Hope & Fate

Prolog

© J.K. Rowling

AR


Seorang gadis bersurai hitam dengan pendar abu yang sangat serasi dengan pakaian serba hitamnya. Membuat dirinya tampak mencolok di antara anak-anak lain yang berlalu lalang memenuhi King Cross. Sesaat sebelum memasuki kereta, dirinya berbalik kebelakang untuk menampilkan senyum manis kepada dua orang paruh baya yang memiliki penampilan sama persis dengan dirinya.

Ia mengagguk sopan sebelum menghilang masuk kedalam kereta yang sebentar lagi akan berangkat. Setelah si gadis hilang, keduanya berbalik meninggalkan stasiun yang di padati oleh anak-anak dan orang tua mereka.

Rin, si gadis salju melihat setiap kompartemen yang di lewatinya. Ia tengah mencari seseorang yang sudah ditakdirkan untuk bersamanya. Akhirnya ia menemukan orang yang di cari di bagian ujung gerbong, terdapat kompartemen yang hanya di isi oleh seorang gadis dengan surai coklat berantakan. Tanpa permisi, ia menggeser pintu kompartemen itu dan duduk di seberangnya.

Gadis itu mendelik pada manusia yang menganggu atensinya. Pada saat itulah, gelombang aneh yang seakan menghubungkan dirinya dengan gadis perak di depannya.

Si gadis menarik sudut bibirnya "Merasa ada yang aneh Hermione?" seringai manis terpasang di bibir tipis itu.

Gadis yang di sebut Hermione itu terkejut. "Bagaimana kau tahu nama ku?"

Seringainya kembali melengkung "Mudah saja. Karena aku itu, hmm, bagaimana muggle menyebutnya?, ah ya, Cenayang."

Hermione, gadis itu hanya diam dengan tatapan 'Apa kau gila?'. Tangannya yang masih setia dengan buku yang terbuka di pertengahan. "Apa kau mabuk atau punya riwayat penyakit aneh atau semacamnya?" matanya sinis menatap si lawan bicara.

Rentina abu itu memutar pelan. "Yah terserah mu saja."

Hermione kembali pada bukunya. Mencoba mengacuhkan keberadaan makhluk asing tak menyenangkan itu.

Rin tak kehilangan antusiasnya, "Hei, mau kuberitahu sebuah rahasia?" Si gadis abu mencondongkan tubuhnya kedepan. Rambut putih panjang itu ikut jatuh membingkai wajah pucatnya dengan sempurna.

Hermione tak mengalihkan fokusnya pada A Hogwarts Story. "Aku tidak perduli dengan rahasia mu." Tangannya membalik lembar baru

Gadis salju itu melipat kedua tangannya didepan dada. Dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Ah, sayang sekali. Padahal ini rahasia mu." Dengan santai ia meniup kotoran yang jelas tidak ada dikukunya.

"Aku tidak punya rahasia apapun"

"Yah. Orang tolol mana yang akan percaya?"

"Jangan bercanda Girl."

"Aku mencoba serius disini, kalau kau ingin tahu"

"Yah, dan orang buta pun akan melihatnya"

"Sangat pintar bukan?"

"Apa?"

"Mulutmu, tentu saja"

"Tch, terima kasih kalau begitu?"

"Bukan pujian kurasa"

"Benarkah?. Maafkan diriku yang bodoh ini karena tidak memahami bahasa 'indah' mu"

Gadis itu menggeleng. Dengan wajah kasihan ia mencoba memberi wejangan "Kau harus belajar lagi"

Si Hazel melotot garang. "Lihat siapa yang bicara"

"Ck. Ini tak berguna" Kakinya naik, dan menyilang dengan indah

"Jika saja kau mengerti lebih awal" Hermione, si gadis coklat memutar matanya. Tampak bosan dengan pembicaraan yang sangat 'memiliki manfaat' ini.

"Langsung saja Granger. Debat konyol ini sangat tidak berfaedah"

"Apa?. Kau yang memulainya terlebih dahulu" Matanya tak meninggalkan buku, bergerak menelusuri ratusan huruf yang membingkai disana.

"Ya ya ya. Anggap saja seperti itu" Tangan pucat itu mengibas-ngibas di depan wajahnya. "Kau" Jemari lentik itu menunjuk Hermione tepat didepan hidungnya "Adalah salah satu dari orang spesial. Dan aku adalah pemandu mu."

Hermione menepis tangan pucat dengan kuku lancip itu "Ya, aku baru mengetahuinya pagi ini, ternyata aku 'anaknya merlin'." Ia sama sekali tak berminat dengan bualan penuh omong kosong ini "Orang bodoh mana yang percaya dengan ocehan mu?" Yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya, tampak tak tertarik dengan pertanyaan lawan bicaranya. "Kita baru bertemu beberapa menit lalu dan kau mengoceh hal tidak berguna. Kau gila. Aku mulai meragukan kuantitas sekolah ini. Sialan, sekolah macam apa yang menerima murid gila." ia menggerutu

"Well, satu hal Granger, aku tidak gila."

"Lalu apa? Ah, aku paham sekarang, saat lewat peron tidak rasional itu kau pasti tidak bisa menembusnya kan?. Kepala mu pasti terbentur disana, dan otak mu mungkin mengalami benturan yang cukup parah. Aku turut prihatin untuk mu" Tangannya membalik lembar baru

"Segala hal yang terjadi disini semuanya tidak rasional untuk mu Granger. Mengingat kehidupan mu yang sebelumnya yang dikelilingi oleh Muggle lemah."

Hermione semakin menatapnya aneh.

"Baiklah, kau tidak harus mempercayai ku. Kau hanya harus mendengarkan"

Kerutan muncul di dahI Hermione. Ia tidak lagi membantah. Terlalu malas sebenarnya. Rin menganggap itu sebagai persetujuan untuk melanjutkan ceritanya.

Rin mengangguk. Ia meluruskan duduknya. "Dengarkan baik-baik. Catat dalam otak pintar mu itu." Hermione hanya menatap tanpa minat pada orang aneh itu.

"Di dunia ini, ada orang-orang terpilih yang menjadi orang spesial. Mereka biasa di sebut the electus oleh orang banyak. The electus ini, biasanya memiliki kemampuan yang di anugerahkan sejak lahir. Anugerah ini semacam kemampuan yang di titik beratkan pada sesuatu. Ada yang memiliki kemampuan otak luar biasa, sihir luar biasa, penglihatan, mantra, tekad, tubuh, dan masih banyak lagi tergantung orangnya. tetapi, diantara semua anugerah itu, anugerah sihir adalah yang paling hebat. Sejauh ini aku hanya mengenal beberapa orang yang di anugerahi sihir luar biasa seperti itu. Kau tahu Grindelwad?. Ia adalah salah satu the electus yang memiliki sihir luar biasa. Ayah ku sendiri adalah salah satu the electus. Ia di anugerahi oleh pikiran yang luar biasa. Otaknya sangat cerdas. Dan untuk membantu the electus, ada seorang yang di sebut guide. Guide layaknya kompas. Ia akan menunjukan arah yang di inginkan oleh the electus. guide akan selalu mengiringi the electus. Guide ialah mata dan telinga the electus. Di antara guide, ada spesial guide yang keluar dari keteraturan. Mereka biasanya memiliki kemampuan dan kekuatan yang luar biasa. Spesial guide hanya di peruntukan untuk orang spesial yang luar biasa. Dan salah satu dari spesial guide itu adalah aku. Paham maksud ku Granger?"

Hermione terdiam. Mencerna semua kalimat yang di dengarnya tadi. "Jadi, maksud mu, aku adalah salah satu orang spesial luar biasa. Dan kau adalah spesial guide ku?" Rin mengangguk.

"Jadi, kemampuan apa yang di anugerahkan pada ku?"

Rin menggeleng dengan senyum penuh makna di bibirnya. "Kami, para guide memang mengetahui hal-hal yang tidak di ketahui oleh orang biasa. Tapi adakalanya hal-hal yang kami ketahui itu tidak dapat di bagi dengan orang lain. Sekalipun itu dengan the electus. Belajarlah untuk memahami kemampuan mu sendiri Granger."

Surai coklat itu menggeleng. Diwajahnya terpasang ekspresi prihatin. "Sangat salah bagiku karena memutuskan ocehan konyol mu ini"

Alis cantik itu berkerut, dan muncul perempatan imaginasi didahi mulusnya. "Aku tidak sedang mengoceh."

Hermione menggelengkan kepalanya kembali. "Yaah, apapun itu. Kemampuan mu terlihat tak berguna dimataku. Apa bagusnya jika punya kemampuan tapi tak bisa dibagi"

"Untuk kami nikmati sendiri tentu saja. Dan sebagai tugas pertama ku sebagai guide mu, aku akan memperbaiki ini." Tongkat dengan inti bulu phoenix mengayun dengan gerakan anggun. Seberkas cahaya merah muda mengalir perlahan dari ujung kayu oak itu mengarah pada rambut semak Hermione.

"Hei! Kau apakan rambut ku"

"Memperbaikinya tentu saja. Rambut mu terlihat seperti semak belukar. Sangat mengerikan."

"Cih."

"Jangan membantah. Segeralah pakai jubah mu. Kau terlihat menyedihkan dengan pakaian mengenaskan seperti itu. Asrama kita akan berbeda. Jadi baik-baiklah menjaga diri. Jangan terlalu percaya pada orang lain." Titahnya

Hermione menghadapkan wajahnya pada Rin. "Kau mengoceh seperti nenek tua sedari tadi. Berapa umur mu?"

Rin tersenyum meremehkan. "Lebih tua dari mu. Dekil."

"Mulutmu, sialan."

"Aku hanya mengajari mu untuk bertindak sesuai dengan derajat mu. Tak sepantasnya seorang Lady berpenampilan seperti itu. Sangat tidak elit bodoh."

"Kupikir ada kesalahpahaman disini. Hanya karena kau guide ku, bukan berarti kau bisa mengatur diri ku sesuka mu dan harus mengikuti tradisi bangsawan konyol mu itu."

"Kau tidak paham juga?. Ck, kemana otak besar mu itu semak?. Mengkerut?"

Hermione memberikan pelototan terbaik yang ia punya. "Apa yang kau maksud pucat?"

"Dengar. Tak selamanya yang terlihat nyata itu adalah fakta. Kau tidak penasaran dari mana kau mendapatkan anugerah luar biasa itu?. Apa kau sebegitu bingungnya hingga kau melupakan intinya."

"Benar juga. Kenapa aku melupakan hal sepenting itu?. Pasti ada alasan mengapa aku menjadi salah satu dari orang spesial. Bahkan luar biasa spesial. Mengapa aku sangat bodoh?."

"Ya. Kau sangat bodoh. Baru terpikir sekarang?." Gadis itu melirik jam yang melingkar manis di pergelangan tangan rampingnya. "Masih cukup banyak waktu hingga kita tiba di Hogwarts. Jadi aku akan memberitahukannya pada mu, Stupid Young Lady"

Hermione menggeram, kesal dengan makhluk didepannya. Belum satu jam mereka bersama dan manusia satu ini sudah menyebutnya bodoh berkali-kali. Belum ada yang mengatainya seperti itu sebelumnya.

Rin menarik napas dalam. "Apa kau berpikir kau benar-benar muggleborn?."

"Muggleborn?. Apa itu?"

Iris abu itu memutar. "Penyihir yang terlahir dari dua orang tua muggle"

"Muggle?"

"Yaampun. Manusia biasa yang tidak punya kemampuan sihir dan tidak mengetahui tentang adanya dunia sihir"

"Apa maksudnya itu. Kau akan mengejek ku karena aku adalah muggleborn?. Percayalah. Aku sudah cukup bersabar sedari tadi. Mulut mu itu benar-benar butuh pengajaran."

"Cermati dengan kepala dingin Granger. Aku tidak mengejek mu. Aku bertanya. Apa sekarang kau tidak bisa membedakan antara pertanyaan dan ejekan?. Kau mendapat anugerah itu dari ayah dan ibu mu yang juga the electus."

"Orang tua? Apa maksud mu. Aku besar di yayasan tanpa satu pun orang yang pernah mengaku orang tua pada ku."

"Jadi, jika tidak ada orang yang mengaku sebagai orang tua mu, kau tidak punya orang tua begitu?. Lantas kau lahir tanpa ayah dan ibu begitukah?. Kau bukan Tuhan kan?"

"Lalu, dimana orang tua ku?"

"Buku memberi mu pengajaran."

"Kenapa tidak kau saja yang bilang?"

"Mulut ku sudah kering."

"Dan kenapa kau pikir aku akan percaya dengan ucapan tak masuk akal mu itu. Kita baru bertemu beberapa menit yang lalu. Dan kau mengoceh tentang hal-hal yang tidak masuk akal. Tidak ada alasan aku mempercayai orang asing seperti mu."

"Aku tidak menyuruh mu untuk percaya pada ku. Karena apabila kau langsung menelan bulat-bulat ucapan ku barusan, kau adalah orang terbodoh di dunia. Aku menyuruh mu untuk mencari tahu sendiri Granger."

Hermione menatap tak percaya pada gadis kecil di depannya ini. Apa maunya?. Ia memberitahu hal yang sangat tidak masuk akal lalu menyuruh untuk tidak mempercayai semua ucapannya tapi menyuruhnya mencari. Omong kosong apa ini?

"Jangan menatap ku seperti itu. Kau terlihat bodoh. Aah. Omong-omong aku belum memperkenalkan diri ku dengan benar. Nama ku Fujiwara no Seira. Pewaris tunggal keluarga Yamada. Keluarga penyihir nomor satu di Jepang. Kau bisa memanggil ku Rin. Salam kenal."

Hermione tergelak "Apa-apaan itu? Anak yang baik dan suci?. Dalam sekali lihat semua orang tahu bahwa wajah mu sama sekali tidak mencerminkan 'baik dan suci'. Astaga, lelucon payah macam apa ini." Tawanya masih berderai, sedangkan yang menjadi objek tertawaan Hermione hanya dapat memberengut. Bahasa Jepangnya memang tidak terlalu baik, tetapi sedikit banyak ia cukup tahu. Karena disekolahnya dulu Bahasa Jepang merupakan salah satu pelajaran wajib. "Hermione Jean Granger." Ujarnya masih dengan tawa yang tersisa.

Wajahnya masih berkerut, "Nah Hermione, karena kita sudah berkenalan dengan selayaknya, berarti sekarang kita adalah teman. Bukan begitu?. Mulai saat ini juga, kita akan lebih sering bersama karena sudah di takdirkan begitu jadi mari berhubungan baik." Keduanya berjabat tangan. Perkenalan yang aneh. Mengingat mereka bertengkar lebih dahulu sebelum menyebutkan nama masing-masing.

"Nah, sebagai awal yang baik. Aku akan membantu mu untuk membenahi penampilan mengenaskan mu ini." Kembali ayunan tongkat dengan inti bulu phoenix itu menghasilkan seberkas sinar yang membuat pakaian Hermione licin tanpa cela.

"Ck, bisakah kau tak merecoki style fashion ku?" Geramnya kesalnya

"Kau sebut itu fashion?. Yang benar saja. Bahkan style nenek ku lebih baik ketimbang itu."

"Bukan urusan mu sialan"

"Languange, Granger. Ambil ini." Ia melemparkan sebuah cincin perak yang seukuran dengan jari orang dewasa. Tak ada ukiran maupun hiasan di cincin itu.

Dengan reflek cincin itu mendarat di genggaman Hermione. "Apa ini?"

"Cincin"

Hermione mendengus tak sabar. "Orang buta sekalipun tahu bahwa benda bulat berlubang ini bernama cincin. Yang kumaksud, kegunaanya, dan kepunyaan siapa"

"Ah, seperti itu. Bertanya yang benar, Granger" dengan tampang polos yang akan membuat bayi malu, gadis itu kembali menyilangkan kakinya. "Itu milik mu dari ibuku"

Hermione menatap si cincin dan wajah menyebalkan itu bergantian "Pardon?"

"Ck, pakai saja. Kau banyak Tanya"

Hermione hanya diam, terlihat ragu dengan keamanan cincin itu. demi Merlin, ini dunia sihir. Barang seperti apapun akan menjadi senjata jika kau masukkan mantra kedalamnya. Dan cincin ini mengandung aliran sihir yang stabil tetapi juga kuat. Jelas sekali, bahwa seseorang sudah memasukkan sihir kesini.

Rin sangat tak sabar dengan manusia didepannya ini. Ia menarik cincin itu dan memasukkannya dijari tengah Hermione. "Ini aman, kau tidak akan mati dengan memakainya bodoh"

Cincin itu perlahan mengetat, menyesuaikan dengan ukuran jari Hermione. Rasa hangat menyebar disekitar jarinya. Ia terkejut "Kau yakin ini aman?"

"Astaga Granger, itu aman. Lihat, aku juga memakainya" Rin mengangkat tangan kirinya, dan terdapat cincin yang sama dijari tengahnya.

Wajah Hermione mengerut, "Ugh, ini menjijikan. Kita terlihat seperti pasangan yang baru saja menikah"

Rin membiru, tampak mual mendengar ucapan Hermione "Ugh, kendalikan otak sialan mu itu. Jangan berkhayal hal mengerikan seperti itu, bodoh"

Mereka terdiam dengan wajah yang menghadap kearah jendela. Masih terganggu dengan ucapan sebelumnya.

Kereta behenti bergerak menandakan mereka telah tiba di Hogsmaede. "Cepatlah ambil barang mu. Kita akan turun."

Keduanya beranjak keluar dari kereta. Baru saja kakinya menapak ditanah, terdengar seseorang berteriak dari arah kanan mereka. "Attention!. Siswa tahun pertama harap lewat sini. Ayo cepat. Jangan terlalu lama." Manusia setengah raksasa itu berteriak. Murid tahun pertama berderet mengikuti manusia raksasa itu.

"Hurry up Granger. Kau berjalan atau merangkak?" Rin kembali merecokinya.

Hermione mendengus tidak suka. Gadis di depannya ini sangat cerewet. Mereka tampak seumuran. Tapi ia memerintah Hermione layaknya ia anak kecil. Menyebalkan.

"Jangan mengumpat ku didalam hati. Aku mendengar setiap ocehan mu itu."

Hermione tidak lagi bersuara walau dalam hati sekalipun. Ia terdiam mengalihkan pandangannya kedepan pada bangunan tinggi nan megah yang berdiri kokoh di depannya.

Ia melupakan kekesalannya hanya dengan membayangkan bahwa kini ia akan menjadi salah satu murid dari sekolah sihir nomor satu di Inggris itu. Ia sangat bahagia.

"Kita akan naik perahu yang disana untuk menyeberang. Ikuti aku." Kembali anak-anak tahun pertama mengikuti petunjuk si raksasa dengan patuh. Manusia besar itu membawa mereka menyebrangi danau. Sesampainya disana, ia membawa anak-anak itu kepada seorang Professor dengan topi runcing berjubah hijau. Matanya menatap kerumunan itu lalu beralih pada si manusia besar "Thank You Hagrid."

"Your Welcome. Professor" Tanpa banyak bicara ia berlalu keluar meninggalkan rombongan. Anak-anak membuka jalan untuknya.

"Welcome To Hogwarts untuk kalian semua. Saat kalian melewati pintu ini, kalian akan bergabung dengan siswa lainnya. Tapi sebelum itu kita akan melakukan seleksi terlebih dahulu untuk menentukan asrama. Asramanya adalah Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw dan Slytherin. Saat kalian disini, asrama mu adalah keluarga mu. Tujuan kalian adalah mendapatkan nilai sebanyak-banyaknya. Jika melanggar aturan berarti potongan nilai untuk asrama. Dan pada akhir tahun, asrama dengan perolehan nilai terbanyak akan mendapat Piala Asrama. Nah, kids upacara penyeleksian akan dimulai." Ujar si wanita topi runcing. Ia berbalik meninggalkan mereka. Masuk keruangan lain melalui pintu besar. Saat pintu terbuka, terdengar bunyi gaduh seperti lebah yang mendengung dari sana.

Hermione memandang orang di sekelilingnya. Saat itulah ia bertemu tatap dengan seorang anak yang memakai kacamata dengan surai hitam. Matanya menyipit karena merasakan getaran itu lagi. Tapi tak sehebat saat ia berpandangan dengan nenek tua tadi. "Ia adalah Harry Potter. Kau merasakannya?" Bisik seseorang tepat di telinganya.

Hermione menggeram sebelum menoleh. "Bisakah kau jauh-jauh dari ku?. Itu Harry Potter yang terkenal itu?. Merasakannya? Apa maksud mu?" ujarnya bingung

"Bertanya satu persatu bodoh. Ya, itu Harry Potter anaknya James Potter dan Lily Potter. Kau pasti paham apa maksud ku. Nanti, setelah selesai makan malam. Temui aku di menara astronomi. Kau tahu tempatnya kan. Ada yang ingin kubicarakan disana. Ah, kuharap kau membaca ini jadi tidak terlalu bingung nanti" Ujarnya menyerahkan sebuah buku dengan tebal satu inci pada Hermione

Wanita dengan jubah hijau lumut itu kembali dengan selembar parkamen ditangannya. Ia menatap sekeliling sebelum bicara. "Baiklah. Kita akan melakukan penyeleksiannya sekarang. Follow me." Ia melangkah masuk melewati pintu besar yang menghubungkan dengan sebuah aula yang dipenuhi dengan ratusan manusia.

Aula itu dipadati dengan murid yang duduk di empat meja, diatas meja itu terdapat banyak panji berbeda warna. Mulai dari kanan arah pintu masuk, panji mereka berwarna biru dengan burung gagak hitam menghiasi, lalu di sebelahnya sekumpulan anak-anak dengan dasi merah dan terdapat ukiran singa dibagian dada kiri atas mereka, dan dikiri pintu masuk, terlihat panji lain dengan warna kuning hangat dan seekor musang ditengahnya, lalu dikanannya kumpulan anak dengan aksesoris serba hijau serta ular. Hanya dengan sekali lihat, kau akan tahu, bahwa asrama itu hanya di peruntukkan untuk orang-orang yang penuh dengan ambisi serta kelicikan yang cukup tinggi.

Dibagian depan, orang dewasa dengan berbagai warna jubah duduk mengelilingi meja yang membentuk huruf U. Dapat dipastikan, bahwa mereka adalah para pengajar disekolah ini.

Semua mata tertuju pada rombongan kecil itu. Dan itu membuat sebagian besar anak bergerak gelisah. Pandangan mereka tak mau diam sedari tadi, menelisik sekitar melihat hal-hal ajaib yang memanjakan mata mencoba mengobati rasa gugup yang mendera sedari tadi. Mereka terus berjalan sampai depan. "Tunggu sebentar. Sekarang, sebelum kita mulai, Professor Dumbledore akan memberikan beberapa sambutan."

Pria tua dengan jenggot seperut yang duduk tepat ditengah itu berdiri. "Welcome to Hogwarts untuk kalian" Matanya turun menatap rombongan tahun pertama "Aku punya beberapa pengumuman di awal semester ini. Untuk para siswa kuingatkan bahwa hutan terlarang berbahaya bagi semua siswa. Dan satu tambahan lagi, bahwa koridor di lantai tiga sebelah kanan tidak boleh di kunjungi. Bagi yang melanggar akan mendapat hukuman yang tidak menyenangkan. Thank you." Ia mengakhiri dengan kembali duduk di singgasananya.

Professor dengan topi runcing maju, kembali mengambil perhatian anak-anak tahun pertama "Baiklah, saat kupanggil nama kalian, majulah kedepan. Aku akan meletakkan topi seleksi di atas kepala kalian. Dan kalian akan di seleksi ke asrama kalian masing-masing. Fujiwara no Seira" Nama pertama di sebutkan

Rin melangkah dengan percaya diri. Ia mengangkat dagunya angkuh khas para bangsawan. Si Professor meletakan topi yang bisa berbicara itu di atas kepalanya. Belum sempat, topi itu menutupi kepalanya hanya menyentuh ujung surai peraknya yang berkilauan tertimpa cahaya lilin. Topi itu sudah berteriak dengan lantang. "Slytherin" ia tersenyum puas. Rin turun dan menuju asrama barunya, para ular telah menanti dengan seringai licik menghiasi sangat cocok dengan gadis itu sendiri.

Hermione menatap tajam gadis itu. "Cih. Dasar ular betina."

Rin balas menatap Hermione. "Jangan terlalu sedih Granger. Walau berbeda asrama, aku akan tetap menjadi guide mu. Tak perlu risau."

Hermione membelalak kan matanya. "Barusan itu, kau kan. Didanau tadi juga. Kenapa kau ada dalam pikiran ku?" Ia terkejut setengah mati. Matanya masih menatap Rin yang kini menyeringai.

"Tentu saja itu aku. Yaah, ini adalah manfaat dari cincin tadi. Ini memudahkan kita berkomunikasi." Suara itu kembali terdengar. Ia menghela nafas lega. Pikirnya ia menjadi gila. Ternyata bukan.

"Donovan Wright" Seorang bocah lelaki dengan rambut hitam klimis dan kacamata melangkah maju. Ia duduk dengan perlahan, agar jubah licinnya tidak kusut. Topi itu terpasang. Menutupi surai hitamnya. "Ah, si jenius lainnya." Topi itu bergumam "Kau akan sangat cocok disini. RAVENCLAW!" Si klimis turun dan anak-anak menyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah

"Hermione Granger." Nama ketiga di sebutkan.

Hermione mengumpat pelan. Ia maju perlahan dan menutupi kegugupannya dengan mengangkat dagunya sedikit. Topi itu diletakan pada surai coklat yang kini sudah lebih rapi akibat bantuan Rin.

"Aha!, yang terpilih. Sudah berapa lama aku tidak menjumpai orang seperti mu. Coba kuhitung, setahun, dua tahun, tiga tahun, hmmm, aku lupa kapan terkahir kali aku bertemu dengan.." "Oh, tidak bisakah kau menempatkan ku sekarang?. Semua kegiatan ini membuat ku lapar, kau tahu" Hermione menyela si topi yang berbicara dalam kepalanya.

"Ha, sangat tidak sabaran, kau mengingatkan ku dengan seseorang."

"Siapa?"

"Seorang Lady. Dan kebetulan sekali, ia juga spesial seperti mu."

"Apakah kau ingat namanya?"

"Oh, ayolah kids. Aku ini hanya topi tua. Dan kejadian itu sudah lewat puluhan tahun lalu. Jangan berharap terlalu banyak nak."

"Ck, tak berguna."

"Untuk ukuran seorang wanita, kau itu terlalu berani"

"Yah, terserah mu saja. Cepatlah, aku kelaparan tuan Topi"

"Gryffindor!" Topi itu kembali berteriak. Penghuni asrama dengan lambang singa itu bersorak menyambut anggota baru mereka. Hermione turun dengan wajah cerah. Setidaknya tidak Slytherin. Pikirnya senang. Ia duduk di sebelah lelaki jangkung dengan rambut merah keriting. Semua orang menyambutnya dengan baik.

Kembali, Professor menyebutkan nama keempat. "Draco Malfoy" ruangan itu kembali hening. Semua mata terfokus pada si pirang. Bertanya-tanya, akan dimakah pewaris Malfoy ini ditempatkan. Professor mengangkat topi itu sedangkan Draco Malfoy duduk di kursi yang telah di sediakan. Topi itu bahkan belum sempat menyentuh ujung rambut platinanya ketika ia berteriak "Slytehrin!".

Malfoy menyeringai dengan puas. Sedangkan sang Professor tampak menghela nafas. Satu lagi ular bertambah hari ini.

Ronald Weasley salah satu anggota klan Weasley mencibir si Malfoy yang duduk dengan congkaknya. "Ia kira ia adalah yang terbaik disini. Dasar sombong." Disebelahnya Harry Potter mengangguk membenarkan.

"Evie Holloway" seorang anak dengan rambut hitam setengah coklat dan mata bulat duduk dengan gugup. Topi itu kembali bergumam. Menimbang-nimbang akan diberikan kemana gadis itu. "Hufflepuf" tepuk tangan riuh menyambut ketika ia turun dari kursi dan duduk mengambil tempat di asrama baru.

"Wang Jin Xu" Bocah lelaki dengan mata setajam elang dan rambut hitam yang tertata rapi. Ditambah dengan wajah kecilnya yang rupawan di hiasi dengan hidung macung dan kulit pucat. Sangat sempurna. Ia mengambil tempatnya di kursi menunggu si topi untuk meneriakan asramanya. "Ah, lagi-lagi anak spesial. Kenapa banyak sekali anak spesial hari ini?" Topi tua itu bergumam, Nampak bingung sepertinya.

"Ada yang lain lagi?"

"Yaah, beberapa orang"

"Berapa?"

"Jangan terlalu penasaran kids. Itu tidak baik"

"Tsk, kalau kau tak berniat memberitahu, jangan membuang waktu ku"

"Ha!. Anak pemarah lainnya. Slytherin!" Kembali penghuni asrama itu bersorak ketika mereka mendapatkan anggota baru.

Acara seleksi itu terus berlanjut. "Susan Bones"

"Hufflepuff"

Susan turun dengan gembira. Asrama Hufflepuff menyambutnya dengan senyuman ramah.

Sebagian anak telah di seleksi pada asrama masing-masing saat nama salah satu keluarga rambut jahe dipanggil "Ronald Weasley"

Ron maju dengan langkah gugup. Tangannya mengepal dan ia menggigit bibir bagian dalamnya untuk mengatasi groginya yang tampak jelas. Topi telah di letakan di kepala merahnya. Ia tersentak kaget ketika topi itu berteriak tiba-tiba. "Hah, seorang Weasley. Aku tahu tempat yang paling tepat untuk mu. Gryffindor"

"Harry Potter" saat nama Harry di sebutkan, seisi aula mendadak hening. Ratusan pasang mata mengikuti si anak fenomenal. Mereka menantikan asrama apa yang akan di masuki oleh si anak yang bertahan hidup. Topi lusuh itu diletakkan di kepalanya. "Kemana sebaiknya kau kutempatkan?. Kau berani. Sangat berani, tetapi juga pandai dan ada rasa ambisius yang besar dalam dirimu"

"Jangan Slytherin" Harry memohon, ia mengingat perkataan Ronald Weasley sebelumnya yang menyebut bahwa anak-anak Slytherin adalah sekumpulan penyihir jahat.

"Kenapa?. Kau bisa menjadi sangat bersinar di Slytherin."

Harry sama sekali tak mendengarkan ucapan topi itu. "Gryffindor saja" Mohonnya kali ini

"Kau ingin ditempatkan disana?"

"Ya"

"Tapi menurutku kau lebih cocok di Slytherin"

"Tidak. Jangan masukkan aku disana, Please"

"Baiklah. Jika kau memang ingin seperti itu. Gryffindor!" Setelah beberapa saat akhirnya topi itu membuat keputusan sesuai dengan yang diinginkan Harry. Harry turun dengan langkah ringan, ia mengambil tempat duduk tepat disebelah Hermione. Yang menghadap langsung meja Slytherin diseberang mereka. Semua penduduk Gryffindor masih bertepuk tangan untuknya. Sangat senang karena salah satu orang terkenal berada di asrama mereka.

Nama-nama lain kembali disebutkan. Hingga ke anak yang terakhir ditempatkan di Ravenclaw. Acara seleksi pun berakhir dengan di mulainya makan malam perdana mereka di Hogwarts.

Rin mengangkat pialanya pada Hermione saat gadis itu menoleh padanya. Hermione melupakan kekesalannya sejenak pada gadis bersurai perak itu dan mengangkat piala yang berisi jus labu ditangannya dengan seringai kecil.


Jum'at, 16 Juni 2017

05.18 WIB


Sebenarnya cerita ini udah lama banget dibuat, seperti yang tertulis diatas. Tapi karena aku ini punya penyakit labil yang parah banget. Jadinya tiap buka file ini pasti ada yang ku ubah. Awalnya, cerita ini gak sampe 3000 word. Cuma sampe seribuan, dan karena penyakit kronis aku ini, cerita ini nambah ampe 3000 hampir 4000an.

Ada beberapa adegan yang aku ambil dari film Harry Potter nya langsung. Seterusnya juga begitu. Tapi gak semua kok, Cuma garis besarnya aja. Aku gak mau mengubah cerita intinya, soalnya Madam Rowling itu keren banget. Maaf kalo ada yang komplain masalah ini.