"Ahh", aku memegang kepalaku yang pusing. Ku pandangi hutan belantara tempatku bertarung dengan Madara barusan. Dimana dia?

Tunggu.

Dimana Tim Taka?

Kenapa mereka juga tidak ada.

Ku pandangi langit malam yang penuh bintang dan bertanya-tanya. Apa yang sudah dilakukan Madara padaku?

Beberapa menit di ambang kebingungan, aku melihat secarik kertas yang ditancapkan dengan kunai. Di kertas itu bertuliskan.

Jawaban dari kebingunganmu ada di Desa Konoha.

Cih, apa maksudnya? Aku harus ke desa itu lagi? Ah orangtua yang benar-benar merepotkan. Apa dia mengajakku untuk bertarung di sana?

Namun, berjam-jam menelusuri hutan, aku tidak menemukan Madara. Anehnya, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku. Chakra ku seperti terhisap habis dan aku sama sekali tidak bisa menggunakan sharingan.

Sepertinya aku harus menyelinap diam-diam ke Konoha.


Sial, bahkan berlari dari atap ke atap saja pun tidak bisa. Aku seperti bukan seorang ninja sekarang. Bagaimana aku menyelinap ke desa ini? Aku akan segera di ringkus oleh Anbu Konoha ketika menginjakkan kaki di pintu gerbang.

"Sasuke"

Aku terkejut mendengar suara di belakang ku. Aku berbalik dengan penuh kehati-hatian untuk mengetahui orang yang memanggilku dengan santai. Tidak terkejut sama sekali.

"Shino?"

Orang itu berdiri saja memandangku. Tidak terlihat ingin menyerang ku.

"Kau tidak dingin berpakaian seperti itu malam-malam?", tanyanya dengan polos.

Ada apa dengan pakaianku? Apa salah aku menggunakan yukata?

"Hahaha, aku bercanda"

Orang ini merangkul ku dengan santai. Ia menarikku masuk ke gerbang Konoha.

"Aku tau kau tidak sama dengan serangga-serangga menyebalkan itu"

Mulutku sedikit terbuka lebar karena shok mendengar kata-kata ini keluar dari mulut seorang pencinta serangga. Lalu apa barusan yang terjadi? Shino tertawa puas? Apa dia juga kehilangan chakra nya sehingga kehilangan jati diri juga?

"Shino! Kenapa kau malah di sini!"

Suara perempuan mengejutkanku. Tidak, bukan suaranya. Hinata, ya, Hinata mengaktifkan byakugan nya sekarang. Ternyata tidak semua orang kehilangan chakra. Sebenarnya apa yang terjadi di dunia ini?

"Kau menggunakan byakugan?", tanyaku kepada Hinata. "Ada apa dengan pakaianmu?", aku lebih kaget melihat gaya pakaian seorang Hyuuga Hinata yang pemalu. Kenapa dia jadi bar-bar begini?

"Apa yang kau maksud dengan byakugan? Clan Hyuuga jika marah memang seperti ini, urat di sekitar matanya keluar semua", jawab Kiba yang terlihat sibuk menjauhkan Akamaru darinya.

"Gyaaaaaa!!! Jangan menggigitku!!!!", teriak Kiba berlari menjauh. Aku masih kebingungan dengan semua ini. Kenapa mereka terlalu santai melihatku? Kenapa sifat mereka berubah drastis?

Ah, aku harus menemukan Naruto dan Sakura. Aku tau mereka aneh, tapi jika diajak diskusi, mereka lebih nyambung daripada yang lainnya.

"Dimana Naruto?"

"Siapa Naruto?", tanya Hinata.

Mustahil seorang Hinata tidak mengenal Naruto. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa ini yang dimaksud Madara mencari jawaban di Konoha adalah mencari Naruto? Itu berarti Naruto satu-satunya orang yang tidak mengalami genjutsu Madara.

"Sasuke kun"

Tiba-tiba saja ada seseorang memelukku dari belakang. Aku menepisnya karena terlalu kaget. Berani-beraninya gadis ini menyentuhku seenaknya? Bahkan Sakura dan Ino tidak pernah seagresif ini.

"Sasuke kun, dada mu sangat seksi sekali. Kau mencoba menggodaku?", tanyanya dengan wajah menjijikkan. Aku bergidik ngeri melihatnya.

"Lagi-lagi Sasuke seperti ini", Shino dan Hinata berjalan melewati ku seperti sudah biasa dengan ini semua. Genjutsu seperti apa yang dilakukan oleh Madara hingga semua orang terlihat aneh?


Aku berlari menjauhi perempuan-perempuan aneh di sepanjang jalan. Dalam waktu 15 menit, aku sudah dipeluk oleh 15 wanita yang tidak dikenal. Jika mereka adalah jurus sialan Naruto, aku akan memukulnya habis-habisan.

"Sasuke kun"

Lagi-lagi suara menjengkelkan, aku bersiap untuk kabur. Namun, ternyata itu Yamanaka Ino.

Tunggu dulu.

Dia tampak kalem dari biasanya.

"Kau sangat terburu-buru sekali, ingin menjenguk Menma?", tanyanya dengan lembut.

Aku melihat 2 orang pria di belakangnya. Chouji dan Shikamaru. Sesuai prediksi ku, sifat mereka berubah drastis.

"Apa kalian tau dimana Naruto?", tanyaku. Mereka saling pandang dan bertanya siapa Naruto. Tidak ada seorangpun bernama Naruto di Konoha. Aku jadi semakin yakin Naruto adalah kunci jawaban untuk menghilangkan genjutsu Madara.

"Kalau begitu, dimana Sakura?", tanyaku.

"Kau ini seperti tidak mengenal Sakura saja. Dia pasti sedang berdiri di jembatan seperti biasanya"

Shikamaru menjawab dengan nada ceria. Sebuah pemandangan horror yang pernah ku liat dalam hidupku.

"Baiklah kalau begitu", aku berlari pergi untuk bertemu dengan Sakura. Aku yakin gadis itu bisa membantuku menghilangkan genjutsu Madara. Karena Sakura satu-satunya ninja yang selalu berhasil menghindari genjutsu.


Aku berlari terburu-buru ke arah jembatan tempat biasa aku menunggu Guru Kakashi. Ku lihat sosok gadis merah mudah berdiri di sana. Ia memandang sungai di bawahnya dengan tatapan sedih. Aku yang ingin menanyakan sosok Naruto tiba-tiba mengurungkan niat. Aku justru penasaran dengan apa yang dilakukan Sakura malam-malam di sini.

"Sakura", panggilku pelan. Ia tersentak kaget dan menghapus air matanya. Aku jauh lebih kaget melihatnya menangis sendirian.

"Kenapa kau menangis?", tanyaku.

"Ah, Sasuke", katanya sambil menghapus air matanya cepat. Ia tersenyum melihatku. "Akhirnya kau datang juga, ayo kita menjenguk Menma sekarang".

Daritadi aku mendengar nama Menma, sebenarnya itu siapa? Dan kenapa Sakura mengajakku menjenguk orang yang tidak di kenal? Apa orang itu yang membuat Sakura menangis?

Dia berjalan pelan di depanku tanpa mengoceh seperti biasanya. Aku tau jika Sakura terkena genjutsu, namun kenapa aku jadi makin sebal begini? Seharusnya aku bersyukur karena Sakura lebih pendiam dari biasanya.

Beberapa menit tidak ada satu patah kata apapun dari mulut Sakura. Aku terlalu gengsi untuk mengajaknya ngobrol duluan.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Aku memperhatikan pandangan matanya yang melihat ke arah kiri. Aku mengikuti arah pandangannya dan melihat...

"Ho.. hokage ke 4? Ayah Sakura?", tanyaku tidak percaya. Aku kembali memandang Sakura yang berwajah lebih sedih dari sebelumnya. Ah, tidak. Sungguh aku membenci ekspresinya yang seperti ini.

"Sasuke, bagaimana rasanya memiliki saudara? Apakah menyenangkan?", tanyanya.

Aku tertegun.

Jangan-jangan Itachi ada di sini juga? Itu berarti ayah dan ibu belum mati. Namun aku tidak ingin termakan genjutsu sialan ini. Mereka hanya bohongan dan gadis menyebalkan di depanku ini juga tidak nyata. Aku tidak bisa dibodohi begitu saja.

"Ah bicara apa aku ini? Ayo jalan", ia melangkah lagi dengan ekspresi yang sama. Dia terlihat sangat menyedihkan.


Aku tiba di rumah sakit Konoha, aku tidak tau Sakura membawaku kemana. Yang ku tau adalah aku dan Sakura berjanji untuk menjenguk seseorang bernama Menma.

Sakura membuka pintu dengan pelan, aku melihat siapa lelaki yang berbaring di tempat tidur itu.

"Naruto?"

Aneh, semua orang tidak mengenal Naruto. Kenapa si oren cerah itu ada di sini? Mereka membohongiku kah?

"Menma", lirih Sakura menatap Naruto dengan penuh perhatian.

Pikiranku yang kebingungan karena adanya sosok Naruto lagi-lagi lenyap seketika ketika melihat Sakura menatap Naruto dengan penuh kasih sayang. Tangan mungil itu ingin membelai rambut kuning Naruto. Tanganku tidak bisa tinggal diam, aku tau ini salah, tapi pemandangan ini sangat menyebalkan.

"Hinata", igau Naruto dalam tidurnya.

Kulihat ekspresi kaget dari Sakura. Ia menarik tangannya kembali. Gadis itu seperti menahan tangis.

Kenapa? Kenapa kau jadi gadis lembek begitu? Aku benci melihatnya. Banyak pertanyaan menghampiri ku. Kenapa Sakura sedih melihat Naruto? Kenapa Sakura terkejut mendengar nama Hinata? Kenapa Sakura terlihat sangat cemburu? Dan kenapa dia tidak menghiraukan ku sama sekali?

"Oh, sudah jam segini. Kau harus pulang", kata Sakura dengan senyum palsunya. Ia mendorong pelan punggung ku ke luar ruangan.

"Senangnya bisa makan malam bersama keluarga"

Sakura tersenyum melihatku.

Keluarga?

Mereka masih ada?


Aku membuka pintu rumah yang terlihat masih sangat bagus. Aku melangkah hati-hati masuk ke ruang makan. Sungguh luar biasa, karya dari Madara seperti nyata. Aku tidak percaya di depan mataku ada Itachi, Ayah dan Ibu.

"Ah, Sasuke-kun, tidak biasanya kau datang cepat", kata Ibu. Dia cantik seperti biasa.

Aku duduk di meja makan yang tidak asing lagi. Ku lirik ayah yang sedang tertawa terbahak-bahak bersama Itachi. Sungguh mengerikan sekali.

"Sasuke-kun, jus tomat kesukaanmu"

Aku melirik ibu lagi, kenapa Ibu tidak ada perubahan sama sekali? Ku pikir Ibu akan berubah menjadi galak dan mengerikan.

"Jadi, kau berencana melamarnya minggu depan?", tanya Ayah dengan senyuman manis. Sasuke nyaris tersedak melihatnya.

"Iya", jawab Itachi.

Itachi akan menikah?

"Aku harap Sakura tidak akan menolakku untuk kedua kalinya"

"Bruuumppph!!!", kali ini aku tersedak sungguhan. Semua anggota keluargaku melihatku dengan tatapan aneh.

Menikah? Itachi menyukai Sakura?


*TBC*

Terimakasih telah meluangkan waktu membaca fic acak adul buatanku.

ありがとう