Seperti biasa, Hyuuga Hinata tidak langsung pulang kerumahnya saat bel pulang berbunyi. Gadis itu kini memilih untuk tetap berada didalam kelas, duduk tenang di bangkunya, membaca buku pelajaran matematika, dan sesekali mencatat rumus-rumus ke buku catatan dengan pulpen warna-warni agar menarik dan mudah untuk diingat.

"Semua soalnya HOTS," Gumam gadis itu pelan ketika dia selesai berkutat dengan catatannya dan ingin mengerjakan soal uji kompetensi yang tersedia.

Namun, gadis berusia enam belas tahun itu tidak menyerah. Dia tetap mengerjakan semua soal sebisanya saja, terkadang gadis itu sedikit menyontek rumus yang baru saja dicatatnya tadi.

"Lumayan," Dia tersenyum kecil, sepuluh dari lima belas soal yang tersedia berhasil ia pecahkan. Dalam hati, gadis itu berniat untuk memastikan sepuluh jawabannya sudah benar dan menanyakan cara menjawab lima soal lagi pada Kurenai-sensei, guru matematikanya besok.


Dua Garis Biru (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated T mendekati M

Warning(s) : Alternative Universe, Out Of Character, miss typo(s), absurd, etc.


Hinata berlarian dilorong, tujuannya kini hanya satu ; bagaimana caranya agar cepat sampai ke halte bus untuk menunggu bus pulang?

Sekarang waktu telah menunjukkan pukul empat lewat dua puluh satu menit. Sementara bel pulang sekolah berbunyi tiap pukul dua siang. Hinata merutuk dalam hati, ia kebablasan dalam belajar. Biasanya dia hanya menghabiskan waktu sekitar satu jam saja dikelas untuk belajar. Matematika memang selalu menjadi masalah setiap siswa, sepandai apapun kamu dikelas.

"T-tunggu!" Dan memang malang sekali nasib gadis Hyuuga ini. Ketika gadis itu baru saja sampai halte, bus warna kuning gelap itu telah melaju meninggalkannya beberapa detik setelah ia menjejakkan kaki.

Hinata memandang kepergian bus itu dengan tatapan kesal, tak ada niatannya untuk mengejar bus tadi walau masih sempat. Ia lebih memilih untuk menghempaskan bokongnya dikursi tunggu dan berusaha menormalkan kembali napasnya.

"Hah~" Hinata mendesah lelah, tubuhnya kini penuh dengan peluh. Tentu saja, karena gadis itu benar-benar berlari dari kelasnya hingga kesini yang berjarak hampir setengah kilometer. Napas gadis itu masih terputus-putus seperti orang sekarat. Perutnya juga terasa nyeri, dia mengalami keram perut akibat berlari.

Hinata mengubah posisi tas ransel sekolahnya yang tadi dipunggung menjadi kedalam dekapannya, dia kemudian mengambil botol minum yang isinya sudah tinggal sedikit dan menenggaknya.

Sesekali Hinata melirik pergelangan kirinya yang terpasang jam tangan.

Pukul empat lewat tiga puluh dua menit. Hinata menghela napas, sesuai dengan jadwal yang tersedia dihalte, bus berikutnya akan datang sekitar delapan belas menit lagi.

Ia dipastikan akan terlambat pulang kerumah, Hinata menelan ludahnya gugup. Bayangan wajah marah ayahnya terbayang dalam benak. Memarahi saja masih mending, Hinata takut ayahnya akan main tangan juga. Masih segar dalam ingatannya saat ia telat pulang ketika masih duduk dikelas delapan SMP, sang ayah menamparnya hingga pipinya membiru. Cubitan keras juga diberikan sang ayah pada lengannya masih terdapat bekasnya hingga sekarang.

Gadis cantik itu meringis. Dalam hati ia berdoa agar tidak terjadi apa-apa padanya saat dia pulang.

Hinata melirik jam tangannya lagi, masih sekitar lima belas menit. Hinata merasa waktu kini melambat. Ia resah. Dan untuk mengatasi keresahannya, gadis itu mulai membuka buku catatan matematikanya tadi untuk sekadar mengingat-ingat kembali rumus-rumus.

"Sasuga as expected dari seorang penerima beasiswa penuh dari Konoha SHS,"

Hinata tersentak, dia segera mengalihkan atensinya dari buku.

Seorang pemuda kini berada dihadapannya. Tingginya menjulang, surainya pirang, kulitnya sawo matang.

"E-eh?" Dan hanya itu yang terlontar dari bibir Hinata.

Si pemuda tertawa renyah, baru Hinata sadari ternyata si pemuda memiliki tanda tiga goresan dimasing-masing pipinya.

"A-ano—" Hinata jengah juga lama-lama ditertawakan. Ini baru yang pertama kali baginya, dan yang membuatnya agak tidak rela juga adalah pelakunya yang —uhm menurutnya tampan.

"Kau menunggu bus pulang 'kan?" Hinata tidak jadi melanjutkan protes, pemuda itu lebih cepat untuk mengganti topik.

Hinata mengangguk kecil, "Iya, senpai." Ya, senpai. Hinata langsung tahu bahwa pemuda ini adalah kakak kelasnya dari pin nama dan kelas yang berada didada kiri blazer hitam sekolahnya.

Uzumaki Naruto, 11sos1.

Uzumaki-senpai, Hinata menggumamkan panggilan untuk pemuda ini dalam hatinya.

"Kalau begitu kita sama, aku juga sedang menunggu bus—ttebayo!"

-ttebayo?

Tapi Hinata tidak mau mempermasalahkannya. Gadis itu mengangguk saja ketika senpainya itu duduk tepat disebelahnya. Terlalu dekat jarak duduk mereka. Hinata merasa wajahnya memanas. Gadis itu kembali membaca buku catatannya lagi untuk menetralisir jantungnya yang kini berdetak abnormal.

"Wah, kau memang rajin sekali, ya! Itu 'kan materi matematika bab akhir semester ini, ttebayo. Tapi kamu sudah mencatat dan mempelajarinya? Pantas saja Kurenai-sensei sangat sayang kepadamu. Dia membicarakanmu dikelasku tahu,"

Naruto mengintip buku catatan Hinata, jarak mereka kini makin menepis saja. Hinata menahan napas. Wajahnya makin memanas saja.

Hinata bergeser sedikit dari posisi aslinya, "A-aku tidak terlalu pandai berhitung, ma-makanya aku belajar lebih dahulu agar tidak tertinggal ja-jauh dari teman-teman."

Lagi-lagi tawa Naruto yang didapati Hinata, "Justru dengan begini kamu berniat meninggalkan teman-teman sekelasmu,"

Hinata diam saja, gadis itu tak tahu harus membalas apa pada sang senpai.

"Jangan memaksakan diri, kouhai."

Hinata menoleh lagi mendapati sang senpai, Naruto sedang tersenyum lembut padanya.

Lebih yang membuat dramatis lagi ialah saat Naruto tersenyum, cahaya matahari awal musim panas menimpa wajah sampingnya.

Hinata merasa waktu terhenti saat itu juga. Kejadian ini mengingatkannya pada adegan-adegan novel romantis, komik shoujo, dan juga anime romantis yang pernah diselami gadis Hyuuga itu.

TIIN.

Sampai suara klakson bus yang berhenti dan sedang menurunkan beberapa penumpang itu segera menyadarkan Hinata kembali, dia segera memalingkan wajahnya yang ia yakin sudah semerah tomat dan beranjak dari duduknya.

"A-ano, busnya sudah sampai—"

Grep.

"—aku tahu, ayo!" Dan pemuda pirang itu tanpa izin menarik lengan Hinata dan membimbingnya memasuki bus.

Sumpah, selama hampir sepuluh tahun Hinata menyicipi pendidikan yang berembel-embel sekolah didepannya ia tidak pernah dibeginikan oleh teman lelakinya. Disapa duluan saja tidak pernah, ia malah kena hina terus oleh mereka.

Dan entah konspirasi apa yang sedang terjadi saat ini, Hinata sama sekali tidak mengerti. Gadis itu jadi makin kepanasan sendiri ketika tahu bus itu masih penuh, alias tak ada kursi duduk yang tersisa. Bahkan grab handle bus itu saja sudah penuh sampai-sampai gadis itu tak dapat pegangan.

Si pemuda pirang tadi lagi-lagi melontarkan kata-kata dan aksi yang selalu sukses membuat Hinata terkejut.

"Pegang saja tanganku, kalau tidak kau nyaman, tas dan blazerku juga bisa. Bus terakhir memang selalu penuh, ttebayo,"

Hinata mengangguk dan tetap mempertahankan kepalanya yang menunduk saat tangannya mulai meraih tas sang senpai.

"A-arigatou," Dan cicitan kecil Hinata itu menjadi kata-kata terakhir mereka hari ini karena selama perjalanan mereka bungkam. Hinata yang tidak bisa memulai percakapan, dan Naruto yang ternyata baru gadis itu sadari menggunakan airpods sedari tadi.

.

.

.

Prolog - end

.

.

.

HOTS : Higher Order Thinking Skills, alias soal-soal yang memerlukan tingkat pemikiran tinggi. Gampangnya sih soal susah :'

A/N : halo, aku ingin jadi produktif didekat akhir-akhir tahun ini. :' alias gak nyadar bahwa ujian-ujian akhir masa 'sekolah'ku usai :)))

Dan ya, aku terinspirasi dari film Dua Garis Biru. Tapi nanti bakal beda kok, tunggu aja tanggal mainnya, hehehehe.

Lalu yang terakhir—selalu, aku minta kritik dan sarannya, ya! Kolom review terbuka lebar. :'

Luv u all,

faihyuu