga telinga yang kini melengkung lemah, tangan dan kaki yang kurus kering, memancarkan kekuatan, segala ketidaksempurnaan pada manusia telah dipoles halus menjadi kecemerlangan abadi.
Mengenal kekosongannya, keputusasaannya, perubahan besar yang mengintip di wajah itu.
Tanganku tidak gemetar saat mengarahkan belati.
Saat kugenggam bahu kurus yang kuat itu, dan ku pandangi wajah yang dibenci itu—wajahku.
Lalu, kutusukkan belati kayu ash ke jantungku yang sudah menunggu.
•
•
Bab 1
Aku muntah di kloset, memeluk pinggirannya yang dingin, sambil berusaha menahan suara muntahku.
Sinar bulan yang menyelinap ke dalam kamar mandi marmer luas ini, menjadi satu-satunya penerangan sementara aku muntah habis-habisan tanpa bersuara.
Chanyeol tidak bergerak sama sekali saat aku melonjak bangun. Aku berlari ke kamar mandi, sebelum aku sempat membedakan gelapnya ruang sel Victoria dalam malam-malam panjang yang tak ada habisnya, saat keringat yang membasahiku terasa seperti darah peri-peri itu.
Aku sudah berada di sini selama lima belas menit, menunggu mualku reda, menunggu gemetar yang membelenggu ini surut dan menghilang, seperti riak air di kolam.
Sambil terengah, aku menguatkan diri di atas baskom kloset, menghitung tiap tarikan napas. Hanya mimpi buruk. Satu dari sekian banyak, tertidur dan terbangun, itu sudah menghantuiku selama berhari-hari.
Sudah tiga bulan sejak kejadian di Kaki Gunung. Tiga bulan sudah aku menyesuaikan diri dalam tubuh abadiku, menyesuaikan diri dengan dunia yang berjuang untuk menyatukan diri setelah dikoyak-koyak Victoria.
Aku berkonsentrasi pada napasku—masuk melalui hidung, keluar dari mulut. Berulang-ulang.
Setelah rasanya sudah selesai, aku menyingkir dari kloset—tetapi tidak jauh-jauh. Hanya ke dinding yang terjang -kau di dekat jendela retak, dari situ aku bisa melihat langit malam, sambil menapakkan tanganku ke lantai marmer nan dingin. Nyata.
Ini nyata. Aku selamat; aku berhasil lolos.
Kecuali itu hanya mimpi—sekadar mimpi saat demam di ruang bawah tanah Victoria, dan aku kembali terbangun di dalam sel itu, dan….
Kutekuk lututku ke dada. Nyata. Nyata.
Bibirku mengucap kata itu tanpa suara.
Aku terus mengulangnya sampai peganganku pada lutut terlepas, lalu kuangkat kepala. Rasa sakit merayapi kedua tanganku—rupanya aku mengepalkan tangan begitu kencang sehingga kulitku tertusuk kuku-kuku sendiri.
Kekuatan abadi lebih layak disebut kutukan daripada karunia.
Sejak kembali ke sini, sudah banyak peralatan makan perak yang rusak dan bengkok karena kusentuh, sering tersandung karena kakiku lebih panjang dan kuat sehingga Sunny memindahkan barang-barang berharga yang tak Tergantikan dari ruangan-ruanganku (dia kesal sekali gara-gara aku menyenggol meja tempat sebuah vas berusia 800 tahun), dan juga memecahkan—tidak hanya satu atau dua—lima pintu kaca hanya karena aku tidak sengaja menutupnya terlalu keras.
Sambil mendengus, kubuka jari-jariku.
Tangan kananku putih, mulus. Peri Agung yang tangan kiriku, untiran-untiran tinta gelap yang meliputi jari-jari, pergelangan tangan, lengan bawah sampai ke siku, meresap kegelapan ruangan ini.
Bagian mata yang terukir di tengah-tengah telapak tanganku seperti sedang menatap, tenang dan licik bagai kucing, garis pupil matanya lebih lebar dibandingkan tadi siang. Seolah-olah menyesuaikan dengan cahaya, sewajarnya mata.
Aku memelototinya. Kepada siapa pun yang mungkin mengawasi melalui tato itu.
Aku belum mendengar kabar apa pun dari Sehun selama tiga bulan di sini. Tidak satu bisikan pun.
Aku tidak berani bertanya kepada Chanyeol, atau Minho, atau siapa pun—takut kalau-kalau bisa mendatangkan Tuan Agung Negeri Malam itu entah bagaimana caranya, dan bisa mengingatkannya akan perjanjian bodoh yang kubuat di Kaki Gunung: satu minggu bersamanya setiap bulan sebagai imbalan telah menyelamatkan nyawaku saat di ambang kematian.
Namun, walau Sehun sendiri secara ajaib bisa melupakannya, aku tidak akan bisa. Begitu pula Chanyeol, Minho, atau siapa pun. Karena tato ini. Meski Sehun, pada akhirnya... tidak bisa dibilang sebagai musuh.
Musuh bagi Chanyeol, memang. Musuh bagi semua negeri yang ada, memang. Sedikit sekali yang melewati perbatasan Negeri Malam dan tetap hidup untuk bisa menceritakannya.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang ada di bagian paling utara Prythian -gunung dan kegelapan dan bintang-bintang dan kematian.
Akan tetapi, aku tidak merasa menjadi musuh Sehun saat terakhir kali bicara dengannya, beberapa jam setelah kekalahan Victoria. Aku tidak bilang kepada siapa-siapa tentang pertemuan itu, apa yang dia katakan kepadaku, apa yang aku ungkapkan kepadanya.
Berbahagialah dengan hati manusiamu, Kai. Kasihani mereka yang tak punya perasaan sama sekali.
Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat, menutup Pandangan mata itu, tato itu. Aku bangun dan berdiri, dan menyiram kloset sebelum berjalan pelan ke wastafel untuk membersihkan mulutku, lalu wajahku.
Andai saja aku tidak merasakan apa-apa.
Andai saja hati manusiaku berubah bersama bagian-bagian tubuhku yang lain, dibuat menjadi batu marmer abadi. Bukan bongkahan hitam koyak seperti yang sekarang, yang nanahnya menetes-netes dalam diriku.
Chanyeol masih tetap tertidur ketika aku pelan-pelan kembali ke kamar tidurku yang gelap, tubuh telanjangnya melintang di tempat tidur. Sejenak, aku hanya mengagumi otot-otot punggungnya yang kuat, cahaya bulan menerangi lekuk-lekuknya dengan indah, rambutnya yang keemasan kusut dibawa tidur karena jari-jariku menyugarnya saat tadi kami bercinta.
Untuknya, kulakukan itu semua—untuknya, dengan senang hati kukoyak diriku dan jiwa abadiku.
Kini, aku punya keabadian untuk menjalani itu semua.
Aku melanjutkan berjalan ke tempat tidur, tiap langkah makin berat saja, makin sulit. Seprainya sekarang sudah dingin dan kering, lalu aku berbaring pelan-pelan, menggelung sambil memunggunginya, memeluk tubuhku sendiri.
Napasnya dalam, teratur. Namun, dengan telinga periku... terkadang aku bertanya-tanya apa benar aku mendengar napasnya tersekat, meski hanya satu detakan jantung. Aku tidak pernah punya keberanian untuk menanyakannya saat dia terbangun.
Dia tidak pernah terbangun setiap kali mimpi buruk menarikku dari tidur; tidak pernah terbangun ketika aku muntah habis-habisan malam demi malam. Kalaupun dia tahu atau mendengarnya, dia tidak pernah menyinggung soal itu.
Aku tahu mimpi serupa mengejar-ngejar dalam tidur nyenyaknya, sesering aku lari dari mimpi-mimpi burukku sendiri. Pada mimpi pertama, aku terbangun dan mencoba bicara dengannya. Akan tetapi, dia menepis tanganku, kulitnya basah.
Dia pun berubah menjadi binatang buas berbulu, bercakar, bertanduk, serta bertaring. Semalaman dia menelungkup di dekat kaki tempat tidur, mengawasi pintu, juga bagian dinding berjendela. Sering kali dia begitu pada malam hari.
Sambil menggelung di tempat tidur, aku menarik selimut lebih ke atas lagi, mendambakan kehangatan di malam dingin ini. Sudah menjadi kesepakatan yang tidak terucap—tidak boleh membiarkan Victoria menang dengan mengetahui bahwa dia telah menyiksa kami saat bermimpi dan terjaga.
Memang lebih mudah jika tidak perlu menjelaskan. Tidak perlu menceritakan kepadanya bahwa meski aku sudah membebaskannya, menyelamatkan rakyatnya dan seluruh Prythian dari Victoria... aku telah merobek-robek diriku sendiri.
Kurasa, keabadian pun tidak cukup lama untuk memperbaiki ku.
•
•
•
Hai, Madam Oh kembali (secepat mungkin) ^.^ dengan book 2 dari Novel Sarah J. Maas. Lanjutan ACOTAR.
Di remake ACOTAR madam udah peringatkan , jangan terlalu benci sama Sehun atau kecewa kenapa yang jadi pasangan Kai adalah Chanyeol. Semua ada alasannya hehe
Karena Madam adalah HUNKAI lover gak mungkin dong gak mengutamakan mereka.
Cuss langsung aja baca-review ok!
Satu lagi, terima kasih atas dukungan kalian dengan hasil kerja madam yang gak seberapa ini. Love you guys
