"Kurapika, mengapa kau tak membuka pesanku? Padahal aku meminta pertolonganmu,"
Tiada kalimat terbetik dari pria itu, dia yang memiliki surai pirang saat pertanyaan terlontar dari seorang puan bersurai biru yang kini nampak begitu mengerikan sosoknya. Kulitnya pucat pasi, raganya dipenuhi oleh darah, serta sorot matanya yang menyiratkan dendam yang teramat hingga orang yang dipanggil Kurapika itu tak mampu melontar sepatah kata pun. Ia hanya menatapnya takut.
"Kurapika, mengapa kau mengabaikanku? Padahal aku begitu mengharapkan pertolonganmu,"
Semakin ia mendengar suaranya, semakin ia merasakan takut. Maka dengan segera kedua telinga ia tutup. Tak pernah ia sangka bahwa pertemuan setelah lima tahun lamanya akan menjadi seperti ini. Benar adanya ia kerap mengharapkan kedatangan akan puan yang menjadi lakon bicara kini. Sekiranya, sekali dalam seumur hidupnya. Namun...bukan seperti ini. Bukan seperti ini yang ia harapkan.
"Ah, jelas. Untuk apa aku bertanya hal yang begitu retoris? Kau mengabaikanku, pula tak menolongku karena kau membenciku,"
Meski telinga telah ia tutup, namun ia masih bisa mendengar secara sayup kalimat yang terlontar darinya. Hendak ia menjelaskan dengan panjang alasan yang sesungguhnya, namun tak berhasil. Belah bibirnya bagaikan dikunci rapat oleh sebuah kunci tak kasat mata hingga untuk membukanya saja ia merasakan berat. Padahal banyak yang hendak ia ucapkan kepada puan ini, banyak yang hendak ia ungkapkan pada puan ini. Sementara Kurapika berkutat dengan dirinya sendiri, entitas surai biru itu mulai berjalan mendekatinya. Begitu raganya telah berada dekat dengan Kurapika, kedua tangannya yang nampak begitu menyeramkan dipandang mulai bergerak untuk membelai kedua bagian pipi Kurapika, hanya untuk beberapa saat sebelum ia kembali membuka suaranya.
"Kurapika, kau membenciku 'kan?"
"TIDAK!" Dan Kurapika pun terbangun dari mimpi buruknya, bersamaan dengan alarm ponselnya yang berdering. Begitu berisik suaranya hingga mampu memekakkan setiap pasang telinga, tak terkecuali Kurapika. Namun kiranya ia akan mengabaikan keberadaan bunyi berisik itu untuk beberapa menit ke depan sebab ia tengah berusaha mengatur napasnya yang tersenggal-senggal juga untuk mengurangi kadar rasa takut yang singgah. Sungguh besar efek dari mimpi yang dialaminya tadi hingga ia merasakan takut yang teramat. Perasaan takut yang dahsyat ini merupakan kali pertama yang ia rasakan dalam seumur hidupnya.
Apakah karena mimpi barusan menyangkut seorang Neon Nostrade, seorang yang begitu ia rindukan, pula seorang yang telah ia buat sakit hatinya?
