Cast :

-Park Chanyeol

-Byun Baekhyun

-Oh Sehun

CHANBAEK/GS/ROMANCE/DRAMA/FANTASY/RATE M

"Terimakasih,Kris...Kau tak hanya pergi meninggalkan Lamborgini dan apartemen mewah untukku...tapi juga darah segar yang akan membuatku tetap terlihat cantik dan awet muda..."

Baekhyun menatap penuh binar ke arah segelas liquid merah yang kini berada dalam genggamannya. Darah segar yang ia dapat setelah menancapkan taring tajamnya hingga membuat Kris berakhir meregang nyawa.

Kematian Kris memperpanjang daftar korban yang terperangkap oleh tipu muslihat Baekhyun. Baginya, pria hidung belang yang lemah oleh godaan pangkal paha adalah mangsa yang tepat. Jatuh ke pelukan Baekhyun adalah sebuah petaka, sebab mereka harus meregang nyawa dengan tubuh tercabik, tepat di malam pertama mereka.

Baekhyun tak benar mencintai Kris atau mantan suaminya yang lain, ia menikah berkali-kali bukan karena binal atau haus sentuhan, ia hanya terobsesi menguras habis harta kekayaan mereka demi memenuhi gaya hidupnya yang glamour.

"Dan berkat darah ini, pohon kehidupanku akan terus berbunga dan mekar..."

Baekhyun mempersembahkan darah segar itu pada sebatang pohong yang berdiri kokoh di hadapannya. Menyiram dan membasahi setiap jengkal akarnya yang menghunus ke dasar bumi, bersama sebaris mantra yang sayup terdengar dari bibirnya. Sebuah ritual rahasia yang selalu ia lakukan demi membuat raganya tak menua dan tetap kekal.

Pohon tua itu telah tumbuh selama ribuan tahun di tengah taman bunga yang ia miliki. Pohon yang merupakan hadiah sekaligus kutukan dari dewa maut yang telah memberkatinya dengan sebuah keajaiban di luar nalar. Semesta membiarkan Baekhyun untuk mememilih kematiannya sendiri, bahkan setelah ribuan purnama berlalu, ia tak sedikitpun menua dan tetap memiliki paras indah yang membuat hati pria-pria berdesir hebat.

Hanya sepersekian detik setelahnya, kelopak bunga yang semula nyaris layu, seketika mekar dengan warna yang merona cantik. Serupa dengan paras indahnya yang kian terlihat mempersona dengan lekuk tubuh yang menggairahkan.

"Sajangnim..."

Baekhyun menoleh, menyambut kepulangan Sehun usai mengemban tugas negara yang ia berikan.

"Kau sudah pulang? Bagaimana pemakaman Kris?"

Alih-alih datang kerumah duka dan memberikan penghormatan terakhir pada suaminya, Baekhyun justru sengaja bersembunyi. Tak sedikitpun menampakan batang hidungnya saat saudara dan kerabat tengah berkabung dan meratapi kepergian Kris yang terkesan begitu tiba-tiba.

Ia hanya mengutus Sehun untuk membereskan kekacauan yang telah ia buat, untuk memastikan jika keluarga Wu tak menyadari, bahwa jasad Kris telah tercabik dengan memar yang kentara akibat aksi brutalnya.

"Semua berjalan sesuai rencana,sajangnim...Tidak ada yang curiga dengan kematian tuan Kris..."

"Apakah keluarga Wu mencariku?"

"Sesuai perintah, saya mengatakan pada mereka jika anda masih dalam keadaan terpukul atas kepergian tuan Kris yang tiba-tiba..."

Baekhyun menghela nafas lega, lega sekaligus bangga melihat tangan kanannya yang begitu patuh melayani perintahnya yang terkadang jauh dari kata wajar.

"Good job...Dan untuk merayakan kematian Kris, aku akan mengajakmu pergi ke Club...Bersiaplah...Kita akan bersenang-senang malam ini..."

Baekhyun menatap lamat ke arah kuku cantiknya yang bercorak polkadot, tengah berfikir dengan keras, gaun apa yang cocok dikenakan untuk berburu nanti malam.

"Sajangnim, apakah anda mengajak saya pergi club untuk mencari...suami baru?"

Bekerja sebagai tangan kanan selama lebih dari satu dekade, membuat Sehun seolah terlatih membaca jalan pikiran Baekhyun. Baekhyun tak pernah mengenal apa yang orang sebut sebagai kehilangan, ia hanya akan berlalu tanpa pernah menoleh ke belakang, berlalu dan bersiap menyambut cinta yang baru.

Ia bahkan sama sekali tak takut dengan apa yang disebut karma, karma buruk yang harus ia tuai setelah dosa keji yang tak henti ia lakukan. Bukan karena ia menganggap jika kutukan dewa adalah hal yang sepele, namun karena ia lebih takut jatuh miskin dan menua dengan wajah yang keriput.

"Tentu saja...Aku berencana mengajakmu pergi ke club Lamborgini...Disana pasti banyak pria tampan dan kaya raya..."

"Sampai kapan anda akan terus seperti ini, sajangnim?"

"Sampai aku bosan menjadi wanita yang cantik dan kaya raya...Bukankah kau juga tau, jika pohon kehidupanku selalu haus darah? Karena itu aku harus terus berburu lelaki bodoh yang rela memberikan harta dan nyawanya untukku..."

Sehun meremas ujung kemejanya dengan gelisah, sedang mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan apa yang selama ini hanya tertahan di ujung lidah.

"Jadi, jika aku memberikan seluruh harta dan nyawaku untukmu, kau bersedia menikah denganku?"

"Kau ingin menikah denganku?"

Baekhyun menatap Sehun dengan tatap yang sempurna sayu. Ia bahkan sengaja menggigit bibir bawahnya dengan cara yang sensual, menggoda Sehun yang detik ini mulai panas dingin dengan detak jantung yang tak lagi beraturan.

Baekhyun perlahan merangsek maju, memposisikan diri tepat di hadapan Sehun meski tinggi keduanya terlihat begitu rumpang. Kedua tangannya mencengkeram kerah kemeja Sehun dengan erat, memaksa pandang keduanya untuk beradu pada titik yang sama.

"Kenapa hanya diam? Kau benar ingin menikah denganku?"

Sehun mengangguk lirih, mulai merasa terintimidasi oleh tatap sayu Baekhyun yang seolah tengah mengajaknya berkembang biak.

"Kau menginginkan tubuhku? Kau ingin bercinta denganku?"

Sehun sekali lagi mengangguk, diam-diam tersipu dengan wajah yang sempurna merah saat telapak tangan Baekhyun menyusuri belah pipinya dengan lembut. Menapaki setiap jengkal rahang indahnya dengan tatap yang hangat dan memuja.

"Ternyata kau cukup tampan, jika dilihat dari jarak sedekat ini..."

Atmosfer yang semula merah jambu, seketika berubah mencekam saat Baekhyun tiba-tiba tertawa pecah dengan suara yang mengerikan. Jemari lentiknya yang semula mengusap belah pipi Sehun dengan lembut, kini berubah mengerikan dengan kuku yang melengkung tajam.

"Sa...Sajangnim..."

Sehun beringsut mundur, seketika menggigil saat netranya mendapati mata bulan sabit Baekhyun kini berubah merah dengan sepasang taring tajam yang siap merobek kulit. Netranya terpejam erat, menyudahi pandang matanya pada Baekhyun yang sengaja menampakkan diri dalam wujud yang sesungguhnya. Tak lagi nampak wajah cantik yang semula membuat Sehun jatuh hati, karena yang ada, hanya wajah pucat dengan sepasang luka sayat yang tegak melintang menggores pipi.

"Masih ingin bercinta denganku?"

...

Baekhyun melenggang anggun, berada selangkah di depan Sehun dengan suara ketukan heels yang terdengar begitu nyaring. Langkahnya terurai perlahan, penuh kehati-hatian agar Heels limited edition yang ia kenakan tak berakhir lecet dan tergores.

"Silahkan, sajangnim..."

Sehun menunduk sopan, mempersilahkan nyonya besar untuk masuk dan menempati sisian kosong di samping kemudi. Alih-alih masuk dan duduk dengan manis, Baekhyun justru diam tak bergeming. Ia hanya menurunkan kacamata hitamnya hingga pucuk hidung, kecewa sekaligus frustasi pada ke-tidakpeka-an seorang Oh Sehun.

"Kau tak lihat hari ini aku pakai baju apa? Kau menyuruhku naik Lamborgini kuning saat aku memakai baju berwarna merah? Kau benar-benar membjat tekanan darahku naik...Cepat ganti yang merah!"

"Maafkan saya,sajangnim..."

Baekhyun memiliki life style yang begitu glamour. Pribadinya yang perfectionis, membuatnya terbiasa untuk berpenampilan matching dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tak hanya tas dan sepatunya saja yang harus berwarna senada, namun juga armada mewah yang ia kendarai. Baekhyun bahkan memiliki sebuah garasi luas yang berisi puluhan mobil mewah dengan warna yang beragam. Mobil yang sengaja ia beli untuk menyempurnakan penampilannya agar semakin hits.

Mobil yang membawa keduanya kini melaju lambat membelah jalanan. Sehun sesekali melirik ke samping, mencuri pandang ke arah Baekhyun yang tengah sibuk mengambil selca dengan berbagai pose menggemaskan untuk di upload di akun SNS yang ia miliki.

Sebagai arwah yang abadi, Baekhyun agaknya cukup cepat beradaptasi menjadi manusia yang modern. Ia telah lama meninggalkan kebiasaan primitifnya, tak lagi hidup sebagai seorang wanita lugu dari era Joseon.

"Lihatlah...Dress merah ini benar-benar membuat kecantikanku terlihat sempurna...Whoaa...Bahkan baru sepuluh detik di upload, aku sudah mendapatkan banyak like dan comment...Ternyata aku benar-benar populer..."

Baekhyun sibuk menscroll satu per satu komen yang masuk ke dalam notifikasinya. Menikmati sanjung puji yang diberikan pria-pria bodoh yang tak henti mengagumi kecantikannya. Hingga pada akhirnya, atensinya tertuju pada satu nama dengan sebuah lencana biru di belakangnya.

"Nona manis...Bercintalah denganku, maka kau akan tau rasanya jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama..."

Baekhyun bergidig jijik saat membaca sebaris komen dengan tingkat kepercayaan diri di atas normal. Ia benar-benar benci pada pria yang gemar berbicara omong kosong.

"Sehunah, apakah kau mengenal seseorang dengan ID ?

"Dia adalah CEO Maxim coffe,sajangnim...Perusahaan kopi terbesar di Seoul saat ini...Apakah anda tertarik untuk melakukan kencan buta dengannya?"

Tak selalu sempurna, sesekali, Sehun juga keliru mengartikan apa yang Baekhyun inginkan. Sifat materialistis Bekhyun yang terlanjur mendarah daging, membuat Sehun sepenuhnya yakin, jika Baekhyun tengah mengincar Lucas sebagai pengganti Kris

"Cih...Hanya tukang kopi...Berani-beraninya dia mengajakku bercinta...Dasar bocah ingusan tidak tau diri..."

"Saya rasa dia tidak terlalu buruk...Dia kaya, tampan dan memiliki tubuh yang tegap dan tinggi...Bukankah itu sesuai dengan type ideal anda? Hanya saja...Dia jauh lebih muda daripada tuan Kris dan mantan suami anda yang lain..."

"Berhentilah mempromosikannya...Aku sama sekali tidak tertarik..."

"Apakah anda merasa canggung, berkencan dengan seseorang yang lebih muda? Bukankah hubungan noona-dongsaeng seperti itu sedang populer akhir-akhir ini?"

Terlalu nekat, Sehun masih saja bersikap sok akrab meski Baekhyun telah terang-terangan memberikan sebuah penolakan.

"Yak! Kenapa kau begitu berisik,huh? Sebaiknya kau ingat jika umurku sudah lebih dari 1,500 tahun...Bahkan sebelum Song Hye Kyo dan Goo Hye sun membuat pernikahan noona-dongsaeng menjadi populer, aku sudah ribuan kali melakukannya..."

"Whoa...Anda benar-benar seorang trendsetter, sajangnim..."

Sehun menggeleng takjub, merasa begitu kagum dengan jam terbang Baekhyun yang sudah begitu profesional dalam menaklukkan hati lelaki. Baekhyun bahkan tak dapat menyebutkan sebuah angka yang pasti, tentang berapa nyawa yang telah ia persembahkan untuk membuat hidupnya tetap kekal hingga detik ini. Ia hanya bisa mengiaskan bahwa mereka sebanyak bintang di langit, tak terhingga.

"Berhentilah mengoceh dan menyetirlah dengan benar!"

Daripada membuat pertengkaran ini berakhir dengan baku hantam, Baekhyun lebih memilih untuk menilik dan memastikan, bahwa tak ada sedikitpun cacat pada riasannya. Ia mulai sibuk menyapukan blush on dan lipstik dengan warna yang senada, mempersiapkan penampilan terbaiknya untuk menjadi sang penggoda.

Bruk!

Sehun menginjak pedal remnya dalam-dalam, mendadak menghentikan laju mobilnya saat ia merasakan ada yang tiba-tiba jatuh di atas mobil.

"Yak Oh Sehun! Kau berniat membunuhku?"

Sehun terpaksa menahan perih saat Baekhyun memukul lengannya dengan segenap tenaga, menerima sebuah protes keras karena ia nyaris membuat Baekhyun nyaris jantungan. Tak hanya itu, Sehun juga membuat lipstik merah Baekhyun tercoret hingga pipi, tak sengaja membuat wajah cantik Baekhyun kini terlihat konyol seperti Joker.

"Tapi anda tidak akan mati hanya karena serangan jantung, sajangnim..."

"Tapi kau membuatku riasanku berantakan, bodoh!"

"Sa...Sajangnim...Coba lihat itu..."

Baekhyun terpaksa menyudahi amukannya saat ujung telunjuk Sehun mengarah pada sosok asing yang kini menatap tajam ke arah keduanya. Sehun bahkan harus berkali-berkali menajamkan penglihatannya, tak bisa menemukan kata yang tepat untuk sekedar mendefiinisikan, manusia macam apa yang kini tengah terbaring di atas kap mobilnya?

"Kau menabraknya? Bukankah sudah ku bilang untuk menyetir dengan benar? Aku akan memotong habis gajimu jika kau sampai membuat mobil kesayanganku lecet!"

"Aku tidak...Dia tiba-tiba jatuh dan...Whoaaa...Dia memiliki sayap...!"

"Berhentilah berbicara omong kosong..."

Baekhyun yang semula hanya peduli pada nasib mobilnya yang mungkin tergores, kini mulai penasaran dengan sosok yang telah membuat Sehun tiba-tiba histeris. Semula ia berfikir jika Sehun hanya sedang berhalusinasi, namun ternyata, pria berambut putih itu benar-benar memiliki sepasang sayang di belakang punggungnya.

"Sajangnim, Haruskah kita kabur dan menyelamatkan diri? Saya rasa dia bukanlah seorang manusia..."

"Oleh karena itu kita harus turun dan memastikannya..."

"Yak! Sajangnim!"

Sehun semakin panik saat melihat Baekhyun tiba-tiba melenggang turun, dengan tega meninggalkan dirinya yang masih mematung dibalik kemudi. Ia mencengkeram kemudinya dengan erat, mengumpulkan keberanian yang tersisa untuk turun mendampingi Baekhyun.

"Sajangnim...Ikutttttt..."

Sehun akhirnya melompat keluar, bersembunyi dibalik punggung sempit Baekhyun dan sesekali mencuri pandang ke arah Chanyeol yang kini duduk dengan relax and chillin diatas kap mobil.

Dingin dan misterius, adalah sepasang kata yang tepat untuk menggambarkan kesan pertama saat ia melihat Chanyeol. Raut wajah yang terlihat dingin dengan lekuk rahang yang sempurna membuat Baekhyun nyaris menyeka liur di sudut bibir. Meski tubuh tegapnya terbalut kemeja putih, Baekhyun dapat memastikan adanya kepingan surga yang tersembunyi di dalam sana. Tak hanya memiliki pundak yang lebar dan punggung yang kokoh, ia juga memiliki enam kotakan sexy yang membuat Baekhyun rela mengemis dan merangkak untuk dapat memilikinya.

Namun, ada satu hal yang janggal disini. Sepasang sayap yang semula mengepak gagah di balik punggung, kini tak lagi nampak dalam pandangan. Kemana perginya?

"Siapa kau sebenarnya? Aku tau kau bukan seorang manusia..."

"Lalu kau sendiri?"

Alih-alih menjawab, Chanyeol justru sengaja membalik pertanyaan.

Untuk pertama kali dalam hidupnya yang abadi, Baekhyun mendapati sebuah tatapan yang tajam dan berbahaya. Begitu tajam dan seolah tengah menelanjanginya. Makhluk apa ia sebenarnya?

"Aku? Tentu saja aku seorang manusia...Apakah karena aku terlalu cantik, kau berfikir jika aku adalah seorang bidadari?"

"Aku pikir kau seorang siluman...Siluman harimau?"

Pandang mata Chanyeol berlabuh pada legging bercorak Leopard yang Baekhyun kenakan. Legging ketat yang membalut pada indahnya dan mengintip nakal dari belahan gaunnya yang tinggi.

"Ini namanya legging, dasar bodoh! Ini adalah style untuk terlihat lebih menantang dan sexy..."

Baekhyun mengibaskan dress panjangnya sebelum mengangkat kaki indahnya dengan anggun, sengaja menampar paha indahnya demi memamerkan legging kebanggaannya yang merupakan rancangan designer terkenal.

"Pembohong...Aku bahkan tau jika kau baru saja membunuh seseorang..."

"Shit! Darimana dia tau jika aku baru saja membunuh Kris? Apakah sebenarnya dia adalah seorang dewa?"

"Sajangnim...Apakah dia adalah dewa maut? Aku benar-benar takut sekarang..."

Sehun mencicit lirih, mengiba dengan wajah yang memelas agar Baekhyun berbaik hati membiarkannya kabur dari situasi menakutkan ini.

"Masuklah dan tunggu di dalam...Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat..."

Hanya sepesekian detik usai Baekhyun mengijinkannya kabur, Sehun bergegas melompat ke dalam mobil. Meringkuk dan menutup kedua telinganya rapat-rapat tanpa pernah ingin tau, hal konyol apa yang akan terjadi setelah ini.

"Apakah wajah cantikku terlihat seperti seorang pembunuh?"

"Tentu saja...Kau adalah seorang pembunuh...Pembunuh yang mengerikan..."

Baekhyun meremas ujung dressnya dengan gelisah, mendadak diserang gugup yang berlebih saat Chanyeol tiba-tiba merangsek maju dan mensejajarkan wajah keduanya pada titik yang sama.

Hingga pada akhirnya, apa yang Baekhyun khawatirkan benar terjadi. Tanpa intro apapun, Chanyeol menyapukan ujung lidahnya pada pipi dan sudut bibir Baekhyun. Menggariskan sebuah kebasahan saat ia dengan lugunya menghapus coretan lipstik yang menggores pipi dengan ujung lidahnya.

"Darah apa yang baru saja minum? Kenapa rasanya manis seperti buah?"

Meski terasa sedikit aneh, namun nyatanya, Chanyeol menyukai sisa darah yang menempel di sudut bibir Baekhyun. Terasa begitu manis dan membuatnya tiba-tiba merasa lapar.

"Kau sedang menguji kesabaranku? Ini namanya lipstik, bukan darah! Kau sengaja melakukan ini untuk menggodaku?"

Alih-alih menjawab pertanyaan Baekhyun yang terlanjur meninggi, Chanyeol justru membungkam bibir merah Baekhyun dengan sebuah pagutan kasar. Ia bahkan mendorong tubuh mungil Baekhyun hingga berakhir terkapar diatas kap mobil, sengaja menuli saat Baekhyun mencoba berontak dengan berkali-kali memukul dadanya.

Chanyeol terlanjur candu pada rasa manis yang melekat di bibir tipis Baekhyun, ia bahkan tak peduli jika hingga detik ini Baekhyun sama sekali tak membalas ciumannya.

Baekhyun hanya mengerang frustasi saat Chanyeol tiba-tiba menjambak rambutnya dengan kasar. Membuat kuncian bibirnya terbuka tanpa sadar, hingga akhirnya Chanyeol berhasil melesakkan lidah ke dalam rongga hangatnya. Nafas hangat Chanyeol yang menyapu wajah, membuat Baekhyun nyaris kehilangan kewarasannya. Terlebih, saat Chanyeol terus membelit dan menyesap lidahnya dengan begitu mendamba, ia nyaris tergoda untuk mendesah.

"Jangan mendesah,Baekhyun...Jangan..."

Baekhyun menjadi kian panik saat Chanyeol tiba-tiba mencengkram dan menahan kedua pergelangan tangannya di atas kepala, mengunci geraknya agar tak berontak, saat Chanyeol merobek paksa dress merah yang membalut tubuhnya.

"Apa yang baru saja kau lakukan? Kau sudah gila?!"

Baekhyun terengah sesaat setelah ia berhasil melepaskan diri dari Chanyeol yang nyaris menelanjanginya. Ia menghapus sisa saliva yang tercecer di sudut bibir dengan punggung tangan, sementara netranya menatap penuh curiga, pada bajingan gila yang telah lancang membuat arwah abadi sepertinya berakhir tak berkutik.

"Aku sama sekali tidak gila..."

"Tapi kau sengaja melakukannya! Kau berniat memperkosaku?"

"Ya, aku sengaja melakukannya ...Sengaja melecehkanmu agar aku bisa lebih lama tinggal di bumi...Bersamamu..."

TBC

A/N :

- Story ini memang terinspirasi drama Hotel Deluna, tapi untuk plot dan karakter Lead male-nya bakal gue bikin beda dari drama.
- Fyi, malem ini gue publish bareng sama bucinnya iching Aybaekxing yang update Noona Chapter 13, Kuylah dibaca bareng.
- Pada dasarnya, gue cuma bisa bikin prolog kaya gini. Lanjut /enggaknya, tergantung antusias kalian dan mood gue buat ngetik. Sampai jumpa di chap depan. Salam Chanbaek is Real.