Ninja.

Apa itu ninja? Seseorang yang kuat? Seseorang yang senantiasa melindungi yang lemah? Atau ninja itu hanyalah seseorang yang sedikit lebih kuat dari manusia biasa? Bagiku itu semua tidak ada artinya. Karena bagiku, ninja adalah sebuah profesi yang mengharuskan menyelesaikan suatu misi tertentu. Jika berhasil akan mendapatkan apresiasi dan imbalan, jika gagal maka yang didapatkan adalah cemoohan dari rekan-rekanmu dan rasa malu. Simpelnya, mereka tak lebih dari sekedar boneka.

Namaku Uzumaki Naruto, berumur 10 tahun. Sebentar lagi aku akan memasuki dunia ninja dan masih banyak yang harus kupelajari untuk menjadi boneka yang senantiasa siap pakai. Aku harus mengasah instingku, penampilanku dan sebagainya. Memasuki dunia yang kuanggap sebagai profesi, akankah aku dapat menjalankan profesi ku dengan baik?

Pendapat seorang kakek yang kukenal tentang seorang ninja yang melindungi yang lemah sungguh membuatku tertawa getir. Aku baru mengetahui jika tugas ninja sebenarnya adalah itu. Yang benar saja? Jadi, selama ini aku selalu dikejar-kejar dan 'ditekan' oleh sekelompok ninja, apakah hanya gurauan kakek tua itu? Aku juga melihat Anbu yang diperintahkan untuk menjagaku hanya diam saja, terkadang ikut untuk memberikan luka pada tubuhku. Sungguh tidak mencerminkan sebagai seorang ninja.

Aku selalu pulang dengan keadaan pakaian compang camping, luka dan memar di sekujur tubuh. Tapi tak ada yang mempedulikanku. Semuanya sibuk dengan urusan mereka sendiri sehingga pintu hati nurani mereka tidak terbuka ketika melihat anak dengan usia 13 tahun terluka parah, mereka melihatnya seolah itu hal wajar.

Meskipun aku selalu menjadi pelampiasan emosi warga desaku, aku tidak pernah menaruh dendam kepada mereka. Aku hanya berpikir akan membuktikan kepada mereka arti keberadaanku, dan jika mereka sudah memahami arti keberadaanku, aku akan menghilang dari pandangan mereka, bersikap seolah tak mengenal mereka.

Kalian masih tertarik dengan kisahku? Baiklah, akan ku cerita kan. Tapi, tidak elok rasanya jika menggunakan sudut pandang orang pertama, jadi mari beralih ke sudut pandang orang ketiga.


Rise of Uzumaki: The Special One

Disclaimer © MK Sensei

Warning(s): Typo, berantakan, ancur, gaje dll

Genre: Adventure, Fantasy, Action dll

Jangan membaca dalam gelap jika ingin kedua bola matamu tetap berfungsi dengan baik!


Chapter 1: A Hollow Heart (中空の心 / Chūkū no Kokoro)

Naruto berjalan pasrah saat ia dibawa untuk diadili secara tidak adil karena ia tertangkap sedang memandangi buah-buahan segar yang ada di kios buah. Dengan lirihnya, ia terus menggumamkan kata-kata 'Jangan emosi, kau baik-baik saja' hingga ia sampai di Pusat Desa dan melihat seorang pria dengan masker dan rambut silver menghentikan langkahnya dan memandang nya sejenak.

"Permisi, Tuan. Ada apa ini mengapa ia diikat?" Tanya pria masker itu kepada orang yang memegang tali yang tersambung ke leher Naruto.

"Oh, Kakashi-san. Dia akan diadili karena ia mencuri sepotong buah apel milik Yonezawa-san. Mohon jangan membela nya," jawab orang itu dengan keringat di seluruh wajahnya.

Kakashi menatap kedua mata bulat biru milik Naruto yang memancarkan kepolosan yang nyata. Berdehem pelan, akhirnya ia berkata dengan lembut kepada orang didepannya. "Begini, Dan dan meh sama juga memiliki masalah dengan anak ini dan menyuruhku untuk membawanya dan diadili oleh Ibiki-san. Apakah aku boleh membawanya?" Ucap Kakashi dengan menunjukkan eye smile miliknya.

Orang yang membawa Naruto itu pun langsung membungkuk sejenak dan mengucapkan terima kasih sebelum menyerahkan Naruto kepada Kakashi. Kakashi langsung melepas jeratan tali yang mengikat leher Naruto dan langsung menggendong Naruto ala bridal-style tanpa permisi. Naruto hanya melihat Kakashi dengan heran.

"Paman beda. Paman tidak memukuliku. Mungkin aku akan menyukai paman," ujar Naruto dengan polosnya.

Kakashi tidak menjawab, tidak pula menanggapi. Naruto kembali dibuat bingung karena tak adanya tanggapan dari pria bermasker yang menggendongnya ini. Apakah ia marah? Tapi kenapa?

"Paman mungkin berpikiran aku orang aneh ya? Tenang saja. Kakek bahkan menganggapku sebagai monster kecil, jadi jangan muram karena tidak terbiasa denganku." Dengan senyum paksaan, Naruto berujar dengan nada yang sedikit lirih sehingga menarik atensi Kakashi.

Kakashi memalingkan mukanya. "Kau bukanlah orang aneh. Hanya saja.. Kau sangat aneh." ujar Kakashi tanpa menatap lawan bicaranya.

Jleb! Sangat aneh, batin Naruto seraya menyeka air mata nya yang menggenang di pelupuk mata. "Ne, siapa namamu, Paman? Baru kali ini aku mendengar kejujuran setelah sekian lama. Bolehkah aku memanggilmu Nii-san?" ucap Naruto yang penuh harap dengan mata bulatnya yang besar.

Kakashi tidak bisa untuk tidak tersenyum. Dengan satu anggukan pelan dan disambut oleh teriakan "Hooray"-nya Naruto, perlahan takdir di masa depan berubah sedikit. Masa depan untuk Naruto maupun Kakashi.

© AU Staff ©

Beberapa hari kemudian

Tap! Tap!

Kuso! Kakashi mengutuk dirinya sendiri karena lalai dalam mengawasi Naruto. Ia meminta nya sendiri kepada Hokage Ketiga untuk dibebaskan dari misi untuk sementara demi mengawasi Naruto. Tapi, ia baru saja sekitar 10 menit kehilangan jejak Naruto dan ada laporan bahwa Jelmaan Kyuubi dipojokkan dan dilukai oleh segelintir orang. Jika sesuatu terjadi kepada keturunan Sensei-nya itu, ia tidak berani menampakkan wajahnya kepada sang Sensei.

Terus berlari hingga ia sedikit merasakan hawa mengintimidasi di sebuah gang. Pemandangan di depannya membuatnya ingin menebas beberapa kepala yang seakan menganggap bahwa hal ini adalah hal wajar. Naruto, tengah meringkuk kesakitan dan menangis. Tangan kanannya berusaha menyambungkan kembali tangan kirinya yang terputus. Kakashi tidak tahan lagi, tidak peduli ia akan diadili atau bagaimana. Ia sudah dibuat marah!

"Cepat mati saja kau, Kyuubi!" ujar salah satu orang.

Kakashi yang kehilangan kesabaran langsung melayangkan tinjunya ke salah satu orang itu. Namun tepat sebelum tinju itu menghantam tengkuk, sebuah suara yang memanggilnya membuatnya menghentikan aksi nya dan menoleh ke sumber suara.

"Ada apa ini, Kakashi-san?" ujar sesosok itu.

Kakashi yang tahu siapa sosok itu pun mencoba untuk menenangkan dirinya dan langsung menatap tajam ke sekelompok orang di depannya. Tapi sudah tidak ada orang disana.

"Kenapa, Itachi-san? Kenapa kau tidak membiarkan aku memukul mereka sekalipun saja?" ujar Kakashi kepada orang di depannya yang mengenakan pakaian Anbu lengkap dengan topeng bermotif Gagak.

Orang yang dipanggil Itachi hanya tersenyum tipis. "Yah, kau mungkin tidak akan terkena masalah. Tapi mungkin Naruto-kun bisa terkena imbasnya." ujar Itachi mencoba meredamkan suasana.

Seketika, Kakashi teringat dengan luka yang diderita Naruto. Segera saja Kakashi menghampiri Naruto dan melihat tangan kiri Naruto yang putus. "Naruto! Tahanlah rasa sakitnya! Kumohon!" dengan segera Kakashi berniat menggendong Naruto dan membawanya ke Rumah Sakit. Tapi, hal mengejutkan menghentikan niatnya dan mengejutkannya serta Itachi.

Dari bekas luka tebasan di tangan kiri tersebut, muncul perlahan-lahan segumpal daging yang tumbuh dengan cepat membentuk sebuah tangan baru. Seperti cicak yang menumbuhkan kembali ekornya, namun yang Naruto lakukan tidak membutuhkan waktu lama. Hanya sekitar 3-5 menit saja untuk mengganti bagian yang terpotong.

Kakashi dan Itachi saling berpandangan sejenak. "Apakah ini kemampuan khusus klan Uzumaki, Kakashi-san?" Tanya Itachi seraya berjalan pelan mengikuti Kakashi. "Kemampuan regenerasi yang luar biasa. Tak heran mengapa klan Uzumaki dimusnahkan oleh aliansi Kumo-Kiri-Iwa 30 tahun lalu." Sambung Itachi.

Kakashi sedikit mendongakkan kepalanya mengingat hingga pesan dari gurunya dan Kushina-san tepat 3 hari sebelum kelahiran Naruto.

"Kakashi-chan, jika nantinya Naruto memiliki sifat aneh tolong nasihati dia ya? Jangan memarahinya."

"Tak mungkin aku memarahi anakmu, mak Lampir."

"Grrrhhh.. Kakashi!"

"Dengar, Kakashi. Mungkin saja Naruto nantinya akan mewarisi kemampuan aneh milik Kushina, jika suatu saat kau melihatnya sendiri, tolong jangan beritahu kepada siapapun termasuk Hokage. Karena ini adalah kemampuan tingkat tinggi yang sangat dirahasiakan bahkan di dalam klan Uzumaki itu sendiri. Oh iya, kemampuan itu memungkinkan tubuh Kushina beregenerasi sangat cepat. Bahkan jika kau telah menusuk organ vitalnya, itu akan tetap beregenerasi. Sejauh ini aku belum menemukan jutsu ampuh untuk menangkapnya. Persiapkan dirimu nanti."

"Jadi begitu.." Itachi terlihat paham setelah Kakashi menceritakannya panjang lebar. Kakashi juga meminta agar Itachi merahasiakannya kepada siapapun dan disanggupi oleh Itachi.

"Itachi-san, menurutmu, apa bisa Naruto lulus Akademi? Bagaimana jika nanti ia bertemu musuh yang kuat yang tahu cara menangkal kemampuan nya itu? Aku sungguh—"

"Hentikan pemikiran mu itu, Kakashi-san. Kau hanya akan membuat keadaan semakin sulit. Cukup percaya saja pada kekuatannya. Aku yakin nantinya kau yang akan ditunjuk sebagai sebsei pembimbing nya." Tegas Itachi saat ia melihat bahwa Senpai-nya itu terlihat down.

Kakashi menghela nafas berat dan kembali membetulkan gendongannya pada Naruto yang melotot. "Kau tahu, Itachi-san? Terkadang sebagai murid Yondaime, aku merasa merinding dan muak ketika para penduduk mencerca dan memperlakukan Naruto seperti ... seorang sampah." Kakashi memelankan suaranya pada bagian akhir, "mereka hanya melihat luarnya saja. Mereka hanya melihat scroll saja tanpa mengetahui isi dari scroll tersebut." Lanjut Kakashi seraya memejamkan matanya—mengingat banyak momen ketika ia tak sengaja mendengar cercaan penduduk desa kepada Naruto.

"Entahlah kau, dasar monster!"

"Kembalikan ibuku yang kau bunuh! Monster!"

"Mengapa Sandaime-sama belum melenyapkan monster itu? Jika dia mengamuk maka tamatlah sudah!"

"Monster..", "Jelmaan Kyuubi..", "Mati saja sana, monster!"

Kakashi kembali lagi ke dunia nyata setelah ia menyelam sedikit kebdalam ingatannya. "Cacian dan hinaan yang anak ini terima sudah diluar batas kewajaran. Aku tidak akan memaksanya jika ia membenci desa ini." ujar Kakashi pelan. Itachi diam saja mendengarnya, karena yang dikatakan Senpai-nya itu benar.

"Manusia akan selalu berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Tapi hanya akan ada satu yang terbaik. Tidak peduli sehebat apa dia, pasti akan memiliki kekurangan yang bahkan tidak ia sadari." Setelah mengatakan itu, ia tersenyum tulus kepada Kakashi. Senyuman yang jarang ia perlihatkan pada siapapun.

"Lakukan yang terbaik bagimu, Senpai. Aku akan selalu mendukungmu jika itu yang terbaik." Kakashi terpaku. Kata-kata dari Kouhai-nya barusan memang terlihat biasa saja, namun ada sebuah pesan terselip didalamnya yang tak bisa ia pecahkan. "Baiklah, kompleks Uchiha di sebelah sini. Kita berpisah, Senpai. Sampai jumpa lagi." Itachi melambaikan tangannya.

Jujur saja, Kakashi merasa aneh dengan kalimat terakhir Itachi, terutama pada kalimat Kita berpisah, Senpai. Kakashi merasa sesuatu yang janggal tapi bahkan sampai ia mengantarkan Naruto ke apartemen nya dan pulang ke rumah, ia masih belum menyadari hal apa itu.


Timeskip, a few years later

Kakashi sedang membaca buku novel favorit nya dibawah pohon yang rindang sedang mengamati ketiga anak didiknya. Yang satu terikat di batang kayu dan dua lainnya tengah menikmati makanan. Kakashi dengan malas menutup bukunya itu dan kemudian muncul secara tiba-tiba di depan ketiga anak itu.

"Kembalilah ke Akademi. Kenapa kalian mengabaikan teman kalian sendiri? Sungguh tak termaafkan." ujar Kakashi dengan nada datar.

"Ta-Tapi kami menaati aturan yang sensei berikan!"

"Be-Benar! Kami hanya mengikuti aturan!"

Kakashi menghela nafas berat. "Di dalam dunia ninja, apa saja bisa terjadi dalam waktu singkat. Jika kalian kusuruh untuk menunggu musang bertelur, apakah kalian benar;benar akan menunggunya?" Pertanyaan Kakashi hanya dijawab dengan celengan.

"Begitu juga ketika dalam sebuah misi. Jika temanmu disandera, dan pemimpinmu memberi komando agar jangan melakukan apapun jika belum diperintahkan, apakah kau benar-benar akan melakukannya? Apakah kau rela nyawa temanmu dipertaruhkan padahal kau bisa menyelamatkannya?"

"Manusia akan selalu berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Tapi hanya akan ada satu yang terbaik. Tidak peduli sehebat apa dia, pasti akan memiliki kekurangan yang bahkan tidak ia sadari. Kekurangan kalian adalah kerja sama tim dan rasa peduli satu sama lain."

Poof! Kakashi menghilang dalam kepulan asap dalam sekejap.

'Itachi.. Sepertinya aku mulai memahami kata-kata mu tempo dulu. Kita tidak akan menyadari kelemahan kita jika kita selalu beranggapan bahwa kita lah yang terbaik. Dan akan selalu ada tipe orang yang mengejar kekuatan demi ambisi nya. Kuharap, aku bisa menuntun Naruto dan adikmu ke jalan yang benar dan lurus.'

© AU Staff ©

Keesokan harinya di Akademi Ninja

Terlihat beberapa anak engah menatap tajam kepada seorang anak yang mereka anggap aneh dan menjijikkan. Betapa tidak? Kemarin mereka melihatnya sendiri 3 jari anak itu kemarin terpotong karena kejahilan beberapa anak, tapi ajaibnya jari yang terpotong itu tumbuh kembali. Tentu saja hal itu membuat terkejut beberapa anak. Untungnya, mereka terlalu takut untuk menceritakannya kepada guru ataupun kolega mereka.

"Mungkinkah itu kekuatan monster miliknya?" bisik salah satu anak.

"Jika iya, bukankah ini gawat? Desa dalam bahaya!" anak yang lain menanggapi.

"Tapi jika kita memberitahu sensei, kita bisa dikira sebagai pembual besar! Jadi lebih baik diam saja!" seru anak yang terlihat sedikit tua dari yang lainnya.

Sementara itu, anak yang menjadi objek pembicaraan tersebut sedang diam saja dengan tatapan nanar. "Monster... Monster... Aku monster..." ia terus menggumamkan kata-kata itu dengan nada rendah.

"Hei, kuso gaki.."

Bocah itu terkejut lalu menolehkan kepalanya kesana-kemari mencari tahu asal suara. Namun tak ada bocah yang bisa bersuara berat dan dingin seperti itu. Ia kembali menatap lurus ke depan, tepatnya pada papan tulis di depan yang jaraknya sekitar 2 meter di depannya.

"Hei, kuso gaki. Kau mau tahu siapa aku? Pejamkan matamu, aku akan membawamu ke hadapanku."

Bocah itu kemudian memejamkan kedua matanya. Jantungnya berdegup kencang beberapa kali sebelum ia membuka matanya. Ia mendapati dirinya di dalam sebuah selokan besar, sangat besar. Ia celingukan mencoba mencari keberadaan seseorang yang memanggilnya. Kemudian, suara itu memanggilnya lagi.

"Ikutilah suaraku, kau nantinya akan bertemu denganku."

Ia menurut. Ia mengikuti suara tersebut dan terlihat di depan matanya, sebuah jeruji besar dengan kertas bertuliskan 'Segelas'. Dari balik kegelapan, muncul sepasang mata merah menyala dengan garis vertikal. Spontan, ia mundur beberapa langkah ke belakang. Sebuah suara tertawa mengejeknya.

"Khekhekhe, jadi kau takut padaku, huh? Itu adalah sebuah reaksi yang normal ketika melihatku."

Bocah Itu—Naruto—tampak mengeluarkan beberapa peluh dingin. Aura yang dikeluarkan dari balik jeruji ini sangat besar. Meskipun ia tidak pintar, namun ia mengetahui nya jika ia melepaskan 'sesuatu' di depannya ini, maka hal buruk akan terjadi kepadanya dan seluruh desa.

"S-Si-Siapa k-kau? Tun-Tunjuk-kan di-dirimu!"

Dari kegelapan muncul seekor rubah berbulu lebat berwarna oranye pekat semu kecoklatan. Rubah itu menunjukkan deretan giginya yang tajam membuat Naruto bergidik ngeri.

"Hiiiiii... Ada makhluk jelek di depanku! Tolong aku, Menma! Tolong!"

Sang rubah—Kyuubi—sangat heran dibuatnya. Pertama; bocah di depannya telah mengejeknya dengan menyebutnya makhluk jelek. Kedua; siapa itu Menma? Seingatnya, dirinya hanya disegel ke dalam tubuh bocah di depannya. Atau jangan-jangan..

Menyeringai sejenak, Kyuubi menatap bocah di depannya dengan tatapan tertarik. 'Jadi ini anak Kushina, huh? Aku berani bertaruh bahwa kekuatan monster milik Uzumaki diwariskan kepada bocah ini. Dengan begitu, secara teknis bocah ini kebal terhadap racun dan apapun. Khekhe, mungkin aku akan sedikit membantunya. Terima kasih karena telah membuatku tertarik, kuso-gaki.'

Naruto masih saja meringkuk ketakutan. Hingga kemudian, jantungnya berdetak sangat kencang dan dengan tempo yang cepat. Dirinya juga merasakan bahwa seluruh sel-sel di tubuhnya seperti terbakar. Semua indera nya tak berfungsi. Ada apa ini? Satu hal yang sempat ia lihat sebelum kembali ke dunia nyata adalah, Kyuubi yang menatapnya intens dan menggumamkan sesuatu,

"Selamat datang di dunia, Naruto. Entah apa yang akan kau bawa ke dunia ini, kehancuran atau kedamaian. Silahkan pilih sendiri, khekhekhe."

Real World

"AAAAAAARRRRRGGGHHHHHHH!"

Semua penghuni kelas dikejutkan oleh teriakan Naruto yang melengking. Memegang erat rambutnya Naruto berusaha meredam rasa sakit yang menjalar ke seluruh sel-sel tubuhnya. Semua nya berusaha menjauh dari Naruto, bahkan ketika sang guru—Iruka—memasuki kelas, tak ada satupun yang berani mendekat.

Dalam momen itu, Iruka ketakutan akan sesuatu dalam diri bocah itu. Sesuatu yang mengingatkannya akan trauma di masa lalu. Trauma kehilangan keluarga nya dalam sekejap. Itu ka benci itu. Ia benci. Ia benci sesuatu yang ada di dalam tubuh bocah itu.

Iruka mulai menyadari ada yang tidak beres ketika perlahan chakra-chakra merah mulai keluar dari pori-pori tubuh Naruto. Dengan cepat, Iruka memyuruh semua penghuni kelas untuk keluar dari kelas dan ia pun lekas memegangi pundak Naruto dan menenangkannya.

"Tenang, Naruto! Tenang! Sudah tidak apa-apa! Aku janji!"

Masih tak ada respon, chakra-chakra merah masih keluar dari Naruto. 'Aku tak punya pilihan,' batin Iruka. Seraya mengambil nafas panjang-panjang, Itu ka membisikkan sesuatu kepada Naruto yang ajaibnya menghentikan semua itu.

Naruto menoleh ke arah Iruka dengan pandangan sedih untuk pertama kalinya. "Sen-Sensei.."

Iruka tersenyum tulus kepada Naruto. Ia memberi Naruto sebuah pelukan hangat, "Sekarang sudah tidak apa-apa, Naruto. Maaf, ya.." ujar Iruka lembut.

Air mata terus mengalir dari kedua pelupuk nya. Naruto terisak pelan sambil membalas pelukan Iruka. "Maaf, Sensei." Naruto terus mengucapkan maaf.

"Yang aku mau hanyalah semua orang memperlakukanku seperti seorang manusia, bukan monster. Whaaa.."

Tangisan itu mengubah segalanya.

.

.

...bersambung ke chapter 2


Author Notes

Yahalo! Gimana kabar kalian? Baik-baik saja? Saya mau meminta maaf yang sebesar-vesarnya, bukannya nyelesaiin cerita yang lain tapi malah buat cerita baru lagi. Hadeuhhhh . klo ga beres mohon maafkan XD

3 bulan belakangan saya menghadapi beberapa masalah, mulai dari file story yang hilang, hape bermasalah, laptop yang punya masalah dalam hal virus dll. Dan lagi saya minggu kemarin baru saja menyelesaikan Uji Kompetensi Kejuruan. Yah, ga bisa ditunda lagi T.T

Dengan membawa nama baru saya harapkan penname ini bisa hidup kembali, tapi sepertinya akan butuh waktu yang agak lama yah. Tapi gak apa-apa, saya menulis cerita karena hobi, saya suka menulis. Menulis adalah bagian dari hidup saya, jadi it's okay for me

Cuma itu yg bisa saya sampaikan. Untuk cerita A Simple Hope mungkin akan sedikit lama update nya, yah karena file story punya saya hilang semua karena belum saya upload di ffn. Tapi saya akan usahakan minggu depan update. Terima kasih atas dukungannya!

© Artic'Uno Staff