My Love From the Desert

Baekhyun baru saja pulang dari kegiatan kuliahnya, tubuhnya terasa lelah dan amat lengket.

Gadis Kim itu membaringkan tubuhnya di ranjang, sekedar meredakan lelahnya sebelum membersihkan diri.

Tugas di akhir semester selalu menumpuk membuatnya hampir tidak bisa menghabiskan waktu hanya untuk bersantai.

'Ting' terdengar suara notif di ponselnya, namun Baekhyun mengabaikannya saja.

'Ting'

'Ting'

'Ting'

Baekhyun mendesah frustasi, segera bangkit dari posisi tidurnya, meraih ponselnya dari dalam tas dengan ogah-ogahan.

Dilihatnya pesan dari Kim Jinwoo oppanya.

'Dik tolong ambilkan buku baruku di rumah Seunghoon'.

Baekhyun berdiri dengan malas, memaksa kakinya untuk melangkah menuju rumah Lee Seunghoon, teman kakanya yang juga tetangganya yang hanya berjarak dua rumah dari kediaman Kim.

.

.

Baekhyun sudah sampai di depan rumah keluarga Lee yang bercat oranye.

Memencet belnya tak sabaran, hingga gorden jendela di samping pintu terbuka, menampilkan wajah Lee Seunghoon yang sedikit mengantuk, begitu melihat wajah Baekhyun figur itu menarik dirinya kembali dan beberapa menit kemudian baru membuka pintu.

"Maaf membuatmu menunggu Baek" kata pria tinggi itu sambil sesekali merapikan rambutnya. "Ayo masuk!"

"Tidak usah oppa, aku hanya ingin mengambil bukunya Jinwoo oppa" Baekhyun menolak halus.

"Ayolah Baek" Seunghoon menarik tangan gadis itu untuk memasukinya ke dalam rumah "Lagipula tak baik saat membiarkan seorang gadis berdiri sendirian" ujarnya.

Dan Baekhyun hanya bisa pasrah saja.

"Duduklah Baek, oh ya kau mau minum apa?" katanya sambil menopang dagu di depan Baekhyun.

"Tidak usah oppa, aku hanya minta bukunya sekarang"

Seunghoon menegakan posisinya "Oh baiklah, tunggu disini akan kuambil bukunya di kamar"

Baekhyun mengangguk pelan, tapi si Lee itu belum berniat pergi dari sana dan itu membuat Baekhyun menaikan sebelah alisnya.

"Mau ikut ke kamarku Baek?"

Baekhyun kontan saja membolakan matanya, apa maksud Lee Seunghoon itu?

Melihat Baekhyun yang terkejut, buru-buru Seunghoon melesat ke dalam kamarnya sambil tersenyum jahil.

.

.

Beberapa menit kemudian pria itu kembali ke hadapan Baekhyun dengan setumpukan buku tebal, Baekhyun bahkan tak dapat melihat wajah pria itu karena buku yang menutupi.

"Ini buku-buku Jinwoo hyung, mau ku antar sampai ke rumah?"

"Tidak usah oppa" Baekhyun mengambil alih buku-buku itu yang ternyata sangat berat.

Dengan kesusahan gadis itu melangkah meninggalkan kediaman Lee "Aku pulang dulu oppa!" teriaknya sambil berlalu.

Menyisakan Lee Seunghoon yang tersenyum geli karena perlakuan adik temannya itu yang juga merupakan orang yang disukainya.

Seunghoon sebenarnya sudah menyatakan perasaannya berkali-kali tapi apalah daya jika Baekhyun masih tetap menolaknya, dan yang akan dilakukannya adalah berusaha lebih keras untuk mendapatkannya.

.

.

Jarak rumah Lee Seunghoon dan rumahnya yang kurang dari 100 m terasa jauh sekali bagi Baekhyun, kedua tangannya serasa kebas memikul buku kakanya ini.

'Tahu begini dia akan mengiyakan saja tawaran Seunghoon untuk membawakannya sampai ke rumah'.

Tadi sih dia terlalu menjungjung gengsinya ya jadilah begini.

"Dik!" terdengar suara panggilan dari belakang tubuhnya namun Baekhyun tidak menoleh, lagipula kondisinya sekarang membuatnya kesulitan menoleh dan alasan lainnya dia tahu betul siapa pemilik suara itu.

"Aku kira kau tidak mau mengambilkan bukuku" kata suara itu lagi kali ini dari samping Baekhyun, karena Jinwoo sudah berhasil menyusul Baekhyun.

"Oppa darimana sih? kenapa menyuruhku mengambil bukunya? tak tahukah aku baru pulang kuliah" rajuk Baekhyun.

"Maafkan aku dik, tadi aku mengantar Jeonghwa dulu, kemarikan bukunya" Jinwoo mengambil alih buku dari Baekhyun dengan gerakan mudah.

Baekhyun menghela sekali "Jadi sekarang oppa lebih mementingkan pacar daripada adik sendiri?"

"Ya bukan begitu dik, dia tidak ada yang mengantar ke perpustakaan kota" jawab Jinwoo salah tingkah "dan satu lagi, Jeonghwa bukan pacarku".

"Lalu kalian itu apa? friends with benefit?"

"Untuk sekarang ini Jeonghwa masih teman baikku"

Baekhyun menatap heran ke arah kakak laki-lakinya itu, langkah mereka sudah berhenti di depan rumah.

Jinwoo mendorong pintu rumah yang tidak terkunci itu dengan kakinya, mendahului masuk lalu meletakan buku-buku tebalnya di meja ruang tamu.

Baekhyun yang baru masuk menjatuhkan diri di sofa sebelah kakaknya.

Jinwoo melarikan pandangan ke wajah adik cantiknya "Dik dengar, aku begitu menyayangimu dan ingin melihatmu bahagia, maka sebelum kau mengenalkan pacarmu padaku maka aku juga tidak akan menjadikan Jeonghwa atau siapapun sebagai kekasihku"

"Jadi maksud oppa, oppa tidak akan berpacaran sebelum aku punya pacar begitu?"

"Ya" singkat si tampan.

Baekhyun tersenyum lebar mendengarnya, dia sangat bersyukur punya oppa seperti Jinwoo yang penyayang dan penuh perhatian.

"Lalu apakah Jeonghwa eonnie tidak keberatan?"

Jinwoo mengendikan bahunya "Dia tentu tidak boleh keberatan akan hal itu, tak masalah jika pada akhirnya aku kehilangan Jeonghwa asalkan aku tidak kehilangan adiku"

"Ahhh oppa" dengan itu Baekhyun memeluk kakanya dengan erat "Aku sangat menyayangi oppa"

'Ting' terdengar notif dari ponsel Baekhyun membuat yang lebih muda melepas pelukan mereka.

Baekhyun segera meraih ponselnya dari saku celana dan mendapati pesan dari Hyuna 'Baek kau sudah mengerjakan tugas makalah perekonomian eropa pada masa abad pertengahan, ingat headline nya besok'.

Baekhyun tanpa sadar menghela napas dengan kasar.

Dan hal itu mencuri atensi Jinwoo yang tengah memilah-milah buku tebalnya.

"Ada apa dik?"

Baekhyun menatap kakanya dengan malas "Aku hanya melupakan tugasku, apalagi headline besok"

Jinwoo kontan saja menaikan alis karenannya, sikap Baekhyun sebagai sang 'pembelot keluarga' sangat tidak seperti biasanya.

Yang dimaksud Jinwoo pembelot keluarga adalah dikarenakan Baekhyun adalah satu-satunya yang kuliah mengambil jurusan ekonomi sedangkan seluruh anggota keluarganya baik dari pihak ayah atau ibu termasuk Jinwoo adalah fanatik sejarah.

Keluarga besar mereka berisi orang-orang yang berkecimpung dalam ilmu sejarah, kecuali Baekhyun.

Yang sedari kecil seperti memilki alergi terhadap sesuatu yang berhubungan dengan ilmu purbakala itu, karena Baekhyun akan bersikap biasa saja saat disodori artefak kuno semacam 'Bagdhad Batery' di depan matanya sementara Jinwoo reflek berjingkrak-jingkrak seperti anak kelinci, meski hanya melihatnya dengan jarak 100 m -berlebihan memang-.

Selain itu juga orang tua mereka berprofesi sebagai ahli sejarah, Ibu (Dosen Sejarah Eropa), Ayah (Arkeolog Peninggalan Mesir Kuno), Kakek (Kolektor artefak).

Dan dengan keadaan seperti itu, pantaslah jika Baekhyun mendapat julukan pembelot dari sang kakak.

Walaupun begitu Jinwoo tetap menyayangi adiknya.

"Dik kau baik-baik saja kan?" Jinwoo sepertinya mulai khawatir karena biasanya sang adik akan sangat bersemangat mengerjakan tugas kuliahnya tidak seperti sekarang ini.

Baekhyun menganggukan kepala "Aku baik kok hanya..."

"Hanya apa?"

"Tugas kali ini sedikit berbeda"

Jinwoo menautkan kening "Berbeda bagaimana? Mungkin aku bisa bantu?"

Baekhyun tak berkata, gadis Kim itu menyodorkan ponselnya pada Jinwoo.

Jinwoo meraihnya, membaca sesuatu yang tertera di layar ponsel sang adik, sejurus kemudian dia tersenyum.

"Ini mudah dik, karena pada masa abad pertengahan, perekonomian di eropa menganut sistem manor, dimana setiap bangsawan yang bergelar earl dan baron berkuasa atas berhektar-hektar tanah dan rakyat biasa berperan sebagai petani penggarap tanah tsb, para petani bekerja tanpa upah namun kehidupan mereka dijamin oleh tuan tanah, petani juga tidak memiliki wewenang untuk menjual hasil panen atau membayar pajak karena mereka tinggal di dalam tanah milik sang tuan yang sekelilingnya dibentengi atau istilahnya kastil..."

Baekhyun melongo karenanya, kenapa oppanya tiba-tiba jadi dosen dadakan begini?

"...Lebih jelasnya kau bisa membaca buku ini" menyodorkan sebuah buku yang Baekhyun tebak jumlah halamannya lebih banyak dari novel 'Twilight Breaking Dawn'.

.

.

"Kenapa pulangnya cepat sekali?" tanya Jinwoo pada adiknya yang sedang melepas sepatu, itu wajar karena Baekhyun baru pergi tiga jam lalu dari rumah mereka.

"Hari ini tidak ada jadwal, aku hanya mengumpulkan tugas"jawab si bungsu sambil merebahkan diri di sofa.

Jinwoo mengangguk sekali lalu beranjak ke dapur dan segera kembali dengan dua kaleng soda.

Memberikan satu pada Baekhyun dan meminun yang satunya.

"Oppa tidak ke kampus?"

"Lusa" jawabnya sambil kembali berkutat pada tumpukan buku tebalnya.

"Jinwoo, Baekhyun!" suara ibu mereka mencuri atensi mereka.

Jinwoo menautkan alis saat melihat ibunya berdiri di depan mereka dengan sebuah koper merah berukuran sedang.

"Syukurlah kalian berdua ada disini"

"Ibu mau kemana?" Jinwoo menyanggah cepat.

"Aku akan pergi ke Inggris selama beberapa waktu untuk membuat laporan penelitian tentang situs stonehege"

Mendengar pernyataan itu, terjadi perbedaan respon antara Jinwoo dan Baekhyun.

Jika Jinwoo terlihat biasa saja maka Baekhyun kelihatan marah, bungsu keluarga Kim itu segera berlari ke arah kamarnya.

Ny Kim kelihatan sedih karena tingkah putrinya.

"Apa aku batalkan saja rencana penelitianku Jinwoo-ah?"

"Tidak, ibu tidak perlu melakukannya, aku mengerti tuntutan pekerjaan ibu jadi tenanglah, Baekhyun biar aku yang urus"

Jelas Jinwoo, ibunya tersenyum lemah lalu mengelus pipi si sulung.

"Terimakasih Jinwoo-ah dan tolong katakan pada adikmu bahwa ibu sangat menyayanginya" Jinwoo mengangguk, dan Ny Kim segera menggeret kopernya meninggalkan Jinwoo.

Begitu Ibunya menghilang di balik pintu, Jinwoo segera melesat ke kamar sang adik.

Cklek...

Begitu pintu terbuka Jinwoo mendapati Baekhyun sedang berdiri menghadap jendela kamarnya.

"Dik..."

"Aku baik-baik saja oppa jangan khawatir" Baekhyun memotong cepat, suaranya terdengar parau.

Jinwoo menghampirinya lalu meletakan tangan di bahu sang adik "Kau pasti kecewakan, karena liburan semester kali ini kita hanya menghabiskannya berdua?"

Baekhyun menoleh ke arah kakanya, lalu segera menghambur ke pelukan sang kakak.

"Aku benci saat Ibu selalu mementingkan penelitian situs prasejarahnya daripada aku"kepalanya semakin menelusup dengan buliran air mata yang mulai menetes.

"Aku tahu dik, aku juga kecewa dengan kepergian ibu yang mendadak tapi bukankah kita sebagai anaknya harus mengerti akan hal itu hmm?"

Baekhyun melepas pelukan kakanya, matanya yang berkaca menatap Jinwoo.

"Ini semua karena ilmu pengetahuan bernama sejarah itu, apa gunanya kita mempelajari kehidupan dan peninggalan dari orang-orang yang sudah lama mati"

"Dik..."

"Karena sejarah juga aku sering ditinggal orang tuaku bepergian, bahkan orang tua kita bercerai karena sejarah itu oppa"

"Dik cukup!" Jinwoo membentak, dan hal itu membuat Baekhyun diam seribu kata "Kau boleh menyalahkan kesibukan ibu, kau boleh menyalahkan perceraian orang tua kita tapi kau tidak boleh menyalahkan sejarah"

Baekhyun memalingkan muka "Jadi sekarang oppa lebih membela sejarah daripada aku?"

"Dik dengarkan aku, sebenci-bencinya kau pada sejarah kau tetap tidak boleh melupakannya, karena tidak ada sesuatu yang baru di dunia ini, apa yang terjadi di hari ini sebenarnya pernah terjadi di masa lalu, maka dari itu kita bisa berkaca dalam bertindak, jangan sampai kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu terulang lagi" jelas Jinwoo panjang lebar.

"Apa oppa berkata seperti itu karena oppa adalah mahasiswa ilmu sejarah?"

Jinwoo menghela napas, mencoba bersabar menghadapi adiknya "Mungkin ya mungkin juga tidak, yang pasti aku tidak ingin yang terjadi pada Wang Zhao Jun juga terjadi padamu" finalnya sambil menutup pintu kamar Baekhyun, menyisakan gadis Kim itu seorang diri.

Sepeninggal kakaknya Baekhyun menangis lagi, dia tidak pernah menang dalam mendebat kakaknya itu jika menganggkat tema sejarah.

Bicara soal sejarah, Baekhyun amat sangat membencinya tapi sepertinya kebenciannya pada sejarah tidak selaras dengan kehidupannya karena seluruh anggota keluarganya berkecimpung dalam ilmu ini.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari semua itu, tapi menurut Baekhyun karena sejarah orang-orang yang dicintainya direnggut, pertama kedua orang tuanya bercerai saat usia Baekhyun masih 9 tahun karena ibunya punya kesibukan yang luar biasa mengenai ilmu sejarah eropa yang ditekuninya dan sang ayah yang terlalu mementingkan peninggalan sejarah mesir kuno, kedua orang tuanya bahkan jarang bertemu untuk jangka waktu yang lama karena saat sang ibu berada di rumah, maka ayahnya mengadakan observasi di mesir, dan saat ayahnya libur dari observasi maka ibunya harus terbang ke London untuk penelitian.

Mungkin atas dasar itu kedua orang tuanya lebih memilih untuk bercerai dimana hak asuhnya dan Jinwoo jatuh ke tangan sang ibu sementara ayah mereka memutuskan untuk pindah dan menetap di Mesir.

Dan sang kakek (orang tua ayah Baekhyun) yang menghabiskan masa tuanya dengan berburu artefak kuno, meninggal karena kecelakaan, bahkan sang kakek sendiri terhitung hanya satu kali bertemu dengannya hingga akhir hayat.

Terakhir kakanya yang seorang mahasiswa ilmu sejarah yang seringkali meninggalkannya untuk mengerjakan tugas sejarahnya hingga menginap di perpustakaan kota, tapi setidaknya sang kakak masih jauh lebih baik daripada keluarganya yang lain.

Tok..tok..tok..

"Dik...kau masih marah padaku?" suara Jinwoo terdengar dari balik pintu.

Baekhyun segera mengusap air matanya seraya menjawab "Tidak".

Cklek...

Jinwoo membuka pintu, lalu segera menghampirinya dengan sebuah plastik bag ditangan.

"Kalau begitu makanlah, aku membelikanmu chesee burger kesukaanmu"

Baekhyun tak bergeming, masih betah pada posisinya membuat Jinwoo semakin merasa bersalah.

"Aku minta maaf dik atas yang tadi"

"Oppa ini kenapa, aku sudah tidak mau mengingat yang tadi, lagipula salahku juga berlaku tidak sopan padamu"

Jinwoo tersenyum lalu mengacak surai Baekhyun "Aku juga salah dik, tadi aku membentakmu" menelusupkan Baekhyun ke dalam pelukannya.

Keduanya berpelukan selama beberapa saat hingga Baekhyun melepaskannya lalu menatap sang kakak penuh pengharapan.

"Oppa bisakah kita pergi ke suatu tempat liburan semester ini?"

"Ya tentu saja, aku berencana ingin mengajakmu ke Jeju"

"Tidak" tolak Baekhyun "Jangan ke Jeju kita sudah terlalu sering kesana"

"Lalu?"

"Aku ingin kita ke...Mesir"

.

.

.

.

.

TBC

Lanjut or Discontinue?