Langit biru itu menghiasi atas desa Konoha, sinar mataharinya menembus awan-awan putih yang bergerak perlahan. Burung-burung berkicau dan terbang dengan bebas, sesekali angin berhembus memberikan kesejukan bagi para penghuni desa. Patung-patung wajah pemimpin desa itu terpahat sampai tujuh wajah,menandakan jumlah pemimpin yang sudah atau sedang memimpin desa tersebut. Naruto adalah hokage saat ini sekaligus hokage ke tujuh.

Ia duduk di kantornya berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan berkas-berkas menggunung yang menutupi seluruh permukaan meja dan tinggi tumpukan itu menghalangi wajahnya persis. Sudah 2 jam ia mengurus berkas-berkas tersebut dan belum berhenti juga.

Shikamaru menghela napas melihat temannya itu memaksakan diri, "Istirahatlah dulu, pulang ke rumah dan mandi sana. Sudah dua hari kau tidak pulang kan"

"Sedikit lagi selesai, hanya butuh 1 jam lagi. Setelah itu aku akan pulang"

Krek.

Pintu ruangan hokage dibuka. Seorang teman lama datang,Uchiha Sasuke.

"Yoo.. Sasukee"Naruto bersemangat saat sahabatnya datang. "Sudah lama tidak bertemu, sudah 2 bulan lalu terakhir kau pulang ke desa."

"Yaa. Aku memutuskan tuk mampir karena lokasi misi dekat dengan desa"

"Sakura dan Sarada pasti sangat senang. Apa kau tinggal di desa untuk beberapa hari?"

Sasuke mengangguk."Selain itu kita juga punya masalah baru"

"Apakah kau menemukan jejak Otsutsuki Kaguya?!"Seru Shikamaru.

"Jejaknya masih samar dan bukan itu masalahnya."

"Lalu apa yang menjadi masalah kita sekarang?"Tanya Naruto.

"Seorang ninja waktu bernama Tein. Dia masalah kita sekarang"

"Ninja waktu?"Tanya Shikamaru. Dia cukup terkejut mendengarnya, seseorang dengan kemampuan memanipulasi waktu kah? Atau seseorang yang bisa melakukan time travel? Atau keduanya?

"Coba jelaskan"Pinta naruto tenang.

"Aku bertemu dengannya saat mencari jejak Kaguya satu minggu lalu. Dia melakukan ninjutsu dan mengirimku ke masa lalu, masa hokage kedua menjabat. Dengan kemampuan Rinneganku, aku berhasil kembali ke waktu sekarang. Dia merupakan salah satu korban perang ninja ke 4."

Naruto menjadi serius saat mendengar 'perang ninja ke 4' perang itu benar-benar tragedi.

Sasuke melanjutkan"Dia bercerita, karena perang itu dia kehilangan segalanya. Dia Cuma orang biasa yang termotivasi karena dendam pada ninja-ninja penyebab perang. Dia berniat balas dendam. Baginya perang Cuma menguntungkan desa-desa besar dan desa kecil tak mendapat apa-apa. Karena itu dia belajar ninjutsu waktu yang terlarang ini"Sasuke mengakhiri ceritanya.

"Karena itukah dia mengirimmu ke masa lalu? Agar kau menghilang"Tanya shikamaru.

"Sepertinya dia punya dendam sendiri terhadap clan Uchiha."

"Karena itu kau datang ke desa karena khawatir dengan Sarada?"Naruto menyimpulkan.

"Ya"

"Kita harus mencari dan menghentikannya lalu-"

"Tidak perlu mencarinya, dia akan tiba di Konoha dalam beberapa hari"

Shikamaru dan Naruto terkejut."Bagaimana kau tau?"Tanya pria bermarga Nara itu.

"Dia mengatakannya padaku"


Sasuke tiba di rumahnya, Sakura yang tidak mendapat kabar akan kepulangan Sasuke reflek berdiri dari posisi santainya di sofa ruang tamu.

"S..sasuke-kun..! kau pulang"

"Ah ya, kali ini misi dekat dengan desa karena itu aku kembali"Ia tersenyum

Sarada keluar dari kamarnya, "Papa kau pulang!"Ia menghampiri Sasuke dan memegang tangannya.

"Bagaimana kabarmu?"Tanya Sasuke lembut

"Baik. Kami baru saja menyelesaikan misi. Apa kau tinggal lebih lama di desa?"

"uhm.."Sasuke mengangguk. Ia tersenyum melihat putrinya yang kegirangan.

Mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya Sasuke bertanya duluan."Mau keluar untuk jalan-jalan?"

Sarada mengangguk semangat.

"Baiklah kalau begitu aku akan belanja hari ini"Sakura juga jadi sangat semangat.

"Yeaaa"Ibu dan anak itu bersorak senang. Sasuke juga tak dapat menahan senyumnya yang terus ia perlihatkan sejak kedatangannya.

"Hei Papa, apa kau pernah mencoba burger di sana?"Tanya Sarada.

"Burger? Aku hanya tau Ramen Ichiraku, dulu Sakura, Naruto, aku dan Kakashi selalu makan di sana sehabis misi"

"Berarti kau harus mencoba burger di sana, biasanya aku dan yang lainnya berkumpul di situ sesudah misi"

"Baiklah"

Mereka pergi ke tempat makanan cepat saji tersebut.


"Bagaimana?"Tanya Sarada. Sasuke mencoba segigit burger tersebut,ia mengunyahnya perlahan

Matanya sedikit terbuka,"Enak juga"Tetap dengan sikap cool nya.

"Ya kan? Ini tidak kalah enak dengan ramen Ichiraku"

"Apa kau kesulitan dalam sesuatu?"Sasuke membuka percakapan."Kau bisa ceritakan padaku"

"Hmm.. kau tau sharinganku sudah bangkit, dan aku hanya tau cara menggunakannya lewat buku. Tapi akan lebih efektif jika ada yang mengatakan langsung cara menggunakannya bukan?"

Sasuke tau arah pembicaraan Sarada.,"Maaf karena tidak bisa selalu ada di akan mencoba pulang setiap ada kesempatan untuk mengajarimu"

Sarada tersenyum,"Baiklah pa, haha. Jangan paksakan dirimu demi aku, aku tau desa membutuhkanmu. Aku mengerti kok"Ujarnya tulus.

Sasuke merasa bersalah, di sisi lain ia berterima kasih karena Sarada mau mengerti.

"Tapi pa.."Sarada menyeruput minumannya sebelum melanjutkan pertanyaannya." Kau sangat handal menggunakan matamu, apa kau belajar lewat buku atau seseorang mengajarimu?"

Sasuke berhenti makan, ia berpikir sejenak.

"Tidak ada seseorang yang benar-benar mengajariku, bisa dibilang aku mencari cara untuk menggunakannya."

"Ehh? Benarkah? Kau sangat keren Papa"

"Kapan kau membangkitkan sharinganmu?"

"Uhmm.. hari dimana kita pertama kali bertemu, aku sangat ingin bertemu denganmu. Tanpa kusadari aku sudah memiliki sharingan"Penjelasan Sarada membuat Sasuke makin merasa bersalah.

Sarada menyadari itu dan buru-buru mengalihkannya, "Kalau kau, kapan sharinganmu bangkit?"

"Saat umurku 8 tahun."Jawab Sasuke singkat. Ekspresinya menjadi datar.

"Kau benar-benar hebat, dan apa yang kau lakukan sampai sharinganmu bangkit? Aku membaca buku, katanya seorang uchiha mendapatkan sharingan tergantung dengan emosi dirinya. Cakra khusus akan terbentuk di otak dan membangkitkan sharingan"

Sasuke terdiam, dia enggan menjawab tapi Sarada sangat ingin mendengarnya. "Katakan padaku, aku ingin tau"

Sasuke masih terdiam

"Ayolah, kenapa kau tidak mengatakannya padaku.."Sarada terus membujuknya.

"Saat itu aku melihat seluruh clan..dibantai"

Sarada terkejut bukan main. Itukah yang membuat sharingan ayahnya bangkit? Melihat seluruh clan terbantai saat usianya 8 tahun. Sungguh ia tak tau harus berkata apa. Tenggorokannya terasa tercekat.

"Orang itu mengatakan padaku untuk membencinya dan menjadi lebih kuat untuk menghadapinya suatu saat. Sejak saat itu tujuan hidupku berubah, aku mencari kekuatan agar bisa membunuhnya."Suara Sasuke menjadi dingin dan datar. Pikiranya melayang ke hari itu.

Sarada menelan ludahnya,"Lalu kau membunuhnya?"

Sasuke menatap Sarada,"Ya"

Sarada memegangi telapak tangannya sendiri, ia tidak pernah tau bagaimana perasaan ayahnya saat itu. Ia pasti sangat menderita bukan.?

"Lalu apa yang kau lakukan setelah itu?"Tanya Sarada lagi.

"Aku bergabung dengan akatsuki dan berniat menghancurkan Konoha?"

"Kenapa kau melakukannya? Bukannya tujuanmu sudah tercapai"Sarada sama sekali tak mengerti. Ia tau kini ayahnya ada di pihak Konoha, ia hanya ingin tau apa yang dipikirkan ayahnya sampai bisa terpikir masuk ke akatsuki dan berniat menghancurkan Konoha.

"Karena aku menemukan kebenaran dibalik tindakan orang tentang Uchiha Itachi"

"Kebenaran?"

"Sarada, clan kita tidak sebaik yang kau pikir"

"A..apa maksudnya itu? "Tanyanya sedikit terbata.

"Clan Uchiha pernah berniat untuk melakukan kudeta pada Konoha. Pamanmu Uchiha Itachi dan temannya Uchiha Shisui berusaha mencegah hal itu. Aku masih sangat kecil dan tidak tau menahu tentang hal itu. Itachi berperan sebagai mata-mata ganda Konoha dan Uchiha. Ia berusaha mencari jalan keluar. Itachi memberitau hal itu pada hokage ke 3, para petinggi sampai pada keputusan untuk menghancurkan clan. Hokage ketiga meminta Itachi mengulur waktu namun Danzo slah satu petinggi desa saat itu mendesak Itachi untuk segera membantai clan."

"Lalu apa yang terjadi padanya?"

"Itachi adalah ninja yang berbakat, aku selalu mengagumi dan ingin jadi sepertinya. Dia dihadapkan pada pilihan untuk berpihak pada desa atau pada clan uchiha. Jika ia berpihak pada clan, maka desa akan menghancurkan clan uchiha bersama dengan dirinya. Dan dia berpihak pada desa."

Sasuke terdiam.

"Lalu apa yang terjadi saat dia berpihak pada desa?"

"…"

"Katakan padaku"

"…"

"Pa!"

"Dia membantai seluruh clan dan membuat dirinya jadi penjahat, namun ia bisa menyelamatkan satu orang."Sasuke menghela napas, ia melanjutkan" Aku. Baginya, nyawaku lebih berharga dari desa. Hanya hokage ketiga dan petinggi desa yang mengetahui tentang hal itu"

Sarada tak bisa berkata-kata. Tanpa terasa air matanya mengalir mendengar cerita tersebut. Sarada bisa memahami kenapa ayahnya beralih untuk menghancurkan desa.

"Lalu apa kau menyesal telah membunuhnya?"

"Ya."

"Lalu apa itu yang membuatmu kembali memihak konoha?"

"Tidak, aku bahkan tetap ingin menghancurkan Konoha. Tapi aku memiliki teman-teman yang keras kepala dan tak menyerah membawaku pulang. Kami bertarung dan akhirnya aku sadar bahwa aku salah dan dia benar"

"Nanadaime kah?"

Sasuke tersenyum dan mengangguk."Dan ibumu"

Mereka terdiam sejenak. Sarada menghapus air matanya. "Papa"Panggilnya.

"hm?"

"Apakah aneh jika aku ingin bertemu dengan Paman Itachi"

Sasuke sedikit terkejut mendengarnya namun selanjutnya ia tersenyum.

"Ia akan senang bertemu denganmu juga"


Hari semakin sore, Sasuke dan Sarada berjalan pulang bersama. Suara langkah kaki mereka sampai terdengar karena mereka tak saling bicara. Sarada memikirkan cerita ayahnya itu, ia merasa bangga memiliki seorang paman yang luar biasa.

"Pa"Panggil Sarada memecah keheningan.

"hm?"Sasuke menoleh.

"Mengenai ceritamu, lalu apa yang terjadi pada Danzo? Apakah dia-"

"Aku membunuhnya."Potong Sasuke tegas.

"Kau menyesal?"

"Tidak sama sekali"

Sarada tersenyum, "Dia pantas mendapatkannya"

Sasuke merangkul pundak putrinya tersebut dan berjalan bersama ke rumah


Tbc...