Naruto (ナルト) disclaimer Masashi Kishimoto
Sword Art Online (ソードアート・オンライン) disclaimer Kawahara Reki
NARUTO STORY IN THE NEW WORLD
Summary: Menceritakan kisah kehidupan sang pahlawan dunia shinobi di dunia barunya. Dia kini hidup dijaman yang serba modern, ribuan tahun setelah jaman shinobi berakhir. Bagaimanakah Kisahnya?
Chara : Uzumaki Naruto, Konno Yuuki, Yuuki Asuna, Kirigaya Kazuto
Rated : M
Genre: Romance, Fantasy, Game, Adventure, Friendship, Hurt/Comfort, Slice of Life
Warning : Ooc, Ada Fem Kirito, Semi canon, tidak suka tidak usah dibaca
Maaf kalau ada kesamaan cerita dengan fic lainya atau kesalahan penulisan karena fic ini karena setiap manusia tak lepas dari kesalahan.
RnR please .. hehehehehe
ARC 1: MOTHER'S ROSARIO
CHAPTER 1: PROLOGUE
TES...
.
"Uh!"
Saat aku membuka mataku, aku berada disebuah tempat yang tidak aku kenal.
"Dimana ... aku?" tanyaku sambil terbata-bata
Aku kemudian mulai mengingat-ingat kembali apa yang terjadi padaku sebelumnya.
'Sebelumnya, aku berada di lembah kematian ... tempat dimana Hasirama Senju dan Uchiha Madara bertarung habis-habisan,'
Aku kemudian berusaha mengingat-ingat kembali apa yang aku lakukan dilembah kematian.
'Oh iya, saat itu aku sedang berhadap-hadapan dengan sahabat karibku, Uchiha Sasuke ... dia adalah sahabat karibku sekaligus juga seorang aku anggap sebagai rivalku, disana, dilembah kematian, kami melakukan pertarungan yang sebelumnya sudah diramalkan oleh Kami-sama, pertarungan yang mengakhiri perseteruan panjang antara reinkarnasi Indra dan Ashura'
Aku terus menggali ingatanku yang sempat menghilang beberapa waktu yang lalu
'Diakhir pertarungan, aku berhasil mengalahkan Sasuke, namun aku menderita luka yang cukup serius ... aku kehilangan tangan kananku, waktu itu, aku melihat darah ditanganku mengalir kemana-mana, walau waktu itu aku merasakan rasa sakit disekujur tubuhku, entah mengapa perasaanku begitu tengan dengan hal itu'
Aku tidak tahu kenapa kau berada ditempat ini, tempat ini begitu gelap dan hanya terdengar suara tetesan-tetesan air yang menemaniku disini
Namun tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang yang sedang berbeciara kepadaku dan memecha kesendirianku
"Kau sudah berusaha dengan baik, Naruto"
Suara itu, aku mengenali suara orang yang memanggilku itu, aku kemudian segera bangun dan mencari sumber suara itu
Aku mengedarkan pandanganku kemana-mana, namun karena terlalu gelap aku tidak bisa melihat apapun, tiba-tiba saja pencahayaan diruangan tersebut menjadi lebih luas, dan dari balik bayangan muncul dua orang yang memakai pakaian berwarna putih dengan nagatama yang menghiasai pakaian mereka berdua
Yang satu duduk bersila dengan kondisi tubuh melayang diudara, dan dibawahnya terdapat sembilan buah gudodama. Lalu, yang satu lagi sedang berdiri tegap menghadap karahku sambil membawa sebuah tongkat berwarna hitam.
"Rikudo-ojiichan" ucapku memanggil orang yang sedang melayang diudara
"Kau sudah berusaha dengan baik, Naruto" ucap Rikudo-ojichan sambil tersenyum
"Uzumaki Naruto, aku ucapkan terima kasih karena sudah mengembalikan perdamaian didunia yang dicipakan oleh kakakku" ucap orang yang satu lagi
Aku menaikkan sebelah alisku saat mendengar orang disebelah Rikudo-ojichan berbicara kepadaku.
"Ano ... kau siapa?" tanyaku
Dia hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaanku itu
"Entahlah, apa kau bisa menebak siapa aku?"
Aku berpikir keras, aku mulai menggerakkan setiap sel diotakku ini. Pertama aku mulai melihat keseluruh bagiannya, dia mirip dengan Rikudo-ojiichan, tapi dia tidak melayang.
Perhatianku kemudian teruju kepada matanya yang mirip sekali dengan Byakugan dari klan Hyuga. Aku mulai memutar baikkan otakku, dia kelihatan mirip dengan Rikudo-ojichan, selain itu dia juga punya Byakugan yang mirip dengan Byakugan milik klan Hyuga. Tunggu, jangan-jangan ... dia
.
"Jangan-jangan kau adalah ... Otsutsuki Hamura" ucapku
"Ho, aku terkesan, meski kita belum pernah bertemu, tapi kau bisa menebak siapa diriku" ucap Hamura
"Soalnya, Rikudo-ojichan pernah cerita sedikit tentangmu" ucapku "Etto ... kalau tidak salah, Hamura-ojichan adalah adik dari Rikudo-ojichan, benar kan?" tanyaku
"Itu benar" jawab Hamura-ojichan
"Tapi meski aku dan Hamura ini bersaudara, kekuatan yang kami miliki berbeda" ucap Rikudo-ojichan
"Eh!"
"Ibu kami, Kaguya Otsutsuki mewariskan kekuatan yang berbeda kepada kami, ... kakakku mewarisi sharingan milik ibuku, sedangkan aku mewarisi Byakugan milik ibuku" ucap Hamura-ojichan
"Begitu, ya" aku mengangguk paham
"Lalu, apa maksud kalian yang mengatakan bahwa aku telah berusaha dengan baik?" tanyaku
"Uzumaki Naruto, saat ini kau telah berhasil memenangkan perang besar dunia shinobi keempat, dan juga sekaligus mengakhiri perseteruan panjang reinkarnasi Indra dan Ashura yang sudah berlangsung selama ratusan tahun, aku ucapkan terima kasih banyak kepadamu dari dalam lubuk hatiku yang terdalam"
"Rikudo-ojichan, kau tidak usah berterima kasih kepadaku, lagipula aku melakukannya karena aku juga tidak ingin perseteruan ini berlangsung lebih lama lagi" ucapku tersipu malu karena dipuji oleh seorang Rikudo Sennin, sang leluhur para shinobi.
"Jangan bersikap begitu, sebagai orang yang telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan dunia, aku pantas untuk mendapat pengormatan yang lebih" ucap Hamura-ojichan
"Be-begitu, ya..."
Sesaat aku terdiam, otakku menangkap ada yang salah dengan perkataan Hamura-ojichan barusan.
"Tunggu dulu ... barusan kau bilang 'mengorbankan nyawa'?" tanyaku
"Ya tentu saja"
"Apa maksudnya itu?"
Namun tak ada satupun yang menjawab pertanyaanku, baik itu Rikudo-ojichan maupun Hamura-ojichan. Mereka berdua hanya bertukar pandangan satu sama lain sebelum kemudian kembali menolehkan pandangan mereka kearahku
"Apa kau tidak menyadarinya, Naruto?" tanya Hamura-ojichan
"Eh! Menyadari apa?" tanyaku
Aku bertanya dengan penuh kebingungan
"Uzumaki Naruto, kau ... sudah mati" ucap Hagoromo-ojichan
Sat mendengra hal itu, aku benar-benar terkejut. Saat Rikudo-ojichan mengatakan bahwa aku ini sudah meninggal, benar-benar membuatku terkejut. Tubuhku hanya bisa terdiam ditempatnya saat ini.
"Ja-jadi aku benar-benar sudah meninggal" ucapku
Aku menundukkan wajahku, mangepalkan tanganku kuat-kuat, aku merasa menyesal karena telah melanggar janji yang aku buat pada Tsuande-obachan.
"Maaf, Tsunade-obachan ... padahal aku sudah berjanji ... bahwa aku tidak akan mati ... sebelum menjadi Hokage ..." ucapku
Aku kemudian teringat akan sesuatu yang masih harus aku lakukan didunia.
"Aaa, gawat!" pekikku
"Ada apa Naruto" tanya Hamura-ojichan
"Aku lupa, masih ada Mugen Tsukoyomi!" ucapku "Kekuatan milik Sasuke dan kekuatanku adalah kunci untuk mematahkan jurus itu, kan!? Kalau aku mati, Sasuke tidak akan bisa menghentikan Mugen Tsukoyomi seorang diri, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Naruto dengan nada sedikit panik
Rikudo-ojichan dan Hamura-ojichan yang sebelumnya hanya terdiam saja, kini mulai memperlihatkan senyuman tipis diwajah mereka berdua.
"Kau sungguh orang yang berhati mulia ,Naruto" ucap Hamura-ojichan
"Walau sudah meninggal... kau masih saja mencemaskan keadaan duniamu" ucap Rikudo-ojichan
"Hal itu tenu saja sudah jelas ,bukan! Aku tidak mungkin bisa meninggalkan duniaku dalam keadaan seperti itu" tegas Naruto
"Kau tenang saja, jurus itu sudah berhasil dipatahkan" ucap Hamura-ojichan
"Eh! Tapi .. bagaimana caranya?"
"Sasuke meminjam kekuatan dari kesembilan bijuu untuk mengakhiri genjutsu Mugen Tsukoyomi dan menyelamatkan dunia" jelas Rikudo-ojichan
Aku mengembuskan nafas lega saat mendengar hal tersebut, ini artinya aku sudah tidak punya tanggungan lagi didunia ini dan bisa beristirahata dengan tenang.
"Sejak awal, akulah orang yang patut dislahkan karena telah menciptakan sebuah masalah, aku tidak pernah menyangka kalau perkara kecil yang kami buat semenjak kami menyegel ibu kami akan menajdi maslah besar dimasa depan" ucap Rikudo-ojichan dengan nada menyesal
"Jangan berkata begitu, ini bukan sepenuhnya salah ojichan, kok!" ucapku berusaha menghibur Rikudo-ojichan
Setelah itu, untuk sesaat kami terdiam dalam keheningan, mereka berdua saling menatap satu sama lain dan kemudian mengangguk. Rikudo-ojichan dan Hamura-ojichan kemudian memintaku untuk maju kedpan dan kemudian memintaku untuk mengulurkan kedua tanganku.
"Naruto, ulurkan kedua tanganmu" pinta Hamura-ojichan
"Eh! Untuk apa?"
"Ada yang ingin kami berikan kepadamu" ucap Rikudo-ojichan
Dan tanpa basa-basi lagi, aku langsung mengiyakan permintaan mereka berdua. Aku pun mengulurkan kedua tanganku. Mereka berdua kemudian memberiakn sesuatu padaku.
Saat telapak tangan Rikudo-ojichan dan Hamura-ojichan menyentuh kedua telapak tanganku, aku merasakan sensasi hangat yang mengalir didalam setiap inti sel tubuhku. Disaat yang sama, aku melihat tubuhku mulai mengeluarkan cahaya yang cukup terang
'Apa ini?' batinku kebingungan
Aku masih kebingungan dengan apa yang terjadi, tubuhku perlahan mulai berubah menjadi serpihan-serpihan cahaya-cahaya. Namun berbeda denganku, Rikudo-ojichan dan Hamura-ojichan terliaht tenang-tengan saja
"Rikudo-ojichan dan Hamura-ojichan, apa yang terjadi denganku? Tanyaku dengan nada panik
"Naruto, ini adalah kesempatan bagimu untuk memulai lembaran hidup yang baru" gumam mereka berdua
"Apa...!"
Sebelum aku sempat menanyakan maksud dari perkataan mereka berdua, tubuhku mulai menghilang menjadi serpihan cahaya. Sebelum akhirnya aku benar-benar kehilangan kesadaranku.
.
.
.
Gelap itulah hal pertama yang aku lihat. Ah iya, aku baru ingat, beberapa saat yang lalu aku bertemu dengan Rikudo Oji-chan dan Hamura Oji-chan. Aku pun mengingat kata-kata terakhir yang mereka ucapkan padaku, 'ini adalah kesempatan bagimu untuk memulai lembaran hidup yang baru'
Sambil memikirkan hal itu, aku perlahan membuka mataku. Hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit sebuah ruanganya yang berwarna putih.
"Ini ... dimana?" tanyaku
Namun sesaat aku merasakan ada yang aneh dengan badanku.
Aku pun memutuskan untuk mendudukkan tubuhku secara perlahan karena perasaan pusing masih terasa dikepalaku.
"... ...Eh." Aku melihat tanganku sendiri sembari bergumam dengan sedikit helaan nafas.
Kenapa tubuhku terlihat seperti umur 12 tahun, jari-jari bahkan terlihat mengecil dari biasanya dan ukuran Kaki juga mengecil, tinggi badanku lebih kecil, begitu juga dengan surai pirangku agak lebih pendek, ukuran tubuhku ini persis saat aku baru lulus academy ninja.
'Apa yang terjadi dengan tubuhku?' tanyaku dalam hati
KRIET!
Tiba-tiba aku mendengar suara seperti pintu yang terbuka.
Aku pun segera mengalihkan pandanganku kearah sosok yang membuka pintu tersebut. Disana aku sedikit terkejut saat melihat seorang pria dan wanita yang membawa beberapa makanan.
Pada awal sebelum mereka masuk, nampaknya mereka tengah saling mengobrol.
Saat melihatku yang sudah tersadar, ekspresi wajah mereka jadi sedikit berubah.
"Ternyata kau sudah sadar, ya!?" Ucap sang wanita.
Sambil menyadarkan diri dari keterkejutanku, aku pun langsung melakukan hal paling logis yang dilakukan setiap orang ketika bertemu orang yang beru pertama kali dia temui, yaitu bertanya.
"Ano... kalian siapa dan dimana aku?" Tanyaku.
Sambil tersenyum lembut, mereka berjalan mendekatiku.
"Namaku Dokku dan ini istriku Shiseru" Ucap laki-laki tersebut yang kini diketahui bernama Dokku.
"Kau ada dirumah sakit sekarang, kami menemukanmu pingsan ditengah hutan!" Ucap sang istri yang bernaa Shiseru.
'Ditengah hutan?'
Aku menaikkan kedua alisaku sedikit saat mendengar hal tersebut. Mereka berdua menemukan diriku sedang pingsan ditengah hutan.
"Dokter bilang kau tidak mengalami luka yang parah, mungkin hanya kelelahan saja, jadi sebaiknya kau istirahat saja" Jelas Dokku
"Begitu ya ... terima kasih sudah menolongku!"
"Tidak usah dipikirkan ... ngomong-ngomong namamu siapa?" Tanya paman Dokku
"Uzumaki ... Naruto!" ucap ku dengan Nada sedikit lemah
"Sokka, jadi namamu Naruto ya!?" Ucap Bibi Shiseru
Mereka berdua terlihat sangat ramah dan juga baik, saat melihat hal itu Naruto pun menunjukkan senyum lembutnya.
"Nee, Naruto ... kenapa kau bisa ada ditengah hutan?" Tanya bibi Shiseru
"Eh...!?"
Badanku sedikit tersentak kaget saat mendengar pertanyaan itu, tidak mungkin kalau aku harus memberitahu mereka bahwa aku berasal dari dunia lain. Namun aku juga tidak ingin membohongi dua orang yang sudah menolongnya.
Aku bingung harus bilang apa.
"Maa, kalau kau belum bisa mengatakannya tidak apa-apa ... tapi untuk sekarang istirahatlah lebih dulu" Ucap Dokku
Aku hanya membalasnya dengan anggunkan kecil.
Setelah kejadian itu, aku menjadi lebih dekat dengan paman Dokku dan bibi Shiseru. Mereka sangat baik dan juga ramah kepadaku. Saat aku sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit, paman Dokku dan bibi Shiseru mengajakku untuk tinggal bersama mereka.
Aku awalnya merasa sangat canggung dengan keadaan, namun setelah mereka mengangkatku menjadi anak mereka, lama kelamaan hubungan keluarga pun terjalin diantara mereka dengan diriku. Hari-hari kami lalui bersama, mereka merawatku seperti merawat anak kandung mereka sendiri.
Mereka bahkan menyekolahkanku dan membiayai hidupku. Dari dalam hati, aku merasa sangat senang sekaligus sedih. Setelah bertahun-tahun aku hidup sendirian dan menderita, kini akhirnya aku mendapatkan hidup yang aku inginkan. Jujur saja, aku merasa sangat terharu, namun karena hal itu pula aku jadi tidak bisa mengungkap siapa jati diriku yang sebenarnya.
Aku tidak mau mereka shock saat mengetahui bahwa aku sebenarnya berasal dari dunia lain. Hingga ... hari itu pun datang.
Setelah tiga tahun lamanya kami menghabiskan waktu bersama seperti sebuah keluarga, aku kembali kehilangan segalanya. Mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Aku merasa sangat sedih dan juga menyesal karena tidak sempat memberitahu jati diriku yang sebenarnya. Mereka sangat menyangiku, mereka menganggapku seperti anak mereka sendiri. Hal itulah yang membuatku sangat berat untuk melepaskan kepergian mereka berdua.
BERSAMBUNG...
