© 2015 Akizuki Kiriya
Hello, Shooting Star
by Kiri-chan
Karena bagi Karma, meski sahabatnya adalah cahaya yang menyilaukan, Nagisa bukan matahari yang secara natural selalu bersamanya setiap kali membuka mata di pagi hari. Dan bagi Asano, di antara awan kegelapan kelas E, si bocah biru Shiota setidaknya terlihat seperti cahaya kecil yang berkilat sekilas.
Disclaimer : Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui
Karma/Nagisa/Asano. Shounen-ai, Romance, Friendship. Possibly OOC. Don't Like Don't Read.
~ Chapter 1 ~
oOo
Jatuh cinta itu hal yang tidak tahu tempat dan tidak tahu aturan.
Asano Gakushuu mana sempat mengurusi hal semacam itu. Otaknya yang logikal tidak bisa terima saat Sakakibara Ren dirundung rindu ingin bertemu gadis cantik di atas gunung misalnya. Itu menjijikkan. Karena secantik-cantiknya wanita, apalagi kalau otaknya kacau macam penghuni kelas 3E yang di atas gunung itu, tidak akan ada bedanya dengan fauna yang dipamerkan di kebun binatang. Contoh konkritnya, burung merak itu cantik. Tapi manusia sinting mana yang mau menikahi burung merak? Itu yang ada di pikiran Asano saat menatap rendah Sakakibara yang sempat bernafsu ingin menjadikan Kanzaki atau siapalah itu namanya jadi maid pribadinya.
Asano bisa maklum bila Sakakibara ingin menjadikan gadis 3E itu sebagai peliharaan.
Tapi walaupun hanya sebagai peliharaan, tetap saja…
Halo?
Murid kelas 3E?
Yang benar saja, kawan.
Buku tebal di tangannya nyaris melayang saat sang cassanova dengan poni separo menjuntai itu bergumam dengan penuh kekaguman jika si Kanzaki-atau-siapapun-itu adalah 'mutiara di antara para babi'.
Rasa asam naik ke tenggorokan Asano. Mual. Jika ada mutiara di kelas 3E, itu sudah pasti imitasi. Plastik. Palsu. Fatamorgana.
Dunia Asano yang terhormat tidak perlu ilusi. Semuanya mesti berpatok pada realita. Sebagai seseorang dengan martabat tinggi, masalah jatuh cinta ini harus ditempatkan dengan wanita yang sederajat pula. Asano membayangkan saat dewasa nanti, dia akan menaruh hatinya pada wanita dengan kecantikan luar dalam dari keturunan keluarga bangsawan. Dengan syarat utama, kecerdasan wanita itu harus mengimbangi level otak brilian si Asano junior.
Tipe idealnya telah terencana, tersusun rapi tanpa cacat. Siap mengeliminasi semua wanita yang tidak sesuai dengan syarat pilihannya.
Jadi Asano Gakushuu tidak tahu apa yang harus dia lakukan jika hatinya berdebar dengan otak rusak yang terus-terusan memutar slideshow wajah close-up berponi biru muda yang berdesak-desakan dengannya di perlombaan boutaoshi saat festival olahraga.
Asano. Sudah. Tidak. Waras.
Karena pertama, virus yang saat ini menjangkiti pikirannya adalah makhluk nista asal 3E. Dan kedua, makhluk itu bahkan bukan perempuan.
Daftar tipe ideal Asano yang sempurna seolah dirobek, diremas, diinjak dengan semena-mena meski diri terus membantah tidak, dia tidak sedang jatuh cinta.
Apalagi pada bocah hemaprodit macam Shiota Nagisa.
"Perhatikan langkahmu, pecundang."
Geraman Seo Tomoya menarik perhatian Asano. Sudut matanya berkedut mendapati pemandangan tak sedap, gorila besar dari 3E bertatap murka dengan Seo.
"Matamu sendiri yang katarak, bajingan. Kau yang menabrakku duluan."
Balasan dari si gorila membuat telinga Asano gatal. Lihat betapa rendahnya mereka. Dari bahasa saja sudah ketahuan mereka dari kalangan primitif.
"Sudahlah, Terasaka. Jangan hiraukan mereka."
Bisikan itu pelan, tapi nyaris membuat Asano mengumpat seperti Terasaka.
Sial.
Diam, jantung sialan.
"Mau melarikan diri?" Koyama Natsuhiko maju dengan seringai pongah. "Cepat lari dan kembali ke pelukan ibumu, bocah lemah."
Ujung jemari Asano tersentak, hanya sedikit, saat Koyama mendorong bahu bocah berambut biru hingga nyaris terjatuh.
"Lemah?!" Terasaka jelas tersengat emosi. "Oi, oi… kau tahu Akabane Karma? Nagisa berhasil menang saat duel dengannya!"
Asano terkejut. Murni terkejut. Si bocah pendek, kecil, dan tidak berotot ini mengalahkan berandal psikopat merangkap tukang pukul yang membuat guru-guru dan empat kelas berturut-turut dari A sampai D geger? Akabane yang itu?
Nagisa menatap protes seolah Terasaka mengatakan suatu hal yang tidak perlu. Namun bagi Asano, reaksi Nagisa itu jelas menunjukkan Terasaka tidak berbohong.
Ho… menarik.
Bibirnya tersenyum tanpa dia sadari.
"Aku ingin tahu apa itu benar." Asano buka suara. "Bisa kau buktikan denganku… Shiota?"
Nagisa mengerjap terkejut yang menyadarkan Asano dirinya terlalu lancang memanggil nama bahkan sebelum berkenalan. Tapi siapa peduli? Dia Asano Gakushuu. Mr. Know-it-all yang otaknya kelebihan memory space sampai bisa mengingat hal-hal yang tidak perlu.
"Aku tidak merasa perkelahian itu perlu." Nagisa menatap waspada dari balik poninya. Bukan tatapan ketakutan. Hanya siaga dan tenang.
Asano sudah tidak peduli gestur simpel semacam itu membuat debar monoton jantungnya kembali goyah.
Karena saat ini, dia menikmatinya.
"Kalau kau takut mendapat masalah dengan melukaiku, kau tidak perlu cemas. Aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Itu kalau kau bisa melukaiku." Asano menyunggingkan senyum sinis yang dingin. "Anggap saja kompetisi yang adil. Seperti pertandingan sumo atau tinju. Hanya perlu tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah tanpa perlu menyebabkan cedera serius. Setuju?"
Nagisa terdiam. Menimbang-nimbang ini jebakan atau bukan. Dia tak bisa menurut begitu saja pada lipan berbisa macam Asano, bukan?
"Atau jangan-jangan kau takut?" Asano menatap rendah. "Itu wajar, karena cecunguk lemah macam Akabane tak bisa dibandingkan denganku."
"Karma tidak lemah."
Respon itu terlalu cepat dan ada kilatan tajam di antara mata Nagisa yang biasanya berpendar innocent.
Cekikan samar terasa menyumbat tenggorokan Asano saat menyadari bocah biru itu punya soft spot soal Akabane. Asano tidak ingin tahu apa itu namun di saat bersamaan hal itu membuatnya merasa sangat terganggu.
"Kalau aku mengalahkanmu, kau akan mencabut kata-katamu soal Karma kan?"
Ide Nagisa bersedia melawannya demi Karma membuat Asano nyaris menggeretakkan rahangnya geram.
"Baik, akan kutarik kata-kataku." Asano mengangkat dagunya, menatap angkuh. "Tapi bagaimana jika kau kalah?"
Nagisa menautkan alis, berpikir.
Tidak, tidak. Asano tidak mungkin membiarkan Nagisa mengusulkan hukumannya sendiri. Asano separo licik, separo kreatif dalam memberi efek dan resiko negatif pada lawan. Hukuman yang dia berikan pada Nagisa nanti harus sesuai keinginannya. Tapi otak manipulatifnya saat ini entah kenapa terus berkabut dengan bayang-bayang bejat Sakakibara.
"Kau akan kujadikan budak." Kalimat itu meluncur begitu saja. "Selama satu minggu."
Nagisa terperangah. "Itu tidak adil." Mata azure itu terbelalak tidak terima. "Aku hanya memintamu menarik kata-katamu sa—"
"Kau tidak sanggup?" Asano menatap meremehkan. "Berarti Akabane memang cecunguk lemah, hina, tidak berguna—"
"Karma tidak seperti itu!"
Lagi.
Ternyata hanya segitu pertahanan Shiota Nagisa. Hanya injak-injak harga diri Akabane dan—voila! Dia datang membelanya mati-matian.
Kebodohan semacam ini harus dimanfaatkan, bukan?
"Jadi, kau bersedia jadi budak?" Asano berkata setenang angin, seolah kalimatnya tidak akan berdampak besar pada bocah mungil yang kelihatan rapuh di hadapannya.
Asano benar-benar menikmati setiap detik melihat rona kebencian menguar samar dari ekspresi Nagisa, namun sesuatu merusaknya.
"Kita pulang saja." Tangan besar mencengkeram lengan Nagisa. "Ini jebakan."
Asano menggeram, dalam hati. Menatap penuh dendam pada punggung Terasaka yang menyeret Nagisa pergi.
"Kalian sampah."
Sial.
"Kelas buangan seperti kalian—"
Jangan pergi, sialan.
"—memang hanya bisa lari seperti pecundang."
BRAKKK!
Semua terjadi dalam sekejap, tinju Terasaka yang melesat ditangkap dengan mudah dan tubuh besarnya terbanting ke sisi jalan seperti karung beras.
Araki Teppei segera mengunci pergerakan Terasaka dibantu Sakakibara, Seo, dan Koyama. Empat lawan satu.
Lalu Asano melangkah semakin dekat ke arah Nagisa.
oOo
"Terasaka terlibat perkelahian dengan kelas A!"
Teriakan Yoshida di ponselnya membuat telinga Akabane Karma berdenging.
"Heeh… apa yang dilakukan si bodoh itu? Memancing masalah lagi?" Karma menyandarkan kepalanya pada kursi dengan mata menatap langit-langit kamar. "Aku tidak sabar melihatnya besok di sekolah dengan wajah seperti habis diserang lebah satu sarang."
"INI BUKAN SAATNYA BERCANDA!" Yoshida berteriak. "Kau tidak tahu Nagisa sedang bersamanya?!"
"Maksudmu?"
"LIMA LAWAN DUA! DAN ADA ASANO DISANA!"
Karma terdiam.
"KELUAR DARI RUMAHMU SEKARANG! KAMI SUDAH DI DEPAN!"
Mereka dari kelas pembunuhan. Tapi bukan berarti mereka bisa menganggap enteng perkelahian. Tanpa senjata. Tanpa taktik. Apalagi dengan situasi jumlah lawan lebih banyak.
Kunugigaoka sendiri merupakan SMP elite dengan tingkat yang ditentukan dengan proses akademik. Nilai dan prestasi adalah hal yang sangat diagungkan. Melakukan perkelahian adalah ide buruk. Apalagi dari murid-murid kelas A yang kaku dalam menaati peraturan.
Lima murid kelas A—apalagi dipimpin Asano—melakukan perkelahian itu hal yang agak mustahil. Kalau penindasan dari kelas lain mungkin masih wajar. Tapi ini Asano, putra kepala sekolah yang jadi role model Kunugigaoka terlibat perkelahian? Apa ini serius?
Karma tidak sempat memikirkan semua itu karena sudah terlanjur panik sejak Yoshida mengatakan 'ini bukan saatnya bercanda'. Tiga motor menderu di depan rumahnya. Isogai dengan Maehara. Itona dengan Muramatsu. Lalu jok belakang Yoshida yang kosong.
"NAIK!" Yoshida menstater dengan beringas begitu berat badan Karma membebani jok belakang. Memimpin dua motor lainnya melewati jalan-jalan pintas dengan memantau layar GPS yang dipasangkan Itona di bagian depan.
Karma terdiam tanpa ekspresi meskipun jantung berdentum tidak karuan.
"Karma duluan saja. Aku pulang dengan Terasaka."
Kalimat Nagisa terngiang. Jika terjadi apa-apa pada teman dekatnya itu, Karma bisa pastikan kepala Terasaka akan dia jadikan taruhan.
Si Terasaka itu, dari segi manapun jelas kelihatan pengundang masalah. Nagisa salah langkah sekelompok tugas ekonomi dengannya, lalu pulang bersama demi menyelesaikan tugas, tapi hasilnya apa? Sekarang dia terlibat perkelahian dengan kelas A yang seharusnya alergi melanggar peraturan sekolah.
Siapa lagi biangnya kalau bukan si Terasaka itu, hah?
Brumm!
Tiga motor berhenti di tempat, parkir sembarangan.
Enam bocah laki-laki turun dengan panik, salah satunya yang berambut merah terbakar emosi.
"BRENGSEK!"
Grep!
"JANGAN!"
Tinju ke arah Asano terhambat. Karma membeku. Nagisa memeluknya kuat dari belakang. Padahal baru satu detik yang lalu dia terkapar di bawah kaki Asano. Terasaka? Hanya diam menatap geram meski empat anggota Five Virtuosos tidak ada yang menahannya. Pemandangan itu membuat darah Karma mendidih lagi.
"Apa yang kau lakukan, hah? Terasaka?" Karma jarang berkata dengan nada serius bila tidak benar-benar murka, mata emasnya melempar tatapan penuh aura membunuh ke arah Terasaka.
"Bukan salah… Terasaka…." Nagisa terbatuk lemah dengan lengan masih menahan Karma. "Ini urusanku… dengan… Asano-kun…"
"Apa yang terjadi?" Isogai mendekati Asano dengan berani, seolah menjadi tameng bagi teman-teman di belakangnya. "Asano?"
"Kompetisi antar pria?" Asano meringis meskipun ekspresinya tampak sombong. Pipinya memar kanan kiri dengan satu mata membiru (Maehara nyaris tertawa melihatnya). "Bukan urusanmu."
"Tentu saja ini urusanku, aku teman mereka!" Isogai tersinggung. "Lagipula kompetisi apa—"
"Tanyakan sendiri saja pada temanmu!" Koyama menekankan kata teman. "Asano-kun, kita harus cepat pergi dan merawat luka—"
"Tidak perlu." Asano menepis tangan Koyama yang terlalu over-reacting. Dia berjalan ke arah Nagisa yang masih terduduk dengan satu lengan tersampir ke bahu Karma. Asano mengabaikan pemandangan yang entah mengapa membuat rahangnya jadi kaku itu dengan menekuk satu kaki dan mensejajarkan matanya dengan Nagisa.
"Jadi, kau kalah kan?" Asano bertanya tenang.
Nagisa hanya menjawab 'hn' singkat. "Lalu apa yang harus aku lakukan untukmu?"
Untukku?
Asano nyaris menyeringai saking dia menyukai kata itu. Tapi dia menahan diri. Wajahnya sudah terlahir stoic, jadi mudah saja memasang wajah tanpa ekspresi meski sesuatu dalam dadanya melompat-lompat aneh.
"Aku akan memberitahukannya besok." Asano mengeluarkan ponselnya. "Jadi berapa nomor teleponmu, Shiota?"
"Dia menghajarmu demi nomor telepon?" Karma blank. Sama sekali gagal paham dengan situasi yang terjadi. "Sebenarnya apa yang—"
"Shiota?" Asano sengaja menginterupsi dengan suara tajam.
"Nagisa?" Karma melempar ekspresi menuntut, mengabaikan Asano.
Nagisa membuka mulut, menyebutkan deretan nomor. Tapi belum sampai lima nomor, Karma tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Bridal-style.
"K-KARMA?" Nagisa reflek panik saat digendong seperti putri oleh teman laki-lakinya sendiri.
"Luka-lukamu harus dirawat." Karma berjalan cuek mengabaikan tatapan shock teman-teman sekelasnya seolah dia tak melihat mereka. "Aku akan panggil taksi dulu."
Asano berdiri kaku dengan tatapan dingin.
Tak ada yang tahu di dalam batinnya ada badai, topan, tsunami yang siap menelan Akabane Karma menjadi buih.
oOo
Ini pertama kalinya mereka bicara, kan? Nagisa dan Asano?
Bahkan Karma perlu tiga tahun untuk memanggil nama Nagisa tanpa embel-embel '-kun', tapi si lipan arogan itu ingin nomor telepon setelah pertemuan pertama? Hell… jangan harap.
"Sakit!"
"Ah, maaf." Karma mengerjap terkejut. "Kupikir aku sudah pelan-pelan?"
"Kau sekasar itu saat mengobati lukamu sendiri?" Nagisa merebut kapas alkohol dari tangan Karma. "Dasar Karma."
Karma terkekeh. Kalau hanya luka fisik dia sudah terbiasa. Apalagi lukanya tidak seberapa dibanding cedera yang diderita lawan-lawannya.
"Jadi…" Karma melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar ke meja belajar. "Apa yang membuat Nagisa tumben-tumbennya nekat melawan Asano-kun yang itu?"
Nagisa terdiam sejenak. "Bukan apa-apa."
Sisi pelipis Karma berkedut kesal. "Heeeh… jadi karena Terasaka?" Senyuman miringnya melebar berbahaya.
"Sudah kubilang Terasaka tidak salah!" Nagisa sontak membantah.
Karma menatap datar. "Jadi apa?"
"Salahku… mungkin." Nagisa selesai menutup semua lukanya dengan plester. Membuka dua ikatan rambutnya yang sudah tidak rapi dan melempar dirinya ke kasur. Menatap langit-langit kamar Karma yang hanya berhias satu lampu neon yang belum dinyalakan. "Pikiranku sedang tidak jernih tadi."
"Kau bukan orang yang mudah terpancing, biasanya." Karma bergumam.
"Hm." Nagisa memejamkan matanya. "Yang kulihat tadi… Asano-kun benar-benar menyebalkan."
Karma tertawa pelan. Ekspresi kesal Nagisa itu langka. "Memang apa yang dia lakukan?"
Nagisa menatap Karma dari tempatnya berbaring. Tirai jendela terhembus angin dan cahaya orange khas senja menerpa sisi wajah Karma. Temannya yang berambut merah itu bisa kelihatan begitu teduh jika sedang serius mendengarkan unek-uneknya. "Dia menghinamu."
Wajah teduh menghilang, berganti dua bola mata emas kecoklatan yang melebar terkejut.
"Asano-kun menghinamu." Nagisa memang tegas mengulanginya, tapi dia sudah malas menatap ke arah Karma yang seringainya pelan-pelan terkembang.
"Heeeeh~ jadi Nagisa berkelahi dengan Asano-kun demi aku?" Suara ringan Karma bernyanyi di udara dengan nada yang membuat Nagisa menyesal setengah mati. "Aku sungguh terharu sekali~"
"Kau ini tidak ada simpati sedikit—" Nagisa nyaris beranjak dari posisinya saat menyadari Karma sudah mendekat dengan satu tangan mendorongnya kembali berbaring di ranjang.
"Kau pikir aku akan berkata seperti itu?"
Suara itu dingin. Poni merah panjang terjatuh membayangi mata kosong yang membuat siapapun yang ditatap merinding.
"Maaf." Nagisa tak bisa memikirkan hal selain kata itu.
Karma masih menatapnya sejenak sebelum mengangkat kembali wajahnya dan mendengus keras. "Jangan lakukan hal seperti itu lagi, Nagisa." Karma mendaratkan tinjunya pada dada Nagisa, pelan. "Apalagi karenaku."
Nagisa hanya bergumam samar. Merasa wajar saja melakukan itu. Karma sendiri juga bukan tipe orang yang menahan diri jika temannya direndahkan. Jadi kenapa Nagisa harus diam saja? Karena dia tidak pandai berkelahi? Karena dia lemah?
"Kukira kita sudah melewati fase itu?"
Kalimat Karma membuat Nagisa mengerjap. "Huh?"
"Itu…" Karma mengusap tautan di antara alis Nagisa dengan telunjuknya. "Fase diam-diam saling jaga jarak dalam prasangka buruk? Kita sudah membicarakan soal ini, kan? Aku tidak merasa kau lemah apalagi tidak pantas 'satu panggung' denganku. Jadi, berhentilah memikirkan hal-hal konyol semacam itu."
Nagisa tertawa kecil. Memiringkan tubuhnya ke arah Karma dan sedikit mendongak dengan senyum indahnya yang khas. "Karma sendiri juga dulu mengira di dalam diriku ada monster yang bisa menyerangmu saat kau tidur?"
"Oh, kita belum tahu soal itu. Siapa tahu itu benar?" Si rambut merah melempar senyum jahil saat bangkit ke arah jendela, menutup tirai karena senja semakin turun. "Hei… Nagisa…"
"Hm?" Nagisa mengerjap karena Karma kelihatan serius dengan tatapan menerawang keluar jendela.
"Mau menginap?"
Nagisa baru tahu ajakan menginap seorang teman bisa membuat jantungnya tersentak.
"Ibumu tidak akan senang jika melihatmu pulang dengan luka-luka seperti itu, kan?" Karma menambahkan, masih memegangi tirai yang tertutup di dalam kamar yang semakin gelap. "Bilang saja kau mau mengerjakan tugas dengan teman sekelasmu yang jenius, pasti ibumu akan mengizinkan."
Nagisa tertawa pelan. Ibunya memang masih super disiplin, tapi sudah jauh lebih lunak dibanding dulu.
Ngomong-ngomong ini mungkin akan jadi pengalaman pertama menginap di rumah teman ya…
"Boleh." Nagisa mendengar tarikan napas lega setelah kalimat itu meluncur dari mulutnya. "Kenapa, Karma?" Dia memiringkan kepalanya bingung.
"Hm? Kenapa?" Karma balik bertanya sembari menyalakan lampu.
Mata Nagisa menyipit, menyesuaikan diri dengan cahaya. Wajah Karma santai seperti biasa. Nagisa bertanya-tanya mungkin suara helaan napas lega tadi hanya khayalannya saja?
"Aku akan siapkan makan malam." Karma tersenyum. "Nagisa bisa pilih pakaian dan handuk di lemari."
Nagisa mengangguk dengan ucapan terimakasih yang samar.
Karma berjalan ke arah pintu, jemari menggantung di kenop pintu sejenak sebelum memutuskan untuk mengeluarkan sesuatu yang berputar-putar di benaknya sejak tadi. "Nagisa…"
"Hm…?" Mungkin hanya Nagisa laki-laki 15 tahun yang tetap kelihatan manis dengan wajah memar-memar setelah dihajar. Bahkan fiturnya masih kelihatan feminin dengan satu kaki terlipat di atas kasur dan satunya lagi menjuntai ke lantai.
Karma sudah terbiasa dengan semua itu dan sudah tidak peduli lagi pada debar-debar halus di balik rusuknya.
"Kenapa Asano-kun meminta nomor teleponmu?"
Nagisa terdiam.
Mungkin karena dia butuh komunikasi dengan 'budak'nya? Jarak gedung utama dan kelas E cukup jauh, Asano tidak akan puas jika hukuman yang dia buat terhambat soal lokasi.
Tapi Karma akan khawatir jika tahu soal taruhan itu. Mungkin dia akan pergi ke gedung utama besok, membuat masalah dengan Asano dan memaksanya membatalkan hukuman Nagisa. Tapi Nagisa tidak suka itu. Dia tidak ingin ada konflik lagi, lagipula harga dirinya sebagai laki-laki memaksanya untuk tidak ingkar janji.
"Aku juga tidak tahu kenapa." Nagisa tersenyum tenang. "Lagipula Karma sudah memotong kesempatannya minta nomor teleponku, jadi tidak masalah kan?"
"Benar juga." Karma balas tersenyum.
Soal taruhan itu, Karma tidak perlu tahu. Nagisa juga sudah memaksa Terasaka untuk tutup mulut rapat-rapat pada siapapun.
"Nagisa ingin makan malam apa?"
"Apa saja boleh."
"Okee…" Karma menghilang di balik pintu.
Nagisa tipe orang yang bersikap terlalu tenang saat tidak ingin rahasianya diketahui, membuat Karma tidak bisa mendesaknya lebih jauh.
Tapi biarlah, ada seplastik cabai jolokia dari India di kulkasnya untuk dia sumpal ke mulut Terasaka supaya si sapi besar itu memberitahunya besok.
oOo
To Be Continued
A/N : Terimakasih telah membaca *deep bow*
Supaya tidak PHP (?), ini pair utamanya KaruNagi, Asano pihak ketiga. Tapi rasanya Asano bakal terlalu berperan apalagi paragraf pertama dimulai dari Asano bukan Karma (udah berusaha memulai cerita dari Nagisa atau Karma tapi malah mentok, lebih lancar dari Asano orz orz), jadi pairnya saya rentetin aja tiga orang.
Review bila berkenan?
