Deadly Monarch
Disclaimer: DxD and Naruto not mine.
Warning: AU, AR, Typo, OOC, and many more…
.
.
Chapter 1: Dunia lain
Jika kita menilik pada kondisi alam semesta dengan teori relativitas, yang tentunya sudah mencakup segalanya tentang aliran dan penjelajahan waktu. Bukan tidak mungkin lagi bagi seorang Mahasiswa tingkat akhir yang sedang dilanda stress akibat skripsinya, berujung mengalami suatu perpindahan dimensi yang biasa dikenal sebagai Grandfather Paradox.
Berawal dari membaca buku sebagai daftar acuannya untuk menciptakan maha karya baru. Ternyata dia salah memilih bahan bacaan dan mengalami suatu kondisi unik, dimana hal supernatural yang tidak akan mungkin terjadi kini terjadi padanya. Perpindahan dimensi, partikel gelembung yang lain mencoba untuk membuatnya sadar bahwa masih ada dunia lain selain dunia yang dihuninya, dan Uzumaki Naruto adalah orang yang kini sedang mengalami hal itu.
"A-apa yang terjadi?!" Terkejut adalah hal utama yang lumrah ketika seseorang kembali sadar ditempat yang antah-berantah. Bahkan, tak ada semburat terik di kaki langit. Yang ada hanya akar kehidupan, mengepung di segenap penjuru.
"Ada apa ini! Sekarang, ada apa dengan tubuhku?!" Ketika semasa dia menjadi Mahasiswa, wajah Naruto selalu menjadi mainan bagi tangan-tangan lentik yang gemulai. Mereka selalu mengusapnya, namun sayang seribu sayang. Jenggot kecil kebanggaannya kini telah menghilang.
Naruto memerhatikan tubuhnya lebih dalam lagi, dan setelah itu dia menetapkan suatu kebenaran yang tidak akan pernah bisa dipercaya oleh kaum manapun. science dan dokter kulit manapun tak akan pernah percaya dengan kebenaran yang mungkin ilusif ini. Bahwa dirinya menjadi lebih muda daripada saat ia menjadi Mahasiswa!
"Dan juga, di mana aku!" Teriaknya kepada pemandangan hutan yang mencekam dengan bunyi khasnya. Naruto mencoba untuk berdiri dan melihat sekitarnya.
"Kenapa aku, bisa ada di sini?! Bukankah tadi aku.. tunggu!" Dia terdiam, sekelumit kenangan berkelebat di benaknya. Dia ingat, sebuah letupan cahaya silau menyerang matanya tanpa permisi. Yang pada akhirnya berakhir disini, sebagai titik awal cahaya yang menyambutnya dengan sopan.
"Ini.. tidak mungkin kan?!" Naruto jatuh terduduk, mengingat bahwa dia mencapai suatu keputusan yang membuatnya cukup terkejut untuk umur seusianya. Perpindahan dimensi.
"Tidak mungkin aku menjelajah waktu! Sebenarnya apa yang terjadi!" Teriakannya yang keras sedikit menggema di hutan yang lebat ini yang bahkan sinar matahari pun tidak bisa menembus akar kehidupannya.
Mental Naruto seketika down, dia bernafas berat karena kondisi shock yang dihadapinya. Paru-parunya kembang-kempis akibat kerja pernafasan yang menjadi cepat, dan hal itu berdampak pada tubuh Naruto mengeluarkan keringat dingin yang banyak.
"Grrrrrr" Naruto tersentak, mata biru lautnya melihat ke samping membulat terkejut, seakan tidak percaya akan apa yang dilihatnya saat ini. Naruto menyeret bokongnya mundur ketika seekor monster besar dengan badan yang menyerupai banteng itu kini sedang melihatnya dengan mulut yang memuntahkan liurnya.
"Bo-bohong! Ini pasti VR! Ya ini pasti VR!" Teriakan yang dibalas oleh terjangan monster itu membuat reflek kaki Naruto untuk segera bertindak dan menjauh dari jangkauan serangannya.
"Tidak mungkin Minotaur ada di dunia nyata!"
"Graaahhhh!" Monster yang mendapatkan nama Minotaur itu kini berlari, mencoba untuk menangkap mangsanya yang memperlihatkan punggung rentannya itu. Dengan tubuh besar dan otot yang sudah terbentuk, dia menyusul Naruto dari belakang dengan menabrak apapun yang menghalangi jalannya.
"Lari lari lari! Tolooong!" Permintaan dari seorang yang sedang mengalami masalah adalah hal tepat, namun keadaan di mana dia berada di hutan yang bahkan sinar matahari pun tidak bisa menggedor pintu membuat dia seakan bodoh untuk mengatakan hal itu.
Minotaur itu terus mengejarnya dari belakang, mengabaikan kondisi paru-parunya yang seakan mendesak untuk beristirahat. Naruto terus melanjutkan larinya demi lolos dari Minotaur dibelakangnya.
"GRRRRAAAHHHH!" Satu kesalahan yang dibuat Naruto, dia mengabaikan kondisi Minotaur di belakangnya. Hingga gerakan apapun yang dilakukan Minotaur itu pasti tidak akan diketahui oleh Naruto, dan dengan ketidaktahuannya…
Monster itu berhasil memukul Naruto dengan sebatang pohon yang dijadikan senjatanya. Yang mana hal itu membuat Naruto terlempar ke samping dengan suara tabrakan akibat tubuh itu menabrak beberapa pohon.
"Gah!" Naruto meringis kesa—
"Eh? Tunggu dulu... kenapa aku? Tidak merasakan sakit?!" Dia terkejut akan kondisinya saat ini, di mana dia seharusnya menerima beberapa rasa sakit akibat tubuhnya yang dihantam pohon dengan keras dan menabrak sejenisnya juga.
"A-ada apa?! Dengan tubuh ini!" Dia memperhatikan kedua telapak tangannya yang mengeluarkan pendar hijau juga dengan warna partikel ungu yang meluap disana. Naruto menatapnya sedikit terkejut, sebelum direksi matanya kembali beralih kearah sosok monster yang sudah membuatnya terbaring duduk disini.
"Grrrrrrr" Monster itu kembali memukul Naruto dengan hantaman pohon besarnya, namun tanpa diduga pohon itu malah rusak sendiri akibat menghantam tubuh Naruto, dan hal itu membuat Naruto semakin membulatkan matanya.
"Jangan bilang padaku…" Naruto memukul udara kosong di depannya dan detik berikutnya sebuah gelombang angin besar membuat tubuh besar Minotaur tersebut terhempas jauh dengan luka fatal yang bersarang diperutnya.
"Kalau di dunia ini, manusia sepertiku memiliki kekuatan super!" Naruto berteriak dengan genggaman tangan yang mengatakan bahwa dia bisa. Ekspresi wajahnya yang pada awalnya terkejut kini digantikan oleh sebuah senyuman senang akan fakta yang baru didapatnya.
"Guuhhkk! Graaahhhhh!" Minotaur yang kini sedang mengalami luka fatal diperutnya tidak bisa melanjutkan berburu mangsanya akibat dia saat ini terpuruk. Naruto yang mendengar teriakan tadi yang di artikan mungkin sebagai teriakan kesakitan membuat direksi matanya beralih kearah Minotaur itu.
"Dia tidak bisa bergerak lagi ternyata, apa mungkin ada hal lain yang bisa kulakukan di dunia ini?" Naruto berjalan pelan mendekati tubuh tidak berdaya monster itu dan menatapnya dengan pemikiran mendalam.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini? Apakah aku harus membunuhnya?!" Manusia memiliki sifat dasar dan naluri membunuh. Namun, persiapan membunuh yang menurut sebagian orang—mereka yang pandai memanipulatif—sangatlah mudah dilakukan, bukan berarti pendapat itu benar.
Membunuh adalah kondisi mental kompleks di mana seseorang melepaskan status hati nuraninya untuk melangkah lebih jauh ke dalam, dan Naruto masih belum bisa melakukan itu. Bagi orang yang masih memiliki akal sehat, membunuh adalah sebuah kesalahan, namun ada saatnya di mana saat keadaan terdesak ataupun genting seseorang itu harus membunuh layaknya membunuh para hewan seperti kecoa, tikus maupun hama lainnya—hal inilah yang disebut sebagai naluri membunuh.
Jika kita menganalogikan ini dengan sifat primata. Mayoritas para kera tentunya tidak ingin membunuh spesiesnya sendiri kecuali muncul sesuatu hal yang menggangu—sebuah konfrontasi. Maka pihak musuh yang dianggap inferior sekaligus berbahaya harus dilenyapkan bukan? Dalam kasusnya, Naruto memahami itu.
Tapi Naruto berbeda, ia bukanlah primata kera yang bahkan tidak tahu caranya berbicara selayaknya manusia seperti dirinya. Manusia akan cenderung melakukan aksi membunuh musuhnya dalam usaha untuk mmpertahankan diri atau menyelamatkan nyawanya sendiri. Dan kalimat First Kill, adalah bentuk kejadian yang akan dihadapi Naruto saat ini. Kedua tangan Naruto mengepal kuat, deru nafasnya bahkan terlihat lebih cepat dibandingkan yang tadi.
"GGRRRAAAAAAHHHH!" Di tengah pikiran kalut yang melanda Naruto, sosok besar Minotaur itu mulai bangkit dan menyerang Naruto yang sedang terkejut dihadapannya.
[Auto Defend: Air Strike Shield]
Bertepatan dengan suara mekanik yang keluar entah dari mana, sebuah pelindung transparan berwarna hijau dengan ukiran khasnya berhasil menghalau tinjuan besar dari monster Minotaur.
[Auto Counter Attack: Inugami Guren]
Seakan dilarang terkejut dengan satu suara mekanik yang muncul, Naruto dikejutkan kembali dengan suara mekanik lainnya yang kali ini memunculkan sebuah gambaran anjing merah berlumur magma yang memakan habis monster Minotaur dihadapannya ini.
"A-apa ini?!" Naruto jatuh terduduk ketika dirasanya pemandangan baru bagi dirinya ini terlalu mengejutkan. Monster anjing magma yang keluar entah dari mana itu kemudian menghilang bagai kepingan puzzle di udara dengan meninggalkan sebuah layar hologram biru yang di situ tertulis..
[Notifikasi]
[Auto System telah berhasil membunuh Minotaur]
[Anda mendapatkan hadiah 2.000G]
[Anda mendapatkan item 'Neklace of Minotaur's Horn']
[Level Up!]
[Level Up!]
[Auto System sudah terpakai, akulumasi waktu pemakaian lagi 300:59:59]
"I-ini?" Ujar Naruto terkejut sambil melebarkan matanya ketika dia secara langsung menangkap sekian penjelasan yang menerobos otaknya. Dan dari sekian penjelasan yang tadi sempat bertamu dia yakin seratus persen, bahwa dirinya saat ini tengah mengalami suatu kondisi unik di mana hal ini pernah terjadi pada anime-anime yang sering dia tonton waktu di semester mudanya.
"Sudah kuduga! Aku pasti lagi di dunia game VR! Tapi tunggu sebentar, kenapa harus aku yang menjadi bahan percobaan pemerintah dalam pengembangan game in—" Naruto terdiam,
'Tidak, tunggu sebentar!' Naruto berhenti mengumpat ketika dia baru ingat bahwa di negaranya, tidak bahkan di bumi teknologi game yang membuat seseorang dapat masuk ke dalam game masihlah belum ada. Jikapun ada, itupun hanya sebatas indra penglihatan tanpa kehilangan kontrol gerak dari tubuh yang dimilikinya—VR adalah nama alat itu.
Beberapa list anime yang dulu sempat Naruto saksikan menjadi bukti bahwa teori yang mereka pakai hanyalah sebuah khayalan semata, tidak pernah ada dan tidak akan pernah terealisasikan kedalam dunia nyata. Naruto termenung untuk beberapa saat sebelum dia menghela nafasnya dan mulai menerima takdir, bahwa penjelasan yang paling tepat adalah bahwa dia sudah terlempar ke dimensi lain atas dasar ketidaksengajaan dari alam itu sendiri.
"Tapi ini aneh, bukankah seharusnya seseorang ke dunia lain itu harus mengalami kematian terlebih dahulu atau mungkin di panggil oleh raja atau sejenisnya bukan?" Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, berpikir kritis bukanlah suatu hal baru bagi Naruto. Dia mulai memikirkan beberapa teori yang dia pikirkan dan menganalogikannya dengan kejadian yang dia alami saat ini.
"Buka Status" Tidak memerlukan waktu lama bagi Naruto untuk mengerti apa yang harus dia lakukan setelah mengalami hal-hal aneh sedemikian rupa.
[Status terkunci]
[Status akan terbuka setelah anda membaca pesan permulaan]
'Pesan?' Naruto mengelus dagunya sejenak sebelum dia berucap lagi dengan sedikit intonasi yang agak ragu.
"Buka pesan."
[Pesan]
[Anda punya pesan yang belum dibaca]
Buka/Tidak
"Apakah aku harus menyetuh hologram ini?" Ujar Naruto disertai jarinya yang menyentuh opsi 'Buka' pada hologram layar yang melayang dihadapan wajahnya. Kemudian muncul hologram baru yang menampilkan isi pesan.
[Pesan]
"Selamat datang pendatang dari tanah asing. Sistem secara otomatis akan membantu perkembangan anda untuk menjadi kuat. Ikuti berbagai tantangan dan selesaikanlah untuk mendapatkan hadiah, jika tidak selesai maka akan ada hukuman yang menanti."
Naruto terdiam ketika dia selesai membaca deretan huruf yang ada pada hologram layar biru itu. Dia sedikit menangkap apa yang harus dia lakukan untuk kedepannya, namun untuk sekarang dirinya akan menatap dan mengamati lebih jauh lagi mengenai hal aneh ini yang menurutnya sangat mirip sekali dengan sebuah anime bertemakan game online.
Tunggu… apa tadi? Dia bisa membacanya? Tulisan itu?! Naruto melotot tak percaya dengan apa yang dia alami sekarang, sedang sebuah hologram biru transparan ini menampilkan tulisan jepang yang ia ketahui maksudnya.
'Oy! Apa maksudnya ini?' umumnya, dia pasti akan belajar bahasa baru lagi jika memang ia benar-benar berada pada dunia lain selain Jepang yang dihuninya. Namun ini berbeda, bahasa yang sistem gunakan adalah… bahasa Jepang! Suaranya juga, detailnya juga!
Dia bingung harus memikirkan apa lagi, yang jelas dia tidak perlu untuk memikirkan ini. Setidaknya, untuk sekarang.
[Pesan]
"Sekarang anda dapat membuka Status. Katakan 'Buka Status' untuk melihat lengkapnya."
.
[Pesan]
"Hadiah pemula akan terkirim secara otomatis dalam 03:50:12 lagi"
.
"Hmm… Bahkan ada hadiah buat pemula juga? Ini semakin membuatku yakin bahwa ada orang yang iseng menjadikanku sebagai kelinci percobaan untuk game online!" Naruto sedikit marah akan apa yang menimpanya sekarang, namun detik berikutnya dia mendinginkan kepalanya ketika sebuah pemikiran jenius sekaligus nyeleneh masuk di otaknya.
"Well, ambil sisi baiknya Naruto. Kau, tidak usah repot-repot mengerjakan skripsi lagi ahahahahaa!" Pemikiran ini hanya muncul pada mahasiswa tingkat akhir yang sudah lelah dengan yang namanya kuliah dan tetek bengeknya, yang biasanya terjadi pada aku, kamu, dan kita semua.
"Oh iya, aku sampai lupa, alangkah baiknya kita nikmati saja berkah ini lebih lanjut fufufu~, buka status!"
[Status]
Name: Naruto
Level: 3
Job: -
Title: -
HP: 220/220
MP: 40/50
Strength: 25 +
Agility: 16 +
Sense: 13 +
Vitality: 13 +
Intelligence: 20 +
Fatigue: 0
Point Status: 5
Gold: 2.000G
Klik untuk melihat Skills
"Ini…" Naruto terdiam menatap layar status yang dimilikinya saat ini, kegembiraan yang tadi sempat ada kini mulai berangsur-angsur menghilang setelah melihat status dirinya di dunia ini.
"…bukankah sedikit lemah?" Pemikiran dirinya yang bakal mendapatkan suatu elemen overpower nan melegenda seketika hilang, tertampar oleh status yang dia miliki sekarang. Namun beberapa saat kemudian dia tersenyum agak sedikit menyeringai ketika dia mengingat sebuah pesan yang bertuliskan bahwa sistem secara otomatis akan membuatmu menjadi kuat.
Mungkin hal ini sedikit melenceng dari perkiraan utamanya, namun bukankah hal ini akan menjadi keseruan tersendiri bagi dirinya yang akan berpetualang di dunia baru ini. Naruto yang dibekali otak dari Mahasiswa akhir mulai menangkap sisi baik dari statusnya yang sedikit bobrok ini, dia setidaknya tidak merasakan jenuh akibat terlalu overpower untuk menjelajahi lebih lanjut dunia yang sekarang ini dia tinggali.
"Sekarang aku penasaran dengan skill yang aku punya." Tanpa basa-basi Naruto langsung meng-klik pada bagian bawah layar yang bertuliskan Skills.
[Skills]
[Pasif]
Martial Arts: Lv. 1
Inventory: Lv. 1
Regen: Lv. 1
Unknown: MAX
[Aktif]
Auto System: Lv. 1 (Status: Off (300: 55: 23))
Intimidation: Lv. 1
Dash: Lv. 1
.
"Sudah kuduga, tidak ada yang spesial bagi pemula sepertiku."
'Tapi, apa maksudnya keterangan 'tidak diketahui' ini yang berlevel max?' lanjutnya di dalam pikiran sambil dia mencoba menyentuh hologram pada opsi tersebut yang di mana menurutnya sangat aneh.
Namun setelah dia menekannya berkali-kali, layar hologram lain yang biasa muncul malah tidak muncul—itu berarti status skill ini masihlah belum diketahui oleh dirinya sekarang yang masih lemah.
"Masih belum ya, apa boleh buat. Sekarang mari kita cek Inventory milikku."
[Inventory]
Lv. 1 (Slot 07/50)
Item: Neklace of Minotaur's Horn.
Weapon: Sword (Trial 3 hari), Dagger (Trial 3 hari), Bow (Trial 3 hari), Whip (Trial 3 hari), Spear (Trial 3 hari), Shield (Trial 3 hari), Scythe (Trial 3 hari)
.
"Sekali lagi tidak ada yang spesial kecuali item drop yang kudapatkan tadi akibat auto system yang berhasil membunuh Minotaur itu, dan tentunya beberapa senjata trial yang semestinya didapatkan oleh pemula. Semakin ke depan entah kenapa aku semakin dibodohi oleh akal sehatku sendiri, fuhaa~" Bukan tanpa alasan Naruto berkata demikian, karena baik akal sehatnya dan dengan apa yang dihadapinya sekarang ini sungguh melawan kehendaknya untuk menerima hal ini sebagai manifestasi dunia game yang diterapkan di dunia nyata.
Dia—Naruto, masihlah belum sepenuhnya menerima bahwa dirinya sendiri sedang mengalami perpindahan dunia, yang tentunya di mana hal yang mustahil seperti sihir dan sejenisnya yang anomali, terjadi begitu nyata di depan matanya.
Namun seiring berjalanannya roda waktu kehidupan, Naruto kembali membawa otak sehatnya dengan pikiran rasionalnya untuk menerima ini semua sebagai manifestasi dari keberuntungannya menghindari ujian skripsi.
"Sekarang, aku harus pergi kemana?" Naruto menepuk bajunya yang kasual itu sejenak sebelum dia kembali melangkahkan kakinya di hutan belantara yang saat ini suasananya sangatlah mencekam. Pendar biru matanya tidak henti-hentinya memicingkan kesana-kemari karena instingnya merasakan bahwa kondisi hutan ini sangatlah abnormal daripada hutan yang seharusnya bisa manusia singgahi.
[Notifikasi]
[Anda mendapatkan Skill Pasif 'Survival Instinct']
[Info 'Survival Instinct': Anda mendapatkan tambahan kepekaan 20% terhadap alam liar yang baru saja disinggahi dan mendapatkan anugrah memprediksi datangnya serangan tersembunyi dari musuh. Bertahan hidup dalam kondisi kritis meningkat sebanyak 20% dan mendapatkan tambahan MP sebanyak 50%. Exp meningkat 20% jika membunuh hewan liar.]
"Hah?" Di tengah kewaspadaannya kepada alam sekitar, Naruto dikejutkan oleh layar hologram kecil yang menampilkan info bahwa dirinya mendapatkan sebuah skill pasif baru.
Naruto terdiam berpikir, ternyata semudah inikah caranya dia mendapatkan skill baru? Namun detik berikutnya pikiran Naruto buyar dikarenakan datangnya notifikasi berupa alarm yang muncul di depan wajahnya dengan layar hologram yang berwarna merah.
[Alarm!]
[Musuh menyergap dari arah barat!]
.
[Alarm!]
[Musuh menyergap dari arah timur!]
.
'Sial! Aku dikepung dari dua arah!' Di tengah kepanikan yang melanda dirinya, Naruto menyempatkan dirinya sendiri untuk meloncat ke samping setelah adanya pemberitahuan bahaya yang dibunyika sistem. Detik berikutnya, beberapa Goblin yang membawa tombak mulai meloncat dan berusaha untuk menusuknya.
Beruntung, dia dengan sigap segera menghindari serangan itu dengan cepat dan membalikkan badannya secepat mungkin kearah beberapa Goblin yang sedang menatap ke arahnya.
"Goblin ya?" Naruto menegakkan badannya kembali.
[Misi Darurat!]
[Bunuh musuh yang mengancam kehidupan anda 0/20. Selesaikan atau anda akan mendapatkan hukuman 'mati']
Matanya menutup sejenak ketika melihat notifikasi tersebut.
"Mungkin sudah saatnya bagiku untuk menerima dunia anomali ini." Ucapnya yang kemudian disusul oleh majunya dua Goblin yang membawa pisau di kedua tangannya. Naruto diserang kepanikan sebentar, namun detikan berikutnya, ketenangan mulai menghinggapi jiwanya.
'Inventory, sword!' Bisiknya pelan. Dengan mengambil ancang-ancang siap bertempur, elektromagnetik yang tercipta dari kekuatan sistem menciptakan sebuah pedang dua sisi yang kini sudah berada di genggaman tangan kanannya.
"GRRRAAAAAH!" Penakanan pada kata 'bunuh' yang tercetak jelas di otaknya membuat teriakan Goblin di depannya tidak dia gubris, Naruto secara perlahan menundukan tubuhnya dan lebih mencondongkan wajahnya kedepan. Konsentrasi penuh.
Mata birunya memicing tajam memerhatikan beberapa celah yang diberikan oleh Goblin yang selaras dengan jarak pandangnya, dan dengan menghembuskan nafas beratnya yang daritadi ditahan. Naruto menginjak pedal tanah lebih keras hingga sebuah retakan kecil tercipta disitu, dibarengi oleh suara mekanik dari skill yang dia pakai.
[Skill Dash: Diaktifkan!]
Sraaasshh!
Naruto melaju dengan cepat, matanya memicing tajam tatkala pandanganya buram karena proses percepatan yang melewati manusia biasa, dia genggam erat pedangnya lalu dalam sekian detik berikutnya dia berhasil menebas kedua Goblin yang mau menyerangnya dalam sekali tarikan pedang.
"Lumayan untuk pemula, bukan?" Dan meninggalkan kedua jasad Goblin yang terbelah dua itu di belakangnya. Naruto mengibaskan pedangnya kesamping disertai cipratan darah ungu yang menempel pada pedangnya, kemudian dia mengalihkan direksi matanya kembali kearah kumpulan Goblin yang masih hidup di depannya.
"Selanjutnya kalian!" Melihat dan merasakan aura menantang dari sosok manusia di depannya, para kumpulan Goblin yang sedang bingung dan terkejut itu seketika bangkit dan mulai menyerang Naruto secara massal.
Namun sebelum mereka membuat jarak serangan dengan Naruto, para Goblin yang ingin menyerang Naruto harus merasakan pahitnya rasa putus asa, ketika tubuh Naruto kembali menghilang dalam kilatan kuning yang kemudian kembali muncul tak jauh dari lokasi mereka dengan berhasil menebas mereka semua. Muncratan darah seketika berhamburan ke mana-mana, meninggalkan Naruto yang sekarang ini menunjukkan wajah dinginnya kepada alam sekitar.
Itulah yang mereka sebut sebagai naluri dasar dari seorang manusia.
[Anda berhasil membunuh kawanan Goblin]
[Level Up!]
[Level Up!]
[Level Up!]
[Level Up!]
[Level Up!]
"Aku tidak merasakan rasa penyesalan ketika membunuh mereka," Simpati yang mulai sirna. Melalui ekor matanya, ia melihat mayat para Goblin itu. Berserakan dengan tubuh mereka yang sudah tidak utuh lagi.
"Bahkan aku tidak merasakan mual ketika melihat ini." Ucapnya pelan disertai sebuah tatapan sendu di sana.
"HAGYU!? GRRAAA!" Di tengah kesibukannya meratapi perasaannya yang sudah melenceng dari yang namanya manusia murni, Naruto dihadapkan lagi pada kawanan Goblin baru yang datang dari arah selatan.
Dan quest darurat pun kembali muncul berbarengan dengan munculnya mereka. Bedanya kali ini mereka bukanlah Goblin biasa, mereka terlihat berbeda dengan Goblin yang Naruto bunuh, tubuh mereka lebih besar daripada Goblin yang sebelumnya.
"Hobgoblin ya, Kalian memang tidak ada habisnya! HIYAAATT!" Dan diakhiri oleh Naruto yang menerjang mereka dengan perasaanya yang saat ini sungguh campur aduk.
[Level Up!]
'Ini menggelikan bagiku, sungguh menggelikan.' Tebasan demi tebasan terus menggores musuhnya.
[Level Up!]
'Kenapa juga aku dituntut menjadi mesin pembunuh seperti ini.' Berhenti sejenak karena kelelahannya, Naruto menghembuskan nafas beratnya dan kembali menghirupnya dalam-dalam untuk melanjutkan ritme pedangnya.
[Fatigue: 60]
Sayatan demi sayatan terus Naruto lakukan, dalam pandangan matanya yang memburam dia terus menghujam beberapa goresan pada mahluk hijau besar dihadapannya.
Entah sudah berapa jumlahnya yang dia bunuh, Naruto telah sepenuhnya membiarkan proses kalkulasinya kepada sistem. Namun yang jelas, Naruto sudah merasa membunuh lima puluh lebih dari mahluk hijau ini hingga dia sendiripun sudah mulai lelah akibat tubuhnya yang bekerja melebihi limit.
[Fatigue: 95]
[Warning!]
[Anda akan pingsan!]
[Anda akan pingsan!]
[Anda akan pingsan!]
'Sampai di sini saja kah?'Ujarnya membatin setelah Naruto merasakan rasa kantuk berat dan kelalahan yang sungguh luar biasa. Namun musuh besar yang ada di depannya, terpaksa membuat Naruto harus melawan rasa lelahnya.
"Yo, kau pasti pemimpin dari kawanan busuk ini."
"GRRRRUUUUAAAAARRR!" Auman yang keras menjadi jawaban atas perkataan Naruto.
"Kau dan aku, mari akhiri ini dengan cepat!" Membuang nafasnya dengan kasar, Naruto mulai memfokuskan kembali segala indranya untuk menyelesaikan pertarungan ini dalam satu serangan. Dalam rasa kantuknya yang begitu dahsyat dan juga suara bising dari sistem yang memberitahukannya bahwa dia akan pingsan, Naruto dengan sisa tenaganya mulai melesat cepat dibarengi dengan suara skill [Dash] yang aktif.
"HOORAAAAA!"
SLAASSSHH!
Dan mengakhiri pertarungan ini dengan hadiah kepala dari pemimpin Goblin yang terbang di udara.
[Anda berhasil membunuh 'King Goblin']
[Anda berhasil menyelesaikan Quest Darurat, target musuh terpenuhi 151/151]
[Anda mendapatkan 150.000G]
[Anda mendapatkan Title 'Goblin Slayer']
[Level Up!]
…
'Akhirnya… selesai.' Tak kuat mehanannya lagi, pada akhirnya kegelapan yang menjadi jati dirinya kini memeluknya dengan hangat.
..
.
TBC
A/N: Um, hai… setelah sekian lama vakum, saya kembali membawa fic baru. Silakan tinggalkan pesan dan kesan kalian setelah membaca ini.
