Title : Second Chance, Second Mistake.
Author : Jeruk Mandarin
Rating : Mature, NC
Genre : Alternative Universe; Romance
Cast : Ereri (Eren x Levi)
.
.
.
Warning! This story contain mature contain which not suitable for children. Please consider your age before you read it. Moreover, this fanfic contains vulgar words. I am not really it's hot enough to get rate M but it's just my wild imagination. Btw in this fanfic all character maybe feel so OOC. Hahaha but I just write what in my head.
Please enjoy!
.
.
.
Summary~
Eren adalah seorang aktor populer. Dalam kehidupan masa lalunya dia berpacaran dengan Mikasa tetapi hidupnya harus berakhir ditangan gadis itu. Eren seharusnya sudah mati tetapi dia mendapakan kesempatan kedua dimana dia terbangun diwaktu sebelum dia mengenal gadis itu. Pada kesempatan ini dia bertekad tidak mengulangi kesalahan yang sama dan menghindari gadis itu. Tapi masalahnya dia malah membuat kesalahan fatal lainya? Seperti tidur dengan tetangga sebelah apartemen yang dia bencinya misalnya?
.
.
.
Eren membuka iris zamrudnya perlahan. Cahaya lampu terang dilangit-langit kamarnya membuat penglihatanya silau hingga dia harus menyipitkan matanya. Dia beranjak duduk ditempat tidur. Pikiranya mencoba berkelana mengingat apa yang terjadi padanya sebelum dia hilang kesadaran. Dia ingat dia pergi makan malam dengan Mikasa yang merupakan kekasihnya kemarin malam. Tapi dia berakhir ditusuk dibagian jantung hingga Eren berpikir bahwa dia tidak mungkin selamat. Tapi apa ini? Dia baik-baik saja? Eren menyentuh dadanya tepat dimana dia ingat telah ditusuk pacarnya dengan pisau. Tapi anehnya dia melihat tak ada sedikitpun bekas tusukan atau lecet disana.
"Apa ini? Aneh sekali? Apa kemarin itu mimpi?" Gumam Eren takjub.
Eren meraih ponselnya dimeja dan melihat tanggal dan waktu yang tertera dilayar. Mulutnya menganga lebar mengetahui itu adalah bulan februari. Padahal seharusnya hari itu sudah bulan juli. Bulan februari artinya bulan saat dia belum bertemu dengan Mikasa? Dia bertemu gadis itu di awal maret. Itu sekitar seminggu lagi. Bagaimana itu mungkin?
Bagaimana waktu kembali mundur? Eren membuka-buka pesan di ponselnya untuk mengecek jadwal yang dikirimkan managernya—Armin. Tetapi pesan-pesan yang dikirimkan armin adalah jadwal syutingnya hari itu untuk drama dibulan februari.
Pluk.
Eren menjatuhkan ponselnya begitu saja. Dia berjalan menuju jendela dan menyibak gorden jendela kamarnya. Pemandangan sendu dengan langit mendung khas musim dingin menyapanya membuatnya wajahnya pucat.
"Aku kembali ke masa lalu? Bagaimana bisa?" Eren menatap pantulan dirinya sendiri dikaca jendela dengan blank. Otaknya berpikir keras. Sulit diterima akal sehat memang. Tapi bukankah ini suatu mukjizat yang harus Eren syukuri? Dia masih hidup dan sepertinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa. Dia seharusnya senang bukan? Pada kesempatan hidupnya kali ini dia hanya perlu menghindari Mikasa untuk bertahan hidup? Ini mudah! Ini seperti bermain sebuah game survival yang sudah pernah dia mainkan dan dia sudah tahu alurnya sehingga ketika dia bermain lagi dia sudah berpengalaman dan tidak akan salah langkah lagi.
Hahaha~
Eren tertawa senang. Dia terlalu senang sampai perasaan itu membuncah memenuhi dadanya. Dia bahkan sampai berteriak-teriak sendirian didalam apartemenya.
"Wohoooo! Aku masih hidup aku masih hidup! Aku tidak jadi mati!" Teriak Eren seraya berlari-larian didalam apartemenya persis seperti bocah sekolah dasar. Suaranya benar-benar gaduh. Sanggup membuat tetangga sebelah kesal tapi Eren tidak peduli.
"Tok tok tok." Tak lama setelah kegaduhan yang Eren buat. Pintu apartemenya diketuk.
Kepala Eren refleks menoleh kearah pintu. Dia agak kesal dengan siapapun yang sekarang datang dan mengusik kesenanganya. Mencebik kesal, Diapun segera membuka pintu dan keningnya seketika mengernyit mendapati sosok pria pendek berambut ebony berdiri didepan pintu apartemenya dengan wajah datar.
"Bisakah kau tidak berisik? Aku sedang sibuk mengerjakan novelku." Kata pria itu dingin.
Kesenangan Eren seketika lenyap melihat mahluk chibi si tetangga sebelah ini mampir ke depan pintunya.
Pria yang lebih tua itu adalah seorang novelis. Wajahnya selalu terkesan dingin dan serius. Tipe orang dengan karakter kaku dan membosankan yang selalu dapat membuat hati Eren kesal dan moodnya jatuh ke titik terendah. Pria ini tau bagaimana menghancurkan kesenangan Eren menjadi pecahan-pecahan kecil. Ekspresi seriusnya itu benar-benar memuakkan. Tidak bisakah dia lebih pengertian? Lebih humoris, lebih peka, lebih ramah dan memberi Eren sedikit kebebasan melakukan apapun di apartemenya sendiri tanpa harus berdebat setiap waktu? Mereka ini kan tetangga! Eren menggerutu dalam hati.
"Bukan salahku! Ini pasti faktor dinding apartemen ini tipis. Aku hanya sedang melatih ototku dengan sedikit olahraga didalam ruangan!" Kata Eren dengan nada jengkel.
"Tapi kau menghancurkan ideku dengan suaramu itu! Kau suka sekali memancing keributan denganku bocah!"
Eren terkekeh sarkastik, "Sir Levi bukankah sudah aku bilang sejak pertama aku pindah kesini bahwa anda sebaiknya pindah karena aku akan menggunakan apartemenmu itu untuk ruang studioku!"
"Kalau kau ingin ruangan yang lebih luas seharusnya kau beli rumah bukan tinggal diapartemen! Kau tidak bisa seenaknya mengusir orang! Dasar bocah tidak punya sopan santun!"
Eren menghela napas panjang, "Aku hanya bermaksud membantu anda karena anda terlihat menyedihkan! Aku tau bahwa anda sudah kehabisan uang karena novel anda tidak terjual dengan baik! Anda bisa mendapatkan lebih banyak uang jika anda menjual apartemen itu padaku dan pindah ke tempat yang lebih tenang dan lebih baik untuk menulis!"
"Kau tidak berhak mengatur-ngatur aku."
"Begitupun aku tidak suka anda mengatur-ngatur apa yang saya lakukan!"
"Kau ini bocah nakal!" Levi dengan emosinya yang meluap-luap menarik kerah baju Eren sampai pemuda itu terhuyung ke depan sehingga wajah mereka menjadi dekat, Keduanya bertatapan dengan sengit. Background belakang keduanya sudah menguarkan kobaran api. Eren bahkan sudah siap untuk menarik tunjinya jika saja pria didepanya berani memukulnya duluan. Tapi seperti keseharian pertengkaran mereka. Levi selalu menjadi pihak duluan yang menarik diri, Dia melepaskan kerah Eren dan kembali ke apartemenya dengan membanting pintu keras-keras seolah ingin Eren tau bahwa dia sangat kesal.
Eren mendecih singkat, memperbaiki bagian kerah bajunya yang kusut, dan kemudian mengangkat bahu seolah tidak peduli. Dia menutup pintu seraya membantingnya. Dalam benaknya dia tidak bisa berhenti mengutuk dan menggerutu tentang pria dari apartemen sebelah itu.
.
.
.
Sebagai seorang aktor muda yang sedang naik daun jadwal Eren tentunya sangat padat. Selama seminggu setelah dia menyadari bahwa dia terbangun di masa lalu Eren memanfaatkan waktunya dengan baik. Tidak seperti kehidupanya yang lalu dimana Eren suka sekali bersenang-senang ke pub setelah pulang syuting, dan juga suka nongkrong dicafe dan menggoda gadis cantik. Dalam kehidupanya kali ini dia sepenuhnya mengubah gaya hidupnya 180 derajat. Dia menggunakan waktunya untuk belajar dan memperbaiki kesalahan-kesalahanya terdahulu selama proses syuting, Bahkan dia berhasil menghindari konflik dengan team produksi yang seharusnya membuatnya frustasi dan datang ke pub untuk minum-minum yang akhirnya membuatnya bertemu dengan Mikasa. Ya setelah berhasil menghindari konflik yang membuatnya frustasi itu. Eren sih sepenuhnya yakin bahwa dia telah menghindari nasib sialnya! Kesalahanya dimasa lalu yang paling utama adalah dia datang ke pub setelah bertengkar dengan produser kemudian bertemu Mikasa. Dia jatuh hati pada wajah cantik gadis itu.
Tapi setelah mengalami sendiri masa depan yang terasa seperti tragedy dengan gadis itu, Eren sepenuhnya tidak tertarik dengan Mikasa. Justru dia takut dan deg-degan bisa bertemu gadis itu dijalan tanpa sengaja. Walaupun kemungkinanya kecil karena Eren sepenuhnya hanya akan menjalankan kehidupanya dengan bekerja dan pulang ke apartemenya. Selama dia melakukan itu setiap hari maka semuanya akan aman. Begitulah yang Eren pikirkan. Tapi semua hal tidak selalu berjalan sesuai dengan prediksinya kan?
Hari itu, setelah dia memastikan bahwa konflik dengan team produksi terselesaikan dengan baik dan syuting dramanya sepenuhnya usai Eren pamit pada semua orang di lokasi syuting. Dia menaiki mobilnya dan pulang seperti biasa. Suasana hatinya sepenuhnya baik karena dia merasa sudah menang. Dia akan baik-baik saja karena pada hari ini. Hari dimana dia bertemu Mikasa di pub dia malah pulang ke apartemenya. Dia tidak akan bertemu dengan gadis itu selamanya dan dia tidak akan berakhir ditusuk sampai mati oleh gadis psikopat itu.
Setelah agak lama berkendara, mobil Eren akhirnya sampai dikawasan apartemenya. Dia memarkirkan mobilnya dibasement dan keluar dari mobil dengan perasaan riang. Eren mengunci mobilnya dengan alarm. Setelah selesai dia berbalik dan berjalan kearah lobby utama.
Tetapi dalam perjalananya tanpa sengaja dia menyenggol bahu seorang gadis yang berjalan menunduk sambil memainkan ponsel. Ponsel gadis itu terjatuh dan Eren membantu memungutnya.
"Maaf aku tidak sengaja." Kata Eren menyerahkan ponsel itu pada sang gadis dengan senyuman manis menawanya yang mampu membuat gadis manapun meleleh.
"Tidak apa-apa kok."
Deg.
Senyum Eren seketika luntur. Jantungnya seketika berpacu cepat setelah mendengar suara familier itu. Bola matanya melotot horror melihat wajah gadis didepanya yang sangat cantik. Kecantikan alami dengan kesan dingin yang menarik. Tetapi sungguh! Jika Eren boleh memilih dia tidak ingin melihat wajah itu selamanya!
ITU MIKASAAAA! Eret menjerit ngeri dalam hati.
Dia cepat-cepat menarik tanganya kembali kemudian berjalan cepat ke lobby apartemen tanpa sekalipun melihat ke belakang.
Wajahnya pucat pasi dan tubuhnya terasa sangat dingin seperti terkena demam. Eren menaiki lift dan ketika dia sampai di lantai apartemenya ia langsung berlari menuju pintu apartemenya. Dia berhenti didepan pintunya dengan napas memburu. Kebetulan saat itu pria sebelah apartemen juga baru pulang dari suatu tempat, mungkin dari supermarket karena dia membawa kantung plastik besar ditanganya. Kening Levi mengernyit heran melihat Eren yang bertingkah aneh.
"Aku... Aku melihat hantu!" Kata Eren asal. Dia masih berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
Levi tidak berkomentar apa-apa. Pria itu memasukan PIN apartemenya dan masuk begitu saja mengabaikan Eren.
Eren hanya bisa mengedikkan bahu mendapati sikap dingin tak bersahabat Levi padanya. Dia memasukkan PIN apartemenya dan pintu pun terbuka. Erenpun masuk. Dia menutup lagi pintunya dan melempar jaketnya ke sembarang arah kemudian dengan perasaan gelisah yang menghantuinya, dia berjalan mondar-mandir di apartemenya. Isi pikiranya sekarang kacau. Batinya tidak tenang setelah melihat Mikasa tadi.
Apa tadi itu kebetulan? Tidak mungkin kan gadis itu juga tinggal di apartemen ini? Tapi dalam kehidupan sebelumnya Mikasa tidak tinggal di apartemen ini. Dia tinggal di apartemen cukup jauh dari sini. Apa dalam kehidupan keduanya ini Mikasa ternyata disetting tinggal satu apartemen denganya? Tapi mustahilkan! Eren bukanya bermaksud menghina. Tapi Mikasa adalah seorang make up artist yang tidak terlalu terkenal dan mencolok di industri ini. Penghasilanya tidak banyak karena itu gadis itu tinggal di pinggiran kota yang terkenal dengan biaya hidup yang lebih rendah. Jika ada kemungkinan Eren bertemu gadis itu disini pastilah suatu kebetulan. Ya kebetulan yang jarang! Tapi kenapa harinya persis hari ini dan jamnya juga mirip! Bahkan seolah menegaskan bahwa pertemuan dengan Mikasa tadi adalah takdir yang tak terelakan. Karena walau bagaimanapun Eren berusaha menghindar. Kesempatan untuk bertemu gadis itu secara tak sengaja tetap dapat terjadi kapanpun dan dimanapun.
Sekarang dia harus apa? Bagaimana? Eren pusing! Dia butuh udara segar! Ya! Eren berjalan ke balkon untuk mencari udara segar.
Iris hijaunya menyapu pemandangan dibawah gedung, kelangit hari itu yang banyak bintang, dan berakhir jatuh pada sosok bayangan pria dibalkon seberang yang sedang membaca buku.
Walaupun unit apartemen mereka masih 1 type tapi harus Eren akui bahwa kondisi balkon mereka sangat kontras. Balkon Levi terlihat lebih segar dan teduh dengan pot-pot dan tanaman merambatnya serta kursi dan kayu yang unik menambah suasana asri balkon apartemen tersebut yang memang ukuranya boleh dibilang cukup luas sebenarnya jika ingin dihias.
Berbeda dengan milik Levi, balkon apartemen Eren terkesan polos tanpa hiasan apapun. Dia memang tidak ada niatan untuk mendekorasi balkonya karena menurutnya itu tidak penting. Tapi melihat asrinya balkon Levi, Eren jadi ingin mendekorasi balkonya seperti itu. Tapi cih! Mengingat pertengkaran mereka tempo hari. Mustahil dia lakukan. Gengsinya terlalu besar. Dia tidak ingin dianggap meniru hobi pria itu dan berakhir dengan dikomplain!
Menggeleng pelan untuk mengusir pikiran-pikiran aneh yang berkaitan dengan tetangga sebelah, Eren kembali memfokuskan pandanganya pada pemandangan dibawah. Tapi tak disangka entah bagaimana pandangan matanya bisa jatuh pada sosok samar-samar gadis yang berdiri ditengah halaman kompleks apartemen. Gadis itu mendongak dan persis menatap ke tempat Eren berada.
Eren tersentak terkejut. Itu Mikasa! Eren dapat dengan mudah mengenali gadis itu dari pakaian yang dikenakanya. Gadis itu masih disini? Tapi untuk apa? Memata-matai Eren? Bulu kuduk Eren seketika meremang. Ini gila! Gadis itu ternyata stalker gila! Psikopat gila! Eren mengutuk dalam hati. Eren cepat-cepat menutup pintu balkon dan menarik gordenya rapat-rapat. Dia bejalan cepat ke kamar dan bersembunyi dibawah selimutnya yang hangat.
.
.
.
Eren sungguh menyesali kebodohanya masa lalu yang bisa-bisanya pacaran dengan gedis sinting bernama Mikasa itu.
Semenjak Eren melihatnya di disekitar apartemenya, Eren semakin sering menemukan gadis itu secara terang-terangan menguntitnya— dibasement, disaat Eren ke supermarket, bahkan secara terang-terangan mengikuti Eren ketempat syuting. Walaupun Mikasa belum bertingkah ekstrim seperti memperkosanya, tapi Eren yakin dimasa depan tidak menutup kemungkinan bahwa Mikasa akan melakukanya mengingat bagaimana maniaknya gadis itu.
Tak hanya menguntit, Mikasa juga sering sekali berusaha masuk ke apartemen Eren. Beberapa kali Eren mendengar bunyi seseorang yang mencoba membobol password pintu apartemenya didalam hari. Untung saja Eren rajin secara berkala merubah PIN apartemenya sehingga Mikasa tidak bisa masuk. Dia sangat takut Mikasa bisa masuk ke apartemenya! Hal itu membuat Eren benar-benar stress hampir setiap hari. Hal ini diperparah karena kesibukanya setelah dramanya usai berkurang. Semenjak drama terakhirnya usai, Eren belum mendapatkan project drama yang bagus lagi jadi dia keseharianya hanya diisi dengan menjalani syuting iklan dan pemotretan majalah. Banyak waktu kosong dijadwalnya itu artinya dia jadi sering pulang saat sore dan itu membuatnya mau tak mau lebih sering harus menghabiskan waktunya diapartemenya. Padahal dia sebenarnya sudah ditaraf jenuh. Dia ingin keluar minum-minum dengan teman-temanya dan bersenang-senang. Tapi Mikasa sialan itu selalu ada dimana-mana. Eren jadi punya keinginan untuk pergi ke tempat yang jauh agar tidak perlu melihat gadis itu selamanya. Tapi apapun yang dia pikirkan itu realitanya dia hanya bisa menahan diri sebisa mungkin karena dia tidak bisa membuang hidupnya sebagai aktor dan dia terlalu takut untuk bicara langsung dengan gadis itu dan menegurnya. Oleh sebab itu Eren hanya bisa pasrah dan frustasi dengan nasibnya. Walaupun hamper setiap malam dia ketakutan dan insomnia. Hal itu berlangsung seminggu lebih dan Eren tidak tahan! Dia harus bicara dengan seseorang agar dia tetap waras!
Atas keinginan kuat itu Eren berjalan ke dapur rumahnya untuk meraih beberapa botol anggur. Dia membawa botol-botol itu keluar, tepatnya pergi ke apartemen sebelah. Sebenarnya dia ragu untuk pergi kesana tapi tak ada pilihan lain. Menghela napas panjang untuk mengurangi kegugupanya dan membuang rasa malu yang mengganjal dihatinya, Erenpun memberanikan diri membunyikan bel. Tak lama kemudian pintu terbuka. Wajah datar Levi muncul dari pintu. Kening pria itu mengernyit melihat Eren berdiri didepan pintunya dengan 3 botol anggur.
"Apa anda suka anggur? Mau minum bersama?" Tanya Eren dengan senyuman canggungnya.
Levi menatap pria yg lebih tinggi itu dengan pandangan curiga.
"Apa aku mengganggumu?" Tanya Eren sok polos. Dalam hatinya dia membatin persetan dengan imagenya. Dia sedang terlalu gelisah untuk sendirian. Dia butuh seseorang untuk menemaninya untuk mengusir bayangan Mikasa yang mungkin masuk ke apartemenya dan menusuknya hingga tewas.
Levi menghela napas, kemudian mempersilakan pemuda yang lebih muda masuk.
"Masuklah." Katanya seraya membuka lebih lebar pintu apartemenya.
Eren tanpa ragu menginjakkan kakinya diapartemen pria itu. Ini pertama kalinya Eren main kesini. Kesan Eren adalah dia cukup takjub melihat bagaimana rapi dan bersihnya apartemen Levi.
Pria ini tidak memiliki banyak perabotan sehingga kesanya sangat bersih. Dia terlihat hanya mengutamakan efisiensi dari pada style dan keindahan karena Eren hanya melihat furniture basic yang harus dimiliki seperti sofa, meja, rak buku yang penuh dengan pajangan buku. Bahkan Eren tidak melihat ada TV. Eren hanya melihat sebuah leptop duduk dimeja dan cangkir putih didekatnya. Tampaknya Levi sedang mengerjakan tulisanya sambil minum kopi ketika Eren datang berkunjung.
"Kenapa?" Tanya Levi heran karena Eren hanya melongo sejak tadi.
"Oh... Tidak tidak ada apa-apa." Kata Eren seraya menggeleng. Dia mengikuti Levi berjalan mengekori pria itu ke dapur. Pemandangan tak jauh berbeda juga Eren lihat di dapur Levi yang terlihat bersih. Eren meletakan botol anggurnya dimeja makan. Dia menghempaskan pantatnya dikursi. Bola matanya menjelajah rumah Levi sedangkan sang pemilik membuka rak gelas dan mengeluarkan 2 buah gelas berkaki kemudian membawanya ke meja makan. Dia juga mengeluarkan pembuka botol dan dengan terampil membuka satu botol anggur.
Eren hanya mengamati dalam diam bagaimana tangan Levi begitu terlihat elegan ketika menuangkan anggur itu kedalam gelas. Pria itu punya jari-jari kurus panjang yang terlihat lentik. Itu cantik sekali. Eren jadi ingin menyentuhnya.
Levi hanya menuang ¼ gelas kemudian menggesernya 1 gelas ke hadapan Eren.
"Anggur ini adalah anggur terbaik yg aku beli di swiss pada perjalanan syutingku disana. Anda pasti akan suka. Penjualnya bilang efek alkoholnya sangat kuat dengan 1 tegukan seseorang benar-benar bisa mabuk." Cerita Eren dengan kesan bangga.
Tapi sayangnya Levi mengabaikan ucapanya. Dia hanya meneguk anggur digelasnya dalam diam. Eren sedikit merasa kepalanya berkedut kesal melihat cuek dan dinginya sikap Levi padanya. Pria ini! Sebenci itukah dia pada Eren?
Eren meraih gelasnya dan menciumnya. Baunya cukup tajam tetapi manis. Sepertinya kadar alkoholnya cukup tinggi. Eren jadi agak menyesal membawa ini karena kadar alcohol tinggi membuatnya cepat mabuk. Dia khawatir dia akan benar-benar mabuk. Mabuk dipub bukan apa-apa tapi mabuk dirumah musuh adalah masalah besar!
Eren menyesap anggurnya sedikit dan terkejut karena rasanya benar-benar unik berbeda dari anggur yang biasa dia minum.
"Hm… Ini enak. Benar bukan? " Tanya Eren berusaha memecah kesunyian yang ada.
"Hmm Lumayan." Komentar Levi tampak puas membuat Eren nyengir.
"Jika sir Levi suka aku masih punya beberapa botol dikulkas. Aku akan memberikanya cuma-cuma."
"Boleh." Levi menyetujui.
Eren tersenyum lagi. Entah kenapa pria ini sangat menyebalkan ketika marah-marah seperti tempo hari. Tetapi dapat membuat hati Eren senang jika melihatnya dalam mode tenang seperti ini.
"Aku juga punya beberapa soju? Apa anda suka soju?"
Kening Levi kali ini mengernyit mendengar tawaran Eren.
"Apa sekarang kau berusaha menjilatku?"
"Apa! Aku tidak!" Eren membantah.
"Sikapmu sekarang sangat mencurigakan."
Eren tersentak. Yah! Apa bersikap baik pada orang yang selalu bertengkar denganya adalah sebuah kejahatan? Apa dia terlihat seperti penjahat sekarang?
"Aku hanya ingin berteman... denganmu..." Cicit Eren lirih.
Hening.
Atmosfer berubah sangat drastis. Eren bisa merasakan tekanan besar ketika Levi menatap dia dengan kening berkerut dan pandangan mata tajam mengamati setiap gerak-geriknya. Sikap dinginya dan pandangan mata menyelidik itu benar- benar combo mematikan untuk membuat seseorang merasa gugup dan tertekan secara instant.
"Ah sudahlah. Jika kau tidak mau berteman denganku setidaknya untuk sekarang jadilaha teman minumku! Aku benar-benar pusing!" Kata Eren menyerah.
Dia meraih botol anggur dimeja dan menuang cukup banyak di gelasnya. Dia minum seperti seminum segelas jus biasa. Walaupun kenikmatanya menjadi hilang dengan cara minum seperti itu tetapi Eren benar-benar ingin cepat mabuk saja agar dia bisa lepas dari pikiran-pikiran memusingkan tentang Mikasa dan juga lepas dari tekanan batin karena Levi yang terus menatapnya. Dia hanya ingin rileks. Setelah meminum di gelas ke 2 Eren bisa merasakan kepalanya sangat ringan dan pada gelas ketiga dia sepenuhnya sudah tidak bisa berpikir jernih.
"Hahaha" Eren tiba-tiba tertawa seraya meletakan gelas anggur ketiganya yang kosong.
"Sudah aku katakan kan bahwa anggur ini sangat istimewa!" Eren berteriak dan tersenyum-senyum idiot.
Levi tidak menanggapi ocehanya. Pemuda itu hanya menyesap sisa anggur digelasnya dengan elegan dan cool. Tak terusik dengan Eren yang mabuk. Hal itu membuat kekesalan membuncah didada Eren. Kenapa sih pria ini selalu cool seperti itu? Eren benar-benar ingin melihat sisi berbeda dari pria itu. Tapi Levi adalah pria yang kaku dan membosankan!
"Kenapa kau menyebalkan sekali sih! Menyebalkan! menyebalkan! Aku kesal setiap kali aku melihatmu!"
"Begitukah?" Balas Levi yang mana terdengar seperti sarkasme ditelinga Eren.
"Kau! Pria tua menyebalkan yang enggan pindah! Seharusnya apartemen ini jadi milikku juga! Kau itu seharusnya pergi. Pergi!" Kata Eren merancau. Dia menunjuk-nunjuk Levi dengan beraninya tapi pria itu malah memasang seringai meremehkan.
"Kenapa kau tidak pergi! Kenapa kau selalu mencari keributan denganku! Kenapa kau suka sekali mencari gara-gara huh?" Tanya Eren terdengar frustasi.
Kali ini Levi merespon dengan senyuman kecil melihat tingkah konyol Eren yang menghibur ketika mabuk.
"Ahhh... Aku tau! Kau mencari keributan denganku karena itu satu-satunya alasan kan kau bisa bicara denganku? Sebenarnya kau menyukaiku bukan?" Eren tertawa nyaring sambil bertepuk tangan. Dia tau apa yang dikatakanya adalah idiot. Tapi sialnya, mulutnya tidak bisa berhenti bicara.
Levi hanya menggelengkan kepalanya melihat berapa kacaunya ucapan Eren saat mabuk. Dia meletakan gelasnya di meja dan berjalan menghampiri Eren.
"Kau sudah terlalu mabuk sebaiknya segera kembali ke apartemenmu dan tidur." Kata Levi menyentuh bahu Eren bermaksud membantu pemuda itu pulang ke apartemenya.
Tapi Eren tidak mau! Dia tak terima akan diusir! Pria tsundere ini seharusnya mendapat pelajaran! Eren tiba-tiba menyeringai dengan pikiran jahatnya. Dia meraih tangan levi dibahunya.
Eren menarik tangan pria itu kuat dan tubuh Levi yang limbung jatuh ke pangkuanya. Levi masih berada dalam mode shocknya ketika selanjutnya Eren menempelkan bibirnya ke bibir Levi dan melumatnya pelan. Butuh beberapa detik bagi Levi untuk menyadari apa yg terjadi.
Levi berusaha melepaskan diri. Dengan 1 tanganya yang masih dicengkram Eren menekan dada pria itu. Dia bermaksud mendorong pemuda itu menjauh agar dia bisa lepas. Tapi kekuatan Eren yang mabuk tidak bisa diremehkan karena Levi benar-benar terjebak dan tidak bisa bergerak. Tangan Eren yang satunya melingkar di pinggang pria itu. Menjaga Levi agar tidak bisa melepaskan diri.
Bibir Eren mengecup lembut bibir Levi walaupun si pria yang lebih tua tidak membalas. Menanggapi hal itu membuat Eren lagi-lagi kesal. Dia tidak ingin menjadi satu-satunya yang menginginkan ciuman ini. Oleh sebab itu dia berusaha membuat Levi juga menikmati ciuman mereka dengan mengecup dan menjilat bibir atas dan bawah Levi beragantian. Bahkan menggigit bibir bawah pria itu. Tapi Tapi Levi sepertinya gigih tidak ingin memberikan Eren akses lebih. Bagi Eren, bibir Levi entah kenapa terasa begitu manis ketika dia kecup. Tak kehilangan akal saat si pria yang lebih tua tegang dan sibuk menolak ciumanya, tangan Eren yang semula mencengkram tangan Levi kini bergerak ke puting pria itu. Eren mencubitnya agak keras dibalik sweater yang Levi pakai dan atas aksi itu, Levi refleks membuka mulutnya karena kaget. Eren memanfaatkan kesempatan itu masukkan lidahnya. Kali ini seluruh tubuh Levi bergetar ketika lidah mereka bertemu. Lidah Levi berusaha mendorong lidah Eren untuk keluar. Reaksi Levi yang masih berusaha menolaknya membuat Eren semakin tertantang untuk menaklukan pria itu.
Dia benar-benar menikmati rasa manis dari bibir Levi ditambah bau pria itu yang harum tapi maskulin membuat Eren semakin tergila-gila. Eren benar-benar suka baunya. Dia tidak pernah berpikir bahwa pria yang lebih tua ini akan sangat menawan jika dia berhasil sedekat ini denganya.
Dalam pikiranya sekarang dia semakin penasaran bagaimana ekspresi Levi saat Eren berada diatasnya menindih pria sok cool dan dingin itu kemudian menindas dan menggenjotnya sampai tumbang? Hehe... Pasti sangat menyenangkan. Eren tertawa dalam hati.
Eren melepaskan ciumanya. Dia menatap pria didepanya dengan pandangan lembut dan sayu. Eren tau dia mungkin mabuk tapi pria didepanya ini benar-benar tampan dan menawan. Lihat saja bagaimana pria itu bisa tetap tenang disaat Eren mendesaknya seperti ini.
"Apa sekarang kau puas? Cepat lepaskan aku segera." Perintah Levi masih berusaha menormalnya napasnya efek dari ciuman tadi.
Bukanya melepaskan pria itu Eren malah meletakan kepalanya dibahu levi. Posisi itu membuatnya memeluk pria itu erat. Dia mengubir wajahnya dibahu mungil itu. Tubuh Levi menegang tapi Eren tidak peduli. Dia mengubur kepalanya dileher Levi dan menghirup bau pria itu Lebih dalam.
"Kau sangat harum. Baumu enak sekali." Katanya mendengus Levi seperti seekor anjing tepatnya anjing yang birahi.
"Apa yang mau kau lakukan bocah? Cepat lepaskan aku! Atau aku bunuh kau sekarang!" Ancam Levi galak.
Tapi Eren hanya terkekeh. Dia tidak merasa takut sedikitpun. Justru hatinya terasa sangat tenang dan damai ketika memeluk pria itu. Eren menyukai perasaan ini. Pria ini adalam pelukanya harus jadi miliknya.
Oleh pikiran itu, Eren tiba-tiba menggigit leher Levi hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
"Akhhh!" Desis Levi merasakan rasa sakit menyebar dari lehernya. Tak hanya itu tangan kiri Eren menelusup ke baju Levi. Tanganya bergerak membuat gerakan memutar diperut Levi dan berpindah ke puting pria itu. Mencubit dan menarik puting Levi seperti mainan membuat si pria yang lebih tua tidak bisa menahan diri untuk tidak mendesah.
"Ahhh... Jangaan... Jangan sentuh itu..."
Eren tersenyum kecil diantara gigitanya membuat tanda-tanda merah di leher Levi. Mulut pria itu masih mencoba menolaknya tetapi Eren dapat merasakan tangan pria itu tak lagi mendorong dadanya menjauh. Tangan itu malah meremas baju Eren erat.
Itu adalah baju kesukaan Eren. Dia akan membunuh siapapun yg membuat pakaian kesukaanya kusut. Tapi pengecualian untuk saat-saat genting seperti ini karena baju itu tentunya tidak sebanding dengan pengalaman bercinta dengan pria dingin menawan bernama Levi ini.
Usaha Eren untuk membuat Levi terbawa suasanapun perlahan berbuah hasil. karena semenjak Eren berhasil mencapai area sensitif Levi yaitu putingnya. Levi sepenuhnya telah dibawah kontrolnya. Pria itu lemas dan hanya bisa mendesah. Larut oleh kenikmatan ketika putingnya dimainkan oleh Eren. Pria itu bahkan tidak protes ketika ketika Eren menyibak sweaternya memperlihatkan perut dan dada yg putih bersih ramping dan menawan. Tanpa ragu Eren segera menjilat dan menyedot puting pria itu kuat-kuat seperti bayi yang kehausan.
"Ahhhh... Hhhh... Jangan... Tidak..." Mulut Levi merancau lirih. Tanganya berada di rambut Eren. Meremas surai kecoklatan itu kuat. Jilatan lidah Eren diputing kirinya dan bagaimana puting kananya ditarik-tarik, sambil sesekali digoda dengan gerakan memutar terasa seperti candu untuk Levi. Ekstasi yang memabukkan itu membuatnya lupa segalanya. Dia bahkan tak protes ketika Eren menurunkan resleting celananya, melepas celana hitam dan underwarenya sekaligus kemudian melemparnya entah kemana. Bagian bawah Levi kini sepenuhnya terkekspose memberi Eren akses untuk bermain dengan batang Levi yang yang telah mengeras sejak tadi.
"Ahhh... ahhh... hhh... hhh..." Levi mendesah semakin keras ketika penisnya yang tegak dan sudah mengeluarkan cairan precum disentuh. Digosok naik turun dengan gerakan pelan tetapi intens. Buah zakarnya juga sesekali dimainkan dengan terampil.
"Apakah nikmat sir?" Tanya Eren berbisik ditelinga Levi bermaksud menggoda pria itu.
"Ahh… Ahhh…. Hah…" Levi hanya mampu menjawabnya dengan desahan. Wajahnya sudah sepenuhnya memerah, pandangan matanya sayu, dan bibirnya terbuka. Tertengah-engah menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Eren benar-benar menikmati pemandangan erotis itu.
Gerakan tangan Eren yang semula lambat perlahan-lahan meningkat seiring dengan napas Levi yang semakin memburu dan berikutnya tanpa menunggu waktu lama Levipun organisme. Cairan putih lengket menyembur ke bagian dada dan mengenai dagu Levi. Sebagian kecil muncrat kebaju Eren. Eren hanya menyeringai melihat Levi cum hanya dengan keterampilan tanganya.
Setelah organisme tubuh Levi semakin terlihat tak berdaya. Dia bersandar pada Eren sepenuhnya seolah hidupnya bergantung para pemuda itu. Eren memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Dia menggeser gelas dimeja kearah samping dan meletakan tubuh Levi diatas meja. Dia membuka celananya sendiri menampakkan gundukan besar dibalik celana. Dia menurunkan underwarenya. Penis besar dan tegak langsung terekspos. Dia mengocok penisnya sendiri beberapa kali sampai keluar cairan precum dan dia mengoleskan cairan itu pada lingkaran cincin anus Levi.
"Uhmmm...Ahhh..." Levi mendesah karena geli. Dia menggeliat tidak nyaman ketika satu jari Eren masuk dengan mulus kelubang anusnya. Jari Eren bergerak keluar masuk beberapa kali. Setelah dirasa cukup, Eren menambahkan satu jari lagi. Levi masih menggeliat tidak nyaman dimeja sampai akhirnya Eren memasukkan tiga jari dan Levi merintih kesakitan. Melihat pria itu kesakitan Eren berusaha menghibur pria itu dengan menciumnya. Tak seperti ciuman sebelumnya kali ini Levi membalas setiap gerakan bibir Eren. Pria itu mengimbanginya dengan terampil membuat libido Eren naik. Penisnya semakin keras dan dia tidak tahan untuk segera masuk. Eren menarik keluar ketiga jarinya dan langsung mendorong penisnya kedalam anus Levi. Pria dibawahnya menegang ketika lubang sempit itu dibuka paksa untuk melebar ketika penis besar Eren masuk. Tubuh Levi bergetar oleh rasa sakit. Eren mencoba mengalihkan perhatian pria itu dengan menjilat dan memainkan putingnya. Tapi tetap saja Levi terlihat kesakitan dan tak nyaman.
"Akh... sakit. Keluarkan!" Levi memukul-mukul bahu Eren cukup keras dengan tanganya yang bebas. Merasa terganggu. Eren menangkap kedua tangan itu dan menahanya diatas kepala Levi. Penisnya masih terus didorong masuk dengan gerakan perlahan. Eren juga merasa tersiksa karena lubang Levi yang sempit itu menjepit penisnya terlalu erat. Dinding-dinding usus Levi mencengkeram erat penis Eren membuat pria itu merasakan otaknya blank oleh kenikmatan di alat vitalnya. Yang ada dipikiranya saat ini hanya menusuk semakin dalam sampai penisnya terlahap habis sampai ujing. Setelah berjuang beberapa lama akhirnya seluruh penis Eren telah ditelan sepenuhnya oleh anus Levi.
"Ahhh…" Eren ikut mendesah merasakan nikmat pada kejantananya yang terasa nyaman dibungkus dengan hangat didalam anus Levi.
Berbeda dengan Eren yang tampak puas, pria dibawahnya merintih merasakan lubang anusnya mati rasa. Wajah Levi sepenuhnya pucat dan seolah hampir mati, dia bernapas dengan berat tetapi Eren tidak peduli. Dia menarik penisnya sampai tinggal ujung kepala penis saja yang tertinggal kemudian mendorong batangnya untuk masuk lagi. Dia melakukan gerakan itu beberapa kali menusuk ke sudut yang berbeda didalam lubang anus Levi mencari titik kenikmatan pria itu dan tak butuh waktu lama karena Levi mendesah keras ketika Eren mendorong tepat menabrak prostatnya.
"Ah... ahh... Disana terasa aneh." Kata Levi disela-sela rintihanya. Eren menyerai kecil kemudian menarik penisnya lagi dan mengarahkan doronganya membidiki titik yg Levi maksud dan lagi-lagi Levi mendesah semakin kencang dan lubangnya menyempit ketika Eren menabrak titik itu. Eren menyukai sensai dijepit itu. Dia berulang kali mendorong ke prostat Levi membuat pria dibawahnya semakin larut dalam kenikmatan. Levi bahkan menggerakan pinggulnya sendiri agar penis Eren bisa masuk semakin dalam dan menusuknya semakin kuat. Keduanya larut dalam euforia itu dan setelah beberapa lama, Levi pun organisme untuk kedua kalinya. Ketika dia klimaks lubang belakangnya menjepit kuat penis Eren membuat Eren ikut datang. Dia menyemburkan lahar putihnya dianus Levi. Cairan putih kental itu keluar cukup banyak bahkan sampai luber dari anus Levi. Eren diam untuk beberapa saat—masih tetap diposisinya untuk menikmati sesi klimaksnya. Setelah merasa cukup Eren menarik penisnya keluar. Cairan putih miliknya ikut menetes dimeja dapur.
Pemandangan erotis itu membuat penisnya perlahan-lahan menegak kembali. Apalagi dipadukan dengan pemandangan seksi Levi yang terengah-engah yang berbaring pasrah di dimeja makan seperti santapan lezat untuk dia lahap. Ahh!
Dia ingin lagi. Eren menjilat bibirnya.
Tanpa permisi Eren kembali mendorong penisnya ke anus Levi. Menggenjot pria yang sudah lemas itu dan untuk sekali lagi membuat pria itu mendesah nikmat dan akhirnya organisme.
Seks dengan Levi terasa seperti ekstasi yang memabukkan bagi Eren. Ini bukan pertama kalinya dia melakukan seks dengan seorang pria. Dia sudah sering tidur dengan pria dan wanita lawan mainya di drama. Tapi harus dia akui bahwa diantara sekian banyak pria dan wanita yang sudah dia kencani dan tidur denganya tubuh Levi paling compatible denganya. Setiap jengkal tubuhnya terasa manis ketika Eren jilat terutama putingnya. Lubangnya ketat dan nyaman. Desahanya seksi. Dan yang paling Eren suka adalah sikap tsundere Levi itu sungguh menggemaskan membuat libido Eren naik dan makin bergairah. Mereka bahkan sampai melakukanya lagi dan lagi. Setelah puas di dapur Eren membawa Levi ke kamar. Disana Eren semakin beringas. Dia bahkan mengabaikan Levi yang akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan dan tetap menggenjotnya. Barulah setelah klimaks terakhir Eren merasa sangat kelelahan dan mengantuk. Dia membaringkan tubuhnya disamping Levi dengan perasaan puas. Ini seks terbaik yang pernah dia lakukan! Pikir Eren senang. Dia memejamkan matanya yang sudah terasa berat dan kemudian jatuh tertidur.
.
.
.
TBC
TwT Dah lama sejak terakhir aku bikin fanfic NC huahahaha!
Maaf kalau banyak typo ya aku dah berusaha mengurangi tiponya tapi tetap ajha masih ada. Tapi gimana-gimana? Apakah kalian suka? Apakah cukup HOT? Semoga cukup hot yak. See you on next chapter~!
