Menyebrang

Fanfiction (Amazing Spider-man x Mako Mermaids x Twilight)

Amazing Spider-man © ME

Mako Mermaids (Netflix)

Twilight © SM

Multi Crossover

Genre : Friendship


Dunia penuh rahasia, bahkan untuk makhluk yang keberadaanya dianggap sebagai mitos.


Sekolah tinggi Midtown, Manhattan menjadi awal segalanya. Pendatang baru di awal tahun ajaran adalah hal umum yang mudah ditemui dimanapun. Seperti biasa, hari itu jadi pagi yang sibuk bagi Peter Parker. Berlarian mengejar bus sekolah bukan favoritnya tapi salahkan kecerobohannya yang bangun terlambat.

Patrolinya sebagai spider-man menyita sebagian waktu tidur. Yup! Dia adalah spider-man, sebagian menyebutnya sebagai pemain hakim sendiri di jalanan New York. Tindakannya memang tidak bisa dibenarkan, tapi lebih terasa benar bila dibandingkan membiarkan kejahatan jalanan tidak tertangani.

Lalu kemana Avengers? Mereka terlalu sibuk melawan alien dan kejahatan besar lain hingga mungkin tidak ada waktu penjahat kecil di New York. Bicara soal Avengers, Peter merasa cukup beruntung karena Spider-man masih di bawah radar. Sungguh gabungan para pahlawan super bukan pilihan tepat dihadapi.

Bus sekolah terus melaju dan akhirnya berhenti 10 meter di depan. Peter segera meningkatkan kecepatan dan segera memasuki bus berwarna kuning. Seperti biasa anak-anak lain menertawakan kebodohannya, tapi dia tidak peduli. Flash dan antek-anteknya memasang wajah sombong.

"Tidur sambil berjalan lagi, Parker!" Tawa lain segera pecah ketika Flash berbicara. Dia hanya merunduk seperti biasa sembari berjalan mencari tempat duduk. Bukan hal aneh lagi, anak-anak lain juga tidak ada yang mau peduli, mungkin hari ini dia harus berdiri lagi.

"Disini, kau bisa duduk disampingku." Satu wajah yang belum dikenal mempersilakannya duduk. Dilihat dari aksen dan wajahnya, jelas dia bukan Amerika. Dia seperti anak campuran Asia-Amerika.

"Uhm, terimakasih," Peter menjawab dengan senyum tulus pada pemuda asing berambut hitam.

"Ngomong-ngomong, Aku Zac. Zac Blakely aku baru disini."

Itu menjelaskan kenapa Peter belum pernah melihatnya. Pemuda itu tampak baik sebagai anak baru. "Peter Parker yang lain biasa juga memanggilku nerd sekolah."

Peter tidak mau menyembunyikan apapun pada si pendatang baru. Itu pilihannya, jika dia akan berteman dengan nerd sekolah dia harus tahu resikonya.

"Mereka pasti terlalu menyukaimu bung!" Zac tertawa kecil dan anehnya menular pada Peter.

Mengobrol dengan anak baru ternyata sangat mudah, pemuda itu ramah. Dalam beberapa menit mereka sudah bertukar banyak cerita, kebanyakan tentang Zac karena Peter memilih jadi pendengar baik. Teman barunya ini ternyata datang dari tempat yang sangat jauh. Zac dari Australia! Negeri Kanguru yang hanya Peter bisa lihat di peta dan internet.

Kedekatan mereka rupanya tidak berhenti sampai di akhir perjalanan, begitu turun dari bus Peter secara suka rela mengantar Zac ke bagian administrasi. Keduanya memekik kecil melihat sebagian besar kelas keduanya berbagi jadwal yang sama. Loker mereka juga berdekatan sehingga sangat mungkin mereka akan sering bertemu.

Zac tampak bernapas lega disamping Peter. "Satu jam yang lalu, aku begitu khawatir dengan sekolah yang akan kulalui di tempat yang baru. Semua terasa asing. Aku tidak menyangka akan baik-baik saja!"

"Kamu akan baik-baik saja, terlebih beberapa gadis tampak terpaku padamu Zac." Peter menggoda teman barunya. Berbeda dengan fisiknya yang kurus dan tampak rapuh, Zac memiliki tubuh layaknya atlit yang sempurna. Bisa dikatakan dia adalah impian para gadis di Queens. Matanya tidak cukup bodoh melihat banyaknya mata wanita terpaku pada Zac.

"Oh, benarkah? Tapi sayang sekali, aku sudah punya gadis cantik yang menunggu untuk lulus." Kilatan nakal terpancar di wajah Zac.

"Bruh, itu jahat! Kenapa dunia tidak adil?" Peter merengek pura-pura kesal.

"Karena begitulah cara kerja dunia."

Peter cemberut. Senang rasanya memiliki teman mengobrol yang nyata. Walau baru mengenal Zac dalam beberapa menit mereka sudah akrab layaknya teman lama.

Untuk kali ini mungkin Peter akan merasa hidup sebagai orang normal. Dia akan punya orang lain selain Gwen yang bisa diajak bicara.


Zac sangat senang bisa memulai hidup baru di tempat yang baru. Bukan berarti dia tidak menyukai Australia tapi dia benar-benar perlu menjauh dari hidupnya yang serba gila. Dunianya terasa jungkir balik sejak setahun lalu, dimulai jatuh ke kolam bulan, dikejar-kejar putri duyung, Evie yang berubah, krisis identitas, munculnya naga air hingga kemunculan sang ibu kandung.

Suka tidak suka Zac harus menerima kenyataan dirinya bukan manusia. Dia adalah duyung bahkan sejak lahir. Dia akan menyebut dirinya setengah ikan bila dirinya manusia. Melompat dari dunia manusia normal ke dunia mitos bukanlah salah satu rencana masa depannya, jadi dia perlu waktu banyak untuk menerimanya.

Mendapat beasiswa ke luar negeri mungkin jadi jalan salah satu cara dia dapat beristirahat dari kekacauan hidupnya. Sekarang Zac disini, sekolah tinggi di Manhattan. Untuk pertama kalinya dia akan hidup sendiri tanpa pengawasan orang tua. Zac mendapatkan beasiswa ini setelah membuat jurnal penelitian tentang kehidupan bawah laut di Mako. Tentu lebih mudah bagi dirinya untuk membuat penelitian ini dibanding ilmuan lain.

"Oke, kita sampai disini. Kelas Sejarah Nyonya Brown. Kusarankan kau mendengarkannya baik-baik, dia seperti punya kepala lain!" Peter menjelaskan penuh semangat. Dia adalah teman pertamanya. Peter Parker. Seorang pemuda yang dianggap nerd dan mungkin juga sasaran penindasan disini. Bullying memang selalu ada dimana-mana, tapi di sekolah barunya hal itu tampak jelas di depan mata.

"Oke, aku tidak akan macam-macam. Aku ambil saranmu."

Keduanya berjalan beriringan masuk kelas. Hanya tersisa tiga bangku di pojok belakang. Peter dan Zac tahu mereka tidak punya pilihan selain menempati bangku tersisa. Zac mengambil langkah terlebih dahulu sampai dia mendengar seseorang terjatuh.

Ada suara cukup keras yang diikuti tawa anak-anak lain. Pemuda bernetra hitam segera berbalik dan mendapati Peter tersungkur dengan wajah mencium lantai.

"Parker itu lantai bukan bantal! Lihat! Lihat! Wajahmu lucu, hidungmu merah! Kurasa kau akan jadi badut!" Tawa segera melimpah. Zac melihat wajah itu lagi, wajah di bus yang juga mencemooh Peter. Pemuda pirang berbadan besar. Sesaat Zac menatap tidak suka padanya sebelum perhatiannya teralih pada Peter yang berjuang berdiri.

Hidung teman barunya berdarah. Anehnya Peter tidak melakukan apapun selain mengajak Zac untuk duduk.

"Katakan padaku, apakah mereka sering melakukan ini padamu?" Tanya Zac penuh amarah. Dia tidak suka penindasan apapun bentuknya.

"Tidak, ini hanya aku yang ceroboh. Biarkan saja." Pemuda Australia bisa menangkap adanyanya kebohongan di mata Peter. Jelas pemuda bersurai coklat itu terlalu pasrah dengan apa yang dilakukan temannya.

"Pernah melaporkan pada guru?"

Peter menggeleng. "Tidak berguna, biarkan saja."

Zac mengerang. Sekolah macam apa yang membiarkan muridnya tertindas. Zac yakin ini bukan kali pertamanya Peter ditindas. Sejenak pikiran jahat menyelimutinya, dia gatal untuk menggunakan kekuatannya untuk mengerjai anak pirang itu. Sayangnya sebelum pikiran jahatnya terlaksana sudah ada guru yang telah masuk.


Sebuah volvo perak keluaran terbaru meluncur di halaman parkir sekolah Midtown. Untuk kali ini sang pengemudi merasa lega karena mobilnya bukan lagi yang termewah di daerah itu. Entah dirinya itu bodoh atau memang sangat bodoh lagi-lagi dia menuruti kemauan ayah angkatnya untuk pergi ke sekolah.

Lagi.

Pemuda bersurai perunggu merasa tidak benar membiarkan dirinya tergelincir untuk pura-pura hidup sementara semua hidupnya telah hancur. Dia benci dirinya sendiri tidak mampu mencegah kekacauan. Jika saja dia tidak menginginkan Bella terlalu banyak maka dia tidak akan kehilangan banyak hal.

Bella, putrinya, saudara-saudaranya, teman yang dikenal, semua pergi meninggalkan luka. Perang besar antara Volturi dan Keluarganya benar-benar menghilangkan semuanya. Seluruh Volturi lenyap dan harga yang harus dibayar adalah orang-orang yang dicintainya juga ikut lenyap.

Keluarga Cullen hanya menyisakan Carlisle dan dirinya. Sebuah ironi karena mereka ditinggalkan sendiri. Mereka yang ikut berjuang hanya beberapa yang tersisa. Sebagian senang Volturi lenyap dan sebagian lain hanya gelisah tidak ada lagi penegak yang menjaga kerahasiaan kaum mereka.

Tidak dipungkiri bila keberadaan mereka terungkap pada manusia, kehidupan mereka secara tidak langsung akan terancam. Vampir kuat tapi manusia modern juga punya teknologi yang sangat mungkin menghancurkan vampir. Belum lagi dengan adanya Avengers, kumpulan manusia berkekuatan super. Mencolok sedikit saja vampire bisa saja diburu oleh mereka.

Tidak ada pilihan lain, mereka harus menjaga rahasia walau tanpa Volturi. Mitos harus tetap menjadi mitos.

Sekali lagi Edward memandang ke bangunan sekolah untuk berpikir. Masih belum terlambat untuk membatalkan bermain peran sebagai siswa. Tidak seperti kota-kota yang dulu biasa mereka singgahi, kali ini Carlisle memilih Manhattan. Kota besar dengan cuaca sebagian tahun penuh matahari? Bunuh diri?

Bukan! Carlisle hanya mencoba mencari suasana baru.

Dua bulan lalu Carlisle baru saja menciptakan lotion yang mampu menutupi sisi vampire mereka. Itu adalah campuran beberapa bahan kimiawi yang digunakan untuk mengobati luka bakar dengan sedikit bubuk mutiara. Itu melapisi kulit mereka layaknya mantel transparan. Edward bukan penggemar sains jadi dia tidak begitu peduli bagaimana Carlisle menciptakannya.

Banyak suara berdegung di kepalanya begitu dia melangkahkan kaki. Dia tahu seperti apa dirinya bagi mereka. Kecantikan tidak manusiawi yang membius mata manusia. Bukan salah manusia terpesona.

Mengabaikan semua mata, Edward menuju ruang resepsionist untuk mendapatkan jadwal kelas. Seperti biasa, siapapun perempuan malang itu akan terpesona dengan tampilan cantiknya.

Edward tersenyum kecil sebagai bentuk sopan santun setelah menerima jadwal. Kelas pertamanya adalah Sejarah yang jujur baginya terasa membosankan. Tidak akan menarik lagi jika memiliki ingatan sempurna.

Well! Kesombongannya sepertinya baru saja mendapat teguran. Guru kelasnya sudah hadir bahkan sebelum dia masuk. Dia seorang wanita paruh baya, dengan mata tajam di bawah kacamata berbentuk bulan separuh. Tipe guru yang banyak dibenci murid.

"Siapa siswa ini, berani terlambat di kelasku."

Edward terkejut betapa tidak ramahnya wanita satu ini. "Maaf, apa ini kelas sejarah Nyonya Brown. Aku siswa baru dan agak tersesat." Dia benci berbohong tapi dia tidak suka mencari masalah di hari pertama sekolah.

"Siswa baru?"

Edward mengangguk.

"Pastikan kau tidak terlambat lagi ke kelasku Mr-?"

"Edward Cullen." Dia memotongnya cepat.

"Yeah, Mr. Cullen. Aku kira sudah membuat diriku jelas. Aku tidak menolerir keterlambatan. Hanya kali ini Mr. Cullen." Nyonya Brown berkata penuh intimidasi.

Edward mengangguk mengerti. Pemikiran guru itu benar-benar serius, wanita satu ini sama dalam pikiran dan lisan. Bukan guru yang akan Edward sepelekan dan itu menarik.

Begitu dia masuk kelas, dia sudah bisa mencium berbagai aroma. Aroma darah, makanan berlemak yang tersembunyi, kayu, yang anehnya sedikit tercampuk dengan aroma laut yang menyegarkan. Suara anak-anak lain mulai berdengung di kepala dan kebanyakan adalah anak perempuan yang merutuki penuhnya bangku di kelas itu. Mereka kecewa tidak memiliki kesempatan pertama untuk berkenalan. Hanya satu bangku tersisa di sudut kelas.

"Hallo, boleh aku duduk di sini?" Walau sudah tahu itu satu-satunya bangku tersisa tapi Edward tetap menunjukkan kesopanannya. Dia melihat pemuda bersurai coklat terlihat tidak nyaman begitu dirinya mendekat.

"Tentu, itu milikmu." Pria bernetra hitam menjawabnya ramah. Sangat berbanding terbalik dengan pemuda di sebelahnya yang tampak jelas tidak nyaman.

"Aku Edward Cullen, aku baru disini."

"Aku juga! Wow! Aku beruntung menemukan pendatang lain. Kuharap kita bisa berteman baik sebagai sesama pendatang baru. Aku Zac, Zac Blakely. Senang berkenalan denganmu. Dan ini Peter." Zac menunjuk teman berbadan kurus di sebelahnya.

Edward berusaha menutupi keterkejutannya ketika memandang pemuda di sebelah Zac.

"Aku Peter Parker, kau bisa memanggilku Peter!" Pria bersurai coklat berusaha ramah tapi otot-otot tubuhnya tidak bisa berbohong. Pemuda itu tegang dengan pikiran menjerit. "Apa-apaan ini!"

"Senang berkenalan dengan kalian." Edward memaklumi pikiran Peter. Manusia normal yang peka mungkin akan bereaksi demikian.

"Ini bagus, aku bukan satu-satunya anak baru. Syukurlah dia lebih mencolok dari pada aku." Kebalikan dengan Peter, Zac sama sekali tidak merasa aneh dengan kehadirannya, dia tampak lebih senang menemukan orang lain lebih mencolok.

Edward segera duduk sebelum gurunya akan menegur. Perintahnya sangat tajam hingga sang pembaca pikiran terganggu. Dia baru menyadari sesuatu setelah duduk. Aroma Zac dan Peter aneh sebagai manusia. Keduanya tidak berbau harum yang mengundang dahaga tapi lebih ke arah unik, Zac membawa aroma kesegaran pantai dan Peter memiliki aroma aneh yang belum bisa dia deskripsikan secara pasti.

Sang vampir mengangkat alisnya sebagai tanda berpikir. Apa ini? Edward tidak bisa melepaskan pemikirannya jika Nyonya Brown tidak memulai kelasnya.

Hari itu kelas Sejarah secara keseluruhan berjalan lancar, mereka memulai awal semester dengan materi sejarah dunia. Edward bisa mendengar Peter berteriak bosan di pikirannya dan Zac hanya berpikir untuk tidur.

Terjebak dengan dua anak yang bosan merupakan fase awal nasib sialnya dimulai. Terikat dengan mereka sebagai kelompok ternyata lebih menyebalkan. Peter dan Zac bukan penggemar sejarah apalagi menulis esai panjang tentangnya. Salahkan kebodohannya mengeluarkan buku, Zac secara tidak sengaja melihat tulisan tangannya.

"Bung, serius tulisannmu sangat indah. Kau harus jadi penulis di tim ini. Aku dan Peter akan merangkumnya untukmu."

Edward mengerang secara internal. Dia tampak akan memulai protes namun sudah dipotong Peter.

"Kau tidak bisa membiarkan tulisan cakar ayam kami merusak laporan kita." Jerit Peter penuh kejenakaan. Edward tahu apa yang mereka pikirkan dan anehnya dia tidak keberatan memenuhi keinginan egois dua anak muda di depannya ini.

Dan, kabar baiknya adalah . . . .

Kelas sejarah bukanlah apa-apa karena hampir delapan puluh persen ketiganya berbagi kelas yang sama. Naluri Edward mengatakan dua bocah ini akan menempel padanya.


Seri 1 (Lengkap)

Saya tahu, cerita ini akan aneh dan OOC terutama karakter Edward. Tapi ini Fanfiction, tolong biarkan saya bersenang-senang dengan imajinasi anehku.