"Inikah harga yang harus kutanggung untuk semua kesalahan yang bahkan bukan dariku sendiri?"
Indonesia menangis. Sang Garuda Nusantara menangis dalam guguannya, terisak seorang diri di tengah surealistik egosentrisme demonstran.
~oOo~
Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu, Japan.
Please note that I gain no material profits by making this Indonesian Nationalism fanfiction.
.
#NKRI74
The Second Round of "PRA KEMERDEKAAN" theme
kompetitor:
- LARA KEHIDUPAN INDONESIA -
written by INDONESIAN KARA.
[ road to the PAS KEMERDEKAAN theme tomorrow. ]
.
rated: T (R15). genres: general, poetry, surealised-historical.
language: INDONESIAN (Bahasa Indonesia).
.
READER DISCRETION IS ADVISED!
.
- Central Java, August 16th, 2019 -
*~...OoO...~*
{( asaku yang memudar, )}
{( menggaram para luka, )}
{( ... dan prahara datang tak terduga. )}
Dia enggan menatap, bahkan tidak sudi melirik. Hanya melenggang berjalan, berlalu begitu saja. Menghiraukan segalanya.
Meniti para langkah yang membuatnya berpindah, ia berpegang pada naluri. Dia mencengkeram pada "ranting" pengharapan semu yang berkali telah menamparbantingkannya hingga berulang terjerembab; mencium butiran tanah dan jelaga yang dia seolahkan segala kesalahannya.
Tak ingin jatuh lagi pada "mulut Bumi" yang menganga.
.
.
{( sang waktu yang terus berlalu, )}
{( meninggalkan sedu-sedan hati,
{( ... lantas sunyi datang, merengkuh jiwa yang mati raganya. )}
.
.
Langkahnya menggontai, langkah yang lalu terseret-seret, ia tidak hiraukan. Para kompetitor kehidupan yang bersumpah menyerapah di hadapannya, dia lalui begitu saja. Meninggalkan "mereka ini" yang hanya bisa menyalah-nyalahkan.
Melempar salah pada lain pihak.
(Dia meringis, nyeri menjalar dari ulung hati.)
"Mereka ini", di belakangnya, lantas menggunjing nista. Mengalamatkan kesal tanpa makna "mereka" padanya.
.
.
"Inikah harga yang kutanggung untuk seluruh dosa dan celaku?"
.
.
Beban nyawa yang selama ini terlimpah begitu membebani, melukai kedua bahunya yang semula bersih dari luka. Kata dalam kalimat yang terlontar dari "mereka" begitu setajam pedang; menggores lecet, mengalirkan darah dari kulit badannya. Ternamun, ia terbisu, sayangnya, sama sekali tidak menumpah angkara atau pun kobar amarah.
Apa salahnya?
Pernah sekalikah ia mengata dusta tentang "mereka"?
Sekarang dia menyesal, penuh sesal, beradukkan kesal. Tidak seharusnya ia mengulum senyuman kepada "mereka" yang bahkan telah menyakiti, mengukir luka, dan mengotorludahinya di waktu yang lalu. Tidak seharusnya.
Indonesia ...,
... tidak seharusnya kautanggung ini semua ...
.
.
{( adakah "maaf" bagiku, )}
{( ... agarku dapat tenang di Alam Kematian? )}
.
.
Perihal ini ...
... siapa yang bersalah?
Ia tidak tahu. Jawabannya sekadar kenihilan belaka. Semua manusia selalu punya cela yang membuatnya tidak sesempurna Sang Pencipta. Selalu memiliki salah dan beda yang membuat manusia tidak selalu benar; yang lantas mencipta perbandingan, kasta, peringkat, dan derajat.
(Heh, derajat ... .)
Lalu, di derajat manakah dia harus berdiri dan menetap?
Derajat teratas dan paling atas?
Lalu bagaimana dengan para elit yang ambisi usahanya untuk menaklukkan seluruh Bumi?
Kasta dan derajat tengah-tengah?
Lalu bagaimana dengan mereka yang kini berusaha mengejar kalangan elit? Pantaskah aku yang selama ini hanya menetrai perjuangan "mereka" di masa lalu dan "mereka" di zaman ini ada di antara "mereka" yang derajatnya di tengah-tengah?
Di tingkat derajat terendah, kah?
Lantas, mau dibuang ke mana "mereka semua" yang telah mengotori ranah pertiwiku?
Dia tidak tahu. Jawaban pun sekadar endikan bahu.
Layakkah ia terima segala pujian dari seisi Buwana, meski beribu cela tetap melingkupinya?
.
{( ... dengarkanlah aku ... )}
.
Hari itu, Sang Personifikasi Indonesia, merenung paruh nestapa.
Pada hari kelima belas bulan kedelapan tahun ini.
finished.
[1/4]
GURAIYU BURAZU ~ Nanairo Symphony
01:34 - 03:54
