Diamond no Ace (c) Terajima Yuuji

Ketika pagi menjelang, Eijun akan sibuk membuka toko bunganya dan menyirami semua tanaman sekaligus memberinya pupuk. Tidak lupa setelah sarapan simpel dengan satu set hidangan berupa salmon panggang, sup miso, acar mentimun, nasi, dan segelas teh hijau panas.

Dia mulai paginya dengan rutinitas menyenangkan sekaligus menyejukkan hati. Menyirami tanamannya yang mulai bermekaran seraya memperhatikan para siswa siswi mulai dari TK sampai SMA berangkat sekolah. Kendaran bermotor atau mobil yang sesekali lewat tapi tidak memberikan polusi yang membahayakan, jalanan yang ada di pinggiran kota tapi masih terbilang lumayan ramai. Sapaan para tetangga yang sesekali memberikan Eijun sebungkus makanan pendamping seperti konomon atau acar ubi gunung. Melayani pelanggan yang sengaja datang pagi-pagi kemudian buru-buru pergi dengan keringat yang merembas membasahi kulit mulus mereka. Pagi yang sejuk dengan intensitas udara yang tidak begitu panas. Daerah pinggiran kota Nagano yang sangat langka dilalui mereka para pelancong atau turis, tapi bukan kota yang sepi.

Terkadang Eijun menyalakan televisi yang diletakkan di seberang counter pembayaran dan membiarkannya menyiarkan berita pagi. Setidaknya Eijun ingin tetap up to date pada berita Jepang entah itu model apa saja, sekaligus menemaninya bekerja. Memotong daun yang kering, memangkas beberapa tangkai kemudian dibudidayakan di taman kecil sebelah rumah berukuran tiga kali sepuluh meter bertingkat dua. Balkon lantai duanya Eijun gunakan untuk budidaya tanaman pokok atau bumbu, berupa daun kare, mint, atau buah kecil layaknya strawberry dan jeruk nipis kecil.

Kata mereka, rumah kecil Eijun itu impian bagi semua pecinta tanaman. Ada banyak flora di setiap sudut, bahkan di dapur dan kamar mandi, tapi tidak membuat kesannya terlalu penuh atau mengganggu. Karena Eijun paham bagaimana cara merawatnya, apalagi pemilik rumah dan toko yang sebenarnya, paman yang tinggal agak jauh dari sini, sering mengirimi Eijun beberapa buku lifestyle atau budidaya tanaman. Yang jelas Eijun baca di waktu luang sembari menunggu toko ditemani segelas matcha hangat.

Ketika hari menjelang siang, beberapa pelanggan akan datang. Entah itu pelanggan tetap atau orang lewat yang Eijun tidak kenal. Mereka betah berdiam lama di dalam toko memilah bunga atau tanaman apa yang ingin mereka bawa pulang. Beberapa juga memilih duduk diam bersama Eijun membahas soal trik curang merawat tanaman. Atau membahas olahraga yang Eijun gemari, baseball.

Tapi walau suka, Eijun tidak bermain baseball. Dia hanya menonton dari televisi. Permainan liga Jepang yang sangat intensif tapi tidak bosan untuk ditonton. Kalau malam, Eijun sering diajak tetangga ke kedai seberang, toko jelas sudah ditutup, makan dan minum bersama seraya menonton pertandingan baseball. Tim favorit Eijun adalah SoftBank HAWKS, dan pemain favoritnya adalah Furuya Satoru dan Miyuki Kazuya. Di mata Eijun, mereka berdua adalah battery paling sempurna di seluruh Jepang. Dan digadang-gadang, mereka berdua akan mendapat penghargaan setelah pertandingan musim ini. Eijun berjanji pada dirinya sendiri saat ditayangkan di televisi nanti dia akan menonton sendiri dan merekamnya. Mengabadikan momen idolanya dan bisa dia tonton ulang kapan saja.

"Bahu mereka berdua sama-sama kuat, ya. Apalagi kecepatannya. Benar-benar gila." tuan Yamada yang datang membeli selusin bunga lily untuk dibawakan ke kuburan mendiang ibunya berseru antusias saat televisi di toko Eijun membahas soal pertandingan malam lalu. Terlihat di TV sang reporter yang sangat senang mengkaji ulang lemparan Furuya Satoru yang bukan main cepatnya, apalagi kontrolnya yang terus berkembang. Dia jadi seperti tidak terkalahkan.

"Sou da ne, punya bahu sekuat itu impian semua pemain baseball." Eijun yang membungkus selusin bunga lily itu menyahut, tangannya sangat lincah seakan sudah hapal di luar kepala.

"Dayo naa, aku ingin sesekali pergi ke Tokyo. Nonton mereka langsung sesekali."

"Ahahaha, bagaimana toko anda kalau ditinggal Yamada-san? Istri anda bisa marah lho." kekal Eijun, dia mengambil pita putih dan memberikan sentuhan akhir.

"Aku ajak saja dia ke Tokyo."

"Semoga berhasil deh."

"Kalau mau kau sekalian ikut juga. Sesekali liburan gitu ke kota besar." ajak Yamada, dia menerima bunga yang sudah rapi dan cantik kemudian membayarnya.

"Iie iie, saya cukup menonton dari televisi saja. Kasihan tanamannya nangis tak ada yang ngurus." balas Eijun, dia membuka mesin kasir dan mengambilkan kembalian untuk Yamada.

"Iya juga, kalau gitu nanti kalau sempat memang ketemu, aku mintakan tanda tangan deh. Oleh-oleh lah."

"Arigatou, anda benar-benar menolong."

Yamada mensaku dompetnya, "Terima kasih ya, Yoshiyuki, bunganya sangat cantik seperti biasanya." seru Yamada sebelum pergi.

Eijun hanya membalas "Sama-sama." kemudian mengantar Yamada sampai depan pintu dan melambaikan tangannya.

Yoshiyuki Eijun, pemuda berumur dua puluh dua tahun yang hidup mandiri di pinggiran kota Nagano sebagai pemilik toko bunga. Seorang pemuda supel yang memiliki senyum cerah sekaligus menyejukkan. Siswi jenjang SMA dan SMP selalu datang hanya untuk melihatnya sedang menunggu toko. Eijun tidak masalah sih, kalau bunga-bunganya bisa membuat orang-orang senang, walau tidak dibeli, dia tidak keberatan. Toh, keuntungan bisa datang kapan saja.

"Saa, waktunya ganti pupuk."

"Onii-chan!"

Eijun menoleh spontan begitu suara itu memasuki ruang dengarnya. Senyumnya terkulum otomatis begitu mendapati seorang anak perempuan berusia delapan tahun dengan ransel merah dan rambut diikat kuda tengah tersenyum lebar dan berjalan masuk dari pintu toko.

"Tadaima!" Gadis kecil itu berujar ceria, senyum lugu dengan gigi gingsul yang membuatnya makin terlihat manis.

"Okaeri, Naomi-chan." Balas Eijun hangat, ia meletakkan gunting di dekat pot bonsai lalu membungkuk sedikit untuk menyamakan tinggi dengan sang adik. "Bagaimana sekolah hari ini, menyenangkan?"

Gadis kecil itu, Yoshiyuki Naomi, mendongak tipis memandang sang kakak, lalu mengulum senyum kecil. "Sangat menyenangkan. Sensei ikut seminar atau apalah, jadi jam kosong deh. Seru sekali seharian tidak belajar full."

Eijun mendengus kecil dan mengacak gemas puncak kepala Naomi. "Kalau begitu kamu yang rugi."

"Hehe," Naomi tertawa samar. Lalu mengulet kecil dan menatap sekeliling toko, ia menghirup udara banyak-banyak seolah ingin memenuhi semua ruang dalam paru-parunya. "Haaah~ aku suka sekali aroma di sini. Onii-chan sugoii yo ne."

Eijun tersenyum sekali lagi sebelum menegakkan posisi berdirinya. "Kamu mau menunggu di toko lagi hari ini?"

"Hum! Kaa-chan pulang sore, lebih baik aku di sini bersama Onii-chan daripada menunggu di rumah sendirian."

"Boleh." Eijun menyahut ringan, lalu mengerling penuh makna kepada sang adik. "Tapi ingat peraturannya kan, Princess?"

Naomi berdiri tegak seperti tentara. "Siap!" Ia berkata lantang namun terdengar lucu. "Pertama-tama aku harus pulang dulu. Ganti baju, menyimpan tas sekolah, makan siang, dan kembali ke sini sambil membawa buku PR. Kedua, tidak merusak tanaman. Ketiga, tidak mengganggu pekerjaan kakakku tersayang. Keempat, bersikap ramah pada pengunjung. Kelima, selalu memasang senyum termanis sedunia. Keenam, kita adalah pasangan kakak-adik paling serasi!"

Eijun terkekeh renyah lalu mengusap kepala Naomi penuh sayang. "Pintarnya..."

Eijun beranjak ke counter, mengambil topinya dan memakaikannya ke pucuk kepala Naoki, "Musim panas sudah mau datang, kalau ada waktu luang Nii-chan temani Naomi-chan nanti jalan-jalan."

"Sungguh?! Kalau begitu ke pantai! Aku ingin mencari kerang." Naomi sudah lompat-lompat kegirangan.

Eijun tertawa kecil, adik angkatnya ini sangat lucu dan menggemaskan, "Nanti hati-hati di jalan ya. Kalau lampunya hijau artinya?"

"Jalan!"

"Kalau merah?"

"Berhenti!"

"Pintar deh adik kakak." puji Eijun mencubit pipi Naomi gemas.

"Iya dong, Naomi gitu lo. Ihihi, bye bye, Onii-chan." Seru Naomi langsung main lari meninggalkan toko milik Eijun, membuat sang kakak hanya tertawa kecil.

Eijun membenarkan posisi kacamatanya yang merosot dan menggulingkan netra coklat keemasannya mengelilingi tokonya, "Aku buatkan dia jus sebentar deh." gumamnya, Eijun melepas celemek hijaunya dan pergi ke dapur.

Ditemani segelas ice coffee dan gitar bolong berwarna coklat mengkilat, Kazuya duduk di kursi café luar, membiarkan jemarinya menari di atas gawai-gawai berbeda not. Dengan lincah memainkan alunan akustik menyejukkan siapa saja yang mendengarkan. Menatap jalanan yang sepi dia membiarkan waktu berlalu lambat, angin sepoi-sepoi menyisir rambut coklat mudanya. Membawa nada lembut pada para pejalan kaki.

"Miyuki-senpai, lusa kita tanding lagi. Kenapa malah ke sini?" tanya Furuya Satoru, entah sejak kapan dia selalu berada di samping Kazuya menemaninya ke mana saja.

"Kenapa? Di sini enak."

"Perjalanan Nagano-Tokyo itu capek, dan panas."

"Kau yang aku ajak mau saja."

"Aku takut Miyuki-senpai kabur."

"Gak akan lah, aku ingat kontrak."

"Syukurlah."

Kazuya memetik gitarnya lagi, mendawai sendu di tengah kota yang asing.

"Miyuki-senpai, kau menyedihkan."

Komentar kelewat jujur dari Satoru membuat Kazuya mendengus, "Terima kasih pujiannya, Furuya." Ia meletakkan dagu di atas body gitarnya dan memetik senar tanpa alunan yang pasti.

"Omong-omong kita di Nagano sekarang." Satoru berkata dengan ringan, matanya memandang ke arah jalan raya.

"Omong-omong kemejamu biru tua." Kazuya merespon sekenanya, lalu menyeringai tipis saat sang pitcher memeberinya tatapan tak senang. "Lho, aku benar kan? Kau memang memakai kemeja biru tua."

"Nagano." Ujarnya lugas. "Aku yakin Miyuki-senpai paham maksudku."

"Aw, Furuya-kun... Aku ini catcher, bukan cenayang."

Satoru menarik napas panjang, membuangnya cepat. "Ini soal Sawamu—"

"Furuya." Wajah Kazuya berubah serius, senyumnya terlaku kaku. "Menurutmu apa yang terjadi saat kita menyiram bunga yang sudah mati?"

Satoru berpikir singkat. Meski bertahun-tahun, bahkan sejak SMA ia mengenal sosok Miyuki Kazuya dan menjadi pasangan batterynya, Satoru tetap saja kerap kali merasa tersesat dan tak dapat mengurai benang kusut di pemikiran sang catcher.

"Bunga yang sudah mati?"

"Yep. Apa yang terjadi kalau kau menyiramnya? Apa bunga itu bisa hidup kembali?"

Satoru mengernyitkan hidung. "Tentu saja tidak. Itu mustahil."

"Nah," Kazuya mengulas senyum. "Itulah maksudku. Tidak ada gunanya menyiram bunga yang mati. Tidak ada gunanya membicarakan seseorang yang sudah mati. Dia tetap mati. Sawamura Eijun sudah mati."

"Miyuki-senpai..."

Kazuya bangkit dari kursi, mengeliat kecil. "Kau mau cari penginapan atau duduk sambil galau di sini sampai besok?" Tanya Kazuya sarkas. "Kalau mau galau terserah. Aku mau cari penginapan dan tidur nyenyak." Ia berkata, lalu memasukkan gitar kedalam tas gitarnya dan memanggulnya di sebelah bahu. "Bye, Furuya."

Satoru tersadar cepat dan lekas bangkit. "Miyuki-senpai, tunggu."

...

Naomi mungkin memang bukan adik kandung Eijun. Tapi Naomi jelas malaikat kecilnya. Dua setengah tahun yang lalu saat pikiran Eijun berperang dengan memorinya. Saat batinnya sengsara dan merana tersesat dalam ruangan kosong tanpa ingatan apapun kecuali namanya. Saat ia merasa sendirian di dunia ini, tak punya siapapun, dan tak lebih dari sebutir debu kelabu di ujung jalan yang rapuh. Tangan-tangan kecil Naomi adalah yang menariknya kembali ke titik kehidupan.

Naomi yang saat itu belum genap berusia enam tahun menggenggam tangannya erat, memberinya senyum paling murni dan paling tulus, lalu menawarinya sebuah keluarga. Bagaimana mata bulat Naomi memandangnya penuh kesungguhan dan tekad, kedua tangan mungilnya yang berusaha menangkup tangan Eijun hangat, serta kalimat sederhana, 'Onii-chan bisa jadi kakak ku' yang diucapkan Naomi mampu membuatnya kembali merasa hidup dan berharga. Menuntun jiwanya yang saat itu tersesat mencari-cari keping memori yang kabur.

Eijun membuang napas perlahan. Memijit pangkal hidungnya sekilas. Lalu memencet tombol on pada blender di depannya. Menyaksikan kala potongan-potongan strawberry itu hancur dan melebur bersama kepingan es, butiran gula, dan air. Ia melirik jam yang menggantung di dinding, hampir pukul satu siang. Sebentar lagi mungkin beberapa pelanggan akan datang mengisi bangku-bangku kosong di tokonya. Ia harus bersiap.

Lonceng bendenting, terdengar nyaring namun juga membawa kesan lembut dan damai. Eijun mematikan blender, membalikkan badan dan berlari kecil menuju bagian depan, lantas tersenyum otomatis. "Selamat datang." Sapanya ramah kepada dua orang wanita berpakaian semi formal yang membalas sapaannya dengan senyum sopan dan membungkuk kecil.

Dua wanita itu tampak asing. Eijun berasumsi ini pertama kalinya mereka mengunjungi tokonya. Dan seperti kebanyakan pengunjung baru lainnya, mata mereka langsung asyik menelusuri sekitar. Melihat ke segala arah, dan terkagum. Perpaduan alami dari florist dan kesan tenang tea room benar-benar tampak serasi. Eijun memang menjual beberapa makanan kelas ringan dan minuman—tidak untuk kopi, ia belum percaya diri menjadi barista. Jadi ia menggantinya dengan aneka jus buah.

"Anou, maaf, tempat anda ini toko bunga atau café, ya?" Salah satu di antara keduanya akhirnya bertanya.

Eijun mengulum senyum, lalu maju mendekat. "Konsepnya memang florist and café. Menunya tidak terlalu banyak, tapi saya harap anda merasa nyaman. Silakan duduk di manapun yang anda inginkan."

Dua wanita itu mengangguk lalu tersenyum maklum. Mereka memilih duduk di dekat tanaman gelombang cinta, memilih meja bundar dengan dua bangku kayu berhadapan. Eijun menghampiri sambil mambawa kertas menu.

"Ini, silakan dilihat. Panggil saja saya jika anda sudah memutuskan hendak memesan apa."

"Ah, ya. Terima kasih."

Eijun mengangguk kecil, membungkuk, lalu mundur kembali ke counter untuk menyelesaikan jus strawberry milik Naomi. Ia sengaja menuangnya ke mug besar lalu memberinya susu kental manis dan beberapa potongan strawberry kecil, lalu menyimpannya di lemari pendingin. Mungkin Naomi akan tiba beberapa menit lagi.

"Wah, tempat ini hebat yaa? Suasananya benar-benar nyaman."

"Hmm, rasanya jadi seperti secret garden."

Eijun hanya tersenyum mendengar percakapan dua pelanggannya. Rasanya ia sering sekali mendengar istilah secret garden. Ia mulai berpikir apa sebaiknya ia mengganti saja nama toko ini menjadi secret garden? Beberapa saat kemudian, pelanggannya mengangkat tangan, Eijun menghampiri dengan segera.

"Ah, aku ingin teh mawar dan macaron."

"Aku ingin white tea dan... Um, cheese cake saja."

Eijun mencatat pesanan. "Jadi secangkir teh mawar dan white tea, macaron dan juga cheese cake?"

Si wanita berbaju biru langit mengangguk padanya. "Hai," Lalu ia tersadar akan sesuatu dan berkedip pada temannya. "Eh, tumben sekali ya kita minum teh, padahal biasanya memilih jus atau kopi."

"Maa, suasananya begini jadi ingin minum teh."

"Memang tempat ini terasa nyaman. Aku jadi penasaran, semua tanaman dan bunga di sini apa saja ya namanya."

"Walau dijelaskan memang kau bisa mengingatnya?" Ledek salah satu perempuan lalu tertawa geli.

"Ukh, kan aku penasaran."

Eijun dari dapur juga tersenyum simpul. Dia seraya menyiapkan dua teko kecil bening, satu berisi teh mawar, dengan mawar kering yang mengambang di permukaannya, tapi di saluran penuangnya ada penyaringnya jadi tidak perlu khawatir kalau kelopaknya ikut. Sementara untuk white tea ada tabung kecil yang diisi daun teh muda kering. Eijun tidak memberikan gula pada kedua teko, karena ini bukan teh melati. Jadi dia biarkan rasa pahitnya. Lagipula sepotong cheese cake dan lima keping macaron berbeda warna sudah menjadi perwarna rasa mereka.

Eijun menyiapkan dua mangkuk kecil. Dia mengisinya dengan granola, yogurt, potongan strawberry dan blueberry. Eijun biasa memberika side menu lain secara cuma-cuma. Dia ingin memberi kesan tersendiri pada pelanggan dan membuat mereka kapan-kapan kembali. Untuk bahan-bahannya, Eijun kadang bisa ambil di tamannya sendiri.

Setelah selesai, Eijun menaruh semua di atas nampan dan membawanya ke kedua pelanggan. Dia menyajikannya satu persatu sambil berkata, "Granola ini service gratis dari saya." dengan senyuman manisnya.

"Hwaa..." wanita berbaju biru mengangkat mangkuk kecil itu dan memutarnya menyelidiki, "Cantik."

"Ahh, pakai gelas bening sama teko bening." perempuan satunya mau menangis melihatnya, dia seperti melihat surga kecil kaum hawa.

"Arigatou gozaimasu." seru kedua wanita. Eijun membalasnya dengan anggukan kemudian kembali ke dapur menaruh nampannya pada tempatnya. Dia mengintip kedua pelanggan tadi malah sibuk mengfoto makanan yang mereka pesan. Seperti tidak tega memakannya.

Pintu toko terbuka, lonceng berdenting, suara anak kecil yang sejak tadi ditunggu sudah tiba, "Onii-chan..." panggilnya berjalan riang menuju dapur, dia langsung memeluk kaki Eijun dan menggumam senang.

Eijun mencuci tangan dan mengelapnya dulu baru mengusap rambut Naomi.

"Aku mau kue juga.." seru Naomi mendongak.

"Sehabis mengerjakan PR, ya?"

"Temani."

"Oke."

Tanpa diminta, Naomi sudah naik ke kursi counter panjang dan mengeluarkan semua bukunya. Sementara Eijun dia mengambilkan jus untuk Naomi tadi dan segelas air hangat untuk dirinya. Dia bawa ke adiknya yang menggemaskan.

"Strawberry, kesukaanku." pekik Naomi senang, padahal dia mau mengerjakan PR nya tapi malah salah fokus.

Eijun duduk di sebelah Naomi dan menompang dagunya dengan satu tangannya. Kedua pelanggan yang melihat itu jadi gemas. Mereka diam-diam memfoto momen ini.

Setiap jam tiga sore, selalu datang seorang anak SMA yang bekerja di toko milik Eijun. Seorang pemuda minim ekspresi tapi pekerjaannya sebagai pelayan café lebih jago dari Eijun. Kadang malah menawarkan sesuatu di luar menu, dia sengaja. Katanya di menu isinya manis semua. Bagaimana dengan pelanggan yang tidak suka manis? Setidaknya siapkan kentang goreng atau apalah. Tapi Eijun tidak bisa menambah menu lagi. Dia khawatir kalau ada pelanggan lain datang untuk cepat-cepat membeli bunga, apalagi yang pesan karangan bunga. Butuh waktu lama untuk membuatnya.

Jadi kedatangan anak SMA ini sangatlah membantu Eijun. Sementara dirinya mengurus tanaman, anak itu melayani pelanggan.

Namanya Takeuchi Ryouta, biasa dipanggil Ryou-kun oleh Eijun. Pemuda kelas dua SMA yang tidak ikut klub manapun.

"Yoshi-nii, berasnya habis." seru pemuda itu mendatangi Eijun dari dapur.

"Oh, kalau begitu besok aku beli. Sama apalagi yang habis?" tanya Eijun yang sedang menghitung sesuatu.

Tanpa permisi, Ryouta mengambil memo kecil dan bolpoin, dia menulis bahan apa saja yang habis. Eijun melirik apa saja yang ditulis Ryouta.

"Bawang bombai juga habis?"

"Kentang juga. Banyak yang habis sih. Yoshi-nii tidak pernah mengecek kulkas ya?"

"Eee, hari ini aku lupa."

Ryouta menghela napas, "Tolong perhatikan dapur sendiri."

"Ehehehe, maaf."

Omong-omong, hari ini nyonya Yoshiyuki pulang lebih cepat. Nyaris berbarengan dengan kedatangan Ryouta. Ia sempat berbincang dengan Eijun singkat, bahkan Eijun buatkan teh cammomil kesukannya, sebelum akhirnya pamit pulang dan membawa serta Naomi. Mereka pergi sekitar lima belas menit yang lalu. Dan saat ini di toko hanya ada Eijun dan Ryouta setelah dua pelanggan sebelumnya ikut pergi sepuluh menit sebelumnya.

Saat lonceng bendenting kembali, Eijun langsung sigap menghadap pintu masuk. Ia tersenyum ramah kepada seorang pria berusia tiga puluhan yang sudah dikenalnya cukup lama. Pria itu juga tersenyum ketika mata mereka bertemu.

Tak banyak percakapan yang terjalin, selesai menyapa pria itu langsung berkata hendak mengambil pesanannya. Eijun sudah paham akan situasi dan langsung memberikan sebuket bunga aster dan dua pot kecil kaktus salju kepada sang pelanggan. Setelah membayar, pria itupun pergi.

Ryouta muncul dan langsung berdiri di sampingnya. "Nih, daftar belanjanya." Kata si remaja SMA seraya menyerahkan selembar kertas berisi beberapa catatan belanjaan yang harus dibeli.

Eijun mengamati daftar itu seraya mengangguk kecil. Lumayan banyak yang ditulis Ryouta. Ia lalu menatap pagawainya dan tersenyum ringkas. "Oke, besok ku beli semuanya." Lantas berjalan ke arah kulkas dan menjepit kertas itu dengan sekeping magnet.

"Omong-omong, Ryou-kun?"

"Hmm?" Ryouta bergumam sekenanya sambil merapikan sisa peralatan makan di meja yang sudah ditinggalkan pengunjung.

"Teman-temanmu ke sini lagi hari ini?"

"Entah." Ryouta membuang napas kecil. "Mereka datang sesukanya, aku bahkan tidak tahu darimana mereka dapat info aku kerja di sini."

"He? Ku pikir kau promosi pada teman-temanmu."

Ryouta mengangkat tumpukan piring dan gelas kotor, lalu berjalan menuju mesin pencuci piring. "Untuk apa promosi? Merepotkan saja."

"Aduh," Sahut Eijun spontan. "Untung aku suka padamu. Kau ini pegawai tapi tidak menujukkan rasa cinta pada tempat kerjamu ya?"

Ryouta mendengus geli dan tersenyum samar. "Aku tidak suka melayani mereka. Mending melayani orang yang tidak ku kenal."

"Oh, remaja. Gengsian."

"Bukan begitu, Yoshi-nii." Tukas Ryouta kalem, namun tak berlanjut karena lonceng kembali berdenting. Kali ini pengunjung yang datang membuat Eijun tersenyum lebar dan berkedip penuh makna pada Ryouta, sementara Ryouta hanya membuang napas berat.

"Selamat datang." Sapa Eijun hangat. "Ah, temannya Ryou-kun, kalian datang lagi."

Tiga orang gadis berseragam SMA berdiri dengan wajah tersenyum manis. "Selamat sore, Yoshi-nii, Takeuchi-kun." Gadis yang di tengah bicara, dan ketiganya membungkuk kecil memberi salam.

Eijun balas dengan senyum lebar. "Selamat sore juga."

Sedangkan Ryouta hanya mengangkat satu tangan tanda menyapa dan kembali asyik mencuci piring.

"Mau pesan apa?"

"Ah, sebenarnya aku juga ingin membeli pesanan ibuku." Yang berambut panjang berkata, lalu mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya. "Sebentar, aku lupa nama tanamannya." Ia membaca sesuatu di layar ponselnya sejenak, lalu kembali memandang Eijun. "Bibit bunga hyacinth dan mawar biru. Ada?"

Eijun tersenyum lagi. "Tentu, nanti biar aku siapkan. Silakan nikmati dulu waktu kalian."

Ketiga gadis itu mengangguk sepakat lalu duduk berjejer di bangku panjang yang menghadap ke jendela depan. Mereka memesan jus melon, alpukat, dan ice lemon tea, red velvet, dan dua puding mangga. Sepanjang waktu tak berhenti melirik ke arah Ryouta dan berbisik atau terkekik geli. Eijun tersenyum saja mengamati bagaimana manisnya mereka tiap kali memanggil Ryota dengan sebutan Takeuchi-kun.

"Takeuchi-kun, selamat yaa, terpilih menjadi King untuk perwakilan kelas di festival bulan depan." Kata salah satu gadis ketika Ryouta mengantar pesanan mereka.

Ryouta berdeham keki. "Ah, iya."

"Kalau Takeuchi-kun, pasti kelas kita bisa menang."

"Yep. Aku juga sebenarnya merekomendasikan nama Takeuchi-kun."

Lalu ocehan riang mereka berlanjut manja dengan penuh kata Takeuchi-kun begini dan Takeuchi-kun begitu. Eijun sangat menikmati momen ini. Meski setelahnya ia harus melihat wajah kecut Ryouta atau juga gerutuan kecilnya. Ryouta hampir seperti adiknya sendiri.

Toko biasanya tutup pukul enam sore. Ryota sudah bersiap pulang, ransel terpasang di bahunya, saat mencapai pintu, Ryouta berhenti lalu berbaik menghadap Eijun.

"Yoshi-nii,"

"Hm?" Eijun mendongak, ia duduk di balik meja counter dan melepas kacamatanya.

"Kenapa?"

Ryouta tampak berpikir, lalu membuat naps kecil. "Aku tidak tahu sebaiknya mengatakan ini atau tidak."

Eijun melipat kacamatanya laku meletakkannya di atas meja. "Ada apa, Ryou-kun?"

"Yoshi-nii ingat beberapa teman laki-lakiku pernah mampir ke sini tempo hari?"

Eijun mencoba mengingat, "Ah, ya! Ada empat orang."

Ryouta mengangguk dan menghela napas panjang. "Salah satunya Genji," Kata Ryouta. "Genji sebenarnya baru dua tahun pindah ke kota ini. Sebelumnya ia tinggal di Tokyo."

"Oh, hmm.. Lalu?"

"Genji bilang padaku, kalau wajahnya Yoshi-nii tampak tidak asing. Tapi ia tidak bisa ingat dimana pernah bertemu."

Eijun diam beberapa saat, lalu tertawa geli, membuat Ryouta memandanginya bingung. "Ku pikir kalau kita punya tujuh kembaran itu hanya mitos, rupanya benar toh."

Alis Ryouta terangkat satu. "Maksudnya?"

"Yah, mungkin temanmu si Genji itu bertemu salah satu dari kembaran ku di Tokyo." Eijun mengulas cengiran diplomatis. "Mungkin, kalau kau punya kenalan di Kyoto, Osaka, Hokkaido, dan yang lainnya. Mereka juga akan bilang pernah melihatku."

"Tapi..."

"Hora, Ryou-kun. Ini sudah hampir gelap, lho. Aku tidak mau membayar uang tambahan di luar batas jam kerjamu."

Ryouta mendengus. "Dasar otak bisnis."

"Pujian yang bagus!"

Ryouta terkekeh kecil. "Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai ketemu besok, Yoshi-nii."

"Hai, itterasai.. Terima kasi untuk hari ini."

Eijun beranjak. Dia merapikan beberapa barang dan mematikan mesin yang sekiranya sudah tidak perlu dinyalakan. Menyimpan bahan makanan yang tersisa di lemari pendingin kemudian mengambil kacamatanya dan kunci. Eijun tidak lupa mematikan lampunya dan hanya meninggalkan lampu luar yang menyala. Dia keluar mengunci pintu dan naik ke rumahnya yang sebenarnya di lantai dua melalui tangga yang satu-satunya di sebelah kiri bangunan.

Rutinitas malamnya yang seperti hari lalu, makan malam sambil menonton komplikasi permainan MLB melalui YouTube di televisi. Membaca buku setelahnya, belajar lebih banyak lagi atau hanya membaca novel berat yang sebenarnya Eijun sendiri bingung kenapa bisa tertarik. Atau kalau bosan dia akan membaca komik shoujo yang tertata rapi di rak sebelah televisi.

Untuk malam, Eijun akan banyak meminum air putih. Pagi sampai siang sudah ditemani banyak minuman perasa, malam hari harus benar-benar yang menjernihkah, walau perutnya sampai kembung.

Sebelum tidur, biasanya Eijun akan berkutat dengan ponselnya. Menstalking akun instagram atau twitter milik Ryouta atau teman-teman Ryouta yang lain. Atau bahkan pemain idola Eijun, baik yang di Jepang atau Amerika. Kalau bosan, dia akan membaca berita atau menonton video soal agrikultural dan desain interior. Ketika kantuk sudah menyelimuti sepenuhnya, baru Eijun menaruh handphonenya dan mematikan lampu. Membiarkan dirinya tidur nyenyak. Bermimpi abstrak pergi liburan ke Hokkaido bersama keluarganya memetik tanaman atau yang lain.

Setidaknya bukan mimpi buruk itu.

Kazuya dan Furuya menginap di motel murah, mereka sekamar berdua dengan ranjang terpisah. Baru saja mereka kembali dari makan malam berdua.

"Miyuki-senpai, besok kita harus kembali ke Tokyo." seru Furuya yang mengeluarkan handuk dan baju ganti lainnya dari tasnya.

"Ya ya..." balas Kazuya malas-malasan, dia sibuk dengan layar ponselnya. Membiarkan Furuya pergi mandi.

Sebenarnya dari pantulan kacamata yang digunakan Kazuya, Furuya bisa melihat kalau senpainya itu membuka foto masa lalunya dengan Sawamura Eijun. Membuka memori yang katanya menyakitkan. Ya, memang sakit sih. Furuya sebenarnya juga masih merasakan sakitnya sampai sekarang.

Tapi dia bukan Miyuki Kazuya yang bisa berakting di depan kamera. Furuya bisa kapan saja menangis mengingat hal yang seharusnya tidak pernah terjadi. Berbeda dengan senpainya yang masih berdiri tegap dan memaksa menerima kenyataan setelah dipastikan kalau kasus Sawamura Eijun ditutup.

Berkat itu, Kazuya memiliki kebiasaan baru. Dia mengalihkan rasa sedihnya dengan berlatih gitar sampai bisa lihai seperti sekarang. Kalau keluar ke mana saja di luar latihan, Kazuya membawa gitarnya dan akan dimainkan entah di waktu luang kapan saja, seperti tadi di café. Atau tidak menarik siapa saja yang Kazuya memang dekat untuk menemaninya mengemudi keluar kota. Kadang Kuramochi, Furuya, Maezono, Watanabe, Rei, Mei, atau Mima. Yang jelas ke mana saja. Beda orang beda kota. Kalau mengajak Furuya, paling sering ke Nagano. Entah maksudnya apa. Tapi yang Furuya paham, kakak kelasnya ini sangat merindukan kehadiran Sawamura. Sampai-sampai jauh-jauh ke Nagano hanya untuk jalan-jalan.

Furuya membiarkan saja. Asal senpainya tidak main kabur atau mencelakai diri sendiri, maka Furuya tidak keberatan.

Hari ini ada libur khusus bagi anak sekolah. Memperingati hari entah apa itu, Eijun tak begitu memperhatikan saat Ryouta kemarin bercerita. Yang jelas, Ryouta sudah bilang akan datang seperti jam kerjanya di hari Sabtu. Alias full day.

Ryouta biasanya datang antara pukul delapan hingga pukul setengah sembilan pagi. Masih memakai setelan celana dan jaket training, dan bersama earphone menggantung di kedua daun telinganya. Eijun sudah sering bilang, Ryouta boleh datang antara jam sembilan sampai setengah sepuluh, tapi remaja itu tetap berkeras untuk datang pagi dan membantu menyiapkan toko.

"Aku akan cuci muka dulu." Ryouta berujar, sambil melepas earphone. Eijun baru saja menguap lebar, rambutnya masih berantakan, dan ia bahkan belum pakai kacamata. Ia sendiri baru cuci muka dan gosok gigi, bangun agak kesiangan dari biasanya karena semalam terlalu banyak melihat youtube.

"Hmm, oke." Ia bergumam sekenanya, lalu berjalan untuk memasak air. Sepertinya dua cangkir teh untuk dirinya sendiri dan Ryouta lumayan ampuh untuk menggugah semangat mereka.

Sepuluh menit kemudian mereka duduk berhadapan bersama dua cangkir teh hijau dan sandwich, menonton berita pagi yang kebanyakan berisi destinasi wisata andalan untuk akhir pekan.

"Ryou-kun, kau punya pacar?"

Ryouta nyaris tersedak, ia memandang Eijun dengan hidung berkerut ganjil. "Apa-apaan pertanyaan itu? Yoshi-nii kau membuatku takut."

Eijun mendengus, memutar bola mata. "Aku hanya bertanya. Sepertinya kau cukup populer."

Ryouta menganggapinya dengan bahu terangkat kecil. "Entah, untuk saat ini cari pacar bukan priorotasku sih."

"Ow, lalu ada cewek yang kau taksir?"

Ryouta kini menatapnya dengan tatapan curiga. "Kenapa tanya-tanya sih?"

Eijun berdecak. "Memangnya salah kalau aku ngobrol dengan pegawaiku? Kau ini masih muda tapi obrolanmu kaku semua. Yoshi-nii lebih baik ini dicampur lemon, Yoshi-nii kurasa kita perlu mengganti tatakan, Yoshi-nii kau perlu mengurangi gula pada red velvetnya, Yoshi-nii bahan ini habis." Eijun mencoba menirukan suara dan gaya bicara Ryouta dengan sebaik-baiknya.

"Kau hanya membahas soal toko denganku. Atau kalaupun ada topik lain, biasanya justru isu hangat yang terjadi di berita. Kau tak pernah membahas asmara seperti anak seusiamu."

Ryouta diam sebentar. "Aku tidak suka membahas yang seperti itu dengan orang lain." Ia menjawab kalem lalu meneguk teh hijaunya. "Yoshi-nii sendiri, sepertinya tenang-tenang saja melajang. Berapa usiamu? Dua puluh satu?"

"Beberapa bulan ke depan aku sudah dua puluh tiga, tau. Sekarang aku dua puluh dua."

"Aa, begitu.." Ryouta tampak agak kaget. "Jadi, kenapa tidak cari pacar?"

Eijun tersenyum cerah, "Aku sudah punya pacar."

"Hah? Serius? Kok aku tidak pernah tahu? Siapa? Kyoko-san?"

Eijun tertawa kecil lalu merentangkan tangannya lebar-lebar. "Semua pengunjung toko ini adalah pacarku. Aku menyayangi mereka semua. Pelanggan adalah kekasihku."

Ryouta mendengus, lalu memakan sisa sandwichnya sekali suap. "Sudahlah, sebaiknya Yoshi-nii mandi, biar aku yang siap-siap buka toko."

"Oke. Ah, nanti kalau Shigure-san datang, kau berikan pesanannya, ya."

"Apa itu?"

Eijun menunjuk sebuket bunga aster cina yang telah siap di dekat keranjang bunga. "Aster Cina untuk Shigure-san. Dan juga dua belas tangkai tulip putih untuk nyonya Meiko."

"Roger, Boss."

"Aku bukan boss."

"Hai, hai, mandi sana!"

"Astaga, sekarang kau yang seperti boss."

...

"Hah?! Kau serius?"

Kazuya nyaris memekik, matanya memandang tak percaya kepada remaja 18 tahun yang kini duduk di hadapannya dan baru saja mengumumkan suatu hal yang terasa seperti ledakan bom nuklir di kepala Kazuya.

Sawamura Eijun memberinnya cengiran lebar dan menyilaukan. "Hehehe." Ia tertawa ringan. "Yap! Aku sangat serius. Aku stop bisbol."

Kazuya tergagap. "Tapi kenapa?" Ia nyaris terdengar seperti frustasi. "Kau, kau berjuang sangat keras selama ini, Sawamura. Kau mendapat nomor Ace, kau diundang beberapa tim besar, kau bintang bisbol yang siap luncur. Kenapa tiba-tiba?"

Mantan adik kelasnya itu merapatkan bibir lalu membuat gerakan ke kanan dan ke kiri, sedikit manyun, dan merapat lebih erat lagi. Menampilkan ekspresi berpikir yang menggemaskan. "Ada beberapa alasan."

Kazuya reflek menggenggam kedua tangan sang pitcher. "Jangan bilang kau sakit keras? Kau sekarat?"

Eijun menepis tangannya kasar, mencebik sakit hati. "Kau senang aku mati muda?! Dasar! Kau ini kebanyakan lihat film drama."

"Siapa yang membuatku terpaksa nonton?"

"Ugh, dasar menyebalkan." Ia mendelik judes, lalu menyilang tangan di depan dada. "Tidak, Senpai tenang saja, aku sama sekali tidak sekarat atau apalah itu. Sehat-sehat saja."

Urat leher Kazuya menegang. "Lalu kenapa ingin berhenti? Kau tiba-tiba jatuh cinta pada olahraga lain?"

"Geh, dikira hatiku segampang itu? Tentu saja tidak, baseball tetap yang paling kucinta."

"Lalu?"

Eijun menarik napas dalam-dalam, bahkan juga memejamkan mata seolah bersiap menghadapi kontroversi penting. Ia kemudian membuang napas perlahan dari mulut dan membuka mata. Langsung bertatapan dengan mata Kazuya.

"Aku ingin menjadi pendukungmu."

Kazuya berkedip. "Apa?"

"Pendukung, support dari dekat, begitulah. Kalau aku jadi pemain bisbol juga, aku pasti akan sama sibuknya dengan Senpai. Saat senpai kelelahan pasca latihan, aku juga pasti sama. Dan kalau sudah begitu, kehadiranku mungkin tidak berdampak banyak untuk membantumu rileks kembali."

"Sawamura, aku tidak mengerti."

"Begini sederhananya, jadikan aku asisten pribadimu!"

"Hah?"

Eijun menggeleng lugas. "Iie, iie, bukan 'hah' tapi 'asisten pribadi'. Umm, manager juga boleh."

"Apa kepalamu terbentur sesuatu?" Tanya Kazuya, curiga dan cemas melebur jadi satu.

Eijun cemberut, bibirnya merengut membentuk kerutan yang tampak lucu. "Aku serius, Miyuki Kazuya."

"Sawamura," Kazuya menghela napas dan memijat pelipisnya. "Apa lagi salahku kali ini? Ayo bilang saja, aku akan minta maaf dan menuruti keinginanmu, oke?"

Eijun tampaknya sedang berusaha keras untuk tidak maju dan mendaratkan tinju keji di wajah Kazuya. Ia menarik napas, lalu membuangnya cepat. Menatap Kazuya tepat ke mata.

"Aku ingin menjadi supporter yang paling dekat denganmu, Miyuki-senpai. Membantu segala kebutuhanmu, dan memastikan kau makan atau istirahat dengan baik. Aku akan membantumu menyusun jadwal, panggilan iklan, endorse, dan yang lainnya. Aku tahu kau tidak pandai bicara dengan orang lain, maka aku akan menggantikanmu melakukannya. Aku bisa membantumu dengan pijatan saat ototmu kaku, menyiapkan air hangat, mengompres saat kau demam, dan menghalau beberapa penggemarmu yang dirasa mengganggu." Jelas Eijun panjang lebar, lalu menghembuskan napas lega seolah barusaja lolos ujian super sulit, atau menang di pengadilan.

Kazuya memandanginya dengan hidung mengernyit dan mata menyipit sedilik. "Singkatnya, kau mau mengekoriku ke segala tempat?"

Eijun merona hebat. "Bukan begitu!" Sergahnya, lalu meminum air di gelasnya dengan rakus.

Kazuya menyeringai. "Kau mau menjagaku, Sawamura? Coba ingatkan aku, siapa yang selama ini merawat siapa? Rasanya aku yang merangkap peran sebagai pengasuhmu selama ini."

"Argh! Kau menyebalkan!"

"Tuh, lihat. Kau saja masih sering ngambek dan kekanakan, mau sok menjaga bintang baseball sepertiku. Apa kata dunia?"

"Terserah! Kalau tidak mau ya sudah!"

"Nah, bisa-bisa aku justru disangka menyabotase anak dibawah umur secara illegal."

Eijun menggelembungkan pipi. Wajahnya kini merah antara perpaduan malu dan marah. Matanya menatap Kazuya segalak kucing liar. Kazuya tertawa geli, menikmati tiap milisekon yang dihabiskan sambil menggoda dan melihat betapa lucunya ekspresi yang terlukis di wajah Eijun. Sampai beberapa menit berselang, ia menjulurkan tangannya ke arah Eijun seolah meminta berjabatan.

Eijun memandanginya dengan dahi berkerut.

"Apaan?"

"Ayo jabat tanganku dulu."

Eijun menyempatkan diri untuk menggerutu 'dasar aneh' sebelum ikut mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Kazuya. Kazuya tersenyum simpul, menjabat dengan tegas dan memberi sedikit gerakan penguat pada jabatan tangan mereka.

"Selamat, Sawamura Eijun-san, mulai hari ini kau adalah manager sekaligus asisten pribadinya Miyuki Kazuya. Mohon bantuannya."

.

Kazuya langsung menutup kedua matanya dengan lengan kananya begitu bangun dan memimpikan masa lalu. Rasa kalut yang berputar bagaikan badai mengisi rongga dadanya, membuatnya enggan untuk bangun hanya untuk mengisi perut kosongnya. Selain efek pertandingan kemarin malam yang mati-matian harus menang, ditambah mood paginya yang buruk. Kazuya malas memulai hari sekarang.

Padahal Kazuya berniat ingin mengemudi sampai pinggiran Nagano bersama Furuya. Tapi karena berangkatnya sektar jam setangah sebelas dan sekarang masih jam sembilan, Kazuya bisa lebih lama menghabiskan waktu di kasur. Setidaknya sampai rasa resah dan berat layaknya tenggelam ke dasar palung Maria ini hilang.

Kazuya memposisinya tidurnya miring, tangannya mengusap bantal besar di sebelahnya, biasanya digunakan Eijun dulu. Ketika Kazuya bangun, hal pertama yang selalu dia lihat pasti Eijun. Tidur di sebelahnya dengan ekspresi bodoh namun tetap lucu. Saking gemasnya, Kazuya membawanya dalam pelukannya dan kembali tidur.

Tapi sekarang sudah tak ada. Eijun tidak ada di sebelahnya. Dia sudah pergi meninggalkan Kazuya. Yang tersisa hanyalah ratapan penyesalan dan menjalani hari-hari yang kelabu.

Kazuya mulai berandai, membayangkan kalau Eijun di sini masih bersamanya. Mereka menjalani pagi dengan canda tawa dan sedikit pertengkarang yang akhirnya didamaikan dengan kecupan lembut di bibir. Menikmati pagi santai dengan saling berpelukan, menempel pada satu sama lain, menonton film atau anime yang sudah lama ingin mereka tonton. Ditemani cemilan berupa buah atau biskuit bikinan Kazuya, yang khusus untuk Eijun. Di hari yang malas hanya di apartemen seperti sepasang kekasih pada umumnya.

Tapi semua sudah terlanjur, bayangan hanyalah mimpi. Lebih baik perlahan melupakannya dan berjalan maju.

...

Eijun menyiapkan bahan untuk cheese cake hari ini. Dengan bahan utama berupa mangga, Eijun berniat melakukan hal yang berbeda untuk hari ini. Untuk pudding dia juga akan menggunakan cherry sebagai bintangnya. Untuk macaronnya khusus hari ini akan Eijun dampingkan dengan rice cake. Dia kebanyakan stok strawberry akhir-akhir ini, lebih baik jadi menu utama saja.

"Ryou-kun, bisa kau siram bunga di samping rumah?" pinta Eijun dari dapur pada Ryouta yang sedang menyapu kedai.

"Hai, hanya disiram saja?"

"Sama isi mangkuk makanan di depan. Si Belang mungkin datang hari ini. Makanannya ada di rak bawah mesin kasir." Eijun memakai celemeknya dan mulai memotong buah mangga.

"Hai."

Sebenarnya definisi belang di sini bukan nama seekor kucing saja, melainkan beberapa kucing yang sering datang ke toko Eijun hanya untuk bersantai. Kadang tiduran di karpet depan pintu. Atau naik ke sadel dan membulat di sana layaknya itu spot terenak. Eijun tidak marah sih, malah gemas. Ingin dipelihara tapi malas merawatnya. Jadi dia hanya memberi mereka makan setiap pagi dan sore. Kalau malam mereka entah pergi ke mana. Mungkin tidur di tempat lain atau sebenarnya di sekitar toko cuma Eijun tidak bisa menemukan mereka.

Eijun sempat berpikir dulu merubah tempat ini menjadi café kucing. Tapi melihat biaya yang diperlukan lebih mahal, Eijun menyerah dan lebih memilih plant house. Dia bisa menggunakan semua tempat sebagai media pertumbuhan. Sampai Ryouta heran kadang pada tempat di mana Eijun menaruh tanaman.

Wastafel cuci piring yang jendelanya mengarah langsung ke taman belakang dipenuhi beberapa tanaman merambat yang Ryouta tidak hapal apa namanya. Eijun bilang tidak perlu terlalu sering menyiramnya, mereka sudah banyak dapat nutrisi. Walau begitu, Ryouta tidak berani pegang sih kalau tanaman yang ada di dalam area selain toko. Takut kalau malah merusak. Tapi kalau ada tanaman yang aneh sedikit, Ryouta akan melapor pada Eijun. Dan entah bagaimana bisa pemiliknya ini menangani dengan cara yang ajaib.

"Yosha, selesai." Eijun berkacak pinggang bangga. Satu loyang red velvet dan blue velvet. Satu loyang Cantaloepe manggo cheese cake. Tujuh biji Cherry pound pudding. Dua puluh biji macaron dengan berbeda warna. Dan terakhir tujuh biji Cherry blossom straweberry rice cake. Untuk Sandwich dan salad Eijun akan menyiapkan langsung nanti.

Eijun menyimpan semuanya, kecuali macaron, pada lemari pendingin yang memang dikhususkan untuk menjaga kesegaran kue. Setidaknya akan bertahan sampai nanti sore. Tidak lupa dia juga menyimpan macaronnya pada toples khusus dan menutupnya sangat rapat.

Setelah semua selesai, Eijun akan menucuci piring sambil memperhatikan Ryouta yang menyirami tanamannya. Sambil bergumam berpikir menu spesial hari ini apa ya? Kemarin dia sudah menggunakan strawberry marshmellow. Banyak yang suka ternyata, apalagi para perempuan. Katanya sangat enak, Eijun jadi senang mendengarnya. Apalagi musimnya dan Eijun dapt stock berlebihan, katanya bonus. Dia tidak bisa membuang kesempatan ini.

"Strawberry shouffle pancake kedengarannya enak." gumam Eijun, dia sudah menemukan menu spesial apa hari ini. Dia akan membuatnya spontan nanti kalau ada yang memesan. Setidaknya Eijun akan menulis di papan kecil dengan kapur warna-warna menu apa saja hari ini yang tersedia. Untuk minum, tidak perlu diubah. Cuma kalau ada yang pesan kopi, Eijun hanya bisa menyajikan kopi biasa, apalagi itu yang membuatkan keseringan Ryouta. Tapi langka buat di toko Eijun ada yang memesan kopi. Sembilan puluh lima persen mereka pasti memesan teh didampingan makanan manis.

Begitu jam sudah menunjukkan hampir jam dua belas, baru Ryouta dan Eijun bisa istirahat. Duduk di balik counter sambil menikmati teh melati dingin dan sanbe. Sampai siang ini pelanggan belum ada yang datang, bahkan hanya untuk membeli bunga.

"Nganggur ya." keluh Eijun menyandarkan dagunya pada meja counter yang dingin.

"Aku main HP ya."

"Oke oke." balas Eijun. Ryouta mengeluarkan hpnya dan mulai bermain game.

Pintu kaca terbuka, dan lonceng bendenting bersamaan dengan suara lembut yang berucap, "Shitsureishimasu.."

Eijun dan Ryota sigap berdiri dan mengulas senyum. Ryota berinisiatif lebih dengan membungkukkan badan dan menyambut sopan. "Selamat datang."

Eijun justru mengangkat sebelah tangannya, melambai kecil bersama sekulum senyuman hangat. "Siang, Kyoko-chan."

Pengunjung itu, Ishida Kyoko membalas senyum Eijun dengan bibir tipis yang menukik manis dan gerlingan mata imut tanpa dibuat-buat. "Siang, Eijun-kun, Takeuchi-kun."

Ryouta kembali menegakkan badan. Eijun merasa remaja di sampingnya itu melirik ke arahnya dan Kyoko bergantian, lalu mengeryit seolah memikirkan sesuatu, tapi tak lama ia langsung berjalan menuju Kyoko dan mulai melayani.

"Ada yang bisa ku bantu, Kyoko-san?"

Kyoko tersenyum simpul, gadis itu punya wajah yang sejatinya memang sudah cantik, namun aura kecantikannya akan bertambah dan naik ke level dewi setiap kali ia tersenyum. "Sebenarnya aku ingin beli rangkaian bunga Anyelir untuk kakakku. Tapi, ku rasa aku masih punya waktu untuk minum teh dan mencoba sedikit kudapan di sini."

"Ah, tentu saja." Sahut Ryouta. "Mari, silakan duduk."

Kyoko mengangguk kecil dan berjalan menuju meja panjang yang menghadap langsung ke jendela. Spot favorit teman-teman Ryouta. Kyoko duduk dengan anggun, tas kecilnya disimpan manis di atas meja, sementara gadis itu menghirup aroma semerbak bunga di sekitarnya. Kyoko menoleh ke arah Eijun, tersenyum sehangat dan semanis lelehan coklat. "Rasanya aku ingin pakai aroma di tempat ini sebagai pengharum ruangan di kamarku, Eijun-kun."

Eijun terkekeh kecil, sementara Ryouta menyerahkan buku menu. "Padahal sudah banyak pengharum ruangan dengan aroma bunga." Sahut Eijun, sikunya bersandar pada counter dan memandang ke arah Kyoko.

"Yah, tapi kan tidak seperti ini. Tidak ada yang mengalahkan wangi bunga asli." Kemudian Kyoko memandangi buku menu dengan wajah berpikir singkat, lalu menoleh lagi. "Apa kamarmu di atas juga harum seperti ini?"

"Eh?" Eijun berkedip, lalu tersadar cepat. "Ah, rasanya tidak sama persis, tapi memang lumayan banyak tanamannya sih." Eijun mendelikkan bahu, lalu memandang Kyoko dengan alis terangkat. "Bagaimana kalau ku ajak kau ke kamarku?"

Ryouta terbatuk keras. Sedangkan Kyoko seketika bungkam dengan wajah merona hangat, gadis itu berdeham lalu mulai kembali menelusuri menu di tangannya. Eijun berkedip-kedip. "Eh? Kenapa? Memangnya salah mengajak berkunjung ke kamar?"

'Dasar boss polos.' Gerutu Ryouta, ia lebih memilih untuk mengabaikan pertanyaan tak berkelas Eijun dan menatap Kyoko seraya tersenyum hangat. "Sudah memutuskan pesan apa, Kyoko-san?"

Kyoko mendongak, "Uh-hum," Ia mengangguk kecil. "Aku ingin teh rosela, dan salad buah saja."

"Baik, sialakan ditunggu sebentar." Dan dengan itu Ryouta berjalan menuju dapur untuk membuat pesanan Kyoko.

Eijun berjalan memutari counter dan sampai di spot bunga Anyelir. Ia mulai memilah dan mengambil beberapa untuk dirangkai.

"Tidak kerja, Kyoko-chan?" Tanya Eijun basa-basi sementara Kyoko memandanginya tertarik.

"Hari ini aku sengaja ambil cuti. Kakakku baru melahirkan."

Eijun menghentikan aktivitasnya sejenak lalu memandang ke arah Kyoko. "Ayano-san sudah melahirkan?" Ia membeliak, terkaget pasalnya sama sekali belum mendengar kabar ini.

Kyoko tersenyum dan mengangguk bahagia. "Subuh tadi, setelah ini aku rencananya langsung ke kota untuk menjenguk."

"Ah, yokatta." Eijun ikut tersenyum senang. "Bayinya laki-laki, atau perempuan?"

"Perempuan. Makanya aku pesan rangkaian bunga sebagai hadiah pendamping."

Eijun mengangguk-angguk. "Kalau begitu aku juga akan berikan rangkaian bunga untuknya. Boleh aku titip padamu? Aku ingin ikut menjenguk, tapi kasihan Ryou-kun kalau kutinggal sendiri."

Kyoko tertawa lembut. "Jangan repot-repot, kakakku pasti sudah senang dengan hanya menerima ucapan selamat."

Eijun sudah mengambil beberapa tangkai Anyelir dan diletakkan di keranjang, ia berpikir sejenak lalu memutuskan memberikan mawar merah muda dan baby's breath kepada Ayano. Setelah memilih bunga yang terbaik, ia berjalan ke dekat Kyoko. Tidak lupa sebelumnya mengambil gunting, pita, juga kertas pembungkus.

Sementara Eijun mulai merangkai bunga, Kyoko mengamati dengan penuh minat dan ketelitian penuh. Gadis itu terpesona dengan kemahiran Eijun menyusun bunga-bunga menjadi rangkaian yang indah dan sejuk dipandang mata. Cara pemuda itu menggunting, merekatkan, menata, semuanya dilakukan dengan mudah dan senyum tak lepas seolah-olah ia telah diberi restu dewa untuk melakukan pekerjaan ini.

"Bagaimana bisa Eijun-kun sehebat ini?"

"Huh?" Eijun menoleh. "Maksudnya?"

"Merangkai bunga. Rasanya kau tidak pernah kesulitan, dan selalu menghasilkan buket yang indah."

Eijun tersenyum dan angkat bahu samar. "Mungkin karena sudah terbiasa." Ia menyahut ringan lalu bergumam kecil. "Kalau diingat-ingat dulu aku memang memakai metode terapi dengan merangkai bunga. Jadi, mungkin terbawa sampai sekarang. Rasanya perasaanku membaik kalau merangkai bunga."

Kyoko mengangguk-anggukkan kepala dengan kedipan mata semanis malaikat. "Eijun-kun masih sering terapi?" Ia bertanya dengan hati-hati, tapi nada suaranya dijaga tetap biasa, bukan nada khawatir atau penuh belas kasih maupun juga canggung dan tak nyaman. Dan inilah yang Eijun sukai dari Kyoko, gadis ini punya bakat alami membuat orang lain merasa nyaman dan rileks untuk bercerita.

"Iie," Eijun menjawab singkat. "Aku sudah tidak terapi lagi. Saat itu hanya tiga bulan, dan aku sudah merasa baik-baik saja. Jadi mereka bilang aku boleh berhenti."

Kyoko tersenyum lega. "Yokatta ne."

"Kau sendiri, apa rasanya menyenangkan menjadi desainer?" Eijun bertanya balik pada Kyoko.

Kyoko menghela napas kecil. "Menyenangkan, tapi kalau sedang banyak pesanan rasanya juga melelahkan."

Eijun mengangguk sepakat. "Yah, aku juga kadang merasa begitu. Apalagi saat musim kelulusan. Pesanan bunga bisa naik drastis dan aku harus bangun dari pukul tiga pagi."

"Kalau aku akan kerepotan saat musim pernikahan. Sudah begitu pelanggan terkadang maunya aneh-aneh." Kyoko mengerucutkan bibir dengan lucu. "Bayangkan, Eijun-kun, ada yang pernah memesan gaun pengantin dengan bordiran Doraemon. Tapi dia tak ingin tampil kekanankan. Elegan dengan Doraemon. Ugh, aku sampai hampir depresi memikirkannya."

Eijun hanya terkekeh geli. Ia sudah selesai dengan rangkaian ayelir. Kali ini ia mulai merangkai mawar dipadukan dengan baby's breath. Sebagai informasi, Kyoko memang seusia dengannya, bahkan hari ulang tahun mereka hanya terpaut tiga hari. Dan inilah yang menyebabkan mereka kerap merayakan ulang tahun bersama dan bertukar hadiah.

Tidak lama kemudian Ryouta muncul dari dapur dengan nampan berisi pesanan Kyoko. Ia meletakkan sepiring salad buah, teh rosela, madu dengan wadah terpisah, juga beberapa irisan lemon di piring kecil. Ryouta juga memberikan menu spesial yang dibuat Eijun hari ini.

Mata Kyoko berbinar menatap susunan kudapan yang tersaji di hadapannya. Perhatiannya langsungu tertuju pada piring berisi kudapan yang tidak ia pesan. Jari telunjuknya yang runcing dan kuku termanikur cantik menunjuk kudapan itu lalu memandang ke Eijun. "Bonus?"

Eijun tertewa kecil, "Yep, baru kubuat tadi sih. Semoga kau suka." Ia menjawab, sedang Ryouta baru sja berkata 'selamat menikmati' lalu kembali ke balik counter, sibuk dengan entah apa, ia rasanya selalu punya pekerjaan.

Kyoko berkata 'wah' tanpa suara. "Namanya apa?" Ia mengamati kudapan itu dan meraih garpu kecil untuk merasakan teksturnya.

"Cantaloepe manggo cheese cake."

Kyoko mengerjap. "Manggo? Ini dari mangga?"

"Yep, aku sedang ingin mix buah-buahan ke menu. Supaya rasa manisnya lebih alami. Ryou-kun kadang rewel dan bilang pelanggan kami bisa diabetes kalau semua makanan yang kami sajikan manis."

Ryouta berdeham, dan Eijun hanya menanggapinya dengan gerlingan mata jenaka.

"Wah, hebat. Aku coba ya?"

"Hai, silakan."

Kyoko memotong ujung cake itu dengan garpu lalu menyuapnya hati-hati, merasakan tekstur lembut dan cita rasa yang melebur di lidahnya lalu memandang Eijun dengan mata berbinar-binar.

"Oishii~ ini enak sekali, Eijun-kun. Kau makin jago memasak."

Eijun terkekeh. "Arigatou. Ah tapi aku hanya bisa dessert, aku payah kalau memasak makanan berat."

"Makanya cari istri." Celetuk Ryouta seenak jidat.

"Hei, kalau aku punya istri, aku akan bekerja bersama istriku di sini. Kau ku pecat, Ryou-kun. Kau siap?"

Ryouta memandangginya dengan tatapan tak senang, sementara Kyoko hanya tertawa geli mendengar perdebatan kecil dua pemuda berbeda usia ini. Baginya interaksi Eijun dan Ryouta itu manis, meski masih kalah manis dengan interaksi Eijun dan Naomi.

Saat bunyi lonceng bergemincing lembut, perdebatan mereka terhenti. Ryouta menghadap ke pintu, dan membungkuk sopan, sedangkan Eijun yang masih merangkai bunga tampaknya hanya melirik sekilas dan menyerahkan pengunjung baru pada Ryouta.

"Selamat datang." Ryouta berkata sopan, membungkuk kecil, dan tersenyum sebisanya.

Dua pengunjung itu adalah laki-laki muda berwajah asing bagi Ryouta. Mereka bukan pelanggan yang ia kenal, bahkan rasanya juga bukan berasal dari daerah sini. Yang satu adalah pemuda jangkung berambut indigo dengan setelan kemeja abu-abu dan celana hitam, satunya seorang laki-laki yang sedikit lebih pendek namun bertubuh lebih kekar, rambutnya coklat terang, dan memakai kacamata berbingkai hitam sederhana yang bertengger di hidung mancungnya.

Dua laki-laki itu masih sibuk mengamati sekeliling, terpesona dengan desain interior toko. Lalu salah satu akhirnya menatap balik kepada Ryouta. Si pemuda berkacamata, dengan wajah tampan dan pesona kuat, tersenyum sangat tipis.

"Tempat yang bagus." Ia memuji. "Kami rasa kami akan mampir sebentar."

.

.

.

Bersambung

.

Sekilas obrolan dua author mengenai pembuatan fanfic ini:

A: Dikit aja gapapa yaa wkwk

V: Dikitmu itu seberapa?