©KING RECORDS

Hypnosis Mic Unofficial Works

Fan Fiction is worked by by SilentPark Vindyra

"Farewell"

"Maaf. Aku mencintai Ichiro."

Ah, sudah bisa ditebak. Kalimat yang akan, dan sudah dilontarkan laki-laki berambut putih itu. Dengan wajah bersalah, alisnya semakin mengerut tanpa bisa menatap kedepan dengan tegas, tanpa bisa melihat kearah wajah yang sudah ia kenal lama itu, yang kini masih tegar berdiri dihadapannya. Masih sanggup untuk tersenyum padanya.

"Aku tahu," Sasara, masih dengan senyumannya, menjawab dengan tenang.

"Aku tahu, Samatoki."

"Sasara, aku..."

"Samatoki, aku sudah tahu. Semuanya."

"...Maafkan aku."

"Tidak masalah. Tidak ada yang bisa memaksakan cinta, bukan?"

Tawa pelan meluncur dari mulut sang komedian itu, masih sanggup untuk memberikan Samatoki, orang yang begitu dicintainya selama bertahun-tahun ini, senyuman yang sangat manis. "Kita takkan pernah bisa menyalahkan cinta, bukan? Bukan kita yang bisa menentukan siapa yang ingin kita cintai."

Samatoki menegakkan kepalanya seketika, akhirnya berani menatap sosok dihadapannya, pria yang sudah menemani hidupnya cukup lama, seseorang yang sudah ia cintai selama itu sampai pada akhirnya hatinya malah memilih menjadi brengsek dan mengkhianatinya.

"Aku... menyayangimu, Sasara."

"Kau tidak bisa menyayangi dua orang sekaligus lho, Samatoki. Karena kau bukan orang yang adil, hahaha~"

Sebuah candaan, namun tepat menusuk Samatoki. Dadanya terasa sesak sekarang, penuh rasa bersalah.

"Samatoki," panggil Sasara, dengan suara lembut. "Jangan meminta maaf."

"...Sasara-"

"Jangan meminta maaf. Atau semua yang sudah kita lalui terasa seperti candaan. Cukup aku saja komediannya disini, haha."

"..."

"Jadi, jangan meminta maaf, Samatoki. Kalau kau ingin mengucapkan selamat tinggal... maka katakanlah, "selamat tinggal"."

Suara Sasara mulai terdengar bergetar. Pertahanannya mulai goyah, hatinya mulai runtuh, namun senyumannya belum juga hilang. Sampai pada akhirnya Samatoki mengucapkan "selamat tinggal", dan melangkah menjauh memunggunginya.

Sasara hampir berteriak, memanggil nama pria yang begitu ia cintai. Tertahan di ujung lidahnya, bulir-bulir air mata mulai turun, membasahi wajahnya seraya senyuman itu hilang.

"...jangan pergi..."

Hanya bisikan yang tak terdengar, tak digemakan oleh udara, yang bisa ia ucapkan sekarang.