Naruto dan karakter lainnya bukan punya saya.
.•.
Setelah menjalankan misi aneh yang berujung kekacauan, Uzumaki Naruto, pahlawan yang dijuluki si rubah dingin karena selalu memakai topeng rubah dan membekukan setiap tempat aksinya, diberikan misi oleh Yahiko pemimpin Opah (Organisasi pahlawan) untuk melindungi seorang anak yang jadi korban bully di tempat belajarnya.
.•.
"Wah wah wah... Bukankah itu sudah terlihat parah!" ucap pria berambut putih dengan mulut ditutupi masker tengah berdiri di dahan pohon yang paling tinggi.
Mata onixnya menatap daerah di bawah awan mendung dengan kilatan petir menyambar dan kepulan asap pekat dari bangunan yang hancur terbakar akibat serangan monster yang terus meraung menyerburkan api panas.
"Makanya kita harus cepat ke sana, senpai!" ucap pemuda berambut hitam pendek dengan mata merah menyala, kakinya mulai bergerak meloncati dahan pepohonan.
"Ya ya aku tahu!" ucap Kakashi, pria berambut putih bermasker itu menyusul juniornya. "Oh ya Shisui, di mana si rubah?"
"Dia sudah duluan, senpai!" balas pemuda yang dipanggil Shisui itu sekilas melirik Kakashi.
"Gawat..." dengan perasaan was-was, Kakashi mempercepat gerakannya. "Kalau dia sampai duluan... bisa-bisa tempat itu malah tambah kacau!"
"Kayanya kita telat deh, senpai!" ucap Shisui melihat seseorang sedang terbang tinggi dengan sayap membentang lebar terbuat dari es, diatas tempat yang diserang monster.
"Dasar gila! Apa dia bermaksud membekukan semuanya sekaligus?"
"Memang dia selalu begitu'kan!" Shisui berhenti di suatu bangunan yang kerusakannya tidak terlalu parah. "Kalau dilihat dari dekat, ternyata monster itu menyeramkan juga yah!" sahutnya antara takjub dan ngeri.
"Hei Naruto... jangan dibekukan semuanya! Lebih baik monsternya saja!" teriak Kakashi sambil mendongak menatap remaja berambut pirang dengan wajah ditutupi topeng rubah yang tengah asik terbang.
"Berisik, tanpa disuruh pun aku sudah tahu!"
"Wah wah ternyata dia penurut juga yah!" ucap Kakashi dengan riang, membuat Shisui yang mendengarnya pun berkeringat sebiji jagung.
'Apanya yang penurut?' batin pemuda itu menganggap seniornya aneh.
Wuss Krak krak
"Ouy ouy bocah gila... " racau Kakashi meloncat kesana kemari menghindari kekuatan Naruto yang membekukan semua tempat di sana.
"Kubilang monsternya saja!" teriak pria itu kesal karena ucapannya tidak digubris.
Sementara Shisui sudah berdiri di dahan pohon yang tidak terjangkau kekuatan si pirang.
"Naruto, bagaimana dengan para penduduk? Bukankah kita ke sini untuk menyelamatkan mereka!" teriak pemuda itu menatap tempat yang porak poranda tadi kini semuanya sudah membeku termasuk monster yang mengacau.
"Mereka baik-baik saja senpai!"
Shisui mengalihkan perhatiannya ke hutan sampingnya. Ternyata yang menjawab itu tiruan si pirang sedang bersama puluhan penduduk yang berhasil diselamatkannya.
"Oh baguslah!"
"Ouy bocah gila... Mau kemana, kau?"
Melihat para penduduk yang selamat, Shisui menghela napas saat mendengar teriakan Kakashi yang marah-marah akibat diabaikan si pirang.
Turun dari dahan pohon, pemuda berambut hitam pendek itu mendekati tiruan si pirang. "Sekarang, dia mau ke mana lagi?" tanya Shisui.
"Tidak tahu, senpai!"
"Hah...serius! Bukannkah kau tiruannya!?" ucap Shisui seakan tidak percaya.
"Maaf senpai! Meskipun tiruannya, saya memiliki pemikiran dan sipat yang berbeda dengannya"
'Ho... pantas saja dia terlihat sopan, berbeda sekali dengan yang aslinya' batin Shisui membandingkan.
"Maaf senpai! Karena tugas saya di sini sudah selesai, jadi saya pamit dulu" ucap tiruan si pirang sebelum menghilang meninggalkan kepulan asap.
"Kakashi senpai, misi kita sudah selesai! Cepat berikan laporan pada ketua!" teriak Shisui pada seniornya yang masih mencak-mencak tidak karuan setelah ditinggalkan si pirang.
"Berisik... laporkan saja sendiri!"
Shisui kembali menghela napas mendengar balasan dari Kakashi. 'Haah... kenapa aku bisa menjalankan misi bersama senior dan junior yang sama-sama menyebalkan?' Pikirnya
Sekian terimakasih.
