Disclaimer : Segala karakter yang digunakan disini adalah ciptaan Masashi Kishimoto. Hanzama tidak berniat untuk melanggar hak cipta ataupun sebagainya. Segala bentuk kesamaan yang disajikan disini tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk menghibur pembaca.
Sinister Romance © Hanzama
Rating : M (For Save)
Genre : Romance,Family, Crime
Warning Crack Pair, Typo, EYD berantakan, Gaje
Hinata disini adalah versi RTN (Road To Ninja)/Yandere
Pair : NaruSaku, SasuHinaRTN, ShikaIno
.
.
.
DLDR
.
.
.
Summary : Naruto, Sasuke dan Shikamaru adalah Terroris yang akan dieksekusi mati selama 1 bulan lagi. Setelah divonis atas kejahatan mereka, mereka mengancam bahwa mereka sudah menanam sekitar 80 bom di seluruh penjuru ibukota, yang bisa mereka aktifkan kapan saja. Dan mereka tidak akan mengatakan dimana bom itu sebelum mereka mendapatkan permintaan terakhir mereka... yaitu mendapatkan istri yang dapat mereka nikahi.
.
.
.
[Chapter 1 : "The" Mission]
.
Barak Satuan komando 101, Pasukan Kusus Perempuan.
Mayor Tsunade memandang Kertas yang ada di mejanya sejak kemarin. Kembali memeriksa isi dari file yang dikirim langsung oleh menteri pertahanan dua hari yang lalu. Dilihat dari raut wajahnya, dia nampak masih mempertimbangkan permintaan tidak masuk akal dari orang yang jabatannya jauh lebih tinggi darinya itu.
Tepat dua hari yang lalu, Menteri Pertahanan Nasional Hiruzen Sarutobi mengirim sebuah dokumen berlabel "CLASSIFIED" lengkap dengan surat yang mengatakan bahwa dia butuh 3 orang perempuan dari satuan Tsunade untuk menjalankan misi Khusus.
Misi Khusus yang dimaksud adalah menikahi tiga buronan kelas berat sebelum buronan tersebut dieksekusi mati. Alasannya adalah, karena tiga buronan yang dimaksud sudah mengancam akan menghancurkan ibukota dengan menggunakan 80 buah bom tipe HE (High Explosive), kecuali mereka dicarikan istri.
Tsunade terduduk lemas, dia tau bahwa permintaan dari atasannya adalah mutlak. Dan sudah sepantasnya sebagai personil militer bahwa Tsunade tidak membantah permintaan atasannya itu. Namun tetap saja, memilih tiga orang dari pasukannya untuk menikahi tiga orang psychopath? itu keputusan yang sangat berat.
Mayor itu lalu kemudian kembali mengecek dokumen tiga orang yang dikirim. Dia memperhatikan setiap detail dari dokumen tersebut. Ya, Tsunade tau orang-orang ini, mereka adalah orang-orang yang gawat.
Uchiha Sasuke, seorang Tekhnisi yang beberapa bulan lalu menyabotase pabrik persenjataan negara dan mengakibatkan pabrik itu meledak dan menewaskan ratusan orang.
Nara Shikamaru, Ahli Software yang berhasil meretas server dari website bursa saham nasional dan membuat mata uang Yen inflasi besar-besaran selama 2 bulan penuh. Mengakibatkan kerusuhan dimana-mana.
dan yang terakhir adalah Namikaze Naruto, orang yang bertanggung jawab atas meninggalnya 200 orang pasien rumah sakit karena dia dan komplotannya menjarah truk pengangkut obat-obatan dan mengacaukan distribusinya dengan cara menambahkan pottasium Sianida kepada obat-obatan tersebut.
Mereka bertiga adalah otak dari komplotan kejahatan paling di cari Negara. Tsunade tidak paham apa tujuan mereka, namun yang dia tau dengan melihat 'hasil karya' mereka, tentu Tsunade tidak mungkin meragukan kalau mereka bisa saja benar saat mereka bilang bahwa mereka sudah menanam 80 Bom HE di ibukota.
Namun ini semua terlalu aneh bagi Tsunade. Dari laporan yang Tsunade terima, ketiga orang ini menyerah tanpa perlawanan kepada PBB dan Tentara Nasional saat mereka diringkus. Bahkan upaya penangkapan tersebut bisa dibilang terlalu mudah bagi orang-orang yang komplotannya bisa melumpuhkan tiga sektor vital nasional tanpa terdeteksi
sSraak.
Pikiran-pikiran Tsunade teralihkan saat dilihatnya tiga orang gadis masuk. Ketiga orang tersebut bersenjata lengkap dan memakai pakaian militer khas pasukan khusus. Mereka kemudian berdiri berjajar di depan Tsunade sebelum mereka memberi hormat.
"Lapor, Letnan satu Sakura Haruno, Letnan Satu Hinata Hyuuga, dan Letnan dua Ino Yamanaka siap bertugas." seru gadis berambut merah muda tegas. Sakura.
"Hm." Tsunade membalas hormat mereka.
Setelah basa-basi militer itu, Tsunade kembali santai dan menatap satu persatu wajah satuannya itu.
"Aku asumsikan kalian sudah tau kenapa kalian aku panggil kesini." Ujar Tsunade. Mencoba memancing segala pertanyaan yang mungkin ada di benak mereka.
Ketiga gadis itu saling toleh.
Ya, mereka tau. Karena semenjak tadi malam, mereka sudah di briefing oleh Kapten Shizune perihal 'krisis' yang terjadi di ibu kota.
"Ya. Kami sudah mendengarnya dari Kapten Shizune." Balas Sakura.
Tsunade mengangguk.
"Ada pertanyaan?" tanya Tsunade.
"Tidak Mayor." Sakura menjawab lantang. Namun sayang, nampaknya ada satu gadis yang lain belum terima.
"Maaf, Saya masih punya banyak pertanyaan Mayor." Gadis lain mencoba naik banding.
"Apa pertanyaanmu, Ino?" tanya Tsunade.
"Ya, Saya mengerti kalau ibukota kini sedang dalam krisis, namun tolong jelaskan lagi kenapa kami harus menikah dengan para kriminal?" tanya Ino.
"Itu karena para kriminal itu yang meminta dicarikan istri." Jawab Tsunade. Gadis itu nampak belum puas.
"Orang yang akan dieksekusi mati satu bulan lagi meminta istri? Saya benar-benar tidak paham."
Yap, Tsunade mengerti segenap kegelisahan gadis yang ada di depannya. Namun tetap saja, mandat perdana Menteri itu tidak bisa dibantah.
"Ino, Aku mengerti kegelisahanmu. Jujur, kalau bisa aku juga ingin menolak permintaan tidak masuk akal ini. Namun permintaan dari atasan tidak bisa aku abaikan begitu saja, dan ini semua harus dilakukan untuk menyelamatkan banyak orang." Jelas Tsunade.
"Iya makannya. Kenapa konteksnya harus menikah?" tanya Ino lagi. Masih belum mengerti segala jenis 'konspirasi' yang ada pada otak orang-orang yang jabatannya tinggi.
Tsunade nampak menghela nafas. Pandangannya melembut ketiga perempuan di depannya.
"Ketiga lelaki ini adalah kriminal kelas berat dan pembunuh berdarah dingin. Mereka tidak segan membunuh siapa saja demi mencapai tujuan mereka. Dan dari file yang aku terima, aku percaya bahwa ancaman mereka untuk menghancurkan Ibukota tidak main-main. Alasan aku memilih kalian menjalankan misi ini adalah karena aku tau kalau kalian adalah 3 prajurit terbaik dari skuad ku." Jelas Tsunade lagi.
"..."
"Meskipun aku bilang bahwa kalian harus menikah dengan mereka. Namun perlu digaris bawahi bahwasannya umur mereka tinggal 1 bulan lagi sebelum dieksekusi. Aku sebagai orang yang pernah menikah tau, bahwa berumah tangga selama 1 bulan tidak bisa dibandingkan dengan kebahagiaan menikahi pasangan untuk selamanya. Itulah kenapa ini tidak lebih dari sekedar misi."
"..."
"Dan penjabaran misi tersebut sangat sederhana. Jadilah Istri para narapidana itu, cari informasi mengenai 80 Bom HE, dan cegah kehancuran Ibukota sebelum semuanya terlambat. Setelah misi ini selesai, dan mereka dieksekusi mati, kalian boleh menikah dengan siapa saja." Tsunade mengakhiri.
Ino pasrah. Dia benci mengakuinya, namun segala macam perihal menikahi kriminal ini terdengar sederhana saat Tsunade yang meluruskannya. Gadis bersurai pirang itu melirik Sakura, dia sepertinya tidak keberatan sama sekali. Kemudian pandangannya ia alihkan ke Hinata, berniat minta opini.
"Menurutmu bagaimana, Hinata?" Ino Berbisik.
Namun pandangan Hinata lurus ke Tsunade. Dengan mantap, gadis berambut biru bermata putih itu mengutarakan pendapatnya.
"Aku tidak mau berhubungan Sex dengan mereka." Ujar Hinata protes. Membuat perhatian Sakura juga sepenuhnya teralihkan. Benar juga, menikah artinya harus berhubungan Sex.
Tsunade mengangkat bahu. Dia lalu membuka lacinya dan mengambil sesuatu.
"Kalau kalian merasa harga diri kalian lebih tinggi, lakukan pertahanan sebisa kalian. Namun jika kalian merasa hal tersebut sudah tidak bisa dilakukan, aku akan memberi kalian persenjataan khusus." Ujar Tsunade.
Mayor itu kemudian menyodorkan beberapa tablet pil KB kepada ketiga pasukannya.
"..."
.
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0
.
Skip
Lapangan luas di markas komando 101 memang biasa digunakan untuk berbagai macam latihan. Dari latihan menembak sampai latihan bela diri.
Memikirkan misi yang baru mereka dapat, Ino dan Hinata kini sedang bertarung satu sama lain sementara Sakura kini sedang menimang-nimang dan memperhatikan pil KB yang beberapa saat lalu diberikan oleh Mayor Tsunade.
"Bahkan untuk Mayor Tsunade, hal seperti ini juga bisa membuatnya pusing. Maksudku lihat mukanya tadi." Suara Sakura tidak mengalihkan pertarungan beladiri Hinata dan Ino.
Kedua gadis yang sedang saling mencoba menjatuhkan satu sama lain mendengarkan. Namun mereka masih saling menangkis tinju.
Ino melayangkan tendangan ke Hinata namun Hinata lebih cepat untuk mengunci tangan Ino dan menjatuhkannya, setelah merasa dia tidak mampu melawan, Ino menepuk tanah tiga kali tanda dia menyerah.
"Mayor Tsunade... hah.. pasti juga memikirkan.. hah.. banyak hal."Balas Ino. Dia tersengal-sengal. Hinata kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya ke Ino untuk membantu perempuan itu berdiri.
"Aku hah.. menang lagi." Ujar Hinata.
Ino Terduduk. Dia masih mencoba mengatur nafas.
"Skor kita hah.. 10 banding sebelas Hinata hah.., aku masih didepanmu satu hah.. kemenangan." Balas Ino. Hinata mengiyakan sembari masih tersenga-sengal.
"Ya.. .ya.. 2 kemenangan lagi dan kau berhutang pada Hinata tiket ke Konoha Skypark." Sahut Sakura. Mengingatkan Janji Ino saat Hinata berhasil melampaui skor pertarungan mereka kelak.
Masih mencoba mengatur nafas. Kedua gadis itu lalu menoleh ke Sakura. Mengamati gadis itu yang kini sedang mengamati Intens tablet Pil KB yang diberikan oleh Mayor Tsunade.
"Kau.. hah.. mau menyimpan itu?" tanya Hinata, merujuk kepada Pil KB yang ada di genggaman tangan Sakura
Sakura memejamkan mata, sebelum dia memasukkan bungkusan pil itu ke tas taktikalnya dan menjawab pelan.
"Ini tetap Misi, aku akan menyimpannya untuk keadaan darurat." Jawab Sakura yakin.
"Aku tidak mengerti hh..kenapa kau Sangat santai dengan misi seperti ini Forehead. Bukankah kau juga masih perawan?" Celoteh Ino, menyadari Sakura telihat sangat santai.
Sakura menoleh. Pandangannya tajam.
"Aku juga tidak mau perawanku hilang diambil kriminal Ino. Tapi kau dengar apa kata Mayor Tsunade kan? Misi ini penting untuk kelangsungan Ibukota." Jawab Sakura tegas.
Ino nampak pasrah. Dia lalu menoleh ke Hinata. Yah, kalau Hinata sih. Ino sendiri cukup yakin kalau gadis itu tidak mungkin mau memberikan keperawanannya begitu saja.
"Kau sendiri bagaimana Hina-"
"Aku.. akan memotong kemaluannya."
"H-Ha?" Ino Tekaget saat dia mendengar Hinata bergumam pelan. Suara itu nampaknya cukup keras untuk didengar Sakura juga.
Kedua gadis itu kemudian mendapati tatapan yakin Hinata.
"Siapapun yang jadi suamiku.. Jika dia macam-macam, aku akan memotong kemaluannya."
"..."
.
.
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0
.
.
Beberapa Hari Kemudian
Sakura, Hinata dan Ino diberi penjelasan lebih lanjut soal misi mereka saat mereak sudah berada di tempat ini. Yang dimaksud tempat ini adalah Markas Besar Angkatan Darat, ruang jenderal besar Hashirama.
"... Yah.. Kurang lebih seperti itu," Jenderal Hashirama menyelesaikan penjelasannya kepada ketiga perempuan yang sekarang duduk di depan meja kerjanya.
Ketiga perempuan yang dimaksud, Sakura, Hinata dan Ino, mereka masih mengamati beberapa file yang diberikan Sekertaris Jenderal Hashirama beberapa menit yang lalu. File yang berisikan keterangan lebih lanjut dari tiga kriminal yang sekarang sudah diamankan di salah satu tempat di gedung ini.
Sakura, dia mengamati berkas milik Namikaze Naruto. Di dalam lembaran file yang berlipat itu, dijelaskan tentang golongan darah, bahkan catatan kriminal. Namun sepertinya informasi yang ada kurang mendetail.
"Ada informasi lain selain Ini Jenderal?" tanya Sakura. Membuat Hinata dan Ino menoleh.
Sayangnya, Jenderal Hashirama menggeleng tanda tidak.
"Kami sebisa mungkin berusaha mencari latar belakang mereka lebih jauh. Namun sampai sekarang, kami bahkan belum dapat mengetahui tempat tanggal lahir mereka. Tidak ada catatan kelahiran, bahkan Informasi dari Internet. Seakan keberadaan mereka benar-benar tidak diketahui sampai mereka melakukan aksi terror mereka." Jelas Hashirama.
Mendengar Hal itu, Ketiga gadis yang kini duduk kembali mengamati berkas yang mereka pegang.
Disisi lain Ino, berkas yang dia dapat adalah berkas seorang lelaki berambut kuncir. Dengan Foto yang menampakkan wajah malas. Nara Shikamaru. Di lampiran Foto yang lain, terdapat logo aneh berbentuk kepala rubah.
"Ini apa?" tanya Ino.
Jenderal Hashirama yang melihatnya langsung tau.
"Ah.. itu.. Kepala Rubah merah. Kami memang belum tau maksudnya, namun divisi analitik mempercayai bahwa itu merupakan logo dari organisasi teroris mereka. Meskipun begitu, kami bahkan tidak mengetahuinya sampai kami memeriksa tatto di tubuh mereka."
Ino menghela nafas dalam. Entah kenapa segenap perkataan Jenderal Besar yang ada di depannya ini terkesan menunjukkan bahwa pria ini memang belum mendapat informasi yang berarti.
"Yang jelas. Semua itu tidak masalah lagi. Pasalnya mereka sudah ditangkap dan dijadwalkan mati 1 bulan lagi. Yang harus kalian lakukan adalah memenuhi keinginan mereka dan setelahnya, kalian akan diberikan penghargaan." Lanjut Hashirama.
Ketiga gadis yang ada disitu tidak menjawab. Hashirama melanjutkan lagi.
"Aku tau, tidur dengan Terroris adalah misi yang sangat aneh. Namun aku dapat memastikan bahwa saat misi ini selesai, kami akan memberikan kalian imbalan yang setimpal." Hashirama mengakhiri.
Sakura dan Ino mengangguk tanda mengiyakan. Melihat ketiga prajuritnya nampak paham. Hashirama pun berniat menyudahi.
"Ada pertanyaan lagi?" tanya Hashirama.
Namun nampaknya, ada seorang yang mengangkat tangan.
"Jadi.. Kapan tepatnya kami boleh membunuh mereka?" tanya Hinata polos.
Hashirama sedikit terkejut, namun detik berikutnya dia tertawa.
"Kami menjadwalkan eksekusi mereka bersama penembak jitu tepat 1 bulan semenjak hari ini. Jadi aku melarang kalian untuk membunuh mereka di malam pertama. Namun, apabila situasi berubah menjadi genting, dan ketiga terroris itu menunjukkan gelagat yang menurigakan, kalian boleh mengeksekusinya menggunakan ini..." Jelas Hashirama. Dia mengeluarkan sebuah kotak dari lacinya.
Ketiga gadis itu memperhatikan saat Hashirama mengeluarkan tiga buah gelang dari kotak tersebut.
"... Namun sebelum membunuh mereka, kalian harus memastikan dulu kebenaran soal 80 bom HE yang mereka pasang di Ibukota."
.
.
.
.
.
Skip
Sakura, Hinata dan Ino mengikuti seorang pria dewasa yang memperkenalkan dirinya sebagai Kolonel Jiraya. Mereka dibawa menyusuri sebuah lorong yang menghubungkan beberapa bilik dan ruangan di tempat ini.
Yang dimaksud tempat ini, adalah ruang bawah tanah rahasia di bawah markas besar militer Angkatan Darat.
Ruang bawah tanah yang sepenuhnya digunakan sebagai pusat komando dari berbagai operasi militer termasuk hacking, spionase, ruang Kontrol rudal balistik antar benua bahkan arsip penyimpanan berkas yang paling rahasia milik negara. Disinilah pula mereka menahan tiga orang kriminal paling berbahaya yang mana akan dijadwalkan menikah dengan Sakura, Hinata dan Ino hari ini.
Yap, sudah beberapa hari semenjak mereka menerima misi yang diberikan oleh Mayor Tsunade. Dan setelahnya, mereka langsung dibawa ke Ibukota untuk menjalankannya. Sebelum datang kesini, mereka dipertemukan oleh Jenderal Besar Hashirama di ruangannya. Dia memberikan sebuah gelang kepada Sakura, Hinata dan Ino yang kata Jenderal Tersebut, gelang itu adalah gelang 'Anti Suami'
Gelang yang dimaksud adalah gelang perak yang memiliki tiga tombol, Hijau, Kuning dan Merah. Jenderal besar Hashirama mengatakan bahwa gelang tersebut terhubung secara langsung kepada kalung besi milik calon suami mereka. Bahkan dalam penjelasannya, Jenderal Besar Hashirama secara gamblang menjelaskan fingsi dari ketiga tombol tersebut.
Hijau, adalah taser.
Kuning, adalah Bius.
Merah, adalah cairan beracun mematikan.
Dengan satu kali pencet maka kalung yang dipakai oleh para kriminal alias calon suami mereka akan bereaksi sesuai tombol.
Sakura sendiri, dia mungkin tidak akan langsung menggunakan tombol merah, mengingat Jenderal Hashirama melarang mereka membunuh kriminal tersebut dalam satu malam. Namun nampaknya, Sakura akan mencintai tombol Hijau dan Kuning selama satu bulan kedepan.
.
"Nah. Kita sudah sampai."
Ketiga gadis menghentikan langkah mereka saat Kolonel Jiraya berhenti. Mereka berhenti di sebuah kaca diluar ruang interogasi.
"Inilah mereka." Jiraya menunjuk Ketiga buah kaca besar yang berjejer. Menjelaskan bahwa suami mereka bertiga kini berada di sana. Sepenuhnya terisolasi pada ruang Interogasi, menunggu kedatangan mempelai mereka.
Sakura, Hinata dan Ino saling toleh.
"Jadi, begini saja?" tanya Ino. Dia merujuk ke dirinya yang kini hendak menikah namun di badannya tertempel rompi anti peluru. Dia tidak pernah membayangkan pernikahan yang sangat absurd seperti ini.
Kolonel Jiraya tersenyum.
"Jangan khawatir, penghulu akan membacakan sumpah pernikahan dari ruang kontrol. Sebelum itu, kalian boleh mengamati suami-suami kalian. Kami akan membuka pintu ruang isolasinya saat kalian sudah siap." Jelas Jiraya.
"Apa lagi yang harus kami persiapkan?" tanya Sakura.
Jiraya nampak berpikir.
"Hm, Jika yang kau maksud adalah gaun dan buket bunga, kita tidak punya. Tapi.. Aku menyarankan kalian membawa pisau kalian. well tau kan, untuk berjaga-jaga." Lanjut Jiraya.
Setelah tidak mendengar pertanyaan lain dari ketiga gadis itu, Jiraya pun mendahului mereka menuju ruang kontrol. Meninggalkan ketiga gadis itu untuk mengamati calon suami mereka.
.
.
.
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0
.
.
.
"Pernikahan"
.
"Hoo.. Nampaknya mereka benar saat mereka bilang yang akan menikah denganku adalah seorang gadis berambut merah muda."
Kalimat itulah yang menyambut Sakura saat dirinya masuk ke ruangan serba putih. Di tengah-tengah ruangan nampak seorang lelaki berambut pirang jabrik. Naruto Namikaze, ahli kimia, pembunuh.
Lelaki itu duduk di sebuah kursi murah layaknya kursi interogasi biasa. Di depannya adalah meja dan kursi lain yang nampaknya harus diduduki Sakura. Tidak ada hal lain di ruangan itu selain ketiga barang tersebut dan mereka berdua.
Sakura melangkahkan kakinya masuk, berbarengan dengan suara keras saat pintu besi dibelakangnya kembali dikunci secara otomatis. Sakura kemudian berjalan pelan sembari tangan kirinya siap siaga di tas pisaunya.
"Tidak usah tegang begitu sayang, kita kan akan menikah." Ujar Naruto. Namun Sakura tidak peduli. Dia sangat waspada sekarang mempertimbangkan orang di depannya ini bukanlah penjahat biasa.
sreet
Sakura langsung menarik pisaunya saat dilihatnya lelaki itu bergerak. Namun Naruto tidak berniat menyerang. Dia hanya memposisikan duduknya agar lebih nyaman. Naruto menatap Sakura yang kini sudah siap siaga di posisi kuda-kuda, tangannya memegang pisau dengan posisi bertahan.
Melihatnya, Naruto langsung tertawa keras.
"Hei Pink, jika kau ingin menyerangku, kenapa kau tidak menggunakan gelang yang ada di tanganmu itu, bukankah itu akan lebih mudah?" tanya Naruto. Dia menunjuk gelang yang dipakai Sakura dan Kalung yang dipakainya sendiri.
Sakura tertegun. Benar juga. Gelang yang diberikan Jenderal besar Hashirama ada untuk bertahan dari orang ini. Gelang 'Anti Suami'
Merasa dirinya ada di posisi yang diuntungkan, Sakura pun kembali memasukkan pisaunya. Dia kemudian berdiri sembari menatap Namikaze Naruto dengan tatapan menganalisa.
Lelaki itu memakai pakaian abu-abu khas narapidana, dia juga mengenakan kalung besi kecil yang melingkar di lehernya. Perawakannya sendiri, kesan pertama Sakura adalah sayatan kumis kucing yang melintang di pipinya. Selebihnya, dia tidak mengenakan sesuatu yang sepertinya dapat membahayakan Sakura. Bahkan kedua tangannya diborgol di meja sekarang. Ah, nampaknya memang Sakura yang paranoid.
"Jadi, kau mau duduk atau tidak, Pink?"
Sakura diam, menimang beberapa saat sebelum dia akhirnya menuruti ajakan Naruto untuk duduk. Posisi mereka sangat dekat sekarang, karena mereka duduk saling berhadapan. Mereka memperhatikan satu sama lain selama beberapa saat sebelum akhirnya pengeras suara menyadarkan mereka.
"Jadi.. Apa kalian sudah siap?" tanya suara yang datang dari speaker.
"Ya." Yang menjawab adalah Naruto. Sakura hanya diam menatap lurus orang yang selama satu bulan kedepan akan terjebak dengannya ini.
Sakura memang belum pernah menikah, namun dia tau, bahwa tidak seharusnya seorang mempelai pria menyeringai jahat di depan sang calon istri saat ditanyai seperti itu.
.
"Rambutmu Unik, Aku suka."
.
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o00i0i0
.
"Dengan ini, aku nyatakan kalian sebagai suami istri."
Ino melepas tangannya dari genggaman orang yang ada di depannya saat janji suci mereka berdua sudah berhasil dilakukan. Oke, jujur Ino tidak suka situasi seperti ini. Pasalnya lelaki yang ada di depannya ini memiliki sorot layu yang susah ditebak. Dia bahkan tidak pernah tersenyum maupun berekspresi lain selain menguap.
"Maaf soal cincinnya."
sreek
Ino terkaget saat lamunannya dipecahkan oleh lelaki yang ada di depannya. Dia menatap lelaki tersebut dan mematung untuk beberapa detik. Tangannya hampir saja reflek menghunuskan pisaunya apabila barusan dia tidak sempat menahan diri. yah, bahkan suara yang keluar dari mulut lelaki ini membuat Ino kaget.
"Ya."
Ino menjawab santai setelah dia berhasil mengendalikan diri. Yang dimaksud pria kuncir yang duduk di seberangnya ini adalah soal cincin pernikahan mereka. Pasalnya dia bilang bahwa cincin yang diberikan oleh Kolonel Jiraya untuk meminang Ino hilang begitu saja. Sebagai gantinya, pria itu membentuk sebuah paperclip menjadi cincin dan memasangkannya ke jari manis Ino.
Oke, bagi Ino, hal tersebut memang mengkhawatirkan. Pasalnya dia benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa seorang yang diisolasi di ruang interogasi kemudian diberi cincin, tiba-tiba menghilangkannya begitu saja. Maksud Ino, ruangan ini hanya berukuran tidak lebih 3x3, bagaimana bisa hilang coba? Bahkan di ruangan yang sempit ini, lelaki ini tidak mau repot-repot untuk mencari.
Disisi lain, ada kekhawatiran yang lebih dari itu, pasalnya Ino paham kegunaan paperclip. Dia sering menggunakannya dalam beberapa operasi militer untuk masuk ke gedung-gedung terkunci dan laci-laci. Mengetahui fakta bahwa lelaki di depannya bisa mendapatkan paperclip, sudah dipastikan bahwa apabila dia tidak meghilangkan cincinnya, pasti paperclip ini akan digunakan untuk membuka borgol.
"Kalau begitu, Mohon kerjasamannya." Ujar pria itu kepada Ino. Dia menjulurkan tangannya untuk sekali lagi menyentuh tangan Ino.
Ino menerima uluran tangan pria itu.
"Ya. Yoroshiku." Balasnya, masih tidak percaya bahwa dia barusaja menikahi seorang Cyber Kriminal kelas berat. Nara Shikamaru.
.
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0
.
Berbeda dengan Sakura dan Ino. Hinata malah terang-terangan menantang Suaminya dengan pisaunya.
"Dengar ya Raven, Bagiku kau tidak lebih dari sampah masyarakat yang akan menjadi mayat 1 bulan lagi. Pernikahan kita hanyalah satu dari sekian misiku yang akan selesai dan sukses tanpa cacat. Aku ingatkan kau, jika kau berani 'meyerangku', aku akan melubangi tenggorokanmu dengan pisauku." Ujar Hinata kepada Sasuke. Dia menancapkan pisaunya ke meja interogasi dan menatap Sasuke tajam.
pria yang bernama Sasuke di depannya malah mendengus tidak takut.
"Hn. Tidak ada suami yang memperkosa istrinya sendiri." Jawab Sasuke.
Hinata diam dan masih berusaha menatap Sasuke dengan lebih galak. Memang sih, Hinata sudah memakai cincin yang diberikan Sasuke. Namun dia seperti sepenuhnya mengabaikan fakta bahwa pria yang ada di depannya sudah menjadi suaminya.
Benar memang kata Sasuke. Tidak ada suami yang memperkosa istinya sendiri.
Sreek.
Hinata terkejut saat dengan tiba-tiba tangannya yang memegang pisau digenggam dan ditarik ke arah pria di depannya. Badan Hinata Ikut tertarik sehingga benar-benar mendekatkan kepala mereka. Hingga..
'cup'
Hinata terbelalak mengetahui apa yang barusaja terjadi. Hinata bisa merasakan cupangan mesra yang barusaja menghinggap di bagian lehernya.
"Akh!"
Hinata mundur. Kemudian dia memposisikan berdiri sembari melakukan kuda-kuda. Dia menarik pisaunya mantap.
"KAU INGIN MATI SEKARANG?!" Bentak Hinata.
Namun sosok Uchiha Sasuke yang ada di depannya hanya menyeringai.
"Salam kenal.. Istriku."
.
Tsuzuku
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Hanzama's Note : Ya saya tau. Ini adalah fanfic gaje bin abal. Namun setelah dipikir lebih lanjut, Hanzama tidak bisa menahan diri untuk merealisasikannya. Pasalnya sudah terlalu lama Hanzama nulis fanfic Humor *ngelirik iwdwiw* dan entah kenapa butuh refresh dan beralih ke project yang lebih segar.
I Know I Know.. mengecewakan saat ARC "Summer Warfare" dari fanfic sebelah Hanzama tarik lagi kan? tapi mempertimbangkan banyak miss plot yang harus direvisi, jadi Hanzama pending dulu yang itu dan Hanzama kasih label complete di chapter 115. Kelak akan Hanzama reupload.
Dan, Hanzama Ucapkan welcomo-welcomo, kepada satu lagi fanfic NaruSasuShika. Ini adalah ide yang sudah Hanzama pendam semenjak iwdwiw nge-tem di chapter 79. Dan kayaknya memang harus segera di upload.
Tapi tentu saja, Fanfic ini akan Hanzama lanjut tergantung feedback dari sahabat reader sekalian. Kalau banyak yang review ya Hanzama lanjut, Kalau hanya baca doang, masak gak review wkw..
Oh iya. Kenapa Hinata harus Hinata RTN? Jujur, hanzama gak tau. Hanzama sudah jatuh cinta kepada Alternative Hinata Versi Yandere sejak filmnya keluar. Namun, kayaknya seru juga kan kalau Sasuke dipasangin sama HinataRTN? yah, semoga tidak apa-apa.
Yep, itulah. Kita ketemu di chapter depan Yes, No?
Salam Hangat dari Hanzama, semoga Readers sukses Selalu.
REVIEW
V
V
V
V
