Catch You Up!

Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei.

Story By : Yana Kim

Rate : T semi M

Warning: Jangan kaget kalau ada typo bertebaran. Jangan kaget kalau para cast OOC banget ya. Jangan sungkan untuk ripiu baik bagus atau enggaknya cerita ini.

Sabaku Gaara Haruno Sakura

Sum: Sosok itu kaku, dingin, dan tak tersentuh. Sakura ingat betul kalimat tajam pria itu yang ia terima sebagai balasan saat ia menyatakan perasaannya. Dan setelah sekian tahun berlalu, untuk pertama kalinya Sakura melihat pria itu tersenyum hangat bahkan tertawa hanya karena seorang gadis remaja berambut pirang. Apa Gaara memang seorang pedofil atau...?

.

.

.

Chapter1

.

.

.

"JADI MAKSUDMU, DIA MEMBATALKAN KERJA SAMA INI?!" suara melengking dari sosok berambut pink itu membuat beberapa orang yang ada disana menutup telinganya.

"Tidak ada kata-kata membatalkan yang keluar dari Tuan Sabaku, nona. Hanya saja dia tidak bisa datang kemari untuk melakukan tanda tangan dengan anda." Seorang wanita berambut hitam mencoba menjelaskan. Saat ini mereka sedang mengadakan rapat bersama jajaran pimpinan setiap divisi.

"Sama saja, Shizune. Itu sama saja dengan dia menolak kerja sama yang kita tawarkan. Padahal aku sudah memberikan keuntungan lebih pada mereka. Dasar brengs— Ups! Maaf. Meeting selesai. Terimakasih. Kalian bisa kembali bekerja."

Para peserta rapat meninggalkan ruangan luas itu dan meninggalkan sang CEO dan sekretarisnya.

"Sakura, sudah berapa kali kuingatkan untuk tidak mengumpat dihadapan mereka? Mereka itu lebih tua darimu." Shizune sang sekretaris mengingatkan. Meskipun sudah berusia dua puluh tujuh tahun, namun sang bos tetap tidak bisa menyambunyikan sifak kekanakannya yang sering sekali meuncul di saat yang tidak tepat.

Haruno Sakura sudah dua tahun ini menempati posisi CEO yang sebelumnya di duduki oleh ayahnya. Sebagai satu-satunya anak dari Tuan Haruno, Sakura mau tidak mau harus menjalankan amanat itu. Walaupun sering sekali menyusahkan sekretarisnya dengan moodnya yang tidak menentu, Sakura sangat kompeten untuk urusan memimpin Haruno Corp yang merupakan salah satu perusahaan besar yang di miliki oleh orang Asia di Vancouver, Kanada. Seperti hari ini, mood Sakura tampak tidak baik dikarenakan oleh bos dari Suna Corp yang tidak bisa datang menemuinya untuk melakukan tanda tangan kontrak kerjasama mereka.

"Aku tidak beniat mengumpat, tapi Sabaku sialan itu benar-benar membuatku stress. Tidak dulu, tidak sekarang, dia tetap saja acuh dan dingin begitu. Aku kan jadi semakin cinta!"Tingkah malu-malu Sakura membuat Shizune hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.

"Masih belum ada kepastian, Sakura. Baki-san hanya mengatakan kalau Tuan Sabaku harus berada di Jepang selama beberapa hari kedepan. Itu saja."

"Kenapa dia harus ada di Jepang beberapa hari ini,huh?"

"Mungkin masalah pribadi yang tidak bisa dikatakan."

"Apa masalah pribadinya itu lebih penting daripada aku?!"

"Tentu saja lebih penting." Sakura mendelik tidak suka pada Shizune yang hanya mengedikkan bahunya.

"Bayangkan saja. Seorang CEO Suna Corp memilih tidak datang dalam tanda tangan kontrak kerjasama yang sangat menguntungkan untuk mereka. Sekali lagi yang sangat menguntungkan mereka hanya karena dia harus berada di Jepang selama beberapa hari. Tentu saja masalah pribadinya itu penting."

Sakura menggigit bibir bawahnya dan menutup matanya. Sebuah kebiasaan bila gadis itu sedang berpikir keras.

"Apa masalah pribadinya itu bergubungan dengan wanita?"

"Bisa jadi."

"Shizune tidak bisakah kau menghiburku?!"

"Aku hanya mengatakan pemikiranku. Jadi sekarang kau mau apa? Apa aku harus menyewa mata-mata untuk mengawasi pria itu?"

"Tidak perlu. Kalau dia tidak mau datang kemari untuk tanda tangan. Maka aku yang akan ke Jepang. Akan kucari tahu sendiri apa penyebab dia tidak bisa datang kemari. Lihat saja Sabaku. Akan ku buat kau bertekuk lutut padaku!"

.

.

.

"Ibu benar-benar tidak apa-apa? Bagaimana ibu bisa terluka?"

'Namanya juga kecelakaan di tempat kerja. Mungkin ibu akan pulang besok sore.'

"Untunglah Itachi-sensei disana. Baiklah ibu, istirahatlah. Salam untuk kakek dan paman Konohamaru."

'Iya sayang. Kau juga. Malam.'

Hikari meletakkan ponsel yang baru saja digunakannya diatas meja. Ia baru saja selesai belajar dan memilih untuk menonton TV di ruang nonton apartmen ayahnya. Ayahnya sendiri terlihat sedang membuat kopi di dapur. Gaara datang tak lama kemudian dengan membawa segelas kopi dan segelas susu coklat untuk Hikari. Pria itu meletakkan gelas diatas meja dan mendudukkan dirinya disamping sang putri.

"Ayah, sepertinya besok aku harus pulang. Ibu kembali besok sore."

"Cepat sekali. Aku kira akan lebih dari seminggu." Gaara mengambil remote bermaksud mengganti chanel.

"Kaki ibu terluka disana. Jadi dia harus pulang. Tapi aku juga senang karena ada Itachi-sensei disana. Sepertinya Itachi sensei berhasil mendapatkan hati ibu." Hikari kemudian sadar kalau ia tidak seharunya mengatakan hal itu di depan sang ayah.

"Maaf, ayah. Aku tidak bermaksud—" Hikari memandang hati-hati pada wajah sang ayah.

"Tidak apa-apa. Aku ikut berbahagia. Ibumu pantas mendapatkan yang terbaik." Senyum tulus dari Gaara membuat Hikari ikut tersenyum. Ia pun memeluk ayahnya dari samping dan menyandarkan kepalanya di dada sang ayah.

"Besok hari libur."

"Hn?"

"Sebelum aku pulang, bagaimana kalau kita jalan-jalan?"

Gaara mengelus kepala sang putri. "Ada tempat yang ingin kau datangi?" tanya Gaara.

"Ayo ke taman bermain, ayah. "

"Boleh. Tapi aku harus ke kantor sebentar ya. Kita berangkat dari sana saja."

Hikari mengangguk. "Ayah yang terbaik."

.

.

.

"Ini koper anda, nona." Seorang petugas hotel meletakkan koper berwarna biru muda berhias bunga lili putih di dalam sebuah kamar mewah.

"Terimakasih." Sakura segera menutup pintu setelah petugas itu pergi dan segera membaringkan dirinya di kasur empuk itu. Baru setengah jam lalu ia mendarat di bandara setelah berjam-jam berada dalam pesawat. Berangkat sendirian tanpa seorang asisten pun hanya untuk menemui seorang pria bernama Sabaku Gaara yang sudah sekian tahun tak pernah ditemuinya.

Sakura bertemu dengan Gaara ketika gadis itu baru masuk ke Imperial Collage salah satu Universitas ternama di London sebagai mahasiswa. Kalau biasanya kaum minoritas seperti orang Asia sedikit dikucilkan, tidak begitu dengan Sakura. Dengan backup keluarga ternama dan juga sikap supelnya, ia mempunyai banyak teman bahkan tidak sedikit pria yang langsung tertarik dengan Sakura bahkan di pandangan pertama.

Semua bermula ketika pada suatu sore Sakura berusaha melarikan diri dari para pria yang mencoba mendekatinya. Ia memilih melarikan diri ke atap kampus yang beralih fungsi sebagai taman kecil namun jarang dikunjungi mengingat para siswa lebih suka mengunjungi perpustakaan dan terlalu lelah untuk menaiki tangga menuju atap sekolah. Sakura melihat Gaara, pemuda berambut merah yang duduk disalah satu kursi. Matahari terbenam membuat rambut merah pemuda itu tampak berkilauan. Untuk pertama kalinya, Sakura merasakan jantungnya berdegup kencang hanya karena seorang pemuda dengan sisi wajahnya yang si terpa sinar matahari di sore itu.

Keesokan harinya, Sakura mulai mencari keberadaan pemuda itu. Sabaku Gaara dari jurusan Bisnis yang sama dengannya namun bedan tingkat. Betapa senangnya Sakura begitu tahu bahwa Gaara adalah orang Jepang. Maklum saja, sejak lahir tinggal di London, Sakura sangat senang bila ia bertemu dengan seseorang yang berasal dari Jepang di negara manusia bermata biru itu. Terimakasih pada seorang gadis Jepang bernama Matsuri yang memberikan informasi berharga padanya tentang Gaara. Informasi berupa peringatan yang meminta Sakura untuk tidak mencoba mendekati Gaara.

"Dia tidak suka berteman. Sudah banyak yang mencoba mendekatinya, namun berakhir dengan tatapan dan juga kata-kata tajamnya. Aku hanya tidak mau kau menerima kata-kata tajamnya Sakura. Kau terlalu cantik untuk itu."

Bukan Sakura namanya kalau takut dengan tantangan. Bukannya menjauh, Sakura memberanikan diri untuk mendekati Gaara. Ia ingin membuktikan kalau ucapan Matsuri adalah salah total. Gadis dengan surai pink itu mendatangi Gaara yang sedang duduk di atap.

"Hei. Salam kenal, aku Haruno Sakura." Sakura menghempaskan bokongnya tepat disamping Gaara. Pemuda itu hanya menoleh ke samping membuat Sakura menyadari betapa tampannya pemuda itu dengan mada jade yang sempurna dengan rambut merahnya dan juga tato Ai di keningnya. Jade itu memandangnya tajam. Membuat Sakura gentar karena aura membunuh yang entah kenapa keluar dari pemuda itu. Namun Sakura memberanikan diri.

"Pergi." Nada dingin yang entah kenapa membuat Sakura bergidik.

"Aku juga orang Jepang. Senang bertemu dengan—"

"Karena kau orang Jepang seharusnya kau mengerti ucapanku. Pergi. Enyah dari hadapanku."

Sakura memandang jade yang kini beradu pandang dengan emeraldnya. Mata itu dingin namun entah kenapa tersirat suatu kesedihan dan juga penyelasan yang dalam.

"Wah, ternyata kau benar-benar seperti yang diceritakan mereka. Padahal aku berencana untuk memintamu jadi pacarku." Sakura tidak tahu kenapa kata-kata keluar dari mulutnya secara otomatis. Ia seorang Haruno Sakura yang biasanya menerima ungkapan cinta dari orang-orang malah menyatakan perasaannya pada pemuda yang jelas-jelas mengusirnya.

"Gadis gila." Gaara langsung beranjak dari sana.

Sakura hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pemuda itu berlalu meninggalkannya. Ia tidak habis pikir ada seorang laki-laki yang dengan begitu dinginnya menolaknya bahkan meninggalkannya sendiri di atap.

Sakura hanya bisa terkekeh mengingat kebodohannya di masa lalu karena mencoba mendekati Gaara. Pria itu memang mempesona, tapi terlalu dingin dan tidak tersentuh. Sakura sudah mencoba melupakan kejadian di atas atap kampus dengan menjalani hidupnya dengan di selingi oleh para pria yang senantiasa rela jadi budak cintanya. Ia semakin mudah melupakan Gaara ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah ke Kanada karena urusan perusahaan.

Namun semuanya sia-sia karena entah kenapa, jantung Sakura kembali bergemuruh saat melihat wajah pria itu terpampang di majalah bisnis Forbes dengan tajuk Top 30 Under 30 tiga tahun lalu. Perawakan matang pria itu membuat Sakura kembali terpesona dengan seorang Sabaku Gaara.

Ia bahkan mendapati dirinya bersorak senang saat salah seorang direksinya mengatakan bahwa mereka berencana untuk menjalin kerjasama dengan Suna Corp Jepang dimana Gaara memimpin. Namun ia harus menelan kecewa karena Gaara tidak bisa datang ke Kanada untuk tanda tangan hanya karena masalah pribadi yang tidak di ketahuinya. Ya, untuk itulah Sakura datang ke Jepang agar ia bisa bertemu dengan Gaara dan mengetahui apa gerangan masalah pribadi yang dimaksud itu. Ia ingin lihat apakah kali ini, Gaara bisa menolaknya. Ia harus membuat pria itu bertekuklutut dihadapannya karena sudah membuat seorang Haruno Sakura harus berangkat jauh-jauh dari Kanada sendirian.

.

.

.

Gaara dan Hikari tiba di Suna Corp pukul sembilan pagi. Beberapa karyawan tampak memandang mereka dengan tatapan bertanya saat melihat Gaara datang bersama seorang gadis remaja berambut pirang. Desas desus tentang seorang gadis yang Gaara bawa saat meninjau mall tempo hari sepertinya sudah sampai ke kantor. Tampak beberapa karyawan berbisik-bisik tentang Gaara yang tidak melepaskan gandengannya pada sosok remaja cantik itu.

Pasangan ayah dan anak itu menaiki lift yang berisi beberapa karyawan yang juga akan naik kelantai atas. Gaara mendengar bisik-bisik dari karyawan wanita di suduh belakang lift. Gaara hanya bisa mendengar samar-samar apa yang mereka katakan. Pria itu kemudian berbalik dan menghadap pada mereka.

"Perkenalkan, ini Hikari. Putriku." Hikari yang ada disamping Gaara membungkuk canggung pada mereka yang dibalas hal yang sama oleh wanita-wanita itu. Mereka tampak kaget mendengar ucapan Gaara.

"Aku harap kalian bisa segera menyebarkan hal ini ke seluruh kantor agar mulai besok aku tidak mendengar bisikan-bisikan aneh kalian." Hikari hanya bisa mengangkat bahu mendengar nada dingin ayahnya itu. Sedangkan para wanita itu hanya menunduk takut.

Mereka sampai di ruangan Gaara. Hikari terlihat melihat-lihat ruangan kerja Gaara yang luas itu sedangkan Gaara mendudukkan dirinya di kursinya dan mulai menyalakan laptopnya.

"Kau mau minum sesuatu?" tanya Gaara pada Hikari yang masih melihat-lihat pada lemari berisi buku-buku yang tidak ia mengerti.

"Tidak, ayah. Ayah bisa melanjutkan pekerjaan ayah." Gaara tersenyum tipis.

"Aku akan meeting sebentar lagi. Kalau bosan, kau bisa pergi ke kafetaria di lantai tujuh." Hikari mengangguk. Tak lama kemudian, Baki datang untuk memanggil Gaara ke ruang meeting. Hikari tinggal diruangan itu dan memilih untuk memainkan ponselnya.

Satu jam yang sangat membosankan untuk Hikari. Gaara kembali setelah rapat selesai. Hikari sudah bosan menunggunya.

"Ayah, lama sekali." Hikari mengerucutkan bibirnya membuat Gaara terkekeh.

"Kita berangkat."

.

.

.

Sakura turun dari sedan yang di belinya begitu ia tiba di Tokyo. Ini bukan pertama kalinya ia datang ke Jepang. Walaupun lahir dan besar di luar negeri, ia sangat mencintai negara asal kedua orang tuanya ini. Ia selalu memilih untuk menghabiskan liburannya di Jepang dibandingkan tempat lain. Ia sudah tiba di Suna Corp dan langsung berjalan menuju lobi. Ia disambut oleh security ramah yang langsung membimbingnya ke bagian resepsionis.

"Selamat pagi, nona. Ada yang bisa kami bantu?" Sama seperti security, resepsionis wanita itu juga ramah dengan senyuman manisnya.

"Selamat pagi. Aku ingin bertemu dengan Sabaku Gaara."

"Apa anda sudah membuat janji sebelumnya, nona?" Sakura lupa, untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan tentu saja ia harus membuat janji. Sama seperti orang lain bila ingin bertemu dengannya.

"Belum. Tapi kau bisa sebut namaku dan ia akan langsung tahu. Haruno Sakura."

"Maaf sebelumnya Haruno-san. Tapi Sabaku-sama baru saja keluar. Mungkin anda harus membuat janji lagi dengan beliau dan datang lain kali."

Huh! Sakura jadi mengerti bagaimana perasaan orang-orang yang ingin bertemu dengannya tanpa janji sebelumnya. Sialan!

"Baiklah. Terimakasih. Aku akan menunggu bos kalian di sini sampai dia kembali." Sakura meninggalkan meja resepsionis dan mendudukkan dirinya di sofa lobi yang luas itu. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya untuk membunuh kebosanan yang mungkin akan melandanya sebentar lagi.

"Kau lihat gadis tadi? Dia masih terlalu kecil untuk Gaara-sama. Aku rasa dia masih SMP!"

Samar-samar Sakura bisa mendengar bisik-bisik dari staff yang lalu lalang di sana. Ia pun menajamkan pendengarannya.

"Tapi dia sangat cantik. Aku suka melihatnya."

"Demi Tuhan dia hanya gadis remaja yang mungkin sedang liburan. Kau dengar bagaimana dia membicarakan roller coaster dan photobox pada Gaara-sama? Apa mereka kencan di taman bermain?"

Sakura langsung berdiri. Ia sudah tidak tahan lagi. Ternyata benar, masalah pribadi yang dimaksud adalah perempuan. Beraninya Sabaku itu mengabaikan kerjasama dengan perusahaannya hanya karena seorang perempuan. Sakura beranjak dari sana. Tentu saja ia harus memastikan wanita seperti apa yang sudah membuat Gaara bahkan merelakan jam kerjanya untuk pergi ke taman bermain.

Hanya butuh waktu dua puluh menit dari kantor Gaara menuju taman bermain terbesar di kota itu. Sakura sekali lagi merutuki kebodohannya karena sudah membuang waktunya untuk mencari Gaara di taman bermain yang sangat luas itu. Ia bahkan sedang mengenakan mini dress dan high heels yang pastinya akan menyusahkannya saat berjalan nanti. Ia hanya berharap segera menemukan Gaara sebelum kakinya pegal karena harus berjalan jauh.

Walaupun mulai lelah, Sakura menikmati waktu saat ia berjalan sambil mencari Gaara. Entah kapan terakhir dia ke taman bermain. Walaupun ia risih dengan pandangan-pandangan pria yang tampaknya menikmati penampilan seksinya, Sakura merasakan dirinya kembali ke masa kecil dimana ia bisa menikmati semua permainan di tempan seperti ini.

Ia menemukan pria itu. Sabaku Gaara. Pria itu ada dalam radius duapuluh meter dari tempatnya berdiri. Sedang mengantri untuk membeli eskrim di salah satu stand disana. Sakura baru akan melangkah mendatangi Gaara ketika melihat seorang gadis remaja berambut pirang yang Sakura taksir berumur sekitar tiga belas tahun datang dan menarik tangan Gaara agar pria itu menunduk. Gadis itu memasangkan bando mickey mouse pada Gaara sedangkan gadis itu sendiri memakai bando serupa dengan motif berbeda.

Yang paling membuat Sakura terkejut adalah ekspresi wajah Gaara. Pria itu tersenyum. Tidak hanya itu, Gaara bahkan tertawa melihat gadis pirang itu cemberut karena Gaara belum berhasil mendapatkan eskrim. Sakura memegang dadanya. Untuk ketiga kalinya, Gaara berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Bukan karena wajah tampan pria itu yang terpapar sinar matahari sore, bukan juga karena wajah dingin pria itu yang terpampang nyata di majalah Forbes. Namun karena senyum hangat Gaara yang baru pertama kali dilihatnya, dan tidak bisa ia pungkiri, ia merasakah hangat di hatinya melihat senyuman itu.

Tapi sekali lagi, siapa gadis itu?

.

.

.

TBC

A/N :

Ehem ehem ehem. Mic check one two.

Halo teman-teman kesayanganku semua. Ada yang masih menunggu cerita aku? Hehehe. Ini nih side story dari Ita-Ino. Tapi lebih ke Gaara-Sakura. Untuk yang sudah menebak, kalian hebat sekali. Btw, cerita ini mungkin ga bakal panjang. Ga sampai sepuluh chapter deh. Untuk ekstra chap Ita-Ino, sabar menunggu ya...

Hehehe. Btw aku lagi heboh banget nih karena SM Ent mau debutin Super M. Demi apa semua member favorit aku di Shine, EXO dan NCT masuk semua! Ga bisa ga heboh saya! Ten, I love you so much! Maaf ya fangirl mode on.

Selamat menikmati pokoknya. Mind to review, guys?

Love,

Yana Kim ^_^

.

.