Would you make a scandal with me?

[ sakuatsu, bxb, idol x antifan!au, lemon ]

Seluruh karakter milik Haruchi Furudate. Pitik hanya bikin FF, tidak mengambil keuntungan apapun selain rasa senang.

.

.

.

Penghargaan pendatang baru terbaik.

Penghargaan penampilan panggung terbaik.

Penghargaan lagu terbaik.

Perghargaan album terbaik.

"Penghargaan artis terbaik," sebut Miya Atsumu dengan nada kesal. Ia tengah menggerakkan scroll tetikus di kafe internet, membaca cepat artikel terbaru yang muncul di situs hiburan.

Yang ia perhatikan tidak lain dan tidak bukan adalah idola lelaki tampan dan sangat populer belakangan ini. Bukan Atsumu yang menganggapnya tampan. Itu komentar para penggemar di jejaring sosial.

Perlu dicatat, ia sangat amat benar-benar benci sekali dengan seseorang bernama Sakusa Kiyoomi. Jika diizinkan bertemu dengan lelaki sok higienis itu, ia akan—

Akan—

Atsumu tidak bisa mendeskripsikannya. Yang jelas ia akan melakukan apapun untuk membuat lelaki yang setahun lebih muda darinya itu merasa terganggu.

Dimulai dari menulis komentar jahat di kolom komentar artikel internet.

- emei_13 -

'Aku tidak paham mengapa orang-orang begitu menyukai artis yang tampak biasa-biasa saja.'

Sudah. Komentar sok netral itu sudah cukup untuk membuat notifikasi akun samaran Atsumu ramai.

- sakusa_s_lover -

'Beraninya kau bilang Kiyoomi-kun biasa-biasa saja!'

- sugoi.saku -

'Palingan seleramu saja yang terlalu rendah.'

Atsumu mendecak kesal. Jemarinya mengetik balasan lagi untuk membela diri.

- emei_13 -

'Seleraku terlalu rendah? Seleramu yang rendahan. Apa bagusnya Sakusa Kiyoomi?'

Penggemar obsesif yang selalu membela-bela idola mereka sangat menyebalkan. Terkadang Atsumu terlalu sibuk bertengkar di jejaring sosial sampai lupa pulang.

Ah, biarlah. Ia juga tinggal seorang diri. Osamu, kembarannya berdiam di kos dekat universitas. Kalau Miya rambut pirang ini, ia sedang menikmati gap year-nya. Harusnya lelaki itu dan sang kembaran masuk pada tahun yang sama. Tapi Atsumu lebih memilih mengejar sesuatu yang lain, yang gagal ia raih dan membuat lelaki itu resmi menganggur.

Atsumu merogoh kantung celana dan menemukan beberapa lembar yen. Ia menghentikan pertengkaran dengan penggemar Sakusa Kiyoomi dan berjalan ke rak makanan ringan. Setelah mengambil dua bungkus keripik kentang, Atsumu menyodorkannya pada meja kasir.

"Berapa semuanya?"

"500 yen," sebut si penjaga kasir.

Dua bungkus ini bisa bertahan hingga dua hari. Atsumu masih memiliki beberapa botol air mineral di kamar sewanya. Sekarang ia hanya perlu—

Entahlah. Ia perlu bekerja, sangat perlu. Tapi hatinya belum berkehendak. Setiap kali melihat wajah Sakusa Kiyoomi di poster tiang listrik, papan iklan, halte bus, bahkan bus yang melintas di jalan, darah Atsumu seakan mendidih. Lelaki itu mencopot paksa selembar poster di tiang listrik, merobek-robek, dan membuangnya ke tempat sampah. Pelampiasan rasa jengkel ini terasa menyenangkan—walau hanya sesaat.

Pada akhirnya Miya Atsumu hanya bisa berjalan kembali ke kamar sewa. Ia mengingat toples berisi uang tabungan dari sang ibu di kolong ranjangnya. Isi wadah itu sudah tinggal sedikit. Jika Atsumu harus membayar tagihan air dan listrik bulan ini, ia pasti akan bangkrut instan.

Langkahnya gontai menyusuri gang sempit dan berhenti di persimpangan jalan. Manik coklatnya menatap keramaian Tokyo. Sangat hiruk pikuk. Jika ia jatuh miskin dan kehilangan semuanya, tidak akan ada yang sadar.

Benar. Tidak akan ada yang sadar.

"Sialan kau, Sakusa Kiyoomi!"

Tiba-tiba saja pundaknya ditubruk seseorang. Atsumu menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak mengumpat lagi. Alih-alih, lelaki pirang itu mendengus jengkel.

"Yang benar saja! Mood-ku sudah rusak. Kau tidak perlu merusaknya lagi dengan menabrakku." Amarah itu dilampiaskan sembari menoleh ke belakang. Pelaku penubrukkan tadi masih berdiam di belakang Atsumu, menaruh telunjuk di depan bibir—memintanya untuk diam.

Wajahnya tertutup bagian depan topi. Seluruh pakaian orang itu berwarna hitam. Ia menarik jaket bomber hijau army yang Atsumu kenakan erat-erat. "Ini keadaan darurat. Tolong selamatkan aku," mohon lelaki itu dengan nada memelas.

Tapi Atsumu menepis tangannya, bicara dengan mata melotot benci, "Keadaan darurat seperti apa yang terjadi sampai kau meminta bantuan pada orang asing? Huh?"

"SAKUSA KIYOOMI!!!" teriak seseorang—entah siapa—dari luar gang.

Atsumu benci nama itu. Sangat benci. Kenapa ia harus mendengarnya di saat menyebalkan ini?

"Maafkan aku, orang asing. Kau harus ikut," ucap si penubruk kemudian menggenggan pergelangan tangan Atsumu. Ia menarik dan membawa lelaki pirang itu menjauh dari gang, melenceng dari arah rumahnya.

"Ke mana kau mau membawaku? Hei," protes Atsumu. Tapi orang itu tidak menggubris. Ia malah menarik si pirang ke depan halte, menarik Atsumu naik ke dalam bus. Sosok itu mendorong Atsumu untuk duduk di sebelahnya. Ia berlindung pada sisi Atsumu, di dekat jendela, masih memegangi jaket lelaki itu erat-erat.

"Baiklah. Aku akan bertanya saat turun," putus Atsumu sembari menarik lengannya agar lepas dari pegangan lelaki itu.

Bus melaju jauh. Atsumu sendiri agak panik karena ini sudah malam dan uangnya, uang tabungannya akan habis sia-sia karena membiayai perjalanan bus dari tempat di manapun mereka turun.

"Di sini," bisik lelaki itu sambil menyenggol lengan Atsumu.

Masih dengan muka bersungut-sungut, ia bangkit, melangkah menyusuri jalan di antara kursi dan turun ke halte. Orang tadi juga mengekor, enggan untuk menjauh dari Atsumu. Halte tempat mereka turun benar-benar sepi.

Sosok tadi kini tengah berkutat dengan ponsel. Atsumu diabaikan. Ia jengkel karena tidak mendapat penjelasan apapun, bahkan dibawa ke tempat antah berantah tanpa persetujuan.

"Siapa kau hingga berani-beraninya menyeretku, huh?" labrak Atsumu sembari berkacak pinggang.

Orang itu berhenti berkutat dengan ponsel, beralih pada si pirang dan membuka topi. Dan tampaklah wajah yang sangat familiar bagi seorang Miya Atsumu.

"S-Sakusa Kiyoomi?" Manik coklat Atsumu terbelalak. Bibirnya sedikit terbuka karena heran.

"Woah, apa aku sedang berhadapan dengan artis tenar saat ini? Apa menurutmu aku harus meminta tanda tangannya?" tanya Atsumu dengan nada sarkas.

"Tentu saja tidak. Karena aku membencimu sampai mendarah daging. Cukup dengan melihat wajahmu terpampang di seluruh sudut kota, aku akan memuntahkan seluruh isi perutku untuk memenuhi bak mandi. Cih," ujar Atsumu panjang lebar. Ia berbalik dan berjalan menyusuri trotoar, sepenuhnya mengabaikan Sakusa dan uang tabungannya yang sudah menipis.

Tiba-tiba sebuah taksi melintas melewati Atsumu, berhenti tepat di depan artis tenar itu.

"Oi, orang asing, apa kau tidak butuh tumpangan?"

Atsumu mendengus pelan. Kedua tangannya mengepal erat-erat, jengkel atas panggilan 'orang asing' yang disematkan sebagai namanya. Tapi lelaki pirang itu tidak bisa menolak tumpangan. Sakusa perlu—bahkan harus—bertanggung jawab. Ini adalah bagian dari tanggung jawab itu.

"Aku adalah antifan-mu. Kau tahu? Aku sangat membencimu," sebut Atsumu ketika duduk di jok tengah bersama Sakusa.

"Ya. Kau sudah mengatakannya tadi. Ke mana tujuanmu, antifan-san? Biarkan sopir taksi ini tahu," sahut Sakusa dengan nada yang—menurut Atsumu—sangat menyebalkan.

Sangat menyebalkan hingga ia ingin melayangkan tamparan ke pipi artis arogan itu. Tapi jika ingin melakukannya, mereka harus benar-benar berduaan di sebuah tempat. Jika ada orang lain yang tahu, maka ia bisa jadi dituntut.

Atsumu diam sejenak, mengabaikan pertanyaan Sakusa tadi. Dengan kebencian yang menggunung dan kesempatan yang tidak datang dua kali, ia harus membuat keputusan.

Sebuah keputusan besar.

"Aku tidak ingin ke mana-mana. Katakan saja tujuanmu pada sopirnya," ucap Atsumu dengan santai.

Sakusa menghela napas sejenak, kemudian menyebutkan sebuah alamat kepada sang sopir—dan membuat Atsumu tercengang. Yang ia tahu, alamat yang disebut tadi merujuk pada kompleks apartemen elit yang benar-benar jauh dari kamar sewanya. Berjalan kaki untuk pulang adalah tidak mungkin. Tungkainya pasti terluka dan menderita nanti.

"Kau yakin tidak mau ke mana-mana?"

Atsumu menyilangkan kaki dan melipat kedua tangan. "Aku yakin," ucapnya sembari mengangkat dagu angkuh.

Mereka benar-benar turun di kompleks apartemen elit. Atsumu bisa melihat perbedaannya. Di halaman bahkan ada air mancur. Di tempat tinggalnya terkadang tidak ada air sama sekali.

"Kenapa kau mengikutiku kemari?" tanya Sakusa seraya berbalik. Tentu saja ia yang membayar ongkos taksi mereka sampai di tempat ini.

"Untuk mencari tahu betapa buruknya dirimu. Kau tidak pantas berdiri di atas panggung dengan senyum palsu tapi sebenarnya, kau yang asli—,"

"Apa kau paparazzi?" Pertanyaan Sakusa memotong celoteh Atsumu.

"Huh?" Lelaki pirang itu memasang ekspresi bingung.

"Apa kau bekerja untuk perusahaan tabloid?" Sebelah alisnya naik. Manik gelapnya menatap tajam, menunggu jawaban Atsumu.

Si pirang menghela napas sejenak. Apa Sakusa sedang curiga sekarang? Ia mengikuti lelaki itu murni atas dasar ingin mencelakai. Tapi sepertinya artis tenar ini tidak mempermasalahkan keberadaannya.

"Tidak. Aku pengangguran," balas Atsumu dengan senyum kecut.

Sakusa terkekeh. Atsumu tidak tahu mengapa lelaki itu sangat santai. Ia sedang berhadapan dengan seorang antifan. Seharusnya orang sekelas Sakusa Kiyoomi lebih waspada.

"Baiklah. Kau bisa melihat seberapa buruknya aku," ucap sang artis final, "ayo masuk."

Mulut Atsumu terbuka lebar. Dengan perasaan aneh, ia mengekor jalan Sakusa. Maksud Atsumu, mengapa dengan cerobohnya, seorang artis tenar membiarkan antifan-nya masuk? Melihat betapa privatnya gedung apartemen ini, pasti ini milik pribadi.

Bagaimana jika Atsumu melakukan sesuatu yang tidak-tidak?

"Oi, apa kau tidak takut padaku?" tanya si pirang di dalam lift. Sakusa hanya meliriknya sekilas sebelum pintu terbuka dan menampilkan koridor elegan. Atsumu bisa menilai bahwa suasananya elegan dari campuran warna putih dan krem, juga sedikit aksen coklat kayu.

Sakusa tidak mengatakan apapun. Ia berjalan dengan santai menuju pintu dengan nomor 105, menekan kombinasi angka dengan cepat sebelum Atsumu sempat melihatnya. Ketika pintunya terbuka, lelaki berambut ikal itu berbalik dan mempersilakan Atsumu masuk terlebih dahulu. Sang antifan memasang wajah sebal, namun tetap patuh. Ia menjejakkan kaki di atas keset selamat datang sebelum melangkah lebih ke dalam.

"Aku sangat mencintai kebersihan. Jadi kumohon mandilah terlebih dahulu. Kamar mandi ada di sebelah kiri. Aku akan membawakanmu setelan bersih," sebut Sakusa seraya berjalan ke arah kanan.

Atsumu menoleh ke kiri dan kanan, bingung dengan apa yang terjadi. Sakusa benar-benar mengizinkannya masuk. Tanpa kecurigaan apapun selain pertanyaan tentang profesi tadi. Giliran Atsumu yang merasa curiga sekarang.

Tapi, mengingat perangai lelaki yang sudah ia tahu sejak dulu, sebaiknya dirinya segera melesat ke kamar mandi dan membersihkan badan. Seorang Sakusa Kiyoomi, sejak masa pelatihan di agensi, tidak akan suka bila seseorang membawa debu sekecil apapun.

"Antifan-san, aku menaruh pakaianmu di atas jemuran handuk," umum Sakusa tanpa mengetuk pintu kamar mandi. Atsumu tengah menikmati shower air hangat di dalam tirai sontak terkejut. Ia memeluk dirinya sendiri dan membuat Sakusa terkekeh karena melihat siluet gestur.

"KENAPA KAU TIDAK MENGETUK PINTUNYA?" protes Atsumu dengan suara kencang.

"Kau tidak mengunci pintunya," sahut Sakusa.

Artis sok tenar yang tidak mau mengalah. Sekarang itulah deskripsi seorang Sakusa Kiyoomi di dalam pikiran Miya Atsumu.

Setelah menyelesaikan mandi dan mengenakan baju pinjaman, lelaki pirang itu melangkah keluar. Sakusa telah menunggu di depan pintu.

"Duduklah di sofa dan habiskan teh dalam cangkir selama aku mandi," ujarnya seraya masuk ke kamar mandi.

Sangat to the point.

Karena ini bukan kediamannya, Atsumu memilih untuk patuh. Dan sekarang lelaki itu mempertanyakan keberadaannya di sini. Mengapa ia menunggu seperti anjing peliharaan yang setia?

Tapi teh di apartemen Sakusa rasanya lumayan. Atsumu sudah menyeruput sedikit minuman hangat itu. Ia duduk dna menunggu sambil memperhatikan seisi ruang tamu. Dekorasinya sangat sederhana—bila dibandingkan kamar Atsumu yang penuh dengan poster idola wanita.

Di belakang sofa ada lukisan wajah besar. Tentu saja wajah Sakusa sendiri. Atsumu bangkit berdiri dan menghampiri lukisan itu. Benda artistik sebesar ini, jika ia merobek-robeknya pasti Sakusa Kiyoomi akan rugi besar.

"Antifan-san," celetuk sang pemilik apartemen dari dalam kamar mandi. Pintunya terbuka, menampilkan wajah sosok yang sangat Atsumu benci dengan rambut basah dan kaus biru muda, sedikit membentuk tubuh. Untuk bawahan, Sakusa mengenakan celana sepaha.

Pakaian yang diberikannya pada Atsumu tampak biasa saja. Namun setelan yang dikenakan lelaki itu tampak lebih— entahlah, Atsumu tidak ingin mendeskripsikannya.

"Kau meninggalkan ini di kamar mandi," tanya lelaki itu sambil menunjukkan kantung plastik berisi dua bungkus keripik kentang.

Stok makanan Atsumu untuk dua hari.

"Berikan padaku," sahut si pirang kemudian menghampiri dan merebut barangnya dari tangan Sakusa. Atsumu lantas kembali duduk di sofa, menaruh kantung plastik di atas meja dan menghabiskan sisa teh yang disajikan tuan rumah.

"Antifan-san," panggil Sakusa lagi, "bukankah tadi kau bilang ingin mencari tahu betapa buruknya diriku?"

"Aku lebih ingin mencelakai atau membuatmu rugi. Tapi jika kau ingin buka-bukaan, aku juga tidak masalah," jawab Atsumu santai seolah tidak memiliki ketakutan apapun.

"Kau boleh memasang kamera ponselmu di sana," ucap Sakusa sembari menunjuk rak buku di seberang sofa.

"Oh ho ho! Apakah Sakusa Kiyoomi ingin membuka rahasianya padaku? Apa kau tidak takut aku membocorkannya ke media?"

Sakusa tersenyum tipis, hampir tidak terlihat di manik coklat Atsumu. "Pasang saja," ulangnya.

Lelaki pirang itu menaikkan sebelah aalis menatap ragu. Ia beranjak dari sofa dan berjalan ke arah rak buku, menaruh ponsel dan menyalakan kamera untuk merekam mereka.

"Sudah," seru Atsumu kemudian kembali ke sofa. Ia menyilangkan kaki dan memasang pose santai. "Sekarang katakan padaku, rahasia apa yang ingin kau buka? Kenapa kau sangat santai dan membiarkanku masuk ke apartemenmu begitu saja?"

"Antifan-san," sahut Sakusa sembari menatap mata Atsumu lekat-lekat.

"Maukah kau membuat skandal denganku?"

Atsumu terkekeh pelan. Namun ia tidak bisa menahan diri untuk tertawa lebih keras. "Apa kau sedang menggali kuburan untukku? Aku tidak akan tertipu. Kau ternyata sangat licik. Aku bisa menghentikan rekaman di ponsel dan mengirimnya ke media. Mereka akan membuat berita yang bagus, seperti 'Sakusa Kiyoomi Memohon Kepada Antifan-nya untuk Membuat Skandal Bersama'. Apa yang sebenarnya kau inginkan, hum?"

Ekspresi Sakusa tidak berubah selama beberapa saat. Namun kemudian ia tersenyum hangat. "Kau tidak berubah," sebutnya seraya berjalan menghampiri Atsumu.

"Oi, Sakusa! A-apa yang mau kau lakukan?" gagap lelaki pirang sembari bergeser ke ujung sofa. Namun tangannya ditahan. Sakusa memegangi kedua pundak Atsumu erat-erat.

"Kau bilang ingin melihat betapa buruknya diriku, bukan?" Tangan lelaki ikal berpindah pada tengkuk, menekan sedikit lalu berbisik di sisi telinga Atsumu.

"Miya-san, kau boleh mengirim video ini ke media manapun bila kau siap."

Sepasang manik coklat terbuka lebar, bingung sekaligus terkejut dengan perilaku Sakusa. Ini sangat aneh. Benar-benar aneh.

Lebih aneh lagi karena Sakusa menyebut namanya tadi.

Dan sekarang mencium bibirnya.

.

.

.

to be continued

Requested by demand oleh seseorang ber-display name Lily di twitter. Iya dia yang rikues, aku yang minta dia rikues.

Udah tau banyak utang malah nambah lagi /g