Ace of Diamond /ダイヤのA © Terajima Yuuji
After Us © Aiko Blue
Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini
.
no matter how many clothes you take off
and even I tried to kiss the screen
our eyes simply won't meet
(Sarishinohara)
Seorang anak laki-laki yang naif
Sibuk menulis lirik di tengah-tengah jam pelajaran
Terjaga sepanjang malam, bermain gitar sampai jariku melepuh
Dengan penuh percaya diri, tersenyum di depan panggung pertamaku
Acara pentas seni, festival sekolah, bahkan di tengah kota yang ramai
Memetik gitar dan bernyanyi, bergaya layaknya seorang pro
Aku amatir, tapi aku ingin seluruh dunia mendengar musikku
Dengan cangung mulai mencoba bernyanyi di depan cermin
Melatih tatapan mata dan senyumanku agar tampak memikat
Kazuya membuang napas dan melepas kabel earphone yang menggantung di telinganya. Lagu itu hanya membuatnya semakin tenggelam dalam arus kenangan, melahap jiwanya perlahan-lahan menuju titik beku yang tak bisa ditembus tidak peduli setajam apa rindu di hatinya. Rekaman suara dan petikan gitar dari lagu pertama yang Sawamura Eijun kirimkan padanya enam tahun yang lalu. Jauh sebelum pemuda bermanik emas itu bersinar dan berdiri di panggung yang terlalu tinggi untuk dapat Kazuya raih.
'Ahh, come girl!'
Ia mendongak spontan begitu mendengar suara itu, layar media digital dalam gerbong kereta menampilkan cuplikan sosok Eijun yang bernyanyi pada konser musim lalu. Satu tangan terulur, senyum asimetris, tatapan mata agresif.
"Kyaaaa! Itu kan A-GAIN!"
Kamera yang menyorot sosok Eijun mundur, lalu frame terisi oleh empat orang pemuda yang masing-masing berpakaian dominasi hitam. Mata Kazuya lurus menatap Eijun. Keringat membasahi tubuhnya, rambutnya basah, membingkai wajahnya menjadi lebih tegas. Ia merenggangkan kaki, berdiri mengangkang, memejamkan mata dan membuat sebuah gerakan sensual dengan membuka mulut sedikit, menjulurkan lidah, lalu menjilat bibir. Lalu kamera menyorot ke arah Sanada Shunpei.
"AAAAA! Leader-sama!"
"Aku stand semuanya!"
"Ei-kun!"
"Astaga! Dia selalu bersianar-sinar!"
"Jelaslah, dia itu center, main vocal, sub rapper juga!"
Kazuya melihat beberapa gadis SMA mulai sibuk menunjuk-nunjuk layar dengan histeris begitu sosok Eijun muncul, sekumpulan gadis remaja dengan antuaiasme tinggi yang mendedikasikan diri sebagai penggemar, pemuja, pencinta seorang Bintang Idol berusia dua puluh dua tahun itu.
Wajah Eijun kembali memenuhi frame—
'Say it! Bagian yang kau mau? Wajahku, tubuhku, kekayaanku, come girl!'
—satu tangan membuat gerak tarian meraba tubuhnya sendiri mulai dari bagian perut, naik terus sampai ke dada, dan merambat ke bagian leher lalu berakhir mengusap bibir dengan jari-jarinya seduktif.
'kan ku berikan semuanya demi satu malam sempurna bersamamu.. Ahh, kiss me..'
"Yabai! aku bisa hamil karena dengar suaranya!"
"Sejak album WILD stylenya jadi berubah seksi dan dewasa! Kokoro ini menjerit!"
"Dulu dia bikin diabetes, sekarang kejang-kejang!"
"From Baby to Daddy! Ugh, aku tidak sabar lihat mereka comeback!"
Kazuya mendengus kecil, tersenyum kosong memandangi sosok Eijun yang bersinar di bawah lampu sorot, di tengah lautan penggemar yang bersorak untuknya. Sosoknya berkilauan di atas panggung, tatapan matanya, senyuman di bibirnya, gestur tubuhnya, bahkan gerakan sederhananya saat mengedipkan sebelah mata dan memberi finger heart benar-benar menunjukkan pesona sejati seorang super idol.
Ia mencoba mencari-cari kesamaan antara sosok Eijun yang sekarang dengan Eijun yang dikenalnya saat SMA. Sawamura Eijun yang dengan begitu naif bercerita tentang mimpinya untuk menjadi penyanyi, seorang remaja laki-laki yang sering tertidur di tengah jam pelajaran karena begadang sepanjang malam demi membuat lagunya sendiri, seorang yang selalu terseyum lebar padanya, cemberut, merengut marah, atau juga menjulurkan lidah saat Kazuya mencoba menggodanya, Eijun yang sering mengatakan hal konyol, bertindak impulsif di luar dugaan, dan menghibur banyak orang dengan kepolosannya.
Sawamura Eijun yang menggigiti kukunya tiap kali merasa gugup sesaat sebelum bernyanyi di depan banyak orang. Sawamura Eijun yang menangis di bahu Kazuya saat ia merasa mimpinya semakin jauh dan mustahil diraih. Sawamura Eijun yang merajut satu demi satu langkah dan asanya demi meniti pijakan yang pasti. Sawamura Eijun yang menjadi cinta pertamanya.
Dan Kazuya lagi-lagi sampai pada suatu titik dimana ia menyadari betapa cepat waktu berlalu dan segala hal berubah seratus delapan puluh derajat. Sawamura Eijun yang dulu sedekat nadi, kini sejauh matahari.
...
Lorong itu sepi. Kedua dinding yang mengapit tangga dipenuhi poster-poster konser salah satu band rock terkenal yang mulai memudar dan mengelupas, ada pula beberapa selebaran iklan makanan yang menguning diamakan usia.
Eijun memastikan masker menutup wajahnya dengan sempurna, memperbaiki letak kacamatanya, dan menurunkan bagian depan topinya agar tak seorangpun bisa melihat wajahnya. Sol sepatunya memijak satu demi satu anak tangga menuju stasiun bawah tanah. Secara otomatis menundukkan wajahnya ketika melihat beberapa orang berjalan dari arah yang berlawanan, ia jelas harus ekstra berhati-hati jika tak ingin tertangkap basah. Sedikit menyesali kecerobohannya yang lupa membawa ponsel, tentunya ia bisa meminta Chris atau Kuramochi menjemputnya daripada harus mempertaruhkan keselamatan dan reputasinya dengan mengendarai kereta bawah tanah pada malam hari seperti ini.
Saat mencapai anak tangga terakhir ia mendesah kecil lalu mengeluarkan JR Pass, bergegas menuju gate card sampai langkahnya terhenti begitu matanya menemukan...
Miyuki Kazuya.
Jantungnya merindukan sosok itu begitu dalam. Napas Eijun yang memburu berubah menjadi jeda panjang yang menghantam paru-parunya. Mengikis sisa kewarasan dan kendali diri yang selama bertahun-tahun berusaha ia bangun sekuat tenaga. Kedua telapak tangannya mengepal tanpa sadar, begitu kuat hingga buku-buku jarinya kebas dan memutih.
Sosok Kazuya berdiri dengan jaket merah gelap, menggenggam satu cup kopi panas dan sedikit bersandar pada dinding, sesekali melirik ke arah jam tangannya seolah memastikan waktu. Eijun melangkah mundur tanpa sadar, sepatunya menghantam pintu vending mechine, menyentaknya ke atas kenyataan, mengingatknya untuk menarik napas dan tidak remuk redam.
Miyuki Kazuya terlihat jauh lebih tampan dari yang terakhir kali berhasil Eijun ingat. Pemuda itu sudah tumbuh menjadi seorang laki-laki dengan perawakan masukulin dan pesona kedewasaan. Kazuya menampilkan ekspresi bosan dan tak tertarik, bentuk ekspresi yang membuat Eijun kesal selama bertahun-tahun, tapi pada akhirnya juga yang membangkitkan rasa sayangnya. Di tulang hidungnya masih bertengger kacamata berlensa minus. Namun kali ini Eijun menyadari bingkainya terlihat jauh lebih elegan dan serasi dengan perawakannya. Rambut Kazuya yang berwarna coklat terang tersibak ke samping, seolah dia baru saja pulang selepas jalan-jalan di pantai atau berlari menembus angin malam. Kazuya terlihat lebih tampan dari enam tahun lalu—rahangnya lebih tegas, kulitnya lebih kecoklatan, tubuhnya lebih tinggi, lebih kekar dan berotot.
"—Kazuya…"
Bibirnya bergetar, suaranya berbentuk bisikan penuh termor yang bahkan tak sampai dengan jelas ke telinganya sendiri. Eijun terlalu terpenjarat sehingga tak sanggup bergerak. Ia merasa andaikan dirinya semakin dekat dengan Kazuya, seluruh molekul di tubuhnya akan terbakar lalu lenyap menjadi abu. Tapi kerinduan dalam dadanya membuncah seperti tumpahan gelombang tsunami, meraung, dan mengamuk, menyapu seluruh darahnya dan memaksanya untuk berlari menerjang juga memeluk Kazuya detik ini juga. Eijun mulai melangkah perlahan, kakinya terasa berat, tertatih seolah bola-bola besi melilitnya. Ia melepas satu tali masker dari daun telinganya, bernapas sesak menghampiri sosok Kazuya,
"Miyuki-kun!"
—langkahnya terhenti.
Eijun kembali berdiri diam. Ia melihat Kazuya menoleh ke arah suara yang menyerukan namanya, lalu tersenyum hangat. Senyuman yang Eijun rindukan. Seorang wanita muda berpenampilan anggun berlari kecil menghampiri Kazuya dengan wajah tersenyum manis.
"Maaf menunggu lama." Wanita itu berkata begitu sampai di hadapan Kazuya, matanya memandang penuh penyesalan. Kazuya mengulas senyum kecil, menggeleng tipis, lalu menggerakkan tangan untuk mengusap puncak kepalanya.
Napas Eijun tercekat. Kakinya melangkah mundur. Matanya lurus menatap Kazuya yang masih berinteraksi manis dengan wanita yang tidak dikenalinya. Relung hatinya terbakar oleh kemarahan dan rasa sakit. Dan Eijun membiarkan jantungnya hangus dalam api kecemburuan.
"Hei, bukankah orang itu mirip Eijun-kun?"
"Eijun?"
"Sawamura Eijun, maksudku. Member A-GAIN! Idol terkenal itu."
Eijun terbangun dari badai yang melanda batinnya. Dengan cepat memasang kembali masker untuk menyembunyikan wajahnya sebaik mungkin dan bergeras pergi. Masuk dan berdiri di sudut salah satu gerbong. Membiarkan laju kereta membawanya menelusuri rel-rel panjang. Menjauh—untuk ke sekian kalinya—dari sosok Miyuki Kazuya.
Namun Eijun selalu membiarkan semua kenangannya tetap mengikuti, tak lepas, dan menghantuinya sepanjang waktu.
...
"APA KAU SUDAH GILA?!"
Bentakan kasar Kuramochi Youichi sama sekali tak berhasil membuat Eijun mengangkat wajah, ia tetap menunduk, tenggelam dalam dunia yang berubah gelap.
Kuramochi mendengus kasar. "Harus berapa kali aku ingatkan padamu? Terlalu berbahaya jika kau keluar sendirian begitu! Kau bahkan tidak membawa ponselmu! Kau ini sudah bosan hidup? Atau kau berniat membunuh kami karena depresi, hah? Kau dengar aku, Bocah?!"
Telapak tangan Eijun mengepal kuat, tak bisa berhenti bergetar. Ia melepas beberapa aksesori cincin dari jari-jarinya dan meremasnya dalam telapak tangan, mencoba tetap tenang selagi Kuramochi berdiri berkecak pinggang tepat di hadapannya, menyemburkan omelan putus asa dan tatapan penuh rasa marah.
"Oi, jawab aku!"
Eijun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Selama enam tahun ia berpisah dari Kazuya, kini akhirnya ia bisa melihat Kazuya lagi, dan sesuatu terjadi pada perasaannya. Perasaanya semakin lama semakin pedih—seakan ia sedang sakit parah dan dipaksa hidup tanpa obat penyambung nyawa. Kini Eijun tidak yakin mana yang lebih memilukan—hidup tanpa Kazuya sambil terus dilanda kepedihan itu, atau melihatnya menjadi milik orang lain.
"SAWAMURA EIJUN!"
Kemarahan Kuramochi kian memuncak karena merasa tidak digubris. Chris bangkit, berdiri di sebelah Youichi lalu menepuk bahu pemuda itu, menahannya agar tidak kelepasan menghajar.
"Tahan dirimu, Kuramochi." Suara Chris terdengar tenang, penuh kesabaran.
Kuramochi masih menatap Eijun penuh kemarahan sebelum akhirnya membuang napas kasar. "Tch, sebenarnya kapan kau akan dewasa?"
Eijun bisa melihat bayangan Kuramochi mulai mundur, lalu mendudukkan diri tepat di sofa yang bersebrangan dengannya. Sementara Chris masih berdiri tepat di hadapannya dan Eijun menolak mencari tahu seperti apa pandangan yang Chris berikan padanya saat ini. Ia tidak punya niat bahkan sekadar untuk mendongak dan bertemu dengan sepasang mata amber milik Chris.
"Kau bertemu seseorang?" Chris bertanya dengan hati-hati, tapi rekasi Eijun luar biasa. Tubuhnya bertambah kaku dan matanya melebar tanpa punya titik fokus. Urat-urat di lehernya menegang hingga denyut nadinya terlihat jelas.
Kuramochi memasang telinga dan postur waspada. Matanya lekat memandangi Eijun, menanti kalimat atau respon sekecil apapun yang akan meluncur dari mulutnya.
Chris mengambil duduk di sebelahnya. "Pacarmu saat SMA?"
Eijun menggerit, cincin-cincin dalam genggaman tangannya terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara dentingan yang memecahkan gendang telinganya. Reaksi itu, sudah lebih dari cukup sebagai sebuah jawaban atas pertanyaan Chris sebelumnya.
"Hei, Bocah." Kuramochi mendesah panjang, lalu berjalan dan mengambil posisi duduk di sebelahnya. Kini Eijun diapit oleh Chris dan Kuramochi sekaligus. "Kau ini Idol paling menyedihkan yang pernah aku temui, kau tahu?" Kuramochi berkata, nadanya terdengar seperti gurauan pahit. "Kau menempati predikat nomor satu sebagai Idol yang bisa membuat orang-orang tersenyum dan bahagia hanya dengan melihatmu. Tapi lihat, pada kenyataannya kau bahkan tidak bisa membahagiakan dirimu sendiri."
Chris tertawa kecil. "Benar, dan ini membuat kami merasa seakan manager jahat yang berusaha memeras bakatmu tanpa memperhatikan perasaanmu."
Eijun menoleh cepat, memandang mata Chris lurus-lurus. "Itu tidak benar!"
Chris tersenyum lembut, sedangkan Kuramochi mengacak rambutnya asal. "Dulu aku selalu bertanya-tanya apa yang membelengu jiwamu. Kau begitu kuat, bersinar, dan penuh pesona di atas panggung. Tapi di balik semua itu, kau rapuh, redup, dan mati. Sampai akhirnya aku paham bahwa kau selalu dihantui oleh sesosok bayangan masa lalu."
Eijun menunduk lagi, menggumamkan kata maaf berulang kali dengan kacau.
"Kau bukan anak remaja lagi." Suara Kuramochi memelan. "Aku tidak pernah tahu sehebat apa cinta pertamamu itu, tapi terimalah kenyataannya. Dunia kalian sudah berbeda. Kau dan dia punya jalan masing-masing sekarang. Tidak seharusnya kau terus menoleh ke belakang, sementara di depan matamu masa depan yang cerah sedang menanti."
"Kau memulai debut di usia yang masih sangat muda. Saat anak seusiamu bebas menjalani masa-masa remaja mereka yang penuh warna, kau sudah bekerja keras demi meraih impianmu. Tentu saja, jauh di dalam hatimu, kau pasti iri dan merasa penasaran dengan kehidupan yang normal."
Eijun menunduk lagi. "Aku tidak menyesal." Ia berkata pelan. "Aku sama sekali tidak menyesali jalan yang aku ambil. Setiap langkah, sampai audisi, menjadi trainee, debut, rookie, dan sampai ke titik ini. Aku bahagia."
"Seharusnya memang begitu." Kuramochi menyahut. Tatapan matanya sedikit melunak, selunak batu, alih-alih baja. "Tugas seorang idol adalah membuat orang-orang bahagia. Tapi sebelum itu, penting bagimu untuk merasa bahagia juga."
"Jangan salah paham," Chris menimpali. "Kami peduli padamu. Kau bukan hanya artis muda berbakat yang penuh potensi bagi kami. Kau sudah seperti adik sendiri. Jadi jika kau punya masalah, kau bebas menceritakannya pada kami."
Kuramochi menghela napas panjang. "Aku marah karena aku khawatir padamu, Baka. Di luar sana kau punya banyak penggemar yang fanatik, jika kau sampai ketahuan sedang keluyuran sendiri malam-malam, itu sangat berbahaya."
"Maaf…"
Chris mengusap bahunya, memberi gestur menenangkan sekaligus penyemangat yang sederhana. "Kau sudah makan?"
Eijun menggeleng. "Aku sedang diet. Lusa ada pemotretan GUCCI."
Chris memandanginya seolah ingin memberi pelukan. "Setidaknya minum suplemen agar kau tetap punya tenaga."
"Aku mengerti."
"Kalau begitu kau sebaiknya bersih-bersih, mandilah air hangat, lalu tidur. Aku akan membangunkanmu besok jam sepuluh, kita akan mengambil penerbangan siang ke Okinawa."
"Bagaimana dengan member lain?"
"Mereka kami paksa tidur satu jam yang lalu. Besok hanya kau yang terbang ke Okinawa, ini jadwal pribadimu." Kuramochi menyandarkan punggungnya ke sofa lalu mendesah berat. "Ku pikir semakin kalian dewasa, semakin ringan pula tugasku. Tapi nyatanya apa? Masalah jet-lag Satoru semakin tidak tertolong, Sanada terus menerus dirumorkan berkencan dengan macam-macam artis, Mei uring-uringan tiap kali ada artikel yang membanding-bandingkannya dengan rapper lain. Lalu kau? Sibuk berperang dengan hantu."
Eijun memanyunkan bibir. "Dia bukan hantu."
"Bagiku dia hantu." Kuramochi berkeras. "Hantu yang tidak pernah kulihat wujudnya, bahkan ku tahu namanya. Hantu yang selalu menggentayangimu setiap waktu."
Eijun menyerah, malas mendebat. "Bagaimana dengan tawaran main drama itu?"
Kuramochi memijat pelipisnya seolah pening mendapat pertanyaan itu. "Aku berhasil meyakinkan pihak agensi untuk menyerahkan keputusan padamu. Terajima PD juga setuju."
Eijun nyengir kecil. "You-chan hebat, sudah bisa merayu Tera-PD."
Alis Kuramochi berkerut mendengarnya. "Apa itu bentuk sarkasme?"
"Tentu saja bukan."
"Pemberontakan? Anomali? Konotatif?"
Eijun nyengir lagi dan menggeleng. "Aku sudah baca singkatan skripnya, itu tidak buruk. Aku bersedia menerima tawaran drama itu."
Baik Kuramochi dan Chris sama-sama mengerjap. "Kau yakin?"
Eijun mengangguk lugas. "Yep. Aku tahu penting bagi seorang idol untuk menyenangkan para penggemar. Tapi lebih penting ketika bisa menyenangkan agensi dan Bos Besar. Aku ini center, tapi yang jadi anak emasnya Tera-PD selalu Furuya Satoru. Rasanya seperti aku adalah main character yang dinistakan."
Chris meringis. "Kau ini sedang menyindir atau bagaimana?"
"Tapi serius," Kuramochi terdengar tidak bercanda. "Ini drama series, dua puluh episode. Bukan mini series seperti yang pernah kau lakukan. Pasti lebih melelahkan, kau yakin?"
Eijun memberinya cengiran lugu. "Tentu. Bukankah kalian sendiri pernah bilang aku ini rakus? Aku mau mencoba semuanya."
Chris dan Kuramochi saling tatap, berdiskusi lewat tatapan mata sebelum kemudian sama-sama menghela napas panjang dan mengangguk. Chris berdiri, ia meletakkan satu map coklat di atas meja kaca. "Ini hasil rekaman untuk single solo barumu dan ada juga rekaman album baru A-GAIN! member lain sudah mendengarnya. Kau dengarkanlah, dan segera beritahu kalau merasa kurang puas."
Eijun menatap map itu dengan tatapan kosong sebelum mengangguk sebagai respon. Dan tak butuh sampai satu menit kemudian ruangan itu telah sepi. Chris dan Kuramochi sama-sama keluar dan menutup pintu untuk memberinya privasi. Membiarkan Eijun sendirian dalam ruangan sunyi, sementara kepalanya dihantui beragam pemikiran dari segala arah yang berbeda.
Album baru, promosi, syuting MV, pemotretan album, menghapal koreografi baru, comeback stage, wawancara, fansmeeting, sampai kemudian tour concert ke berbagai tempat. Eijun menghela napas panjang, bersandar pada sofa, lalu mendongak menatap langit-langit. Ia mengangkat tangan memandangi jari-jarinya. Sudah enam tahun ia berada di industri hiburan, enam tahun ia merasakan pedihnya banjir caci maki, rasa sakit, darah, keringat dan air mata sampai akhirnya bisa berdiri di titik ini, enam tahun dan musiknya telah didengar banyak orang, diterima banyak kalangan. Enam tahun, dan puluhan lagu berhasil ia ciptakan dari jari-jari itu. Enam tahun, dan list impiannya tercapai satu demi satu.
Juga, enam tahun, sejak terakhir kali ia merasakan jari-jari Kazuya dalam genggamannya.
Eijun tersenyum sendu. Single solo terbarunya berjudul GHOST bukan tanpa alasan. Kuramochi benar, selama ini Eijun terus berperang dengan hantu. Hantu yang membelenggu hatinya, membatasi perasaanya, dan tak membiarkan dirinya lolos atau bebas jatuh cinta. Hantu itu bernama Miyuki Kazuya.
...
"Kau berkencan dengannya?"
Kazuya menoleh saat mendengar pertanyaan Nabe. Ia mengangkat sebelah alis, mengerutkan kening keheranan. "Siapa?"
"Gadis dari Manajemen itu."
Kazuya makin mengerutkan kening. "Kenapa kau bertanya?"
Nabe mendelikkan bahu. "Ku perhatikan kalian cukup dekat belakangan ini."
Kazuya menyadari sebersit rasa cemburu dalam suaranya, tapi ia memilih untuk tidak mengungkit. Lagi pula, bukan lagi menjadi rahasia bahwa pemuda berpotongan undercut itu menyimpan rasa padanya. Nabe sendiri sudah mengakui secara terang-terangan.
"Dia client ku."
"Dia menyukaimu."
"Bukankah kau sudah tahu perasaanku?"
Nabe tersenyum sarkas. "Yeah, kau masih mencintai satu orang yang sama."
"Well, bukan salahku kalau aku ini terlalu setia."
"Setia kepada kenangan." Timpal Nabe. "Kenangan yang terus kau hidupkan berulang-ulang." Ia menarik sudut bibirya ke atas, memberi senyuman mengejek.
"Kau membicarakannya seolah dia sudah mati."
"Seharusnya dia memang sudah mati. Kalian sudah berpisah, dan tidak ada gunanya untukmu terus memikirkannya, bukankah begitu?"
Kazuya tertawa getir. "Dia muncul ke manapun aku melangkah, dia ada dimanapun aku berpijak, aku masih mendengar suaranya, melihat wajahnya."
"Tapi cerita kalian hanyalah sebuah kenangan. Dan kenangan itu hanya hantu di sudut pikiranmu. Selama kau hanya diam dan tidak berbuat apa-apa, selamanya dia tetapa jadi hantu. Kau sendiri yang harus mengusirnya."
Aku tidak bisa, batin Kazuya menjawab. Ia tidak mungkin sanggup mengusir kenangan tentang Sawamura Eijun yang melekat dalam memorinya. Sampai kapanpun, ia tidak akan pernah tega membuang semua itu.
"Seperti apa dia?"
Kazuya tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia mengamati wajah Nabe yang tenang, mencoba mencari seberapa dalam kesungguhan dari pertanyaan yang baru saja meluncur ringan dari belah bibirnya.
"Kau tidak pernah bertanya tentangnya, satu kalipun. Kenapa?"
Nabe tersenyum begitu samar. Sebuah senyum seperti hanya mengendurkan sudut bibirnya. Sebuah senyum yang bahkan tak sampai menyentuh kedua matanya.
"Pada awalnya, hanya menyebut namanya bahkan secara diam-diam, membuatku merasa bahwa dia hidup kembali. Ku pikir jika aku tidak menyinggungnya, dia akan hilang dari pikiranmu. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa itu tidak akan terjadi. Aku sadar bahwa aku tidak bertanya karena aku iri. Aku tidak ingin membuatmu berpikir aku cukup peduli tentangnya dan bertanya. Dan akhirnya menjadi jelas bahwa rasa cemburuku ini tidak berarti apa-apa buatmu. Aku tetap akan sakit hati selama kau tetap memeliharanya dalam hatimu."
Kazuya memandanginya dengan serius. "Jadi kenapa sekarang?"
Nabe tertawa datar. "Miyuki, memangnya rasa sakit apa lagi yang bisa ditimpakan oleh bayangan Sawamura Eijun kepadaku? Rasa sakit jenis apa yang belum pernah kau berikan selama bertahun-tahun saat aku mencintaimu secara sepihak?"
...
Kazuya duduk bersandar di ranjangnya. Melirik dan memandangi sebuah paket yang baru saja sampai. Ia sudah tahu apa isinya. Ia sendiri yang memesan barang itu secara online. Album A-GAIN! album Eijun bersama idol grupnya yang rilis musim lalu.
Selamat, Miyuki Kazuya! Sekarang kau seorang fanboy! Ia tertawa getir lalu membuka lapisan kertas pembungkus paket dan mengeluarkan isinya. Cover depan albumnya tidak menampilkan wajah para member A-GAIN! sama sekali, hanya didominasi oleh warna hitam dan merah, dengan tulisan tegas hologram keperakan membentuk kata WILD serta sub judul di bawahnya berisi sepenggal kalimat dengan tulisan lebih kecil it's life in every inside of us, let it be.
Kazuya membuka segel plastiknya, album itu bukan hanya berisi CD music, tapi juga beberapa merchandise, juga foto-foto dari keempat member A-GAIN! Kazuya mengabaikan foto tiga orang lainnya, ia mengambil semua foto-foto Eijun lalu memandadanginya satu demi satu. Kazuya sampai di salah satu foto kemudian tertegun. Eijun duduk di atas sebongkah batu besar, cahaya bulan perak jatuh ke tubuhnya. Ia memakai setelan baju serba hitam, kemejanya hanya setengah terkancing, rambutnya dicat dengan warna ungu gelap, ditata sedikit berantakan, dan ia menatap tajam ke arah kamera. Memakai softlens dengan warna semerah darah, seolah-olah setiap perayaan valentine di seluruh dunia telah diperas hingga kering, disuling menjadi satu campuran beracun, dan disuntikkan ke bola matanya. Wajahnya tampan, tetapi juga keras. Tatapan matanya menghujam jantung Kazuya, seakan ia telah menemukan tempat yang tepat untuk membidikkan pisau selanjutnya. Memberi rasa sakit kelanjutan yang akan ia timpakan kepada Kazuya lagi dan lagi.
Kazuya teringat percakapan pada gadis remaja di kereta beberapa hari yang lalu. Mereka sempat membahas visual Eijun yang berubah gila-gilaan semenjak album ini. Dan Kazuya diam-diam sepakat. Image ceria, chubby, kekanakan, dan kelebihan semangat yang dulu selalu dilihatnya dalam diri Eijun kini berganti menjadi image boyish tampan. Matanya yang selalu berbinar-binar kini berganti menjadi tatapan tajam menusuk yang membuat siapapun luluh lantak dalam pesona maskulinitasnya. Kazuya tersenyum sendu, jarinya menelusuri bentuk rahang Eijun di dalam foto. Tak ada lagi bukti nyata bahwa dulunya ada sepasang pipi gembil yang selalu ia cubit di sana.
Inikah yang kau inginkan, Eijun?
Kazuya bertanya tipis, suaranya mengabur tertelan kehampaan. Ia meletakkan semua foto Eijun di atas bantal, ia lalu membuka kotak CD dan mengeluarkan kepingan di dalamnya. Kazuya memutar video klip pertama. Menatap layar laptopnya lekat-lekat tiap kali sosok Eijun muncul mengisi frame.
Baru dua menit, tombol pause ditekan. Klip terhenti, tepat menampilkan sosok Eijun yang sedikit menoleh ke samping, kedua matanya terpejam, sementara bayang-bayang membentuk pantulan misterius di wajahnya. Pegangan Kazuya ada laptopnya mengerat tanpa sadar, bibirnya terkatup kaku, dan hatinya dihempas ombak rindu yang menciptakan korosi pada tameng kewarasannya.
Kedua tangannya membawa layar mendekat, kepalanya maju, mata Kazuya nyalang menatap layar. Barangkali Nabe benar. Kenangan hanyalah hantu di sudut pikir. Dan selama ini, ia telah memelihara cinta pada kenangan, pada wujud yang tak lebih dari bayangan, sekalipun Eijun adalah bayangan terindah yang pernah hidup dalam hatinya.
Kazuya memejamkan mata. Meresapi perih yang merasuki sel tubuh, membisik—
"Aku merindukanmu…"
—dan setitik kewarasan yang tersisa di kepalanya hangus terbakar saat Kazuya maju untuk menempelkan bibirnya ke layar. Menciumi sosok Sawamura Eijun yang tak bisa ditemuinya secara langsung.
tbc
a/n: apalah saya kok seneng banget bayangin Kazuya sampe maniac nyiumin laptop/wei. Sebenarnya ini ada kelanjutannya, cuma saya nggak yakin apa ada yang suka sama cerita model gini, jadi kelanjutannya akan saya publish kalau ada yang minta :v
terima kasih sudah membaca, saya tunggu di kolom review/modus!
