Kedai kopi tersebut terlihat penuh oleh mahasiswa yang sibuk mengerakan tugas. Kakashi Hatake tidak heran, minggu ini memang minggu ujian semester dan sudah pasti mahasiswa-mahasiswa dengan dompet tipis ini akan mencari ruang publik penyedia wifi sesering mungkin. Pria itu berjalan ke salah satu meja di sudut ruangan dan meletakkan kopinya disana.

Baru saja tubuhnya bersandar pada sofa yang empuk, ponselnya berdering keras.

Beberapa orang menoleh tidak suka. Kakashi tidak terlalu mempedulikannya—ia mengangkat telepon tersebut dengan malas sambil berdeham beberapa kali.

"Ya."

"Waktu istirahat sudah selesai."

Kakashi tidak langsung menjawab. Ia menikmati sesapan pertama kopinya selama beberapa saat sebelum akhirnya bersuara.

"…aku tahu."

"Lalu? Rapat sudah dimulai sejak lima menit yang lalu."

"Bukankah aku datang terlambat adalah sesuatu yang bagus? Dengan begitu mereka tahu bahwa hidupku tidak hanya mengurusi pekerjaan saja." Gumam Kakashi tanpa ekspresi, kontra dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. "Aku akan datang ketika aku mau."

Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Kakashi. Pria itu menutup mata dan memijat batang hidungnya. Ingin sekali ia keluar dari pekerjaannya sekarang, tapi darimana ia akan makan nanti? Tidak, maksudnya, darimana ia bisa mendapatkan alasan yang bagus agar ayahnya mengijinkannya untuk resign dari perusahaan keluarga sendiri?

Segala hal telah berusaha dilakukan oleh Kakashi—ia pergi liburan bersama teman-temannya selama dua minggu penuh menggunakan uang perusahaan, ia tidak mendatangi rapat penting sepanjang tahun kemarin, ia membuat seluruh asistennya menangis selama bekerja bersamanya… hingga akhirnya ayahnya yang pintar meminta temannya sendiri, Asuma, untuk bekerja sebagai asistennya

Dan hidupnya menjadi sangat, tidak bebas sekarang.

"Uhm, pe-permisi…"

Kakashi tersentak dari lamunannya dan memandang orang di depannya dengan tatapan tidak suka. Bahkan di tempat umum dirinya tidak dibiarkan menyendiri.

"Ya?" tanyanya dengan nada kesal yang cukup kentara.

"I-ini… se-se-seluruh meja d-d-disini sudah penuh, j-jadi—"

"Aku sedang menunggu seseorang."

Kakashi memperhatikan perempuan itu yang mengangguk-angguk paham. Tangan kirinya memegang segelas besar kopi hitam dan dompet, sementara tangan kanannya memeluk laptop hitam penuh goresan serta beberapa buku tebal.

Yang benar saja, bagaimana orang sekecil ini membawa barang begitu banyak?

Meskipun kentara sekali kecewa, Kakashi menerima sebuah senyuman tulus dari gadis itu.

"Ma-maaf me-mengganggu."

Kakashi memperhatikan punggung kecil itu berbalik—yang ternyata juga berhiaskan sebuah ransel kebesaran berisi begitu banyak barang, beberapa tidak muat karena kepenuhan—dan dengan sedikit terhuyung menyelipkan diri diantara beberapa meja.

Ia terlihat kelimpungan saat mencari-cari meja kosong yang sebenarnya memang tidak ada lagi di dalam café tersebut. Pada akhirnya gadis itupun terlihat menyerah—dengan wajah menahan tangisnya yang tampak tidak terlalu baik, ia berjalan menuju pintu keluar…

…sampai pada akhirnya kopinya tumpah sedikit karena ia tidak tersandung tas salah seorang mahasiswa lain disana.

"…m-mafkan a-aku…"

"…apa-apa, tasku juga…"

Kakashi menghela napas dan baru saja tersadar ia menghabiskan lima menit terakhirnya untuk memperhatikan gadis tadi. Dengan ekspresi sedikit tidak suka, ia akhirnya bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendekat.

"…huh?"

Ia tersentak saat Kakashi tanpa aba-aba mengambil alih laptop dan tasnya yang disampir di satu pundak.

"Sepertinya kau lebih membutuhkan meja tadi," gumam Kakashi, mengerling ke arah meja kecil di sudut ruangan dan memberikan senyuman terbaiknya—yang malah terlihat aneh karena pria itu jarang tersenyum—. "Aku akan membantumu sampai kesana. Kau cukup kecil untuk seseorang dengan barang sebanyak ini."

Kedua pipi gadis itu merona. Kakashi tersenyum simpul melihatnya.

Manis.

Ia meletakkan laptop dan tas gadis tersebut dengan perlahan dan mengangguk singkat. Tangannya bergerak untuk mengangkat gelas kopi, namun tertahan oleh gadis di depannya.

"K-kalau kau m-m-masih mau disini… ti-ti-idak apa-apa."

Kening Kakashi berkerut mendengarnya. Pertama, ia tidak terbiasa dengan percakapan kasual seperti ini. Kedua… ia sudah pasti akan menolak tawaran tersebut, namun lidah bodohnya kelu dan tubuhnya malah terduduk kembali di kursi tadi.

Orang di depannya tersenyum. Ia meletakkan buku-bukunya di sisi kiri meja, laptop di sebelah kanan, kopi ditengah-tengah barang-barang tersebut, dan ponsel di atas gelas kopinya karena tidak ada lagi tempat tersisa disana.

Kakashi mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak habis pikir.

"Kau tahu," ujar Kakashi sedikit gemas. "Kenapa tidak kau letakkan ini disini… sehingga ada cukup tempat bagimu untuk meletakkan siku…"

Pria itu berbicara sembari meletakkan buku-buku tersebut di sisi kanan mejanya.

"Ah… te-terima kasih."

Baru pada saat itu Kakashi menyadari kalau perempuan di depannya ini cukup gagap saat berbicara. Jika diperhatikan sekarang, tidak ada yang aneh dengannya. Ia terlihat seperti gadis normal pada umumnya. Bukan berarti Kakashi menganggap gagap bicara adalah suatu ketidak normalan, hanya saja—

"A-apa kau sedang memper… memperhatikanku?"

Kakashi tersentak sendiri. Telinganya memerah karena tertangkap basah.

"Ehm… aku… aku…"

"K-kau baru me-menyadari k-kalau a-aku… g-gagap?"

Sial, tebakan yang sangat bagus, pikir Kakashi. Pria itu hanya tersenyum sekenanya dan menatap layar ponsel. Lebih baik mulut bodohnya ini diam dan mata bodohnya ini terfokus pada layar ponsel menyebalkannya daripada ia mempermalukan dirinya lebih jauh lagi.

Sepuluh menit tanpa percakapan, Kakashi melirik gelas kopinya yang nyaris habis. Biasanya ia akan menghabiskan satu gelas kopi seperti tadi dalam waktu lima menit, namun entah kenapa hari ini ia ingin duduk lebih lama disini. Memperhatikan gadis di depannya diam-diam adalah hal yang menyenangkan baginya sepanjang beberapa minggu terakhir. Matanya mengerjap kaget saat ponsel digenggamnnya berbunyi nyaring.

"Setengah jam sudah, Kakashi. Kau benar-benar tidak akan datang?" cecar Asuma tanpa ampun.

"Ti…" gumam Kakashi, menarik napas dalam-dalam. "…dak."

"Apa yang harus kukatakan pada mereka?"

"Aku sedang menikmati kopiku."

"Oh, ya? Baiklah, aku akan bilang kau sedang menikmati kopimu kalau begitu."

Kakashi memang sangat menantikan surat pengunduran diri dari Asuma. Sayangnya, pria itu cukup keras kepala kalau dihadapkan dengan pekerjaan seperti ini. Orang yang sangat cocok untuk menjadi asisten Kakashi.

Pria itu sontak tersadar kalau gadis di depannya juga sedang berbicara. Ia menggunakan earphone di telinga kiri, sementara matanya bergerak kesana kemari dibalik bingkai kacamata keemasannya.

"…t-tidak, tidak… jelas-jelas aku sudah bilang padamu kalau bagian awal dan tengah harus diberi beberapa sisipan lagi… hm, be-benarkah?"

Gagapnya terkadang hilang dan terkadang muncul, pikir Kakashi.

"Ah, a-aku tidak akan ke ka-kampus sampai m-minggu depan. A-ada… sesuatu y-yang harus ku-kukerjakan."

Pada saat mengucapkan kata terakhir, entah kenapa tiba-tiba gadis itu mengangkat pandangannya dan mata mereka bertubrukan. Kakashi bersumpah saat itu adalah pertama kali di dalam hidupnya ia merasa benar-benar gugup. Pandangannya begitu saja berubah menjadi detail dan merinci… bulu matanya yang lentik dan naik karena maskara, dua bola mata sehijau giok yang cukup besar, serta kantung hitam samar adalah pemandangan yang benar-benar memukau pada saat itu.

"…b-baiklah..."

Pandangan Kakashi memburam. Entah kenapa visual gadis di depannya tiba-tiba saja begitu mempesona—jaket bulu putih dan rambut merah mudanya tampak sangat mencolok dibandingkan sisa café yang terlihat abu-abu.

Sialan, gumam Kakashi dalam hati.

"H-hei!"

Kakashi tersadar saat suara cukup keras tersebut menyentaknya kembali ke dunia nyata. Ia yakin wajahnya sudah semerah kepiting sekarang.

Bahkan tangannya saja memerah.

"A-aku tadi b-bilang, k-k-kopimu dikerubungi se-semut…"

Kakashi sontak melirik cangkir kopinya. Benar saja, beberapa semut sudah menginvasi cangkirnya dan seolah pertanda, hal tersebut adalah kode baginya untuk angkat kaki dari café ini. Tidak ada lagi alasan baginya untuk tinggal disana. Memesan secangkir kopi lagi adalah hal yang sangat memalukan dan terlalu blak-blakan. Dengan gerakan lambat, ia memberikan senyuman dan bangkit dari meja tersebut.

Ia jelas sekali tampak ragu apakah ia harus pergi sekarang atau tidak. Karena jujur saja, ia cukup menikmati pemandangan di depannya…

"Se-semoga kita bisa bertemu lagi."

Kakashi berhenti melangkah saat suara tersebut masuk ke telinganya. Ia berbalik sejenak, melihat senyuman mempesona itu, dan membalasnya dengan sebuah cengiran sekenanya.

Berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdebar tidak karuan, wajahnya sukses tetap terlihat datar bahkan saat ia sudah berada di luar café tadi. Lewat jendela besar di sebelahnya, terlihat gadis tersebut sudah terfokus kembali ke laptop dan buku-bukunya.

Ia berani mengacuhkan kolega-koleganya yang berasal dari perusahaan besar, namun di depan orang tadi Kakashi merasa benar-benar seperti orang bodoh.

Pria itu tersenyum kecil dan menghela napas.

Sore yang menarik.

.

.

.

Haaaaaaaaaaloooooooooo teman teman ffn, lama tidak berjumpa! Semoga selalu sehat ditahun yang baru ini yapsss!

Author kembali lagi dengan TSSYFW (kepanjangan jd disingkat saja), yaitu kumpulan cerita2 pendek yang mungkin sangat klise, sangat familiar, sepertinya pernah dibaca dimanaaaa gitu, dan yap, memang begitulah konsepnya.

Disini aku mau share ke kalian caraku mengonsep suatu cerita, dan supaya nggak mubazir juga dilaptop, kuarsipkan sekalian aja di ffn. Sekalian buat kalian bisa baca2... syukur2 kalo berkenan. Kalo tidak aku mohon maaf yaa huhu kemampuan aku sangat terbatas dan pastinya banyak lubangnya.

Dan yappp, karena cerita-cerita ini akan kebanyakan berisikan satu scene saja, kalau ada mood nantiiii akan ada kemungkinan kalau salah satu cerita bisa dikembangkan menjadi cerita yang berchapter. Doakan saya bisa lebih produktif tahun ini dibandingkan sebelum2nya, karena sampai sekarang ffn adalah platform paling asik buat baca2in kakasaku ehehehe.

Sekian saja note dariku, selamat membaca, jaga kesehatan dan tetap bahagia semuanya.