Disclaimer:
Naruto dibuat dan diilustrasikan oleh Masashi Kishimoto, serta dianimasikan oleh Studio Pierrot
Puisi yang mengawali cerita ini terinspirasi dari "The Fallen King" oleh Tyler Cooley
Tidak ada keuntungan dari segi meteriel yang didapat penulis atas pembuatan fanfiksi ini
Ditulis untuk ulang tahun Hyuuga Hinata, 27 Desember
.
MonsterBijuu
(Pororo90_official, Kimonoz, Nattadestiny, kit_loyard, Nonaxerry, Chocosei, anniserde, seoriika, BakaDimDim, aazmie, NariakiNishimuraya, Nao_Vermillion, AzuranZala)
.
.
Selamat membaca
.
.
Northwind, Abad ke 15.
.
Sekumpulan penjaga berkekuatan magis, melindungi Northwind dari kehancuran
.
"Kami adalah cendekia terkuat.
Kami mengetahui segalanya.
Termasuk nasibnya, takdirnya.
Yang kami kubur enam kaki di bawah tanah"
.
"Dia terlahir dengan kutukan. Hanya darah yang terpilih yang bisa menghilangkan kutukannya."
.
.
"Aku saja yang mati. Biar putriku hidup sebagai penjaga segel di sepanjang napasnya. Tak akan ada yang tahu kutukan ini, termasuk Sang Pangeran itu sendiri."
.
.
Ini adalah sebuah permulaan.
Permulaan dari sebuah kehancuran.
Di atas sebuah takhta agung yang dibangun dari ribuan dosa
.
"Kau, Naruto, putra dari mendiang Raja Minato, dinobatkan menjadi Raja Northwind kelima belas."
.
Raja termuda dalam sejarah Northwind, mencoba membangun kejayaan dengan tangannya sendiri.
.
"Aku akan menjadi Raja Yang Agung. Akan kutaklukkan semua kerajaan yang berada di semenanjung Timur Laut ini."
.
Obsesi, ambisi, haus kekuasaan. Tak ada yang bisa membendung kekuatan Naruto si James I.
.
.
Selamat datang di Kerajaan Northwind
.
Persahabatan, cinta tak terbalas ...
.
"Aku tak tahu, tapi ketika berada di dekatmu, hatiku menjadi sangat tenang, Hinata."
.
"Dia wanita tercantik yang pernah kulihat. Aku mencintai Shion dari Woodlands."
.
Sebuah rahasia besar yang menghilang bersama abu ...
.
"Aku ingin kalian menyetujui isi dekret ini. Memusnahkan Woodlands tanpa sisa."
.
.
Kami membawa lagi sebuah rahasia
Yang telah kami segel dengan darah dan nyawa ...
Untuk melindungi seseorang yang dicintai
.
.
Hingga terjadi sebuah kesalahpahaman yang berubah menjadi petaka.
.
"Kau yang menghancurkan Woodlands, Hinata! Mengapa?"
.
Kesalahpahaman ini,
Semakin besar dan merusak jiwanya.
Jalan yang ia tempuh semakin salah.
Semakin jauh dari cahaya
.
"Aku bersumpah akan menghabisi seluruh penyihir di kerajaanku. Aku akan menggantung kepalamu di atas menara dan membakar tubuhmu hingga menjadi abu, Hinata!"
.
.
Di atas takhta agung ini,
Sang Raja hanyalah sebuah cangkang kosong.
Ia berdoa kepada Sang Pemilik Surga,
Tapi hatinya milik iblis di neraka.
Ia melakukan semua kesia-siaan.
Ia mengambil semua cara agar bertahan ...
Dan para iblis pun tertawa di atas raga Sang Raja,
Karena mereka telah menang atasnya
.
.
"THE TALE OF NORTWIND"
.
Berita kematian raja baru saja berembus, tak ada yang mengira jika umur Minato Namikaze akan sesingkat itu. Indra Otsutsuki; sang panglima kerajaan datang bergegas, jubah yang melapisi baju zirahnya berkibar di koridor, menimbulkan suara berderu memecah angin. Langkah cepatnya membuat sang murid sekaligus penasihat utama kerajaan; Lady Hinata Hyuuga kesulitan mengekor. Tak ada satu patah kata yang terucap. Semua bungkam. Enggan untuk mengurai kemuraman kastil utama Northwind.
Melewati selasar dan lorong dalam Izarus Castle, mereka berhenti melangkah. Sebuah pintu ganda raksasa menjulang dengan dua pengawal yang menunduk hormat di bagian depan.
Indra dan Hinata mengangguk sebentar, membalas penghormatan itu dan segera masuk setelah dibukakan pintu.
Langkah Hinata memelan, gaun mengembang yang membalut tubuhnya dengan sempurna menyapu lantai, menimbulkan suara gemeresik. Jubah beledu yang melengkapi penampilannya seakan layu dan bertambah berat, ketika netra abu-abu miliknya menangkap siluet Minato yang tertidur di kursi kayu nyaman di dekat perapian.
Sementara dokter kerajaan berjejer, bersiaga mengenai kondisi terakhir sang raja.
"Sang raja telah mangkat." Satu kalimat itu telah membuat udara di kamar mendadak menyesakkan dan gelap.
Indra; sang panglima terpukul. Wajahnya tampak terluka, ada gurat kesedihan dan kekecewaan. Harusnya ia tak membiarkan lelaki itu pergi secepat ini. Ia adalah seorang jenderal, seorang panglima yang telah menakhlukan segala hal untuk Northwind, tetapi gagal sebagai seorang pelindung. Ia seorang penyihir, tetapi tak mampu menghalau takdir. Dan ia adalah seorang sahabat yang menderita karena terus-menerus kehilangan.
Indra Otsutsuki menarik napas dalam-dalam, memalingkan muka, menatap gumpalan awan gelap yang menggelayut di angkasa. Enggan menerima takdir bagaimana nyawa teman karibnya harus berakhir.
Sementara sang gadis di belakang, melangkah dengan gemetar mendekati kursi, mati-matian menguatkan hati; bahwa di hadapannya adalah sang raja—pengganti sosok ayah yang ia kenal baik hati—sudah pergi.
Hinata menundukkan kepala dalam-dalam, memberi kesempatan pada dirinya untuk mempersembahkan penghormatan terakhir. Memanjatkan doa, mengantarkan Minato ke alam baka. Setelah beberapa waktu, ia menaikkan dagunya lagi. Bersikap dewasa dengan tidak meratapi apa pun karena itu hanya akan melemahkan.
Keputusan harus segera diambil. Tidak mungkin Northwind dibiarkan tanpa seorang raja. Dengan kewarasan dan hati porak-poranda, ia telah menetapkan perintah.
"Umumkan kematian raja! Northwind berduka, kibarkan bendera setengah tiang!" Hinata menoleh melihat sang guru yang masih bergeming, seolah raganya yang tersisa kini sudah kosong dan nyawanya ikut tersedot pergi bersama sang raja.
Indra Otsusuki yang malang. Kehilangan kerabat dan saudara-saudaranya demi kejayaan Northwind nyaris membuat ia sebatang kara. Hanya teman-teman dekatlah yang membantunya tetap hidup. Duke Hiashi Hyuuga Sang Agung—ayah Hinata—sudah meninggal terlebih dulu dalam pertempuran besar awal Northwind, dan kini sahabat Indra yang lain, Minato Namikaze—sang raja, telah mendahuluinya.
Yang tersisa hanya Hinata Hyuuga yang menjadi muridnya, dan Ketua Dewan Parlemen Kerajaan yang tak lain adalah paman Hinata, Hizashi Hyuuga.
"My Lord .…" Hinata memanggil Indra, menyadarkannya dari keterpurukan.
Indra Otsutsuki menutup mata sebentar. "Kirim utusan, panggil Pangeran Naruto kembali ke istana."
"Tapi My Lord—"
"Kita tidak memiliki pilihan lain," potong Indra getir, "Yang Mulia Pangeran Naruto harus kembali, siap, ataupun tidak."
Hinata mengangguk paham. Meski pelatihan Naruto di Sun Recesses belum selesai, dan urusannya dengan beberapa bangsawan di Desa Redshire yang terletak di sebelah timur Woodlands juga belum berhasil, dalam keadaan seperti sekarang, mereka tidak memiliki pilihan.
Terlebih ada hal mendesak lain yang harus dibereskan di tempat itu. Meski berarti seperti mencurangi Naruto sekali pun.
Indra Otsutsuki keluar dari kastil, menuju halaman istana dengan perasaan koyak. Tangannya dengan sigap mengambil busur emas yang berada di punggung. Sementara tangannya yang kosong segera merapal mantra. Sebuah anak panah berwarna hitam muncul di sana.
Indra menarik tali busur, mengarahkan anak panahnya ke angkasa. Satu anak panah magis itu berubah menjadi ribuan, meluncur ke langit bagaikan sebuah hujan meteor. Mengabarkan ke seluruh Northwind bahwa Yang Mulia Raja Minato Namikaze telah mangkat dan seluruh rakyat berduka.
Indra menarik napas berat. Masih tanpa suara, ia membuka jam analog gantung yang berada di saku, yang hanya tiga buah di dunia. Dan kini, ia saja pemiliknya. Melihat bahwa hiasan sulurnya hanya tersisa satu sisi, meninggalkan sisi kosong lain di bulatannya.
Satu-persatu orang yang ia kenal dan sayangi, pergi.
.
Sementara itu, setelah sang raja ditempatkan di altar untuk mendapatkan requiem dan pemakaman yang layak, para penasihat telah berkumpul. Indra dan Hinata menginstruksikan bahwa malam ini juga, mereka akan memimpin rapat besar darurat. Tidak boleh ada satu komponen yang luput, apalagi lengah. Kesolidan adalah simpul mati yang tidak bisa mereka tawar lagi.
Siapa pun yang berada di waktu itu, tidak dapat memilih opsi selain menerima. Mereka tidak bisa membiarkan kekuasaan lowong begitu saja.
Hizashi tergopoh turun dari kereta. Seorang butler dengan sigap mengikutinya dari belakang dan membawakan tas kulitnya.
Kabar tentang kematian sang raja telah memangkas waktu kunjungannya ke luar kota. Hizashi tidak bisa tampil dengan penampilan yang baik; vest, dasi panjang sutra, juga kemeja linen-nya terlihat kusut, tetapi bukan itu. Tujuannya ialah ruangan kerja sang raja.
Wajah-wajah tegang menghiasi setiap muka yang berada dalam rapat tertutup tersebut. Satu bundel perkamen telah dikeluarkan dari dalam tas kerja Hizashi. Ada segel kerajaan berplat hitam dengan lelehan emas, tanda bahwa itu adalah informasi paling rahasia yang mereka miliki.
"Kita harus menghilangkan Woodlands." Hinata berujar dingin dan tidak terbaca. Wajahnya datar, tidak ada satu gurat emosipun yang diperlihatkan. Ia telah mengambil risiko ini tanpa bisa kompromi lagi.
Suara berdengung makin membuat kepala Indra pening. Ia menoleh pada murid yang kini telah melampaui kemampuannya. Hinata Sang Agung. Penyihir yang mampu melihat jauh ke depan. Seorang pelindung paling sempurna di kerajaan yang mengabdi kepada raja, yang otomatis akan mengabdi secara pribadi pada Pangeran Naruto juga.
Indra mendesah lelah, mengusap lagi jamnya yang berada di saku, seolah meminta jawaban yang tak bisa ia yakini.
"Aku ingin kalian menyetujui isi dekret ini," Hinata menatap para dewan dengan tatapan yakin. "memusnahkan Woodlands tanpa sisa."
"Lady Hyuuga—"
Hinata mengangkat tangannya, "Apakah kita bisa membiarkan Northwind hancur?!" suara rendah Hinata mengunci setiap mulut mereka. "wabah walking dead tidak ada penawarnya. Apa kalian akan membiarkan mereka membunuhi satu per satu keluarga kalian hingga tidak ada yang tersisa di sini selain kematian?!" Hinata mengepalkan tangannya di atas meja.
Indra menekuni perkamen yang menyatakan bahwa kebijakan darurat Northwind untuk melenyapkan Woodlands segera adalah sebuah tindakan paling rasional.
"Prioritas kita sekarang adalah memilih. Satu desa lenyap untuk menopang desa-desa yang lain, atau membiarkan kita lenyap dalam ketiadaan." Tak ada satu penyesalan pun keluar dari gestur Hinata yang tampaknya bisa menggoyahkan yang lain. Matanya hanya menyisakan kebulatan tekad. Membuat mereka mengumpulkan diri demi misi paling gelap.
Dan malam itu, satu suara bulat telah membunuh kehidupan Woodlands tanpa sisa.
.
.
Naruto termenung dalam kereta kuda yang membawanya ke ibukota Northwind. Matanya menerawang ke arah bulan purnama dari dalam jendela yang telah ia sibak tirainya. Sang butler sudah tertidur, dan satu maid yang melayaninya tak jauh beda.
Keheningan ini lebih mencengkeram kewarasannya ketimbang berita kematian sang ayah.
Pandangan Naruto bergulir ke dadanya sendiri, tangannya yang menganggur memegang bandul kristal pemberian Indra. Hadiah pertama dalam hidupnya yang tidak bisa diberikan sang ayah yang larut dalam pekerjaan.
Ia tersenyum getir. Sampai saat terakhir pun, Naruto tak pernah merasa dekat dengan ayahnya. Semua yang Minato lakukan hanyalah menciptakan satu orang yang bisa disebut sebagai raja. Naruto dilihat bukan sebagai anak, tetapi calon pemimpin yang harus ditempa hingga sedemikian rupa. Dididik dan diarahkan menjadi pribadi soliter yang tidak akan tergoyah meski kehilangan banyak hal dalam hidup—Eagle flies alone. Meskipun begitu, apakah ia tidak berhak membuat keputusan untuk dirinya sendiri?!
Yang membuat hatinya gelisah bukan main, justru kenyataan bahwa ia harus meninggalkan 'hatinya' di Woodlands. Ia baru menikmati apa yang dimaksud perasaan melankolis bernama cinta. Di mana kebahagiaan yang ia rasa selalu jauh dalam jangkauannya, bisa berwujud sedemikan nyata dan dapat direngkuh dalam dekapan.
Ia baru saja mencecap bagaimana mencium satu gadis yang membuatnya gila. Memainkan rambutnya yang panjang di dadanya.
Membayangkan Shion hanya membuat rindunya kian menggebu. Isi kepalanya mendadak kacau, sama seperti perasaannya yang carut marut.
Ia memang tidak dalam kesedihan yang mendalam. Hanya perasaan kosong. Satu lagi orang yang ia sebut sebagai ayah telah berpulang. Ia merangkai-rangkai semua peristiwa, tetapi sebagai pangeran mahkota, Naruto dan ayahnya hanya memiliki hubungan yang mengambang. Seperti pelari estafet. Sebatas menunggu giliran untuk berlari.
Malam kian larut dan kabut semakin tebal. Naruto hanya bisa menyemangati dirinya sendiri. Bahwa di ibu kota sana, ia masih bisa menjadi dirinya, dan bukan Naruto sang Putra Mahkota.
.
Matahari baru saja sepenggalah tingginya ketika kereta Naruto memasuki gerbang ibu kota.
Kesibukan yang biasa tampak ceria menjadi sangat kontra seperti yang diingatnya. Segalanya berbeda. Segala keriuhan ini bukanlah sesuatu yang bisa mengundang senyum.
Hanya kemuraman sisa-sisa tangis, yang mungkin tak dapat Naruto pahami sepenuhnya. Kematian sang ayah yang konon katanya raja bijaksana, tidak meninggalkan kesan apa pun selain perasaan tanggung jawab yang menggumpal dan menanti untuk dipikul.
Ketika kereta Natuto benar-benar berhenti di pintu gerbang kastil, perasaan Naruto makin tegang. Namun ia telah siap, mengemban tugas terakhirnya sebagai seorang anak.
Memberikan Minato, sebuah tempat yang layak untuk bersemayam.
.
.
Iring-iringan kereta pembawa jenazah raja memasuki Serenity Hills. Kapel Serenity kini telah penuh dengan petinggi kerajaan.
Suara nyanyian kehilangan menjadi pengantar tidur abadi Raja Minato. Puji-pujian dikumandangkan. Menyerukan sebuah ingatan tentang kebaikannya di dunia.
Naruto hanya merasakan perasaan kosong. Seperti langit yang mendung dan angin dingin yang mulai berembus. Kehangatan yang ia ingat, memudar perlahan, memuara menjadi sebuah sesak.
Ia membiarkan air mata perpisahan jatuh dan membasahi pipi. Yang ia sesali adalah, sampai saat terakhir, ia tidak bisa membuat ayahnya bangga.
Dengan cepat Naruto mengusap pipinya. Ia ada di sana ketika tanah Serenity Hills menelan tubuh sang ayah yang berada di dalam peti mati berhias ukiran naga dan elang. Ada sebuah simbol klan yang terbuat dari emas tepat berada di tengah peti.
Minato Namikaze, disemayamkan di samping istri tercintanya; Kushina Uzumaki.
Dengan sebuah prasasti batu; yang mengatakan bahwa sepasang manusia ini telah berada dalam kehidupan abadi yang penuh kedamaian.
.
.
Lady Hinata Hyuuga mengintip sedikit langit dari jendela kerja milik Panglima Indra.
Bulan nyaris menghilang tertutup awan. Sinarnya telah redup dan menghilang ditelan kegelapan.
"Kita akan mempercepat eksekusinya." Lady Hinata menutup kembali kelambu beledu di jendela.
"Pangeran Naruto akan tahu, dan itu bukan hal yang bagus utukmu, My Lady ..."
Lady Hinata berbalik dan menatap Indra yang duduk sambil melihatnya dengan tatapan prihatin.
"Aku akan baik-baik saja, My Lord. Anda tidak perlu menghawatirkan aku."
Indra menarik napas lelah. Ia telah mengenal Hinata, selama kehidupan bayi Hiashi itu. Dia lah yang mengajari Hinata sihir hingga melampaui dirinya sendiri.
Senyum tulus Indra mengembang. Betapa waktu cepat berlalu. Bahwa putri kecilnya yang ia kenal sebagai Lady Hyuuga telah menjelma menjadi perempuan anggun dan berkharisma. Kini, kemampuannya sudah tidak memiliki tanding.
"My Lady, ada yang harus aku sampaikan kepadamu." Indra membuka laci dari meja ruang kerjanya.
Hinata berjalan mendekati sang guru, melihat saksama pada gulungan yang diletakkan di atas meja tak berpelitur itu. Ketika tangannya menyentuh gulungan perkamen, perasaan tidak enak menyerang. Matanya bergerak gelisah, "Benarkah semua ini?!"
Sang jendral memalingkan muka. "Aku belum bisa mengatakannya. Investigasi itu belum sampai tahap di mana kita menangkap terdakwa. Akan tetapi, berita ini tentu akan membuat Naruto sibuk. Dan kamu, My Lady— " suara Indra mendadak melirih, "bisa melakukan semuanya dengan sempurna. Aku akan berusaha menjauhkan Pangeran Naruto demi keberhasilanmu."
Hinata menatap lautan kelam pada mata hitam Indra Otsutsuki. Seperti halnya dirinya yang terpantul di pupil mata sang guru, iapun merasakan bahwa ikatannya bersama lelaki itu lebih dari sekadar guru dan murid. Indra adalah ayah yang telah lama tidak dimilikinya, yang mengajarkan banyak hal untuk melindungi diri.
"Jika sampai The Majesty tahu Anda sengaja menolong saya, My Lord, Anda akan mendapat kesulitan."
Indra tersenyum sendu. "Hanya engkau yang kumiliki selain negara ini."
.
.
Suasana muram masih menyelimuti Northwind, padahal sudah sepekan berlalu semenjak pemakaman The Highness Minato Namikaze.
Seharusnya suasana makin menghangat, apalagi mengingat awal bulan depan dia akan ditasbihkan menjadi seorang Raja.
Wajah bangga Shion membayang di pelupuk matanya. Hampir tiga bulan mereka tak berjumpa. Senyuman manis gadis itu menjadi satu-satunya alasan untuknya berjuang sekarang. Jika ia menjadi raja, maka akan mudah baginya menarik Shion dari Woodlands.
Lamunan itu tidak bertahan lama. Suara ketukan memecahkan gelembung euforianya. Memaksanya kembali ke alam realita.
Ketika pintu ganda terbuka, tubuh tegap Indra Otsutsuki memasuki retina. Sosok Jendral yang merupakan sahabat ayahnya itu melangkah masuk dengan kesopanan.
Lelaki itu menundukkan kepala dan menyilangkan tangan kanannya di dada, "My Majesty ..."
Naruto membalas penghormatan Indra dengan menganggukkan kepala. Kemudian, mempersilakan lelaki tersebut duduk dan menyampaikan sesuatu yang menurutnya penting. Karena tatapan Indra memang menggambarkan demikian.
Ayahnya tidak mati karena alam yang berkuasa.
Kenyataan itu mencubit hatinya. Tangan Naruto terkepal kuat di atas meja kerja. Matanya berkilat penuh kemarahan. Bagaimana mungkin?! Segala kesedihan dan kemuraman ini akibat kecerobohan satu orang?
Bagaimana ayahnya yang baik hati telah membiarkan para ular yang mereka pelihara menggigit majikannya sendiri.
"Aku akan menyelidiki ini. Aku tidak bisa membiarkan para keparat itu lolos."
"My Majesty, biarkan kami yang mengurusnya. Anda harus mempersiapkan diri un—"
"Aku tidak peduli!" Naruto meraung murka. "aku sendiri yang memastikan bahwa kepala mereka terpenggal dengan pedangku!" potongnya dingin.
Kemarahan itu membakarnya habis tanpa sisa.
.
.
Sementara itu pasukan bayangan telah bergerak menuju Woodslands. Seperti iringan kabut hitam. Perlahan mendekat dan menebar ancaman.
Suara tapal kuda menghunjam tanah dengan mantap di malam itu. Mengoyak sunyi yang ada dalam desa tempat gadis Naruto berdiam.
Satu perintah mutlak mereka; tak boleh ada yang tersisa.
.
.
Bukti-bukti kematian dini Raja Minato sudah berada di depannya.
Kedua orang itu mengibai meminta ampunan.
Bagaimana mereka tidak tahu malu membunuh majikan yang telah memberi mereka makan dan kesempatan untuk hidup?
Naruto tidak bisa menerima bagaimana seseorang bisa berubah menjadi keji karena dendam.
Kepala Rumah Tangga Izarus Castle, kepala kamar pribadi raja, dan pengurus perapian masih berjuang berkata bahwa mereka tidak bersalah.
Tidak bersalah katanya?! Naruto mendengus kesal. Kekonyolan itu mengiritasi kupingnya.
Tidak bersalah menyalakan perapian dengan briket yang mengandung gas karbondioksida di atas kewajaran? Atau tidak bersalah karena bersekongkol membuat ayahnya mati?!
Bagian manapun itu, Naruto hanya punya satu tindakan.
Ketiganya berlutut di depannya. Naruto, mengulurkan tangan kepada seorang algojo yang sudah bersiaga. Meminta pedang tajam untuk menghukum para pembunuh ayahnya.
Satu ayunan kuat pedang telah memutus kehidupan dan membuat kepala itu terlepas dari badan.
Dalam satu tebasan, darah muncrat mengenai pakaian dan juga dinding. Menebar rasa dingin hingga menegakkan bulu roma. Kedua orang yang belum dieksekusi telah kehilangan bahasa. Mereka hanya bisa menggigil ketakutan, dan pasrah akan takdir yang menghempas mereka dalam sebuah lubang neraka.
Tiga mayat tanpa kepala teronggok begitu saja di dalam penjara bawah tanah Izarus Castle. Tergenang oleh darah. Menyisakan bau anyir yang menjijikkan.
Satu tugas berat telah dilaluinya. Langkah Naruto kian ringan keluar dari ruangan apek itu. Kakinya menapaki tangga, keluar dari dungeon, diikuti para pengawalnya yang setia.
Seperti cahaya terang yang ia hadapi setelah keluar dari ruangan itu, Naruto telah siap menatap dunia. Ia tidak pernah merasa setenang ini usai semua yang terjadi. Perasaannya yang berat berubah ringan karena berhasil membalaskan dendam ayahnya.
.
Seharusnya Naruto tidak merayakan sesuatu terlalu dini. Sebab, waktu adalah pengkhianat yang kejam. Sekali sang waktu bisa sangat bersahabat, tapi di kesempatan lain, ia akan menggorok lehermu dengan senyuman lebar.
Seperti saat ini.
Butler yang ia percaya berlutut di hadapannya. Mengabarkan berita duka yang menyayat hati. Bahwa desa tempat Naruto menghabiskan waktu untuk menempa diri telah lenyap dilalap api.
Bagian terburuknya, ayah baptis yang memberikan dia kasih sayang dan mengajarkan banyak hal yang tidak bisa dilakukan sendiri oleh ayah kandungnya, dikabarkan tak selamat.
Jiraya si orang tua berambut putih itu telah lebur jadi abu. Tidak ada pelukan penuh rasa bangga yang tersisa untuknya.
Masih belum juga puas, nasib menjungkir hidupnya dan menjatuhkan dia di kegelapan ketika kabar bahwa Shion, sang penggengam hatinya telah lebih dulu menghadap sang kuasa dalam insiden tersebut.
Sang kekasih, telah tewas terpanggang di sana. Dan ia merasa kepalanya nyaris pecah membayangkan kejadian itu. Seseorang yang ia cintai merintih dalam api, tanpa belas kasih disulut oleh orang terpenting kerajaan?!
Keparat macam apa yang memainkan peran orang jahat yang berkedok malaikat?!
Sialan betul! Apa yang sebenarnya terjadi, dan luput dari matanya?!
Hinata Hyuuga mengkudetanya?—Pikirnya. Karena ia belum mewarisi tahta, maka perempuan itu berhak memberi perintah seluruh negeri?!
Membunuh kaumnya, seolah mereka onggokan sampah yang perlu dibakar dan disingkirkan dengan segera. Apa yang ada di kepala penyihir itu?!
Oh ... cinta yang ia genggam berubah jadi arang. Mencoreng mukanya sedemikian rupa. Bagaimana bisa negara yang ia banggakan menghabisi rakyatnya?!
Dan bagian paling tolol dalam sejarah hidupnya adalah, membiarkan Hinata Hyuuga mengacak-acak harga dirinya. Melangkahinya seolah ia adalah keset dari Minato Namikaze.
Bangsat!
Keparat busuk sialan, si Hyuuga. Mereka menghianati calon raja. Tidak ada yang bisa lolos dari amukannya.
Naruto mendorong meja. Menyapu semua barang di atasnya, menghancurkan meja kerja milik ayahnya dengan satu kali reaksi.
Hatinya begitu nyeri, ia tidak bisa menggambarkan rasa sakit dan kemarahan itu sekarang. Rasanya seperti gabungan tercekik dan juga terbakar.
Segala kenangan Shion dan cinta mereka tidak ubahnya sebuah silet yang menyayati hatin.
Bagaimana caranya agar dirinya terbangun dari mimpi buruk ini?
Naruto meremas rambutnya kuat-kuat. Tenaganya telah terserap habis ke bumi. Ia terduduk diam di lantai sementara para dayang istana tidak berani memandang.
Kosong, hampa, sakit, dan juga rasa bersalah merasuk batin. Mengikatnya, tak mengizinkan ia lolos.
Rasa-rasanya air mata yang ia keluarkan pun, menjadi tidak berguna. Karena ulah satu manusia, ia kehilangan banyak hal yang paling berharga.
Bagaimana mungkin ia bisa memaafkan Hinata kali ini?! Bagaimana bisa seorang Hyuuga Hinata, kawan karibnya—teman yang ia percayai—tangan kanan ayahnya tega melakukan ini kepadanya?!
Kali ini, ia bersumpah! Tidak akan membiarkan Hinata lolos dari cengkeramannya.
Air mata Naruto jatuh karena dua hal. Perasaan sedih dan kecewa karena tidak bisa melakukan apa pun untuk menolong ayah angkat dan semua orang yang ia kenal baik di sana.
Ia makin meratap mengingat bagaimana tidak mengetahui dan seolah membiarkan kekasih hatinya di sana, berjuang sendirian, dan dibunuh dengan keji oleh penasuhat kerajaan?!
Bagaimana ia bisa menggambarkan perasaan marahnya karena dikhianati oleh orang yang ia percayai?!
Perasaan itu mencekiknya. Orang yang paling ia inginkan di dunia direnggut secara paksa. Dibunuh dengan sadis oleh orang yang bahkan berkata kalau kesetiaannya hanya untuk negara ini.
Hinata sudah membunuh calon ratu. ITU PENGKHIANATAN BESAR!
Kudeta!
Sebetulnya apa yang ada dalam otak penyihir itu? Berani sekali ia melangkahi teritorinya dan seenak hati menentukan siapa yang hidup dan siapa yang harus mati.
Naruto menggeram. "PANGGIL HINATA SEKARANG!"
"My Majesty—"
Tangan Naruto terangkat ke udara, "Panggil dia sekarang!" suara Naruto menuntut. Matanya merah. Kobaran dendam itu menyala dalam matanya.
.
.
Hinata Hyuuga Sang Agung sudah berdiri tegak di depannya. Wajahnya dingin, tidak menampilkan gejolak emosi apa pun.
Naruto menatap perempuan yang datang dengan pakaian kebesarannya, berupa gaun berwarna navy dengan sulaman perak yang rumit. Serta sebuah jubah yang tidak pernah absen disandangnya.
"Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu, Hyuuga?!"
Hinata menekuk sedikit pandangannya ke bawah. Membuatnya terlihat menundukkan kepala hormat, "My Majesty ... bagian mana yang Anda ingin tahu?"
Naruto tersulut, semua tingkah Hinata tak ubahnya seorang kijang yang terluka. Berlagak innocent setelah membunuhi warga Woodlands?!
Cih!
Terkutuklah Hinata!
"Kau! Membantai semua kaumku?!"
"Kami hanya meminimalisir endemik, My Majesty."
"Persetan! Aku yang lebih tahu keadaan di sana ketimbang kau, Witch! Tidak ada endemik sialan itu! Kau bisa berbohong pada seluruh negeri, tapi tidak kepadaku!"
Hinata bungkam. Enggan menerima atau menolak tuduhan Naruto kepadanya.
"Kau akan mati! Aku yang memastikan kematianmu nanti. Tunggulah!"
"Saya hanya melakukan tugas saya sebagai pelindung negara."
"Hentikan omong kosongmu! Pembunuh sepertimu harusnya mati di tiang gantungan!"
Tenang saja. Setelah aku jadi raja, aku yang akan membunuhmu dengan tanganku!" sumpah Naruto menusuk hati Sang Penasihat Utama.
Meski begitu, Hinata tahu. Jikalaupun Naruto meminta kehidupannya sebagai imbalan kejahatannya, ia bersedia. Ia akan mati jika itu setara dengan kejayaan Northwind dan juga kebahagiaan pangerannya.
.
.
.
.
Bersambung
Ditulis oleh Pororo90. Aku harap kalian menyukainya. Satu hal yang harus kalian percaya, siapkan hati ketika membaca cerita ini.
